Masa Pandemi, PMKRI Cabang Kefamenanu Periode 2021—2022 Dikukuhkan

323 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas periode 2020—2022 mengukuhkan Mandataris/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PMKRI Cabang Kefamenanu Sanctus Yohanes Don bersama Dewan Pimpinan Cabang periode 2021—2022 bertempat di aula gedung Alesia.

Pelantikan dilaksanakan pada Sabtu, 31 Juli 2021, sekitar pukul 13:30 WITA—selesai dan dihadiri oleh para senior alumni, pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara, Gerakan Mahasiswa Nasional  Indonesia (GMNI) Cabang Kefamenanu, dan organisasi kepemudaan tingkat kecamatan se-Kabupaten TTU.

Saat menyampaikan pidatonya, Kristoforus Bota selaku Mandataris/Formatur Tunggal/Ketua Presidium PMKRI Cabang Kefamenanu menekankan suatu wadah perhimpunan tentu memiliki berbagai gejolak dinamika, yang bisa menimbulkan berbagai kesalahpahaman baik antar individu maupun kelompok.

“Dinamika yang biasanya terjadi dalam tubuh perhimpunan merupakan suatu proses menuju kematangan emosional serta untuk menentukan arah baru dan pencapaian tujuan bersama dalam tubuh perhimpunan. Oleh karena itu, dalam setiap dinamika yang terjadi, hasilnya sudah tentu tidak bisa memuaskan keinginan semua orang yang terlibat langsung maupun tidak langsung,” urai Isto sapaan akrabnya.

Sebab itu, imbuh Ketua Presidium PMKRI Cabang Kefamenanu, merupakan sebuah kewajaran karena kita semua yang tergabung dalam suatu perhimpunan datang sari berbagai latar belakang yang berbeda-beda.

“Dalam menghadapi situasi dan kondisi saat ini, di mana penyebaran Covid-19 semakin hari semakin meningkat, maka sebagai generasi muda haruslah tetap aktif berkarya, berinovasi, baik dalam hal mencegah maupun memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 yang sedang melanda dan menyerang seluruh sendi kehidupan,” pinta Ketua Isto.

Sebab, terang Ketua Isto, tidak dapat dipungkiri bahwa penyebaran Covid-19 semakin hari akan semakin merajalela jika kita sebagai generasi muda masih bersikap apatis dan berdiam diri dalam zona nyaman.

Sebelum menutup pidatonya, Ketua Isto mengajak semua elemen agar iman dan kepercayaan harus tetap kokoh untuk terus berkarya demi keberlangsungan hidup sehari-hari walau sedang dilanda dengan berbagai kekhawatiran, kegelisahan, beban masalah ekonomi, masalah kesehatan, maupun segalah ketimpangan lain yang diakibatkan oleh wabah Covid-19 yang mendunia.(*)

Penulis : Valerianus Kou

Editor (+roni banase)

Foto oleh PMKRI Cabang Kefamenanu

Ketika Para Penulis Belajar “Kudeta” Gaya Politisi

238 Views

Oleh : Denny Januar Ali

RA Kartini sudah menulis sebelum tahun 1911. Di tahun itu, kumpulan suratnya diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Bung Karno sudah menulis di tahun 1917—1925. Tulisannya di era ini kemudian dibukukan dengan judul “Di bawah Bendera Revolusi.”

Para penulis sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1911, 1917, seratus sepuluh tahun lalu. Indonesia pun sudah merdeka sejak tahun 1945, 76 tahun lalu. Pertanyaannya, mengapa tak kunjung hadir asosiasi penulis yang bertahan sejak lama di Indonesia?

Bukankah sudah hadir asosiasi kedokteran (IDI, berdiri tahun 1950)? Sudah lebih 70 tahun, asosiasi kedokteran tetap hadir hingga sekarang. Bukankah juga sudah hadir asosiasi arsitek indonesia (IAI, lahir tahun 1959)? Asosiasi arsitek ini juga hadir dan bertahan hingga sekarang, 62 tahun sudah.

Tapi mengapa tak ada asosiasi penulis yang hadir setua IDI atau IAI di atas?

Gus Dur pernah menyatakan. “Mengurus seniman lebih susah ketimbang mengurus negara.” Apakah karena penulis juga orang seperti seniman, susah diurus, sehingga susah membuat mereka berada dalam satu asosiasi dalam waktu yang lama?

