Arsip Tag: ikatan guru indonesia ntt

Belajar dari Covid-19, Webinar Edukasi IGI Flores Timur Jadi Wahana Belajar

716 Views

Larantuka, Garda Indonesia | Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia, membuat banyak perubahan di segala bidang kehidupan manusia pada skala besar maupun kecil, pada tingkat desa maupun nasional bahkan internasional. Pandemi Covid-19 begitu kuatnya mengguncang dunia hingga dalam jangka waktu yang begitu singkat, sang virus sudah menjadi objek yang mengerikan karena memakan jutaan korban jiwa di seluruh dunia.

Hal langka yang terjadi dan melanda dunia ini, tak membuat mati harapan dan semangat hidup bagi manusia sang pelaku utama panggung kehidupan ini, dengan berbagai cara dan upaya berusaha agar segera keluar dari masalah global ini. Hampir semua bidang kehidupan terkena dampak pandemi Covid-19 ini, termasuk dunia pendidikan yang sangat merasakan dampaknya. Kondisi ini membuat para pelaku di dunia pendidikan mencari solusi agar dapat mengatasi berbagai dampak yang ditimbulkan karena Corona .

Ya, karena Corona seluruh sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA/sederajat hingga Perguruan Tinggi tidak lagi menjalankan aktivitas kegiatan belajar mengajar sebagaimana biasanya. Anak-anak sekolah dan para guru terpaksa dirumahkan. Semua ini dilakukan atas pertimbangan kesehatan dan keselamatan anak dan tenaga pengajar dan menjaga agar virus Corona bisa dipersempit ruang geraknya.

Melihat situasi seperti ini, Ikatan Guru Indonesia Kabupaten Flores Timur mengajak semua pihak bergandengan tangan mengadakan pembelajaran secara online, pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif melalui aplikasi Zoom meeting, tidak hanya bagi siswa, para guru pun diberi kesempatan untuk belajar bersama, saling berbagi, saling bertukar informasi secara daring dengan menghadirkan narasumber dalam diskusi online (webinar) atau web seminar online.

Webinar seri 2 dihelat pada Kamis,7 Mei 2020 pada pukul 10.00 WITA, melibatkan partisipan sebayak 65 peserta terdiri dari guru, dosen, pemerhati pendidikan, dan Kepala Dinas PKO Kabupaten Flores Timur sebagai salah satu narasumber.

Sekretaris IGI Flotim bertindak sebagai host didampingi beberapa pengurus IGI sebagai Co Host. Perbincangan online sangat menarik dengan tema “Pengenalan aplikasi zoom dan pemanfaatannya dalam pembelajaran online”. Turut hadir salah satu narasumber, seorang dosen cerdas berpengalaman asal Flores Timur yang mengabdi pada Universitas Negeri Mataram, Aurelius Teluma.

Banyak hal yang diperoleh dari kegiatan ini. Bernad B. Keda selaku Kadis Pendidkan, Kebudayaan dan Olahraga (PKO), begitu setia menemani para guru selama video conference (vicon) ,beliau menyampaikan pesan kepada bapak ibu guru pendidik agar benar-benar memanfaatkan peluang yang ada sekarang, harus bisa menjawab tantangan pembelajaran online dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang akan datang.

“Sebagai seorang guru yang profesional harus selalu memperkaya diri dengan berbagai informasi dan pengetahuan baru. Jangan menjadi guru zaman kuno (old), tapi harus menjadi guru zaman now yang tentunya tidak gagap teknologi (gaptek),”imbaunya.

Memang benar yang dikatakan para pakar pendidikan bahwa teknologi dunia pendidikan semodern apa pun tetap tidak bisa menggantikan posisi sejati para guru.

Guru tetap menjadi pelaku utama pendidikan, namun para guru pun tidak boleh ketinggalan informasi, tidak boleh kalah dari siswa dalam menggunakan media untuk menunjang pembelajaran.

