Arsip Tag: wvi ntt

WVI Donasi APD Covid-19 bagi Pemkot Kupang, Wali Kota Jefri : Terima Kasih

240 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Wahana Visi Indonesia (WVI) terus memberikan respons dalam membantu penanganan Pandemi Covid-19 di Indonesia, terutama untuk memastikan terpenuhinya hak-hak anak. Di Nusa Tenggara Timur, anak-anak mengalami kerentanan yang tinggi karena minimnya akses akan sanitasi dan air bersih, terbatasnya fasilitas dan kapasitas orang tua untuk mengajar anak di rumah, hingga kerentanan terhadap terjadinya kekerasan.

Eben Ezer Sembiring, Zonal Manager WVI Wilayah NTT, menyampaikan, anak-anak mengalami dampak Covid-19 dan cenderung terabaikan. Beberapa kondisi kerentanan anak-anak di NTT misalnya: hanya 50,72% rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak (Data Susenas BPS 2018), dan hanya 64,79% rumah tangga memiliki akses terhadap layanan air minum layak dan berkelanjutan. Kurang dari 40% anak di NTT hidup dalam rumah tangga yang memiliki akses air bersih, sekitar 250.000 anak usia balita tidak memiliki akses air bersih dan lebih dari 260.000 anak tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Padahal dalam situasi pandemi, dibutuhkan akses air bersih untuk dapat menerapkan protokol kebersihan.

“Dengan berbagai latar belakang tersebut, kami melakukan respons di 18 kabupaten/kota di NTT meliputi tindakan pencegahan penularan Covid-19 serta akses ke perawatan dan pengobatan, memastikan sistem pengasuhan anak-anak berjalan baik selama pandemi atau jika orang tuanya terinfeksi, dan melakukan advokasi untuk memastikan keluarga yang rentan menerima dukungan pemerintah sesuai dengan standar dan prinsip hak anak,” ujar Eben Ezer.

Penyerahan simbolis bantuan APD WVI dari Wali Kota Kupang kepada salah satu kepala puskesmas

Untuk tahap awal, April—September 2020, WVI di NTT mengelola dana sebesar Rp 2.953.336.266,83 ( 2,95 Miliar ) untuk berbagai program, antara lain penyediaan 813 fasilitas cuci tangan dengan sabun, mendistribusikan APD standar Covid-19 untuk 653 tenaga kesehatan. Ada pun bantuan non tunai diberikan kepada 2.507 keluarga yang paling rentan. Sosialisasi juga terus dilakukan sebagai upaya edukasi mengenai Covid-19. Selain itu, paket kebersihan juga diberikan untuk 6,843 keluarga yang memiliki balita atau yang terdampak Covid-19.

Untuk di Kota Kupang, WVI memberikan donasi atau bantuan APD bagi 11 puskesmas yang tersebar di Kota Kupang.

Project Manager Moringa Wahana Visi Indonesia, Isye Hortensia di hadapan Wali Kota Kupang, sebelum menyerahkan secara simbolis bantuan WVI menyampaikan paket APD tersebut berupa 20 kotak masker bedah, 25 set hazmat atau disposable gown fullbody jumpsuit, 20 buah kacamata goggle, nurse cap, shoe cover dan latex examination gloves masing-masing 3 box serta 15 botol hand sanitizer ukuran 500ml.

Foto bersama personil Wahana Visi Indonesia di hadapan bantuan tempat cuci tangan portabel dengan sistem pompa

Selain paket APD, beber Isye, WVI juga akan memasang wastafel portabel atau alat cuci tangan beserta sabun di sebelas lokasi di Kota Kupang, antara lain di Posko Covid Kota Kupang (Kantor Dinas Kesehatan Kota Kupang), Puskesmas Sikumana, Terminal Kota Kupang, Pasar Kasih Naikoten 1, Pasar Oeba, Pasar Oebobo, Terminal Oepura, RSUD Prof. Dr. W. Z. Yohanis Kupang, Pasar Kuanino, Puskesmas Bakunase dan Puskesmas Pasir Panjang.

Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore (bertopi) saat melihat dari dekat tempat cuci tangan portabel bantuan VWI dengan sistem pompa untuk sabun dan air

Selanjutnya, Penyerahan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) dan fasilitas cuci tangan pakai sabun dari Wahana Visi Indonesia (WVI) bagi 11 puskesmas di Kota Kupang dilaksanakan secara simbolis dari Isye Hortensia kepada Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore yang didampingi oleh Kadis Kesehatan Kota Kupang dan Penjabat Sekda Kota Kupang pada Rabu, 29 April 2020 pukul 11.00 WITA—selesai di Dinas Kesehatan Kota Kupang

Wali Kota Kupang saat menerima bantuan dari Wahana Visi Indonesia (WVI), menyampaikan terima kasih kepada WVI yang telah membantu meringankan beban pemerintah dalam menghadapi Pandemik Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Kupang, dirinya berharap agar WVI dan Pemkot Kupang dapat terus saling bersinergi.

“Saya mewakili warga Kota Kupang menyampaikan terima kasih kepada WVI atas bantuan yang diberikan. Semoga bermanfaat bagi 11 puskesmas yang menerima bantuan ini,” tutur Wali Kota Jefri (sapaan akrabnya,red)

Usai penyerahan bantuan, kepada Garda Indonesia, Isye Hortensia menyampaikan bahwa untuk penanganan Covid-19 di wilayah Provinsi NTT, WVI ingin agar masyarakat lebih tangguh dalam menghadapi Pandemi Covid-19 ini.

Foto bersama Wahana Visi Indonesia, Wali Kota Kupang dan jajaran Pemkot Kupang

Menurut Isye, Ada 5 (lima) program besar VWI lakukan yakni :

Pertama, Social distancing, penyampaian diseminasi informasi, penyampaian informasi yang dimaksud sesuai standar WHO yang artinya no hoax yang tepat dalam bentuk yang kreatif dan menggunakan bahasa lokal seperti iklan radio, talkshow, video animasi dan lain sebagainya, pembuatan stiker di whatsapp sebagai bentuk diseminasi informasi yang benar.

Kedua, Penyediaan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga kesehatan di 19 kota/kabupaten di Nusa Tenggara Timur. Ini juga sesuai standar nasional dan sudah di-review di kantor Pusat WVI berdasarkan standar Kementerian Kesehatan.

Ketiga, Pengadaan fasilitas cuci tangan portabel bisa dipindah, menggunakan pedal sehingga kran dan pompa sabunnya tidak disentuh.

Keempat, Bantuan Langsung Non Tunai (BLNT) dalam bentuk cash voucher atau kupon tunai yang nilainya tidak lebih dari standar pemerintah.

“Semua program yang kami luncurkan, sebelumnya dilakukan koordinasi dengan gugus tugas sehingga tidak tumpang tindih dan menimbulkan efek caos dan sebagainya. Jadi nilai dan kriteria manfaat sementara belum bisa kami sampaikan karena masih berkoordinasi mana yang terbaik untuk kami lakukan, yang jelas itu diperuntukkan untuk keluarga yang paling rentan yang ada di pedesaan yang terdampak langsung maupun tidak langsung dari covid-19 ini,” ungkap Isye.

Kelima, Advokasi. Supaya pemenuhan hak anak tetap terjamin selama masa pandemi ini terutama di level desa melalui pemanfaatan dana desa supaya hak anak dan perempuan tetap diperhatikan.

“Lima program itu kami jabarkan ke dalam detail-detail aktivitas, tetapi tidak keluar dari lima program itu. Wahana Visi Indonesia sebagai yayasan kemanusiaan Kristen yang berfokus pada anak tetap memperhatikan pemenuhan hak-hak anak di masa pandemik ini. Itu tetap menjadi fokus utama kami,” pungkas Isye Hortensia.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Wahana Visi Indonesia & Dinas PPPA NTT Inisiasi Kabupaten Layak Anak

442 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sebanyak 1,87 juta anak berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (*Profil Anak Indonesia,KPPPA, 2018) dan diperkirakan pada 2030—2040, Indonesia bakal mengalami bonus demografi di mana usia produktif akan mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Dan pada persoalan perlindungan anak, berdasarkan data dari DPPPA NTT, jumlah kasus kekerasan terhadap anak tercatat terdapat 4.542 kasus sepanjang tahun 2013—2017. Data tersebut belum termasuk data yang dihimpun oleh masing-masing lembaga penyedia layanan seperti LBH APIK, Rumah Perempuan, Kepolisian dan lembaga lain.

Di sektor pemenuhan hak anak atas kesehatan, Provinsi NTT menjadi penyumbang angka tertinggi anak dengan stunting sebanyak 80.727 anak dan di sektor pendidikan, pada tahun ajaran 2017/2018, NTT memiliki jumlah sekolah sebanyak 5.056 sekolah dengan jumlah peserta didik sebanyak 776.844 siswa (*Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan, 2018). Sementara itu, jumlah siswa putus sekolah di NTT menduduki urutan ke-24 dari 34 provinsi di Indonesia (0,15%).

Diharapkan salah satu strategi komprehensif yang dapat dilakukan dengan mengembangkan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) yang membutuhkan keterlibatan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), legislatif, pihak swasta dan masyarakat. Hal ini selaras dengan amanat UU No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Pose bersama Kadis PPPA NTT, Sylvia Peku Djawang, S.Pt. (Baju tenun merah); Kabid Pemenuhan Hak Anak, Sumarni (Baju kedua dari kanan); Perwakilan WVI NTT, Irene (baju tenun sumba, ketiga dari kiri); dan Manajer Hotel Neo Aston, Freddy Otovianus Kowal (baju tenun merah dan celana hitam, kedua dari kiri)

Menjawab berbagai persoalan pemenuhan hak anak tersebut maka Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) NTT menginisiasi dan menghelat Pelatihan Gugus Tugas Kota Layak Anak dengan Analisis Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA) tingkat Kabupaten/Kota Se-Provinsi Nusa Tenggara Timur di Hotel Neo Aston Kupang pada 28—31 Agustus 2019.

