Arsip Tag: Lahan Kering NTT

Ilmuwan HITPI Apresiasi Tata Kelola Lahan Kering oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

98 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sekitar 40 ilmuwan HITPI berkunjung ke 3 (tiga) lokasi berbeda di Kabupaten Kupang guna melihat lebih dekat sistem tata kelola lahan kering yang diterapkan oleh Kelompok Tani Setetes Madu di Camplong II, Yayasan Williams dan Laura dan Kelompok Tani Kaifo Ingu di Air Bauk Desa Babau.

Tata kelola Lahan Kering oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu di Air Bauk Desa Babau Kabupaten Kupang memperoleh apresiasi dari para ilmuwan yang terhimpun dalam Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI).

Kelompok Tani Kaifo Ingu mengelola lahan kering seluas 12 hektar sejak 2018 dengan pendamping Prof. Erna Hartati dan tim Undana, Politeknik Pertanian Negeri Kupang dan Pemda Kabupaten Kupang untuk melakukan kegiatan di bidang pertanian tanaman pangan, tanaman buah-buahan, peternakan dan tanaman hijauan makanan ternak.

Para ilmuwan HITPI saat memasuki areal lahan pertanian yang dikelola oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

Apresiasi tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum HITPI, Prof. Dr. I Wayan Suarna, MS. dari Universitas Udayana (Unud) Bali, saat bertatap muka dan berdialog dengan Ketua Kelompok Tani Kaifo Ingu, pada Rabu, 6 November 2019. Dirinya mengapresiasi sistem pengairan ke areal sawah yang hemat air karena pengairan ke sawah menggunakan sistem buka tutup.

“Satu contoh saat menaikkan air tidak menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) sehingga meminimalisir emisi dari aktivitas pertanian dan memitigasi terhadap perubahan iklim,” puji Prof. Wayan.

Ilmuwan HITPI dari Universitas Udayana (Unud) Bali ini juga mengapresiasi sistem pertanian yang tidak menggunakan banyak air di areal sawah. “Sistem yang digunakan seperti Sistem Sri yang digunakan di Bali,” tutur Prof. Wayan.

Ketua Kelompok Tani Kaifo Ingu, Kristofel Ulu mengatakan sejak terbentuk pada tahun 1986, Kelompok Tani Kaifo Ingu hanya beranggotakan 15 petani yang berupaya mengadopsi berbagai teknologi dengan kondisi lahan kering berupa hutan yang belum dikelola secara maksimal.

Ilmuwan HITPI saat memanen Pepaya di lokasi lahan yang dikelola oleh Kelompok Kaifo Ingu

“Namun pada tahun 2018, PKW dari Fakultas Peternakan (Fapet) Undana Kupang, Politani dan Pemkab Kupang telah merebut hati kami dengan memberikan bantuan awal berupa pembuatan lahan baru dalam seluas 5 hektar menggunakan ekskavator,” ungkap Kris.

Pihak PKW Fapet Undana Kupang, jelas Kris, juga mengajarkan teknologi IPAT-BO (Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Bahan Organik) yaitu teknologi menanam padi hemat air dengan menggunakan pupuk organik yang digunakan di areal sawah di lahan kering oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu.

Kandang Sapi yang terintegrasi dalam lahan yang dikelola oleh Kelompok Kaifo Ingu

Sementara itu, Pendamping Kelompok Tani Kaifo Ingu, Prof. Dr. Erna Hartati, MS. menyampaikan tentang pengelolaan lahan kering di Air Bauk merupakan program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan menggunakan teknologi hemat air masih menggunakan BBM dan cukup besar biayanya sehingga program ke depan energinya bersumber dari solar sel, shg meminimalisir penggunaan BBM.

Adapun konsep yang dibangun, jelas Prof. Erna yaitu pertanian terpadu/mix farming meliputi pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan dan kebun buah-buahan. Dalam kegiatannya tim pelaksana mentransfer berbagai teknologi yakni IPAT-BO yang menggunakan hemat air untuk mengoptimalkan produksi hasil pertanian tsb.

