Arsip Tag: robert sianipar

Target Bank NTT Menuju Peringkat Komposit 2 pada Tahun 2021

262 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bank wajib melakukan penilaian Tingkat Kesehatan Bank (TBK) secara konsolidasi dengan menggunakan pendekatan risiko (Risk-based Bank Rating) dengan cakupan penilaian terhadap Profil risiko (Risk Profile), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (Earnings), dan Permodalan (Capital). Peringkat Komposit dikategorikan antara lain Peringkat Komposit 1 (PK-1), Komposit 2 (PK-2), Komposit 3 (PK-3), Komposit 4 (PK-4), Komposit 5 (PK-5).

Peringkat Komposit 1 (PK-1), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Sementara, Peringkat Komposit 2 (PK-2), mencerminkan kondisi Bank yang secara umum sehat sehingga dinilai mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal.

Sebagai Bank Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bank NTT pun mematok target menuju Peringkat Komposit 2 (PK-2), yang mana saat ini berada pada Peringkat Komposit 3 (PK-3).

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho dalam sambutannya pada Launching Go TBK 2 Bank NTT dan Penandatangan Pakta Integritas pada Senin, 30 November 2020 pukul 09.30 WITA—selesai yang dihadiri oleh jajaran Komisaris, Direksi dan Ketua OJK NTT, mengungkapkan bahwa saat ini berada pada posisi Peringkat Komposit 3 (PK-3) atau Cukup Sehat. “Oleh karena kehadiran Pak Robert Sianipar (Kepala OJK NTT) dan Pak Made Salguna (Konsultan Bank NTT Menuju TBK 2, red) yang datang dengan kehormatan dan memberikan kehormatan kepada kita agar pantas menjadi orang terhormat dalam bank ini,” urainya.

Penandatanganan Pakta Integritas Bank NTT Go TBK 2

Selain itu, tegas Alex, harus melakukan edukasi dan sosialisasi dan setiap pemimpin wajib menjadi role model Go TKB 2 serta wajib melaksanakan pekerjaan hari ini dan tidak menunda.

“Kondisi Bank NTT cukup sehat dan jangan memanipulasi diri untuk melindungi diri dari hal yang tak pantas dan menyelamatkan Bank agar ada perbaikan menuju kepada tingkat kesehatan Bank,” tandasnya.

Kepala OJK Provinsi NTT, Robert Sianipar dalam sambutannya mengungkapkan bahwa meski melakukan launching sebuah produk dan komitmen tak menjamin OJK akan memberikan Bank NTT Rating 2 (Peringkat Komposit 2, red) apalagi dalam tahun 2021.

“Dari 27 BPD se-Indonesia, hanya 2 atau 3 yang mempunyai peringkat komposit (PK-2), tantangan cukup besar dan berat, tapi bukan tidak mungkin,” ungkapnya.

Karakteristik BPD di Indonesia, imbuh Robert Sianipar, bisnisnya tak punya target dan tidak punya tantangan. “Saya coba membandingkan dengan operasional Bank secara umum, tingkat komposit 2 itu rating atau raport karena di dalamnya tidak hanya kuantitatif atau kualitatif, namun ada unsur tata kelola. Jadi, Bank itu service atau pelayanan,” urai Robert sembari memberikan contoh pelayanan lebih dari seorang Security yang dapat melayani nasabah.

BPD (Bank Pemerintah Daerah), tandas Robert, terlalu lama dimanjakan karena biro kas menguasai kabupaten/kota di NTT, pasti masuk ke Bank NTT dan pasti membiayai ASN (Aparatur Sipil Negara). “Komposisi kredit Bank NTT saat ini sekitar 65 persen masih pembiayaan ASN, di mana tantangannya,” tanyanya.

