Arsip Tag: physical distancing

Belajar dari Rumah, Momen Penting Penguatan Relasi Anak dan Orang Tua

114 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Situasi Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) menyebabkan anak-anak dan sebagian besar orang tua menghabiskan waktu di rumah. Dalam kurun waktu tersebut, keberadaan anak dan orangtua di rumah berdampak pada pola rutinitas mereka.

“Sebagian besar orang tua bekerja dari rumah dan anak menjalani pembelajaran jarak jauh. Perubahan pola hidup ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga membuka webinar atau seminar online dengan tema How to Manage School-From-Home for Mom in Covid-19 Pandemic pada Selasa, 21.April 2020.

Menteri Bintang menegaskan, anak memiliki hak untuk mendapatkan pengasuhan yang berkualitas. Meski menghadapi tantangan terutama dalam pola asuh dan proses belajar pada anak, ada berbagai aspek positif yang diperoleh jika Belajar dari Rumah (BdR) dijalani dengan sabar, kreatif, dan menyenangkan.

“Penting disadari orang tua bahwa momen kebersamaan ini jadi proses berharga untuk menguatkan kembali relasi orang tua dengan anak. Menguatkan komunikasi dengan anak secara terbuka, menjadi pendengar yang baik, melatih anak keterampilan dasar mengurus diri dan pekerjaan rumah sehari-hari, serta mendampingi anak-anak dalam pelaksanaan BdR,” jelas Menteri Bintang.

Seminar Online dengan tema How to Manage School-From-Home for Mom in Covid-19 Pandemic

Menteri Bintang juga mengajak keluarga Indonesia berperan dalam membangun sistem BdR yang menyenangkan bagi orang tua dan anak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan di antaranya, mengatur jadwal dan suasana kondusif antara orang tua dengan anak termasuk pembagian peran antara ayah dan ibu, membuat sistem BdR yang menarik, misalnya bermain dan bernyanyi bersama sebelum kegiatan belajar dimulai atau memberikan hadiah, serta memastikan anak tetap dapat berinteraksi dengan teman-temannya dengan menerapkan physical distancing atau jaga jarak fisik.

“Teladan sikap orang tua sangat dibutuhkan bagi perkembangan anak. Anak-anak akan melakukan imitasi atau meniru dari lingkungan terdekatnya. Oleh karena itu, peran orang tua, termasuk pembagian tugas yang setara antara ayah dan ibu sangat penting bagi tumbuh kembang mereka,” ujar Menteri Bintang.

Dalam webinar, Dr. Nur Afny Dosen Universitas Tenri Abeng juga membagikan beberapa tips dalam mendampingi anak belajar di rumah. “Love your kids atau cintai anak kita. Orang tua juga perlu belajar komunikasi yang efektif dengan anak, memahami fase dan gaya belajar anak sehingga bisa menerapkan metode ajar yang tepat, serta memahami kesiapan belajar anak,” terang Nur Afny.

Berlangsung selama 2 jam 30 menit, seminar online yang diselenggarakan oleh Women in Engineering (WIE) IEEE Indonesia diikuti oleh 12 Doktor Teknik Elektro Perempuan Indonesia sebagai pemateri dan masyarakat dari berbagai kalangan. Seminar ini diselenggarakan sebagai upaya bersama untuk mencari solusi bagi ibu-ibu Indonesia yang saat ini menghadapi tantangan dalam memberikan pendidikan terbaik bagi anak di rumah.(*)

Sumber berita dan foto (*/ Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

Marius Jelamu : Yakinlah ODP dan PDP di NTT Pasti Sembuh !

44 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 atau Covid–19 yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si. menegaskan, masyarakat di seluruh NTT; di mana pun berada tidak perlu takut, cemas apalagi panik dengan virus corona.

“Kalau kita melihat angka-angka yang telah dibacakan ada kecenderungan bahwa Orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dari hari ke hari sembuh. Walaupun sembuh; kita tetap pantau dan ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu terlalu cemas dan khawatir dengan virus corona. Kita punya keyakinan untuk percaya diri bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit yang saat ini; tidak hanya dialami di Indonesia tetapi dialami lebih dari 200 negara di dunia,” ujar Marius kepada pers pada Selasa malam, 14 April 2020.

