Arsip Tag: julie laiskodat

Tenun Ikat “Merah Putih TTS” dari Dekranasda NTT bagi Presiden Jokowi

3.582 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Menjadi kebanggaan bagi masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tenun ikat asal NTT digunakan oleh Presiden Jokowi. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat asal Sabu Raijua pada Jumat, 14 Agustus 2020, saat menyampaikan pidato di Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2020 dan Pidato Kenegaraan dalam rangka HUT ke-75 Kemerdekaan RI yang dihelat dalam Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/08/17/berbusana-adat-amanatun-tts-presiden-pimpin-upacara-di-istana-merdeka/

Selanjutnya, saat momentum Dirgahayu Ke-75 Kemerdekaan RI, untuk kedua kalinya, Presiden Jokowi yang sangat mencintai masyarakat NTT ini pun kembali menggunakan pakaian adat Nusa Tenggara Timur dan pilihan dari presiden yang telah memimpin Indonesia untuk kedua kalinya ini jatuh kepada Tenun Ikat Berantai Kaif Nunkolo yang dipakai khusus oleh golongan Usif atau Raja di Amanatun, Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S).

Presiden Jokowi pun tampak gagah dengan balutan pakaian tenun Swaparaja Amanatun bernuansa Merah Putih saat menjadi inspektur upacara dalam peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka.

Ketua Dekranasda Provinsi NTT, Julie Laiskodat kepada Garda Indonesia pada Senin, 17 Agustus mengungkapkan mendapat kehormatan dua kali, yang pertama tenun Sabu untuk pidato kepresidenan.

“Kami mencoba memberikan kepada bapak (Presiden Jokowi, red) yang terbaik yaitu pakaian swapraja. Kalau untuk yang kali ini, dua hari yang lalu (Sabtu, 15 Agustus 2020), kami mendapat panggilan dari istana bahwa bapak berkenan untuk pakai dari NTT lagi,” urai Pemilik Butik LeVico ini antusias.

Julie Laiskodat (Foto oleh Humas dan Protokol Setda NTT)

Sementara, imbuh Julie Laiskodat, saat tanggal 11 Agustus, dari staf presiden yang menelepon bahwa berkenan untuk memakai pakaian adat dari NTT lagi, jadi dari Dekranasda yang menyiapkan. “Saya terbang langsung dari Kupang bawa langsung ke sini (Jakarta, red), waktu itu saya siapkan Rote dan Sabu. Lalu bapak pilih dari Sabu,” ungkapnya.

Ternyata, Julie menambahkan, pada tanggal 15 Agustus sore, ditelepon lagi bahwa bapak berkenan untuk memakai dari NTT lagi. “Saya hanya punya dua hari untuk mempersiapkan itu. Kali ini, saya tanya kira-kira dari kabupaten mana, tetapi mereka serahkan kepada saya untuk pilih yang terbaik. Jadi, karena tanggal 17, maka saya mengangkat nuansa merah putih. Jadi, kemarin saya memasukkan Malaka dan TTS untuk bapak pilih dan hari ini bapak pilih dari TTS,” bebernya.

Julie Laiskodat berharap melalui Presiden Jokowi sudah mengangkat NTT, maka sudah waktunya masyarakat Nusa Tenggara Timur bersemangat untuk memakai produk lokal khususnya NTT dan terus mengibarkan budaya yang sudah diturunkan oleh nenek moyang.

Istri dari Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) ini pun mengatakan, saat ini Dekranasa sedang membentuk kelompok penenun yang akan bekerja sama dan wajib melibatkan 50% anak muda supaya tradisi menenun tidak punah.

“Sekarang bapak Jokowi sudah memakai tenun NTT, maka anak-anak muda harus lebih bersemangat lagi berkarya melalui tenun NTT kita,” tandasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh BPMI Setpres

Julie Laiskodat Jadi Bunda PAUD, Wagub Josef : Revolusi Bentuk Manusia NTT

805 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi (JNS) mengatakan, untuk membentuk sumber daya manusia NTT yang berkualitas, dibutuhkan upaya luar biasa. Harus dipersiapkan sejak awal sehingga bisa menghasilkan manusia-manusia berkualitas.

