Arsip Tag: belajar daring di rumah

12 Butir Suara Anak Indonesia dalam Hari Anak Nasional 2020

297 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Sejak pandemi Covid-19 melanda, hampir semua masyarakat merasakan dampaknya, termasuk anak-anak. Mereka dihadapkan pada perubahan pola hidup, namun tetap harus diupayakan terpenuhi hak-haknya, bergembira, sehat, kuat, penuh kreativitas, tetap ceria, dan semangat menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam naungan perlindungan keluarga.

Mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dan tagline “Anak Indonesia Gembira di Rumah”, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyelenggarakan puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2020 pada 23 Juli 2020 secara virtual dengan melibatkan seluruh anak Indonesia, termasuk Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK).

Pada kesempatan ini Presiden RI, Joko Widodo dan Ibu Negara RI, Iriana Joko Widodo menyapa dan menyampaikan pesan kepada anak-anak Indonesia melalui video. “Anak-anak, saat ini sedang pandemi Covid-19. Tapi saya tahu anak-anak pasti tidak sabar ingin sekolah, tidak sabar ingin bermain dengan teman-temannya, tidak sabar ingin bertemu dengan kakek dan neneknya yang jaraknya jauh. Pagi hari ini, Ibu Iriana ingin berpesan kepada anak-anak. Ayo Bu apa pesannya?” ujar Presiden RI, Joko Widodo.

“Disiplin mencuci tangan setelah bermain, setelah belajar, dan setelah berkegiatan. Disiplin memakai masker kalau keluar rumah dan menghindari kerumunan di mana pun anak-anak berada,” sahut Ibu Negara RI, Iriana Joko Widodo.

“Selamat Hari Anak Nasional, anak-anakku. Hari ini adalah hari kalian semua. Jadi, hari ini seluruh anak Indonesia harus merasakan kegembiraan dan kebahagiaan, meski kita tahu saat ini situasi pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Puncak Peringatan HAN 2020 kali ini memang tidak seperti biasanya, walaupun dilakukan secara virtual dan berjarak, namun kita tetap dekat di hati. Anak-anak Indonesia harus tetap optimis. Manfaatkan waktu di rumah dengan hal positif, kreatif, dan inovatif selama pandemi Covid-19,” tutur Menteri PPPA, Bintang Puspayoga kepada anak-anak Indonesia.

Menteri Bintang mengatakan peringatan HAN 2020 merupakan momentum penting untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam menjamin pemenuhan hak anak atas hak hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

“Untuk para orang tua, mohon ayah dan ibu bisa bersabar dan tetap melakukan yang terbaik untuk memenuhi hak-hak anak yang kita sayangi. Jadikan ini sebagai momentum untuk menjalin kembali komunikasi dengan anak. Anak-anak butuh didengar pendapatnya dan didampingi saat menjalankan proses PJJ. Stop kekerasan, perlakuan buruk, perundungan, dan eksploitasi pada anak! Semua anak, anak kita. Melindungi anak tanggung jawab bersama,” tegas Menteri Bintang.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Bintang mengapresiasi Presiden RI, Joko Widodo dan Ibu Negara RI, Iriana Joko Widodo yang tanpa lelah terus mengedukasi, melindungi, dan melakukan upaya pemenuhan hak bagi anak-anak. Menteri Bintang juga mengapresiasi para pihak yang telah mendukung terselenggaranya rangkaian kegiatan dan puncak Peringatan HAN 2020, di antaranya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE-KIM), Kementerian/Lembaga, dunia usaha, media massa, dan berbagai mitra kerja Kemen PPPA yang telah memberikan sumbangsih luar biasa untuk anak-anak Indonesia.

Puncak Peringatan HAN 2020 yang diselenggarakan secara virtual melibatkan sekitar 580 peserta. Acara ini diisi dengan pemutaran video rangkaian HAN 2020, video ucapan HAN 2020 menggunakan berbagai bahasa daerah oleh anak-anak Indonesia, video pesan dan ucapan HAN 2020 yang disampaikan 6 Menteri Kabinet Kerja dan pimpinan lembaga, pembacaan dongeng “Wayan Kompyang dan Ombak Putih” oleh Menteri Bintang dan Kak Seto, pesan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Ibu Negara Republik Indonesia, Iriana Joko Widodo untuk anak-anak Indonesia, serta konser virtual Gembira di Rumah.

