Arsip Tag: Tenun Ikat NTT

“Awal dan Kini” Rumah Tenun & Cafe Ina Ndao Diresmikan Wali Kota Kupang

346 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Perayaan HUT ke-29 Rumah Tenun Ina Ndao ditandai dengan penandatanganan prasasti dan peresmian Rumah Tenun dan Cafe Ina Ndao oleh Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore dan didampingi Ketua TP PKK Kota Kupang, Ny. Hilda Manafe dan pengguntingan pita oleh pejabat yang mewakili Gubernur NTT serta pemotongan tumpeng oleh Kepala BI Perwakilan NTT di lokasi Rumah Tenun Ina Ndao, Kelurahan Naikoten I, pada Kamis, 10 September 2020.

Perayaan ini juga sekaligus merupakan syukuran atas terpilihnya sentra tenun ikat Ina Ndao sebagai salah satu nominasi dalam anugerah pariwisata Indonesia (API) Tahun 2020.

Wali Kota Jefri menyampaikan bahwa usia 29 tahun tentu bukan waktu yang singkat bagi sentra tenun Ina Ndao dalam menekuni upaya melestarikan budaya NTT khususnya tenun ikat. Karena itu dia memberi apresiasi kepada pengelola Ina Ndao bersama seluruh karyawan yang berkomitmen dalam menjalankan usaha ini, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi lokal NTT, sehingga menjadi kebanggaan masyarakat NTT khususnya Kota Kupang.

“Pantas, jika Ina Ndao terpilih sebagai salah satu nominator yang mewakili NTT dalam ajang anugerah pesona Indonesia bersama 8 obyek wisata NTT lainnya,” ucap Wali Kota Jefri.

Ia pun menjelaskan Pemkot Kupang, hingga saat ini terus berupaya mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penyumbang pendapatan negara dan daerah terutama di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, dengan meningkatnya industri pariwisata seperti yang dijalankan oleh Ina Ndao, tentu akan meningkatkan jumlah kunjungan dan minat beli masyarakat yang tentunya akan mendorong perekonomian daerah ini.

Wali Kota Kupang, Doktor Jefri Riwu Kore bersama Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama Setda Pemprov NTT, Dr. Lery Rupidara,M.Si, Ketua DPRD Kota Kupang Yeskiel Loudoe,S.Sos., Wakil Ketua I DPRD Kota Kupang, Padron Paulus.

Karena itu, Wali Kota meminta Dinas Pariwisata Kota Kupang untuk memberi perhatian terhadap usaha-usaha yang mendukung pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah ini guna mewujudkan misi Pemkot Kupang yakni Kota Kupang Makmur.

Dengan gedung baru yang diresmikan ini, Wali Kota berharap sentra tenun ikat Ina Ndao terus sukses menjadi usaha pariwisata yang menginspirasi munculnya usaha-usaha jasa obyek wisata khususnya yang berperan dalam mempromosikan budaya tradisional khas NTT yang unik.

Direktris Ina Ndao Group, Dorce Lusi berterima kasih kepada Wali Kota dan segenap undangan yang telah berkenan hadir dalam perayaan HUT ke-29 Ina Ndao sebagai bentuk dukungan. Dituturkannya, usaha ini mulai dirintis bersama suaminya, Yus Lusi 29 tahun silam diawali dengan bangunan sangat sederhana yang terbuat seng-seng bekas. Berkat dukungan dari berbagai kalangan termasuk pemerintah daerah setempat di usia ke-29 ini, mereka bisa meresmikan gedung baru sentra tenun ikat serta café Ina Ndao.

Menurutnya, usaha ini mereka bangun dengan cita-cita besar yakni melestarikan budaya sekaligus mengentaskan kemiskinan dengan membuka lapangan kerja baru yang berbasis ekonomi rumah tangga dan mengangkat martabat kaum perempuan. Nama Ina Ndao sengaja mereka pilih karena Ina yang dalam bahasa Rote berarti mama yang menjelaskan bagaimana mereka belajar menenun dari ketulusan hati seorang mama. Sedangkan, Ndao merupakan nama kampung asal mereka yang merupakan pulau paling selatan dari wilayah NKRI.