“Kita harus melakukan suatu revolusi radikal. Ini harus dilakukan secara serius. Masalah pembentukan sumber daya manusia di NTT tidak bisa kerja dengan cara-cara biasa, tapi dengan cara luar biasa. Mengubah manusia NTT butuh inovasi terus-menerus,” jelas Wagub Nae Soi saat memberikan sambutan pada Pengukuhan Julie Sutrisno Laiskodat sebagai Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Provinsi NTT di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, pada Jumat, 7 Agustus 2020.

Mengutip pendapat psikolog besar Sigmund Freud tentang peranan alam bawah sadar yang sangat besar, Wagub JNS menekankan, mengubah karakter seseorang tidak mudah. Namun kalau hal ini dilakukan sejak dini, lebih khusus sejak dalam kandungan, maka akan menghasilkan kualitas manusia yang mumpuni.

“Mengubah orang harus dilakukan sejak usia dini bahkan harus dibentuk sejak dalam kandungan. Tak heran, bila ibu-ibu yang mengandung sering mengusap-usap kandungannya dan berbicara dengan janin sejak usia tiga bulan untuk membentuk alam bawah sadar anaknya,” jelas Wagub.

Lebih lanjut pria asal Ngada itu menyatakan, peranan PAUD dalam membentuk dan memberi warna pada karakter anak sangatlah vital. Pendidikan harus dilakukan secara sadar dan terus-menerus dengan lakukan bimbingan, pengajaran dan latihan sehingga anak-anak bisa memiliki spiritualitas, akhlak dan kompetensi sejak kecil.

“Minimal ada enam karakter yang bisa dibentuk sejak PAUD yakni kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan. Dan untuk tercapainya hal-hal ini, pendekatan dan hati seorang ibu sangat dibutuhkan,” ungkap Wagub Josef.

Mantan Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM itu, memberikan apresiasi dan penghargaan besar terhadap apa yang telah dilakukan oleh tim penggerak PKK dan para Bunda PAUD di Provinsi dan Kabupaten/Kota se-NTT untuk menghasilkan generasi NTT yang lebih bermutu ke depannya.

“Ke depan, saya minta teman-teman di perangkat daerah agar cukup jadi regulator saja. Kita jangan sungkan-sungkan kolaborasi dengan PKK dan para Bunda PAUD karena mereka memiliki cinta lebih dari kita. Cinta dalam arti care atau perhatian, fair atau keadilan, dan shared atau berbagi dengan tulus. Mereka kerja tanpa gaji dan selalu bersama dengan masyarakat dan anak-anak,” pungkas Wagub Nae Soi.

Foto bersama usai pengukuhan Julie Laiskodat sebagai Bunda PAUD NTT

Sementara itu, Bunda PAUD NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan, selama dua tahun PKK NTT telah menjalankan tugas untuk mengembangkan PAUD. Mengambil bagian dalam semangat membangun NTT dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia.

“Kami, para perempuan dan wanita seluruh NTT ingin membantu pa Gub dan Wagub dalam pengembangan sumber daya manusia. Kita memiliki sekitar 3.236 desa di seluruh NTT, kami sadar belum mampu menjangkau semua. Karenanya kami sepakat memilih 22 desa model PKK selama dua tahun ini. Kami fokus di desa-desa ini. Dan di desa-desa ini, kami punya PAUD model,” kata Juli Sutrisno Laiskodat.

Dikatakan anggota Komisi IV DPR RI itu, cita-citanya sebagai koordinator para Bunda PAUD di NTT adalah mendorong semakin banyaknya PAUD di NTT terakreditasi. Karena menurut data dari UNICEF, di NTT banyak PAUD yang liar dan tidak terakreditasi.

“Para orang tua umumnya berpikir PAUD hanya sebagai tempat penitipan anak. Padahal pendidikan harusnya dimulai dari masa ini. Di desa model, kami mengedukasi para orang tua tentang peranan penting PAUD sebagai tempat dimulainya dasar pembentukan sumber daya manusia,” jelas ketua Dekranasda tersebut.

Dalam kesempatan itu, Julie Sutrisno mengharapkan dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi NTT untuk peningkatan sarana, prasarana dan alat-alat permainan. Fokus kerja ke depan adalah juga meningkatkan kompetensi dan sertifikasi guru-guru PAUD.

“Para Guru PAUD ini sebagian besar tidak digaji dan dibayar. Hanya karena mereka punya hati untuk mengajar dan berbagi. Karenanya kami meminta Pemerintah Provinsi khususnya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa agar memberikan masukan buat para Kepala Desa untuk memanfaatkan Dana Desa bagi pengembangan PAUD. Juga untuk memberikan insentif kepada para guru PAUD,” pungkas Julie Sutrisno.