Selain Festival Gembira di Rumah sebagai bentuk perayaan HAN 2020, Kemen PPPA bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan UNICEF juga akan mengadakan Peringatan HAN dengan mendedikasikan sesi Media Center Gugus Tugas Covid-19 kepada anak-anak dengan tema “Children Take Over Task Force’s Media Center”.

Menteri PPPA Bintang Puspayoga dan 6 Menteri Kabinet Kerja dalam pembacaan dongeng “Wayan Kompyang dan Ombak Putih” oleh Menteri Bintang dan Kak Seto

Dalam puncak Peringatan HAN 2020, anak-anak Indonesia menyampaikan 12 butir Suara Anak Indonesia Tahun 2020, yakni:

1. Memohon kepada pemerintah untuk mengoptimalkan pemerataan akta kelahiran di seluruh Indonesia;

2. Memohon kepada pemerintah, masyarakat, dan keluarga untuk memberikan ruang berpendapat kepada anak dalam berbagai aspek, serta direalisasikan seoptimal mungkin;

3. Mengajak pemerintah, masyarakat, dan keluarga untuk mengoptimalkan edukasi, pengawasan, dan penyebaran informasi layak anak;

4. Mengajak pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan edukasi, pengawasan, serta implementasi dari revisi Undang-Undang tentang Perkawinan untuk menekan angka perkawinan usia anak;

5. Mendukung pemerintah dan seluruh masyarakat untuk mengoptimalkan sarana & prasarana penunjang Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), serta memberikan pengasuhan alternatif kepada anak terdampak Covid-19 dengan memerhatikan kesiapan anak dalam menghadapi tatanan normal baru;

6. Mendukung penuh pemerintah untuk meningkatkan penanganan kesehatan mental serta fisik anak melalui penyebaran informasi protokol kesehatan, mempercepat akses air bersih secara menyeluruh, dan menjaga kebersihan lingkungan;

7. Forum Anak bekerja sama dengan pemerintah untuk memonitor dan memperketat peraturan terkait Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok (IPSR) di seluruh wilayah Indonesia;

8. Memohon kepada pemerintah untuk memeratakan akses internet dan menyesuaikan kurikulum untuk pembelajaran jarak jauh dengan mempertimbangkan keadaan daerah masing-masing;

9. Memohon kepada pemerintah untuk melakukan pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan ke daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), serta meningkatkan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus;

10. Mengajak pemerintah, masyarakat, dan keluarga di seluruh Indonesia untuk meningkatkan edukasi dan skill parenting terhadap pola asuh anak, serta menolak segala bentuk kekerasan anak;

11. Mengajak pemerintah, tenaga kependidikan, dan masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan pemberian edukasi dan menolak segala bentuk perundungan terhadap anak di lingkungan sekolah, masyarakat, dan media sosial;

12. Mendukung pemerintah untuk meningkatkan perhatian kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), baik dalam pelayanan kesehatan dan pembuatan konten pendidikan yang ramah disabilitas.

Sumber berita dan foto (*/Publikasi dan Media Kementerian PPPA)
Editor (+rony banase)

10 Poin Suara Anak, Dokter Herman Man : Anak Harus Gembira, Sehat, dan Pintar

346 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Wakil Wali Kota Kupang, dokter Herman Man mengatakan anak-anak di Kota Kupang harus gembira, sehat dan pintar. Hal ini disampaikannya pada puncak perayaan Hari Anak Nasional (HAN) tingkat Kota Kupang Tahun 2020 yang berlangsung pada Kamis, 23 Juli 2020 di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang.

Peringatan HAN 2020, urai dokter Herman Man, merupakan momentum untuk meningkatkan kepedulian semua pilar bangsa, baik orang tua, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media, dan pemerintah terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak secara optimal. Untuk itulah perayaan HAN 2020 kali ini mengusung tema “Anak Terlindungi Indonesia Maju” dengan tagline #AnakKotaKupangGembiradiRumah.