Kritik Gus Dur tentu tak berlaku untuk penulis di luar negeri. Di Amerika Serikat, sudah berdiri dan masih berdiri asosiasi penulis bernama: The Author’s Guild.”

Organisasi ini sudah berdiri sejak 1912. Ia bertahan sudah lebih dari 100 tahun. Yang menjadi anggota antara lain mereka yang pernah menerima hadiah Nobel, Pulitzer dan National Book Awards.

Tapi untuk penulis Indonesia, bisa saja kritik Gus Dur itu berlaku.

Imajinasi inilah yang muncul ketika di akhir Juli 2021 saya menerima dua undangan/ pemberitahuan. Ini undangan dari asosiasi penulis yang sama. Bedanya: yang satu dibuat oleh para anggota yang mengklaim mendapat mandat 25 persen anggota. Mereka menamakan diri “Kelompok Peduli.”

Satu lagi dari Ketua Umum resmi asosiasi itu. Juga berupa undangan dan pemberitahuan. Bahwa undangan kelompok penulis lain itu tidak sah. Ketua umum menjelaskan yang sah adalah Rapat Umum Anggota yang jadwalnya berbeda

Saya sengaja tak menyebut nama orang dan nama organisasi. Karena yang penting adalah Lesson to Learn. Saya menghindari keinginan menghakimi pihak mana pun, dalam esai ini. Kepada rekan yang memberi undangan mewakili “Kelompok Peduli,” saya kirimkan surat dari ketua umum resmi. Tanya saya, “mohon info. Ini saya terima surat resmi dari ketua umum resmi menyatakan “Rapat Luar Biasa Anggota” tidak sah.

Jawaban rekan itu: “Tim hukum kami menyatakan sah pak.”  Sementara pihak ketua umum juga punya tim hukum yang membela posisi ketua umum.

“Wah,” ujar saya dalam hati. Dua pandangan yang bertolak belakang masing-masing didukung ahli hukumnya.

Pendidikan S2 dan S3 saya memang ilmu politik dan public policy. Tapi S1 saya di bidang hukum, FHUI. Saya teringat tahun 1982, di semester pertama ketika belajar Pengantar Ilmu Hukum. Guru itu menyitir kutipan yang saya ingat hingga sekarang.

Ujarnya, “Jika dua ahli hukum berdebat, maka akan ada tiga pendapat.”

Itu yang saya temui di asosiasi penulis ini. Ada dua ahli hukum. Tapi keduanya mendukung pendirian hukum dua posisi yang sangat berlawanan. Inikah sebabnya Indonesia tak mampu menghadirkan asosiasi penulis yang bertahan lama?

Di tahun enam puluhan, kita memiliki organisasi penulis yang gegap gempita. Namun mereka dibelah oleh pandangan yang sangat ideologis. Hadir tiga kumpulan penulis sekaligus saat itu. Ada Lekra. Ada Manikebu. Ada Lembaga Kebudayaan Nasional.

Lekta untuk penulis berhaluan kiri. Pendirinya adalah tokoh komunis Aidit dan Nyoto. Anggota yang populer di sana: Pramudya Ananta Toer.

Manikebu bagi penulis yang menganut paham humanisme universal. Yang populer di kelompok ini  HB Jassin dan Wiratmo Soekito.

Satu lagi: Lembaga Kebudayaan Rakyat. Ini haluan nasionalis, yang berdiri di belakang Bung Karno. Penulis yang menonjol dalam kelompok ini: Sitor Simorang.

Baik Lekra dan Lembaga Kebudayaan Nasional sangat anti-Manikebu. Inilah era penulis berpolitik, bahkan menjadi alat pertarungan politik. Konflik antara penulis bahkan lebih seru ketimbang konflik politisinya. Jika politisi main kekerasan pula, tapi penulis ini kekerasannya lewat kata. Nafsu saling memukulnya tak kalah garang.

Kini, ketiga organisasi itu sudah sirna. Tapi paham yang diyakini terus hidup dengan aneka modifikasi sesuai zaman baru.

Sudah bagus di tahun 2017 ini berdiri asosiasi penulis. Kesan awal segala hal baik- baik saja. Semua ingin memperjuangkan nasib penulis. Inilah era di mana revolusi informasi semakin membelah dunia penulis. Yang berhasil bersinergi dengan industri film dan TV,  sang penulis menjadi triliuner. Sedangkan mayoritas penulis justru kehilangan nilai ekonomis karyanya. Semakin jarang orang membeli buku jika buku itu, Ia bisa dapatkan gratis di internet. Atau substitusi buku itu, bahkan dalam bentuk audio visual bisa ia peroleh gratis di media sosial.

