Arsip Tag: dinas pppa provinsi ntt

Bantuan Berjarak di NTT, DPPPA Gandeng JNE Kirim Gratis ke 10 Kabupaten

301 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sekitar 650 penerima manfaat program Bersama Jaga Keluarga Kita (Berjarak) dari Kementerian PPPA bakal segera memperolehnya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi NTT, dalam hal ini kelompok spesifik masyarakat yaitu kaum perempuan, lansia, penyandang disabilitas dan anak-anak maupun keluarga yang terkena dampak pandemi Covid-19 yang masuk dalam kategori miskin dan sangat miskin.

Distribusi bantuan Berjarak tersebut, dibantu oleh ekspedisi JNE secara gratis atau tanpa biaya ke 10 kabupaten di Provinsi NTT di antaranya Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu, Malaka, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Sumba Timur dan Sumba Barat. Kesepuluh kabupaten tersebut dipilih berdasarkan data presentasi sebaran dampak Covid-19 terhadap perempuan dan anak.

Penyerahan bantuan Berjarak yang bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2020 dari Dinas PPPA yang diwakili oleh Plt. Kadis PPPA Provinsi NTT Kepala Cabang JNE Kupang, Emy Khilafat pada Jumat, 16 Oktober 2020 di Dinas PPPA NTT; untuk selanjutnya dikirim kepada para penerima manfaat melalui jalan darat di daratan Timor dan kapal laut ke Pulau Flores dan Sumba.

Pose bersama Dinas PPPA NTT dan JNE Kupang

Plt. Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi NTT, Dra. Thelma Debora Sonya Bana menyampaikan bahwa penyebaran dampak Covid-19 yang menjadi acuan pemberian bantuan dan tak ada biaya (gratis) dalam proses pengiriman bantuan kebutuhan khusus dari Dinas PPPA Provinsi NTT kepada 10 kabupaten.

Meski tersedia Dana Dekonsentrasi dari Kementerian PPPA RI Tahun 2020 melalui Dinas PPPA Provinsi NTT, ungkap Thelma, namun tidak cukup untuk membiaya pengiriman bantuan Berjarak. Untuk diketahui, total berat bantuan mencapai lebih kurang 2 ton dengan taksasi biaya pengiriman mencapai Rp. 70.000.000,- (tujuh puluh juta rupiah)

“Jika dilihat dari Dana Dekon sangat tidak cukup, tetapi Puji Tuhan ada kerja sama yang baik antara JNE dan kami. Semoga kerja sama ini terus berlanjut pada hari mendatang,” ucap Thelma sembari mengungkapkan terima kasih tulus kepada JNE.

Sementara itu, Kacab JNE Kupang, Emy Khilafat yang hadir bersama para personil JNE Kupang menyampaikan, sebagai perusahaan dalam jalur bisnis ekspedisi dapat berkontribusi membantu masyarakat di Provinsi NTT.

Kepala Cabang (Kacab) JNE Kupang, Emy Khilafat saat memberikan sambutan

“Memang ada waktu kita mengejar profit, namun ada waktu kami dapat membantu dalam kondisi Pandemi Covid-19. Kami sangat bersyukur memperoleh kesempatan bekerja sama dengan Dinas PPPA untuk membantu masyarakat NTT,” ungkapnya.

Pihak JNE, tandas Emy, akan mendistribusikan semua bantuan dengan baik menuju ke Dinas PPPA masing-masing kabupaten, untuk selanjutnya dibagikan kepada para penerima manfaat.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

HPI ke-110, KPPI Provinsi NTT dan Dinas PPPA Gelar Baksos dan Zumba Bersama

274 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Hari Perempuan Internasional ke-110, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghelat kegiatan bakti sosial berupa pengobatan gratis, senam zumba bersama di areal Car Free Day (CFD) pada Sabtu, 7 Maret 2020 pukul 06.00 WITA—selesai.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir Anggota DPD RI dr. Asyera Wundalero yang juga merupakan anggota KPPI, dr.Asyera menyempatkan diri menyerahkan setangkai bunga kepada salah satu perempuan di lokasi kegiatan. Tak ketinggalan, Wakil Wali Kota Kupang, dr. Herman Man dan Nyonya Elizabeth Rengka menyambangi dan berpartisipasi.