Pengukuhan Julie Sutrisno Laiskodat berdasarkan SK Gubernur NTT Nomor 239/KEP/HK/2020. Para Ketua Tim Penggerak PKK/Bunda PAUD Kabupaten/Kota se-NTT mengikuti acara pengukuhan ini secara virtual.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Wakil Ketua PKK NTT, Ibu Maria Fransiska Jogo, Kepala Balai PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) NTT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Maria B. Advensia Salem, Kadis Kesehatan NTT, perwakilan organisasi perempuan, para mitra PAUD dan undangan lainnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Ayo ‘Vote’ Nadia Riwu Kaho Miss Indonesia NTT 2020 !

605 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pada Medio Desember 2019 melalui surat dari RCTI, salah satu anak kebanggaan Provinsi Nusa Tenggara Timur berhasil lolos seleksi pemilihan Miss Indonesia 2020, Nadia Riwu Kaho, anak kedua dari empat bersaudara, buah hati dari Uly Riwu Kaho dan Roska Riwu Kaho.

Kini, pemilik nama lengkap Tengah Araminta Nadia Riwu Kaho yang dinobatkan sebagai Miss NTT 2019 telah berangkat ke Jakarta pada 5 Februari 2020 untuk menjalani karantina dan persiapan mengikuti rentetan Miss Indonesia 2020 dari tanggal 7—20 Februari 2020 dan bakal mengharumkan nama Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Demikian informasi yang disampaikan orang tua dari Uly Riwu Kaho (ayah Nadia Riwu Kaho, red) pada Rabu, 12 Februari 2020 pukul 17.00 WITA kepada awak media. “Sesuai kesepakatan dengan Pihak RCTI sebelum dilakukan Konferensi Pers pada Rabu, 12 Februari 2020 siang maka kami tidak boleh merilis informasi ini, namun sekarang kita boleh menyebarkan informasi dan meminta partisipasi dari teman, saudara, dan masyarakat NTT untuk mendukung Nadia,” ujar Wakil Rektor III UPG 1945 NTT ini yang didampingi istri tercinta.

Nadia Riwu Kaho dalam sesi konferensi pers yang dihelat oleh RCTI

“Kami berbangga karena dari 5 (lima) kontestan Miss Indonesia 2020 yang mengikuti sesi Konferensi Pers yang diselenggarakan pihak RCTI, Wakil NTT Nadia Riwu Kaho menjadi bagian dari itu dan apa yang telah dijalankan Nadia memenuhi standar yang disiapkan oleh penyelenggara,” imbuh Uly.

Nadia Riwu Kaho, Mahasiswi Fakultas FKM Prodi Psikologi Semester IV di Universitas Nusa Cendana (Undana) ini juga mendapatkan atensi penuh dari Ketua Penggerak PKK NTT, Ibu Julie Sutrisno Laiskodat. Pemilik LeVico Butik ini juga memberikan atensi atas semua keperluan Nadia Riwu Kaho selama menjalani karantina.

Julie Sutrisno Laiskodat, istri dari Gubernur NTT Viktor Laiskodat, menurut Uly, tidak tanggung memberikan dukungan kepada Nadia. “Pemilihan busana bahkan sepatu diurus oleh Ibu Julie Laiskodat,” ungkap Uly.

Nadia Riwu Kaho dalam balutan busana LeVico Butik dari Ibu Julie Laiskodat

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui Ibu Gubernur NTT, Julie Sutrisno Laiskodat sangat mendukung, beber Uly. “Termasuk bantuan dan dukungan dari Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), BPR Christa Jaya, BPR Pitoby, dan semua pihak yang tak bisa kami sebutkan satu per satu,” ucap Uly seraya menyampaikan bahwa Talent Challenges bakal ditampilkan Nadia Riwu Kaho merupakan bentuk dukungan semua pihak.

Nadia Riwu Kaho, anak asli NTT kelahiran Kupang, 7 April 2000 akan berkompetisi dan membuat bangga seluruh masyarakat Nusa Terindah Toleransi (NTT) ini. “Kita memohon doa dan dukungan seluruh masyarakat NTT untuk mendukung Nadia Riwu Kaho yang sejak lahir hingga kuliah menetap di Nusa Tenggara Timur,” pinta Uly.