Terima kasih rekan-rekan pengurus IGI Kabupaten Flores Timur yang telah membuka ruang bagi guru-guru untuk dapat berbagi melalui aplikasi Zoom dengan Program Webinar Edukasi Flores Timur. Kami menanti Vicon berikutnya.
Share and growing together with IGI. (*)

Penulis dan foto (*/Helmy Tukan)
Editor (+rony banase)

Awan Berarak di Tengah Pandemi

631 Views

Awan Berarak di Tengah Pandemi

Oleh Helmy Tukan, S.Pd

Awan berarak mengejar pelangi tadi sore. Angin meniup dedaunan hijau berhias titik-titik air hujan yang mengguyur basah desaku. Aku tediam menatap pelangi yang tampil mempesona di sela-sela awan kelabu meski samar terlihat namun indahnya mampu menenangkan kalbu yang dilanda kegalauan karena si Nona Corona Virus. Ah…entahlah, aku menyapanya Nona Corona.

Sebuah nama yang indah meski ia hanyalah virus yang mematikan. Hari -hari di awal April begitu merayu diri membelai jiwa pada April tahun kemarin. Namun, apa mau dikata dengan April tahun ini, amat sangat berbeda dan mungkin menjadi sebuah hal yang langka dan fenomenal.

Masa prapaskah yang sunyi semakin sepi ditemani cerita-cerita tentang Virus Corona, tak lagi kudengar cerita tentang ramainya Kota Larantuka menjelang perayaan Semana Santa. Tak lagi terdengar suara-suara orang di ujung kampung melakukan latihan kor perayaan-perayaan suci selama masa paskah, bahkan kini aroma kemenyan dalam Gereja tak lagi tercium, lilin-lilin duka Yesus pada Upacara Lamentasi tak kulihat lagi secara langsung.

Duka hati kian menusuk titik -titik air mati, kian mengaliri wajah sendu ini, dan kini, layar androidku menjadi altar Tuhan, dinding bambu rumahku menjadi tembok bangunan gereja kecilku, lilin kecil di rumah, bunga melati di halaman rumah menjadi penghias di altar kecil rumahku.

Layar hp android hasil keringat suami menjadi andalan bagi kami mengikuti perayaan demi perayaan selama masa-masa sulit ini. Aku terdiam menatap bisu sunyi alam desaku, Waibalun sebuah kampung unik di ujung Kota Reinha Larantuka, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat budaya warisan leluhur dan aku bangga akan hal itu.

Kota Reinha di Larantuka Kabupaten Flores Timur, Foto Istimewa

Sore itu, kembali aku mengenang kisah masa kecilku bersama nenek tercinta yang kini telah tiada. Sang nenek merupakan salah satu tokoh adat di Waibalun yang sangat aku sayangi. Darinya aku belajar banyak hal; darinya aku belajar bagaimana menghormati dan menghargai sesama entah dia itu berlaku baik atau pun tak baik dan yang utama tentunya cinta kasih pada sesama.

Kembali aku teringat cerita nenek ketika beliau masih kecil di desa yang masih sangat terbelakang kala itu yang bernama Waibalun, Ya..kampungku tentunya. Masa kecil nenek dihiasi dengan berjuta peristiwa kelabu, masa yang lebih sulit dari masa kita kini tentunya. Untuk makan saja susah, sekolah apalagi juga kehidupan beragama pun dilarang, miris bukan? Itulah fakta yang terjadi kala itu. Namun, karena kegigihan sang buyutku, nenek akhirnya bisa bersekolah dan akirnya menjadi guru agama.

Masa-masa sulit dilalui nenek beserta keluarga, menyusuri pelosok Tanah Lamaholot mewartakan sabda Tuhan, banyak rintangan harus dihadapi, banyak kerikil tajam bahkan duri jalanan yang kian menganga, kadang nenek harus melakukan ajaran secara rahasia; kadang nenek dan seisi kampung harus menerima Komuni Kudus secara sembunyi-sembunyi. Tak jauh beda kah dengan hal yang kita alami sekarang?

Ketika itu, nenek bersama orang-orang di zamannya mengalami masa di mana iman mereka diuji dan pengorbanan harus mereka lakukan hanya untuk sebuah nama yaitu Tuhan Yesus. Ketika itu, sang nenek berusaha menanamkan benih iman ke hati setiap orang, nenek berusaha melakukannya di tengah sulitnya masa di mana para penjajah pun mengonyak-ngoyak Bumi Pertiwi Indonesia.