Senam zumba bersama dalam rangka Hari Perempuan Internasional ke-110

Dalam baksos dan zumba bersama yang melibatkan semua perempuan dari berbagai elemen organisasi tersebut, menurut Ketua KPPI Provinsi NTT, Ana Waha Kolin, merasa terpanggil untuk melakukan kerja sama dengan DPPPA Provinsi NTT. “Ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan seperti senam Zumba, pemeriksaan tensi, gula darah, dan berat badan secara gratis,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih disampaikan Ana Waha Kolin kepada semua pihak yang mendukung (Keluarga Besar KPPI Provinsi NTT, DPPPA Provinsi NTT, teman-teman zumba).

Foto bersama KPPI dan Dinas PPPA Provinsi NTT

Masih menurut Ana, KPPI Provinsi NTT merasa berbicara tentang politik ansia ‘membumi’ karena setiap keputusan politik amat berhubungan dengan masyarakat. “Berbicara tentang politik, kami ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa kami tidak berbicara politik ansia, namun dalam politik elegan berbentuk keadilan dan kesetaraan gender di masyarakat,” tegas Ana Waha Kolin.

Sementara, Sekretaris KPPI Provinsi NTT Renny Marlina Un, menyampaikan ke depan bakal menyelenggarakan edukasi kepada kaum milenial bagaimana perempuan hadir dalam politik. “Bilamana perempuan diberikan ruang dan dapat memanfaatkan ruang tersebut untuk hal positif,” ujar Renny seraya menyampaikan bahwa saat ini perempuan menempati posisi ketua dan wakil ketua DPRD Provinsi NTT.

Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) didirikan di Jakarta pada 2004 oleh 7 (tujuh) partai politik yakni PDIP, PKB, Golkar, Demokrat, PPP, PAN, PBB, dan PKS yang merupakan tempat bersemayam para aktivis perempuan partai politik, sedangkan KPPI Provinsi NTT dibentuk pada 7 Mei 2006. Struktur kepemimpinan KPPI Provinsi NTT terdiri dari Ketua KPPI, Ana Waha Kolin (Anggota DPRD Provinsi NTT Komisi V Fraksi PKB), Sekretaris Renny Marlina Un, Anggota DPRD Provinsi NTT Komisi III Fraksi Partai Demokrat), dan Bendahara Anatji Ratu Kitu Yan (Anggota DPRD Kota Kupang Fraksi PKB).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

HPI ke-110, Kesetaraan Peran & Komunikasi Jadi Kunci Utama dalam Keluarga

247 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (HPI) ke-110 (International Women’s Day) dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya, maka Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menghelat sosialisasi Kepedulian terhadap Perempuan dengan tema “Kesetaraan dalam Keluarga, Sumber Daya, dan Kepemimpinan” pada Jumat, 6 Maret 2020.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/03/06/hari-perempuan-internasional-ke-109-dpppa-ntt-helat-aksi-kemanusiaan/

Mengambil lokasi di Kantor DPPPA Provinsi NTT Jalan Basuki Rachmat Kupang, kegiatan sosialisasi menghadirkan 3 (tiga) narasumber yakni Pater Yulius Yasinto, Akademisi Unwira Kupang; Pdt. Yandi Manobe, Sinode GMIT; dan Dani Manu dari LBH Apik , serta melibatkan peserta dari Polda NTT, Lanudal El Tari Kupang, Lantamal VII Kupang, Korem 161/WS, Kejaksaan Tinggi NTT, PHDI NTT, WALUBI NTT, MUI NTT, Keuskupan Agung Kupang, Sinode GMIT, Garda Indonesia, International Organization for Migran (IOM) NTT, Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Provinsi NTT, Forkomwil PUSPA NTT, P2TP2A Provinsi NTT, PIA Ardnya Garini Cabang 5/D III Lanud El Tari Kupang, Korcab VII Daerah Jalasenastri Armada (DJA) II, Kartika Chandra Kirana Koorcab Ren 161/Pd IX Udayana, Bhayangkari Daerah NTT, DPD GOPTKI NTT, Dharma Wanita Persatuan Provinsi NTT, dan PKK Provinsi NTT.