Dibuka dengan resmi oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi pada Kamis, 29 Agustus 2019, kegiatan pelatihan gugus tugas dengan PUHA yang diikuti oleh para Ketua Tim Penggerak PKK Kab/Kota, Kepala Dinas DP3A Se-NTT, Kepala Desa Se-NTT, dan unsur OPD; ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan tentang pengembangan ekonomi menuju NTT Sejahtera dan Percepatan Kabupaten Layak Anak oleh Wagub Josef Nae Soi dan Eben Ezer Sembiring, General Manajer Zona NTT dari Wahana Visi Indonesia dan disaksikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Julia Sutrisno Laiskodat; Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA, Dra. Eko Novi Ariyanti, RD., M.Si. dan Kadis PPPA NTT, Sylvia Peku Djawang, S.Pt., M.M. Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, S.H., M.Hum.

Penandatanganan Nota Kesepakatan Kabupaten Layak Anak oleh Wagub NTT Josef Nae Soi

Wagub Josef Nae Soi dalam sambutannya menyampaikan bahwa setiap anak punya hak seluas-luasnya untuk hidup, tumbuh dan berkembang, dan berpartisipasi secara optimal serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Menurut Wagub Josef, zaman sebelumnya pada tahun 1950-an, anak pada zaman tersebut memperoleh perlakuan tindak kekerasan namun kondisi sekarang tidak seperti itu. “Jangan menyamaratakan pola didik dahulu dengan zaman sekarang,” pinta Wagub Josef Nae Soi.

Pria asal Bajawa Kabupaten Ngada ini juga menceritakan masa kecilnya yang sangat sulit dan menderita termasuk masa kecil Gubernur NTT Viktor Laiskodat.

“Terima Kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah mendidik anak-anak NTT,” ucap Josef sambil menceritakan kehidupan masa kanak-kanak yang sangat susah dan miskin.

Sementara itu, dalam sesi konferensi pers usai pembukaan, Kadis PPPA NTT, Silvia Peku Djawang, S.Pt., M.M. mengatakan bahwa komitmen di daerah sangat jelas bahwa target DPPPA di RPMJD hingga 2023 cukup ketat dengan 250 desa layak anak dari sekitar 3.026 desa dan 318 kelurahan.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Mari kita bergandengan tangan dan ada WVI yang ada bersama kami dan dengan dukungan kabupaten/kota,” pinta Silvia.

Sedangkan, Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA, Dra. Eko Novi Ariyanti, RD., M.Si. mengatakan Kementerian PPPA telah memulai Kota Layak Anak menjadi program prioritas sejak tahun 2010—sekarang.

“Untuk mendukung komitmen Kemen PPPA, kami meminta kabupaten/kota dan pemerintah provinsi untuk mewujudkan Kota/kabupaten Layak Anak (KLA), Provinsi Layak Anak (PROVILA) dan kelak menuju Indonesia Layak Anak (IDOLA) pada 2030,” pinta Eka Novi Ariyanti.

Provinsi NTT, jelas Eko, menjadi prioritas dari Kemen PPPA karena KLA belum berkembang maksimal (*Dari 22 kab/Kota di NTT, 13 kabupaten belum melaksanakan KLA, 8 kabupaten telah menuju KLA, dan Kota Kupang telah memperoleh predikat KLA Pratama) dan memang komitmen kami dengan WVI Pusat untuk membuat MoU bagi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

General Manajer WVI Zona NTT, Eben Ezer Sembiring menyampaikan saat ini WVI di Provinsi NTT, mendampingi 159 desa untuk program yang terkait langsung dengan anak-anak yaitu kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak sedangkan yang mendukung kebutuhan langsung anak yakni pemberdayaan ekonomi keluarga ada di 3 (tiga) kabupaten tambahan termasuk Kota Kupang.

“WVI digerakkan oleh visi dan berharap semua pihak dapat bergerak bersama dan WVI memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan KLA dari level desa hingga nasional,” beber Eben Ezer.

Salah satu kabupaten yang didampingi WVI, terang Eben, yaitu Kabupaten Manggarai Timur dengan komitmen tinggi dengan daya ungkit untuk menuju Kabupaten Layak Anak. Selain itu, tambah Eben, WVI juga mendampingi Kabupaten Alor, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Se-Flores, Sumba Timur, dan Sumba Barat Daya.

Penulis dan editor (+rony banase)