Arsip Tag: kepala bnpb doni manardo

Bencana di NTT & NTB, Presiden Instruksi Penanganan & Ucap Belasungkawa

322 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo telah memerintahkan jajaran terkait untuk segera melakukan penanganan terhadap bencana banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang yang terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Saya telah memerintahkan kepada Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Panglima TNI dan Kapolri untuk secara cepat melakukan evakuasi dan penanganan korban bencana serta penanganan dampak bencana,” ujar Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 5 April 2021.

Sebelumnya, Kepala Negara telah memperoleh laporan lengkap terkait bencana tersebut dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo. Menindaklanjuti hal itu, Ia menginstruksikan jajarannya untuk bergerak cepat dalam memastikan hadirnya pelayanan kesehatan dan ketersediaan logistik yang baik di lapangan serta memenuhi kebutuhan dasar bagi para pengungsi.

Presiden Jokowi juga menyampaikan ucapan belasungkawa atas para korban yang meninggal dunia dalam musibah tersebut. “Atas nama pribadi dan seluruh rakyat Indonesia, saya menyampaikan dukacita mendalam atas korban meninggal dunia dalam musibah tersebut. Saya memahami kesedihan yang dialami saudara-saudara kita akibat dampak yang ditimbulkan dari bencana ini,” tuturnya.

Peningkatan curah hujan di sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir harus diwaspadai oleh seluruh masyarakat. Presiden mengimbau agar masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaannya.

“Perhatikan selalu peringatan dini dari BMKG dan aparat di daerah,” tandasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres) Editor (+roni banase)

Usai Perjalanan ke Mamuju, Ketua Satgas Doni Monardo Positif Covid-19

559 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengumumkan dirinya  positif tertular virus corona menyusul  aktivitas padat dalam sepekan terakhir memimpin penanggulangan bencana gempa bumi Sulawesi Barat dan banjir Kalimantan Selatan.

“Dari hasil tes PCR tadi malam, pagi ini mendapatkan hasil positif Covid-19 dengan CT Value 25. Saya sama sekali tidak merasakan gejala apa pun dan pagi ini tetap beraktivitas normal dengan olahraga ringan berjalan kaki 8  kilometer,” tutur Doni dalam siaran pers Sabtu pagi, 23 Januari 2021.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) tersebut, kini tengah melakukan isolasi mandiri sambil terus memantau perkembangan penanganan Covid-19 dan penanganan bencana di berbagai daerah.

Doni yang baru kembali dari Mamuju, Sulbar, Jumat sore, menuturkan dirinya selama ini begitu disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan dengan selalu memakai masker dan mencuci tangan.

Pada Jumat sore, Doni dan seluruh staf yang mendampinginya selama kunjungan kerja di Sulbar dan Kalimantan Barat juga menjalani tes PCR. Hasilnya, salah satu stafnya juga dinyatakan positif.

“Covid-19 ini begitu dekat di sekitar kita. Selama ini saya berusaha sekuat tenaga patuh dan disiplin menjalan protokol kesehatan dan tetap bisa tertular. Dengan kejadian ini saya meminta masyarakat agar jangan kendor dalam memakai masker, menjaga jarak dan jauhi kerumunan, serta rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir,” tuturnya.

Egy Massadiah, Tenaga Ahli BNPB yang juga staf khusus Doni Monardo, mendapatkan hasil tes PCR-nya negatif. Dia mengatakan selalu berada di dekat Doni dalam seminggu terakhir, termasuk selalu satu mobil ketika aktivitas penanganan bencana di Mamuju, Majene dan Banjarmasin.

Menurut Egy, Doni telah berada di Mamuju pada Jumat sore, 15 Januari 2021 kurang dari 12 jam dari saat gempa di Sulawesi Barat terjadi. Selanjutnya Kepala BNBP bergeser ke Banjarmasin pada Minggu, 17 Januari 2021 dan kembali ke Mamuju pada Selasa pagi sebelum kembali ke Jakarta, kemarin. (*)

Sumber berita dan foto (*/Humas BNPB)

Editor (+roni banase)

Doni Monardo Tinjau Kelompok Rentan Pengungsi Gunung Ile Lewotolok

180 Views

Lembata-NTT, Garda Indonesia | Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengimbau kepada Pemerintah Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) agar memberi penanganan yang lebih baik kepada para pengungsi Gunung api Ile Lewotolok, khususnya bagi mereka yang masuk dalam kelompok rentan.

