Arsip Tag: norci nomleni

Komunitas Ume Kbubu Pinta Pemda TTS Berikan Ruang Kreasi bagi Kaum Milenial

331 Views

SoE-TTS, Garda Indonesia | Pagelaran lomba peragaan busana (fashion show) tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), pada Rabu, 21 Agustus 2019, yang dilaksanakan di kantor Bupati TTS (kantor lama,red) menuai kritikan dari pendiri Komunitas Ume Kbubu-TTS, Norci Nomleni.

Menurut Pegiat kreasi tenun ikat itu, pemerintah daerah harus memberikan ruang bagi kaum milenial untuk berkreasi dengan motif tenun di TTS agar menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomis.

Hal tersebut disampaikannya saat pada Rabu, 21 Agustus 2019, melalui pesan Whatsapp yang diterima media Garda Indonesia. Menurut perempuan muda itu, kain tenun TTS memiliki corak dan warna yang sangat menarik untuk dikreasikan. Hal tersebut tentunya untuk menjawab tuntutan zaman saat ini, dimana produk asing mulai menguasai gaya berbusana (fashion) orang Timor dan tenun masyarakat hampir tidak lagi digunakan oleh kaum milenial.

Menurut Ci, sapaan akrabnya gelaran lomba fashion show tersebut harusnya melibatkan orang-orang muda untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengkreasikan pakaian adat di TTS.

“Untuk membangun TTS, Pemerintah harus memberikan ruang bagi orang muda untuk berkreasi dan berinovasi,” pinta Ci.

Pemberian ruang kreativitas bagi kaum muda, lanjut Ci tentunya akan menambah nilai jual dari pakaian adat TTS, sehingga dapat menambah pendapat ekonomi masyarakat juga.

Kreasi pakaian adat bagi anak-anak dari Komunitas Ume Kbubu

Salah satu ajang yang dapat menampilkan kreasi dari orang-orang muda di TTS, menurut Ci adalah melalui ajang fashion show yang mana para peserta tampil dengan model fashion kekinian dalam balutan tenun TTS yang bisa dipakai dalam acara-acara formal maupun non formal.

“Kebiasaan fashion show hanya menampilkan khas budaya zaman dulu yang orang pake pada saat fashion show. Dan selesai kebanyakan orang juga berpikir bahwa setelah tenun hanya bisa dipake pada acara adat, ya selesai tidak bisa digunakan lagi,” beber Ci.

Lanjut Ci, ajang fashion show yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS, bekerja sama dengan Pemda TTS, tidak menampilkan kreativitas sama sekali.

“TTS harus merubah paradigma berpikir bahwa kita sekarang ada zaman milenial bukan zaman nenek moyang. Dimana perkembangan menuntut kita harus kreatif dan inovatif, guna meningkatkan kebudayaan yang ada nilai jualnya,” tegas Ci.

Ci menambahkan bahwa dengan kreasi tenun tersebut, masyarakat pengrajin tenun tidak akan bingung dalam memasarkan kain tenun karena ada orang-orang muda penuh kreativitas yang siap mengambil hasil tenunan untuk diolah lagi menyesuaikan dengan fashion kekinian.

“Semua orang akan termotivasi punya tenunan untuk bergaya. Dan disitu akan ada peningkatan ekonomi masyarakat pengrajin tenun. Tentunya kreasi sesuai model pakaian kekinian tetap mempertahankan budaya yang tidak terlepas dari etika berpakaian,” tutup Ci. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Norci Nomleni–Pendiri Komunitas Penggerak Perempuan & Pecinta Tenunan

644 Views

So’e-TTS, Garda Indonesia | Arus globalisasi didukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak kebudayaan luar atau mancanegara masuk dan diadopsi oleh anak-anak bangsa. Lalu penggunaan atau pelestarian kekayaan budaya mulai tersingkir secara perlahan-lahan.

Menyadari pergeseran pelestarian kebudayaan; oleh pemerintah dilakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kebudayaan suku-suku di Tanah Air. Misalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu yang lalu diadakan pemilihan Puteri Tenun NTT. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi ada individu-individu yang juga melalui usaha-usaha pribadi mereka berjuang untuk mempromosikan dan mempertahankan kebudayaannya.

Salah satu orang muda yang aktif mempromosikan dan me- rekondisi motif-motif daerah menjadi barang-barang yang memiliki nilai jual dan mampu bersaing di pasaran adalah Norci Nomleni. Perempuan kelahiran Niki-niki, 18 Agustus 1993 itu merupakan pendiri Komunitas Ume Kbubu di Timor Tengah Selatan (TTS).

