Arsip Tag: alat pelindung diri

Suzuki NTT Peduli Covid-19, Bantu 60 APD untuk RS W Z Yohanes Kupang

123 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Aksi peduli dan empati ditunjukkan oleh Suzuki Nusa Tenggara Timur (NTT) atas merebaknya Pandemi Covid-19 di wilayah provinsi kepulauan ini dengan memberikan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) standar bagi tenaga medis yang berjibaku merawat pasien yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Rumah Sakit (RS) W Z Yohanes Kupang.

Bantuan APD berupa jaket dan celana merek terkenal dan berkualitas sebanyak 60 (enam puluh) pcs yang diterima langsung oleh Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSU. W. Z. Yohanes, dr. Stef Soka pada Senin, 23 Maret 2020 pukul 11.00 WITA.

Mewakili General Manager PT Surya Batara Mahkota (SBM) Main Dealer Suzuki Mobil NTT, Fredy Prijatna; Branch Manager PT SBM, Theo Pareira, dan PT Surya Mahkota Kencana (SMK) Main Dealer Suzuki Motor NTT; bantuan APD standar Covid-19 tersebut diserahkan oleh Coordinator Trainer For Trainne (TFT) Surya Batara Mahkota Wilayah NTT, Pierre Pello.

Wakil Direktur Pelayanan RSU. W. Z. Yohanes, dr. Stef Soka (tengah) saat menerima APD standar dari Suzuki NTT pada Senin, 23 Maret 2020 pukul 11.00 WITA.

Kepada media ini pada Kamis, 26 Maret 2020 pukul 08.51 WITA, mengatakan bahwa rasa empati dari Suzuki NTT ditunjukkan untuk membantu para tenaga medis di RS W Z Yohanes Kupang yang berjibaku merawat pasien yang masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) Covid-19.

“Sebelumnya, kami melihat postingan oleh tim dokter di selebaran digital yang dibagikan di setiap whatsapp grup maupun di media sosial lain yang mana pihak rumah sakit sangat membutuhkan VTMC (Viral Transport Medium) untuk sample swab, APD standar Covid-19, Thermal gun, Gown, Google, Masker Bedah, Masker N-95, Cap/penutup kepala, Handschoen, dan sepatu boot,” ungkap Pierre Pello.

Postingan Tim Medis RS W Z Yohanes Kupang memohon donasi kelengkapan medis Covid-19

Atas dasar informasi tersebut, imbuh Pierre, pihaknya berkoordinasi dengan manajemen Suzuki SBM di Jakarta untuk mendapatkan APD standar Covid-19 yang dapat diserahkan ke pihak rumah sakit. “Kami tanyakan ke tim dokter apakah bantuan kami serahkan valid dan diyakinkan oleh tim dokter, kemudian kami serahkan 30 pcs pada Senin, 23 Maret 2020 dan 30 pcs lagi pada Selasa, 24 Maret 2020,” terang Pierre.

Selain itu, beber Pierre, Suzuki NTT juga berencana memberikan bantuan berupa sarung tangan, masker, dan cap/penutup kepala, namun stok di sini (Kota Kupang,red) susah didapatkan, sehingga diupayakan untuk dicarikan di Jakarta. “Suzuki NTT juga mau membantu RS Komodo di Labuan Bajo karena melihat postingan di Instagram karena APD di sana batas penggunaan hingga hari ini (Kamis, ,” urai Pierre.

Pierre juga menggambarkan perasaan tenaga medis RS W Z Yohanes Kupang yang mengucapkan terima kasih kepada Suzuki NTT. “Aduh terima kasih Suzuki karena kami tak jadi mati, karena sebelumnya, kami merawat pasien menggunakan kantong plastik sebagai APD,” lukis Pierre menirukan ucapan salah satu tenaga medis.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto Istimewa oleh Tim Suzuki NTT

Pemerintah Segera Distribusikan 105.000 Alat Pelindung Diri Covid-19

108 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mendistribusikan sebanyak 10.000 alat pelindung diri (APD) kepada sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 dan dinas kesehatan seluruh provinsi di Tanah Air.

“APD tersebut didistribusikan sejak Sabtu, 21 Maret hingga Minggu, 22 Maret 2020 pagi,” ucap Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi di Jakarta, pada Minggu, 22 Maret 2020 sore.

Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Covid-19 selanjutnya juga akan segera mendistribusikan 95.000 APD ke seluruh Indonesia demi pemenuhan kebutuhan sesuai skala prioritas. “Meski akan didistribusikan ke seluruh Indonesia, tentunya gugus tugas telah memiliki daftar skala prioritas daerah mana yang sangat membutuhkan,” ucap Oscar.

Petugas Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 sedang mempersiapkan pengiriman APD

Lebih lanjut menurut Oscar, pendistribusian tersebut dilakukan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo pada Rapat Terbatas Mengenai Laporan Tim Gugus Tugas Covid-19 yang diselenggarakan pada Kamis, 19 Maret 2020. Dalam ratas tersebut, Presiden meminta perlindungan maksimal untuk para dokter, tenaga medis, dan jajaran yang berada di rumah sakit yang melayani pasien yang terinfeksi Covid-19.

“Pastikan ketersediaan alat pelindung diri (APD) karena mereka berada di garis terdepan sehingga petugas kesehatan harus terlindung dan tidak terpapar oleh Covid-19,” ujar Presiden dalam ratas tersebut.

Data sementara APD yang telah didistribusikan tahap pertama dengan jumlah 45.000 unit untuk DKI Jakarta sebanyak 35.000 unit, Bogor 5.000 unit, Banten 5.000 unit. Kemudian APD tahap berikutnya dengan jumlah 50.000 unit didistribusikan untuk Jawa Barat sebanyak 15.000 unit, Jawa Tengah sebanyak 10.000 unit, Jawa Timur sebanyak 10.000 unit, D.I.Yogyakarta sebanyak 1.000 unit, Bali sebanyak 4.000 unit dan untuk cadangan 10.000 unit.

Sementara itu pada esok hari, Senin 23 Maret 2020, Oscar mengatakan akan dilakukan penyerahan bantuan alat kesehatan hasil kerja sama antara Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok dan Pemerintah Republik Indonesia.

“Penyerahan tersebut akan dilakukan di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta,” tutup Oscar.(*)

Sumber berita dan foto (*/Agus Wibowo–Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB)
Editor (+rony banase)

Gubernur NTT Apresiasi Sikap Sinode GMIT & Keuskupan Agung Kupang

104 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengapresiasi sikap dan langkah bijak yang dikeluarkan Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon dan Keuskupan Agung Kupang (KAK) yang membatasi dan meniadakan misa selama 2 (dua) minggu ke depan. Pembatasan ini sebagai akibat merebaknya penyebaran risiko penularan infeksi Corona Virus Disease atau Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Bapak Gubernur kami memberi apresiasi kepada Ibu Ketua Sinode GMIT yang sudah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi kehadiran jemaat di gereja-gereja,” ujar Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si kepada pers di Kupang, pada Sabtu, 21 Maret 2020.

Apresiasi yang sama sebut Marius, juga diberikan kepada pihak Keuskupan Agung Kupang. “Kita juga memberikan apresiasi kepada Keuskupan Agung Kupang yang juga meniadakan misa selama dua minggu ke depan. Kita harapkan keuskupan lain di seluruh NTT untuk membuat kebijakan demi keselamatan umat. Hal ini perlu kami sampaikan kepada masyarakat NTT untuk tidak anggap remeh dengan virus ini,” pinta Marius.

Menurut dia, dari hari ke hari OPD (Orang Dalam Pemantauan) semakin meningkat. Ini menandakan bahwa penyebaran virus di Indonesia termasuk di NTT sangat eskalasi. “Walaupun status mereka ODP tetapi bukan tidak mungkin suatu saat bisa positif. Oleh karena itu, perlu kita antisipasi dengan cermat untuk melindungi kesehatan masyarakat kita. Selalu kita update setiap saat, ODP adalah warga NTT yang pulang dari provinsi terpapar. Sehingga kita perlu memutus mata rantai dan akan kita kaji secepatnya,” ungkap mantan Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT.