Dari kiri ke kanan, Direktris Rumah Tenun Ina Ndao; Ketua TP PKK Kota Kupang, Hilda Manafe; Wakil Ketua TP PKK Kota Kupang, Elizabeth Rengka

Dorce menambahkan pelajaran penting yang mereka raih adalah hasil yang didapat saat ini merupakan buah dari perjalanan panjang dan kerja keras tak kenal lelah mereka selama ini. Karena itu mereka berharap agar dukungan yang mereka dapatkan selama ini bisa terus dijaga demi memajukan tenun ikat NTT.

Dorce juga memohon kesediaan para tamu undangan yang hadir untuk mendukung dan memberikan vote kepada Rumah Tenun Ina Ndao sebagai destinasi wisata budaya dalam ajang anugerah pesona Indonesia.

Perayaan tersebut dimeriahkan dengan suguhan tarian daerah NTT serta fashion show busana dengan bahan dasar tenun ikat khas NTT. Semua tamu undangan yang hadir juga memperoleh oleh-oleh berupa kerajinan tangan yang terbuat dari bahan tenun ikat NTT.

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja, Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama Setda Pemprov NTT, Dr. Lery Rupidara,M.Si, Ketua DPRD Kota Kupang Yeskiel Loudoe,S.Sos, Wakil Ketua I DPRD Kota Kupang, Padron Paulus, Anggota DPRD Kota Kupang, Richard Odja, Wakil Ketua TP PKK Kota Kupang, Ny. Elisabeth Man Rengka, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Fahrensy Priestly Funay, S.E., M.Si. bersama Ketua Dharma Wanita Kota Kupang, para Asisten Sekda, segenap pimpinan perangkat daerah lingkup Pemerintahan Kota Kupang serta Camat Kota Raja dan Lurah Naikoten I. (*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_ans/frd/ddy)
Editor (+rony banase)

Festival Sarung Tenun Ikat NTT – Upaya Raih Warisan Budaya UNESCO

227 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | H-5 menuju Festival Tenun Ikat yang bakal digelar oleh Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) NTT di pelataran arena Car Free Day Jalan El Tari Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu/2 Maret 2019. Acara tersebut akan berlangsung selama 4 (empat) jam dari pukul 06.00—10.00 WITA. Tema yang diusung adalah Sarung Tenun NTT ldentitas Budaya, Pemersatu Bangsa.

Tujuan Festival Tenun Ikat untuk semakin mempromosikan kain tenun NTT kepada masyarakat luas sekaligus membangkitkan rasa cinta generasi muda dan kalangan milenial. Menurut rencana, kegiatan tersebut akan melibatkan 10.000 peserta dengan rincian perangkat daerah Lingkup Provinsi NTT 2.000 orang, perangkat daerah kota Kupang 500 orang, TNI/Pom 500 orang, Instansi Vertikal 500 orang, organisasi wanita 500 orang, kelompok etnis 300 orang, BUMD/BUMN 700 Orang serta pelajar/mahasiswa 5.000 orang.

Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, dalam sesi jumpa pers bersama awak media cetak, elektronik dan online (Senin/25/2/2019) di Ruang Rapat Asisten II Kantor Gubernur mengatakan bahwa konsentrasi kegiatan akan berada pada beberapa spot dan akan diadakan berbagai rangkaian acara hiburan.

“Misalnya menari akan dipusatkan di spot satu. Sementara di spot lainnya, ada acara tarian masal flobamora dan berbagai atraksi Iainnya. Para peserta dan masyarakat yang hadir diharapkan dapat membeli kreasi tenun ikat di masing-masing spot dan produk makanan berbasis kelor”, terang Julie.

Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat dalam sesi jumpa pers

Lanjut Julie, “Semua peserta Festival Tenun Ikat diwajibkan mengenakan baju kaos putih dengan sarung tenun NTT”, pintanya.

Adapun kegiatan dalam Festival Tenun Ikat tersebut adalah NTT Menari melibatkan 1.800 pelajar, Tarian Masal Flobamora seperti Gawi, DoIo-Dolo Ja‘l dan Tebe, Bazar makanan aneka kelor dari UMKN, lnstalasi Tenun, paduan suara pelajar 2.000 orang, musik tradisional dan olahraga bersarung.

“Para peserta akan dibagi dalam 4 (empat) spot yakni pertama, di depan Gedung Sasando Kantor Gubernur dengan peserta 4.975 orang. Spot kedua di depan kantor Pengadilan Tinggi dengan 1.685 peserta, spot ketiga depan rumah jabatan Gubernur dengan 2.100 peserta, dan spot keempat depan rumah kejati dengan 2.120 peserta”, terang Julie.