Nenek dan beberapa teman gurunya mencoba masuk ke dalam hati setiap orang dengan siraman rohani, mencoba merintis dan menyebarkan pengajaran Agama Katolik di kawasan Flores dan aku sangat bangga padanya. Messki nenek harus menanggung segala duka akibat pengajarannya itu, rumah nenek harus dibakar dan nenek beserta keluarga dikejar oleh penjajah di Tanah Lomblen atau yang sekarang bernama Pulau Lembata, dan itu fakta !

Rumah Adat Waibalun

Anganku melayang jauh, tetes air mata jatuh membayangkan wajah tuanya kala itu, dengan semangat nenek bercerita walau kadang tertatih kata demi kata ia ucapkan hanya untuk dapat didengar cucu tersayang. Aku pun membandingkan dua hal ini, cerita masa lalu nenek di saat menjadi guru agama, menyebarkan Agama Katolik di tanah Lamaholot dan kisah kita sekarang, di tengah badai Virus Corona; mampukah kita bertekun dalam doa bersabar dalam cobaan?

Mampukah kita mempertahankan iman yang telah diperjuangkan oleh pendahulu kita pada masa lalu, ataukah kita hanya mampu menjadi onak duri dan kerikil tajam bagi sesama. Mampukah kita menjadikan hati kita altar suci bagi Tuhan? Meski, harus kita jalani sosial distance bahkan mungkin lock down. Apakah kita sanggup menjadi pewarta sabdaNya? Menjalankan hukum cinta kasih bagi sesama yang terkena dampak mewabahnya virus corona, seperti si tukang ojek, para sopir, pedagang kecil di pasar ataupun buruh-buruh di pelabuhan .

Sanggupkah kita menjadi Dewa dan Dewi penolong bagi kaum lemah dan terpinggirkan?

Di akir tulisan ini, aku hanya mau menyampaikan bahwa sesulit apapun situasi hidup kita, seberat apapun salib yang kita pikul saat ini karena Virus Corona maupun karena masalah hidup lainnya, kita hanya berharap pada Tuhan. Masa kita kini adalah masa di mana iman kita akan selalu dicoba.

Yesus hanya mau memberi peringatan kepada kita tentang Makna Cinta kasih yang semakin hari semakin tidak kita jalani. Kita hanya mau mencintai diri kita saja tanpa memandang sesama sedangkan di sana banyak orang lemah yang kurang beruntung dari kita yang mungkin lebih takut akan rasa laparnya hari ini dan esok apakah dapat makan atau tidak hanya karena dampak dari sosial distancing dan kehilangan sumber pendapatan.

Mari bersama kita saling peduli dengan menjadikan hati kita Altar Tuhan yang sesungguhnya di rumah kita masing-masing, dengan demikian kita semakin memaknai Cinta Kasih di manapun, kapanpun, kepada siapapun entah itu sahabat maupun musuh.(*)

Waibalun, Jumat, 10 April 2020

Selamat Paskah, Tetap diam di rumah (stay at home)

*/ Penulis merupakan Guru dan Pegiat Literasi, Pengurus IGI Flotim dan Ketua PKBM Watogokok Waibalun, Flotim, NTT

Pesona Alam Pantai Shafar Lamakera

634 Views

Flotim-NTT, Garda Indonesia | ‘Solor batu banyak, makan batu berak jagung’, Sebuah julukan lama yang selalu kuingat hingga kini. Julukan yang mendalam dan penuh makna. Solor nan eksotis tampil cantik diantara gugusan pulau-pulau di wilayah perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Pulau Solor masuk dalam Kabupaten Flores Timur dan dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah kecamatan.

Kali ini aku dan teman-teman yang tergabung dalam Ikatan Guru Indonesia (IGI) menuju ke arah timur Pulau Solor, tepatnya di Desa Watobuku, Lamakera.

Sebuah desa yang memiliki pantai yang unik. Pantai indah dengan riak ombak yang romantis memecah di kesunyian Desa Watobuku, pantai dengan barisan batu karang berwarna hitam pekat, berpasir putih dan yang menarik bagiku adalah deretan bebatuan alam yang menghiasi bibir pantai hingga ke bukit di dekat pantai

Salah satu susunan batu di Pantai Shafar di Desa Watobuku

Susunan bebatuan alam seolah membentuk pasukan penjaga pantai alami. Susunan batuan ini berbaris bersama ilalang yang menghiasi tepiannya, rerumputan alam yang hadir menemani barisan hitam penjaga pantai eksotis ini.

