Arsip Tag: kementerian pariwisata

Peserta Famtrip India Kagum Keindahan Pariwisata Bali & Lombok

44 Views

Bali, Garda Indonesia | Kegiatan familiarization trip (fam trip) dengan tema ‘Bali and Beyond’ sukses membuat peserta yang terdiri dari jurnalis, travel blogger dan youtuber asal India merasakan dan belajar pengalaman baru akan keindahan alam, budaya dan masyarakat Bali dan Lombok.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenparekraf, Nia Niscaya pada Sabtu, 9 November 2019 mengatakan program ini ditujukan untuk menggaet market wisatawan mancanegara (wisman) khususnya India, untuk datang dan berlibur di Lombok dan Bali.

Adapun pemilihan Lombok sebagai destinasi yang dikunjungi bertujuan untuk memperkenalkan wisata unggulan lain di Indonesia yang juga kerap disebut ‘Bali Baru’.

“Kami sengaja mengundang jurnalis, travel blogger serta youtuber asal India agar meng-influence para calon wisatawan mancanegara (wisman) India untuk berlibur di Lombok dan Bali,” ujar Nia Niscaya.

Wisman India saat berkunjung ke Garuda Wisnu Kencana di Jimbaran

Program famtrip berlangsung dari tanggal 3—10 November 2019 dengan mengunjungi berbagai destinasi di Lombok dan Bali. Rangkaian Fam Trip di Lombok meliputi kunjungan ke Bukit Merese, Pantai Tanjung Aan, Desa Ende Sasak, Desa Penghasil Kerajinan Tenun Sukarara, Desa Sentra Kerajinan Gerabah Banyumulek, Gili Meno, Gili Trawangan, serta mencicipi kajian kuliner khas Lombok.

Sementara di Bali, peserta kegiatan fam trip diajak eksplorasi Celuk Village, Alas Harum, Tegallang Rice Field, Uluwatu Temple, Melihat Tari Kecak dan Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Terlihat dari raut wajah para peserta sangat kagum atas keindahan alam, keramahan warga setempat, kuliner dan budaya di Lombok dan Bali.

“Harapan saya dengan adanya program ini, akan lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) khususnya India untuk berlibur ke Lombok dan Bali dan Indonesia secara umum,” kata Nia Niscaya.

Indrani Ghose, salah seorang peserta Fam Trip mengatakan banyak pengalaman yang tidak akan ia lupakan selama mengikuti kegiatan. Salah satunya saat melihat Tari Kecak di Uluwatu. “Mata saya tidak rela untuk berkedip dan melewati momen tersebut. Pengalaman ini akan saya tulis dalam blog saya agar teman-teman saya dapat membaca dan merasakan apa yang saya rasakan di sini. Lalu saya akan merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan liburan,” ujar Indrani Ghose.

“Saya akan merencanakan kembali untuk berlibur di Bali, karena saya masih ingin tahu banyak tentang budaya di Bali,” kata peserta lainnya, Shrinidhi Hande.

Tercatat sejak Januari—Oktober 2019 jumlah wisman asal India yang berkunjung ke Indonesia berjumlah 506.062, lebih besar dari periode yang sama di tahun lalu yakni sebanyak 487.256 wisman. Untuk tahun 2019 ditargetkan kunjungan wisman India ke Indonesia mencapai 700.000 wisman. (*)

Sumber berita (*/Guntur Sakti–Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpakeraf)
Editor (+rony banase)

Wisatawan Timor Leste Sambut Gembira Festival Wonderful Indonesia di Belu

29 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Wisatawan asal Timor Leste yang melintas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara TImur sangat antusias dan gembira saat menghadiri penutupan Festival Wonderful Indonesia (FWI) yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenparekraf Muh. Ricky Fauziyani, saat penutupan FWI di PLBN Motaain, Rabu (6/11/2019) menjelaskan, Festival Wonderful Indonesia (FWI) sudah berlangsung 12 kali, mulai dari Agustus 2019 hingga saat ini masih berlangsung di PLBN Motaain pada 5—6 November 2019. Ini merupakan FWI terakhir pada 2019.

“FWI ini adalah akhir dari 12 perjalanan kegiatan, yang kami lakukan di 3 PLBN, Motaain, Motamasin, Wini dan PLBN Napan. Kami sempat berpikir inovasi untuk kegiatan ini agar memiliki dampak langsung ke masyarakat dan mendatangkan wisatawan Timor Leste lebih banyak. Oleh karena itu saya meminta agar kegiatan ini dievaluasi kembali, karena kami ingin mengetahui seperti apa keterlibatan masyarakat kita,” ujarnya.

Ricky juga menganggap Festival Wonderful Indonesia ini sebagai sebuah laboratorium untuk semua, baik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga Pemerintah Daerah di tingkat Provinsi, Kabupaten, dan Kota.