Sungguh para penulis mempunyai niat luhur berhimpun dalam asosiasi untuk memperjuangkan nasib mereka. Bersama mereka ingin mengubah situasi. Tes pertama datang pada para penulis ini. Bagaimana dirimu berhasil mengubah public policy pemerintahan untuk mengubah ekosistem penulis, jika mengurus asosiasimu saja terpecah?

Bagaimana dirimu bisa berhasil meyakinkan pihak luar jika meyakinkan sesama penulis untuk mencari titik temu saja tak bisa?

Yang satu ingin kongres tanggal 1 Agustus. Yang satu ingin kongres tanggal 15 Agustus. Hanya berbeda 2 minggu!

Mengapa 2 minggu saja tak bisa dikompromikan? Apakah dengan 2 minggu itu, misalnya, separuh masalah Covid-19 akan selesai, sehingga seolah ini masalah hidup dan mati?

Apakah dengan 2 minggu itu; ekonomi Indonesia akan baik kembali ke kelas menengah atas sehingga 2 minggu ini vital?

Apakah dunia penulis akan sangat berbeda jika dilaksanakan tanggal 1 Agustus dibanding tanggal 15 Agustus, di tahun yang sama, misalnya?

Seorang teman berceloteh. “Sebagian penulis kita ini sudah berilusi menjadi politisi. Bukan kompromi yang mereka cari untuk kepentingan anggota. Tapi kehendak berkuasanya berlebihan.“

Sebagian lagu menggumam: “Ini sebagian penulis kita berimajinasi menjadi militer model khadafi. Ingin menjajal rasanya mengkudeta pengurus resmi.”

Ada banyak komentar. Tapi dalam hati yang hening; seorang penulis akan bertanya, seperti judul film Asrul Sani di tahun 1969: “Apa yang Kau Cari Palupi?”

“Moral apa yang ingin kau kesankan sehingga memilih memecah asosiasi penulis menjadi dua?” (*)

Juli 2021

Penulis merupakan konsultan politik dan tokoh media sosial.

Foto utama oleh epigram.or.id

Lasmura NTT Berbagi di Tengah Pandemik Covid-19

263 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Dewan Pimpinan Daerah Laskar Muda HANURA NTT membagi sembako di tengah pandemi Covid-19 pada Sabtu, 31 Juli 2021. Penyerahan bantuan ini berupa beras masing-masing 5 kg kepada 100 kepala keluarga di Kota Kupang. Saat pemberian bantuan pun tetap mengedepankan protokol kesehatan ketat.

Ketua Laskar Muda Hanura NTT Indra Wahyudi Erwin Gah, S.E., M.Sc. saat penyerahan bantuan mengatakan situasi pandemi mengajarkan kepada kita untuk kembali bergotong royong merupakan pilihan tepat dalam penanggulangan Covid-19.

“Yang sembuh membantu yang sakit (donor plasma darah) yang sehat peduli dengan kebutuhan pasien isolasi mandiri (Isoman), yang berkecukupan membantu yang berkekurangan. Dan yang sementara Isoman berdiam diri di rumah,” ujarnya.

Bagi Erwin, sistem gotong royong harus dikumandangkan saat ini di tengah pandemi Covid-19. “Saling membantu adalah pilihan tepat sebab kita sudah memiliki semangat gotong royong dari zaman dahulu,” tegasnya sembari menegaskan bahwa pemuda yang tergabung dalam Partai HANURA mencoba berbagi dari yang berkekurangan serta membuat terobosan saat pandemi, sebab pemuda merupakan calon Pemimpin Muda yang memiliki karakter dan semangat dalam perubahan.

Erwin yang juga Sekretaris DPC HANURA Kota Kupang menjelaskan bantuan beras yang dibagikan oleh Laskar Muda Hanura NTT akan terus berlanjut setiap bulannya dan akan menjangkau semua masyarakat yang terdampak Covid-19 di Kota Kupang. “Sebab ini merupakan program dari Lasmura NTT di tengah pandemik Covid-19. Sebagai Pemuda harus berbuat sesuatu di daerah asal. Dan ini yang ingin kami tunjukan dari Lasmura NTT,” imbuhnya.