“Diharapkan 3 tahun ke depan dapat terwujud Agroeduwisata di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur sesuai tema PKW periode Tahun 2018—2020 yaitu Membangun Model Agroeduwisata di Kab Kupang yang dapat menjadi wisata agro untuk pendidikan yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi,” imbuh Prof Erna.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

‘Field Trip HITPI’, Wadah Studi Komparasi Lahan Kering Potensial di NTT

69 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Para ilmuwan yang tergabung dalam Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI) melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan atau Field Trip ke 3 (tiga) lokasi berbeda sebagai rangkaian dari Join Seminar Nasional dan Kongres HITPI ke-3 pada tanggal 5—6 November 2019 di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Baca juga : 

https://gardaindonesia.id/2019/11/05/hut-ke-56-fapet-undana-helat-join-seminar-nasional-dan-kongres-hitpi/

3 (tiga) lokasi yang dituju oleh para ilmuwan HITPI yakni kunjungan pertama ke Kelompok Peternak Penggemukan Sapi berbasis lamtoro dan produksi benih lamtoro teramba di Camplong II; kunjungan kedua ke kelompok tani/ternak Kaifo Ingu di Babau yang sedang melaksanakan Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema ‘Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang’ yang didanai DPRM DIKTI dan Pemda Kabupaten Kupang; dan kunjungan ketiga ke Yayasan Williams dan Laura di Tilong, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang.

Ilmuwan HITPI saat meninggalkan lokasi pengelolaan lahan kering di Air Bauk Baubau Kabupaten Kupang

Menggunakan 3 (tiga) unit bus pada Rabu, 6 November 2019, para ilmuwan dari HITPI bertolak dari Hotel Neo Aston menuju ke lokasi pertama pada pukul 08.30 WITA. Tiba pada pukul 09.30 WITA, para ilmuwan meninjau lokasi Kelompok Peternak/Tani Setetes Madu binaan dari UPT Pembibitan Ternak dan Produksi Pakan Ternak Provinsi NTT.

Di lokasi ini, para ilmuwan melihat langsung proses pembibitan dan pembudidayaan lamtoro sebagai bahan tumbuhan pakan ternak sapi di lahan kering berbatu seluas 50 ha dengan sumber air dari sumur bor sedalam 83 meter yang digunakan oleh Kelompok Peternak/Tani Setetes Madu.

Pembibitan dan pembudidayaan lamtoro teramba oleh Kelompok Tani/Ternak Setetes Madu di Camplong II Kabupaten Kupang

Kemudian Ilmuwan HITPI meninggalkan lokasi pertama pada pukul 10.54 WITA menuju ke lokasi kedua di lahan kering tadahan hujan seluas 5 hektar di Air Bauk, Desa Babau yang telah berjalan sejak tahun 1986 yang dikelola oleh Kelompok Kaifo Ingu dengan pendampingan oleh Prof.Dr. Erna Hartati dari Fakultas Peternakan Undana Kupang pada tahun 2018; menggunakan teknologi hemat air dengan sumber mata air dari sumur bor ini mengelola lahan kering untuk menanam jagung, sorgum, padi, pepaya (hortikultura dan pohon buah); peternakan, dan Hijauan Pakan Ternak.

Usai bertemu pengelola Lahan Kering yang dikelola oleh Kelompok Kaifo Ingu, ilmuwan HITPI melanjutkan kunjungan lapangan ke Yayasan Williams dan Laura di Tilong pada pukul 13.10 WITA. Tiba di lokasi pada pukul 14.15 WITA, rombongan ilmuwan HITPI disambut oleh pengelola yayasan yakni salah satu dosen Fapet Undana.

Ketua Panitia Seminar Nasional dan Kongres HITPI ke-3, Dr. Marthen Mullik dari Fakultas Peternakan Undana Kupang

Di lokasi lahan kering tersebut terdapat sumur bor sedalam 84 meter dan terdapat peternakan sapi, babi, kambing dan ayam. Usai menikmati makan siang bersama, rombongan ilmuwan HITPI menelusuri private property milik anggota DPR RI, Charles Mesang.

Yayasan Williams dan Laura mengemban misi sosial untuk berbagi ketrampilan dan pengetahuan dengan masyarakat sekitar dan mahasiswa.

Dr. Marthen Mullik, Ketua Panitia Seminar Nasional dan Kongres HITPI ke-3 mengatakan bahwa kegiatan Field Trip ini dilakukan agar para ilmuwan HITPI dapat melihat langsung lahan kering di NTT yang merupakan lahan marginal. “Kami sengaja membawa ilmuwan HITPI agar melihat bahwa di lahan tandus berbatu, masyarakat NTT dapat tetap bertahan dan dapat mengelola lahan kering menjadi lahan potensial,” beber Dr. Marthen.

