Arsip Tag: universitas nusa cendana

Ketika Belum Merdeka Sekolah Kita

107 Views

Ketika Belum Merdeka Sekolah Kita

Oleh Prof. Feliks Tans, M.Ed., Ph.D.

(Sebuah Catatan Ringan Menyambut Belajar di Rumah)

Pandemi penyakit virus korona sejak 2019 (Covid-19), Moga-moga segera bisa diatasi, mengharuskan banyak orang bekerja di/dari rumah. Termasuk jutaan pelajar kita di seluruh negeri ini. Mereka pun harus tinggal dan belajar di rumah. Dari hari ke hari.
Dalam batasan tertentu, tinggal dan belajar di rumah, sejatinya, menyenangkan. Home sweet home. Sesuatu yang indah karena di rumah ada kasih.

Namun, bagi para murid, yang terjadi, sebaliknya. Tinggal dan belajar di rumah menimbulkan kecemasan yang, kalau tidak segera teratasi, bisa menjadi depresi. Sebab ada begitu banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus mereka kerjakan. Pada saat yang sama, tidak ada kontak langsung dengan guru dan temannya. Dalam keadaan normal, kontak langsung ini membantu murid mengatasi persoalannya dalam belajar dan mengerjakan PR.

Secara sepintas, orang tua murid, mungkin, berpikir bahwa kecemasan karena banyaknya PR itu hanya terjadi pada murid yang malas. Murid yang rajin, sejatinya, tidak bermasalah dengan banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan secara serentak. Termasuk PR. Namun, kecemasan leading to depression itu, sebenarnya, bukan hanya karena banyaknya PR an sich, tetapi juga karena PR itu sering tidak relevan dengan potensi/bakat, minat dan kebutuhan belajar murid.

Yang tidak punya potensi bagus dalam berbahasa Inggris, misalnya, dan, karena itu, tidak hanya tidak berminat dalam bahasa itu tetapi juga merasa tidak membutuhkannya, jelas, akan cemas ketika harus belajar dan mengerjakan PR Bahasa Inggris. Ketika yang dikerjakan begitu banyak dan semuanya tidak/kurang relevan dengan potensi, minat, dan kebutuhannya, di situ muncul kecemasan murid. Murid merasa dirinya terjajah oleh PR yang tidak relevan tersebut; dia tidak lagi merasa bebas merdeka dalam belajar di rumahnya sendiri.

Pada titik itu, tema akbar Anwar Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, yang disampaikanya kepada dunia pendidikan Indonesia dalam bentuk Program Merdeka Belajar, saya kira, terasa bak oase di padang gurun. Menyejukkan. Menyegarkan. Memberi harapan baik. Menimbulkan semangat belajar dan spirit hidup baru yang berapi-api.

Seperti yang dibaca via media massa, Program Merdeka Belajar itu menyangkut kemerdekaan guru dalam mengajar sehingga murid merasa lebih “nyaman karena … dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru.” Tujuannya adalah untuk “membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking … karena setiap anak memiliki bakat dan kecerdasannya dalam bidang masing-masing. Nantinya, akan terbentuk para pelajar yang siap kerja dan kompeten, serta berbudi luhur di lingkungan masyarakat” (Merdeka Belajar. id.m.wikipedia.org. Diunduh pada 2 April, 2020).

Ide tersebut, sesungguhnya, bukan sesuatu yang baru. Pakar pendidikan seperti John Dewey (dalam Ellwood P. Cubberley, 1948. The History of Education, hlm. 780-783), Carl Rogers (1983. Freedom to Learn for the 80’s. New York: Macmillan), Bernie Neville (1989. Educatiing Psyche. Melbourne: CollinsDove) dan pengamat pendidikan seperti Paul Tough (2012. How Children Succeed. London: Random House) telah lama menyampaikan ide seperti itu. Menurut mereka, freedom to learn adalah prasyarat utama bagi terjadinya belajar dan pembelajaran yang menyenangkan, total, dan bermakna. Bila itu terpenuhi, murid, pada akhirnya, atau dalam tautan dengan belajar seumur hidup, pasti sukses.

Karena itu pula, saya mengingatkan Pemerintah Indonesia pentingnya memerdekakan pendidikan formalnya secara segera (Feliks Tans, Indonesiakoran.com. 17/19 Agustus, 2018, Memerdekakan Pendidikan).

Tema besar yang lahir sebagai hasil refleksi kritis atas kegagalan masif pendidikan formal tersebut, sayangnya, belum diterapkan sepenuhnya di sekolah-sekolah kita. Artinya, secara praktis, dia belum menjadi oase yang nyata. Masih dalam bentuk mimpi. Sebab sekolah-sekolah kita, para guru dan muridnya, belum merdeka dalam belajar (learning) dan pembelajaran (teaching) seperti yang saya gambarkan di awal tulisan ini. Dalam konteks itu, kehadiran tokoh besar seperti Nadiem Anwar Makarim diperlukan untuk segera memerdekakan sekolah kita dari ujung ke ujung negeri ini sehingga di setiap ruang kelasnya, termasuk ketika belajar dan mengerjakan PR di rumah seperti sekarang ini, ada kemerdekaan belajar.

Bahwa, saat ini, sekolah-sekolah kita belum merdeka bisa dimengerti karena tema besar “merdeka belajar” itu baru dicanangkan oleh Menteri Nadiem. Relatif terlambat setelah sekian lama terjajahlah sekolah kita oleh sebuah sistem pendidikan yang, ternyata, salah besar. Kita mengutamakan kecerdasan kognitif secara sedemikian rupa sehingga yang (begitu) cerdas secara kognitif saja yang kita anggap hebat; yang (begitu) cerdas secara psikomotorik dan/atau afektif (spiritual) dianggap sebagai orang yang tidak berguna.