Aku terdecak kagum, tak henti-hentinya aku memuji alam indah yang membuatku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama; benar-benar lukisan alam yang mempesona

Pantai yang berada di Desa Watobuku ini, diberi nama khusus oleh warga setempat dengan nama Pantai Shafar

Hmhmhm….mungkin aneh kedengaran di telinga anda, juga aneh nama itu bagiku. Aku penasaran kenapa dinamakan Shafar? Kenapa bukan yang lain? Sebab setahuku, Shafar adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan Tahun Hijriah Umat Muslim [Shofar (KBBI: Safar Sa.far n – bulan ke-2 Tahun Hijriah (29 hari)]

Menarik bukan? Nama bulan di tahun hijriah, dijadikan nama pantai alam yang eksotis di Desa Watobuku,Lamakera.

Hal ini tentunya punya cerita tersendiri dan sudah menjadi tradisi masyarakat setempat untuk melakukan mandi massal setahun sekali yang terjadi di pantai ini; semua warga tanpa kecuali diwajibkan untuk mandi di pantai ini pada Bulan Shofar (Bulan Februari) yang terjadi setahun sekali

Semua warga yang sebagian besar beragama Islam melakukan mandi shafar, selain warga yang beragama muslim diperkenankan turut mengambil bagian dalam acara tahunan ini

Wow…menarik bukan? Peristiwa yang sudah menjadi tradisi Masyarakat Muslim setempat mewajibkan umat dan warganya untuk mandi shafar; mandi shafar merupakan kegiatan mandi suci yakni membuang segala hal buruk dari dalam diri umat yang melakukannya

Mandi Shafar harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan kepercayaan penuh bahwa sebagai umat beriman, kita tak luput dari segala salah dan dosa; untuk itu perlu melakukan mandi shafar karena umat dan Masyarakat Muslim di Lamakera percaya penuh akan tradisi ini. Mereka percaya akan pengampunan dari Tuhan atas segala dosa mereka melalui Mandi Shafar dan tentunya Imam Masjid setempat mengawali kegiatan ini dengan doa.

Panorama Pantai Shafar nan eksotis

Hmhmhm….Pantai Shafar menyimpan kisah indah. Pesonanya membuatku jatuh dan jatuh cinta pada alam Pulau Solor. Ekosistem lautnya yang masih perawan bak gadis cantik menebar berjuta pesona. Lekukan bukit dan onggokan bebatuan alam memikat hati..riak-riak sajak di Laut Solor, terus menggoda hasrat ingin kembali lagi.

Pantai Shafar,menyimpan cerita, pesona alam dan tentunya ada nilai kerohanian yang lahir di balik canda dan riuh burung camar penghuni Alam Watobuku.

Solor batu banyak kataku, mungkin katamu juga. Solor batu banyak, menyimpan sejuta lokasi wisata indah yang belum terjamah. Alam yang indah berhiaskan bebatuan hitam pekat, membuatku selalu bersyukur akan Anugerah Tuhan.

Di timur jauh, bergugus pulau-pulau indah. Di timur jauh nampak permata-permata surga yang masih tersembunyi. Indah nian tanahku, mari kita jaga dan rawat demi masa depan kita bersama

Solor, Andai kata alammu dapat terjamah tangan-tangan terampil yang bijaksana, kuyakin pulau akan semakin terkenal oleh masyarakat luas. Semoga pesonamu mampu menggetarkan anak-anak tanahmu untuk dapat mengelolah indahmu. Dan, kuyakin bisa! (*)

Penulis (*/Helmy Tukan – Guru dan Pegiat Literasi di Flores Timur)
Editor (+rony banase)

Halal Bihalal IGI Flotim, Rayakan Hari Nan Fitri 1440 H

420 Views

Lamakera-Flotim, Garda Indonesia | Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Flores Timur menghelat lebaran bersama di Lamakera, Kamis, 6 Juni 2019; di rumah Rugaya Salem, S.Ag., Bendahara IGI Flotim periode 2018—2023

Dimulai pukul 14.00—17.00 WITA, Halal Bihalal IGI Flotim sebagai sarana untuk bersilaturahim antar sesama pengurus dan anggota IGI Flotim agar tercipta rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai keberagaman agama; dengan mengambil tema “Momentum Hari Nan Fitri, Tebarkan Silaturahim, Pupuk Rasa Persatuan dalam Bingkai Keragaman Agama antar- Sesama Guru Flotim”.