Dukungan voting dapat dilakukan dengan cara mengunggah aplikasi RCTI+ di appstore dan playstore kemudian memberikan dukungan dengan cara klik pada foto Nadia Riwu Kaho (nomor 23).

Ayo masyarakat NTT, bersama kita jadikan Nadia Riwu Kaho sebagai Miss Indonesia 2020 !

Penulis dan editor (+rony banase)

‘Got Top 5 Best Talent’ Ayo Vote! Clarita Salem Jadi Putri Pariwisata Indonesia

686 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Menjadi kebanggaan masyarakat NTT jika salah satu peserta asal NTT dapat meraih gelar dalam ajang Putri Pariwisata Indonesia; Clarita Mawarni Salem—Putri Pariwisata NTT 2019, kini menjalani karantina sejak 31 Agustus—6 September 2019 dan siap dan tengah berjuang mengharumkan nama NTT.

Saat dihubungi via pesan Whatsapp pada Kamis, 5 September 2019 pukul 11:19 WITA, Clarita Mawarni Salem menyampaikan telah menggapai ‘Top 5 Best Talent’ dan saat ini sedang menyiapkan diri menghadapi sesi wawancara.

Saat ditanya Garda Indonesia apa yang dipersiapkan oleh putri asal Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), buah hati dari pasangan Germanius Salem dan Yuliana Jumaroh ini mengatakan telah mempersiapkan mental mengahadapi perhelatan Grand Final Pemilihan Puteri Pariwisata Indonesia pada Jumat, 6 September 2019.

“Saya telah siap mental untuk hadapi sesi wawancara dan dalam ajang besok (Jumat,6/09/19),” ujar perempuan yang lahir di Perawang, 13 Desember 2001.

Pose bersama Clarita Mawarni Salem, Putri Pariwisata NTT 2019 dan Tim Penggerak PKK NTT dan Dekranasda NTT

Sebelumnya pada akhir Agustus 2019 di Gedung PKK Provinsi NTT, usai pemaparan materi pariwisata dan unjuk kebolehan (Talent Show) Sasando dihadapan Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Ibu Julie Sutrisno Laiskodat; Clarita Mawarni Salem menyampaikan telah mempersiapkan mental, materi dan public speaking.

“Selain itu, saya juga telah mempersiapkan perlengkapan dan saya yakin Tuhan akan menyempurnakan persiapan saya dan menang atau kalah telah diatur Tuhan dan saya akan berikan yang terbaik untuk NTT,” imbuh alumni SMA Katolik Fides Quaerens Intellectum Kefa.

Lanjutnya, “Bunda Julie Laiskodat dari Dekranasda NTT membantu dengan mensponsori Gaun dari LeVico Butik dan bantuan Ibu Megasari dari M2 Enterprise untuk Festival Dress,” ungkap alumni jebolan SD Marsudirini Perawang, Pekanbaru, Provinsi Riau dan SMPK Putri Xaverius Kefamenanu.

Clarita Mawarni Salem, Putri Pariwisata NTT 2019 (busana hiijau) dan Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat

Terpisah, Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat saat diwawancara Garda Indonesia mengatakan dukungan terhadap Clarita Mawarni Salem dari Dekranasda berupa kostum dan talent show.

“Putri Mawar sebagai pemenang Putri Pariwisata NTT, dia presentasi dan pidato di depan kita untuk mempresentasikan tentang pariwisata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dan karena selama ini dinas-dinas jarang duduk bersama maka saya minta mereka (Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pertanian dan Pangan Lokal) membekali Mawar tentang potensi pariwisata, pangan lokal dan budaya tari-tarian.

Julie Laiskodat, Wanita Tangguh yang mengharumkan nama NTT di tingkat internasional dengan ajang peragaan busana Tenun NTT ini memberikan apresiasi tinggi dan menyatakan kita tidak salah memilih dia untuk mewakili NTT.

“Luar biasa, dia (Clarita Mawarni Salem, red) memiliki intonasi suara yang bagus, mimik wajah cantik dan elegan dan dia cerdas!,” ungkap istri Gubernur NTT Viktor Laiskodat ini dengan bersemangat.