Sementara itu, Dionisius Saunoah, masyarakat penerima bantuan Covid-19  menyampaikan terima kasih kepada Lasmura NTT yang telah berbagi di tengah pandemi Covid-19.

“Kami dari masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Lasmura NTT yang sudah membantu kami masyarakat di kota Kupang di tengah situasi Covid-19.” tandasnya. (*)

Sumber dan foto (*/DPD Lasmura NTT)

Editor (+roni banase)

Biinmaffo Berduka, Berpulangnya Frengky Saunoah

1.277 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Tokoh Politik PDI-Perjuangan  Kabupaten Timor tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timor (NTT), Frengky Saunoah, S.E., menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit S.K.Lerik – Kupang pada Sabtu, 31 Juli 2021; usai dirujuk dari Rumah Sakit Umum Kefamenanu karena mengalami sakit.

Kerinduan masyarakat Biinmaffo terhadap sosok Frengky Saunoah untuk menjadi agen pembaharuan telah tiada. Setelah perjuangan karier politik dalam perhelatan Pemilihan Bupati TTU periode 2021—2024.  Terakhir kali melawan sakit penyakit yang dideritanya di akhir Juli 2021.

Perjalanan panjang karier Frengky Saunoah, bukan wajah baru yang terjun dunia  politik. Sosok yang disapa Bung Frengky ini, telah menjabat sebagai orang nomor satu di punggung partai “bermoncong putih” di wilayah administratif Timor tengah Utara.

Sepak terjang seorang sosok berjiwa muda asal Maubesi ini, patut dibanggakan. Vokal berbicara luar biasa dalam mengedepankan aspirasi masyarakat selama menjadi Ketua DPRD TTU tiga periode. Demi mengedepankan keadilan masyarakat Biinmaffo, adalah perjuangan keras tak pantang menyerah.

Adapun riwayat karier yang dihimpun dari media sosial, grup dan facebook, yaitu menjabat sebagai Sekretaris Umum IMATTU (Ikatan Mahasiswa TTU) Kupang, Ketua DPC PDI-Perjuangan TTU, Anggota DPRD TTU 3 periode, dan Calon Bupati TTU 2021—2024

Sesuai informasi yang dihimpun, Jenazah akan dipulang ke tanah kelahirannya dan dibaringkan di rumah duka Maubesi – Timor Tengah Utara.(*)

Penulis (*/Melki Nino)

Foto utama (*/istimewa)

Pakai Teknologi Tepat Guna, PNK Kupang Bantu Elka Estylo Etnik NTT

364 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Politeknik Negeri (PNK) Kupang melalui program kemitraan masyarakat (PKM) sebagai pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk penerapan dan pengembangan hasil riset perguruan tinggi. Pada masa pandemi 2021, Ketua Tim PKM PNK Kupang, Rocky Y. Dillak, S.T., M.Cs. beranggotakan Edwin D. Hattu, ST., M.Si. Jandry P. Ratukadja, S.E., M.Si. dan Tim Teknisi Laboratorium Otomotif Teknik Mesin; didanai oleh Kemristek BRIN menerapkan teknologi tepat membantu menyelesaikan  permasalahan kelompok usaha Elka Estylo berlokasi di Jalan Oeekam, RT 11 RW 05 Kelurahan Sikumana, Kota Kupang.

Kelompok usaha Elka Estylo bergerak di bidang kerajinan tangan berbahan kulit kombinasi bahan baku tenun ikat NTT berupa sepatu, tas, tempat tisu dan handsanitizer. Elka Estylo menjadi target mitra program kemitraan masyarakat (PKM) merupakan UKM produktif yang terdampak Covid-19 dan sangat berpengaruh pada siklus permodalan, pendapatan dan omset.

Ketua Tim PKM PNK Kupang, Rocky Y. Dillak, S.T., M.Cs. kepada Garda Indonesia pada Jumat siang, 30 Juli 2021 pasca-penyerahan bantuan berupa mesin oven pengering sepatu berbasis kontrol suhu sebagai fasilitas penunjang pada proses produksi sepatu dan 1 (satu) boks P3K; mengatakan bahwa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi mitra, maka tim dosen PNK fokus pada revitalisasi teknologi produksi, penguatan branding ‘merek’ produk, serta penerapan hyperconnectivity sebagai upaya perluasan pemasaran dalam membangkitkan pergerakan ekonomi mitra di masa new normal akibat pandemi Covid-19.