Foto bersama Dinas PPPA NTT, Narasumber, dan para peserta kegiatan sosialisasi Kepedulian terhadap Perempuan

Kabid Perlindungan Hak Perempuan DPPPA NTT, Dra. Ita Boekan kepada media ini menyampaikan, tujuan yang ingin menyampaikan kepada kaum laki-laki bahwa peran perempuan saat ini setara dan perlu dilibatkan dalam peran politik, pemerintahan, pendidikan, kesehatan. “Saat ini telah banyak perempuan yang duduk dan berperan dalam legislatif, yudikatif dan eksekutif,” ungkapnya.

Pdt. Yandi Manobe dalam pemaparannya menyampaikan perlu adanya kesetaraan terkait peran yang dimaksimalkan bersama, harus ada ruang komunikasi untuk kehidupan bersama yang baik antara laki-laki ‘suami’ dan perempuan ‘istri’ dalam lingkungan keluarga. “Konteks saat ini kita sedang berbicara tentang kesetaraan dan bukan kesamaan, karena perempuan akan tetap menjadi perempuan dan laki-laki tetap menjadi laki-laki,” urai Pdt Yandi.

Pdt. Yandi Manobe

Menurut Sekretaris Bidang Hubungan Fungsional dan Profesional Majelis Sinode GMIT, saat ini kita harus memperjuangkan kesetaraan terkait peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan yang dimaksimalkan bersama. “Dalam konteks bekerja dengan risiko besar diambil alih oleh laki-laki, sedangkan pekerjaan dengan risiko kecil dilakukan oleh perempuan, sehingga kondisi ini terus berlangsung hingga saat ini,”ungkapnya.

Sebagai contoh, urai Pdt Yandi, di Sabu Raijua, yang mengiris pohon tuak ‘nira’ adalah laki-laki, sedangkan yang memikul tuak ke rumah adalah perempuan. Contoh lain, sebutnya, yang memasak di rumah adalah perempuan, namun di restoran besar yang memasak adalah laki-laki.

Kondisi ini terus berkembang, dan dalam perspektif agama, laki-laki ‘bapak’ adalah kepala keluarga ‘rumah tangga’. “Lantas sebutan kepala, ketua, pemimpin tak bisa lagi digeser, namun kondisi ini hanyalah administratif dan seharusnya ada ruang komunikasi dan kesepakatan untuk mengelola perbedaan-perbedaan tersebut,” beber Pdt. Yandi dengan ulasan kocak dan rasional sehingga memantik reaksi antusias para peserta sosialisasi Hari Perempuan Internasional ke-110.

Suasana Sosialisasi Kepedulian terhadap Perempuan dengan tema “Kesetaraan dalam Keluarga, Sumber Daya, dan Kepemimpinan” pada Jumat, 6 Maret 2020.

Menurut Pdt Yandi, ada 4 (empat) pola yang dibiarkan berbeda agar laki-laki dan perempuan dapat melihat perbedaan antara lain :

Pertama, Pola Pikir, laki-laki dengan pola pikir dan perempuan menggunakan perasaan sehingga kondisi ini seharusnya mampu menghubungkan apa yang dipikirkan laki-laki dan yang dirasakan perempuan;

Kedua, Pola Kerja, laki-laki dengan pola bekerja tunggal dan perempuan dengan pola kerja jamak; sebagai contoh urusan menjaga dan merawat bayi lebih banyak dikerjakan perempuan ‘Ibu’ dan laki-laki ‘bapak’ cenderung hanya membantu seadanya;

Ketiga, Pola Komunikasi, Laki-laki ‘bapak’ cenderung pendiam, sedangkan perempuan ‘ibu’ lebih banyak berbicara. Sebuah penelitian menyebutkan laki-laki berbicara sebanyak 7.000 kata perhari, sedangkan perempuan berbicara sebanyak 21.000 kata sehari. Terkadang komunikasi yang buruk di dalam keluarga yang menyebabkan keluarga membangun komunikasi di media sosial;

Keempat, Pola Ingatan, Laki-laki ‘bapak’ cenderung cepat lupa, sedangkan perempuan ‘ibu’ ingatan sangat tajam.

Pola-pola berbeda di atas, seharusnya dapat dikelola, ujar Pdt. Yandi, karena jika kita mencintai setiap perbedaan, maka hidup ini lebih indah dan berwarna.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)