Fokus yang salah itu, tentu, membuat hasil pendidikan kita, secara umum, menyedihkan. Apa yang mengembirakan ketika yang lahir dari sekolah, termasuk perguruan tinggi, adalah, misalnya, koruptor, teroris, penganggur, pencipta masalah dan bukan pemecah masalah, egois, intoleran, rasialis, pemalas dan penyuka jalan pintas, dan pencinta kekerasan.

Juga orang-orang yang tidak peduli pada lingkungannya. Lihatlah di sekitar kita! Sampah berserakkan. Di Kota Kupang, NTT, misalnya, jalan dan selokannya, totum pro parte, bak sampah raksasa. Jalan Jalur 40 yang membentang dari Bolok di barat hingga Penfui di timur kota, misalnya, penuh sampah.

Kali setali tiga uang: menjadi bak sampah. Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sungai menjadi limbah air kotor produksi rumah tangga dan industri sehingga warna airnya menghitam-pekat. Jauh dari kesan bersih, bening, dan jernih. Di kota seperti Maumere dan Kupang, kalinya yang kebanyakan mati, tanpa air, terutama saat musim kemarau, berubah menjadi bak sampah besar, tempat setiap orang membuang sampah apapun sesuka mereka. Tidak mengherankan kalau Indonesia kini menjadi negara keempat terkotor di dunia (https://www.cekaja.com. 10 Negara Paling Kotor di Dunia, Indonesia Salah Satunya. 9 Decedmber, 2019. Diunduh pada 3 April, 2020).

Keadaan tersebut, tentu, menimbulkan berbagai pertanyaan. Di mana, misalnya, instansi dan pejabat terkait yang, mestinya, mengawasi jalan dan kali tersebut setiap saat, 1 x 24 jam, sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya? Ataukah mereka sudah bekerja dari rumah sejak beberapa dekade terakhir, bukan hanya sejak munculnya Pandemi Covid-19? Siapa yang membuang sampah secara sembarangan itu dan mengalirkan air mahapekat ke kali seenak perutnya itu serta siapa yang lalai dalam pengawasan, kalau bukan orang terdidik? Merekalah output dan outcome sekaligus sekolah kita. Sekolah tanpa “merdeka belajar” selama ini.

Untuk mencegah terjadinya produk pendidikan seperti itu di hari esok, Program “Merdeka Belajar” Menteri Nadiem dengan ciri utama seperti yang dikemukakan di atas, saya kira, harus diterapkan di setiap ruang kelas, di setiap sekolah, di setiap sudut negeri ini. Segera. Sekarang. Jangan ditunda lagi.

Ada banyak cara untuk menerapkan Program “Merdeka Belajar” Menteri Nadiem. Di sini saya menyampaikan beberapa di antaranya :

Pertama, biarkanlah setiap murid belajar sesuai dengan potensi, minat dan kebutuhan belajarnya. Artinya, murid yang potensinya sangat bagus, misalnya, dalam mata pelajaran yang dia yakin bisa diandalkan untuk membuat masa depannya cerah, biarkan dia belajar mata pelajaran itu saja. Biarkan ! Mata pelajaran lain, tentu, dipelajari tetapi dengan tujuan untuk mendukung mata pelajaran yang padanya dia punya potensi (sangat) tinggi, dia (sangat) berminat, dan dia (amat) membutuhkannya untuk menciptakan hari esok yang bilang-gemilang bagi dirinya sendiri dan, melalui dia, bagi keluarga dan bangsanya. Bagi kita semua. Itu bisa saja matematika atau fisika atau olahraga atau seni suara atau apapun. Yang penting ini: belajarnya terfokus (Bdk., misalnya, Ana Weber, 360 Derajat Keberhasilan: Uang-Relasi-Energi-Waktu. 2015. Terjemahan S.F. Atmaka. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer).

Di lain pihak, jika dia tidak berminat pada mata pelajaran, misalnya, matematika karena tidak membutuhkannya (baca: matematika tingkat “tinggi”, bukan hanya soal kali, bagi, tambah, kurang sederhana) sebab dia, misalnya, tidak mau melanjutkan pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi dalam bidang matematika, jangan paksa dia belajar matematika. Jangan! Betapa pun dia sangat potensial dalam bidang matematika.

Biarkan dia menentukan sendiri mata pelajaran yang dipelajarinya sesuai dengan minat dan kebutuhan masa depannya. Apakah itu, misalnya, ekonomi karena dia mau menjadi pedagang, serahkan padanya. Guru dan orang tua hanya membantu membimbing untuk menjamin bahwa dia menemukan mata pelajaran yang memang pas, cocok, dengan potensi, minat, dan kebutuhan belajarnya (Feliks Tans, Kompas, 28 Desember, 2011, Desentralisasi Pendidikan, hlm. 7).

Saat ini, pendidikan kita bermasalah karena, antara lain, anak-anak kita dibuat menderita oleh begitu banyaknya mata pelajaran yang harus mereka pelajari. Kebanyakan di antaranya tidak/kurang sesuai dengan potensi, minat, dan kebutuhan belajarnya. Semua anak belajar semua, seolah-olah mereka semua berpotensi dan berminat dalam semua mata pelajaran dan membutuhkan semuanya di masa depannya.

Penderitaan itu terlihat secara jelas ketika mereka tidak ke sekolah dan harus belajar sendiri di rumah untuk mencegah Covid-19. Di rumah, mereka harus mengerjakan belasan PR yang, dalam banyak hal, tidak/kurang relevan dengan potensi, minat, dan kebutuhan belajarnya. Inilah yang membuat mereka galau. Cemas. Seperti yang dikatakan sebelumnya.

Ini, jelas, ironis. Sebab belajar di rumah, seharusnya, menyenangkan dan intensif. Self-initiated. Self-evaluated. Pervasive. Bermakna dan total (Carl Rogers, 1983. Freedom to Learn for the 80’s. New York: Macmillan, hlm. 20). Namun, keceriaan, intensitas, makna, pengaruhnya ynag terlihat pada kata dan sikap hidupnya yang beradab, dan totalitas seperti itu, saya takut, absen dalam belajar mandiri di rumah. Sebab yang dipelajari dan PR yang dikerjakan, secara umum, tidak/kurang sesuai dengan potensi, minat, dan kebutuhannya.