Pemerintah Provinsi NTT kata Marius, sangat mengharapkan agar warga masyarakat NTT yang tidak memiliki kepentingan yang mendesak untuk tidak bepergian ke luar NTT. “Warga NTT dimohon untuk tidak bepergian. Begitu juga dengan para ASN untuk tidak melakukan perjalanan dinas. Kita harapkan pejabat pemerintah menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat. Kita dapat mengisolasi diri, dan menjauhkan diri dari daerah yang terpapar virus,” pinta Marius.

Kabiro Humas dan Protokol Setda Pemprov NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius

Bagi yang telah melaksanakan perjalanan ke daerah yang terpapar virus, sebut dia, segera memeriksakan kesehatannya agar tidak menular ke orang lain. “Tidak ada jalan lain bagi warga NTT selain mengisolasi diri, seperti yang dikatakan Bapak Gubernur. Proteksi diri sangat penting karena itu kita telah mengeluarkan beberapa kebijakan seperti instruksi kepada masyarakat NTT untuk melakukan social distancing,” ucap dia.

Dia menambahkan, “Kita harus menggunakan medsos (media sosial) dengan baik dan jangan berspekulasi. Anggaplah virus itu sudah ada di sekitar kita; agar kita jangan menganggap remeh virus ini.”

Marius juga mengajak warga NTT untuk belajar dari pengalaman warga masyarakat di Italia. “Bisa kita lihat dari negara lain yang terpapar virus seperti di Italia. Pada awalnya virus ini disepelekan sehingga pada akhirnya menyebabkan bencana yang luar biasa. Masyarakat NTT diminta untuk selalu bersiaga. Liburan anak sekolah juga diharapkan bukan berarti boleh pergi ke tempat yang ramai, seperti mall dan lain-lain,” katanya.

Kekurangan APD

Di tempat yang sama, Kadis Kesehatan Provinsi NTT, dokter Dominikus Minggu Mere mengaku, berdasarkan laporan dari lapangan ada kekurangan Alat Pelindung Diri (APD).

“Sesuai hasil rapat koordinasi (Rakor) yang diikuti seluruh Sekda kabupaten/kota, beberapa poin penting sudah disepakati berdasarkan keluhan di lapangan adalah kekurangan APD. Pemerintah akan segera menyusun rencana kebutuhan APD. Kita sudah menghitungnya dan tentunya APD tidak hanya di rumah sakit Provinsi tetapi juga untuk rumah sakit Kabupaten. Karena hal ini sudah masuk dalam kriteria bencana, artinya bahwa kita sudah harus mengambil langkah-langkah seperti menyiapkan anggaran tak terduga,” jelas mantan Dirut Rumah Sakit Prof. Dr. W.Z. Johanes Kupang.

Kadis Kesehatan Provinsi NTT, drg. Domi Minggu Mere

Diperlukan langkah strategis dan koordinasi yang efektif antara Pemerintah Provinsi NTT dengan Pemerintah Kabupaten/Kota se NTT. “Perlu sinergi antara provinsi dan kabupaten. Sekembalinya dari Kupang, pada Sekda harus segera memfasilitasi pembentukan Gugus Tugas agar komando di dalam mengatasi problem besar ini bisa diambil alih oleh suatu koordinasi yang kuat, dalam hal ini Sekretaris Daerah,” harap dokter Domi.

Putus Mata Rantai

Di tempat terpisah, Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Cabang Provinsi NTT, dokter Teda Litik mengharapkan, sikap tegas Gubernur NTT untuk memutus mata rantai penyebaran wabah virus Covid-19 di Provinsi NTT. “Saya minta Pak Gubernur harus cepat putus mata rantai penyebaran virus Covid-19 agar tidak ada yang positif di NTT,” pinta dokter Teda Litik, dari balik gagang telpon.

Dia berharap kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 ini segera diambil. “Cepat diputuskan jalur penerbangan dan jalur pelayaran dari dan ke Provinsi NTT. Selain itu, dari pusat juga sudah ada imbauan untuk social distancing. Ini akan memutuskan rantai penyebaran dengan cepat dalam dua minggu. Jika saya carier dan saya tetap beraktivitas; ini bisa menyebar ke orang lain. Tetapi jika saya di rumah dan tidak bertemu orang lain dan daya tahan tubuh saya baik maka saya bisa sembuh,” ucap dokter Teda yang pernah bertugas di Negara Timor Leste tahun 1999 silam. (*)

Sumber berita (*/Valeri Guru/Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT)