Arsip Tag: bank ntt menuju bank devisa

Kinerja Bank NTT Semakin Profesional di Tengah Pandemi & Pasca-Badai Seroja

680 Views

Bank Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT, menunjukkan kinerja semakin profesional dalam mendorong dan membangun potensi NTT. Sejumlah tokoh berkompeten di bidangnya. Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) NTT, Abraham Paul Liyanto, kepada Timor Express menegaskan kondisi tersebut.

“Kami dari Kadin mengamati, ada sebuah perubahan signifikan di Bank NTT. Baik dalam tata kelola organisasi, ekspansi bisnis dan juga inovasi dalam pelayanan. Ini patut diberi apresiasi,” tegas senator Paul Liyanto  sembari berharap agar Bank NTT menjadi lokomotif pembangunan ekonomi di NTT.

Menurut Paul Liyanto, Bank NTT berpusat di NTT dan dapat secara maksimal mengelola dana masyarakat. “Saya kira dengan sempurnanya direksi yang ada, kinerja mereka sudah cukup baik. Cukup bangkit. Dengan inovasi yang mereka lakukan saat ini, sangatlah tepat. Bagi saya, ini lokomotif yang sangat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT karena tanpa dorongan, saya rasa dunia usaha pun akan susah untuk bangkit,” terangnya.

Bank NTT, imbuh Ketua Kadin Provinsi NTT, memiliki team work hebat, inovatif dan cekatan dalam mendesain strategi Perbankan. “Bagi saya, ini karena kemampuan leadership membangun team work yang baik dan solid. Para direksi yang ada bekerjasama dengan para komisaris, semuanya mendukung,” ungkap Paul.

Ia melihat karakter Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho tipikal seorang pekerja keras, optimis, dan mampu membangun team work guna membawa Bank NTT menjadi Bank Devisa. “Itulah yang bagi saya, bagaimana me-manage lembaga finance yang besar, tidak bisa kita one man show. Mau pintar seperti apa, kalau mau kerja sendiri tanpa team work, saya rasa agak sulit,” ulas Paul Liyanto.

Karena itu jika mau jujur, imbuh Paul Liyanto, saya melihat ada perubahan yang sangat menyolok soal ukuran kinerja direksi. “Ini kalau kita mau evaluasi. Bagi saya evaluasinya soal inovasi, sejauh mana mereka melakukan penetrasi dan kemudian disambut publik. Salah satu, yang saya kagumi adalah kita melihat ada banyak dana CSR yang dipakai untuk menghadirkan kegiatan inovatif,” tegas Paul mencontohkan, Festival Desa Binaan Bank NTT adalah inovasi cerdas Bank NTT.

Juga ada Program Ramai Skali Bank NTT dan beberapa lainnya. “Dulu, dana CSR ini dipakai untuk dibagi-bagi. Namun sekarang, justru lain. Mereka ciptakan even, dan menghadirkan banyak kegiatan melibatkan masyarakat. Dan ini bagus,” tegas Paul.

Apalagi fokus Bank NTT, lanjutnya, ke depan itu soal digitalisasi dan elektronifikasi. Baginya, ini sangat bagus karena ini tidak sekadar tren dalam transaksi sekarang, melainkan sudah menjadi kebutuhan. “Kami melihat, industri finance akan banyak yang kolaps jika tidak memanfaatkan teknologi secara baik,” urainya.

Suasana Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2020

Ada terobosan lain yang bagi Paul, patut diberi jempol yakni keberanian Bank NTT mengumumkan debitur bermasalah. Baginya ini upaya nyata untuk menekan non profit loan (NPL) dan juga bukti bahwa ada tanggungjawab yang dilaksanakan. “Ini professional,” tegasnya singkat.

Kinerja perbankan ini, tandas Paul Liyanto, dinilai oleh OJK, dan jika ada penagihan secara terbuka terhadap debitur nakal, maka ini sebuah keberanian yang harus diapresiasi.  Terobosan berikut, adalah soal inovasi Bank NTT yang intens keliling daerah untuk menawarkan pinjaman daerah kepada Pemda. Malah, banyak Pemda sudah menyatakan kesediaannya mengajukan pinjaman ke Bank NTT.

Penegasan sama disampaikan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi NTT, Dr. James Adam. Ditemui di Kupang,  ekonom yang terkenal kritis ini menegaskan bahwa Bank NTT adalah bank milik masyarakat NTT yang harus terus dikawal. Menurutnya, harus didukung, karena sejauh ini Bank NTT terkenal kreatif dalam mendesain program untuk pengumpulan dana masyarakat. Ada Gebyar NTT, Kredit Merdeka dan sebagainya bahkan muncul Festival Desa Binaan.

“Dalam kaitan dengan pengumpulan dana masyarakat, sangat kuat. Makanya modal mereka berputar lebih cepat. Harus diakui, kreativitas dan inovasi bank ini sangat banyak dan hebat. Dia (Bank NTT,red) intens mengumpulkan dana masyarakat supaya memperkuat modalnya. Sehingga ini juga akan berimbas pada pertumbuhannya. Walaupun ada kredit macet yang jumlahnya sekian persen, namun di sisi lain, dia masih bisa melakukan ekspansi karena punya inovasi. Dan ini digarap maksimal,”tegas James serius.

Berikutnya, jika mau jujur melihat, ungkap James, Bank NTT sudah banyak berkontribusi dalam memajukan pembangunan di NTT. Seperti kegiatan Festival Desa Binaan Bank NTT yang selain menggairahkan pertumbuhan ekonomi sektor mikro, juga menciptakan satu destinasi baru dalam wisata. Karena ada histori yang didesain secara digital, dan elektronifikasi dalam transaksi. Di sisi lain, Bank NTT juga mampu menyukseskan realisasi penggunaan anggaran untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN), dan kinerja ini diakui oleh regulator.

Strategi lain, urai James, untuk pemulihan ekonomi dengan menggerakkan belanja daerah. Karena semua kepala daerah adalah pemegang saham Bank NTT sehingga otomatis, itu sangat baik karena ikut mendorong. Apalagi ada program pemberian kredit untuk pembangunan di daerah dari Bank NTT yang dikemas dalam program pinjaman daerah. “Ini sangat bagus. Karena ini satu cara untuk ‘mengatasi’ yang macet-macet itu. Ada kekuatan secara internal untuk fungsi bank ini jalan. Bagi saya, ini cara tepat yang harus dilakukan oleh bank daerah agar tidak kalah dalam berkompetisi dengan bank nasional,” ujar James.

Penyerahan Donasi Bank NTT Peduli senilai 1,5 Miliar kepada Pemprov NTT yang diterima oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

Sementara terkait kinerja direksi saat ini, bagi James, itu porsi OJK. Hanya secara kasat mata pihaknya melihat bahwa ada kemajuan signifikan. Bahkan luar biasa gebrakan-gebrakan yang sudah dilakukan direksi. Sehingga mengacu pada kondisi yang ada, dia berharap agar semua pihak mendukung direksi untuk mengeksekusi mimpi-mimpi di depan.

OJK: Wujudkan Modal Inti

Pesan menarik datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT, mengenai dilaksanakannya Rapat Umum Pemegang Saham Tahun Buku 2020 (RUPS-TB 2020)  yang dihelat pada Senin, 26 April 2021 di kantor Gubernur NTT.

Menanggapi agenda RUPS, Kepala OJK Perwakilan NTT Robert Sianipar menyampaikan sejumlah harapan positif yang mendorong  perkembangan dan kemajuan Bank NTT ke depan. “Kami berharap agenda RUPS Bank NTT kali ini bisa  mendorong Bank NTT lebih berkembang di waktu- waktu mendatang terutama bagaimana menuju pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) Rp. 3 triliun,” tegas Sianipar sembari menambahkan kebutuhan mendesak saat ini bagi Bank NTT adalah bagaimana upaya  pemenuhan modal inti Rp. 3 triliun pada tahun 2024 sebagaimana yang diwajibkan dalam POJK.

“Jadi progress ini (pemenuhan modal inti-red)  juga perlu dibicarakan. Kalau ada agenda agenda lain tentu bagaimana mendorong Bank NTT semakin maju. Misalnya selain bagaimana mendorong digitalisasi pelayanan,” terang Kepala OJK Perwakilan NTT.

OJK, tandas Robert Sianipar, juga mendorong bagaimana Perbankan memenuhi tuntutan digitalisasi dan penerapan oleh Bank NTT guna mendorong perkembangan pelayanannya. Kalaupun ada catatan atau arahan dalam RUPS menurutnya, itu harus dipahami sebagai upaya untuk mendorong BPD NTT lebih berkembang. Bagi dia, satu hal yang harus diapresiasi adalah semangat manajemen untuk mewujudkan Tingkat Kesehatan Bank 2 (TKB 2) menuju Bank Divisa di tahun 2023 mendatang.

“Harapan kami agar ini menjadi perhatian tersendiri dalam RUPS. Upaya-upaya menuju ke sana kami sudah pernah sampaikan terutama penerapan tata kelola  dan management resikonya,” pungkasnya. (*)

Sumber  (*/tim timex/boy/ogi)

Editor (+roni banase)

RUPS Tahun Buku 2020, Hasil Audit : Bank NTT Wajar Semua Hal Materil

540 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia  | PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), menghelat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan, Tahun Buku 2020 (RUPS-TB 2020), usai proses audit oleh Kantor Akuntan Publik Paul Hadwinata, Hidajat, Arsono, Retno, Palilingan & Rekan.

Indikator penilaian keuangan guna memastikan bahwa Bank NTT telah memberlakukan praktik-praktik Perbankan yang berlaku umum (best practices) telah ditunjuk KAP Paul Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Retno, Palilingan & Rekan untuk melakukan pemeriksaan atas kinerja keuangan Bank NTT yang berakhir pada 31 Desember 2020 dengan mendapatkan opini “Wajar Dalam Semua Hal Yang Material”.

RUPS merupakan agenda tahunan dipimpin langsung oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai pemegang saham pengendali (PSP), dan dihadiri seluruh pemegang saham. Sementara dari pihak manajemen Bank NTT hadir seluruh komisaris dan direksi. Berlangsung secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, RUPS membahas berbagai agenda penting itu, akan dilaksanakan di ruang rapat gubernur di lantai dua Gedung Sasando.

Terdapat 5 (lima) agenda yang dibahas dalam RUPS-TB 2020 yakni, laporan pertanggungjawaban Direksi atas penyelenggaraan Perseroan Tahun Buku 2020 dan Dewan Komisaris atas pelaksanaan fungsi pengawasan Tahun Buku 2020 dan penetapan pembagian Laba Tahun Buku 2020. Dalam surat undangan RUPS-TB 2020 bernomor 559/DIR/IV/2021 yang ditandatangani Direktur Utama, Harry Alexander Riwu Kaho dan Direktur Pemasaran Kredit, P. Stefen Messakh, disebutkan bahwa agenda berikut yang dibahas, yakni Penyampaian laporan rencana kerja dan anggaran tahun buku 2021—2023 termasuk membahas beberapa isu terkait Tata Kelola SDM kepegawaian termasuk pelaksanaan Inbreng, penggunaan dana cadangan umum dan beberapa isu penting lainnya.

Patut disyukuri atas seizin Tuhan Yang Maha Kuasa dan dukungan dari seluruh Pemangku Kepentingan, sehingga Bank NTT dapat melewati tahun buku 2020 dengan segala tantangannya. Apalagi Pandemi Covid 19 telah memberikan tekanan yang berat terhadap perekonomian global, nasional maupun domestik sehingga menimbulkan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi 2.19% di akhir tahun 2020 dan juga ekonomi Nusa Tenggara Timur juga terkontraksi 2.27% (yoy).

Menjadi kebanggaan bagi seluruh jajaran Direksi dan karyawan Bank NTT untuk dapat berkontribusi dalam memberikan performa dan pelayanan yang lebih baik bagi nasabah dan seluruh pemangku kepentingan selama tahun 2020. Komitmen tersebut tak lepas dari prinsip manajemen dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah dan menjadi bank kepercayaan masyarakat Nusa Tenggara Timur di tengah tantangan kondisi perekonomian yang belum pulih akibat pandemi Covid-19.

Direksi dalam laporan pertanggungjawaban pengurusan dan pengelolaan PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara timur selama tahun buku 2020 menyampaikan bahwa dari aspek Pencapaian Kinerja Tahun Buku 2020, secara keseluruhan kinerja Perbankan Umum di NTT masih terjaga. Return On Asset (ROA) perbankan tercatat sebesar 3.56% meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 3.15.

