Arsip Tag: paroki roh kudus halilulik

Suara Lapar dan Haus Warnai Kondisi Pasca-Banjir Bandang Malaka

328 Views

Malaka-NTT, Garda Indonesia| Sedih, ibarat anak ayam kehilangan induk, warga korban banjir bandang Malaka meneriakkan rasa ingin makan dan minum. Pengalaman nan amat mengharukan ini disaksikan langsung Garda Indonesia dan OMK Paroki Roh Kudus Halilulik, Kabupaten Belu, ketika melintasi sepanjang jalan Desa Fahiluka, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat siang, 9 April 2021.

Dugaan kuat Garda Indonesia, suara – suara menyedihkan itu hadir lantaran sedang merindukan jamahan tangan – tangan penuh kepedulian. Pengalaman ini pun dialami usai menyerahkan sumbangan berupa sembako, pakaian layak pakai ke Posko Ante Morten, Pusat Paroki Maria Fatima Betun.

Kondisi terakhir pasca–bencana banjir bandang Desa Fahiluka, suara–suara spontanitas terdengar dari setiap halaman rumah dan pinggiran jalan penuh timbunan lumpur sisa banjir bandang.

Romo Yogar Fallo dan OMK Paroki Roh Kudus Halilulik, Kabupaten Belu saat menyerahkan bantuan kepada korban banjir bandang di Malaka

Terlihat, semua orang tengah sibuk membersihkan bentangan lumpur di dalam dan luar rumahnya masing–masing. Ada yang mencuci, ada yang menjemur perlengkapan rumah tangga seperti sofa dan kasur, dan ada juga yang menguras sumur. Di sepanjang jalan itu pun tidak tampak binatang–binatang piaraan berkeliaran. Udara di sekitar lokasi bencana tercium  bau–bau tak sedap, terasa menyengat indra penciuman dari sisa–sisa bangkai.

Menanggapi kondisi tersebut, Romo Yogar Fallo menuturkan, bantuan kemanusiaan yang dihantar oleh berbagai pihak ke Malaka belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan semua korban banjir. Karena itu, ia masih terus berjuang bersama OMK Paroki yang sebagian besar merupakan anggota THS – THM paroki untuk melanjutkan penggalangan dana kemanusiaan termasuk sumbangan pakaian layak pakai. “Setelah kami serahkan bantuan ke Posko Dekenat Malaka, ternyata di lokasi masih ada teriakan haus dan lapar. Open donasi tetap harus kita lakukan karena banyak warga yang belum tersentuh bantuan terutama kampung– kampung yang sulit dijangkau,” ungkapnya.

Romo Yogar mengaku, pelayanan terhadap para korban banjir tentu ada banyak kekurangan dan kekeliruan. “Seperti di posko Dekenat Malaka ada yang sakit dan terpaksa berbaring saja di lantai beralaskan terpal. Mau minum obat, tapi makanan terlambat. Para petugas mestinya memilah, mana yang darurat dan mana yang tidak. Pendataan perlu dilakukan secara akurat sehingga tidak ada yang terabaikan,” sebutnya.

Kondisi pengungsi di penampungan Posko Ante Morten Betun

Romo Yogar juga meminta, kiranya ada kerja sama yang baik antara gereja dan pemerintah setempat agar bantuan– bantuan yang sedang mengalir deras ke Malaka bisa secepatnya diterima para korban, terutama makanan, minuman dan bantuan air bersih yang sifatnya darurat.

Pemuda Halilulik Bantu Korban Banjir Bandang di Malaka

Kelompok Pemuda Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, turut mengambil bagian dalam memberikan perhatian kepada para korban banjir bandang di Kabupaten Malaka.

Informasi yang diterima Garda Indonesia pada Kamis, 8 April 2021 menyebutkan, kelompok pemuda yang diinisiasi oleh Ronald Dalung dan kawan–kawan itu bergerak menggalang dana dari warga sekitar wilayah Halilulik dengan terlebih dahulu mengantongi surat izin dari Camat Tasifeto Barat dan dukungan dari Koramil Tasifeto Barat, Paroki Roh Kudus Halilulik, Polsek Tasifeto Barat, dan Pemerintah Desa Naitimu.

Bantuan sembako dan pakaian layak pakai itu sudah diserahkan ke Posko Induk Susteran SSpS Betun pada Kamis, 8 April 2021. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

“Ngamen di Pasar Halilulik” Pastor Bantu Korban Banjir di Malaka

336 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Orang Muda Katolik (OMK)  Paroki Roh Kudus Halilulik- Keuskupan Atambua, dipimpin Romo Yogar Fallo, Pr, mencari dan mengumpulkan dana di pasar mingguan Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  pada Kamis, 8 April 2021.