Selain itu, “Agar para ilmuwan HITPI dapat melihat langsung cara masyarakat mengelola lahan kering dan cara mengembangkan ternak sapi di lahan kering,” tandas Ketua Panitia Seminar Nasional dan Kongres HITPI ke-3 Tahun 2019 kepada Garda Indonesia.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Wagub NTT Josef : “Harus Ada Terobosan Baru untuk Lahan Kering di NTT!”

36 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi menegaskan bila bidang pertanian dikembangkan dengan baik maka akan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Hal tersebut dikatakannya dalam Seminar Nasional Pertanian (Semnastan) VI & Lokakarya Nasional Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI), dengan tema ‘Masa Depan Pertanian Lahan Kering Kepulauan Menuju Ketahanan Pangan pada Era Revolusi 4.0’, yang diselenggarakan di Hotel Kristal pada Rabu, 7 Agustus 2019.

“Kalau kita mau mengkorelasikan Ilmu Pendidikan dengan bidang pertanian maka kita bisa kembangkan lahan yang kita miliki. Kalau lahan pertanian kita hebat, maka masyarakat kita akan sejahtera. Karena memang tujuan dari pertanian itu adalah mensejahterakan masyarakat”, jelas Wakil Gubernur Josef.

Dikatakannya, lahan kering di NTT ini sangat luas dan harus ada terobosan yang baru.

“Di NTT ini kita punya lahan kering yang luas. Sekarang bagaimana kita merencanakan dan memprogramkan inovasi serta terobosan yang baru di bidang pertanian,” jelasnya.

Menurutnya dalam pembangunan pertanian perlu ada komponen utama diantaranya adalah manusia, lahan, dan tanaman.

Foto bersama Wagub NTT Josef Nae Soi dan Dirjen Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup Dr. Ir. Bambang Supriyanyo, Sekjen Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Dr. Ir. H. Sudrajat, para Pimpinan Fakultas atau Prodi Ilmu dari beberapa Universitas se-Indonesia Timur.

Lebih lanjut ia menjelaskan bagaimana manusia memanfaatkan sumber daya pikiran dan kreatifitas dalam pemanfaatan lahan untuk dikembangkan dengan berbagai macam tanaman perkebunan, holtikultura dan kehutanan dalam pemanfaatan untuk bidang pertanian.

Dr. Ir. Maximilian Kapa, M.Agr, Sc selaku Ketua Panitia pada kesempatan tersebut mengatakan kegiatan seminar nasional dan workshop tersebut dilaksanakan dengan latar belakang Provinsi NTT yang adalah provinsi kepulauan dan didominasi oleh lahan kering.

“Lahan kering ini punya potensi untuk dikembangkan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dalam mengkaji pertanian lahan kering sesuai dengan seminar ini kita perlu mengkaji 4 (empat) aspek diantaranya aspek teknologi, agroforesty, sosial ekonomi dan pengembangan jasa pertanian,” ungkap Maximilian.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Dirjen Perhutanan Sosial Kementerian Lingkungan Hidup Dr. Ir. Bambang Supriyanyo, Sekjen Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Dr. Ir. H. Sudrajat, para Pimpinan Fakultas atau Prodi Ilmu dari beberapa Universitas se-Indonesia Timur, mahasiswa dan dosen. (*)

Sumber berita (*/Meldo Nailopo—Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Lahan Kering NTT Sangat Luas; Josef Nae Soi Ajak Politani Optimalkan

22 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id – “Lahan kering kita sangat luas. Sekarang orang banyak mencari lahan kering. Kita harus optimalkan lahan kering kita. Mari kita bekerja sama untuk NTT yang lebih baik,”ujar Gubernur 2 NTT Josef Nae Soi saat saat memberikan sambutan pada acara Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka Upacara Wisuda Sarjana Terapan Angkatan X dan Ahli Madya Angkatan XXX Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang di Aula Kampus Politani, Kamis (4/10/18).