Tambah Isteri dari Gubernur NTT Viktor Laiskodat ini , ”Kegiatan Festival Sarung Tenun Ikat bertujuan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya penenun. Juga untuk membangkitkan kebanggaan di kalangan generasi muda dan kaum milenial terhadap kain sarung NTT. Kita terus mendorong dan mengupayakan agar tenun NTT diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO”.

Lebih lanjut Julie berharap agar Festival Sarung tenun tersebut dapat menjadi festival tahunan yang dapat menjadi agenda pariwisata daerah. Sehingga tenunan NTT semakin berkibar di kancah nasionai maupun internasional.

“Kita juga terus mendorong penetapan Hari Sarung Nasional. Sarung yang merupakan warisan kekayaan leluhur yang mesti dilestarikan serta layak disejajarkan dengan batik sebagai busana nasional. Dengan itu, geliat perekonomian para penenun juga akan semakin meningkat,” pungkas Julie Laiskodat.

Sumber berita (*/Humas Pemprov NTT)
Editor (+rony banase)

Minat Menenun Perempuan NTT Menurun; Ini Langkah Julie Laiskodat

238 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia | Minat Perempuan Nusa Tenggara Timur dalam menekuni dunia tenun ikat mulai tergerus oleh zaman; anak perempuan zaman now cenderung tidak memiliki respek dan respon. Melihat kecenderungan tersebut, Julie Sutrisno Laiskodat- Isteri Gubernur NTT Viktor Laiskodat mempunyai langkah taktis dan strategis menyikapi fenomena tersebut.

Ditemui dalam sesi kegiatan Digital Marketing Facebook yang digelar oleh IWAPI Kota Kupang pekan lalu (Selasa,27/10/18) di Hotel Neo Kupang. Ditemani oleh Pendiri Ikatan Wanita Pengusaha(IWAPI) Indonesia, Dr Dewi Motik, dan Ketua IWAPI NTT Inche Sayuna; Julie Sutrisno Laiskodat menjawab alasan-alasan dan pembenahan terhadap minat menenun perempuan NTT.

“Saat saya menjabat sebagai Ketua IWAPI Jakarta Selatan, telah memprosikan tenun ikat secara nasional maupun internasional dan selalu menggunakan tenun ikat NTT setiap hari; karena prinsip saya, kalo sehari tidak memakai tenun ikat NTT merasa bersalah terhadap para pengrajin,” ujar Julie Sutrisno Laiskodat.

Lanjut Julie, bersyukur karena masyarakat NTT memberikan tongkat estafet pemerintahan kepada kami (Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi-red) dan sekarang saya harus lebih dari itu karena leluhur meninggalkan budaya tenun pasti punya maksud dan tujuan yang mana menurut saya melalui tenun dapat meningkatkan ekonomi perempuan di desa.

Baca juga 

https://gardaindonesia.id/2018/09/16/ntt-kaya-akan-sumberdaya-alam-julie-laiskodat-kagum/

“Tetapi saya melihat saat ini, para penenun hampir rata-rata perempuan dengan usia tua sedangkan para perempuan usia muda cenderung tidak mau; karena penenun selalu punya 2(dua) masalah yakni pada modal awal (alat tenun dan benang) dan tempat menjual (pemasaran tenun ikat), sehingga menenun dijadikan sebagai budaya dan pekerjaan sampingan, disini (NTT-red) perempuan akhirnya lebih memilih pekerjaan sebagai petani atau nelayan,” ungkap Julie Laiskodat yang memiliki Butik LeVico di daerah Jakarta Selatan kepada media ini.

Tambah Julie Laiskodat-wanita yang selalu memakai tenun ikat dalam setiap kesempatan ini menyampaikan Tetapi kalo petani atau nelayan merupakan pekerjaan musiman karena cuaca bagus baru bisa ke laut dan hujan baru bisa menanam.

“Apakah kita punya kampung tengah (perut-red) musiman?, atau anak sekolah bersifat musiman? Dapur mengepul juga musiman?,” tanya Julie.