Jadi, tegas Kepala OJK, Bank NTT harus diberikan attachment dan menjadi Bank Devisa, supaya layak memperoleh rating 2. “Harus ada upaya, kerja keras, dan kesungguhan dari seluruh jajaran untuk menggapai posisi rating 2 tersebut karena dengan hanya launching tak menjamin Bank NTT memperoleh posisi tersebut,”ucapnya.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto oleh Sandro—Humas Bank NTT

Dorong Geliat Ekonomi NTT Melalui Expo Kreatif Anak Negeri 16—17 September 2020

484 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan Provinsi NTT (FKLJK); Pemprov NTT (Biro Ekonomi dan Kerja Sama, Biro Umum, Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja); Bank NTT, Himbara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, dan Kanwil DJPb Provinsi NTT menyelenggarakan Expo Kreatif Anak Negeri 2020 bakal dilaksanakan pada 16—17 September 2020 di Milenium Ballroom Kupang.

Expo UMKM Anak Negeri 2020 ini akan menghadirkan para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), perbankan dan pasar atau investor. Diharapkan melalui Expo ini, terbangun komunikasi dengan jejaring yang ada demi mendorong geliat ekonomi NTT melalui sektor UMKM.

Ketua FKLJK NTT yang juga merupakan Plt. Direktur Utama Bank NTT Hary Alexander Riwu Kaho, saat sesi konferensi pers bersama awak media, pada Kamis siang, (10 September 2020) di Subasuka, menjelaskan, Expo UMKM Kreatif Anak Negeri 2020 ini akan terbangun keselarasan dengan kebijakan pemerintah pusat dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, dalam Expo tersebut akan dihadirkan pihak Standar Nasional Indonesia (SNI), Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia (HAKI), Sertifikat Halal, Pengawas Obat dan Makanan, Kemenkumham serta pihak lainnya untuk membantu kebangkitan UMKM di NTT.

Turut hadir dalam sesi konferensi pers tersebut yakni Kepala Otoritas Jasa Keuangan NTT, Robert Sianipar; Kepala Biro EKS Prov NTT; Dr. Lery Rupidara, M.Si. Kepala Perwakilan BI, I Nyoman Ariawan Atmaja; Kakanwil DJPb, Lidya Kurniawati Christyana; dan Kepala Dinas Kopnakertrans Prov NTT; Sylvia Peku Djawang, S.P., M.M.

Suasana konferensi pers Expo Kreatif Anak Negeri 2020 pada Kamis, 10 September 2020 di Subasuka 

Alex Riwu Kaho pun menambahkan, dalam Expo UMKM Kreatif Anak Negeri 2020 ini terbagi dalam empat fase yakni; Bussiness Matching, Choaching, Parade UMKM dan Coffee Talk. Berbagai jenis produksi UMKM, serta kreativitas-kreativitas lain bisa dilihat dalam kegiatan Expo ini. Menurutnya, yang akan membuka kegiatan ini yakni Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nai Soi, sementara Gubernur Viktor Laiskodat direncanakan akan menutup kegiatan.

Masih menurut Alex, Kondisi perekonomian Nusa Tenggara Timur sendiri, sebelum pandemi Covid-19 memang kurang geliat, padahal sesungguhnya NTT sangat potensial dan menjanjikan. UMKM adalah pilar utama struktur ekonomi riil NTT. Pelaku usaha di NTT, ± 97% adalah UMKM atau sejumlah 105.180 unit.

“Ini adalah suatu kekuatan besar dalam arti kualitas dan kuantitas jika dikembangkan dengan baik. Kurang bergeliatnya sektor riil UMKM ini antara lain disebabkan oleh faktor pilihan core business /produk; manajemen; keuangan; market termasuk digitalisasi yang kurang ekspansif,” beber Alex Riwu Kaho.