Hal tersebut ditegaskannya saat melakukan kunjungan kerja bersama Anggota Komisi VIII DPR RI, M Ali Taher dan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, untuk meninjau pengungsian dan penanganan erupsi Gunung api Ile Lewotolok, Doni melihat bahwa pemkab sudah memberikan layanan yang cukup baik. Namun, dia masih menemukan adanya beberapa hal yang harus diperbaiki, salah satunya adalah masalah penanganan kesehatan dan keselamatan para pengungsi.

Doni pun meminta agar para warga pengungsi kelompok rentan dapat dipisahkan dari mereka yang berusia muda. Menurut Doni, hal itu harus dilakukan, sebab selain menghadapi ancaman bencana alam, para pengungsi saat ini juga menghadapi bencana non alam, yakni pandemi COVID-19.

“Saya imbau kepada Pemkab agar bisa memisahkan antara kelompok rentan dengan yang muda. Karena kita menghadapi bencana alam namun juga dalam situasi bencana non alam,” kata Doni, pada Rabu, 2 Desember 2020.

Sebagaimana diketahui bahwa kelompok rentan memiliki risiko yang lebih berat apabila terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Adapun kelompok rentan tersebut meliputi usia lanjut, penderita penyakit penyerta atau komorbid, ibu hamil, ibu menyusui, disabilitas, balita dan anak-anak

Apabila hal tersebut tidak segera ditangani dengan baik, maka dapat mengancam keselamatan jiwa masyarakat lainnya. “Karena kelompok rentan ini sangat berisiko kalau terpapar itu bisa membahayakan keselamatan jiwa,” kata Doni.

Jadi, tandas Doni, tidak hanya mengurusi ancaman terhadap erupsi gunung api, tapi harus bisa melindungi warga negara dan masyarakat dari pandemi COVID-19.(*)

Sumber berita dan foto (*/Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Armada Udara & Laut BNPB Dukung Wisata Aman Bencana di Labuan Bajo

84 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendukung program Wisata Aman Bencana Labuan Bajo dengan armada udara dan laut berupa 1 (satu) unit helikopter dan 1 (satu) kapal cepat Sea Rider yang ditempatkan di Labuan Bajo.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, bantuan tersebut merupakan perhatian Pemerintah Pusat atas kelancaran dan keamanan wisata prioritas di kawasan Labuan Bajo.

Di samping itu, Doni menyampaikan, dukungan ini untuk mengawal dan kesiapsiagaan dukungan penanggulangan bencana di kawasan Kabupaten Manggarai Barat dan kawasan Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Dalam pelaksanaannya kapal cepat Sea Rider tersebut diserahterimakan ke Basarnas, daerah operasi Labuan Bajo dan helikopter diserahkan di bawah kendali Bupati c/q BPBD Kabupaten Manggarai Barat,” ujar Doni melalui pesan digital pada Sabtu, 7 November 2020.

Penempatan dua jenis kendaraan operasional laut dan udara tersebut juga sebagai bukti perhatian Pemerintah Pusat atas kelancaran dan keamanan wisata prioritas di kawasan Labuan Bajo. Hal itu sekaligus untuk mengawal kesiapsiagaan dukungan penanggulangan bencana di kawasan Kabupaten Manggarai Barat dan kawasan Provinsi NTT.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat menyambut baik dukungan BNPB. Armada helikopter memberikan akses cepat yang mampu menjangkau wilayah-wilayah kepulauan, seperti pelayanan medis hingga pengiriman logistik di daerah yang terisolasi.