Selanjutnya kita harus cari tahu bagaimana harus punya pekerjaan yang tidak mengenal musim; makanya menenun itu tanpa dan tidak mengenal musim. Tetapi kendalanya mereka tidak diberitahu bagaimana saingan kita diluar sana (tenun pabrikan-motif tenun printing), yang akan mematikan mata pencaharian para penenun. Karena belum punah saja, motif kita telah dibuat dalam tenun printing.

“Sekarang, target kami (Dekranasda NTT) bukan mama-mama namun untuk perempuan muda dengan melakukan kerjasama dengan 4 (empat) Sekolah Menengah Kejuruan(SMK) yang mempunyai mata pelajaran menenun, salah satunya SMK Negeri 4 Kota Kupang dengan cara memberikan modal berupa benang dan hasil tenun mereka kami beli kontan dengan pembagian hasil untuk sekolah dan para siswa; dengan tujuan agar mereka paham bahwa melalui menenun mereka dapat memperoleh penghasilan,” ungkapnya.

Tutup Julie Laiskodat, Kami juga menghimbau kepada minimal 1 (satu) SMK di setiap kab/kota untuk mempunyai mata pelajaran menenun.

Penulis & Editor (+rony banase)

Timor Creative People Konsisten Angkat Derajat Tenun Ikat NTT

177 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.idTimor Creative People (TCP) sejak didirikan pada tahun 2014 hingga kini; sering berkecimpung di berbagai kegiatan dengan menampilkan berbagai hasil desain Tenun Ikat NTT yang dituangkan dalam peragaan busana dan dibawakan oleh anggota TCP.

Di tahun 2018; TCP melaksanakan kegiatan workshop dan audisi TCP Model Hunt 2018 di Celebes Resto & Cafe, Sabtu /22 Sept 2018 pukul 09.00 wita—selesai. TCP Model Hunt 2018 adalah ajang untuk memberi ruang dan kesempatan bagi anak muda NTT khususnya Kota Kupang yang memiliki hobi dalam dunia modelling untuk mengembangkan minat dan bakatnya menjadi model profesional.

Ketua Timor Creative People (TCP), Erwin Yuan kepada gardaindonesia.id menyampaikan TCP menjadi wadah bagi kaum muda di tanah Timor khususnya Kota Kupang dengan membuka kesempatan bagi model-model berbakat lainnya untuk bergabung menjadi anggota TCP dan bersama menjalankan visi dan misi TCP dalam mempromosikan Tenun NTT.

“Audisi untuk mencari bibit baru di Kota Kupang yang ingin berdedikasi dalam memajukan Pariwisata dan Budaya dengan beberapa tahapan seleksi yaitu, tahap pendaftaran, pengukuran tinggi, berat badan, photoshoot serta wawancara singkat dengan panitia yang tidak lain merupakan anggota TCP dan narasumber yang terlibat dalam workshop,“ jelas Erwin.

“Tenun Ikat NTT sebagai Handmade memiliki Nilai Filosofi yang sangat tinggi, Kita harus bangga,“ ungkap Erwin Yuan asal Pulau Jawa namun telah mencintai tenun ikat NTT.

Tambah Erwin, “Tidak semua daerah memiliki tenun ikat yang beragam, Karena sebuah tenun ikat dikerjakan dalam proses panjang dan lama, wajar jika tenun ikat tersebut mahal. Tugas beta (saya) sebagai masyarakat NTT untuk menjelaskan kepada orang lain.“

“Untuk mengangkat Tenun Ikat agar fashionable, kita sudah mempelajari dengan memodifikasi tenun menjadi busana yang bagus. Tujuan awal pembentukan TCP untuk mengangkat “Derajat Tenun Ikat“ agar lebih dikenal dan dicintai semua kalangan masyarakat,“ terang Erwin.

TCP juga memperoleh dukungan dari Istri Gubernur NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, TCP mengadakan workshop yang bertujuan membagikan pengetahuan seputar modelling, pariwisata dan budaya serta promosi melalui media sosial (medsos) kepada masyarakat Kota Kupang dengan menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten di antaranya: Melki Jemri Edison Neolaka, S.Sn.,M.Sn (Koreografer dan Budayawan Indonesia), Vibi J Putri Saqita Radamuri., S.IKom.,MH.,(Announcer, News Anchor, Lecture, MC), Solaiman Kristian Dekuanan (MUA Pengamat Fashion), Rivani Bistolen (Putri Pariwisata Indonesia Persahabatan 2016), James Radar, Amd.Kep (Fotografer). (+rb)