Arsip Tag: plan internasional indonesia

“Catat Setiap Anak” Plan Indonesia Bantu Alat Kerja untuk Disdukcapil Nagekeo

262 Views

Mbay, Garda Indonesia | Untuk mendukung percepatan pencatatan dokumen kependudukan terutama data anak, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) memberikan bantuan satu unit laptop dan dua unit printer untuk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Nagekeo pada pada Senin, 3 Agustus 2020 di Mbay, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan alat kerja oleh Plan Indonesia yang diberikan pada masa pandemik Covid-19, bertujuan untuk mempercepat pendataan identitas anak baru dan menerbitkan akta kelahiran mereka. Selain itu, Plan Indonesia mengadakan peningkatan kapasitas Dinas Dukcapil untuk menyelenggarakan pembuatan akta kelahiran kolektif di Nagekeo.

Weke Andreas, Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Nagekeo menyampaikan bahwa sekitar 11 persen anak umur 0—18 tahun anak di Nagekeo belum memiliki akta kelahiran. “Hingga bulan Desember 2020 kita memiliki target 95 persen dan saat ini sudah mencapai 89,4 persen yang memiliki akta kelahiran. Dukungan Plan Indonesia akan sangat membantu penyelenggaraan pelayanan catatan sipil yang lebih efektif dan mudah diakses oleh masyarakat,” ujar Andreas.

Kadis Dukcapil Kabupaten Nagekeo saat menandatangani berita acara serah terima bantuan dari Plan Internasional

Kontribusi Plan Indonesia tersebut merupakan bagian dari proyek Catat Setiap Anak (Count Every Child Project) yang telah berlangsung di Kabupaten Nagekeo sejak tahun 2020—2023. Melalui proyek ini, Plan Indonesia melakukan riset tentang hak atas identitas dan kebangsaan. Plan Indonesia juga memfasilitasi lokakarya tingkat lokal untuk meningkatkan kesadaran berbagai pemangku kepentingan tentang hak identitas anak, terutama pentingnya menjangkau data anak perempuan yang terpinggirkan.

Eka Hadiyanto, Program Implementation Area Manager Plan Indonesia di Kabupaten Nagekeo menjelaskan bahwa pembuatan akta kelahiran merupakan bagian dari melindungi, menghargai, dan mengakui status anak sebagai bentuk pemenuhan hak anak atas identitas dirinya. “Anak yang tidak memiliki akta kelahiran dihadapkan pada sejumlah risiko, seperti pemalsuan identitas untuk berbagai kepentingan. Risiko lainnya terutama anak-anak di pedesaan yang tak memiliki akta kelahiran adalah menjadi sasaran empuk perdagangan anak,” urai Eka.

Melalui proyek ‘Catat Setiap Anak’, Plan Indonesia berupaya mendorong perbaikan proses tata kelola layanan catatan sipil dengan partisipasi proaktif dari Kelompok Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) melalui mekanisme perlindungan anak berbasis masyarakat di 15 desa dampingan di Kabupaten Nagekeo. (*)

Sumber berita dan foto (Publikasi Plan Internasional)
Editor (+rony banase)

Cegah Covid-19, Plan Indonesia Distribusi 6 Juta Liter Air Bersih di Nagekeo

255 Views

Nagekeo, Garda Indonesia | Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat merupakan salah satu langkah pencegahan penyebaran Covid-19. Untuk itu, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) mendistribusikan lebih dari 6 juta liter air bersih secara gratis ke 81 dusun yang tersebar di 29 desa di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan yang dilakukan pada Mei—Juni 2020 ini juga meliputi penyediaan 122 tandon air yang terus akan terisi sehingga mempermudah masyarakat dalam mengambil air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu wilayah yang masih mengalami krisis air bersih. Ketika musim kemarau tiba, warga Kabupaten Nagekeo bahkan harus mengambil air di embung/cekungan penampung air yang bercampur dengan kotoran ternak, dan sebagian warga lainnya harus membeli air bersih.

Padahal untuk mencegah penularan Covid-19, masyarakat di Nagekeo membutuhkan akses sarana cuci tangan berupa air bersih mengalir dan sabun di tempat-tempat umum.

Warga Desa di Nagekeo mengantri mengambil air distribusi dari Plan Internasional

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi NTT tahun 2007, menyebutkan bahwa hampir 50% rumah tangga mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih pada musim kemarau. Sedangkan hasil Riskesdas tahun 2010, menunjukkan bahwa 42% penduduk di Nusa Tenggara Timur hanya menggunakan 20 liter air per orang per hari. Rendahnya pemakaian air di wilayah NTT, menempatkan provinsi ini pada urutan pertama dalam hal pemanfaatan air yang rendah di Indonesia.

Plan Indonesia menyadari bahwa air bersih merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi untuk menyokong seluruh aktivitas anak dan kaum muda beserta keluarganya. Eka Hadiyanto, Program Implementation Area Manager Plan Indonesia di Flores menyampaikan bahwa penting bagi anak dan kaum muda untuk mengerti dan menjaga kebersihan sehari-hari, bukan hanya untuk melindungi diri mereka melainkan orang tua yang lebih rentan terpapar Covid-19.

Melalui kegiatan pemenuhan kebutuhan air bersih, Plan Indonesia ingin menunjukkan dukungan kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Nagekeo dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Eka menjelaskan bahwa bantuan distribusi air bersih merujuk pada Standard Operating Procedure (SOP) dari fase pendataan penerima manfaat, persiapan distribusi, pelaksaan distribusi hingga evaluasi setelah distribusi. Alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan juga wajib dikenakan oleh tim distribusi di lapangan.

“Keselamatan dan keamanan staf dan relawan di wilayah dampingan Plan Indonesia adalah prioritas kami. Karenanya seluruh tim respons telah diberikan pelatihan terkait distribusi sesuai dengan SOP situasi pandemik COVID-19 dan kode etik Plan Indonesia,” tegas Eka.

Dukungan Plan Indonesia terhadap PHBS merupakan bagian dari rangkaian upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Nusa Tenggara Timur. April lalu, Plan Indonesia telah mendistribusikan 31.556 paket kebersihan diri (hygiene kits) dan 25.128 poster informasi tentang pencegahan Covid-19 di tiga kabupaten dampingan di NTT yang meliputi Timor Tengah Selatan (TTS), Lembata, dan Nagekeo. (*)

Sumber berita dan foto (*PR Plan International Indonesia)
Editor (+rony banase)