Arsip Tag: juru bicara gugus tugas covid kota kupang

Wakil Wali Kota Kupang : PSBB Belum Berlaku di Kota Kupang

3.883 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man menegaskan bahwa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB belum diterapkan di Kota Kupang. Penegasan tersebut disampaikannya dalam sesi konferensi pers bersama awak media pada Jumat, 8 Januari 2021 pukul 12.00 WITA—selesai di ruang rapat Garuda, Kantor Wali Kota Kupang.

Didampingi oleh Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Kupang, Ernest Ludji, Wakil Wali Kota Kupang menyampaikan bahwa Kota Kupang bisa dilaksanakan PSBB jika memenuhi 1 dari 4 kriteria yakni angka kesembuhan, angka kematian, jumlah penderita aktif Covid-19, dan pemakaian rumah sakit.

“Dari 4 (empat) indikator tersebut, Kota Kupang telah memenuhi 2 (dua), namun tidak serta merta dibilang tutup (PSBB, red) karena minggu depan harus berkoordinasi dengan Forkopimda dilanjutkan usulan ke Gubernur NTT dan harus memperoleh izin dari Menteri Kesehatan,” jelas dr. Hermanus Man.

Jika pertimbangan dari tim assesment Kementerian Kesehatan, imbuh dr. Hermanus Man, bahwa Kota Kupang harus ditutup karena kasus Covid-19 sudah sangat meningkat, maka harus ditutup (diberlakukan PSBB, red). “Namun, dengan beberapa ketentuan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti penutupan pasar, mall, mart, dan pusat pembelanjaan hanya hingga pukul 19.00 WITA (7 malam),” tegas Wakil Wali Kota Kupang.

Terkait apakah bakal dikeluarkannya Surat Edaran Wali Kota Kupang tentang pemberlakuan PSBB, dr. Hermanus Man, mengultimatum bahwa tidak langsung dikeluarkan, namun harus perlu dikaji, berkoordinasi, dan membutuhkan izin Menteri Kesehatan.

Wakil Wali Kota Kupang yang juga berprofesi sebagai dokter ini pun kembali menegaskan bahwa pemberitaan di beberapa media massa terkait PSBB yang akan diberlakukan di Kota Kupang tidak benar. “Informasi dari masyarakat terkait PSBB itu tidak benar dan PSBB itu telah berganti nama menjadi pengaturan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang berlaku nasional di Jawa dan Bali pada tanggal 11—25 Januari 2021,” tandasnya.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto utama oleh gery–AFBTV

Ernest Ludji : Tidak Ada Klaster Perbankan di Kota Kupang

2.230 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | “Dapat kami jelaskan terkait pemberitaan di beberapa media, adanya klaster perbankan di Kota Kupang, saya tegaskan bahwa hingga saat ini belum terjadi penularan di perbankan,” tegas Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 Kota Kupang, Ernest Ludji pada Jumat, 2 Oktober 2020 saat diwawancarai TVRI NTT.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/10/02/tepis-berita-klaster-perbankan-ini-penjelasan-resmi-plt-dirut-bank-ntt/

Memang beberapa karyawan/karyawati di dua bank tersebut (Bank NTT dan BRI, red), imbuh Ernest, terpapar dan positif Covid-19. “Tetapi, mereka belum pernah bersentuhan atau berinteraksi dengan teman-teman di kantor, karena setelah pulang dari zona merah, yang bersangkutan langsung melakukan karantina mandiri hingga saat ini,” ungkapnya.

Ernest Ludji juga menegaskan agar masyarakat tidak perlu khawatir melakukan aktivitas di bank selama tetap mematuhi protokol Covid-19 karena dipastikan tidak ada klaster perbankan.

Terkait wacana pembatasan sosial berskala besar (PSBB), imbuh Ernest, memungkinkan dilaksanakan di Kota Kupang. “Kondisi tersebut dapat terjadi, apabila tingkat penularan Covid-19 di Kota Kupang meningkat,” tegasnya.

Selain itu, imbuh Ernest, tingkat ketaatan dan kedisiplinan terhadap penerapan protokol kesehatan. ”Banyak masyarakat yang belum sadar dan disiplin terkait gerakan memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari tempat kerumunan,” ungkapnya.