Di lain pihak, kita tahu, banyak orang hebat dalam sejarah peradaban manusia tercipta dari etos belajar mandiri yang sangat luar biasa di rumah. Di Amerika Serikat, kita kenal, misalnya, Thomas A. Edision. Di Indonesia ada, antara lain, Adam Malik, Pramoedya Anantatoer, dan Ayib Rosidi. Tidak tamat SD, tetapi menjadi kebanggaan Indonesia karena kompetensi dan karya besar mereka.

Kedua, belajar dan pembelajaran di kelas, sejatinya, harus berbasis pada tujuan belajar murid, Bukan pada bahan ajar yang harus diselesaikan pada satu semester atau satu tahun pembelajaran (teaching) oleh guru. Artinya, jika seorang murid merasa tujuannya belum tercapai atau gurunya merasa muridnya belum mencapai tujuan belajarnya, biarkan dia, dengan gurunya atau siapa saja yang mau membantu, terlibat lebih lama lagi mendalami materi yang sedang digaulinya. Dalam konteks inilah, diskusi, tanya-jawab dengan gurunya, dan/atau aktivitas apa pun di kelas atau di luar kelas, seperti yang diisyaratkan oleh Program “Merdeka Belajar,” akan lebih intensif. Sebab waktu tidak membatasinya secara kaku.

Selama ini, alokasi waktu belajar ini menjadi sesuatu yang menyulitkan guru. Juga murid. Ketika seorang guru, misalnya, merasa bahwa muridnya belum memahami apa yang dipelajarinya atau diajarkannya, sang guru harus mengabaikan itu karena masih ada banyak topik yang harus diselesaikan sesuai dengan perintah kurikulum yang disusun oleh Jakarta (Kemendiknas). Murid pun dibiarkan dalam keadaan tidak paham dengan apa yang dipelajarinya dan/atau yang diajarkan oleh gurunya.

Ketiga, ujian nasional seperti yang dikatakan oleh Menteri Nadiem ditiadakan. Saya setuju. Biarkan para guru menentukan apakah seorang murid lulus atau tidak dari sekolah tertentu. Sebab merekalah yang, sejatinya, tahu secara persis kemampuan muridnya dalam bidang yang dipelajarinya sesuai dengan potensi, minat, dan kebutuhannya seperti yang saya katakan di atas. Supaya sekolah sungguh-sungguh dalam bertugas dan murid juga total dalam belajar, pengawasan dari berbagai pihak perlu: dari pemerintah, media massa, LSM, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan lainnya.

Keempat, guru, pahlawan tanpa tanda jasa itu, dan segala haknya diberikan oleh sekolah karena mutu tugas yang diembannya, bukan karena kuantitas pekerjaannya. Selama ini, seorang guru, misalnya, tidak akan diberi tunjangan sertifikasi guru (sergu) bila jam mengajarnya tidak sampai 24 jam per minggu. Ini, antara lain, membuat guru berusaha sedapat mungkin menggapai jumlah jam mengajar tersebut dan, dalam banyak hal, mengabaikan mutu. Dalam konteks kemerdekaan guru dalam mengajar (pembelajaran), sejatinya, haknya harus tetap diberikan, walaupun, di atas kertas, dia tidak mencapai jumlah jam mengajar sebanyak itu. Artinya, dalam konteks ini, hasil aktivitasnya jadi patokan. Ketika, misalnya, dia berhasil dalam mengubah seorang murid yang malas menjadi rajin, yang nakal menjadi santun, yang “bodok” menjadi “smart”, yang intoleran menjadi toleran, dan berbagai perkembangan positif lainnya, itu sudah cukup untuk memberinya tunjangan sergu dan gaji sesuai haknya.

Jika keempat hal itu dilakukan di setiap lembaga pendidikan formal bangsa ini dari Sabang sampai Merauke, saya yakin, impian Menteri Nadiem dan, saya yakin, impian setiap orang Indonesia yang berkehendak baik, tentang “medeka belajar” akan dapat kita laksanakan dengan sepenuh hati. Jika, kemudian, itu terlaksana, mutu pendidikan kita pasti menjadi lebih baik dan, karena itu, produk pendidikan kita akan pernah menjadi beban; tidak akan pernah menjadi masalah.

Mereka, sebaliknya, menjadi berkat karena total dalam belajar dan, karenanya, mereka cerdas, jujur, mandiri, sungguh-sungguh, anti-korupsi, beradab, tangguh, tanggap, percaya diri, toleran, cinta damai, anti-kekerasan, dan cinta lingkungan (membuang sampah secara teratur). (*)

Penulis merupakan Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(FKIP), Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang

Foto utama oleh Kemdikbud

Hukum Internasional Undana & BNNP NTT Edukasi Mahasiswa Bahaya Narkotika

260 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Mei 2019, polisi mengamankan sepasang suami istri warga negara Timor Leste yang kedapatan membawa ribuan pil yang diduga ekstasi melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain. Sebelumnya, pada tahun 2012 Polisi dan tim BNNP menangkap 4 (empat) anggota sindikat pengedar shabu asal Timor Leste di Kota Kupang dan pada 2015 Polda NTT menangkap 4 (empat) perempuan yang juga menjadi kurir shabu di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Meskipun berdasarkan keterangan dari kepala BNNP NTT berdasarkan hasil penelitian bersama dengan Universitas Indonesia, dari total 36.000 orang yang telah diamankan di NTT dan 7 (tujuh) kasus peredaran narkotika di wilayah ini yang telah digagalkan oleh pihak BNNP hingga tahun 2018 yang terjadi di Kota Kupang dan Waingapu, namun tentunya hal ini tidak dapat dibiarkan dan perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak termasuk dari lingkungan perguruan tinggi.