Disaksikan Garda Indonesia, sejumlah dana yang berhasil dikumpulkan itu berasal dari para penjual dan pengunjung pasar mingguan. Dana itu, kemudian dipakai untuk membelanjakan sembako sesuai dengan kondisi kebutuhan para korban banjir bandang di Malaka. Upaya pencarian sumbangan itu selain di pasar, juga diumumkan secara terbuka melalui mimbar gereja dan dari pintu ke pintu.

Romo Yogar Fallo mengungkapkan, kegiatan kemanusiaan itu berawal dari adanya inisiatif spontan guna membantu sesama umat Allah yang dilanda bencana banjir di Malaka.

Romo Yogar Fallo, Pr (kanan berbaju kaos biru) saat ngamen di Pasar Halilulik

Sebelum menjalankan aksi kemanusiaan itu, sebut Romo Yogar, dirinya sudah terlebih dahulu mempersembahkan intensi khusus dalam misa harian, yang mana menurutnya perkara kemanusiaan melebihi segala sesuatu. Dan, karena itu perlu dijunjung tinggi. “Kebetulan bertepatan dengan hari pasar, sehingga kami memanfaatkan momen itu. Awalnya ada keraguan, tetapi ketika sudah memulai aksi peduli nyata ini, justru ada antusias respons dari banyak orang untuk memberikan sumbangan”, jelasnya.

Dikatakannya, semangat membantu itu benar – benar berasal dari ketulusan hati dengan rasa solidaritas tinggi, merasa bagian dari diri kita sendiri, saudara dalam satu penciptaan, dalam satu dosa, dan dalam satu penebusan melalui kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.

Romo Yogar pun menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan yang telah menggerakkan hati banyak orang untuk memberikan sumbangan secara sukarela. “Terima kasih untuk semua orang yang sudah peduli. Kita jangan melihat sumbangan ini sebagai beban, melainkan melihat ini sebagai bantuan kepada diri kita yang lain. Apresiasi dan terima kasih kepada sesama non – Katolik yang juga telah mengambil bagian dalam peduli kemanusiaan ini. Mari, kita bersama membangkitkan kembali keceriaan saudara – saudara kita di Malaka,” papar Romo Yogar, pastor pembantu Paroki Roh Kudus Halilulik.

Warga sedang memberikan sumbangan bagi korban banjir bandang di Malaka

Pada kesempatan yang sama, Pastor Paroki, Romo Febronius Fenat, Pr menuturkan bahwa aksi peduli kemanusiaan ini merupakan kerja sama antara Paroki Roh Kudus Halilulik dan OMK Paroki sebagai bentuk perwujudan rasa turut prihatin terhadap para korban bencana alam di Malaka.

Inisiatif pengadaan dana ini sebut Romo Roni, timbul atas dasar iman Katolik untuk membantu sesama saudara yang sedang menderita akibat bencana banjir bandang di Malaka. “Kita buat kotak amal, lalu bawa ke pasar, toko – toko, rumah sakit, BRI, dan instansi – instansi pemerintahan. Kita juga buatkan surat pengantar dari Paroki sehingga orang tahu bahwa pencarian dana ini, resmi”, tandas Romo Roni.

Ia pun memaparkan, donasi ini merupakan pemberian dari hati terdalam dari umat paroki dan warga sekitarnya kepada sesama saudara korban bencana. “Jangan melihat besar kecilnya nilai bantuan ini. Inilah keterlibatan kami dalam membantu para korban di Malaka,” ujar Romo Roni.

Romo Eman Siki, Pr menegaskan, aksi peduli kemanusiaan ini sangat tepat dengan implementasi dari tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Keuskupan Atambua tahun 2021: ‘Pemberdayaan Ekonomi yang Berbela Rasa’. “Mari kita berbela rasa dengan sesama kita yang terkena dampak banjir bandang di Malaka dengan memberikan bantuan seadanya. Inilah pemberian dari keterbatasan kami. Semoga bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sesama korban di Malaka,” harap Romo Eman, pastor pembantu Paroki Roh Kudus Halilulik. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

Natal & Tahun Baru PAUD Lorensia, Romo Gusty : Kita Diminta Beri Bukti, Bukan Janji

235 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Apa yang dinubuatkan oleh para nabi, kini terpenuhi dalam diri Yesus Kristus Putera Allah. Apa yang dikatakan oleh para malaikat pun menjadi kenyataan, bukan sekadar janji manis bagi para gembala pada saat itu. Berani beri bukti, bukan sekadar janji. Apa yang pernah disampaikan, ada wujudnya, benar- benar terjadi dan sungguh nyata keberadaannya,” tutur Romo Gusty Nesi, Pr.