Apabila terjadi lonjakan kasus Positif Covid-19 signifikan Kota Kupang, tandas Ernest, maka Pemerintah Kota Kupang mengkaji lebih serius lagi tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto (*/istimewa)

Tepis Berita Klaster Perbankan, Ini Penjelasan Resmi Plt. Dirut Bank NTT

1.044 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Selamat pagi Om Ernes (Ernest Ludji, Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Penyebaran Covid-19 Kota Kupang, red)… terima kasih infonya tentang penyebaran dan data paparan Covid-19 di Kota Kupang, memang betul ada 1 pegawai dari Kantor Cabang Khusus (KCK) yang positif Covid, pelaku perjalanan dari Bali 2 minggu yang lalu, dia mengantar suaminya melanjutkan pendidikan dokter spesialis dan setelah pulang dari Bali belum masuk kantor, karena saya langsung perintahkan Kepala KCK untuk dilakukan karantina mandiri selama 2 minggu,” demikian urai Plt. Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho pada Jumat, 2 Oktober 2020, menanggapi berita yang beredar di media massa terkait klaster perbankan.

Sebelumnya, seperti dikutip dari selatanindonesia.com, berita per Kamis, 1 Oktober 2020, Ernest Ludji merincikan, klaster Perbankan yakni, Bank BRI sebanyak 3 orang yang terdeteksi positif Covid-19 dan 1 (satu) orang di Bank NTT.

“Saya baru dapat laporan, ada dua bank di Kota Kupang yang jadi klaster baru yaitu Bank BRI dan Bank NTT,” sebut juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang, Ernest S. Ludji, S.STP., M.Si, Kamis (1/10/2020). Meski demikian, Ernest belum merincikan Bank BRI mana dan Bank NTT mana yang kini menjadi klaster baru penyebaran Covid-19 di Kota Kupang.

Terkait kondisi tersebut, tegas Alex Riwu Kaho, mengungkapkan bahwa selama dikarantina dia (karyawati Bank NTT yang positif Covid-19, red) tinggal di hotel dan tidak pernah berhubungan atau bertemu dengan teman-teman kantor.

Kemarin (Kamis, 1 Oktober 2020), urai Alex Riwu Kaho, info hasil tes reaktif ternyata positif dan pimpinan cabang khusus (PCK) sudah buatkan surat ke yang bersangkutan untuk karantina lagi selama 14 hari sampai dinyatakan sehat oleh pihak rumah sakit.

“Namun, karena berita tersebut sangat sensitif bagi layanan bank, maka tolong Om Ernes bantu luruskan tentang ‘Cluster Bank NTT’ karena memang pegawai kami, namun kejadian bukan di Bank NTT, terima kasih,” pinta Alex Riwu Kaho.

Penulis, editor dan foto utama (+rony banase)

Suami Istri Positif Covid-19 dan Batita 1,8 Tahun Dievakuasi ke RSUD S K Lerik

353 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim gabungan yang terdiri dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang, tim pengendali keamanan Polsek Maulafa, Brigade Kupang Sehat dan Puskesmas Sikumana melakukan evakuasi terhadap suami istri terkonfirmasi positif Covid-19 bersama anak mereka, batita berumur 1,8 tahun.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/10/suami-istri-positif-covid-19-di-kota-kupang-masih-isolasi-diri-di-rumah-ini-alasannya/

Beberapa petugas yang mengenakan APD lengkap tiba dengan ambulans di kediaman keluarga di Kelurahan Oepura pada Kamis malam, 11 Juni 2020 sekitar pukul 19.00 WITA [7 malam]. Para petugas kemudian mengevakuasi mereka untuk dibawa ke RSUD S K Lerik dan dirawat pada fasilitas kesehatan yang telah disiapkan bagi pasien terkonfirmasi positif.

Evakuasi tersebut dilakukan demi menjawab tuntutan warga sekitar agar para pasien tersebut dapat segera dievakuasi karena warga merasa khawatir ikut tertular virus.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang, Ernest S. Ludji, SSTP, M.Si evakuasi dilakukan untuk meredam keresahan warga, padahal jika sesuai protokol penanganan Covid-19 yang tertuang dalam Pedoman Pencegahan Pengendalian Corona Virus Disease (Covid-19) Revisi ke 4 Tahun 2020, pasien yang terkonfirmasi positif dapat diisolasi di rumah jika kondisi kesehatannya tidak menunjukkan gejala (orang tanpa gejala atau OTG) atau jika pasien hanya menunjukkan gejala ringan.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang, Ernest S. Ludji, SSTP, M.Si

“Semenjak dinyatakan positif Covid-19 dari hasil tes PCR atau swab test, pasangan suami istri ini diisolasi sesuai protap penanganan Covid-19 yang berlaku, yaitu isolasi di rumah karena mereka tidak menunjukkan gejala. Sehingga berdasarkan Pedoman Pencegahan Pengendalian Covid-19 revisi ke 4 tahun 2020, mereka yang dikategorikan OTG dapat diisolasi di rumah dengan dipantau ketat oleh Gugus Tugas melalui Puskesmas setempat,” ujar Jubir Ernest.