Menurut dokter Herman Man, selain gembira, anak-anak di Kota Kupang juga harus sehat dan pintar dan ketiga hal ini harus berjalan. Meskipun kegiatan belajar mengajar saat ini masih dilakukan secara daring dalam masa adaptasi kebiasaan baru akibat pandemi Covid-19, tetapi anak-anak gembira untuk bermain dan belajar secara aman.

Anak Kota Kupang dan Wakil Wali Kota Kupang, dokter Herman Man

Kesehatan anak-anak juga harus diperhatikan. Karena itu, beber dokter Herman Man, selain sekolah, pemerintah juga saat ini masih menutup tempat-tempat bermain di Kota Kupang, agar anak-anak tidak melakukan aktivitas bermain di luar. “Virus corona masih bebas berkeliaran, untuk itu sekolah masih ditutup karena mengantisipasi serangan pandemi gelombang kedua (second wave), kesehatan anak-anak harus terlindungi” ujar dokter Herman Man.

Meskipun belajar dari rumah dengan menggunakan teknologi daring, dokter Herman Man menganjurkan agar anak-anak harus tetap disiplin dengan menggunakan waktu belajar yang efektif. “Waktu untuk belajar benar-benar dipergunakan untuk belajar tanpa gangguan dari lingkungan sekitar” imbaunya.

Lebih jauh disampaikan dokter Herman Man, bahwa upaya untuk mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) Tahun 2030 sangat penting dilakukan. “Idola sangat penting agar ke depan tidak ada lagi kekerasan baik fisik maupun kekerasan verbal, intimidasi dan diskriminasi terhadap anak” ujarnya. Untuk itu peran keluarga sangat penting dalam pengasuhan anak sehingga ke depan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tua mencari nafkah, dunia anak adalah dunia gembira, bukan dunia kerja,” tegasnya.

Dalam perayaan puncak HAN 2020 yang dilakukan secara sederhana ini, juga dilakukan pengukuhan Forum Anak Kota Kupang tahun 2020—2021. Selain itu, dokter Herman Man juga menyerahkan secara simbolis akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak (KIA) bagi anak jalanan.

Terkait dengan pengukuhan pengurus Forum Anak Kota Kupang, menyampaikan bahwa pembentukan forum anak merupakan upaya pemerintah untuk memberikan ruang dan wadah agar anak-anak dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan, sebagai sarana penyaluran aspirasi, suara, pendapat, keinginan dan kebutuhan anak tentunya di bawah pendampingan dan pembinaan pemerintah melalui instansi teknisnya. Diharapkan pengurus Forum Anak Kota Kupang terus berprestasi seperti tahun-tahun sebelumnya dan mampu bekerja sama dan mengoordinisasi forum anak di tingkat kelurahan.

Dokter Herman Man dan Anak Kota Kupang

Pada kesempatan ini pula, di hadapan dokter Herman Man dan tamu undangan lainnya, dibacakan Suara Anak Kota Kupang 2020 yang dihasilkan dalam workshop virtual penyusunan suara anak Kota Kupang pada 18 Juni 2020 lalu. Suara Anak Kota Kupang berisi 10 poin yakni :

Pertama, Memohon kepada pemerintah agar memperhatikan, memfasilitasi serta meningkatkan proses pembelajaran menggunakan media daring, terutama bagi anak yang tidak memiliki sarana dan prasarana penunjang;

Kedua, Memohon kepada pemerintah untuk segera mengatasi pandemi Covid-19;

Ketiga, Menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat selalu memperhatikan protokol kesehatan;

Keempat, Mengajak keluarga Kota Kupang untuk meningkatkan pengasuhan dan pengawasan terhadap anak;

Kelima, Menuntut tenaga pendidik untuk menerapkan pola asuh ramah anak dalam pembelajaran;

Keenam, Menolak segala bentuk kekerasan (fisik, psikis dan seksual) di mana pun anak-anak berada;

Ketujuh, Menuntut kebebasan menyampaikan aspirasi anak, yang bersangkutan dengan kehidupan anak;

Kedelapan, Meminta kepada pemerintah untuk menertibkan anak-anak yang terlibat dalam pergaulan malam;

Kesembilan, Meminta kepada pemerintah mengontrol pemutaran musik bermakna negatif di kendaraan umum, dan

Kesepuluh, Pemerintah wajib mengedukasi seluruh lapisan masyarakat tentang anak dan hak-haknya.