Menyikapi kondisi tersebut maka Jurusan Hukum Internasional Universitas Nusa Cendana (Undana) menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur menghelat Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) tentang Pencegahan dan Penanggulangan Peredaran Narkoba, Psikotropika dan Bahan Berbahaya Lintas Negara oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTT; yang dilaksanakan pada Sabtu, 7 Desember 2019 pukul 10.00 WITA—selesai bagi mahasiswa tingkat akhir jurusan Hukum Internasional Undana.

Para mahasiswa dibekali materi P4GN (Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika) oleh Kasie Pencegahan BNNP NTT, Markus Raga Djara, S.H., M.Hum. Mahasiswa juga diberi pemahaman mengenai permasalahan narkoba di wilayah NTT karena mobilitas masyarakat dari dan keluar NTT sangat tinggi baik melalui darat, laut, dan udara yang ditunjang dengan 22 pelabuhan besar/kecil dan 14 bandara.

Kasie Pencegahan BNNP NTT, Markus Raga Djara, S.H., M.Hum. saat memaparkan tentang P4GN dan peredaran gelap narkoba lintas negara

Menurut Markus Raga Djara, bertolak dari kondisi tersebut yang menyebabkan angka prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 0,99 persen atau berjumlah 36.022 penyalahguna pada kelompok usia 10—59 tahun dengan jumlah kerugian diperkirakan sekitar 903,6 miliar rupiah.

Di samping itu, Markus Raga Djara juga menyampaikan beberapa alasan mengonsumsi narkotika yakni Ingin tahu/coba-coba (64 %); Bersenang-senang (16,8 %); Ajakan/Bujukan/Dipaksa Teman (6,60%); Ajakan/Bujukan/Dipaksa Pacar (0,30%); Stres akibat masalah keluarga (2,00 %); Stres akibat masalah pribadi (5,60 %); Stres akibat masalah pekerjaan (0,30%); Dijebak (2,30%), dan Lainnya (2,00%).

Mengenai upaya yang dilakukan mencegah peredaran gelap narkotika di lintas batas negara antara Indonesia, Timor Leste, dan Australia, Markus Raga Djara menyampaikan upaya untuk membentuk Satgas Interdiksi Darat, Laut, dan Udara; melakukan kerja sama dengan Negara Timor Leste dalam bidang intelijen; rutin melakukan sosialisasi dan kerja sama dengan pemda setempat; pemberdayaan masyarakat di perbatasan; meningkatkan kerja sama dengan pamtas; meningkatkan kemampuan intelijen berbasis IT; membentuk BNN Kabupaten di Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), dan Timor Tengah Selatan (TTS); dan penambahan personil BNN.

Sementara itu, Kabag Hukum Internasional Fakultas Hukum Undana, Dr.Jeffry Alexander.C.H Likadja, S.H., M.H. menyampaikan bahwa Indonesia telah menempatkan kejahatan narkoba sebagai high-risk crime dan dalam penanganannya Indonesia telah meratifikasi 3 (tiga) Konvensi anti narkoba, yaitu: Single Convention on Narcotic Drugs 1961 melalui UU No.8 Tahun 1976; Con vention on Psychotropic Substances 1971 melalui UU No.8 Tahun 1996, and Convention against the llicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988 melalui UU No. 7 Tahun 1997.

Selain itu, ujar Jeffry, Indonesia juga melakukan kerja sama internasional untuk meningkatkan upaya penanggulangan isu narkoba tersebut. Untuk kerja sama multilateral, Indonesia berperan aktif dalam memberantas peredaran dan perdagangan gelap narkotika dalam berbagai forum seperti forum Commission on Narcotic Drugs, Special Session of the United Nations General Assembly on the World Drug Problem Head of National Drug Law Enforcement for Asia Pacific, dan ASEAN Senior Officials on Drug Matters dan berbagai pertemuan lainnya di bawah kerangka UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) yang dibentuk PBB pada tahun 1997 sebagai kantor yang mengurusi kontrol obat-obatan (terutama narkoba).

Foto bersama Mahasiswa dan Dosen Hukum Internasional Undana dan BNN Provinsi NTT

Berbagai konvensi internasional tersebut dan kerja sama antar negara yang telah dijalin selama ini, imbuh Jeffry, menunjukkan bahwa kejahatan narkoba lintas negara sudah menjadi menjadi ancaman yang sangat serius bagi Indonesia, tidak hanya karena dijadikan sebagai negara transit namun juga sebagai tujuan peredaran narkoba dunia. Sehingga Indonesia melalui lembaga penegak hukum yang ada bersama dengan segenap lapisan masyarakat terutama kalangan akademik di Provinsi NTT harus saling bahu-membahu dan bekerja sama secara maksimal dan terstruktur melakukan segala upaya yang dapat melemahkan bahkan melumpuhkan peredaran narkoba khususnya di bumi Flobamorata.

“Kami dari Hukum Internasional Undana mencermati dan menduga adanya indikasi maraknya peredaran gelap narkoba bukan hanya dari bandar lokal namun dari lintas negara dan kami bekerja sama dengan BNN Provinsi NTT memberikan edukasi kepada mahasiswa sehingga saat tugas akhir mereka dapat tertarik dan tertantang mencermati masalah narkotika dengan membuat tugas akhir /skripsi,” tandas Jeffry.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Kepala BNN RI Beri Kuliah Umum & Tanda Tangan MoU dengan Undana

182 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, S.H., berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam lawatannya Kepala BNN RI berkesempatan memberikan kuliah umum di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNN RI menandatangani nota kesepahaman bersama (MoU) bersama dengan Rektor Undana Prof. Ir. Fredik L. Benu, M.Si., Ph.D. Selain itu penandatanganan juga dilakukan oleh Kepala BNN Provinsi NTT, Brigjen Pol. Teguh Iman Wahyudi, S.H. bersama dengan Wakil Rektor Undana bidang Kemahasiswaan, Dr. Drs. Siprianus Suban Garak, M.Sc.

Kepada Rektor Undana, Heru menyerahkan gambar jenis-jenis narkoba untuk disosialisasikan kepada mahasiswa. Fred Benu pada saat menerima gambar tersebut langsung menyerahkan kepada Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dengan pesan untuk dapat menjalankan tugas tersebut.

“Ini adalah tanggung jawab Bapak, silakan dikerjakan,” ujar Benu kepada Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan Undana.

Pada saat menyampaikan materi di depan 1.000 lebih mahasiswa Undana dari 14 Fakultas, Kepala BNN RI mengatakan bahwa ada 803 jenis narkoba New Psychoactive Substances (NPS) di dunia dan untuk Indonesia terdapat 74 jenis narkoba NPS. Dari 74 jenis tersebut, sebanyak 72 jenis sudah terdaftar dalam Permenkes Nomor 20 Tahun 2018.

“Jadi ada 2 jenis yang belum terdaftar di Permenkes,” ujar Heru pada Senin, 28 Oktober 2019 di Aula Rektorat Lama Undana Kupang.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Komjen Pol. Drs. Heru Winarko, S.H., saat melantunkan lagu

Di hadapan mahasiswa, Rektor, Wakil Rektor, beberapa Dekan Fakultas dan juga pegawai BNN Provinsi NTT, Heru Winarko secara tegas menyampaikan bahwa narkoba jenis NPS sangat berbahaya.

Guna membangun sinergitas dalam memberantas narkoba di NTT, Kepala BNN RI juga menyematkan PIN relawan anti narkoba kepada 22 mahasiswa secara simbolis.

Heru menyampaikan bahwa para relawan akan diberikan pemahaman terkait narkoba, bahaya dan penyalahgunaan serta tentang penanganannya untuk bisa disosialisasikan baik dalam kampus maupun di luar kampus.

Sementara itu, Rektor Undana, Fred Benu dalam sambutannya mengatakan bahwa Undana sudah secara rutin melakukan tes narkoba bagi setiap mahasiswa baru yang diterima. Dan sejauh ini belum ada mahasiswa yang dinyatakan positif menggunakan narkoba.

Lanjutnya, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan tes narkoba lagi bagi semua mahasiswa untuk mengantisipasi terjadinya penyalahgunaan narkoba. “Sejauh ini saya belum dengar mahasiswa saya menggunakan narkoba. Kalaupun ada saya belum dengar. Dan saya minta kepada Pak Kepala BNN Provinsi, kalau ada mahasiswa saya yang menggunakan narkoba tolong laporkan, saya akan keluarkan, “tegas Benu.

Di akhir kegiatan kuliah umum yang mengangkat tema ‘Menyelamatkan Generasi, Merawat Negeri dari Ancaman Kejahatan Narkoba’, Kepala BNN RI mempersembahkan satu buah lagu kepada seluruh peserta. Para peserta pun hanyut dalam lantunan kata demi kata yang dinyanyikan oleh Komisaris Jenderal Polisi Heru Winarko. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Seminar Nasional BEM Undana Hadirkan Staf Kepresidenan Sebagai Pembicara

257 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar Seminar Nasional pada Sabtu, 12 Oktober 2019. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Cahaya Bapa Kota Kupang mengangkat tema ‘Mempersiapkan Pemuda yang Kompeten dan Berintegritas dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045’.

Hadir sebagai pemateri, Deputi IV Staf Kepresidenan, Eko Rahardjo, S.Sos., M.Ikom. membagikan ilmu tentang ‘Membangun Idealisme dan Integritas dalam Memperkuat Karakter Generasi Penerus Bangsa.

Erwin Fallo, selaku Ketua Panitia mengatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai wujud upaya membuka wawasan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa yang dapat menunjang masa depan bangsa yang cerah dan lebih maju.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan kesadaran akan tantangan dalam skala nasional maupun daerah dengan mengidentifikasi tindak preventif yang perlu dilakukan sejak dini oleh mahasiswa guna mewujudkan Indonesia Emas 2045”, ujar Erwin ketika menyampaikan laporan panitia.

Selain itu, Erwin juga mengungkapkan bahwa krisis moral yang sedang terjadi di Indonesia menjadi hal serius yang perlu diperhatikan dan perlu untuk melakukan langkah-langkah kongkrit sebagai solusi dalam menangani degradasi moral anak bangsa.

“Perlu mengidentifikasi masalah moral yang sedang terjadi di bangsa ini sebagai krisis integritas dan memperkenalkan serta memperkuat integritas sebagai karakter pada kaum muda demi terwujudnya generasi penerus bangsa yang jujur,” jelas Erwin.

Sementara itu, Ketua BEM Undana Kupang, Ridwan S. Menoh mengatakan bahwa pemuda memiliki peran vital dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

“Dalam menyambut Indonesia Emas, pemuda adalah pemegang tongkat estafet pembangunan bangsa. Peran pemuda menjadi sangat vital dalam konteks kebangsaan Indonesia. Pembangunan bangsa ini ada di tangan pemuda. Cita-citanya adalah pemuda mampu bersaing dan menyelesaikan masalah yang terjadi”, ujar mahasiswa Pendidikan Kimia itu.

Ridwan menambahkan bahwa sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan bangsa ini, mahasiswa harus mampu menghadirkan perubahan di tengah masyarakat serta harus bersikap kritis dan peka terhadap berbagai persoalan bangsa.

“Menurut saya mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial seharusnya peduli terhadap persoalan bangsa, salah satu contoh konkret yang terjadi baru-baru ini adanya gelombang unjuk rasa di berbagai pelosok tanah air dalam upaya mengkritisi kebijakan wakil rakyat yang dinilai tidak pro rakyat dan malah menindas masyarakat. Mahasiswa harusnya peka dan terus bersuara walaupun ada upaya pembungkaman terstruktur,” pungkas Ridwan.

Seminar yang dihadiri oleh 1.224 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Kupang juga menghadirkan Winston Neil Rondo, S. Pt sebagai pemateri dengan membawakan materi tentang Kontribusi Pemuda di Bidang Pembangunan Daerah dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Emas 2024. Selain itu, hadir juga sebagai pemateri, Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Undana, drh. Yohanes T. R. M. R. Simarmata, M Sc., yang membawakan materi tentang Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Bangsa. (*)

Penulis (*/Dini Ndolu)
Editor (+rony banase)

Donor Darah Jurusan Kimia FST Undana Gapai 50 Kantong Darah

273 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Menyambut Dies Natalis ke-18 Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknik (FST) Undana Kupang, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kimia, melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah aksi donor darah yang dihelat di gedung perkuliahan FST Kimia pada Senin, 7 Oktober 2019.

Ketua Panitia pelaksana Dies Natalis ke-18, Yanaria Verarita Kewaran kepada media ini mengatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai bentuk partisipasi dari mahasiswa dalam mendukung kerja dari Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurutnya, selama ini kegiatan donor darah hanya dilakukan di instansi-instansi pemerintah, maka kali ini pihaknya berusaha agar mahasiswa juga turut serta dalam mendukung program kemanusiaan tersebut dan menjadikan mahasiswa sebagai orang yang peka dengan berbagai situasi yang membutuhkan partisipasi mahasiswa.

“Ini kegiatan sosial bagi mahasiswa, di mana mahasiswa hadir sebagai orang yang peduli dengan menyumbangkan darahnya bagi kebutuhan orang lain secara sukarela,” jelas Rita sapaan akrabnya.

Lanjutnya, kegiatan donor darah sudah beberapa tahun terakhir dilakukan di jurusan Kimia dan Mahasiswa Kimia sendiri sangat berantusias dalam mengikuti kegiatan kemanusiaan tersebut. Selain itu ada juga mahasiswa dari jurusan lain yang turut mengambil bagian dalam kegiatan yang bermartabat tersebut.

“Mahasiswa sangat antusias bahkan dosen juga turut serta dalam kegiatan ini. Ada juga mahasiswa dari beberapa jurusan lain yang juga ikut menyumbangkan darah dalam kegiatan akbar ini,” tambahnya.

Rita menjelaskan bahwa awalnya dari kepanitiaan menargetkan pendonor pada kegiatan tersebut diatas 30 orang dan sesuai jumlah pendonor yang mendaftar sebanyak 40 orang. Namun ketika kegiatan berlangsung yang hadir untuk melakukan donor darah lebih banyak dari yang mendaftar.

“Yang datang untuk donor lebih dari 100 orang, tapi setelah dilakukan pemeriksaan ternyata banyak yang dinyatakan belum bisa menyumbangkan darah mereka karena berbagai alasan seperti kondisi kesehatan yang tidak mendukung,” tutur mahasiswa semester 7 itu.

Terkait kendala yang gagalnya banyak calon pendonor, Rita mengungkapkan bahwa hal tersebut dikarenakan adanya banyak praktikum di jurusan Kimia dan mahasiswa harus mengerjakan laporan sehingga waktu istirahat sangat sedikit dan kondisi fisik dari banyak mahasiswa menurun.

“Walaupun banyak yang tidak berhasil mendonorkan darahnya, tapi kita berterima kasih karena kegiatan hari ini sebanyak 50 kantong darah yang berhasil dikumpulkan,” jelas Rita.

Sementara itu, Kristina Masni, salah satu petugas dari unit tranfusi darah PMI Provinsi NTT mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan kerja sama PMI Provinsi NTT dan mahasiswa jurusan Kimia serta merupakan inisiatif dari mahasiswa jurusan Kimia untuk membantu PMI dalam penyediaan darah.

Menurut Kristina, kegiatan tersebut berjalan dengan baik dan mampu memenuhi target yang sudah ditetapkan dari awal yaitu minimal 50 kantong dari yang harus di kumpulkan.

“Target kita bervariasi. Kalau di Polda biasanya targetnya minimal 100 kantong darah, tapi kalau di kampus kita targetkan minimal 50 kantong darah saja,” jelas Kristina.

Dirinya mengatakan bahwa kebutuhan darah di Kota Kupang juga bervariasi. Kalau bulan-bulan wabah biasanya permintaan darah dari rumah sakit akan meningkat. Dirinya mengatakan bahwa untuk saat ini, jumlah yang harus dipenuhi diatas 50 kantong per hari.

“Kebutuhan tersebut menuntut unit transfusi darah untuk menyediakan 1.200—1.300 kantong darah dalam sebulan,” tutup Kristina. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Pembekalan 3.004 Mahasiswa KKN Undana, Rektor :“Jaga Nama Baik Almamater!”

389 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Saya titip nama baik Almamater Undana, jaga kelakuan dan jangan berbuat tidak senonoh”, ujar Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D., kepada 3.004 calon Mahasiswa KKN Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Semester Ganjil 2019/2020 yang memadati Lapangan Sepak Bola Undana pada Selasa, 2 Juli 2019 pukul 16:00 WITA—selesai.

Kepada 3.004 Mahasiswa KKN Undana yang akan menempati lokasi di 13 kab/kota dan 15 lokasi kampus, Rektor Undana menyampaikan bahwa mahasiswa peserta KKN akan mengikuti pembekalan selama 3 (tiga) hari dan percaya mereka akan mengikuti secara baik dan meminta untuk menyampaikan apa yang tidak baik dan masih kurang dalam program KKN Undana semester ganjil 2019/2020

“Sebagai pelayan publik, seharusnya saya juga tahu apa keluhan kalian (Mahasiswa KKN Undana, red) dalam mengikuti program KKN ini, itu perlu rektor tahu. Jangan pernah biarkan Kepala Pusat KKN dan Ketua Lembaga Penelitian Pengabdian lapor saya yang baik-baik saja, tidak boleh!”, tegas Rektor Undana yang berasal dari Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Rektor Undana, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si., Ph.D. saat memberikan pengarahan kepada 3.004 mahasiswa calon peserta KKN semester ganjil 2019/2020

“Kalian harus lapor apa yang tidak baik dan apa yang masih kurang dari program KKN ini agar saya benahi karena jumlah mahasiswa semakin banyak, pelayanan kita semakin besar”, pintanya.