Adapun komoditi/produk unggulan NTT (K/PJU) yang memerlukan pengembangan antara lain :

  • Jagung, antara lain dengan fokus pengembangan pada industri tepung jagung, pakan ternak;
  • Kopi, antara lain dengan fokus pengembangan pada kopi bubuk dan kopi instan;
  • Kakao, antara lain dengan fokus pengembangan pada pasta kakao, lemak kakao, makanan dan minuman kakao;
  • Mete, antara lain dengan fokus pengembangan pada mete organik dan pakan ternak;
  • Kelapa, antara lain dengan fokus pengembangan pada Virgin Coconut Oil, Briket arang, pakan ternak, industri kerajinan;
  • Daging, antara lain dengan fokus pengembangan pada industri dendeng, daging kaleng, daging giling, bakso;
  • Ikan, antara lain dengan fokus pengembangan pada industri tepung ikang, industri sei ikan, industri pakan ternak;
  • Rumput laut, antara lain dengan fokus pengembangan pada karagenan, industri pakan ternak;
  • Garam, antara lain dengan fokus pengembangan pada garam industri , garam farmasi;
  • Kelor, antara lain dengan fokus pengembangan pada tepung kelor, industri makan dan minuman dari kelor;
  •  Tenun ikat, antara lain dengan fokus pengembangan pada industri fashion dan souvenir;
  • Usaha-usaha terkait sektor pariwisata;
  • Budidaya padi sawah;
  • Budidaya pisang;
  • Angkutan antar desa;
  •  Usaha penangkapan ikan;
  • Toko sembako;
  • Pedagang pengumpul hasil pertanian;
  •  Budidaya tomat (Quick win Bank Indonesia Perwakilan NTT).

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan dalam Expo ini yang menjadi penekanan adalah Bussiness Matching. Menurut dia, ada dua hal penting di dalamnya yakni dari perbankan untuk UMKM untuk menyerap likuiditas di perbankan, dan dari UMKM kepada pembeli, ini akan menjadi pola utama dalam Expo. Jika ini berhasil, maka perlu lakukan replikasi secepatnya agar ekonomi NTT bisa segera pulih.

Sementara, Kepala OJK NTT, Robert Sianipar pada kesempatan itu mengatakan dengan adanya banyak pihak yang diundang pada kegiatan Expo ini, diharapkan adanya peran aktif dari semua komponen agar bisa membuat market (pasar) sendiri di NTT.

Sumber berita utama (*/Humas Bank NTT)
Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Modal Inti Bank NTT Kurang 1,23 Triliun, Perlu Partisipasi Pemda Se-NTT

669 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menghelat Rapat Pembahasan Rencana Penyertaan Modal pada Kamis, 6 Agustus 2020 di Aula Fernandes Gedung Sasando. Difasilitasi oleh Pemprov NTT, rapat menghadirkan para Sekda, Ketua DPRD, dan Kabag Keuangan dari pemda/pemkot se-NTT. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala OJK NTT, Robert Sianipar; Asisten III Setda NTT, Johanna Lisapaly; dan Sekda NTT, Benediktus Polo Maing.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/05/16/dua-langkah-bank-ntt-pemprov-ntt-pemkot-pemda-gapai-modal-inti-3-triliun/

Tujuannya untuk mendorong peran aktif pemda/pemkot untuk menyertakan modal disetor dalam rangka memenuhi modal inti sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengerek syarat minimal modal inti pada bank umum dari saat ini sebesar Rp.100 miliar menjadi Rp.3 triliun. Ketentuan ini diharapkan akan mempercepat proses penggabungan atau konsolidasi pada industri perbankan. Jika tak juga mampu memenuhi syarat modal tersebut, maka bank tersebut harus bersiap turun kelas menjadi Bank Perkreditan Rakyat atau BPR.

Terkait penetapan regulasi OJK tersebut, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) pun diwajibkan mengikuti regulasi usaha perbankan saat ini berdasarkan modal inti tercantum dalam Peraturan OJK Nomor 6/POJK.03/2016 tentang kegiatan usaha dan jaringan kantor bank berdasarkan modal inti bank dengan perubahan regulasi pada tahun 2020.

Kepala OJK NTT, Robert Sianipar mengungkapkan bahwa saat ini Bank NTT berada di urutan 12 dalam segi modal disetor. “Hingga Juli kemarin (tahun 2020, red) baru mengumpulkan modal disetor mencapai Rp.1,4 triliun, namun jika dilihat perkembangan 5 tahun terakhir, booking fee terus meningkat,” urainya.