Ayo masyarakat NTT bersama kita dukung Clarita Mawarni Salem menjadi Putri Pariwisata Indonesia dengan memberikan dukungan caranya vote di tautan atau link dibawah ini :

https://eljohnpageants.co.id/vote-ppi/

Penulis dan editor (+rony banase)

‘Woven Speech Book’: Tenun sebagai Pengetahuan, Menyurat yang Tersirat

401 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Jes Therik, pria kelahiran Atambua, 14 Juni 1942, kembali menghasilkan karya sebuah buku bertajuk ‘Woven Speech’ yang mengisahkan kekayaan dan beragam karya tenun yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebelumnya di Jakarta, pada tahun 1989, Jes Therik melahirkan Buku perdana tentang tenun yang berjudul ‘Tenun Ikat dari Timur (Ikat In Eastern Archipelago : An Esoteric Beauty of Ancestral Entity) dengan penerbit Pustaka Sinar Harapan.

Foto zaman dahulu, Jes Therik berpose bersama para saudaranya (berdiri di depan nomor ketiga dari kiri)

Buku Woven Speech hanya diterjemahkan dalam Bahasa Inggris setebal 320 halaman dan diterbitkan oleh PT. Selaras Bintang Media ini dibandrol dengan harga Rp.1,5 juta rupiah, diluncurkan ke publik pada Sabtu, 31 Agustus 2019 pukul 19.00 WITA—selesai di Restoran Nelayan Kupang.

Jes Therik dan istrinya bersama karya buku Woven Speech saat peluncuran, Sabtu, 31 Agustus 2019 di Restoran Nelayan Kupang

Peluncuran buku Woven Speech dihadiri oleh mantan Wakil Gubernur NTT, Esthon Funay; Kadis Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dr. Wayan Dharmawa; Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat; Dr. Eben Nuban Timo; dan tamu undangan lainnya.

Jes Therik, isteri dan dua anaknya, berpose bersama Julie Sutrisno Laiskodat (memegang buku Woven Speech) dan Mantab Wagub NTT, Esthon Funay (memegang buku sambil dibuka)

Jes Therik saat dikonfirmasi oleh pemandu acara, Fera Therik; menyampaikan bahwa karyanya Woven Speech menghabiskan waktu lebih dari 20 (dua puluh) tahun hingga rampung dan dapat diluncurkan. Woven Speech didesain oleh Helmy Therik dan Rio Therik sebagai salah satu translater dan para profesor di Amerika Serikat dari teman Jes Therik.

Pria 73 tahun yang sempat menjabat sebagai Kadis Pendapatan Daerah Provinsi NTT kemudian hijrah ke Jakarta pada Januari 1981 dan menjabat sebagai Kepala Pemerintah Provinsi NTT ini memiliki 3 (tiga) orang anak, 1 perempuan dan 2 laki-laki (anak pertama Bety Therik, kedua Rio Therik dan ketiga Helmy Therik).

Jes Therik saat menuturkan keberagaman tenun ikat Nusa Tenggara Timur, mengatakan bahwa para leluhur menyampaikan pesan-pesan dalam bahasa spiritual secara simbolis melalui media tenunan.

“Aneka lambang di tenun ikat yang terdapat dalam tradisi tiap etnik, tradisi tiap kerajaan, tradisi tiap suku tentunya mengandung makna yang hanya dipahami oleh anggota suku itu sendiri. Karena itu dalam buku Woven Speech terdapat macam-macam etnik,” ungkap Jes Therik sambil bertutur tentunya proses produksi tenun harus terampil dan memakan waktu cukup lama.

“Berawal dari ungkapan simbolik dalam tradisi lisan dalam kebudayaan kita, saya menyurat sesuatu yang tersirat dalam perikehidupan nenek moyang kami semua di Nusa Tenggara Timur dengan menggunakan tenun hias sebagai obyek pengamatan,” ungkapnya mengapa buku Woven Speech ditulis.

“Tenunan bukan sekadar sebuah kegemaran namun sebuah pengetahuan,” jelas Jes Therik dan menyampaikan bahwa tema tenun hias telah menjadi tema para peneliti dan pakar antropologi yang menelusuri tenun dari berbagai sudut.

Foto bersama Keluarga Besar Jes Therik

Selain itu, menurut Jes Therik, seorang wanita akan disebut sebagai wanita idaman di kampung jika dia pandai menenun. “Jika pandai menenun, sang wanita akan berbicara kepada keluarganya bahwa dirinya bukan anak-anak dan sudah dapat menentukan masa depan dengan menenenun. Menenun merupakan sebuah akta aktualitas bagi dirinya,” bebernya.

Tenunan indah, kata Jes Therik, dapat meningkatkan martabat pemakainya. “Maka, pakailah tenun yang indah sebagai koleksi fashion zaman now,” pintanya dan menyampaikan

Kepada Garda Indonesia, Jes Therik juga menyampaikan pesan moral untuk bekerja dengan baik dan sepenuh hati maka produk akan mewangi seperti mawar bukan dengan paksaan dan bukan karena kebutuhan akan uang, semua orang memang membutuhkan uang tetapi dikerjakan dengan hasrat yang baik maka akan peroleh hasil maksimal (Action speaks louder than words).

Julie Sutrisno Laiskodat (berbaju putih dan bersarung tenun) berswafoto dengan Keluarga Besar Jes Therik

Sementara itu, Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan bahwa tenun NTT mempunyai nilai yang luar biasa dan menyampaikan bahwa Pemprov NTT akan membantu biaya cetak buku dalam Bahasa Indonesia.

“Saya bangga sekali dapat hadir di sini dan menyampaikan permohonan maaf karena Pak Viktor Laiskodat tidak dapat hadir karena harus memenuhi panggilan Presiden Jokowi. Karena itu, saya mohon Bapa Jes Therik untuk menandatangani buku Woven Speech untuk saya serahkan ke beliau,” ujar Ketua Dekranasda NTT yang mengenakan balutan tenunan.

Julie Laiskodat juga memaparkan bahwa tidak ada di dunia ini yang memiliki budaya sekaya Nusa Tenggara Timur, Alor memiliki 54 bahasa daerah, Timor Tengah Selatan memiliki 147 motif tenun dan masih banyak kaya ragam budaya daerah lain.

“Tetapi sedihnya banyak orang yang tidak mengetahui sejarah atau cerita dari budaya NTT,” ungkap Pemilik Butik Tenun LeVico di Jakarta.

Julie Laiskodat juga berkata telah berupaya mencari berbagai informasi tentang kekayaan budaya tenun ikat. “Saya sempat bersungut dan waspada karena ilmu kurang tentang tenun ikat namun saya bersyukur karena hari ini ada buku Woven Speech yang dapat membekali saya saat perang di luar negeri,” tutur isteri Gubernur NTT Viktor Laiskodat yang aktif mempromosikan Tenun NTT ke luar negeri.

“Malam ini Pemprov NTT akan mengambil 50 (lima puluh) buku Woven Speech dan meminta Bapa Jes Therik untuk menerbitkan dalam Bahasa Indonesia,” tandas Julie Sutrisno Laiskodat.

Penulis dan editor (+rony banase)

Beda & Spektakuler!, Pemilihan Puteri Tenun NTT dan ‘TCP Fashion Fest 2019’

250 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ajang Pemilihan Puteri Tenun NTT Tahun 2019 memang benar-benar berbeda dari biasanya. Pada tahun-tahun sebelumnya, ajang pemilihan dilaksanakan di hotel-hotel berbintang di Kota Kupang. Namun di tahun 2019, dibawah arahan Ketua Dekranasda NTT, Ibu Julie Sutrisno Laiskodat, ajang ini dilaksanakan di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT.

Digelar pada Jumat, 21 Juni 2019 pukul 19:00—22:00 WITA yang ditutup dengan terpilihnya Putri Tenun Asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Itha Tafuli sebagai Putri Tenun NTT 2019; atmosfir mewah dan mentereng terpancar saat memasuki lokasi di dalam Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT. Balutan kain hitam menutupi seluruh tembok dan didukung stage (panggung), ligthing (pencahayaan) dan audio visual dari Event Organizer M2 Reborn membuat suasana di dalam menjadi layaknya suasana fashion show kelas nasional bahkan internasional.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/06/22/valencia-wong-flobamore-support-ajang-tcp-fashion-fest-2019/

Didukung hasil kreasi Tenun Padu Padan dari Erwin Yuan (Timor Creative People), Flobamore by Kathy Louis & Louis ArtShop by Paultje Louis; Nira Collection by Dicky Toelle; Sherly Manutede (SM) Collection dan tentunya LeVico kepunyaan Bunda Julie Laiskodat; menjadikan aura dan ruh Ajang Pemilihan Puteri Tenun NTT 2019 dan Fashion Fest dengan mengusung tema ‘Tenun Entitas NTT’ menjadi berkelas.

