Arsip Tag: gardaindonesia.id

Fokus Program Satu Juta Rumah Bagi Perumahan Berbasis Komunitas

145 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Perlu promosi yang lebih masif disamping media konvensional juga melalui internet dan media sosial, sehingga masyarakat lebih mudah mencari lokasi rumah subsidi yang diminatinya, sehingga target Program Satu Juta Rumah pada tahun 2019 sebanyak 1,25 juta unit dari target tahun sebelumnya 1 juta unit dapat tercapai. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Plt. Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid.

“Program Satu Juta Rumah dilakukan bersama seluruh stakeholder baik Pemerintah, Perbankan, Pengembang, Asosiasi Pengembang dan lainnya. Termasuk Bank BTN untuk untuk terus mendukung dalam penyaluran subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan mengurangi kekurangan atau backlog perumahan di Indonesia,” kata Khalawi saat mewakili Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam pembukaan acara pameran Indonesia Property Expo (IPEX) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Sabtu (2/2/2019).

Plt. Dirjen Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid.

Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April 2015, capaian Program Satu Juta Rumah terus meningkat yakni tahun 2015 sebanyak 699.770 unit, tahun 2016 sebanyak 805.169 unit dan tahun 2017 sebanyak 904.758 unit.

Tahun 2018, untuk pertama kalinya capaian Program Satu Juta Rumah 1.132.621 unit. Secara keseluruhan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 telah terbangun 3.542.318 unit rumah.

Salah satu terobosan yang dilakukan dalam memberikan kemudahan bagi MBR memiliki rumah yakni dengan perumahan berbasis komunitas. Salah satu pilot project-nya adalah Perumahan PPRG (Persaudaraan Pemangkas Rambut Garut) di Desa Sukamukti, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut yang telah dimulai pembangunannya pada 19 Januari 2018.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/01/28/pegiat-literasi-dalam-sekat-keterbatasan-di-taman-baca-waibalun/

Perumahan berbasis komunitas mendapatkan subsidi KPR Fasilitas Likuiditas Penyediaan Perumahan (KPR FLPP) yang dikelola oleh PPDPP dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) di Ditjen Pembiayaan Perumahan, Kementerian PUPR.

“Regulasinya tengah kita siapkan agar bisa dikembangkan lebih luas. Seperti sudah dibangun untuk Komunitas Tukang Cukur, kita akan perluas seperti Komunitas Wartawan, Komunitas Tukang Sampah, Pekerja, Guru Honor yang semuanya di koordinasikan bersama,” ungkap Khalawi (*)

 

Sumber berita (*/Biro Komunikasi Publik-Kementerian PUPR)

Editor (+rony banase)

Turis Milenial Jadi Target Pariwisata Indonesia 2019

163 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Pariwisata Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan difokuskan pada wisatawan yang dinamis dan berbasis pada ‘experience tourism’.

Turis milineal menjadi pasar menjanjikan untuk pariwisata Indonesia, mengingat jumlahnya mencapai lebih dari 300 juta orang secara global hingga 2030 (berdasarkan proyeksi World Tourism Organization).

Data tersebut disampaikan oleh Dirut PT Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, pada acara ‘Gathering Percepatan Pembangunan Kabupaten Karangasem’ yang dilangsungkan di Hotel Kawanua, Bunaken Ballroom, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/02/02/kantor-bahasa-sikapi-pergub-no-56-hari-berbahasa-inggris-cacat-hukum/

Pria yang akrab dipanggil Ari Askhara melanjutkan, beberapa waktu yang lalu, panduan perjalanan Lonely Planet mempublikasikan riset-riset mengenai kawasan wisata yang akan menjadi ‘trending’ di kalangan milenial tahun 2019.

Bali dikatakan sebagai salah satu tujuan yang akan populer di kalangan turis generasi milenial di tahun 2019. Hal ini menjadi peluang dan tantangan tersendiri, khususnya bagi Bali yang selama ini mengandalkan pariwisata berbasis budaya.

“Dan sebagaimana halnya kabupaten lain di Bali, Karangasem memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan melenial yang mayoritas menyukai produk-produk otentik dan suka mengeksplorasi. Kabupaten Karangasem memiliki objek-objek wisata spiritual, alam dan budaya seperi Pura Besakih, Telaga Waja. Taman Ujung, Candidasa, Tirta Gangga, Desa Tenganan, Labuan Amuk, Pura Lempuyang, Bukit Asah, Pelukatan Jaga Satru dan Gunung Agung,” katanya.

Ari Askhara menjabarkan bahwa sebagai maskapai penerbangan pembawa bendera negara, Garuda Indonesia selalu berkomitmen penuh dan mendukung program pengembangan pemerintah di berbagai sektor strategis seperti ekonomi, sosial kemasyarakatan dan kepariwisataan nasional. (*)

 

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)

Editor (+rony banase)

Foto (*/caliberi.com)

Penduduk Miskin Berkurang 8.060 Orang, NTT Peringkat 3 Termiskin

349 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Jumlah penduduk miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur pada September 2018 sebanyak 1.134.011 jiwa dari jumlah penduduk NTT sebanyak 5.456.203 jiwa atau berkurang sebesar 8.060 orang (21,03 persen), namun predikat sebagai Provinsi Termiskin No 3 di Indonesia masih disandang (Posisi pertama Papua dan Kedua Papua Barat)

Data tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia dalam sesi konferensi pers bersama awak media cetak, elektronik dan online di Ruang Teleconference BPS NTT, Jumat/1/2/2019 pukul 10.00 WITA—selesai.

Kondisi Maret 2018 jumlah penduduk miskin sebesar 1.142.017 jiwa (21,35 persen)

Tapi garis kemiskinan NTT mengalami penurunan dari Maret—Sept 2018 sebesar 0,32 persen”,ungkap Maritje.

Maritje menambahkan tentang metodologi yang digunakan oleh BPS cukup lama dan tetap sama yaitu apple to apple yang diadopsi dari konsep garis kemiskinan internasional. Adapun metodologi Kemiskinan yang BPS gunakan yaitu Basic Needs Approach (Kebutuhan Dasar); dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan seseorang dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar yakni kebutuhan makanan dan non makanan (perumahan, pendidikan )

“Jadi kalau tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar, maka seseorang itu dikatakan miskin”, kata Maritje.

Mengenai garis kemiskinan, Maritje menerangkan, “Garis kemiskinan makanan yang kita pake yaitu nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan setara 2.100 kilokalori per orang per hari. Jadi kalau kita makan atau konsumsi dibawah 2.100 kilokalori maka dikategorikan miskin. Bukan makan karena diet”, terangnya.

Baca juga : 

https://gardaindonesia.id/2019/02/01/bahan-makanan-makanan-jadi-picu-inflasi-023-persen-pada-januari-2019/

Garis kemiskinan per rumah tangga miskin di NTT sebesar Rp.360.069,- per kapita /orang per bulan (kondisi September 2018).

“Kondisi riil yang dapat dihitung dengan menjumlahkan jumlah orang yang berada di dalam sebuah keluarga, misalnya 1 rumah tangga terdapat 6 orang x Rp.360.069,- = Rp. 2.160.144,-. Kalau pendapatan dibawah 2 juta maka dikatakan miskin”, jelas Maritje

“Sedangkan per kapita kemiskinan nasional sebesar Rp. 410.000,- (empat ratus sepuluh ribu rupiah) dan per kapita masing-masing daerah berbeda, seperti garis kemiskinan per rumah tangga miskin di Provinsi DKI Jakarta diatas 3 Juta rupiah”, tutur Maritje.

Penulis dan editor (+rony banase)

Kantor Bahasa Sikapi Pergub No 56 Hari Berbahasa Inggris Cacat Hukum

690 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Kantor Bahasa NTT sebagai instansi vertikal dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) RI mempunyai tugas melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan pelindungan di bidang bahasa dan sastra; menyikapi penerbitan Peraturan Gubernur (Pergub) NTT No 56 Tahun 2018 tentang Hari Berbahasa Inggris.

Kantor Bahasa NTT menilai Pergub NTT No 56 Tahun 2018 cacat hukum karena tidak berdasarkan aturan tertinggi yakni UUD 1945 Pasal 36 tentang Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia; Undang-undang Republik Indonesia No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara; Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, Serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia, Pasal 16 ayat 1; dan Permendagri No 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Daerah, tertuang dalam pasal 1 ayat 6 & pasal 2.

Kepala Kantor Bahasa NTT, Valentina Lovina Tanate,S.Pd., kepada media ini (Jumat/1/2/2019 pukul 14.41 WITA) menyatakan bahwa Pergub No 56 Tahun 2018 tentang Hari Berbahasa Inggris yang diundangkan di Kupang pada tanggal 21 Desember 2018 sebagai Cacat Hukum karena penyusunan Pergub tidak berdasarkan Undang-undang tertinggi dan belum ada Pergub tentang Pengutamaan Bahasa Negara yakni Bahasa Indonesia dan Pelestarian Bahasa Daerah.

“Memang menguasai bahasa asing itu perlu tapi menjadi persoalan bagi kami karena belum ada Pergub untuk Pengutamaan Bahasa Negara yaitu Bahasa Indonesia dan Pelestarian Bahasa Daerah”, ujar Valentina.

Lebih gamblang, Valentina menegaskan bahwa meski penerapan Hari Berbahasa Inggris berbentuk Surat Edaran tidak bisa langsung menggunakan bahasa asing, kita tidak bisa memprioritaskan bahasa asing namun harus mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara.

Pergub dibawah Undang-undang, dan penerbitan Pergub harus merujuk pada Undang-undang tertinggi”, tegas Valentina.

Lanjut Valentina, Seharusnya Pemprov NTT memperhatikan aturan-aturan saat penerbitan Pergub No 56 Tahun 2018 tentang Hari Berbahasa Inggris.

“Kami (Kantor Bahasa NTT, red) telah mengeluarkan Peŕnyataan Sikap terkait Pergub tentang Hari Berbahasa Inggris”, ungkap Valentina.

Tutup Kepala Kantor Bahasa, “Kami juga akan bersurat secara resmi kepada Gubernur NTT pada Senin, 4 Februari 2019”.

Penulis dan editor (+rony banase)

Longsor & Banjir di Kalbar Telan Korban 3 Orang Tewas & 2 Hilang

124 Views

Bengkayang-Kalbar, gardaindonesia.id | Bencana banjir, longsor dan puting beliung masih menjadi ancaman bagi masyarakat selama bulan Februari 2019 ini. Curah hujan berintensitas tinggi masih akan terjadi di wilayah Indonesia.

BMKG telah memprakirakan curah hujan tinggi selama bulan Februari 2019 akan terjadi di Aceh bagian barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa, Kalimantan Barat bagian timur laut, Kalimantan Tengah bagian utara, Sulawesi Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan bagian utara, Kalimantan Tenggara, Papua Barat dan Papua.

Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menuturkan curah hujan deras dan kondisi tanah yang labil telah menyebabkan longsor di Desa Medeng dan Desa Sungkung II Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat pada 31/1/2019 pukul 21.30 WIB .

“Longsor menyebabkan 3 orang meninggal dunia, 2 orang hilang dan 11 rumah tertimbun. Permukiman warga berada di bawah lereng perbukitan saat longsor menimbun 11 rumah. Dari 3 korban meninggal dunia salah satunya adalah balita”, jelas Sutopo.

Mengenai korban hilang, Sutopo menjelaskan, pencarian 2 orang hilang masih dilakukan oleh tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, SKPD, relawan dan masyarakat.

“Akses ke lokasi cukup sulit, hanya dapat dilakukan menggunakan sepeda motor”, terang Sutopo.

Lanjut Sutopo, Bulan Januari dan Februari adalah puncak bencana banjir, longsor dan puting beliung. Selama bulan Januari 2019, telah terjadi kejadian bencana 366 yang menyebabkan 94 orang meninggal dan hilang, 149 orang luka-luka, 88.613 orang mengungsi dan terdampak, 4.013 unit rumah rusak meliputi 785 rusak berat, 570 rusak sedang, 2.658 rusak ringan, dan 146 fasilitas umum rusak.

Lebih dari 98 persen bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi selama Januari 2019. Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sulawesi Selatan merupakan bencana yang banyak menimbulkan korban meninggal dan hilang.

Sutopo menghimbau kepada masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung.

“Amati kondisi lingkungan sekitar anda. Orangtua hendaknya lebih meningkatkan mengawasi anaknya. Jangan melakukan aktivitas di sekitar sungai karena seringkali tiba-tiba terjadi peningkatan debit sungai karena di hulu hujan deras. Waspada terhadap longsor. Longsor penuh ketidakpastian seringkali terjadi tiba-tiba”, ungkapnya. (*)

Sumber berita (*/Humas BNPB)
Editor (+rony banase)

Budaya & Kearifan Lokal Harus Jadi Landasan Pembangunan Nasional

171 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Infiltrasi budaya asing ke Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. Kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal dengan nilai-nilai luhur budaya, kian terancam. Bangsa Indonesia seperti mulai kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet).

“Karena itulah, saat ini visi Presiden Joko Widodo fokus dalam pembangunan manusia Indonesia. DPR RI dan pemerintah sudah melahirkan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dimana kebudayaan yang lahir dari kearifan lokal harus menjadi landasan dalam pembangunan nasional dan daerah,” ujar Bamsoet saat menerima pengurus Mufakat Budaya Indonesia (MBI), di ruang kerja Ketua DPR RI, Jakarta, Kamis (31/01/19).

Pengurus MBI yang hadir antara lain Koordinator MBI Radhar Panca Dahana, Humas MBI Olivia Zalianty, Komisi Strategis MBI Connie Bakrie, Suhadi Sendjaja dan Niniek L Karim.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet)

Bamsoet menjelaskan, salah satu visi pembangunan Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, merupakan salah satu bentuk pengejawantahan budaya bahari yang merupakan kekuatan utama Bangsa Indonesia. Menjadikan budaya sebagai haluan pembangunan merupakan salah satu jalan bagi Indonesia bertransformasi dari ‘bangsa besar’ menjadi ‘bangsa pemenang’.

“Saat ini, budaya K-Pop sudah hampir menguasai dunia. Bersaing ketat dengan budaya barat. Kita memang mengalami ketertinggalan. Namun, bukan berarti tidak bisa mengejar. Karena itu, pemajuan kebudayaan harus dimulai dari diri kita masing-masing, dari keluarga dan lingkungan sekitar,” tutur Bamsoet.

Karenanya, Bamsoet mengajak semua anak bangsa kembali ke jati diri manusia Indonesia yang sesungguhnya. Dimana gotong royong dan tenggang rasa menjadi salah satu cirinya.

“Semboyan Bhineka Tunggal Ika punya makna yang sangat mendalam. Menunjukan tingginya karakter bangsa dalam hal toleransi. Namun ironisnya, saat ini kita seakan melupakannya. Sudah waktunya kita kembali ke titik semula, kembali menjadi manusia Indonesia seutuhnya,” pungkas Bamsoet. (*)

 

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)

Editor (+rony banase)

Cerita Jein Koten-‘Oa Pariwisata Flotim 2019 Bersama Pangan Kelor’

653 Views

Larantuka-NTT, gardaindonesia.id | Temaram tenggelamkan Sang Surya di pelukan bukit sebelah barat Kota Reinha Larantuka. Butiran titik-titik hujan masih tersisa di pucuk kelor halaman rumah penduduk Desa Mokantarak; Sebuah desa kecil nan asri di arah barat kotaku, Larantuka. Inilah Kisah dibalik suksesnya Jein Koten menjadi Oa (Putri) Pariwisata Flotim 2019.

Sore itu, aku menyempatkan diri bersepeda hingga ke desa yang berjarak 4 KM dari Kelurahan Waibalun tempat tinggalku. Dengan penuh semangat sambil bernyanyi kecil aku mengayuh sepedaku menuju ke rumah salah satu keluargaku.

Tepatnya, di rumah kakak sepupuku, Bapak Milan Koten, ayahanda dari adik Jein Koten, penerima gelar Oa Pariwisata (Putri Pariwisata) Flores Timur tahun 2019. Gadis kelahiran Waibalun 20 tahun silam yang bernama lengkap Yuliana Hingi Koten, merupakan putri ke 2 dari 4 bersaudara.

Gadis berdarah campuran Flores Timur dan Sikka ini, sejak kecil telah menunjukkan prestasi gemilang baik di sekolah maupun prestasi diluar sekolah. Berbagai perlombaan selalu diikutinya. Sosok yang energik, cerdas dan cantik tentunya dan menyukai tantangan.

Jein Koten berpose bersama Finalis Putri Indonesia,Fiona Callaghan dan Para Finalis Putri Pariwisata Flotim

Dalam memperoleh suatu hal yang dia inginkan meskipun melewati berbagai tantangan, dia selalu percaya pada kemampuan diri dan kerja keras serta selalu memperoleh dukungan dari keluarga, membuatnya mampu melewati semua tantangan yang ada.

Sore temaran, akan berlalu, ketika itu kami bertiga duduk di lopo kecil halaman rumah Ka’ Milan (Bapak Milan Koten); Aku, adik Jein dan Ka’ Koni-Ibunda dari Sang Putri Pariwisata, Ya..sedikit memberikan gelar yang pantas untuk adik tersayang dengan sebutan ‘Sang Putri’.

Mereka kaget melihat kedatanganku sore itu, sang surya sebentar lagi akan tidur di ufuk barat desa ini, para petani desa berbaris rapi meski kulihat ada gambaran kelelahan di wajah mereka. Itulah hidup yang penuh perjuangan.

Akupun mulai membuka perbincangan kecil kami, ditemani teh kelor buatan adik Jein, teh yang diolah dari bahan baku daun kelor yang dikeringkan, kata Ka’ Koni bahwa keluarga mereka sudah lama mengkonsumsi minuman dari kelor ini. Setiap pagi mengawali hari dengan Sup Motong (kelor) sebagai Teman Nasi untuk Sarapan Pagi bagi Keluarga Ka’ Milan.

Ya..Motong-lah Teman Setia Mereka. Tiada Hari Tanpa Kelor…Tiada Hari Tanpa Motong.

Itulah kebiasaan sarapan pagi dengan Sup Kelor bagi sebagian besar Penduduk Flores Timur. Bahkan untuk makan siang maupun malam selalu tersedia Sup Kelor. Karena memang pengolahannya mudah dan tentunya bergizi tinggi.

Kamipun bercerita tentang kegiatan Pemilihan Oa Pariwisata pada tanggal 30 Desember 2018 kemarin. Alur kegiatan yang begitu apik, dengan melalui beberapa tahap. Pada ajang bergengsi ini mendatangkan juri dari luar Flores Timur yakni Putri Pariwisata NTT.

Jein Koten saat mengikuti Festival Lamaholot di Lembata

Tentunya ini bukan ajang main-main. Peserta lomba berasal dari Oa-Oa (gadis) terbaik dari tiap kecamatan Se-Kabupaten Flores Timur. Kegiatan puncak Pemilihan Oa Pariwisata dimulai tepat pukul 20.00 WITA; 1 jam sebelumnya, aku sudah berada di lokasi acara tepatnya di Lapangan Lebao, Larantuka – Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sungguh merupakan malam puncak yang dinantikan dan pastinya mendebarkan jantung setiap peserta lomba; Oa-Oa Nagi menebar pesona di Malam Penghujung 2018, pesona mereka mampu mengalahkan sinar rembulan di malam itu. Bias sinarnya redup oleh Pesona Oa-Oa Lamaholot.

Penontonpun terpukau, tampak peserta lomba berlenggak-lenggok diatas panggung yang gempita dan elegan. Acara ini digelar oleh Dinas Pariwisata Flores Timur dan didukung oleh Nani Betan (anggota DPRD) sekaligus pemilik D’Rippen EO, sebuah event organizer terbaik di Flores Timur.

Jein Koten dalam Balutan Busana Adat Lamaholot

Detik demi detik berlalu, menit dan jam semakin menua di malam itu. Tibalah saat sang juri memberikan penilaian terakir; Yuliana Hingi Koten berhak meraih gelar Oa Pariwisata Flotim 2019.

Sang Putri Pariwisata NTT yang membacakan hasil keputusan juri yang tentunya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun. Itulah perlombaan, ada yang meraih peringkat pertama atau juara 1 dan ada peringkat dibawahnya; tetapi yang pasti,semua peserta hebat.

Semua peserta memiliki pesona tersendiri, kekhasaan tersendiri dan tentunya semua kita berproses. ‘Hidup adalah proses’, yang mampu melewati semua tantangan dengan penuh kesabaran dialah yang akan jadi pemenangnya.

Kita semua menjadi pemenang ketika kita mampu melewati segala tantangan di hidup kita. Kita semua menjadi pemenang ketika setiap peristiwa hidup kita lalui dengan penuh syukur; baik itu peristiwa suka maupun peristiwa duka.

Akupun semakin bersemangat ketika malam mulai menjemput ragaku saat berada di lopo kecil itu, tak peduli gerimis mulai meriuh beradu bersama sepoi angin. Kami bertiga masih mau bercerita; adik Jein melanjutkan cerita masa kecilnya diselingi tawa Sang Ibunda.

Tiada hari tanpa Sup Kelor. Masa-masa indah itu ia lalui bersama keluarganya diawali saat menetap di Pulau Solor atau ‘Pulau Penuh Batu’, Aku jadi teringat sebuah slogan lama yang disampaikan oleh nenekku ‘Solor Batu Banyak Makan Batu Berak Jagung’ (Berak=Buang Hajat,red).

Disitulah Jein kecil melalui masa kanak-kanaknya. Memasuki masa remaja Jein disekolahkan di SMP Katolik Ratu Damai Waibalun. Di sekolah ini karakternya mulai dibentuk, bakat dan kemampuannya semakin bersinar di awal masa remajanya.

Guru-guru di almamaternya pun turut berbangga atas terpilihnya Jein menjadi Putri Pariwisata Flores Timur. Anak yang cerdas dan mampu berbahasa Inggris kata salah seorang gurunya di SMP Katolik Ratu Damai.

Karena sejak duduk di sekolah dasar Jein sudah mengikuti Kursus Bahasa Inggris. Ketika memasuki jenjang pendidikan SMU, Jein disekolahkan di SMA Katolik Frateran Podor, Larantuka yang merupakan sekolah menengah terbaik di Kabupaten Flores Timur yang sekarang menjadi Sekolah Rujukan K13.

Selain memiliki kemampuan akademik di sekolah, Jein juga memiliki prestasi di bidang olahraga. Bersama teman-teman sekolahnya di Frateran Podor, mereka selalu meraih juara dalam Pertandingan Voli Putri Se-kota Larantuka. Baginya olahraga adalah hal penting selain tubuh dicukupi dengan makanan bergizi dan diimbangi olahraga pasti akan memberikan efek yang baik bagi kesehatan.

Di masa SMA Jein sibuk dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Namun yang pasti prestasi akademik tetap dijaga demi impiannya agar bisa kuliah dan bekerja untuk membahagiakan orang-orang tercintanya.

Sosok Wanita Lamaholot Sang Pekerja Keras. Kebarek Lama Koten (gadis suku koten) ini tak pernah mau menyerah jika itu adalah keinginannya. Dengan niat dan usaha yang semestinya; Jein yakin, ia akan meraihnya. Seperti pada ajang pemilihan Oa Pariwisata yang baru saja ia jalani.

Di sela kesibukannya sebagai seorang Mahasiswa Pariwisata semester 7, tentunya tidaklah gampang, Ia harus pandai membagi waktu kuliah dan waktu dalam mengikuti berbagai kegiatan pengembangan bakat dan minat.

‘Si Keras Kepala’, demikian julukan yang diberikan oleh ayahnya, selalu mewakili kampusnya. Luar biasa Adikku!. Masih muda, berbakat dan tentunya berprestasi.

Satu hal yang membuat saya benar kagum dan salut akan Jein; ditengah kesibukan sebagai mahasiswa, Dia bekerja. Dia tidak mau bergantung sepenuhnya pada orang tua.

Meski hanya bekerja beberapa jam, ia bisa mengatasi kekurangan kebutuhan hariannya atau mengatasi keterlambatan jatah bulanan dari Sang Ibunda. Karena hidup di perantauan jauh dari orangtua, harus pandai menggunakan uang. Tidak boros dan tentunya bersikap layaknya anak yang berbakti.

Jein Koten – Oa Pariwisata Flotim 2019

“Biarlah orangtua berbangga memiliki anak yang baik.he…he..sedikit memuji diri bolehkan,” ucap Jein.

Hati kecilku berkata, sungguh unik anak ini. Jarang sekali kita temukan anak kuliahan seperti Jein di masa yang modern ini..bekerja paruh waktu untuk meringankan beban orangtua. Patut dijadikan contoh bagi kaum muda lain.

Malam menggenggam seisi jagad namun pikiranku semakin bersinar. Percakapan yang santai ditemani Teh Kelor yang membakar semangatku di tengah Alunan Riuh Gerimis membuatku seakan tak ingin mengakiri cerita kami kala itu.

Kelor yang dianggap sayur murahan tak berarti…ternyata menyimpan Sejuta Manfaat.

Tanaman Kelor, Milik Kami Anak-anak Lamaholot.

Kami dibesarkan ditengah tandusnya Tanah Flores Timur namun hati dan jiwa kami tidak tandus.

Otak kami disirami nasehat-nasehat berharga dari nenek moyang bahwa hidup harus selalu dalam persaudaraan biarpun kami tidak sekampung, biarpun kami tidak seagama biarpun kami terpisah pulau dan laut. Kami tetap bersaudara dalam Satu Bingkai Kabupaten Flores Timur.

Di akhir perbincangan kami, adik Jein menyampaikan beberapa hal menyangkut Visi Misinya menjadi Putri Pariwisata Flores Timur antara lain:

  • Penanaman Kelor Serentak;
  • Pengolahan Kelor Menjadi Berbagai Jenis Makanan dan Minuman;
  • Menjadikan Kegiatan Bekarang dan Menyuluh di ujung Desa Mokantarak sebagai Atraksi Wisata Menarik;
  • Menciptakan Galeri Aksesoris Khas Mokantarak (anting, gelang, jepit, kalung) dari Bahan Tradisional;
  • Mengajak Orang Muda atau ‘Kebarek Lamaholot’ untuk Mendapat Pelatihan Menenun Kain Tenun Khas (kwatek) Flores Timur; dan
  • Melatih Ketrampilan Menghasilkan Jagung Titi.

‘Sukses Jein!’, idemu begitu cemerlang. Kami Siap Mendukung Setiap Aksimu Bagi Masyarakat Flores Timur.

Menurut Ibundanya bahwa semua rencana kegiatan atau visi misi dari Jein telah mendapat restu dari PEMDA Flores Timur.

Budidaya kelor yang menjadi Program Unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi tentunya disambut hangat oleh Masyarakat Desa Mokantarak pada khususnya dan Flores Timur pada umumnya.

Dan Aku, sebagai Anak tanah Lamaholot tak menyangka bahwa dengan Sang Putri Pariwisata punya pemikiran yang sama tentang kelor.

Tentang bagaimana kita bisa membuat kelor dihargai di Mata Masyarakat Indonesia, bagaimana kita memperkenalkan lebih kepada dunia luas tentang Motong atau Kelor.

Semoga Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT menyempatkan diri membaca Goresan Kecil Guru Kampung ini; Tentang Kisah Perjalanan Hidup Jein dan Visi Misinya Sebagai Putri Pariwisata Flores Timur 2019 yang Bersatu Hati dengan Program Motongnisasi.

Jein,…Kami Bangga Memilikimu!.