Rektor Undana yang merupakan Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian (Faperta) ini meminta untuk melakukan kajian lebih dalam tentang Praktek Kerja Lapangan (PKL) dari FKIP agar telah terintegrasi dengan KKN sehingga tidak dobel dan memperpanjang masa studi.

Sebelumnya, Kepala Pusat Layanan Pengembangan KKN Undana, Ir. Melkianus Tiro, M.Si., dalam laporan sebagai Ketua Panitia Pembekalan Mahasiswa KKN Undana semester ganjil 2019/2020 menyampaikan bahwa 3.004 mahasiswa calon peserta KKN yang siap mengikuti pembekalan meningkat 30% dari periode yang sama di tahun 2018.

Lanjutnya, Mahasiswi KKN Undana datang dari 10 (sepuluh) fakultas masing-masing: FKIP 132 orang; Faperta 55 orang; Fapet 199 orang; FKP 4 orang; Fakultas Hukum 341 orang; FST 715 orang; FKM 65 orang; Fisip 973 orang; FKH 52 orang dan FEB 442 orang.

Sedangkan, lokasi KKN dan alokasi mahasiswa sebagai berikut :

  1. Kampus 15 lokasi mahasiswa KKN sebanyak 1.058 orang;
  2. Kota Kupang di 50 kelurahan 343 mahasiswa;
  3. Kabupaten Kupang di 12 desa (termasuk KKN PPM dan PKW) 138 mahasiswa;
  4. Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di 10 desa 97 mahasiswa;
  5. Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) di 12 desa 96 mahasiswa;
  6. Kabupaten Belu di 12 desa 99 mahasiswa;
  7. Kabupaten Malaka di 12 desa 106 mahasiswa;
  8. Kabupaten Alor di 4 desa 29 mahasiswa;
  9. Kabupaten Sumba Timur di 5 desa 39 mahasiswa;
  10. Kabupaten Rote Ndao di 4 desa 45 mahasiswa;
  11. Kabupaten Manggarai Timur di 9 desa 180 mahasiswa;
  12. Kabupaten Sikka di 3 desa 69 mahasiswa;
  13. Kabupaten Flores Timur di 15 desa 181 mahasiswa;

Pemberangkatan Mahasiswa KKN Undana ke lokasi pada Senin, 8 Juli 2019 untuk mengabdi hingga 29 Agustus 2019 dan penjemputan direncanakan sekitar tanggal 31 Agustus 2019.

“Mahasiswa KKN didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sebanyak 96 orang”, terang Kepala PLP KKN Undana, Melkianus Tiro.

Selain itu, terang Melkianus Tiro, KKN periode ini (2019/2020) terdapat 2 (dua) kerja sama KKN Tematik yakni KKN Tematik Revolusi Mental kerja sama dengan Kemenko PMK RI dan KKN Tematik BKKBN kerja sama BKKBN Provinsi NTT

“KKN Revolusi Mental akan dilaksanakan di 36 desa di Kab. TTS, TTU, Belu, dan Malaka sedangkan KKN Tematik BKKBN di Kabupaten yang sama melingkupi 10 desa”, pungkasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)

Lulusan Termuda Undana, Caterina Lay: “Motivasi Diri adalah Senjata Utama”

438 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Undana (Universitas Nusa Cendana) Kupang melaksanakan wisuda Doktor, Magister, Profesi dan Sarjana periode kedua tahun 2019. Bertempat di Aula Rektor Lama Undana Kupang, pada Jumat 28 Juni 2019.

Hadir pada acara wisuda itu, Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang, Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M. Si., Ph.D., Para Wakil Rektor, hadir pula para Dekan dari 11 Fakultas, Direktur Pasca Sarjana, Ketua Pengadilan Tinggi Negeri NTT, para wisudawan/wisudawati serta para orang tua.

Undana melepas 10 wisudawan terbaik dari 679 wisudawan. Lulusan terbaik wisuda periode kedua dengan IPK sempurna 4.00 dari Program Pasca Sarjana atas nama Dolovianus Yohanes Atok, S. K. M., M. Kes.

Lulusan termuda diraih oleh Caterina Siska Dewi Lay, S. Si, dengan lama studi 3 tahun 10 bulan. Dewi, sapaan akrabnya, menyelesaikan studinya pada usia 19 tahun. Dia juga merupakan lulusan terbaik ketiga se-Undana serta lulusan terbaik pertama FST.

Kepada Media Garda Indonesia, Dewi mengutarakan bahwa dirinya memang punya motivasi yang kuat untuk bisa Wisuda di usia muda karena selama SMP dan SMA dia mengikuti kelas akselerasi.

“Saya punya motivasi untuk bisa wisuda di usia muda karena selama SMP, SMA saya masuk kelas akselerasi. Puji Tuhan karena saya bisa menyelesaikan studi sarjana 3 tahun 10 bulan”, ujar Putri bungsu dari 2 orang bersaudara itu.

Lanjut dia, motivasi untuk wisuda muda membuat dia berjuang begitu keras selama proses perkuliahan walaupun jurusan yang dipilihnya termasuk sulit untuk bisa selesai studi tepat waktu.

“Selama kuliah memang ada hambatan tapi dengan motivasi yang kuat dan terus berserah pada Tuhan, saya tetap berjalan dan bisa mengatasi semua hambatan itu”, ujar alumni FST Kimia itu.

Ketika ditanya berkaitan dengan prestasi yang diraihnya, Dewi mengaku bahwa itu bukanlah hal yang mudah, dan itu juga merupakan tanggung jawab yang besar.