Karena itu sebut Marius, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) mengimbau agar masyarakat NTT tetap mematuhi protokol-protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO maupun otoritas pemerintah. “Bapak Gubernur dan Bapak Wagub sekali lagi mengimbau kita semua di seluruh NTT; yang diam di perkotaan ataupun di pedesaan; yang berdiam di pinggir-pinggir pantai; yang berdiam di daerah–daerah perbukitan, pegunungan untuk mematuhi protokol-protokol kesehatan. Ikuti semua dan pedoman; baik yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO maupun oleh pemerintah pusat atau pemerintah provinsi atau juga pemerintah kabupaten/kota seluruh NTT,” pinta mantan Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT.

Dia berharap, semua protokol ini ditaati dengan baik seperti yang pertama : selalu mencuci tangan dengan sabun detergen. “Usahakan ketika kita kembali ke rumah; kita mencuci tangan kemudian menyemprot sepatu, sendal, pakaian kita dengan disinfektan atau merendamnya di ember yang sudah ada detergennya. Sehingga terhindar dari virus corona ini,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, mewujudkan dengan sungguh-sungguh apa yang disebut WHO : Sosial Distancing; menghindari kerumunan atau tidak membuat kerumunan. “Kita tidak melakukan kegiatan-kegiatan sosial budaya atau kegiatan apapun yang melibatkan banyak orang. Selalu berada di dalam rumah kecuali untuk hal-hal yang sangat mendesak; keluar rumah untuk membeli makanan dan minuman ataupun untuk melakukan pekerjaan,” ungkap dia seraya menambahkan, “Bapak Gubermur dan Bapak Wagub mendorong kita agar selalu menjaga kebugaran tubuh kita dengan berolah raga atau berjemur di panas matahari.”

Jangan lupa, sambung Marius, ketika berada di ruang-ruang publik selalu memakai masker. “Karena itu, Bapak Gubernur dan Bapak Wagub memberikan penghargaan yang tinggi kepada lembaga-lembaga sosial dan asosiasi-asosiasi yang telah membantu masker juga membantu alat pelindung diri bagi dokter dan tenaga medis kita. Kita harapkan solidaritas kemanusiaan ini tertular seperti virus dari orang ke orang dari kelompok masyarakat ke kelompok masyarakat lain dan kita bersatu padu melawan virus ini; melawan bencana kemanusiaan ini,” tandasnya.

Data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se NTT hingga Selasa malam, tercatat ada 1.340 ODP dan PDP. Selesai pemantauan 476 dan ada 12 orang yang dirawat. Karantina mandiri sebanyak 819 orang; kondisi saat ini 831 dan meninggal 1 orang. Jumlah PDP sebanyak 11 orang; dirawat 7 orang; sembuh 10 orang dan meninggal 3 orang. Jumlah sampel 55; 36 sampel hasilnya negatif; 1 sampel positif dan 18 sampel belum ada hasil. (*)

Sumber berita dan foto (*/Valeri Guru–Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)
Editor (+rony banase)

Hikmah di Balik Orang NTT Pertama Positif Covid-19

727 Views

Hikmah di Balik Orang NTT Pertama Positif Covid-19

Oleh : Rony Banase

Membayangkan kita terpapar Covid-19, dinyatakan positif lalu diumumkan dan masuk dalam list orang positif Covid-19, ibarat peristiwa paling menyeramkan dalam sejarah hidup kita. Namun, kondisi ini berbeda terhadap seorang Putra Terbaik asal Pulau Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama El Asamau.

Dengan predikat baru yang disandang “Pasien 01” pemilik nama lengkap Elyas Y. Asamau, S.IP., MPP. Tak urungkan niat baik untuk secara terbuka mengumumkan jati dirinya (melalui chanel youtube https://youtu.be/uw1b9YvJwjo  mengidap Corona Virus Disease (Covid-19) yang melanda dunia dan tercatat (Hingga 10 April 2020) ada 1.600.984 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 95.604 jiwa dan yang telah sembuh sebanyak 355.671 orang (data dari Worldometer).