Suasana RUPS Bank NTT Tahun Buku 2020 pada Senin, 26 April 2021 di ruang rapat Gubernur NTT

Sementara itu, tingkat efisiensi Perbankan masih relatif stabil dengan rasio BOPO sebesar 71.46%. Fungsi intermediasi Perbankan juga masih terjaga, dimana Loan to Deposit Rasio (LDR) perbankan di NTT mencapai 115.52% atau masih di atas rasio yang ditentukan namun relative terjaga. Hal ini menyebabkan pertumbuhan DPK terkontraksi dengan kebijakan pemerintah karena kondisi dampak pandemi Covid-19 dibanding pertumbuhan kredit.

Di sisi lain, Dana pihak Ketiga (DPK) di NTT tumbuh sebesar 1.99% (yoy). Ada yang membanggakan bahwa pertumbuhan tabungan pada tahun 2020 tercatat sebesar 9.95%, meningkat dibandingkan dengan tahun 2019 yang tumbuh sebesar 5.83% (yoy). Hal ini disebabkan di tengah pandemi Covid-19 lebih banyak masyarakat yang lebih memilih untuk menabung.

Rasio kredit bermasalah Non Performing Loans (NPL) hingga akhir 2020 tetap rendah sebesar 2.53% (NPL gross) dan 1.18% (NPL net). Bahkan ada yang patut dibanggakan bahwa secara umum, penilaian tingkat kesehatan bank dan profil risiko Bank hingga akhir 2020 masih berada pada komposit 3 (cukup sehat) yang mencerminkan kondisi Bank NTT secara umum masih cukup sehat. Untuk tingkat kesehatan bank yang menjadi prioritas untuk diperhatikan adalah Profil Risiko, Good Corporate Governance (GCG) dan rentabilitas.

Masih dalam agenda memperbaiki tingkat kesehatan Bank menjadi sehat, maka Bank NTT sejak 30 November 2020 telah mencanangkan program strategis yakni Go TKB 2 atau pencapaian Tingkat Kesehatan Bank menjadi Sehat mulai bulan penilaian Juni 2021. Sementara, mengenai prospek usaha tahun 2021, pemulihan dampak Covid-19 menjadi kunci pemulihan ekonomi nasional dan regional tahun 2021. Selain itu, meningkatkan daya saing ekonomi dengan mendorong peningkatan kapasitas inovasi dan adaptasi teknologi maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan kembali menguat di tahun 2021 dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional 4.5—5 %.

Selain peningkatan bisnis Bank NTT di tahun 2021, secara berkelanjutan Bank NTT akan melakukan beberapa program strategis diantaranya melanjutkan komitmen pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) Bank NTT di tahun 2021 menjadi minimum Rp.2 triliun, melanjutkan peningkatan SDM dan corporate culture, melanjutkan perbaikan kualitas kredit dan target penurunan ratio NPL melakukan revitalisasi jaringan jaringan kantor dengan mengimplementasikan smart branch, melanjutkan proses persiapan menjadi Bank Devisa dan pencapaian Go TKB 2 (Tingkat Kesehatan Bank menjadi Sehat).

Terkait spirit memajukan Bank NTT, maka Dewan Komisaris diminta oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk lebih meningkatkan fungsi pengawasan dan dalam rangka pencapaian Tingkat Kesehatan Bank 2, sehingga Dewan Komisaris pun diminta untuk menjadi observer dalam penyaluran kredit. Sedangkan, Komite Remunerasi (KRN) pun diminta aktif dan ikut serta dalam assesment maupun re-assesment di level pejabat eksekutif Kepala Divisi serta Kepala Cabang. Bahkan oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) diminta langsung mengawasi beberapa Kantor Cabang termasuk Cabang Surabaya yang memiliki Non Performing Loan (NPL) tinggi.

Pengurus pun diminta terus melakukan perbaikan-perbaikan di internal Bank NTT, termasuk tidak melakukan pembiaran terhadap karyawan-karyawan yang melakukan pelanggaran dan tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian sehingga timbul temuan audit OJK maupun internal (SKAI) dan Pengurus juga harus tetap fokus mengejar Tingkat Kesehatan Bank 2 sesuai target di Juni 2021, sehingga target Bank Devisa di akhir 2022 bisa tercapai. (*)

Sumber berita (*/Humas Bank NTT)

Foto dan Editor (+roni banase)