“Saya sangat bangga sekaligus meletakan suatu tanggung jawab baru lagi untuk tetap berjuang”, ujar alumni SMA 1 Kupang itu.

Lebihnya, Dewi menepis tanggapan masyarakat yang sering menilai bahwa orang yang pintar diatas kertas belum tentu berhasil di dunia kerja.

“Sejak di SMA banyak orang bilang bahwa kuliah itu susah. Tapi dengan motivasi yang tinggi dan kegigihan dalam belajar saya yakin bahwa saya akan mampu mengatasi rintangan yang akan datang dengan penyertaan Tuhan”, ujar Dewi yang sejak kecil punya rasa ingin tahu yang tinggi.

Kepada semua pelajar dan juga mahasiswa yang sedang berjuang dan mungkin saja sedang ragu dengan apa yang dijalani, lulusan termuda ini berpesan untuk tetap semangat dan miliki motivasi yang kuat serta selalu mengandalkan Tuhan.

“Segala sesuatu tidak ada yang mudah. Motivasi diri adalah kekuatan untuk menghadapi semua tantangan maupun keraguan. Apapun yang akan dihadapi maupun yang sedang dihadapi, yakinlah semua akan terlewati dan indah pada waktunya. Pertaruhkan semua persoalannya pada Tuhan”, pungkas alumni SMP Negeri 1 Kota Kupang ini kepada Garda Indonesia. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Undana & Lembaga Pengkajian MPR RI Kolaborasi Gelar FGD

62 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang memperoleh kehormatan untuk menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dari Lembaga Pengkajian MPR RI yang diselenggarakan pada Jumat, 3 Mei 2019 pukul 07.00—selesai di Ballroom Hotel Sotis Kupang

FGD hasil kolaborasi Lembaga Pengkajian MPR RI dan Undana mengusung tema “Keuangan Negara dan Anggaran Pendapatan Belanja Negara”, melibatkan 3 pemateri yakni Ketua Bappeda NTT;  Dr Petrus de Rosari, M.Si., dan Prof. Dr. Sirilius Seran, S.E. M.S., 19 pembahas dari unsur akademisi, dan 1 (satu) orang perumus hasil, Drs.Jacob Wadu,M.Si.

Pada sesi jumpa pers, Kamis, 2 Mei 2019 pukul 17.00 WITA—selesai di Hotel Sotis, Wakil Ketua Lembaga Pengkajian MPR RI, Dr.Ir.H.Mohamad Jafar Hafsah, lPM; saat didampingi Dekan Fisip, Dr.Frans Gana, MS; Wadek ll Fisip, Drs.Abas Kasim, M.Si;  Wadek lll, Drs. John Ndoda, M.Si dan Kepala Humas, David Sir, S.Sos., M.Hum., menyampaikan bahwa FGD dilaksanakan di 4 (empat) tempat yakni Jawa Barat, Banten, Sumatera Utara dan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang

“Terpilihnya Undana sebagai penyelenggara oleh Lembaga Pengkajian MPR RI karena kita merasa Undana mempunyai kapasitas dan kemampuan memberikan pemikiran-pemikiran yang baik tentang anggaran dan APBN”, ungkap Jafar Hafsah

Wakil Ketua Lembaga Pengkajian MPR RI, Dr.Ir.H.Mohamad Jafar Hafsah, lPM

Lanjut Jafar, Tentunya Undana sebagai pelaksana kerja sama dengan MPR, namun dalam pelaksanaan FGD melibatkan seluruh komponen yang berkompeten baik dari pemerintah daerah, guru besar, dosen-dosen, birokrasi,  dan media

“Kami ingin mengetahui secara persis bagaimana melahirkan dan penyerapan ABPN oleh pemerintah daerah, pemerintah kab/kota dan setelah tersedia APBN apakah pemanfaatan sesuai sasaran dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Hasil FGD menjadi rekomendasi yang diberikan kepada MPR, Lembaga Negara, Presiden, dan dapat diaplikasikan dalam pembiayaan negara yang berimplikasi pada APBD I dan APBD II”, jelas Jafar Hafsah

Sambung Jafar Hafsah yang merupakan Sekretaris Jenderal General Secretary ICMI ini, bahwa Lembaga Pengkajian MPR RI sebagai lembaga pengkajian konstitusi yang berfungsi untuk memberikan pemahaman kepada konstitusi dan menyerap aspirasi dari masyarakat dan dirumuskan menjadi saran dan keinginan masyarakat terhadap konstitusi

Selain itu, jelas Jafar Hafsah, 9 anggota dari Lembaga Pengkajian MPR RI yang terdiri dari 2 (dua) Wakil Ketua (Prof.Dr.Syamsul Bahri,M.Sc dan Dr.Ir.H.Mohamad Jafar Hafsah, lPM) dan 7 (tujuh) anggota yakni Prof.Dr.Adji Samekto,SH,M.Hum; Ir.Hj.A.P.A.Timo Pangerang; K.H.Bukhori Yusuf.LC.MA.; Ir.H.Memed Sosiawan,ME; H.M.Sholeh Amin,SH,MH.; I Wayan Sudiarta,SH; dan Dr.Ali Masykur Musa,SH,M.Si.,M.Hum; hadir dalam FGD untuk berbicara mengenai perimbangan dan pengajuan APBN.

Disamping itu, Menyangkut terpilihnya Undana sebagai penyelenggara FGD, Wakil Dekan (Wadek) II Fisip, Drs.Abas Kasim,M.Si., menyampaikan bahwa dari MPR RI langsung menunjuk Undana sebagai penyelenggara FGD dan Rektor Undana mendisposisi Fisip Undana untuk mengatur acara dan menghubungi para nara sumber

“Begitu melihat tema, maka Fisip Undana menghubungi para nara sumber yang berkompeten yang berfokus pada akademisi dengan berbagai disiplin ilmu seperti dari hukum, sosiologi antropologi, ekonomi dan bisnis, ekonomi pertanian, dan konsultasi publik.

Penulis dan editor (+)