“Ini helikopter sangat membantu sekali. Respons kabupaten-kabupaten se-NTT sangat positif. Karena kami lakukan kegiatan lintas kabupaten se-NTT,” ujar Hans Mboeik salah satu tim BPBD Kabupaten Manggarai Barat melalui pesan digital.

Ia juga menambahkan, “Daerah yang sangat terisolasi, pelayanan medis susah di sana, logistik makanan susah untuk masuk ke sana menjadi terbantu dengan adanya helikopter dari BNPB.”

Dalam masa pandemi Covid-19, helikopter tersebut juga digunakan untuk kegiatan pengangkutan sampel swab Covid-19 dan alat kesehatan yang berkaitan dengan program kerja BNPB dan BPBD. Diharapkan dengan adanya tambahan kendaraan Sea Rider Boat, maka penanggulangan bencana dan kegiatan lain untuk menunjang wisata aman bencana dapat lebih dimaksimalkan.

“Helikopter juga kami gunakan untuk patroli penanggulangan bencana, pengangkutan sampel swab Covid-19, pengangkutan logistik alkes dan yang berkaitan dengan program kerja BNPB dan BPBD,” pungkas Hans Mboeik. (*)

Sumber berita dan foto (*/tim bnpb)
Editor (+rony banase)

Doni Monardo : Covid-19 Bukan Rekayasa, Ibarat Malaikat Pencabut Nyawa

322 Views

Surabaya, Garda Indonesia | Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo dengan tegas mengatakan bahwa Covid-19 bukan sebuah rekayasa atau konspirasi yang dibuat oleh pihak-pihak tertentu. Hal itu disampaikan Doni ketika memberi arahan dalam Rapat Koordinasi bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Daerah Provinsi Jawa Timur di Surabaya, pada Kamis, 16 Juli 2020.

“Covid-19 bukan rekayasa, Covid-19 bukan konspirasi. Covid-19 menjadi mesin pembunuh, ibaratnya Covid-19 ini adalah malaikat pencabut nyawa,” tegas Doni.

Doni perlu menegaskan mengenai hal itu karena masih ada pihak-pihak yang menganggap Covid-19 ini rekayasa. Menurutnya, pemahaman itu tidak bisa dibiarkan. Menurut data global, setengah juta jiwa telah menjadi korban. Di sisi lain, pemahaman masyarakat yang masih menganggap Covid-19 merupakan konspirasi juga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan publik kepada upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga tingkat kepedulian dan kedisiplinan masyarakat menurun dan dapat menjadi ancaman peningkatan angka kasus.

Oleh sebab itu, Doni mengimbau agar seluruh komponen pemangku kebijakan di daerah, khususnya wilayah Provinsi Jawa Timur dapat memberikan narasi yang benar dan utuh kepada masyarakat tentang Covid-19.

“Kita harus memberikan narasi yang utuh tentang Covid-19,” jelas Doni.

Bicara mengenai pandemi Covid-19, maka hal itu tidak hanya menyangkut tentang permasalahan kesehatan saja, tetapi juga berpengaruh pada sektor ekonomi dan lapangan kerja masyarakat. Menurut catatan Doni dari Kementerian Ketenagakerjaan, Covid-19 telah membuat 1,7 jiwa kehilangan pekerjaan pada pertengahan April 2020. Hal itu tentunya menjadi permasalahan baru yang serius dihadapi bangsa dan negara.

“Pertengahan April, 1,7 jiwa kehilangan pekerjaan baik formal maupun informal. Kalau ditotal tidak kurang dari 3 juta orang, setelah pemerintah memutuskan untuk mengeluarkan Keppres tentang Kedaruratan Kesehatan,” kata Doni.

“Masyarakat yang ingin mendapatkan kartu prakerja mencapai 1,2 juta jiwa. Berarti dapat dikatakan bahwa ada sebanyak 1,2 juta jiwa yang kehilangan pekerjaan,” imbuhnya.

Pada dasarnya, Covid-19 dapat dicegah melalui peningkatan daya tahan tubuh dan imunitas dari asupan gizi yang baik dan seimbang. Di sisi lain, untuk memperoleh makanan dengan menu gizi yang seimbang perlu adanya pendapatan. “Salah satu cara untuk meningkatkan imunitas tubuh adalah makan makanan yang bergizi. Sedangkan cara untuk mendapatkan makanan harus ada uang,” ujar Doni.

Oleh sebab itu, Covid-19 harus benar-benar diatasi melalui beradaptasi dengan kebiasaan baru, disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan jaga jarak aman.

Bencana Adalah Peristiwa Berulang

Dalam kesempatan yang sama, Doni yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus mengajak peserta rapat untuk memahami bahwa bencana adalah peristiwa yang berulang. Dalam hal ini, bencana yang dimaksud tidak hanya bencana alam saja, melainkan termasuk bencana non-alam, seperti wabah penyakit dan pandemi.

Menurut catatan, peristiwa tsunami Aceh pada 2004 adalah salah satu contoh pengulangan bencana alam yang terjadi di Indonesia. Hal itu dibuktikan dari penemuan sedimentasi tanah yang diambil dari goa Eek Leuntie di Aceh.

Selain tsunami Aceh, Doni juga menjelaskan mengenai rentetan bencana yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah hingga kisah kelam tentang Banyuwangi di Jawa Timur pada 1994. “Palu juga pada tahun 1927, 1968, kemudian pada 1970 Profesor Katili pernah bilang jangan jadikan Palu sebagai ibukota, nanti tahun 2000 akan terjadi gempa dan tsunami,” jelas Doni.

Memang pada tahun 2000 tidak terjadi apa-apa, tetapi 18 tahun kemudian terjadi gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di wilayah Palu dan sekitarnya.

Kemudian, menyinggung bencana non alam seperti wabah penyakit dan pandemi, Indonesia juga tercatat pernah mengalami ‘pageblug’ pada 1918 yakni Flu Spanyol. Sejarah mengungkap sekitar 4,5 juta jiwa di Indonesia menjadi korban atas peristiwa tersebut.

Dalam hal ini, kunci dari penanganan pandemi adalah dengan mengupayakan peran medis dengan porsi 20 persen dan sisanya 80 persen adalah masyarakat. Secara sederhana, implementasinya adalah tenaga medis menjadi benteng terakhir dalam melawan Covid-19 dan fondasi terdepan adalah masyarakat itu sendiri. “Kami Gugus Tugas dari awal sudah meminta agar upayakan bahwa medis 20 persen sisanya 80 persen. Jangan bebani dokter, dokter adalah benteng terakhir bangsa kita,” tegas Doni.

Sebagai panglima perang melawan Covid-19, Doni meminta agar masyarakat dapat lebih memahami kondisi yang terjadi dan mengambil langkah tepat untuk menangani Covid-19 melalui upaya pencegahan, dengan penerapan protokol kesehatan secara disiplin.

Sebelum menutup rapat koordinasi, Doni juga menitip pesan bahwa Covid-19 adalah musuh yang harus ditaklukkan dengan meningkatkan kapasitas dan memperkuat mitigasi. “Kenali dirimu, kenali musuhmu, 1.000 kau perang 1.000 kali kau menang,” pungkas Doni.(*)

Sumber berita dan foto (*/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional)
Editor (+rony banase)

Ratusan Ikan Kakap Putih Ambon Penuhi Gizi Secapa TNI & Pasien Covid-19

266 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Ratusan ikan kakap putih atau barramundi dipanen oleh kelompok budidaya Botol Bekas di Ambon, Maluku, pada Sabtu, 11 Juli 2020. Selain kakap putih, jenis ikan lainnya seperti kerapu dan kuwe juga dipanen dalam waktu yang bersamaan.

Ikan yang dipanen dari Kerambah Waiheru dan Pantai Wainito itu kemudian akan diterbangkan ke Jakarta sebagai pemenuhan gizi bagi pasien Covid-19.

Selebihnya, ikan dengan ukuran 3 ekor 1 kilogram itu juga akan dikirimkan ke Pusat Pendidikan Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI Angkatan Darat sebanyak 200 kilogram. Khususnya untuk pemulihan bagi 1.262 peserta didik dan pelatih serta 17 orang yang dirawat lainnya akibat Covid-19.

Pengiriman ke Jakarta akan dilakukan pada Minggu, 12 Juli 2020 pukul 09.00 WIT dengan dukungan cargo pesawat Garuda Indonesia, yang didistribusikan melalui PT Sumber Laut Utama di Tantui.

Jenis ikan Kakap Putih Ambon yang bakal menjadi asupan gizi bagi Secapa AD dan pasien Covid-19

Sebagai informasi, kelompok budidaya Botol Bekas Ambon merupakan bagian dari program emas biru yang dipelopori oleh Letjen TNI Doni Monardo sewaktu masih menjabat sebagai Pangdam XVI/Pattimura dengan pangkat Mayor Jenderal.

Doni Monardo, jenderal bintang tiga yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan didaulat Presiden Joko Widodo menjadi Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, sebelumnya telah memberi arahan bahwa salah satu cara untuk melawan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan memperkuat imunitas.

Adapun peningkatan imunitas tubuh dapat diperoleh dengan cara rajin berolahraga, istirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, sebagaimana yang terkandung dalam ragam jenis ikan laut seperti di atas.

Selain meningkatkan imunitas, pencegahan penularan Covid-19 juga wajib diimbangi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir dan menjaga jarak aman.(*)

Sumber berita dan foto (*/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional)
Editor (+rony banase)

Doni Monardo Bakal Prioritaskan NTT Peroleh ‘Reagen PCR Test’

285 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional yang sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen (TNI) Doni Monardo menegaskan NTT akan menjadi daerah prioritas untuk pendistribusian reagen PCR, saat alat ini tiba di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Doni menanggapi permintaan Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi terkait kesulitan Provinsi NTT dalam pemeriksaan sampel swab.

“Memang untuk peralatan kesehatan, kita berebutan dengan berbagai negara untuk mendatangkan alat-alat ini. Saya akan perintahkan begitu barang datang, untuk segera kirim dan prioritaskan ke Kupang,” ujar Doni Monardo saat melakukan Video Telekonferensi dengan Wagub NTT, Josef Nae Soi di Ruang Rapat Gubernur NTT, pada Rabu, 22 April 2020.

Dalam Video Telekonferensi tersebut, Wagub Josef, mengungkapkan NTT sudah menyiapkan Lab Polymerase Chain Reaction (PCR), namun alat kit reagennya belum ada. “Kami sudah punya laboratorium, tinggal tunggu reagen untuk pemeriksaan Swab. Kami meminta melalui Pa Jenderal, mohon Kementerian Kesehatan lebih cepat mengirim kami reagen, supaya PCR kami bisa berfungsi,” kata Wagub Nai Soi.

Wagub Josef Nae Soi saat melakukan Video Telekonferensi dengan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, Doni Monardo

Wagub menginformasikan, semua sampel Swab dari NTT dikirim ke Laboratorium di Jawa. Jumlah yang terkirim sebanyak 75 sampel. Yang sudah diperiksa 44 dan belum ada hasil sebanyak 31. “Puji Tuhan, dari yang sudah diterima, hanya satu yang positif sementara yang 43 lain hasilnya negatif. Kondisi pasien positif sampai sekarang masih prima, dan kami masih tunggu swab yang kedua untuk yang bersangkutan, mudah-mudahan sudah negatif,” ungkap Wagub Nae Soi.

Wagub Josef juga memberikan apresiasi atas perhatian tim Gugus Tugas Nasional yang telah memberikan bantuan alat-alat kesehatan kepada pemerintah Provinsi NTT. “Terima kasih pak Jenderal, kami NTT sudah mendapat APD sebanyak 6.500, rapid test-nya 7.200 dan maskernya 15.500,” pungkas Wagub NTT.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional, Doni Monardo saat melakukan Video Telekonferensi dengan Wagub NTT Josef Nae Soi

Dalam kesempatan tersebut, mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden itu secara khusus mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi NTT yang bisa menahan laju pertambahan positif Covid-19.