Kondisi ini drastis mengubah predikat “Zona Hijau NTT Negatif Covid-19” menjadi Zona Merah dan mereposisi provinsi dengan julukan New Tourism Territory sebagai provinsi ke-33 yang terpapar Covid-19 diumumkan oleh Jubir Pemerintah Penanganan Covid-19 di Indonesia (baca : https://gardaindonesia.id/2020/04/09/ntt-1-positif-covid-19-total-nasional-capai-3-293-kasus/

Kondisi tersebut tak pelak menjawab teka-teki siapa orang positif pertama Covid-19 (karena muncul berbagai spekulasi warga media sosial [citizen journalism]), dalam hitungan detik berbagai sudut medsos dibanjiri oleh viralnya pengakuan tulus El dengan bumbu penguatan dan edukasi bagi seluruh masyarakat NTT agar siap mental dan tenang menghadapi pandemi Covid-19.

Tak lazim? Memang, siapa di dunia ini yang berani dan berbesar hati mengumbar kondisi positif Covid-19 (meski protap Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19, wajib merahasiakan identitas pasien Covid-19). Berbanding terbalik bagi El Asamau, pegiat literasi yang sempat viral beberapa waktu (sekitar 2—3 bulan) lalu di berbagi platform media sosial karena kegigihan dan ketabahan berupaya mencari jalan agar saudari perempuan tersayangnya sembuh dari penyakit kejiwaan dan kembali waras.

Sontak berbagai pemberitaan bermunculan ibarat jamur di musim hujan, mulai dari postingan ala kadar di medsos hingga karya jurnalistik merebak seisi pengguna smartphone yang setiap detik menelusuri berita Covid-19 yang mengalahkan rating berita hubungan asmara pejabat publik, kasus pemerkosaan, pelecehan seksual, korupsi, pembunuhan, hingga berita edukatif dan komunikatif di media daring (online), elektronik dan cetak.

Warganet pun menggapai ide dan memperoleh ruang ekspresi mengumbar dan menjual berita hot “Orang NTT Pertama Positif Covid-19” berbagai sudut dihiasi potret El Asamau, beragam corak pemberitaan hingga meme kaya ragam menghiasi dinding layar hp android teman kita sehari-hari.

Lantas, apa hikmah dari pengakuan tulus El Asamau? Itu sebuah pelajaran berharga bagi kita Orang NTT yang dikenal gigih dan berwatak keras layaknya batu karang. Kita diedukasi oleh anak seorang petani yang mengenyam pendidikan hingga jenjang S3 (Doktor) di American University. Lagi pula, Tuhan amat baik bagi kita karena peneguhan positif Covid-19 El Asamau bertepatan pada rentetan momentum sakral umat kristiani di Provinsi Nusa Terindah Toleransi.

Masa Paskah 2020, bersanding mesra dengan masa tanggap darurat Covid-19, masa ini memaksa kita memindahkan lokasi altar pemujaan, puji-pujian dan penyembahan dari gereja ke rumah masing-masing. Masa Paskah tahun ini memotret sejarah dan bakal dikenang oleh anak cucu kita bahwasanya tergores dalam tatanan budaya, Prosesi Semana Santa di Kota Reinha Flores Timur dibatalkan, Pawai Paskah di Kupang pun demikian, hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang mengekang ekspresi di beberapa kota.

Lalu, sebuah pesan menggantung manja di benak saya, apa pesan Tuhan bagi kita melalui Pandemi Covid-19 ini? El tertular Covid-19 bukanlah sebuah kebetulan, tetapi Tuhan punya rancangan dan rencana yang luar biasa, Tuhan menyiapkan El Asamau menjadi saluran berkat dan bermanfaat lebih besar bagi Nusa Tenggara Timur.

Namun, kita dituntut lebih memproteksi diri dari Covid-19, kita dipaksa dengan pertimbangan keselamatan jiwa untuk melakukan pembatasan interaksi sosial (social distancing), jaga jarak interaksi (physical distancing), membudayakan diri cuci tangan, memakai masker, dilarang berjabat tangan hingga menakar tradisi cium hidung (Henge’do) yang menjadi budaya keakraban dan pemutus sengketa.