Penampilan memukau dari J & D Jebolan Rising Star Indonesia 2019

Yang menarik dan spektakuler, peragaan busana tersebut karena memadukan penampilan model-model TCP dan Fashion dari tiga golongan generasi yakni dari fashion anak, fashion remaja dan fashion dewasa (bapak dan ibu) dan didukung alunan musik menghentak dan memukau dari H2K Rapper dan R & D (Risal Masae dan Daniel Nepa) Jebolan Rising Star Indonesia 2019 asal NTT.

Kepada Garda Indonesia (Sabtu, 22 Juni 2019 pukul 20:40 WITA) saat wawancara eksklusif melalui whatsapp, Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat menyampaikan tentang bedanya kegiatan Pemilihan Putri Tenun NTT yang rutin diadakan setiap tahun oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT dengan ajang tahun 2019

“Bedanya tahun ini (2019) karena berkolaborasi dengan Dekranasda Provinsi NTT”, terang Bunda Julie

“Biasa diselenggarakan di hotel, namun kali ini saya mencoba selenggarakan di Aula Rujab (tempat pemerintah), yangmana biasanya dinilai dan diselenggarakan di hotel berbintang baru dan mewah”, ungkap Isteri Gubernur NTT Viktor Laiskodat ini kepada Garda Indonesia

Penampilan model TCP Fashion Fest 2019

Padahal, lanjut Bunda Julie Laiskodat, Semalam (Jumat, 21/06/19); Aula Rujab di-setting layaknya kelas panggung dan suasana show yang berstandar nasional dan bahkan internasional, ternyata mewah dan bisa kita lakukan dan mengurangi biaya sewa gedung dan bertujuan untuk memaksimalkan aset negara secara optimal

Lebih lanjut, Bunda Julie Laiskodat menegaskan bahwa bagi putri-putri tenun saya wajibkan seluruh Dekranasda Kab/Kota untuk mengirim perwakilan putri-putri potensil dari masing-masing kab/kota karena yang biasanya mungkin hanya lebih banyak peserta dari Kota Kupang saja.

Pose bersama Puteri Tenun NTT dari 22 kab/kota

Saat ditanya mengenai harapan besar terhadap kebanggaan dan kecintaan anak muda terhadap tenun NTT dan kesediaan kab/kota mengirimkan perwakilan Putri Tenun?, Bunda Julie Laiskodat menyampaikan alasannya

“Alasan saya adalah TENUN tidak bisa diwakilkan karena masing-masing daerah memiliki arti dan filosofi tersendiri makanya saya wajibkan semua mengutus perwakilannya”, ujarnya

“Alasan berikut adalah saya mau menggali potensi-potensi para pemuda pemudi kita di daerah yang ada potensinya namun tak mempunyai kesempatan tampil atau menunjukan potensi mereka”, tutup Wanita Tangguh dan Elegan yang selalu tampil dengan balutan tenun padupadan kreasi sendiri dengan trade mark LeVico.

Penulis dan editor (+rony banase)

Julie Laiskodat: “Orang NTT Tak Susah Diajak Kolaborasi Cegah Stunting”

273 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Inisiasi PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mencegah stunting melalui pembentukan Desa Model dan kerja kolaborasi memperoleh dukungan dari OPD lingkup Pemprov NTT, Universitas Indonesia, dan Poltekkes Kemenkes Kupang

Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat kepada Garda Indonesia pada Rabu, 12 Juni 2019 di sela-sela kegiatan Workshop Integrasi Pencegahan Stunting yang dilaksanakan di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT mengatakan bahwa tahu persis setiap dinas tidak berkolaborasi dengan baik

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2019/06/12/pkk-ntt-inisiasi-desa-model-kerja-kolaboratif-pencegahan-stunting/

“Menurut saya pribadi selama ini mereka (Organisasi Perangkat Daerah,red) masing-masing tidak berkolaborasi secara baik. Kalau mau berantas sebuah masalah saya yakin harus bergandeng tangan”, ujar Julie

Lanjutnya, seperti sapu lidi tak bisa hanya satu namun harus segenggam dijadikan satu (keroyokan) untuk bisa menyapu bersih

“Ini gunanya mengapa PKK menjadi jembatan agar ego sektoral masing-masing ditangguhkan untuk mencegah stunting”, tegas isteri Gubernur NTT Viktor Laiskodat

Juli Laiskodat juga berharap PKK dengan caranya sendiri dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak

“Saya melihat bahwa orang NTT tidak susah untuk diajak berkolaborasi hanya tidak tahu chemistry seperti apa”, ungkap Wanita Tangguh yang konsen mengembangkan potensi tenun NTT dan memiliki LeVico Butik di Jakarta

Tim dari Universitas Indonesia dan Poltekkes Kemenkes Kupang berpose bersama Ibu Gubernur dan Wakil Gubernur NTT

Sementara itu, PKK NTT akan bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk mencegah stunting dan memberikan edukasi terhadap para Kader PKK

Prof Dr. Taniawati Supali dari Universitas Indonesia saat diwawancara oleh Garda Indonesia usai memberikan edukasi menyampaikan agar Kader PKK dapat memaksimalkan 4 pokja dan bekerja dengan hati karena masyarakat di NTT haus pelayanan dari petugas kesehatan

“Semua program bagus namun terkadang orang sering menghitung dengan uang. Jadi kita sering bekerja dan tinggal di kampung karena mereka (Orang Desa,red) kalau kita datang pasti sangat welcome (menyambut dengan baik)”, tandas Prof Tania yang pernah mengabdi dan melayani Masyarakat Alor sejak tahun 2000—2011.

Penulis dan editor (+rony banase)

PKK NTT Inisiasi Desa Model & Kerja Kolaboratif Pencegahan Stunting

263 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Upaya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur meminimalisir dan mencegah stunting atau anak kerdil terus dilakukan melalui berbagai program. Upaya tersebut didukung oleh Tim Penggerak PKK NTT dengan melakukan kerja kolaboratif mencegah stunting

Stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun.

Salah satu upaya yang dilakukan PKK NTT dengan memberlakukan dan memberdayakan Desa Model di 22 kabupaten/kota untuk pencegahan stunting di Provinsi NTT yang memiliki 1.192 pulau kecil dan besar dan tersebar di wilayah ini dengan luas daerah sebesar 48.718,10 km2

Diinisiasi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Julie Sutrisno Laiskodat berkolaborasi dengan Universitas Indonesia, Yayasan PLAN International, Balai POM NTT, Dinas Kesehatan NTT, dan instansi terkait untuk bersama mencari formula tepat untuk memberantas stunting yang tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek

Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Julie Sutrisno Laiskodat saat ditemui (Selasa, 11 Juni 2019) dalam Workshop Integrasi Pencegahan Stunting di Tingkat Desa/Kelurahan di Kantor PKK Provinsi NTT pada tanggal 11—13 Juni 2019 menyampaikan ingin memberantas stunting yang menjadi masalah yang bukan hanya di NTT Namun menjadi masalah nasional

“Stunting tidak bisa diberantas dalam jangka pendek dan saya mau adanya desa model untuk memberantas stunting dan gizi buruk dan lintas sektor dapat bergandeng tangan”, ujar Ketua Tim Penggerak PKK NTT

Diskusi kelompok menelaah masalah dan solusi pencegahan stunting

Lanjutnya, saat ini kader-kader PKK dibekali dengan ilmu agar dapat menyampaikan kampanye efektif dan efisien kepada masyarakat.  “Hingga bulan Juni 2019, para Kader PKK dibekali ilmu karena PKK memiliki banyak kader namun kekurangan ilmu”, ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes., mengatakan bahwa NTT perlu banyak orang pintar dan para stakeholder datang untuk bersama mencari model tepat penyelesaian masalah stunting

“Bukan kita kebingungan namun perbedaan sosial budaya di daerah yang memerlukan kajian dan berkolaborasi dengan peran masing-masing di Desa Model pencegahan stunting”, tuturnya

Sedangkan dr Sofia Wangge,Phd., dari Universitas Indonesia menyampaikan bahwa target Bappenas pencegahan stunting di Indonesia harus turun sebesar 2 persen per tahun namun berdasar hasil survei prosentase stunting di NTT masih tinggi dengan prevalensi stunting bayi berusia di bawah lima tahun (balita) mencapai 40,3 persen tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia dan dengan prevalensi stunting nasional sebesar 29,6 persen. [*Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan penurunan prevalensi stunting di tingkat nasional sebesar 6,4% selama periode 5 tahun, yaitu dari 37,2% (2013) menjadi 30,8% (2018)]

“Sebenarnya NTT sudah turun 2 persen per tahun namun angka stunting masih tinggi”, tandasnya.

Penulis dan editor (+rony banase)