“NTT (masih) relatif aman dari ancaman yang serius, walaupun ada namun masih bisa ditangani. Mudah-mudahan yang masih dirawat bisa tertangani dengan baik dan cepat sembuh. Perlu prioritas untuk kerja-kerja melayani masyarakat supaya Indonesia jangan setiap hari dipenuhi dengan berita covid terus-menerus; sebab bisa buat tambah panik. Perlu ada berita pembangunan lain,” jelas Doni.

Secara khusus Doni juga mengingatkan pemerintah Provinsi NTT untuk memperhatikan masalah Demam Berdarah Dengue di NTT. “Mohon Pa Wagub sampaikan kepada Pa Gubernur agar tetap membersihkan selokan, sumur-sumur, kamar mandi sehingga masyarakat kita bisa terbebas dari demam berdarah,” pinta Doni.

Ia juga mengingatkan agar Alat Perlindungan Diri (APD) yang dikirim ke NTT supaya dicek ulang sehingga tidak terjadi perbedaan antara di pusat dan daerah agar tidak terjadi temuan dan pelanggaran hukum.

“Yang perlu dicek ulang adalah APD yang sudah dikirim ke NTT, menurut data kami ada 7.500. Tolong nanti dicek ulang sehingga tidak menimbulkan temuan BPK. Kalau rapid test, jumlahnya sudah sama. Kalau mungkin barangnya belum sampai, masih di perjalanan, terselip atau mungkin dari pusat ada kekeliruan, harus dicek ulang dan segera dilaporkan,” ungkap Doni.(*)

Sumber berita  (*/Aven R—Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase) Foto utama oleh Gugus Tugas Pusat

Gugus Tugas Produksi APD Berbahan Lokal Sertifikasi WHO

165 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 berupaya memproduksi alat pelindung diri (APD) menggunakan komponen lokal dan disertifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO). Selain APD, Pemerintah juga memproduksi ventilator karya anak bangsa yang sebelumnya telah diuji coba di bawah pendampingan dari Kementerian Kesehatan.

“Saat ini, tim ahli Gugus Tugas dibantu peneliti, periset dari lembaga dan perguruan tinggi dan dunia usaha sedang berupaya memproduksi APD,” kata Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Graha BNPB, Jakarta, pada Selasa, 14 April 2020.

Dengan produksi dalam negeri itu, jelas Doni, maka Indonesia bisa mandiri dan tidak tergantung APD produksi negara lain dalam upaya melawan Covid-19. Dalam kurun waktu satu bulan menangani wabah virus Corona jenis baru ini, Gugus Tugas telah mendistribusikan 725 ribu APD, 13 juta masker bedah dan 150 ribu masker N-95.

Piranti keselamatan itu ditujukan kepada dokter, perawat dan tenaga medis agar semakin maksimal dalam memberikan perlindungan dari bahaya Covid-19. Pemerintah membentuk Gugus Tugas ini untuk menangani Covid-19 berdasarkan Kepres Nomor 7 Tahun 2020 pada 13 Maret 2020.

Untuk menanggulangi Covid-19, ungkap Doni, Gugus Tugas melakukan kolaborasi pentahelik berbasis komunitas yakni pemerintah, peneliti, dunia usaha, masyarakat serta media baik di pusat, hingga daerah yakni pemerintah provinsi hingga desa dan kelurahan.

Selain itu, beber Doni, Gugus Tugas juga akan meningkatkan kegiatan edukasi dan sosialisasi termasuk mitigasi ancaman Covid-19.

Dalam kesempatan yang sama, Doni Monardo juga mengajak masyarakat memisahkan kelompok rentan dengan masyarakat sehat tapi sudah terpapar positif Covid-19 atau orang tanpa gejala namun bisa menjadi penular bagi kelompok rentan yakni masyarakat lanjut usia dan penderita penyakit kronis yakni hipertensi, jantung, kanker, diabetes, asma, hepatitis serta penyakit berat lainnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kapus Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)