Sekda NTT, Benediktus Polo Maing saat memimpin Rapat Pembahasan Rencana Penyertaan Modal didampingi oleh Plt. Dirut Bank NTT, Alex Riwu Kaho; Asisten III Setda NTT, Johanna Lisapaly dan Kepala OJK NTT, Robert Sianipar

Namun, imbuh Robert, rata-rata peningkatan relatif kecil. “Jadi, 22 kabupaten/kota rata-rata penyertaan modal disetor sekitar 60 miliar, harus diupayakan agar modal inti terus meningkat dengan penyertaan modal disetor,” pintanya sembari menyampaikan berdasarkan data yang dihimpun OJK menunjukkan bahwa laba yang diperoleh telah disetor menjadi dividen yang mana rata-rata laba per tahun Bank NTT sekitar 300 miliar.

Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan bahwa berdasarkan perhatian dari OJK NTT, maka manajemen Bank NTT perlu membeberkan tingkat keyakinan sebagai dasar pendorong penambahan modal inti minimum dengan kekuatan modal disetor Bank NTT hingga Desember 2019 sebesar Rp.1,383 miliar dan modal inti Bank NTT sebesar 1,7 triliun.

Alex Riwu Kaho pun membeberkan pertumbuhan modal disetor dari tahun 2016—2020. “ Modal disetor pada tahun 2016 Rp.291 miliar (36,77%), 2017 Rp.204 miliar (18,82%), 2018 Rp.45 miliar (3,54%), 2019 Rp.53 miliar (4,01%), dan tahun 2020 Rp.209 miliar (15,13%),” bebernya.

Terkait Dividen Bank NTT dalam 9 tahun terakhir, Alex Riwu Kaho menyampaikan bahwa dividen yang diberikan kepada para pemegang saham pada tahun 2010 sebesar Rp.114 miliar, sedangkan tahun 2019, dari laba yang dicapai, dividen yang diberikan kepada pemegang saham sebesar Rp.207 miliar. “Sehingga dari total penyertaan modal dari seluruh pemegang saham, maka total dividen yang telah dibayarkan oleh Bank NTT sebesar Rp.1,906 triliun,” tandasnya.

Sehingga, imbuh Alex, berdasarkan Keputusan RUPS Tahunan pada 6 Mei 2020, diputuskan pemotongan 50% untuk penyetoran modal inti, namun putusan tersebut belum sesuai dengan ketentuan pencatatan keuangan pemda, maka akan ditinjau kembali, sehingga seluruh dividen akan disetor tahun buku 2019 secara penuh kepada pemerintah daerah.

Jajaran Direksi Bank NTT, (dari kiri ke kanan); Direktur Umum, Umbu Landu Praing; Direktur Pemasaran Dana, Absalom Sine; dan Direktur Kepatuhan, Hilarius Minggu saat mengikuti rapat pembahasan

Sementara itu, Sekda NTT Benediktus Polo Maing menyampaikan bahwa Bank NTT harus bekerja secara optimal dengan dukungan penuh dari pemprov, pemkot/pemkab untuk menunjang struktur modal agar dapat berkontribusi terhadap pembangunan, sehingga diperlukan pemenuhan modal inti sebesar Rp.3 triliun.

“Saat ini, modal inti Bank NTT sebesar Rp.1,7 triliun dan perlu penambahan sebesar Rp.1,3 triliun dan untuk pemenuhan tersebut dilakukan dengan skema internal atau pun eksternal,” jelasnya.

Skema pemenuhan internal, urai Sekda, melalui pemenuhan dividen sesuai RUPS di Labuan Bajo langsung dipotong 50 persen, namun sesuai regulasi diperlukan perda dan telah diprogramkan dividen yang diterima oleh pemda sebagai pendapatan jadi harus masuk ke rekening baru kemudian dipotong. “Jadi, tidak bisa langsung dipotong dan untuk menganulir keputusan RUPS, maka harus dilakukan RUPS, namun pihak Bank NTT meminta waktu hingga 2 minggu ke depan,” terangnya.