Kotbah Romo Gusty Nesi, Pr. disampaikannya saat memimpin perayaan ekaristi Natal dan Tahun Baru Bersama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Lorensia dengan tema ‘Yesus Datang Membawa Damai’ di Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat, 10 Januari 2020 petang.

Ia menandaskan, pada momen natal ini, semua komponen yang tergabung dalam PAUD Lorensia, diajak untuk bersyukur atas segala rahmat dan berkat yang diperoleh, terutama berkat dan rahmat Natal, pesta kelahiran Tuhan Yesus. “Kita bersyukur atas segala sesuatu yang sudah terjadi dalam hidup ini,” nasehat pastor pembantu paroki Roh Kudus Halilulik itu kepada umat yang hadir.

Menurutnya, para pengelola, para guru, bersama dengan para orang tua bersyukur atas kehadiran anak- anak. Bersyukur, sebab Allah telah mempercayakan mereka kepada kita. Para guru dan orang tua yang bersyukur, pasti punya kepedulian untuk perkembangan anak- anaknya. Para guru dan orang tua yang bersyukur, pasti punya perhatian dan pengorbanan untuk masa depan anak- anak. Para orang tua dan guru menjadi malaikat bagi anak- anaknya, selalu membawa mereka kepada sukacita, membawa damai dan kegembiraan.

Romo Gusty Nesi, Pr saat menyampaikan pesan natal dalam Natal dan Tahun Baru bersama PAUD Lorensia

“Mereka- mereka ini bagaikan para gembala, polos, lugu, sederhana, apa adanya, jujur, dan terbuka. Mereka sangat bersukacita, bila para guru dan orang tua sungguh- sungguh memberikan bukti cinta, bukti kesetiaan dan bukti pengorbanan bukan hanya sekadar janji- janji untuk mereka,” tukasnya.

Ia menguraikan, seperti apa yang tertulis pada layar: ‘Yesus Datang Membawa Damai’, kita merayakan Natal dan Tahun Baru Bersama berarti kita merayakan keselamatan dengan penuh sukacita dan penuh kegembiraan. Karena Allah yang Maha Agung itu berkenan mengambil satu keputusan untuk sama seperti manusia, supaya manusia pada suatu waktu tiba kepada-Nya.

Ia mengatakan, Natal sebagai peristiwa pernyataan cinta Allah kepada manusia, perlu ditanggapi oleh manusia dengan rasa syukur yang mendalam. Bersyukur, sebagai tanda menerima dengan tulus kedatangan sang Sabda yang telah menjadi manusia. Tetapi, hal ini bukan berarti setiap kali Natal dan Tahun Baru, baru mulai mengucapkan syukur. Kita bersyukur setiap waktu, setiap saat karena Allah, Tuhan juga mengunjungi kita, keluarga PAUD Lorensia setiap waktu.

Ditegaskannya dua hal dalam memaknai Natal dan Tahun Baru Bersama itu:
Pertama, bersyukur. Kita bersyukur bahwa telah lahir bagi kita sang Juru Selamat, Sang Pembawa Damai yang datang di tengah- tengah kita, di dalam kehidupan kita masing- masing. Para gembala di Betlehem menjadi saksi kunci kelahiran-Nya. Para gembala menjadi pihak pertama yang menemukan Sang Mesias, Putera Allah itu. Para gembala merasa sangat bersyukur atas perintah malaikat dan rasa syukur yang sama, manakala mereka pergi dan benar menjumpai seperti apa yang dikatakan oleh malaikat. Dan, mereka kembali dengan penuh sukacita sambil memuji dan memuliakan Allah yang datang itu.

Kedua, kita diminta untuk berani beri bukti bukan sekadar janji. Ia mencontohkan, ini biasa slogan- slogan manakala ada pemilihan- pemilihan mulai dari kepala desa, DPR, bupati, gubernur, presiden. Tim sukses katakan kami berani beri bukti bukan hanya sekadar janji. Inilah yang dilakukan Allah terhadap kita manusia.

Gusty berharap, dengan merayakan Natal dan Tahun Baru Bersama ini, kita semakin bersemangat, semakin bersaudara, penuh sukacita dan kedamaian untuk meraih mimpi- mimpi bersama, demi kepentingan lembaga pendidikan anak usia dini, teristimewa anak- anak yang kita kasihi.

“Semoga tahun baru ini memampukan kita untuk lebih baik lagi, lebih maju lagi, lebih semangat lagi untuk menggapai apa yang kita harapkan bersama, Tuhan memberkati kita, amin,” pintanya. (*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)