Kita pun dipinta oleh pemerintah untuk tidak panik dan melakukan protokol kesehatan diri, jangan menciptakan kerumunan, menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga, dan memakai masker, baca https://gardaindonesia.id/2020/04/10/pasien-positif-covid-19-dirawat-di-rs-w-z-yohanes-gubernur-pinta-jangan-panik/

Efek kejut dari pengakuan tulus dari pegiat literasi dan pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Alor ini justru agak memudahkan pemerintah melakukan penelusuran (contact tracing) dengan siapa saja El Asamau berinteraksi. Prosedur ini tampaknya bakal berbuntut pada kesadaran kita untuk lebih mawas diri memosisikan lokasi berdiri mengantri saat berbelanja obat di apotik, namun tidak serupa saat berbelanja di pasar tradisional, memesan makanan favorit via aplikasi, menghabiskan waktu membaca buku favorit, memainkan game online, berkumpul bersama keluarga tercinta (menepis sejenak kesibukan diri), bahkan menyadarkan kita membaca buku terlaris di dunia (Alkitab, red) guna mengisi waktu perpanjangan masa Pandemi Covid-19 entah sampai kapan.

Salam Sehat dan Jaga Jarak. Tuhan Memberkati Nusa Tenggara Timur

Meutya Hafid Ajak Wartawan Peduli Keselamatan Diri

138 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid mengajak wartawan lebih peduli akan keselamatan diri saat mewartakan informasi di lapangan terutama informasi yang berhubungan dengan Covid-19. Meutya mengaku risau saat mendapat kabar adanya sejumlah wartawan yang dinyatakan positif Covid-19 karena masih harus bertugas di lapangan.

“Kepada para wartawan yang menjadi garda terdepan di saat pandemi seperti saat ini, kami mohon juga untuk melakukan disiplin mandiri (self discipline) dalam peliputan-peliputan terkhusus liputan Covid-19,” kata Meutya dalam keterangan resminya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, pada Jumat, 10 April 2020.

Sampai saat ini, Meutya menilai bahwa wartawan telah menjadi pilar yang sangat penting untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat khususnya di saat kondisi seperti sekarang ini. Oleh karena itu, mantan wartawan di salah satu televisi swasta tanah air itu mengimbau agar wartawan selalu menjaga jarak yang aman dalam melakukan tugasnya.

Apabila memungkinkan, wartawan bisa juga melakukan pelaporan-pelaporan dari rumah saja dengan tetap mematuhi protokol kesehatan terutama menjaga jarak dari anggota keluarga di rumah. “Teman-teman, selama tidak bertugas (di luar) bisa melakukan pelaporan-pelaporan di mana memungkinkan melalui di rumah saja. Tentu ikut juga mendukung kebijakan-kebijakan yang kita harapkan bisa mengamankan diri dan keluarga dari teman-teman wartawan itu sendiri,” kata Meutya.

Jurnalis yang pernah mengalami penyanderaan saat bertugas di Irak itu mengatakan bahwa Komisi I DPR RI yang bertugas mengawasi bidang Komunikasi dan Informatika, selain bidang Pertahanan, Luar Negeri, dan Intelijen mengakui peran sentral wartawan dalam masa pandemi seperti sekarang ini.

“Komisi I menilai bahwa peran wartawan ini menjadi amat sangat penting, tadi kami juga titipkan kepada Kepala Gugus Tugas Covid-19 (Doni Monardo) untuk juga memperhatikan teman-teman wartawan terkhusus pada peliputan-peliputan Covid-19,” kata Meutya.

Ia berpesan agar ke depan penyelenggara konferensi pers agar mematuhi protokol kesehatan yang selama ini sudah disampaikan oleh Gugus Tugas Covid-19. Dalam hal ini banyak metode peliputan yang bisa dilakukan tanpa harus mengambil risiko dengan berkerumun di lapangan, misalnya melalui televisi pool, televisi streaming, telepon seluler, dan sebagainya.

Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 selama memberikan keterangan resmi mengenai Covid-19 dari Kantor Graha BNPB melalui sistem TV Pool, Radio Pool dan rilis pers kepada para awak media melalui grup jejaring sosial yang dikelola oleh Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

“Tidak boleh lagi ada wartawan dibiarkan berkerumun, sehingga dapat menjadi potensi penyebaran Covid-19,” kata Meutya.

Meutya juga meminta kepada Perusahaan Pers tempat wartawan bekerja agar selalu membekali wartawan dengan edukasi dan tata cara melakukan peliputan lapangan dengan metode jaga jarak aman fisik (physical distancing). “Terhadap Perusahaan Pers agar berperan bertanggung jawab untuk mengedukasi para wartawannya untuk juga melakukan physical distancing untuk keamanan bersama,” pungkasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kapus Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Lihat Ruang Isolasi Covid-19 di RS SK Lerik, Wali Kota Jefri Pinta Warga Waspada

123 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Wali Kota Kupang, Dr. Jefirstson R Riwu Kore, M.M., M.H. mengimbau warga kota untuk mendukung pemerintah melawan penyebaran virus ini dengan cara menjaga kesehatan diri dan menjaga jarak dengan sesama atau (Physical Distancing) dan mengurangi aktivitas atau pertemuan-pertemuan yang tidak perlu (Social Distancing).

Selain itu, pinta Wali Kota Jefri (sapaan akrabnya, red), agar warga kota dapat mengikuti imbauan para pemimpin agama agar sementara waktu ini melakukan ibadah di rumah masing-masing,

“Ini semua demi kebaikan bersama. Karena kita semua berpeluang tertular dan menularkan virus bagi orang lain,” tegas Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore di hadapan awak media usai meninjau langsung meninjau pembangunan ruang isolasi di RSUD SK Lerik Kota Kupang, pada Sabtu, 4 April 2020.

Kepada awak media, Wali Kota Jefri menyampaikan hendak memastikan kesiapan Pemkot Kupang dalam menghadapi pandemik Covid 19 atau Novel Coronavirus. “Sebagai salah satu rumah sakit rujukan di NTT, RSUD SK Lerik akan menyediakan 10 ruang isolasi dengan 20 tempat tidur yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan dan diharapkan bisa selesai dalam waktu satu hingga dua hari ke depan,” ujarnya.

Wali Kota Jefri saat meninjau salah satu ruangan yang dipersiapkan untuk ruang isolasi Covid-19 di RSUD SK Lerik

Wali Kota Jefri juga mengatakan, meskipun hingga saat ini di Kota Kupang bahkan di Provinsi NTT pada umumnya tidak tercatat adanya kasus positif Covid-19, namun warga dan pemerintah harus tetap waspada dan mempersiapkan segala sesuatu termasuk diantaranya kesiapan Rumah Sakit dalam menyediakan ruang rawat inap atau ruang bertekanan negatif untuk isolasi pasien positif Covid-19.

Dirinya menyampaikan apresiasi kepada para dokter, perawat dan petugas medis serta pihak-pihak terkait lainnya yang telah bekerja sama dan berjibaku dalam menghadapi penyebaran virus Corona di Kota Kupang.

Pada kesempatan yang sama Wali Kota Jefri menyampaikan bahwa terhadap dampak dari pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Kupang akan menyiapkan anggaran sebesar Rp.45 miliar terutama untuk penanganan medis dan jaring pengaman sosial guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat, salah satunya dengan membagikan voucer sembako bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, Direktur RSUD SK Lerik, dr. Marsiana Y. Halek di hadapan Wali Kota Kupang, memastikan akan menyelesaikan pengerjaan ruang isolasi tersebut secepatnya. Mengenai persediaan alat perlindungan diri (APD) saat ini menurutnya masih cukup, selain stok rumah sakit mereka juga mendapat bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Kota Kupang serta sumbangan dari para donatur.

Turut hadir dalam peninjauan ruang isolasi tersebut Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD SK Lerik, dr. M. Ihsan. (*)

Sumber berita dan foto (*/Humas Pemkot Kupang)
Editor (+rony banase)

Pasien Covid-19 Berhasil Sembuh Jadi 112, Positif 1.790 Orang

140 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah pasien Covid-19 yang sembuh di Indonesia terus bertambah mencapai 112 orang, sedangkan kasus positif menjadi 1.790 orang sementara meninggal 170 orang hingga Kamis, 2 April 2020 pukul 12.00 WIB.