Dokter Herman Man menerima poin-poin suara anak Kota Kupang dan berjanji akan menindaklanjuti, ia menambahkan memang poin-poin dalam suara anak juga telah menjadi perhatian Pemerintah selama ini.

Puncak peringatan HAN tingkat Kota Kupang tahun ini ditutup dengan penyerahan bantuan bagi anak-anak di sejumlah titik di Kota Kupang oleh panitia kegiatan. Penyerahan bantuan dilakukan di LPKA Kupang, Panti Asuhan Katolik Sonaf Manekat Kelurahan Lasiana, Pantai Asuhan Al-Hikmah Kelurahan Nunbaun Sabu, Panti Asuhan Kasih Agape Kelurahan Bello dan kepada anak jalanan dan anak pemulung di Kota Kupang.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Kupang, Ir. Clementina Sungkono, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Kupang, Zainal Asikin, dan pejabat dari Dispencapil Kota Kupang serta pengurus Forum Anak tingkat Kota Kupang dan dari tingkat kelurahan.(*)

Sumber berita dan foto (*/PKP_GM)
Editor (+rony banase)

Selain Zona Hijau, Sekolah di Zona Lain Belum Boleh Lakukan Tatap Muka

339 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Pandemi Covid-19 masih berdampak di berbagai sektor, salah satunya pendidikan. Lebih dari empat bulan kegiatan belajar di lingkungan sekolah dilakukan secara online atau daring. Sekolah di zona hijau atau tidak terdapat kasus Covid-19 dipertimbangkan untuk dimulai pembelajaran tatap muka secara bertahap.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/07/04/kiat-sukses-belajar-daring-saat-pandemi/

Pembukaan sektor Pendidikan harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari pemerintah daerah setempat dan memenuhi standar kesiapan pembelajaran tatap muka. Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan, pembelajaran tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan.

Dokter Reisa mengatakan, apabila gugus tugas nasional menyatakan bahwa sebuah daerah masuk kategori zona hijau, kepala daerah dapat mengizinkan pembelajaran tatap muka di daerahnya. “Namun, sekolah tetap harus mampu penuhi semua daftar periksa, dan siap pembelajaran tatap muka,” ujar dr. Reisa saat melakukan konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, pada Sabtu, 4 Juli 2020.

Ia mengatakan, pertama, harus tersedia sarana sanitasi seperti, toilet bersih, tempat cuci tangan, hand sanitizer, dan desinfektan. Kedua, tersedia akses fasilitas pelayanan kesehatan. Ketiga, siap menerapkan area wajib masker di sekolah. Keempat, memiliki alat pengukur panas untuk mengetahui suhu tubuh warga sekolah. Kelima, mampu memetakan warga sekolah yang tidak boleh melakukan kegiatan di sekolah, yaitu, yang memiliki kondisi medis penyerta, atau komorbid.

Kemudian, yang tidak memiliki akses transportasi yang menerapkan jaga jarak. “Murid yang memiliki riwayat perjalanan dari zona kuning, oranye, dan merah, atau riwayat kontak dengan orang terkonfirmasi positif Covid-19, dan belum menyelesaikan isolasi mandiri selama 14 hari,” tambahnya.

Keenam, membuat kesepakatan bersama komite sekolah untuk memulai pembelajaran tatap muka, dan tentunya orang tua harus menyetujui pembelajaran tatap muka.

“Jika semua sudah sepakat, maka baru bisa dimulai,” tutur dr. Reisa.

Pembelajaran tatap muka sangat memperhatikan kesehatan dan keamanan warga komunitas sekolah. Di samping itu, orang tua atau wali murid harus memeriksa kesiapan kesehatan anak-anak. Pastikan, mereka bisa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. “Jangan memaksa. Pastikan siap secara fisik, mental, lahir, dan batin,” tegasnya.

Dokter Reisa menegaskan bahwa Ketua Gugus Tugas Letjen Doni Monardo berkomitmen untuk membuka kembali sekolah memulai kegiatan tatap muka, namun di tempat yang paling aman yaitu zona hijau tadi. Sedangkan wilayah dengan zona kuning, oranye dan merah belum dapat melakukan pembelajaran tatap muka.

