Arsip Tag: pln ntt

Listrik Padam Se-Daratan Timor, Ini Penjelasan GM PLN UIW NTT

439 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sistem Tenaga Listrik Pulau Timor kembali pulih, listrik kembali mengalir langsung ke rumah, gedung dan instalasi pelanggan setelah terjadinya pemadaman tidak terencana di sebagian wilayah Kota Kupang, Soe, hingga Atambua pada Sabtu, 18 April 2020  pukul 18.06—21.26 WITA.

General Manager PLN UIW NTT Ignatius Rendroyoko menyampaikan, Sistem Timor sudah normal kembali secara penuh, mulai dari Pembangkit listrik PLTU Bolok dan Pembangkit Marine Vessel, gardu induk, penyulang-penyulang sampai di ujung gardu pelanggan. “Sebelumnya dari pukul.17.50 WITA telah terjadi kondisi gangguan yang menyebabkan sistem pembangkit di Bolok terganggu dan trip keluar dari sistem tenaga listrik Timor,” ungkap Rendroyoko

“Gangguan tersebut berasal dari sistem pembangkit di Bolok pada saat sistem beroperasi dan terinterkoneksi dari Kupang hingga Atambua. Gangguan ini memerlukan waktu pemulihan secara bertahap satu persatu yang membutuhkan waktu untuk pemulihan, dan untuk itu PLN meminta maaf atas ketidaknyamanannya” lanjutnya.

Dalam kondisi waspada di tengah wabah covid 19, PLN tetap siaga dan apabila masih ada gangguan listrik di rumah silakan hubungi satu pintu layanan PLN contact center (kode area) 123 agar laporan terekam dan petugas segera datang cek dan secepatnya pemulihan,” jelas Rendroyoko. (*)

Sumber berita dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)

433 Desa Belum Berlistrik, Presiden Jokowi Ingin Desa Segera Menikmati Listrik

385 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Rasio elektrifikasi atau tingkat perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan jumlah total penduduk di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan laporan yang diterima Presiden Joko Widodo, hingga April 2020, rasio tersebut telah mencapai angka 99,48 persen.

Peningkatan rasio tersebut cukup signifikan bila dibandingkan tahun 2014 lalu yang masih berada di kisaran angka 84 persen. Capaian rasio saat ini juga telah melampaui target RPJMN 2015—2019 sebesar 96 persen.

Namun, Kepala Negara meminta jajarannya untuk tidak cepat berpuas diri terlebih dahulu mengingat dalam indikator electricity access population Indonesia masih berada di peringkat 95. “Masih tertinggal dari Malaysia di peringkat 87, Vietnam peringkat 84, serta Singapura, Thailand, Tiongkok, dan Korea Selatan yang berada di peringkat 2,” tuturnya saat memimpin rapat terbatas mengenai peningkatan rasio elektrifikasi di pedesaan melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 3 April 2020.

Selain itu, dalam indikator electricity supply quality, Indonesia juga masih tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Tiongkok, dan Singapura dengan berada pada peringkat 54. Sejumlah desa di Indonesia diketahui juga masih belum dialiri listrik. “Juga masih terdapat 433 desa yang belum berlistrik. Meskipun jumlahnya sedikit kalau dibandingkan dengan jumlah desa di seluruh Tanah Air, yakni 75.000, tapi apa pun ini harus kita selesaikan,” kata Presiden.

Sejumlah desa tersebut tersebar di 4 provinsi dengan rincian sebanyak 325 desa di Papua, 102 desa di Papua Barat, 5 desa di Nusa Tenggara Timur, dan 1 desa di Provinsi Maluku. Terkait hal itu, Kepala Negara meminta jajarannya untuk segera mengidentifikasi dan bergerak menyelesaikan persoalan.

“Saya minta diidentifikasi secara jelas desa mana yang berdekatan dengan desa yang tak berlistrik, desa mana yang jarak rumah antar-penduduknya berjauhan dan mana yang berdekatan, sehingga kita dapat menentukan strategi pendekatan teknologi yang tepat,” ucapnya.

Selanjutnya, setelah identifikasi terlaksana, Presiden meminta jajarannya untuk segera menyiapkan anggaran, regulasi, dan kebijakan investasi yang diperlukan untuk mendukung program elektrifikasi di desa-desa tersebut.

Tak sampai di situ, Presiden juga ingin memastikan bahwa listrik tidak hanya masuk desa-desa tersebut, tapi juga dapat dinikmati dan diakses oleh warga, utamanya yang berada di lapisan bawah, sehingga mereka dapat memenuhi keperluannya sekaligus memberikan nilai tambah bagi peningkatan produktivitas ekonomi di desa-desa tersebut.

“Dengan adanya listrik kita harapkan anak-anak bisa belajar di malam hari dengan penerangan lampu yang cukup sehingga kualitas pendidikan kita juga semakin meningkat,” tandasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/BPMI Setpres)
Editor (+rony banase)

Wagub Josef Nae Soi Pinta PLN Terus Tingkatkan Rasio Elektrifikasi di NTT

187 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM mengharapkan agar PLN dapat terus meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT. Sebagai salah satu komponen penting dalam aksesibilitas pendidikan, keberadaan fasilitas listrik yang memadai tentunya akan dapat meningkatkan kemampuan belajar anak-anak NTT.