Hidup adalah perjuangan, dan kita disini masih pada satu langit yang sama. Disini kita semua berproses karena hidup adalah bagaimana kita melalui perjuangan demi perjuangan. Jalanmu masih panjang, tetaplah menjadi kebanggaan orangtua dan tentunya kebanggaan kami masyarakat Lamaholot. Kami selalu mendukungmu!

Profil Singkat Jein 

Nama Lengkap : Yuliana Hingi Koten

TTL : Waibalun, 24  November 1998

Riwayat sekolah

  1. SDN Ongalereng Solor Barat;
  2. SMPK Ratu Damai Waibalun;
  3. SMAK frateran Podor Larantuka;
  4. Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta (STIPRAM )

Aktifitas dan Prestasi :

  1. Paskibra;
  2. Juara 1 lomba Fashion Show tingkat Kabupaten (Festival Lamaholot di Lembata);
  3. Pernah menjadi News Reader;
  4.  Juara 1 lomba Fashion Show Tingkat SMAK Frateran Podor;
  5.  Juara 1 Lomba Voli Tingkat SMA Se-Kota Larantuka (Piala Bupati);
  6.  Juara 2 Lomba Voli tingkat SMA Se-Kota Larantuka (Gabriel Cup);
  7. Mengikuti kegiatan FSC (Foreign Case Study) di Thailand, Singapura, dan Malaysia;
  8. Mengikuti kegiatan School of Leadership di Yogyakarta

 

Penulis (*/Helmy Tukan,S.Pd – Guru dan Pegiat Literasi di Flores Timur)

Editor (+rony banase)

Jasa Raharja & BPJS Kesehatan Jamin Korban Kecelakaan, Ini teknisnya

134 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Kini, korban kecelakaan angkutan umum dan lalu lintas jalan memperoleh perlindungan dari PT Jasa Raharja dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. BPJS Kesehatan mengambil alih jika pengobatan telah menyentuh plafon penjamin pertama; PT Jasa Raharja, sebesar Rp 20 Juta. Koordinasi manfaat ini tidak berlaku dalam kecelakaan tunggal.

Dilansir dari detik.com, Menurut Direktur Operasional PT Jasa Raharja Amos Sampetoding, teknis pelaksanaan mekanisme koordinasi manfaat ini tidak sulit.

Mekanisme yang sistematis ini tidak memerlukan korban atau keluarganya mengurus sendiri klaim, laporan, atau reimburse terlebih dulu sebelum menggunakan BPJS Kesehatan. Sistem akan mengatur laporan dan mekanisme klaim lainnya hingga pasien sembuh.

“Dengan sistem ini, korban kecelakaan akan langsung masuk rumah sakit (RS). Selanjutnya petugas RS akan memasukkan data pasien di aplikasi fee claim BPJS Kesehatan, yang tersambung dengan Integrated Road Safety Management System (IRSMS) milik Kepolisian dan m-office PT Jasa Raharja. Laporan kemudian diperiksa petugas PT Jasa Raharja sebelum dinyatakan bisa menerima jaminan. Setelah itu akan terbit alert untuk Kepolisian sehingga laporan kecelakaan bisa segera masuk, serta surat garansi pada rumah sakit yang menandakan status penjaminan korban kecelakaan,” ujar Amos, Rabu (30/01/2019).

Mekanisme ini pula yang menandai jika plafon korban kecelakaan telah mencapai batasnya, sebelum diambil alih BPJS Kesehatan. Amos mengatakan, saat ini PT Jasa Raharja baru tergabung di 1.100 aplikasi fee claim yang ada di rumah sakit seluruh Indonesia. Jumlah ini tentunya akan meningkat untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada masyarakat.

Menurut Amos, pelaksanaan mekanisme yang serba digital ini tidak perlu waktu lama. Surat garansi bisa terbit dalam hitungan menit bila seluruh mekanisme sebelumnya sudah selesai. Korban kecelakaan cukup menjalankan proses pengobatan tanpa perlu mengkhawatirkan pembiayaan serta mekanisme klaim. (*)

Sumber berita (*/detik.com)
Editor (+rony banase)