Sejak pandemi diumumkan di Maret 2020, lebih dari 90% siswa dan siswi harus belajar di rumah secara penuh. Terutama mereka yang tinggal di daerah risiko tinggi penularan Covid-19. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berusaha tetap menjaga kegiatan belajar mengajar berkualitas.(*)

Sumber berita dan foto (*/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional)
Editor (+rony banase)

Kiat Sukses Belajar Daring Saat Pandemi

1.374 Views

Jakarta, Garda Indonesia | Siapa pun tidak siap untuk bersekolah dengan metode pembelajaran daring atau online. Setiap guru dan anak didik di wilayah yang melakukan belajar mengajar di rumah belum tentu difasilitasi infrastruktur dan peralatan yang memungkinkan belajar melalui daring.

Situasi pandemi masih mengakibatkan pelaksanaan tahun ajaran dan tahun akedemik baru 2020/2021 dengan menerapkan belajar jarak jauh. Sekolah yang berada di zona hijau atau tidak terdapat kasus Covid-19 dapat menerapkan kegiatan belajar dengan tetap muka dengan beberapa syarat, seperti izin dari pemerintah daerah setempat. Namun, sekolah di wilayah yang berisiko rendah hingga tinggi mau tidak mau menerapkan belajar jarak jauh karena faktor kesehatan dan keamanan komunitas sekolah.

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional dr. Reisa Broto Asmoro menyampaikan tujuh kiat atau cara yang perlu diperhatikan agar sukses melakukan kegiatan belajar daring. Ia mengatakan, yang pertama siswa dan guru harus bergembira. Jangan stres. Pastikan, semuanya sudah paham dengan cara mengoperasikan alat teknologi.

“Kedua, bagi kelas menjadi kelompok belajar yang kecil, diskusi, kerja kelompok dan akan membuat waktu belajarnya akan lebih efektif,” ujar dr. Reisa saat konferensi pers di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, pada Sabtu, 4 Juli 2020.

Ketiga, guru dan murid sepakat mengerjakan tugas kelompok, dan menciptakan suatu tantangan atau lomba yang memerlukan kolaborasi.

Keempat, alokasikan waktu bagi murid-murid yang tertinggal atau kurang dapat memahami sesi pembelajaran. Pastikan semua murid sudah hampir sama pemahaman terhadap subjek yang diajarkan.

Kelima, fokus dan kuatkan pada subjek pelajaran yang dapat ikut membantu kemampuan para murid, untuk bisa sukses di pelajaran mana pun. Seperti, bahasa dan sains.

Keenam, amati, tiru, modifikasi, dan lihat cara guru lain belajar, dan yang pastinya yang bagus itu yang menjadi contoh.

“Tanya tips dan triknya. Lalu adopsi di kelas masing-masing. Begitu juga dengan para murid, tanyakan bagaimana teman bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, meski melalui online,” ujar dr. Reisa.

Ia mengingatkan bahwa proses belajar jarak jauh bukan memindahkan kelas dari ruang fisik ke ruang digital. Cara membuat sesi online menjadi riang gembira, dan penuh interaksi, serta mudah mentransfer ilmu pengetahuan adalah dengan berkreasi, dan tentunya dengan bekerja sama. Inilah langkah ketujuh.

“Dan semua ini sangat penting untuk orang tua, seperti saya, dan bapak ibu semua untuk harus aktif terlibat, dalam setiap proses pembelajaran, baik belajar, maupun mengajar online,” ujarnya.

Sejak pandemi diumumkan di Maret 2020, lebih dari 90% siswa dan siswi harus belajar di rumah secara penuh. Terutama mereka yang tinggal di daerah risiko tinggi penularan Covid-19. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berusaha tetap menjaga kegiatan belajar mengajar berkualitas.

Sekolah yang berada di zona hijau dengan kasus Covid-19 yang tidak ada lagi, dan sudah mendapatkan izin pemerintah daerah memenuhi standar kesiapan pembelajaran tatap muka, pembelajaran tatap muka dapat dimulai secara bertahap. Tentunya dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan.

Menyambut tahun pelajaran 2020/2021, sebagian besar dari siswa dan siswi masih akan menerapkan pembelajaran jarak jauh. Terutama bagi sekolah yang berada pada zona kuning, oranye, dan merah.