Sekda NTT pun menyampaikan jika menempuh jalur eksternal, dengan menggunakan investor, maka prosesnya pun tidak mudah karena harus melalui tahapan panjang dan tidak mudah. “Terkait hal ini, maka yang diperlukan adalah kepastian dan kesediaan penyertaan modal dan berapa besar nilai modal yang akan disetor oleh masing-masing pemda. Jadi, kita segera melakukan langkah-langkah untuk memastikan setiap kabupaten/kota untuk segera menyiapkan perda dan nilai minimal modal yang akan disetor,” pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Humas Bank NTT

OJK NTT Peduli Covid-19, Bantu Warga Terdampak di Kota Kupang Rp.100 Juta

245 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Pemkot Kupang menerima bantuan dari Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur (OJK NTT) senilai 100 juta. Bantuan bertajuk OJK Peduli Covid-19 tersebut diserahkan secara simbolis oleh Kepala OJK NTT, Robert Sianipar kepada Wali Kota Kupang di ruang kerjanya pada Rabu, 20 Mei 2020.

Bantuan yang terdiri dari uang tunai senilai Rp.25 juta, sembako, perlengkapan medis dan perlengkapan cuci tangan dengan total senilai 100 juta rupiah tersebut diserahkan dalam rangka membantu masyarakat Kota Kupang yang terdampak akibat pandemik Covid-19.

Wali Kota Kupang dalam kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih serta mengapresiasi kepedulian OJK terhadap masyarakat Kota Kupang yang terdampak Covid-19, “Kami sangat berterima kasih atas kepedulian OJK untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19. Hari ini Pemerintah Kota Kupang terima bantuan dua kali, pertama tadi dari BRI, kemudian dari OJK. Bantuan dari OJK berupa sembako, masker dan tandon air juga ada uang tunai untuk membantu warga dan Panti Asuhan terdampak Covid-19 di Kota Kupang,” ujar Wali Kota Jefri.

Kepala OJK Provinsi NTT, Robert Sianipar menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota yang sudah berkenan menerima kunjungan OJK di tengah kesibukan pemerintahan yang padat. Ia berharap bantuan berupa uang tunai dan barang senilai 100 juta rupiah tersebut dapat membantu meringankan beban masyarakat Kota Kupang yang terdampak secara sosial dan ekonomi di tengah pandemik Covid-19.

Penyerahan secara simbolis bantuan sembako dari Kepala OJK NTT, Robert Sianipar kepada Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore

“Kami berharap semoga bantuan yang diberikan OJK NTT kepada Pemerintah Kota Kupang sebesar 100 Juta Rupiah dengan perincian berupa barang senilai 75 juta dan uang tunai 25 juta rupiah ini dapat membantu pemkot dalam upayanya untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak akibat pandemik,” jelas Robert.

Robert menjelaskan, penyerahan secara simbolis ini akan dilanjutkan dengan penyaluran bantuan secara langsung kepada masyarakat oleh tim dari OJK NTT. Ia menyebutkan selain uang tunai, bantuan berupa barang tersebut adalah perlengkapan medis, sembako serta peralatan cuci tangan.

“Bantuan yang diberikan ini berupa hazmat all cover 100 unit, masker kain standar WHO 500 lembar, 3 set tandon berdaya tampung 500 liter dan wastafelnya, serta 460 paket sembako. Khusus sembako diperuntukkan bagi warga Fontein sebanyak 150 paket, 100 paket untuk mahasiswa IAKN Kupang, 180 paket untuk pengemudi Taxi Gogo, pegawai hotel dan ojek, serta 30 paket untuk pegawai CS di OJK,” jelasnya.

Lebih lanjut Robert menjelaskan bahwa untuk bantuan berupa uang tunai sebesar 25 juta akan disalurkan langsung ke 4 Panti Asuhan yakni Panti Asuhan Aisyiyah, Panti Asuhan Batakte, Panti Asuhan Petra Fatufeto dan Panti Asuhan Kristen GMIT.(*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_frd/ddy)
Editor (+rony banase)