Drs. Josef A. Nae Soi, MM menegaskan NTT punya sumberdaya alam luar biasa. Namun struktur ekonomi NTT masih termiskin ketiga di Indonesia. “Saatnya kita harus bangkit. NTT sangat kaya. Kita punya matahari dan lahan yang luar biasa. Mari kita tunjukkan kepada Indonesia dan dunia bahwa NTT tidak miskin,” ajaknya

Josef Nae Soi mengajak seluruh civitas akademika Politani Kupang untuk tidak membatasi kiprah. Sebagai mitra pemerintah, lembaga tersebut mesti terus menunjukkan jati diri dalam pendidikan vokasi pertanian berkualitas dan jiwa kewirausahaan. Nae Soi memperkenalkan dua gerakan Pemerintah Provinsi NTT dalam Visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera. Yakni Revolusi Hijau untuk gerakan menanam kelor dan Revolusi Biru untuk optimalisasi wilayah laut.

“Kita tunjukkan kepada dunia.Kalau mau beli kelor, datanglah ke NTT. Karena kita punya kelor terbaik di dunia. Mari kita populerkan dan kembangkan itu bersama bidang-bidang lain seperti garam dan perikanan,” ungkap Josef.

Lebih lanjut Josef Nae Soi mengungkapkan, dirinya sudah mengenal secara baik Politani karena sudah sering mengunjunngi lembaga ini sejak tahun 2000-an. Sebagai lembaga yang berkecimpung di bidang pengetahuan terapan, Politani diajak untuk bersama membangun NTT. “Mari kita bergandengan tangan.Kelola hal-hal praktis. Harus bisa menjadi orang lapangan. Jangan tanyakan bagaimana jagung itu tumbuh, tapi bagaimana menumbuhkan jagung, ” pungkas Nae Soi.

Melinda R. S Moata, SP, M.Sc., Ph.D, Dosen dan Peneliti Tanah dan Sumberdaya Alam pada Politani Kupang dalam orasi ilmiahnya mengungkapkan, lahan kering yang luas di NTT dapat ditatanami tanaman komoditi unggulan lokal seperti pangan, holtikultur dan perkebunan. Mengutip data BPS 2015, ada sekitar 3.584.394 hektar lahan kering dan 210.774 hektar lahan basah di NTT.

Beliau menawarkan pendekatan Circular Economy dengan penggunaan kembali sumberdaya pertanian melalui reducing, reusing dan recycling untuk pembangunan pertanian berkelanjutan.
“Tanaman kelor merupakan salah satu potensi emas untuk pemberdayaan lahan masyarakat karena merupakan sumber pangan berkualitas. Juga baik untuk konservasi dan penambahan unsur hara tanah, “jelas lulusan Doktor Universitas Adelaide-South Australia itu.

Direktur Politani Kupang, Ir. Thomas Lapenangga, MS menegaskan komitmen lembaganya untuk mendukung program-program pemerintah. Menurutnya, penelitian-penelitian dosen dan upaya pengabdian masyarakat diarahkan pada masalah khas NTT seperti optimalisasi lahan kering, pangan lokal, pakan ternak, kesehatan hewan dan lain sebagainya.
“Kami juga mengembangkan pengolahan hasil tanaman kelor. Kami mengajak bapak Gubernur untuk mencicipi mie dan pangsit kelor dari hasil kerajinan dan pengolahan anak-anak Teknokogi Hasil Pangan,” ungkap Thomas.

Untuk meningkatakan daya saing, jelas Thomas Lapenangga, Politani telah mengusulkan pembukaan Program Studi Magister Sains Terapan Ketahanan Pangan kepada Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada tahun 2018 ini. “Kami juga sedang mengembangkan pabrik pakan ternak mini. Dalam satu jam, pabrik ini dapat memproduksi satu ton pakan ternak babi, ayam dan sapi,”jelas Thomas.

Para wisudawan/ti Politani periode Oktober 2018 berjumlah 306. Terdiri dari 55 orang Sarjana Sains Terapan dan 251 orang Ahli Madya. Berasal dari lima jurusan yakni Manajemen Lahan Kering, Peternakan, Kehutanan, Tanaman Pangan dan Holtikultura serta Perikanan dan Kelautan. Kelima lulusan terbaik dengan predikat “Dengan Pujian” mendapatkan piagam dan tabungan dari Bank NTT sebesar Rp. 2 juta per orang.

Hadir pada kesempatan tersebut Unsur Forkompinda Provinsi NTT, para mantan Direktur Politani, orang tua dan keuarga wisudawan/ti, civitas akademika Politani, insan pers dan undangan lainnya. (*/humas)