Arsip Tag: generasi muda ntt

Gubernur Viktor : “Nekamese Hall Harus Lahirkan Generasi Melek Pariwisata!”

71 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Saya sangat mengharapkan tempat ini mampu melahirkan generasi muda NTT, khususnya di kabupaten Kupang yang memahami tentang pariwisata. Apalagi saat ini sektor pariwisata menjadi penggerak utama pembangunan di NTT,” ujar Gubernur Nusa Tenggara, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Harapan Gubernur NTT ini disampaikan saat meresmikan Nekamese Convention Hall di Desa Oemasi, Kecamatan Nekamesa, Kabupaten Kupang pada Sabtu 30 November 2019.

“Saat ini pengetahuan tentang pariwisata di NTT masih sangat rendah. Oleh karena itu, sebagai Gubernur saya sangat mengharapkan agar dari tempat ini mampu melahirkan generasi muda yang paham tentang pariwisata. Karena ketika berbicara tentang pariwisata, bukan saja tentang atraksi budaya atau alamnya, tetapi berbicara juga tentang semua aspek. Orang datang menggunakan apa, sarana transportasinya seperti apa, orang tinggal di mana, pelayanannya seperti apa, makan minumnya juga harus disiapkan dengan baik, rantai pasoknya harus jelas, harus juga ada pertunjukan, siapkan juga souvenir khas NTT agar mereka yang datang bisa membelinya. Kalau ini semua mampu disiapkan dengan baik, maka saya pastikan NTT mampu memberikan yang terbaik bagi setiap wisatawan yang datang di Nusa Tenggara Timur,” jelas Gubernur Viktor.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat saat menandatangani prasasti peresmian Nekamese Convention Hall

Lanjut Gubernur, “Saya juga minta agar selain pelatihan tentang pertanian, peternakan, perkebunan dan pariwisata, tempat ini juga mampu membuat even untuk melatih mental anak – anak muda di kabupaten Kupang. Buatkan pertunjukan yang baik, ada nyanyian, fashion show dan juga tarian. Jika hal ini dilakukan terus menerus, maka dalam waktu yang tidak lama, tempat ini mampu melahirkan generasi muda hebat yang paham tentang pariwisata sesungguhnya.”

Khusus masalah infrastruktur jalan yang saat ini kualitasnya kurang baik, orang nomor satu di Nusa Tenggara Timur ini berjanji akan berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Kabupaten Kupang, agar ke depan dapat diperbaiki.

Sementara itu, Farry Francis selaku pemilik Nekamese Convention Hall, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih yang dalam atas kesediaan bapak Gubernur yang telah berkenan meresmikan tempat ini. “Tempat ini dibangun sepuluh tahun lalu, dengan tujuan untuk melatih anak – anak dari desa tentang pertanian, perikanan, dan juga pariwisata. Saat ini sudah masuk angkatan keenam. Kiranya dengan kehadiran Gubernur di tempat ini, mampu menjadi motivasi bagi anak binaan kami di tempat ini agar mereka lebih berusaha menjadi orang desa yang mampu membangun kembali desa mereka ketika sudah selesai melakukan pendidikan di tempat ini,” ujar Farry.

Turut hadir dalam kesempatan ini, Bupati Kabupaten Kupang, Walikota Kupang, Direktur Utama Bank NTT, Anggota DPD RI Abraham Paul Liyanto dan Hilda Manafe.(*)

Sumber berita (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Talkshow KOMPAK : Orang Muda Pulang ke Desa di Tanah Perjanjian

41 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Orang muda harus pulang ke desa, tanah perjanjian, untuk mengelola tanah yang berlimpah susu dan madu. Pulang ke desa, migrasi untuk menegakan keadilan sosial.

Demikian salah satu bagian rekomendasi dari 10 (sepuluh) rekomendasi dari talkshow bertajuk ‘Selamatkan Orang Muda NTT dari Bahaya Human Trafficking’ yang diselenggarakan Komunitas Peacemaker Kupang (KOMPAK) yang dipandu Anna Djukana,SH,MH di Neo Aston Hotel Kupang pada Kamis, 25 Juli 2019.

Dialog Orang Muda ini menghadirkan nara sumber Pdt. Emy Sehertian,MTh, Ketua Devisi Hukum, HAM dan Advoks, Ketua GMKI Cabang Kupang, Ferdinand Umbu Tay Hambandima, Jhon Suhardi, Panit Reskrim Polda NTT, Timotius K Suban, Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI NTT, Metu Selan keluarga korban, Thomas Suban Hoda, Fungsional Umum, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT.

Dalam diskusi terungkap anak anak muda jadi sasaran tipuan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga 22 Juli 2019 jumlah buruh migran yang pulang dalam kondisi jenazah 65 orang. Modus modus yang ditemukan dalam TPPO, semakin canggih. Hal ini menguatkan aksioma kejahatan berlari lebih cepat dari hukum sendiri. Modus modus tersebut antara lain penipuan dokumen, nama dan umur dipalsukan, KTP dibuat di luar provinsi begitupun paspor, kelompok doa dimana kelompok doa dalam doanya mendapat penglihatan yang bersangkutan harus diberangkatkan ke luar negeri.

Selain itu, terungkap kejahatan pertama salah urus EKTP oleh negara yang menjadi latar belakang kejahatan kemanusiaan TPPO. Pemerintah telah membuat kebijakan moratorium pengiriman TKI ke luar negeri, pembentukan satgas, pokja, pengadaan Balai Latihan Kerja (BLK).

Suasana Dialog Orang Muda KOMPAK dengan tema ‘Selamatkan Generasi Muda NTT’, Kamis, 25 Juli 2019 di Neo Aston Hotel Kupang

Adapun Rekomendasi Talkshow ‘Menemukan Solusi, Selamatkan Generasi Muda NTT yakni:

Pertama, Mendesak adanya Perdes (Peraturan Desa) yang mengatur orang ke luar dari desa;

Kedua, Penting menyasar juga upaya upaya pencegahan seperti literasi, edukasi dan advokasi selain upaya penanganan dan penegakkan kasus kasus TPPO.

Ketiga, Yang juga penting adalah setiap orang muda harus menjadi penerus informasi saat mengikuti kegiatan kegiatan edukasi, advokasi tentang bahaya TPPO sehingga informasi yang diperoleh tidak berhenti di orang tersebut;

Keempat, Harus ada ketegasan waktu moratorium sampai kapan dan ruang ruang moratorium harus diisi seperti persoalan ekonomi, lapangan kerja, literasi, edukasi dan advokasi;

Kelima, Sudah saatnya orang muda, mahasiswa keluar dari zona nyaman untuk menjadi agen of change;

Keenam, Bekerja di mana saja termasuk di luar negeri adalah hak asasi semua orang tetapi pulang dalam keadaan selamat juga adalah hak asasi semua orang;

Ketujuh, Mengintegrasikan data-data dari semua SKPD ke data kependudukan;

Kedelapan, Proses-proses pengurusan ketenagakerjaan terintegrasi atau interkoneski sehingga memudahkan koordinasi berbagai kebutuhan dan persoalan;

Kesembilan, Tugas gereja mengintervensi mereka yang tidak paham dan yang beresiko serta migrasi kerja, pastoral dan advokasi;

Dan Kesepuluh, Terus membuka ruang-ruang dialog kemanusiaan dan kerja kerja kemanusiaan. (*non)

Penulis (*/Anna Djukana)
Editor (+rony banase)