“Bantuan kali ini sesuai dengan lay out dari DIKTI, kita selesaikan untuk tahap awal membantu pembenahan lay out rumah produksi yang ergonomis sesuai kaidah-kaidah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (berupa material oleh karena mitra juga korban terdampak Badai Seroja pada April 2021), pelatihan manajemen keuangan dan manajemen kewirausahaan, pelatihan penyempurnaan logo produk dan kemasan box produk sepatu serta Aplikasi e-commerce penjualan produk mitra,” urai Rocky Dillak.

Selain itu, ungkap Rocky, UKM Elka Estylo sangat potensial, namun cost yang harus dibayar terlalu tinggi pada proses produksi, maka kami memberikan sentuhan teknologi yang dapat mereduksi waktu, uang, dan tenaga. “Kita ambil bagian pada proses pengeringan lem pada produk, jika berhasil maka dapat meningkatkan jumlah produksi dan jika sukses, maka kami akan melanjutkan program lain untuk membantu Elka Estylo,” urainya.

Ke depan, imbuh Rocky Dillak, oven pengering tak berbasis listrik, namun bersumber energi angin atau panas matahari. “Jika oven berbasis listrik berhasil, maka ke depan, kami akan kembangkan oven menggunakan sumber energi angin atau matahari,” ungkapnya.

Ketua Teknisi Edwin D. Hattu, ST., M.Si. (duduk) sementara menerangkan Marsel Kopong (jongkok) cara penggunaan oven pengering lem

Harapan Tim PKM PNK Kupang, tandas Rocky, semoga kualitas produksi menjadi lebih baik menggunakan oven listrik dan ke depan bakal masuk ke pemasaran dan memberikan sentuhan lainnya kepada Elka Estylo.

Sementara itu, Ketua Teknisi Edwin D. Hattu, ST., M.Si. menyampaikan sesuai permintaan mitra (Elka Estylo, red) membutuhkan alat untuk menunjang proses produksi. “Selama ini hanya mengandalkan panas matahari, jadi kalau ada mendung maka mengalami kesulitan. Jika menggunakan oven biasa dengan pemanasan api akan susah menahan suhu yang diinginkan antara 40—60 derajat. Maka, menjawab kebutuhan mitra, kami memodifikasi oven elektrik dengan kontrol suhu,” terang Edwin.

Hasil uji coba pengeringan lem, lanjut Edwin, cukup bagus. Saat proses pemanasan membutuhkan listrik sebesar 350 watt (berjalan hanya 10—15 menit) dan saat holding time hanya membutuhkan daya sekitar 30—40 watt. “Sehingga oven elektrik dapat memperpendek waktu, biaya murah, estetika oven juga sesuai kebutuhan mitra,” tandasnya sembari mengungkapkan PNK Kupang telah memproduksi beragam alat modifikasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pemilik Elka Estylo, Marcelinus Kopong Tulit, S.E. telah merintis usaha sepatu, sandal etnik NTT sejak tahun 2014 menyampaikan bahwa bantuan dari PNK Kupang berupa oven pengering lem sangat bermanfaat. “Saya sangat membutuhkan oven pengering lem karena saat musim hujan tidak bisa berproduksi karena susah untuk mengeringkan lem, karena jika lem dingin,  maka daya rekat kurang,” jelasnya.

Adapun produk utama dari Elka Estylo, beber Marsel Kopong (sapaan akrabnya, red) berupa sandal dan sepatu etnik NTT berbahan dasar tenun ikat. “Selain itu, kami juga memproduksi tas, dompet, dan aksesoris lain. Dan di masa pandemi ini, penjualan kami menurun, sebelum pandemi omzet bisa mencapai 7—8 juta. Sementara saat pandemi omzet hanya berkisar 2—3 juta saja,” ujarnya.

Pemilik Elka Estylo asal Adonara yang memperkerjakan 5 (lima) orang ini pun berharap PNK Kupang juga dapat membantu memperhatikan ruang produksi. Hasil produksi Elka Estylo, tandas Marsel Kopong lebih banyak penjualan melalui marketplace dan dikirim ke luar NTT.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Usai Diperiksa Penyidik Polres, Anggota DPRD Belu Resmi Jadi Tersangka

904 Views

Belu–NTT, Garda Indonesia | Usai diperiksa penyidik Polres, oknum anggota DPRD Belu fraksi Partai Gerindra berinisial MMNB, telah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atas kasus dugaan tindak pidana penghinaan ringan terhadap 9 orang warga Kuneru, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua. Demikian disampaikan Kapolres Belu, AKBP Khairul Saleh dalam jumpa pers yang dihelat bersama awak media di aula serba guna Mapolres Belu pada Sabtu, 31 Juli 2021.