Ume Kbubu merupakan salah satu kebudayaan Orang Timor, sebagai tempat penyimpanan makanan dan juga tempat berteduh yang menghangatkan bagi masyarakat suku Timor. Namun tulisan ini bukan tentang Ume Kbubu, tetapi tentang Ci, panggilan akrab Norci Nomleni dan Komunitasnya serta upaya melestarikan Budaya Timor khususnya Amanuban.

Kepada media Garda Indonesia, perempuan yang memiliki hobi bernyanyi ini, mengungkapkan bahwa Komunitas Ume Kbubu merupakan komunitas penggerak perempuan dengan tujuan memotivasi para perempuan untuk mencintai budaya melalui tenun yang memiliki banyak motif. Komunitas ini didirikan pada tahun 2017 atas usaha Ci panggilan akrab dari Norci sendiri.

“Komunitas ini saya dirikan pada tahun 2017, itu usaha sendiri. Tujuannya untuk memotivasi perempuan-perempuan di TTS, khususnya Amanuban untuk tetap menggunakan hasil tenunan sendiri, terutama para anak muda dan juga para ibu-ibu penenun”, ungkap alumni STAKN Kupang itu.

Setelah satu tahun berkarya, lanjut Ci dirinya mendapatkan dukungan dari Cipta Media Ekspresi. Sampai sekarang Komunitas Ume Kbubu beranggotakan 6 (enam) orang serta sudah beberapa kali diminta memberikan pelatihan di luar kota Soe tentang rekondisi barang-barang bekas dengan motif. Diantaranya kelompok perempuan GMIT Babu dan juga di Pemuda-pemudi Klasik Sulaman dalam camp Pemuda.

“Anggota kita 6 orang. Kita sudah beberapa kali diminta untuk memberikan pelatihan diluar TTS, kita terus berupaya menyebarkan virus cinta budaya ini lewat media maupun pelatihan seperti ini”, ungkap Ci ketika dihubungi via Whatsapp (Rabu, 26 Juni 2019)

Ditengah kesibukannya sebagai Penyuluh Agama di Departemen Keagamaan (Depag) TTS, dia juga menyempatkan diri untuk berbagi inspirasi melalui hobinya berfoto menggunakan kain tenun dengan berbagai motif dari Amanuban. Dirinya juga punya keinginan untuk bisa berfoto dengan berbagai motif tenunan di NTT, tapi untuk sementara dia memfokuskan diri pada motif Timor.

Kecintaan Norci terhadap budaya mendorongnya untuk berinovasi dengan motif Amanuban yang menurutnya sangat kental dengan warna dan punya banyak motif. Dirinya menjelaskan bahwa barang-barang yang di rekondisi ada berbagai macam dan tentunya sesuai dengan perkembangan zaman juga.

” Ada banyak sebenarnya. Mulai dari tas, dompet, sepatu, topi. Bahkan kita buat pakaian-pakaian sewaan dari motif dan pakaian pengantin sampel dulang-dulang dari bahan niru dan rotan yang kita rekondisi”, ungkap alumni SD Inpres Ekpulen Niki-niki itu.

Lanjut Ci, mempromosikan motif daerah dan memotivasi banyak orang khususnya anak muda untuk mempertahankan nilai-nilai budaya sebenarnya harus dilakukan oleh anak muda sendiri, karena yang mengerti selera anak muda adalah yang sebaya dengannya.

“Tujuan saya melakukan ini semua yaitu untuk mempromosikan, memotivasi dan membanggakan daerah sendiri ke publik dengan rajutan motif Timor, bahwa Timor juga tidak kalah menariknya dari daerah lain”, ujarnya.

Diatas semua maksud tersebut, ungkap Ci, bahwa perputaran roda ekonomi juga perlu didorong dengan berbagai kreatifitas, sehingga para penenun juga bersemangat dalam menenun karena kita sudah mempromosikan tenunan mereka melalui berbagai cara yang dapat mendongkrak perekonomian mereka.

“Kita perlu mendukung para penenun dengan melakukan berbagai hal kreatif sehingga bisa memotivasi mereka untuk semakin semangat dalam menenun. Dan mereka tidak bingung lagi dalam memasarkan tenunan mereka”, pungkas Norci. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)