Arsip Tag: Demarce Sabuna

7 Kelompok Pengeluaran Alami Kenaikan Indeks Harga pada Februari 2020

201 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | 7 dari 11 kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga terbesar pada Februari 2020 yakni pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang naik sebesar 107,92 (1,18 persen) dan Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran naik sebesar 100,77 (0,75 persen).

Di samping 2 (dua) kelompok pengeluaran di atas, 5 (lima) kelompok pengeluaran lainnya yang mengalami kenaikan indeks harga yakni Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 105,19 (0,46 persen); Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rumah Tangga sebesar 102,60 (0,12 persen); Pakaian dan Alas Kaki sebesar 104,48 (0,04 persen); Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 102,46 (0,01 persen); dan Pendidikan sebesar 103,36 (0,00 persen).

Kondisi tersebut di atas yang memicu inflasi sebesar 0,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,33 di Provinsi Nusa Tenggara Timur NTT (NTT).

Inflasi Februari 2020 di wilayah NTT dipicu oleh Inflasi sebesar 0,49 persen di Kota Kupang, Deflasi 0,25 persen di Kota Maumere, dan Kota Waingapu mengalami Deflasi 0,04 persen.

Sementara, 4 (empat) kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga yakni Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 100,41 (-0,09 persen); Kesehatan sebesar 102,60 (-0,06 persen); Transportasi sebesar 104,10 (-0,72 persen); dan Rekreasi, Olahraga, dan Budaya sebesar 103,42 (0,05 persen).

Demikian pemaparan Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna dalam sesi konferensi pers pada Senin, 2 Februari 2020 pukul 12.00 WITA—selesai di Lantai 2 Kantor BPS Provinsi NTT.

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari presentasi perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Waingapu di Pulau Sumba Jadi Kota Penentu Inflasi di Provinsi NTT

216 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Waingapu Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, ditetapkan menjadi salah satu kota penentu indeks harga konsumen (inflasi/deflasi) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun dasar 2018.

Penetapan Waingapu yang kaya akan pesona alam dan budaya ini karena faktor geografis yang mewakili Pulau Sumba dan berkembangnya Sumba sebagai destinasi wisata yang dilirik dan Waingapu tepat sekali menjadi Kota Penentu Inflasi Ketiga setelah Kota Kupang dan Maumere.

Demikian penjelasan Kepala BPS Provinsi NTT Darwis Sitorus dalam kegiatan Pemutakhiran Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi 2018=100 pada Kamis, 30 Januari 2020 di Aula Lantai II Kantor BPS Provinsi NTT.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/01/30/bps-lakukan-pemutakhiran-tahun-dasar-perhitungan-ihk-nilai-tukar-petani/

Kepala BPS NTT, Darwis Sitorus (kiri) dan Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna (kanan)

“Hampir semua kabupaten di Provinsi NTT minta agar dapat menjadi Kota Penentu Inflasi namun karena penilaian dari unsur-unsur statistik hanya Sumba yang memenuhi persyaratan,” ungkap Darwis Sitorus.

Senada, disampaikan oleh Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna, mengapa Waingapu terpilih?, “Karena Waingapu lebih berkembang dibanding Waikabubak (Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat) dan Tambolaka (Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat Daya). Begitu pun mengapa Maumere karena Kota Maumere lebih berkembang dari Ibu Kota Kabupaten lain di Pulau Flores,” jelas Marce sapaan akrabnya.

Di Waingapu, urai Marce, telah disurvei apa pun yang komoditas yang dikonsumsi masyarakat. “Awalnya komoditas ribuan namun dipakai metodologi komoditas yang dikonsumsi rumah tangga di atas 2 persen yang masuk sebagai komoditas. Sehingga Paket Komoditas di Waingapu hanya 249 paket komoditas yang dijadikan penentu Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Inflasi/Deflasi yang terjadi di Waingapu,” tandasnya. (*)

Penulis dan editor (+rony banase) Foto utama oleh ramatours.nl

Tiket Pesawat & Bahan Makanan Picu Inflasi Tertinggi di Kupang 2,09 Persen

84 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Dari 82 Kota Sample Inflasi di Indonesia, 80 kota mengalami inflasi di Desember 2018 dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar 2,09 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Banda Aceh dengan inflasi sebesar 0,02 persen. Sedangkan di Nusa Tenggara Timur terjadi inflasi sebesar 1,84 persen.

“Inflasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur pada Desember 2018 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,70; terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 6 (enam) dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, dimana kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,94 persen yang diikuti oleh kelompok bahan makanan sebesar 3,82 persen,” jelas Kabid Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Demarce Sabuna, Rabu/2/1/2019.

Lanjut Demarce kepada para awak media cetak, elektronik dan online dalam sesi konferensi pers, Khusus kenaikan indeks harga konsumen/ andil inflasi tertinggi di Kota Kupang terjadi pada kelompok transpor,komunikasi dan jasa keuangan sebesar 5,56 persen dan pada kelompok bahan makanan sebesar 4,31 persen.

“Hampir semua penyumbang inflasi di Desember 2018 bersumber dari bahan makanan yang tergantung pada musim karena saat bulan Desember terjadi hujan deras yang menyebabkan harga sayuran dan harga ikan melonjak naik dan harga tiket pesawat melambung tinggi,” ungkap Demarce.

Selanjutnya Demarce menjabarkan penyebab utama terjadinya inflasi di Nusa Tenggara Timur didorong oleh oleh kenaikan indeks harga pada kelompok pengeluaran transport, komunikasi dan jasa keuangan. Seluruh kelompok pengeluaran selama tahun 2018 mengalami kenaikan indeks harga dan menyumbang inflasi sebesar 3,07 persen di Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang sebesar 3,23 persen dan Kota Maumere sebesar 2,00 persen.

“Inflasi tahun kalender 2016—2018; Akumulasi Inflasi tertinggi di NTT terjadi pada tahun 2018 sebesar 3,07 persen sedangkan tahun 2017 sebesar 2,00 persen dan 2016 sebesar 2,48 persen. Khusus Kota Kupang inflasi tertinggi juga terjadi di tahun 2018 sebesar 3,32 persen, 2017 sebesar 2,05 persen dan 2016 sebesar 2,31 persen,” pungkas Demarce Sabuna.(*)

Penulis dan editor (+rony banase)