“Bagaimana kita membuat even yang baik. Saya yakin ini belum baik, tapi akan tetap kita evaluasi lagi, sehingga ke depannya, makin banyak transaksi ekonomi dan kehadiran kami di sini dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Kalau ada transaksi maka kedua belah pihak akan bahagia dan itu namanya pariwisata,” bebernya.

100 Anak SMP Silawan saat membawakan tarian

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU), Robertus Nahas mengatakan pada prinsipnya pemerintah Kabupaten Timur Tengah Utara bersama seluruh masyarakat mengapresiasi program dari pemerintah pusat yang ada sekarang.

“Intinya masyarakat di perbatasan saling bertemu dan bersilaturahmi membangun rasa persaudaraan. Di sisi lain harapan kami adalah daerah perbatasan atau PLBN menjadi destinasi baru, destinasi unggulan untuk pariwisata,” katanya.

Pada FWI ke-12 kali ini, Bank Rakyat Indonesia (BRI) turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan FWI dengan membuka Money Changer untuk wisatawan Timor Leste, karena mata uang yang digunakan dalam acara FWI menggunakan rupiah. Selain itu ada pula bazar sembako, kuliner, dan suvenir. Selain paket sembako murah, kain tenun khas Atambua menjadi salah satu sasaran para pengunjung dari Timor Leste pada acara FWI kali ini.

Tidak hanya itu, ada pula hiburan seperti penampilan band dan penampilan tarian dari 100 anak SMP Silawan hingga santunan kepada anak-anak yatim piatu dan kurang mampu. Band yang ditampilkan adalah band asal Atambua yang juga turut serta dalam kegiatan Cross Border Music Festival Atambua yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf. (*)

Sumber berita (*/Guntur Sakti–Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Editor (+rony banase)

Kemenparekraf Tekad Lanjutkan Pengembangan 5 Destinasi Super Prioritas

44 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus berkoordinasi dengan Kementerian dan Lembaga terkait sebagai tekad untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur dan utilitas dasar di 5 (lima) destinasi super prioritas.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menargetkan pembangunan infastruktur pendukung di lima destinasi super prioritas selesai pada akhir 2020.

Kelima destinasi super prioritas itu ialah Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Joglosemar), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).

“Terkait 10 destinasi prioritas yang saat ini difokuskan menjadi 5 destinasi super prioritas, kami terus berkoordinasi dengan kementerian lain dan itu sangat cair, sehingga target yang ditetapkan Presiden, Insya Allah akan tercapai,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio saat acara Ngopi Bareng Mas Tama dan Mbak Angela di Oeang Coffee Roastery kawasan M Bloc Space, Jakarta Selatan pada Selasa, 5 November 2019.

Candi Borobudur di kala senja

Wishnutama mengatakan, Kementerian yang dipimpinnya saat ini melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait seperti dengan Kepolisian RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Setelah saya dilantik, saya terus berkoordinasi dengan K/L terkait. Saya juga koordinasi dengan Kapolri yang siap mendukung langsung stabilitas keamanan pariwisata Indonesia. Juga dengan BNPB untuk berkoordinasi terkait bencana di tanah air,” katanya.

Wishnutama mengatakan isu-isu terkait pariwisata misalnya mengenai tiket pesawat akan terus dibicarakan dengan Kementerian Perhubungan. Ia berharap harga tiket harus dibuat terjangkau tidak hanya untuk wisatawan mancanegara tapi juga wisatawan nusantara.

“Turis lokal kan juga ingin ke Labuan Bajo, tak cuma wisman. Jangan sampai orang bilang ke luar negeri lebih murah daripada wisata dalam negeri. Koordinasi ini dimaksudkan agar visi dan misi industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia bukan hanya tanggung jawab Kemenparekraf saja, karena juga harus disokong bantuan dari banyak pihak,” paparnya.

Dalam rangkaian acara Ngopi Bareng Mas Tama dan Mbak Angela, Menparekraf dan Wamen Parekraf beserta rombongan juga melakukan M Bloc Tour mengunjungi seluruh gerai yang menjual produk sekaligus sebagai ruang kreatif di kawasan M Bloc Space di antaranya Mata Lokal, Rumah Lestari, UnionWell, Suwe Ora Jamu, Connectoon, De Majors, Mbok Ndoro, dan lain-lain. (*)

Sumber berita (*/Guntur Sakti–Plt. Kepala Biro Komunikasi Publi Kemenparekraf)
Editor (+rony banase)

Pariwisata Bahari di Kota Kupang Jadi Perhatian Komisi X DPR & Kemenpar RI

31 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Potensi Pariwisata Bahari yang beragam, unik dan tersebar di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur; terus didorong dalam pengembangan dan pengelolaannya oleh Komisi X DPR RI dan Kementerian Pariwisata RI.