“Penyidik sudah lakukan pemeriksaan terhadap tersangka MMNB di ruang Satreskrim Polres Belu pada Jumat pagi, 30 Juli 2021. Sesuai hasil gelar perkara, ini penghinaan ringan, melanggar pasal 315 KUHP dengan ancaman hukuman 4 bulan penjara,” terang Kapolres Belu.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/07/22/hina-masyarakat-oknum-anggota-dprd-belu-terancam-jadi-tersangka/

Kapolres Khairul Saleh menuturkan, penyidik tidak bisa menahan tersangka MMNB karena kasus ini merupakan tindak pidana ringan. Penyidik segera melengkapi berkas perkara untuk dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Atambua untuk disidangkan.

“Yang bersangkutan diancam dengan 4 bulan penjara. Selanjutnya nanti, kita tunggu hasil di pengadilan. Karena ini kasus tipiring, tersangka MMNB tidak bisa ditahan. Yang bisa ditahan itu, minimal ancaman hukumannya 5 tahun ke atas. Itu sesuai dengan aturannya,” pungkas Kapolres. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Foto utama (*/istimewa)

Usai Penetapan KPUD, Wakil Bupati Terpilih Sabu Raijua Ambil Langkah Taktis

497 Views

Sabu Raijua, Garda Indonesia | Pasca-penetapan Paket 2M sebagai Bupati dan Wakil Bupati Terpilih pada Pemungutan Suara Ulang (PSU) yakni Drs. Nikodemus N.Rihi Heke, M.Si. dan Yohanis Uly Kale, A.Md pada Rapat Pleno Terbuka Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sabu Raijua pada Rabu, 28 Juli 2021, maka Wakil Bupati Terpilih Yohanis Uly Kale. A.Md. melakukan kunjungan perdana di Pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Oasa, pabrik rumput laut serta meninjau Pelabuhan Biu di Kecamatan Sabu Timur.

Saat kunjungan Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Sabu Raijua periode 2021—2024, didampingi Plt. Kadis Perindag dan PTSP Sabu Raijua, Lagabus Pian beserta staf, Camat Sabu Timur Ramenius J.K. Mangngi Djo dan staf.

Apa saja langkah taktis yang akan dilaksanakan terhadap kedua pabrik di Pulau Sejuta Lontar tersebut?. Kita bakal menunggu pasca-pelantikan dan guna membangun Sabu Raijua, perlu sinergisitas berbagai pihak dengan mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada, guna merumuskan kebijakan terbaik.

Wakil Bupati Terpilih Sabu Raijua saat meninjau Pelabuhan Biu di Kecamatan Sabu Timur.

Tentunya, Paket 2M (Maballa dan Mahoro, red) akan berkarya lebih sungguh-sungguh membawa masa depan Sabu Raijua ke arah yang lebih baik, untuk menjawab harapan dan doa masyarakat. Oleh karena itu, perlu dukungan dari semua elemen masyarakat terhadap semua potensi Sabu Raijua, untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) juga peningkatan ekonomi masyarakat.

Kepada Garda Indonesia pada Jumat sore, 30 Juli 2021, Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Sabu Raijua, Yohanes Uly Kale membeberkan kunjungan yang dilakukan merupakan langkah taktis guna melihat dan memilah apa yang harus dibenahi.

“Kami (Paket 2M, red) telah ditetapkan KPUD, maka secara hukum kami sudah sah, tinggal menunggu pelantikan,” ujarnya melalui sambungan telepon.