Kamsudin Ridwan, M.Pd., dalam ceramah singkatnya menyampaikan tentang tradisi umat Islam di Indonesia yang diwariskan secara turun temurun untuk melaksanakan acara halal bihalal usai Shalat Idul Fitri.

“Istilah lain dari halal bihalal itu sendiri adalah silaturahim yang diwujudkan dalam bentuk saling maaf memaafkan diantara sesama. Bukan sebatas tradisi belaka namun Islam sebagai agama juga sangat menganjurkan betapa pentinnya bersilaturahmi dalam rangka menciptakan rasa persatuan dan kesatuan sesama umat manusia”, tutur Kamsudin

Makna silaturahim, menurut Kamsudin merupakan bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa Arab
“Silaturahim terdiri dari dua kata, yakni kata silah dan rahim. Silah berarti menyambungkan dan rahim artinya kasih sayang. Sehingga dengan demikian kata silaturahim mengandung makna saling mengasihi dan menyayangi antara sesama”, ungkap Kamsudin dengan penuh semangat

Masih menurut Kamsudin, Islam sebagai agama yang diturunkan Allah SWT ke bumi dengan membawa misi yang mulia, yakni sebagai rahmat bagi seluruh alam

“Ini artinya bahwa Islam adalah agama yang penuh rahmat, menebarkan kasih sayang untuk seluruh alam. Maka sangat ironis jika Islam disebut sebagai teroris, seolah-olah bahwa Islam itu identik dengan teroris, pada hal tidak demikian. Islam sangat melarang melakukan tindakan teror terhadap sesama manusia. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang benar tentang ajaran agama yang kita anut, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir”, terangnya

Sebelum mengakhiri ceramahnya, Kamsudin juga menyinggung tentang saling maaf memaafkan. Ia mengatakan bahwa saling maaf memaafkan merupakan ibadah sosial yang dianjurkan oleh agama

“Jika puasa merupakan ibadah yang bersifat individual, yang berhubungan langsung dengan Allah SWT, sedangkan saling maaf memaafkan merupakan ibadah sosial yang berhubungan dengan sesama manusia”, pungkasnya. (*)

Penulis (*/Kamsudin Ridwan, M.Pd.-Wakil Ketua IGI Flores Timur)
Editor (+rony banase)

Hai Perempuanku

391 Views

Waibalun-Flotim, Garda Indonesia | Seuntai refleksi perjalanan hidup sosok perempuan tangguh dengan konsistensi mempertahankan budaya tenun di Waibulan Kabupaten Flores Timur (Flotim) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Refleksi ini ditulis oleh Helmy Tukan,S.Pd., yang berprofesi sebagai guru di SDI Waibalun, selain sebagai pendidik, Helmy aktif sebagai pegiat literasi, dan pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Flotim.

Hai perempuanku,…urailah benang, tenunlah menjadi selembar sarung gapailah segala asamu di setiap masa kehidupanmu,.sulamlah benang-benang kasih dan jalinlah untaian mutiara hidupmu agar semakin bermakna bagimu dan sesama.

Itulah sepenggal sajak lepas yang kugoreskan di awal pagi ini. Pagi kusambut dengan seulas senyum penuh harap yang membias bersama sinar mentari yang hadir dari balik jendela kamar dan rumahku yang berada di kaki Gunung Ile Mandiri. Gunung tangguh pelindung kampungku, Waibalun.

Pagi ini sedikit cerah meski semalam diguyur hujan. Aku kembali bangun memulai hari. Membereskan rumah, memasak bagi seluruh isi rumahku dan segera mengurus anak-anak ke sekolah.

Sebut saja aku adalah Ina Kewa. Aku lahir dan dibesarkan di Tanah Lamaholot, Flores Timur. Karena keterbatasan biaya, aku hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah Menengah Atas (SMA). Masa remaja yang indah tidak kudapatkan. Aku harus menelan pil pahit dan salib yang harus kutanggung karena tidak mau mendengar nasehat orang tua.

Aku hamil dan lelaki yang menghamiliku tidak mau bertanggungjawab. Lengkaplah sudah deritaku kala itu. Akupun harus pasrah menerima semua keadaan waktu itu.

Aku jatuh,…aku terpuruk. Semua temanku menertawakanku. Namun aku tak peduli. Bagiku itu adalah masa suramku kala itu.

Hari berganti tahunpun berlalu, Aku dan anakku yang kubesarkan tanpa sosok sang ayah; begitu cerianya ia melihat dunia. Tanpa tahu seperti apa deritaku.

Aku, Ina Kewa perempuan tangguh dari Flores Timur. Aku mewakili sekian ratus kaummu.

Kaum wanita Lamaholot yang sering menjadi kaum tertindas oleh kaum adam, kaum laki-laki.

Hari-hari yang melelahkan selalu aku jalani dengan penuh syukur. Menjadi wanita kepala keluarga bagi keluarga kecilku di kampung.

Berbagai pekerjaan sudah aku jalani. Mulai dari menjadi petani, penjual ikan, penjual kue, mencari kayu bakar, meniti jagung dan menenun.

Keseharian sebagai bapak dan ibu bagi anakku kujalani dengan sukacita walau kadang dihiasi dengan tangis airmata.

Hidup adalah perjuangan, itu adalah motto hidupku.

Aku tak mau menjadi beban bagi orangtuaku. Apalagi semakin hari mereka semakin tua, biarlah aku yang menjadi tulang punggung keluarga ini.
Ya… Aku, anakku, ayah dan juga ibuku. Aku harus menjadi anak yang berbakti..biar dalam perjalanan hidup ini, aku memikul salib berat karena ulahku sendiri. Memiliki anak namun tak bersuami.

Aku, Ina Kewa si perempuan tangguh. Tanah kelahiranku bukanlah tanah yang subur. Curah hujan dalam setahunpun tak sama banyak dengan yang dialami di daerah di Pulau Jawa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Alam Flores yang kering namun menampilkan kesan eksotis. Gugusan pulau yang membentang diantara lautan membiru menambah indah panorama nusaku. Flores Island, Nusa bungaku. Biarpun kering namun Tuhan tak membiarkan kami merana, beberapa tanaman tumbuh dengan suburnya di tanah yang kering.

Jagung, kelor, kelapa, dan sorgum tumbuh dengan angkuhnya di tanah kami. Mereka seolah berlomba untuk menampilkan dan memberikan yang terbaik bagi pemilik tanah ini. Termasuk pengabdiannya padaku, Ina Kewa.

Ketika musim jagung tiba, aku dan anakku bersama dengan seisi kampung, kami beramai-ramai memetik jagung di ladang. Cukuplah buat persediaan setahun ini untuk makan dan untuk dijadikan ‘Jagung Titi’

Proses pembuatan Jagung Titi

Sejak kecil kami sudah dilatih bagaimana mengolah jagung menjadi makanan khas yang dinamai Jagung Titi; tentu kalian tahu kenapa dinamai demikian. Jagung setengah tua maupun yang tua, di sangrai terdahulu diatas tungku api dengan menggunakan tembikar dari tanah liat.
Begini proses pembuatannya…kami harus ekstra hati-hati ketika mengambil jagung yang disangrai dari dalam tembikar lalu diletakkan keatas sebuah batu yang pipih berbentuk segiempat atau setengah lingkaran. Lalu sebelah tangan kami mengambil sebuah batu lagi yang lebih kecil ukurannya dan berbentuk pipih. Batu itu yang akan memipihkan jagung titi. Tentunya dibutuhkan kesabaran dalam melakukan pekerjaan ini. Bertarung melawan bara api, dan selalu sabar agar bisa memipihkan jagung.

Peluh keringat bercucuran ketika tiba sang surya jatuh tepat diatas kepala. Waktu telah menunjukkan pukul 12.00 WITA, saatnya makan siang.

Teriknya siang ini menusuk hingga ke pori-pori namun semangat juangku tak pernah padam. Hanya demi membahagiakan anakku. Bagiku anak adalah segalanya. Permata hidupku. Meskipun kehadirannya tak diingini oleh ayahnya yang sekarang entah dimana.