Salah satu perhatian Komisi X DPR dan Kemenpar RI dengan menghelat Sosialisasi Pengembangan Destinasi Pariwisata pada Jumat, 9 Agustus 2019 pukul 09:30 WITA—selesai di Aula Aston Hotel Kupang yang diikuti oleh pemerhati dan pengelola pariwisata yang tersebar di Kota Kupang.

Selain itu bentuk dukungan anggaran berupa Dana Alokasi Khusus (DAK) di bidang pariwisata juga ditambahkan melalui kerja keras Anggota Komisi X DPR RI, Anita Jacoba Gah yang membidangi Pendidikan, Olahraga dan Sejarah dengan pasangan kerja Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Perpustakaan Nasional, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Bidang Pendidikan Tinggi) dan Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf).

Anita Jacoba Gah,SE., saat ditemui usai sosialisasi mengatakan bahwa pemerintah daerah harus kerja keras dan kerja kuat untuk meningkatkan pariwisata bahari.

“Tadi saya meminta Pemda NTT untuk berkomitmen dan konsen karena kita punya kekayaan wisata bahari”, ujar Anita Gah dari Fraksi Partai Demokrat.

Anita Gah juga meminta agar Pemda untuk mempersiapkan infrastruktur dan SDM
“Sumber Daya Manusia (SDM) dalam bidang pariwisata penting sekali”, tegasnya.

Anita Gah mencontohkan wisata bahari yang tersebar seperti 21 spot snorkling di Kota Kupang, dan terumbu karang di Alor dan Sabu Raijua.

Menyangkut dukungan anggaran, Anita mengatakan bahwa anggaran dan program besar dari pemerintah pusat meningkat menjadi 50 persen dari Kementerian Pariwisata RI.

“Tujuannya karena kita ingin meningkatkan kepariwisataan di NTT karena pariwisata bisa dijadikan bisnis berupa pariwisata bahari dan kami ingin agar bergerak cepat dengan berkolaborasi dengan kementerian lain. Selain itu, Pemda NTT harus menyiapkan sarana prasarana dan SDM karena anggaran berupa promosi sudah tersedia”, tandas Anita Gah yang memasuki periode ketiga sebagai anggota DPR RI.

Anita Jacoba Gah, Anggota Komisi X DPR RI (tengah), Kabid Destinasi Area Bali, NTB dan NTT Kementerian Pariwisata RI, Budi Susilo (Sebelah kiri, baju batik merah) dan Kabid Pariwisata Kadispakeraf NTT, Eben Kalakik (Kanan, baju tenun NTT)

Sedangkan, Asisten Deputi Pengembangan Regional III Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI yang diwakili oleh Kabid Destinasi Area Bali, NTB dan NTT, Budi Susilo menyampaikan bahwa pada dasarnya Kementerian Pariwisata sangat mendukung dan konsen terhadap pengembangan pariwisata NTT, khususnya di Kota Kupang.

Menurut Budi Susilo, Kota Kupang sebagai ibu kota provinsi harus mempunyai konsep pengembangan pariwisata yang lebih bagus dan pemerintah pusat siap mendukung dengan anggaran dan program peningkatan kapasitas baik bagi aparat birokrasi bidang pariwisata, pelaku usaha pariwisata dan masyarakat.

“Perkembangan pengelolaan potensi pariwisata di NTT dan Kota Kupang mulai berkembang, walau belum signifikan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat NTT dan kota/kabupaten. Pemerintah daerah telah menerapkan program, perda, dan kontribusi anggaran sesuai dengan kemampuan daerah. Namun kembali lagi SDM baik pemerintah, pelaku usaha pariwisata dan masyarakat harus ditingkatkan”, ujar Budi.

Lanjutnya, Pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata sudah mengalokasikan anggaran yang cukup besar, bahkan di tahun 2019 ini cukup meningkat. Namun persoalannya adalah program dari pemerintah daerah harus menyentuh langsung dengan kebutuhan pengembangan pariwisata di daerah.

“Anggaran bisa dilimpahkan jika program jelas. Kami menunggu”, ungkap Budi.

“Pemda NTT melalui kepala daerah masing-masing harus berlomba menggali potensi pariwisata baru dan unik yang dikemas dalam program yang jelas dan menarik, maka anggaran dari pemerintah pusat akan mengalir ke Kota Kupang dan NTT harus bergerak maju. Potensi pariwisata NTT luar biasa beragam dan kaya. Jadi harus segera dikembangkan. Apalagi Gubernur NTT Viktor Laiskodat dengan programnya yang sangat brilian. Pemerintah kabupaten/kota harus mampu menerjemahkannya”, pungkas Budi.

Penulis dan editor (+rony banase)