Dibanding sehari sebelumnya, jumlah pasien sembuh bertambah sebanyak sembilan orang dari 103 pasien, sedangkan kasus positif bertambah 113 orang dari 1.677 kasus.

Sedangkan pasien yang meninggal dunia bertambah 13 kasus. Sebelumnya pada Rabu, 1 April 2020, tercatat 157 jiwa meninggal dunia. Data tersebut tercatat terhitung sejak Rabu—Kamis pukul 12.00 WIB.

“Ada penambahan kasus konfirmasi positif yang baru sebanyak 113 kasus. Sehingga total menjadi 1.790 kasus positif,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, pada Kamis, 2 April 2020.

Gugus Tugas merincikan data positif COVID-19 di Indonesia yaitu Provinsi Aceh sebanyak lima kasus, Bali 25 kasus, Banten 164 kasus, Bangka Belitung dua kasus, Bengkulu satu orang, DI Yogyakarta 27 kasus, dan DKI Jakarta 897 kasus.

Selanjutnya, di Jambi dua kasus, Jawa Barat 223 kasus, Jawa Tengah 104 kasus, Jawa Timur 104 kasus, Kalimantan Barat 10 kasus, Kalimantan Timur 21 kasus, Kalimantan Tengah sembilan kasus, Kalimantan Selatan delapan kasus, dan Kalimantan Utara dua kasus.

Kemudian, di Kepulauan Riau tujuh kasus, NTB enam kasus, Sumatera Selatan 11 kasus, Sumatera Barat delapan kasus, Sulawesi Utara tiga kasus, Sumatera Utara 22 kasus, dan Sulawesi Tenggara tiga kasus.

Adapun di Sulawesi Selatan 66 kasus, Sulawesi Tengah dua kasus, Lampung delapan kasus, Riau tujuh kasus, Maluku Utara dan Maluku masing-masing satu kasus, Papua Barat dua kasus, Papua 10 kasus, serta satu kasus positif di Sulawesi Barat.

Dari data tersebut di atas, sudah ada 32 provinsi di Indonesia yang telah terpapar penyakit yang disebabkan virus corona tersebut sedangkan yang belum terpapar yakni Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Gorontalo.

Dalam upaya percepatan penanganan covid-19, Pemerintah mengajak masyarakat untuk bersungguh-sungguh mengawali penanganan wabah mulai dari yang terdepan, yaitu masyarakat guna memutus rantai penularan di tengah masyarakat dengan menerapkan aturan yang telah sesuai protokol kesehatan, physical distancing, social distancing dan work form home.

“Untuk itu penting bagi kita untuk memutus mata rantai penularan. Karena itu pentingnya tetap menjaga jarak baik di dalam maupun di luar rumah, hindari keramaian, kerumunan dan rajin mencuci tangan,” tutup Yuri.(*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Presiden Jokowi Ajak Kerja Sama Pusat dan Daerah dalam Penanganan Covid-19

43 Views

Batam, Garda Indonesia | Menghadapi dampak pandemi global Covid-19, Presiden Joko Widodo mengajak kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Sinergi erat antara keduanya amat dibutuhkan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari Covid-19 hingga ke daerah-daerah.

“Yang paling penting menurut saya bagaimana kerja sama antara pemerintah pusat sampai pemerintah daerah yang paling bawah. Dari yang paling atas, presiden, sampai nanti di kepala desa. Ini penting sekali,” ujarnya selepas meninjau kesiapan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 di Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, pada Rabu, 1 April 2020.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan disebut Presiden dapat dijadikan acuan dan pedoman bagi pemerintah pusat dan daerah agar berada dalam satu garis visi yang sama.

Presiden Jokowi saat memasuki dan melihat dari dekat kesiapan rumah sakit darurat penanganan Covid-19 di Pulau Galang

Sebelumnya, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dan Keppres (Keputusan Presiden) Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang menjadi aturan pelaksanaan dan landasan kebijakan bagi pemerintah dalam menangani dampak Covid-19.

“Kita ini bekerja berdasarkan aturan undang-undang yang ada. Kita bekerja juga karena amanat konstitusi. Jadi pegangannya itu saja. Kalau ada Undang-Undang mengenai Kekarantinaan Kesehatan ya itu yang dipakai,” ucapnya.

Presiden memastikan bahwa langkah-langkah yang kini ditempuh oleh pemerintah merupakan langkah yang sebelumnya telah diperhitungkan dan disesuaikan dengan kondisi yang ada di Indonesia, baik kondisi geografis, demografi, karakter budaya, kedisiplinan, maupun kemampuan fiskal. Pemerintah bahkan juga telah mempelajari langkah-langkah dan kebijakan yang ditempuh sejumlah negara dalam menangani kasus Covid-19.

“Kita tidak mengambil jalan yang itu (lockdown). Kita aktivitas ekonomi tetap ada, tetapi semua masyarakat harus menjaga jarak. Jaga jarak aman yang paling penting. Kita sampaikan sejak awal, social distancing atau physical distancing, itu yang paling penting,” tuturnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)
Editor (+rony banase)

Gubernur VBL Tegaskan Tidak Ada Kewenangan Pemda Tutup Bandara

246 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur Provinsi Nusa Tenggara, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) usai memimpin Rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) dan telekonferensi  dengan Wali Kota dan Bupati se-NTT pada Selasa, 31 Maret 2020 di Gedung Sasando Kantor Gubernur NTT, menegaskan bahwa bandara tidak boleh ditutup.

Penegasan Gubernur VBL tersebut disampaikannya saat menanggapi pernyataan awak media. “Karena itu kewenangan Pemerintah Pusat dan kita perlu obat-obatan, perlu APD (Alat Pelindung Diri), karena itu fasilitas yang kita butuh untuk menangani segala hal,” ujarnya didampingi Wagub Josef Nae Soi, Sekda NTT, Ir. Ben Polo Maing; Ketua DPRD NTT, Ir. Emi Nomleni; Kapolda NTT, Irjen. Pol. Hamidin; Danrem 161 Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Syaiful Rahman; Kabinda NTT, Staf Khusus Gubernur bidang politik, Dr. Imanuel Blegur dan sejumlah pimpinan perangkat daerah lingkup Pemprov NTT.

Lebih lanjut Gubernur VBL menegaskan bahwa tidak ada kewenangan Pemerintah Daerah untuk menutup bandara. Dan mengenai Karantina Daerah, imbuhnya, belum bisa dilaksanakan karena merupakan kewenangan Pemerintah Pusat. “Khusus untuk bencana sampai pada darurat sipil, semua merupakan kewenangan pemerintah pusat,” terangnya.

Mantan Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem ini menekankan Pemda mengikuti keputusan Pemerintah Pusat karena ini negara kesatuan. “Jadi yang darurat sipil itu negara dan kita mengikuti karena merupakan kesatuan politik dan kesatuan hukum,” ucapnya.

Ia pun melanjutkan apa yang diinstruksikan Presiden Jokowi yakni pencegahan penyebaran virus corona dengan Physical Distancing dan Social Distanting. “ Kita menyiapkan seluruh fasilitas jika terjadi karantina wilayah (lockdown), maka kita mampu melayani masyarakat dengan baik. Uangnya, ruang isolasinya dan seluruh rumah sakit disiapkan dengan baik,” bebernya.

Jika dampak sosial dan ekonomi menimpa seluruh pekerja harian seperti buruh yang oleh karena Covid-19, mereka tidak bisa kerja, jelas Gubernur VBL, Pemprov NTT akan memberikan bantuan sosial.

“Pemerintah Provinsi menyiapkan Rp.270 miliar untuk membantu masyarakat seperti itu. Setiap Pemerintah Kabupaten dan Kota saya telah perintahkan untuk mengalokasikan anggaran dari APBD sebesar Rp.13 miliar hingga 6 bulan ke depan guna mengatasi kondisi tersebut,” tandasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)