Bupati Jo Uly, sapaan akrabnya menegaskan bahwa pabrik air kemasan harus segera berjalan di Sabu Raijua. “Saya telah melihat fisik pabrik tersebut. Sementara tak beroperasi karena izin Halal dari MUI dan BPOM menggunakan milik orang lain, termasuk password. Sehingga masih ada tunggakan pembayaran yang harus diselesaikan,” ujarnya sembari akan terus mengikuti perkembangannya.(*)

Sumber dan foto (*/alfons lay)

Editor (+roni banase)

Berobat Gratis Mulai 1 Agustus 2021, Masyarakat Jangan Takut ke Faskes

216 Views

Belu–NTT, Garda Indonesia | Pencanangan program pengobatan gratis bagi seluruh masyarakat Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah diluncurkan pada Senin 26 Juli 2021, dan mulai berlaku pada Minggu, 1 Agustus 2021. Setiap warga yang sakit dan memiliki identitas kependudukan Belu silakan datang ke rumah sakit dan puskesmas terdekat tanpa harus merasa cemas dan takut, karena semua biaya obat dan fasilitas kesehatan (Faskes) ditanggung pemerintah.

Demikian ditegaskan Wakil Bupati Belu, Drs. Aloysius Haleserens, M.M. saat mendeklarasikan Desa Tohe, Kecamatan Raihat dan Kelurahan Tenukiik, Kecamatan Kota Atambua sebagai desa/kelurahan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) serta Desa Maumutin dan Desa Asumanu, Kecamatan Raihat sebagai Desa Open Defecation Free (ODF) di aula Kantor Desa Tohe, Kecamatan Raihat pada Jumat, 30 Juli 2021.

Berkaitan dengan deklarasi desa/kelurahan STBM dan ODF, Wakil Bupati meminta masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat mulai dari tindakan–tindakan kecil setiap orang.

Alo Haleserens pun mengimbau kepada masyarakat, agar selalu menerapkan protokol kesehatan 5 M. “Bapa mama semua, sekarang ini di Kabupaten Belu sudah ada virus corona Varian Delta, jadi hati-hati. Ingat pakai masker, selalu cuci tangan pakai sabun, jaga jarak, hindari kerumunan dan kalau tidak penting (untuk bepergian, red.) lebih baik pergi ke kebun saja,” pintanya.

Wakil Bupati juga menyinggung tentang proses belajar mengajar di sekolah, bahwa para guru wajib memastikan diri telah melakukan vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan 5 M. Anak-anak didik selalu memakai masker, menjaga jarak dalam ruang kelas. Jika terjadi gejala atau hal-hal aneh segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. “Jadi, itu semua sudah kita ingatkan. Ini merupakan orientasi kita dalam melaksanakan tugas dan fungsi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” terangnya.

Pimpinan Yayasan Pijar Timor Indonesia (YPTI) Atambua, Vinsensius Kia Beda dalam sambutan mengatakan, dengan hadirnya STBM, masalah sanitasi mulai ditingkatkan. Proses hidup sehat tidak bisa berjalan tanpa peran aktif dari masyarakat.

“Simpan rindu, piara kenangan. Kenangan yang baik jangan dibuang, jangan kita lupakan tetapi harus tetap dipraktikkan dalam kehidupan sehari–hari di Desa Tohe, Maumutin, Asumanu dan kelurahan Tenukiik yang dideklarasikan menjadi desa/kelurahan STBM dan ODF pada hari ini,” sebut Kia Beda sembari berharap agar mars yang dinyanyikan dan ikrar yang diucapkan harus tetap dipraktikkan dan dipertahankan demi meraih kemenangan yang lebih besar dengan memperoleh sertifikat STBM dan ODF.

Laporan Penjabat Kepala Desa Tohe

Pj. Kepala Desa Tohe, Cyprianus Mau dalam laporan mengatakan STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemacuan.

Kepemilikan akses sanitasi yang layak di Desa Tohe sebesar 90,25% dari jumlah total 1.309 KK. Proses pelaksanaan STBM di Desa Tohe, dimulai sejak tahun 2018.

Pj. Kades menggambarkan, kegiatan STBM dalam mengubah perilaku hidup bersih dan sehat dilakukan dengan berbagai cara agar masyarakat Desa Tohe sadar untuk menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih melalui 5 pilar STBM. “Terima kasih kepada Pemkab Belu, Yayasan Plan Internasional Indonesia bersama mitra kerja Yayasan Pijar Timor Indonesia serta semua elemen yang telah menyukseskan program STBM sehingga masyarakat sadar untuk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat,” ucapnya.

Turut hadir, forkopimcam Raihat, pastor paroki St. Aloysius Gonsaga Haekesak, kepala desa, TP PKK desa, tokoh masyarakat dan tokoh adat. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Foto: prokopimdabelu