“Selamat kembali ke sekolah bagi yang ada di zona hijau, ingat, tetap aman Covid-19 dan praktikkan protokol kesehatan dengan sangat, sangat, sangat ketat. Dan, tetap semangat bagi semua yang akan sekolah melalui daring, dan kemampuan kita beradaptasi akan menjadikan kita manusia Indonesia yang unggul dalam pengetahuan dan tangguh, menghadapi perubahan,” tutup dr. Reisa.(*)

Sumber berita dan foto (*/Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional)
Editor (+rony banase)

Masa Pandemi, Konsumsi kWh Meter Listrik Naik, PLN : Kenaikan Hanya 1,04%

365 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Di masa pandemi saat ini, berbagai aktivitas masyarakat diterapkan dengan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFA), begitu pula para pelajar dan mahasiswa menerapkan belajar/kuliah secara daring atau online.

Kondisi ini yang memicu kenaikan pemakaian kWh listrik setiap hari. Seperti Kristian Balelembang salah satu warga Kota Kupang yang berlokasi di Kelurahan Oebobo, mengaku sebagai pelanggan PLN pascabayar daya 10.600 VA, dalam masa pandemi ini sudah menjalankan sistem Work From Home (WFH) dan diakuinya ada sedikit kenaikan tagihan dalam pemakaian listrik.

“Selama pandemi, segala aktivitas kami beralih di rumah/ WFH. Untuk pemakaian listrik memang ada sedikit kenaikan tagihannya, tapi kami sadar bahwa karena sistem WFH pasti pemakaian lebih. Selain itu, saya juga berkoordinasi dengan petugas PLN di lapangan dan mencatat bahkan memfoto meteran listrik kami, jadi memang sesuai dengan angka yang kita pakai,” urainya.

Diketahui pemakaian listrik Kristian sejak April 2020 biaya Rp.746.553 dan Bulan Mei Rp.802.896 dengan kenaikan hanya sebesar 1.08%, “Jadi hanya naik sedikit saja yang kami rasakan, semua aman dan pelayanan PLN sendiri kami juga melihat ada info – info juga lewat media sosial Instagram PLN NTT, Terima kasih PLN, terus menerangi nusantara,” tandasnya.

Kristian Balelembang  (kanan berkaos merah) saat dikunjungi petugas PLN di kediamannya

Serupa dengan kondisi tersebut, warga Kelurahan Kota Raja Ira Novira Rohi juga menyampaikan, sebagai Pelanggan PLN Prabayar daya 1300 VA turut merasakan pemakaian listrik lebih banyak digunakan.

“Karena banyak aktivitas di rumah saja, yang dulu tidak buat kue, jadi membuat kue dan usaha lainnya, jadi konsumsi listrik meningkat,” urai Ira.

Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Nusa Tenggara Timur, Ignatius Rendroyoko mengatakan bahwa di NTT kalau dilihat dari perkembangan pemakaian kWh sampai saat ini tidak ada kenaikan signifikan.

“Kenaikan pemakaian tarif listrik rumah tangga dari April hingga Mei 2020 sebesar 1.04%,” ungkapnya pada Rabu, 10 Juni 2020.

Lanjutnya, PLN terus berkomitmen menjaga keandalan listrik di tengah pandemi Covid-19 dan di tengah kebijakan pembatasan sosial oleh Pemerintah daerah. “Tidak hanya kehandalan, pemakaian listrik yang dirasakan di NTT juga aman. Tagihan listrik yang dirasakan lebih tinggi dari bulan sebelumnya karena kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH),” ucap Rendroyoko.

Ia pun berpesan apabila ada informasi, keluhan atau apa pun terkait tagihan listrik atau Pelayanan PLN, Pelanggan bisa langsung mengakses informasi ke situs www.pln.co.id, Aplikasi PLN Mobile yang dapat di-download pada Apstore dan playstore, lalu Call Center 123 serta media sosial Facebook PLN 123, Twitter PLN 123 dan Instagram PLN123_Official siap melayani 24 jam.

“Guna dari layanan ini adalah mudah, cepat dan menjadi solusi layanan cepat dalam genggaman,” pungkasnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)
Editor (+rony banase)