“Walaupun tingkat literasi anak-anak (muda) NTT masih rendah, namun ada kabar gembira yakni bahwa menurut Bappenas dan Word Bank, tingkat sains anak-anak NTT adalah 1,8. Ini luar biasa karena di atas rata-rata tingkat sains nasional yang sebesar 1,1. Kalau anak-anak NTT diberi rangsangan, sentuhan aksesibilitas atau fasilitas yang baik seperti di Jakarta, dampaknya pasti akan sangat luar biasa ,”jelas Wagub saat memberikan sambutan pada kegiatan Kuliah Umum yang diselenggarakan PLN Kupang di Aula Politeknik Negeri Kupang, pada Jumat, 13 September 2019.

Tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah Light Up Your Milenial Power With PLN Group. Hadir pada kesempatan tersebut Direktur Human Capital Management PLN, Muhamad Ali, Wakil Walikota Kupang, Herman Man, General Manager PLN NTT, Ignatius Rendroyoko, utusan mahasiswa/I se-kota Kupang, utusan siswa/i SMA/SMK se-Kota Kupang, para petinggi dan karyawan PLN NTT, insan pers dan undangan lainnya.

Menurut Wagub Nae Soi, dengan meningkatnya rasio elektrifikasi di NTT dari tahun ke tahun, akan membantu anak muda dan para pelajar dalam meningkatkan pengetahuannya. Wagub mengatakan, anak-anak NTT memiliki potensi yang sangat luar biasa.

“Anak-anak NTT tidak miskin harta dan tidak miskin intelektual. Yang kami miskin hanyalah aksesibilitas. Kalau PLN punya program untuk mengirim anak-anak muda ke luar negeri, jangan ragu untuk memilih anak-anak NTT. Saya memberikan apresiasi kepada PLN karena saat kami dilantik (5 September 2018), tingkat elektrifikasi kita di NTT hanya 61,3 persen, tapi per hari ini rasio elektrifikasi kita sudah mencapai 73,7 persen. Mudah-mudahan sesuai target PLN, sampai akhir tahun, rasio elektrifikasi listrik di NTT bisa menembus angka 90 persen,” harap politisi Golkar tersebut.

Mantan penasehat Menteri Hukum dan HAM itu mengajak generasi muda NTT untuk memanfaatkan upaya positif dari PLN secara baik. Kalau sudah ada listrik, belajarlah lebih tekun. Kehadiran listrik, minimal memberikan makna yang luar biasa yakni memberikan transformasi dalam komponen pendidikan kita. Kalau tidak ada listirk dan lampu, apa jadinya proses perkuliahan.

“Ada satu istilah dalam bahasa latin, _Non scholae sed vitae discimus_ yang artinya belajar bukan hanya untuk sekolah tapi untuk hidup. Saya minta (prinsip) ini harus diingat benar. Kalau PLN juga punya dana CSR, jangan ragu beri bantuan beasiswa kepada anak-anak NTT. Begitupun kalau ada program vokasi ke luar negeri, pilihlah 10 atau 20 orang anak NTT. Saat mereka pulang, pasti akan membawa dampak yang besar bagi anak-anak NTT lainnya,” jelas Wagub Nae Soi.

Wagub Josef Nae Soi menerima secara simbolis CSR PLN sebesar Rp. 9,85 miliar

Pria asal Ngada mengapresiasi upaya PLN dalam membangkitkan semangat generasi milenial. Nae Soi berharap agar kegiatan tersebut juga dapat menumbuhkan semangat toleransi di antara generasi muda.

“Contohilah almarhum B.J Habibie, presiden ketiga kita. Saat studi di Jerman, beliau setiap minggu tanpa ragu pergi melaksanakan shalat di gereja karena masjid dan mushola masih jarang di Jerman zaman itu. Semangat seperti ini saya harapkan juga tumbuh di lingkungan kampus karena lingkungan kampus adalah dunia yang sangat ideal untuk masa depan,” pungkas Josef Nae Soi.

Sementara itu, General Manager PLN NTT, Ignasius Rendroyoko menegaskan komitmen PLN NTT untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat NTT. PLN NTT bertekad membangun infrastruktur listrik secara merata di seluruh wilayah NTT.

“Dalam memenuhi kebutuhan listrik di NTT tentu melalui proses. Tahun ini sekitar 90 persen dari jumlah rumah tangga yang ada di NTT, akan mendapatkan (aliran) listrik. Memang ada 10 persen yang belum, tapi itu hanya menunggu waktu saja, mungkin sampai pertengahan tahun depan. Karena di akhir tahun 2020, rasio elektrifikasi NTT ditargetkan mencapai 100 persen,” jelas Ignasius.

Ignasius juga menjelaskan, sekitar 60 sampai 70 persen karyawan PLN adalah kaum milenial. Dengan ciri khasnya yang sangat menonjol adalah bersemangat, sangat objektif, menyelesaikan masalah tanpa kenal waktu dan selalu menuntut perbaikan demi kenyamanan hidup yang lebih.

“Itu yang juga menjadi kekuatan utama PLN NTT untuk membangun infrastruktur di seluruh wilayah NTT. Itulah juga menjadi alasan bagi kami hadir di sini untuk bisa memberikan semangat sekaligus mengajak kaum milenial agar terlibat dalam berbagai upaya membangun negeri lewat PLN,” jelas Ignasius.

Pada kesempatan tersebut, PLN memberikan bantuan dana CSR kepada pemerintah Provinsi NTT sekitar Rp.9,85 miliar. (*)

Sumber berita (*/Aven Rame—Biro Humas dan Protokol Pemprov NTT)
Editor (+rony banase)