Meski hadirnya menjadi bahan cemoohan dan ejekan orang-orang sekampungku. Aku iklas. Aku terima. Karena aku adalah Ina Kewa, Si Perempuan Tangguh Lamaholot.

Segala cara kulakukan demi membahagiakan anakku yang kini telah memasuki usia sekolah, kini usianya 8 tahun. Ia harus berbahagia bersama teman-teman sebayanya.

Kala itu, ketika selesai makan siang, aku harus membereskan sisa jagung yang kutiti. Sembari sang anak membantu menjemur benang yang sudah kucuci tadi, benang yang akan kupilin, kuurai dan kutenun menjadi selembar sarung khas Lamaholot yang disebut “kwatek” bagi kaum wanita dan “senai “bagi kaum pria.

Sudah 5 tahun aku menekuni pekerjaan ini. Seperti halnya meniti jagung, ternyata menenun juga butuh keuletan khusus. Tidak mudah melakukan pekerjaan ini.

Kadang aku berpikir, sehebat itukah nenek moyang kami, sehingga bisa menjadikan untaian benang asli yang diperoleh dari tanaman kapas dan mengolahnya menjadi selembar sarung khas Lamaholot?…pikiranku melayang dan terlintas ide, untuk tetap mempertahankan kearifan lokal ini.

Jagung titi dan kwatek, adalah warisan budaya yang harus kita lestarikan. Kedua kearifan lokal ini dihasilkan dengan cara yang luar biasa rumit. Perlu kesabaran, keuletan, ketelitian, dan tentunya dengan hati yang gembira ketika kita mengerjakan atau menghasilkannya.

Benang sebelum di pilin, harus dicuci sampai bersih. Benar-benar bersih agar nanti tidak luntur. Ketika mengikat motif perlu hati-hati agar dapat menghasilkan ikatan yang bagus, jika tiba saatnya dicelup kedalam zat pewarna, dapat menimbulkan motif yang indah dan kesannya sempurna.

Harus ada keseimbangan antara air dan pewarna. Agar dapat menghasilkan warna-warna yang indah seindah alam Flores Timur. Seindah pesona Nusa Bunga.

Ketika tiba saatnya, ina atau ibu penenun akan menenun untaian benang-benang indah tadi dalam keragaman warna; proses menenun tidaklah mudah.

Butuh waktu beberapa hari tergantung si penenun. Kadang saya berpikir apakah lebih baik jika ibu penenun dapat menentukan waktu yang lebih cepat, misalnya 1 atau 2 hari selesai?..Namun hal itu tidaklah mudah.

Ibu penenun masih harus membagi waktu antara menenun, meniti jagung, ke kebun dan masih harus membagi waktu untuk kegiatan solidaritas di kampung.

Itulah kami ibu atau ina Lamaholot diantara kesibukan sebagai wanita pekerja dan ibu rumah tangga, kami harus mengambil bagian dalam acara kedukaan, perkawinan, tunangan, permandian anak, pertemuan kumpo kao keluarga, pertemuan di masyarakat desa dan beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang harus dijalani.

Tidak mudah memang, tapi itulah kami. Itulah aku, Ina Kewa, Ian Lamaholot, Ibu Bumi Lamaholot.

Aku Ina Kewa, Ibu Kehidupan,..tanpa aku apalah artinya dirimu tanpa aku matilah segala kehidupan di muka bumi ini. Namun kaumku sering tidak dihargai. Suaraku sering tak didengar.

Dukaku menjadi bahan tertawamu…Aku selalu tegar…Aku selalu berani hadapi dunia yang sombong ini, mungkin jiwaku keras sekeras jagung titi namun pesonaku indah memabukkanmu, seindah sarung tenun yang berwarna-warni.

Aku Ina Lamaholot, mengharapkan perhatian dari kalian, agar kearifan lokal kita ini tetap terjaga. Peluh dan keringatku selalu menghiasi hari-hari hidupku. Hanya untuk memenuhi panggilan sebagai seorang ibu dan penghuni Lewotanah Lamaholot.

Aku hanya bisa berharap semoga kalian bisa mendengar segala harapku. Semoga jagung titi dan kwatek selalu menjadi kearifan lokal Kabupaten Flores Timur. Salamku, Ina Kewa Lamaholot. (*)

Penulis (*/Helmy Tukan,S.Pd)
Editor (+rony banase)