Arsip Tag: yayasan satukan aksi tunas utama

40 Persen Kematian Balita Terdapat pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit

396 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Berdasar data dari SRS Litbang 2016 bahwa kematian ibu dan bayi baru lahir (neonatus) dengan prosentase terbesar berada di Rumah Sakit dengan penyebab kematian variatif.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/07/24/dinkes-ntt-unicef-inisiasi-tim-terpadu-kesehatan-layanan-ibu-dan-anak/

Sesuai data tersebut (SRS Litbang 2016) tempat kematian ibu dengan prosentase terbesar hingga terkecil berada di Rumah Sakit sebesar 77 % dan di Rumah sebesar 15,60 %. Sedangkan tempat kematian bayi baru lahir (neonatus) prosentase terbesar berada di Rumah Sakit sebesar 68 %, di Rumah 16 % dan di Fasilitas Kesehatan (Faskes) lainnya sebesar 13 %.

Mengenai penyebab kematian neonatus, data SRS Litbang 2016 menyebutkan penyebab terbesar 28,30 % karena komplikasi kejadian intrapartum; gangguan respirasi dan kardiovaskular 21,30 %, BBLR dan Prematur 19 %, Congenital Malformation 14,80 %, dan diikuti oleh Infeksi 7,30 %, Kondisi Neonatal lainnya 5,90 %, Tetanus Neonatorum 1,20 %, Gangguan pertumbuhan 0,70 %, Penyebab kematian tidak spesifik 0,70 % dan cedera lain sebesar 0,20 %.

Tentang data jumlah kematian ibu dan anak, kasus kematian ibu pada 2013 sebesar 176 orang dan tahun 2018 sebesar 155 orang; Kasus kematian bayi pada 2013 sebesar 1.286 bayi dan tahun 2018 sebesar 1.131 bayi; sedangkan kasus kematian balita pada 2013 sebesar 1.478 orang dan tahun 2018 sebesar 1.290 orang (*Sumber: NTT dalam angka Tahun 2013 dan Profil Kesehatan NTT pada tahun 2018).

Kepala Perwakilan UNICEF NTT/ NTB, Yudhistira Yewangoe saat menyampaikan pemaparan pada pertemuan tim terpadu kesehatan penanggulangan kematian ibu dan bayi di Crysant Homestay Kupang, Selasa, 23 Juli 2019

Menyikapi data kematian ibu dan bayi baru lahir (neonatus) terbesar berada pada rumah sakit, maka perlu dipercepat penurunan kematian ibu dan anak terutama bayi baru lahir yang menjadi perhatian UNICEF (United Nations Children’s Fund) Indonesia bersama YASATU (Yayasan Satukan Aksi Tunas Utama) dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT menginisiasi pertemuan awal pembentukan tim terpadu sebanyak 70 orang yang terdiri dari para expert (ahli) dari berbagai institusi kesehatan bertugas membedah persoalan terkait pada 23 Juli 2019 di Crysant Homestay Kupang.

Selanjutnya, pada 24 Juli 2019 bertempat di Hotel Swiss Bellin Crystal Kupang dilanjutkan dengan pembahasan tools atau instrumen tim kecil yang dapat digunakan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Rumah Sakit.

Kepala Perwakilan UNICEF NTT/ NTB, Yudhistira Yewangoe melalui Child Survival & Development Specialist – UNICEF NTT/ NTB, dr Vama Chrisnadarmani, MPH., kepada Garda Indonesia (Rabu, 24 Juli 2019) di sela-sela kegiatan, menyampaikan perlunya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang menjadi isu prioritas dari 5 (lima) isu prioritas kesehatan.

dr Vama Chrisnadarmani, MPH., (berbaju coklat padupadan tenun), dr Bobby M Syahrizal, MPH. Health specialist – UNICEF Indonesia (tengah berjas) dan Perwakilan YASATU, Arianti Inangele

5 isu prioritas kesehatan di tingkat nasional dan tingkat provinsi yakni Stunting; Penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir; Peningkatan kualitas Imunisasi; Penurunan kasus-kasus Tubercolusis; dan penurunan atau prevensi pada penyakit tidak menular seperti hipertensis, diabetes, gangguan jiwa dan malaria.

“Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, 40 persen kematian balita berada pada bayi baru lahir dan dari 40 persen tersebut sekitar 60—70 persen meninggal di Rumah Sakit (Faskes tingkat rujukan)”, ujar dr Vama.

Lanjutnya, Memang saat ini pemerintah sedang melakukan akreditasi rumah sakit dan puskesmas untuk peningkatan layanan.

“Kami membantu kualitas layanan di puskesmas tingkat pertama dengan MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit) dan MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda) tetapi kita juga harus membenahi di rumah sakit karena merupakan tempat rujukan agar ibu dan bayi tidak pindah meninggal”, ungkap dr Vama.

Oleh karena itu, beber dr Vama, dibentuklah tim terpadu kesehatan penanggulangan kematian ibu dan bayi baru lahir; untuk membedah bidang-bidang di dinas agar dapat berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

“Untuk Rumah Sakit Rujukan dilakukan dengan membuat assesment pada Rumah Sakit di luar NTT agar dapat dilakukan komparasi terkait mutu pelayanan terhadap ibu dan bayi baru lahir”, tandas dr Vama.

Penulis dan editor (+rony banase) Foto utama by www.hellosehat.com