Ernest menjelaskan bahwa masyarakat atau tetangga sekitar tidak perlu khawatir dengan adanya pasutri pasien terkonfirmasi positif, karena sesuai protap, mereka diisolasi secara ketat, bahkan keluarga tersebut dalam keseharian selama isolasi sama sekali tidak melakukan kontak fisik dengan keluarga maupun tetangga,

“Kedua pasien beserta anak-anak mereka taat melakukan isolasi. Mereka juga dipantau secara ketat oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Kupang melalui jajaran Puskesmas Sikumana,” tukas Ernest.

Lebih lanjut, Ernest mengajak semua pihak untuk memahami secara baik pedoman penanganan pengendalian Covid-19 agar tidak salah kaprah. Menurutnya, perlu adanya sosialisasi berkelanjutan untuk memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat terutama agar tidak melakukan stigmatisasi terhadap para pasien terkonfirmasi atau terduga positif Covid-19,

“Jangan menstigmakan bahwa penyakit ini adalah aib, karena tidak seorang pun yang mau mengalami penyakit ini,” pintanya.

Gugus Tugas, tandas Ernest,  sangat mengharapkan masyarakat untuk tidak melakukan stigma kepada pasien Covid-19 dan keluarga, karena penyakit ini bukan aib. Justru harus menunjukkan rasa solidaritas dalam menghadapi pandemi ini.

“Mari kita semua bersolider tidak saja dengan pasien positif Covid-19 tetapi juga dengan saudara-saudara kita yg terkena dampak pandemi ini secara sosial dan ekonomi,” imbau Ernest. (*)

Sumber berita (*/PKP_nt)
Foto utama oleh beritabeta.com
Editor (+rony banase)

Suami Istri Positif Covid-19 di Kota Kupang Masih Isolasi Diri di Rumah, Ini Alasannya

1.485 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Suami Istri terkonfirmasi positif Covid-19 oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTT pada Sabtu, 6 Juni 2020; hingga hari ini, Rabu, 10 Juni 2020, masih melakukan isolasi mandiri bersama 3 (tiga) orang anak di dalam rumah mereka di Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/06/suami-istri-di-kota-kupang-positif-covid-19-transmisi-lokal-total-103-kasus-di-ntt/

Dilansir dari sergap.id, Sejak dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan tes swab di Laboratorium Biomolekuler RSUD Prof Biomolekuler RSUD Prof Dr W.Z Johannes Kupang pada Sabtu lalu, (6/6/20), hingga kini, DB (35) dan DD (35) belum dievakuasi dari rumah mereka di Perumahan Anggrek, RT 003 RW 001, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Ketua RT 003, Selmy Ry, menegaskan, pasangan suami istri yang telah memiliki tiga orang anak berumur 10 tahun, 7 tahun, dan 1 tahun 4 bulan ini, sampai saat ini masih terus mengisolasi diri di rumah mereka sendiri.

Suami Istri pasien positif Covid-19 itu disinyalir bekerja di Kantor Pajak dan memiliki usaha butik online. Kekhawatiran warga yang berdomisili di sekitar bermunculan, termasuk para warganet yang terus mempertanyakan kapan kerentanan kondisi tersebut, termasuk kapan pasangan suami istri tersebut bakal dievakuasi oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Kupang.

Menyikapi kondisi tersebut, Gugus Tugas Covid-19 Kota Kupang menyampaikan alasan, mengapa hingga saat ini pasangan suami istri belum dievakuasi dan dirawat di rumah sakit.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Kupang, Ernest Ludji kepada Garda Indonesia melalui pesan Whatsapp pada Rabu, 10 Juni 2020 pukul 11:14 WITA mengonfirmasi kondisi tersebut.

“Belum Kk… Mereka masih isolasi di rumah dengan pengalaman Tim Gugus tugas dan Puskesmas Sikumana sambil menunggu hasil swab anak-anak,” sahut Ernest menimpali media ini.

Ernest pun meyakini jika selama mereka tetap melakukan isolasi mandiri di dalam rumah dan tak berinteraksi dan beraktivitas di luar rumah, maka dijamin aman. “Selama mereka hanya di halaman dan tidak berinteraksi dengan orang lain, aman Kk,” ucapnya.

“Kalau kemarin (Selasa, 9 Juni 2020) mereka keluar itu sebenarnya ke RST Wirasakti, karena anak-anaknya tak mau diantar orang lain selain orang tuanya,” lanjut Ernest.

Garda Indonesia pun mengonfirmasi apakah isolasi di rumah karena tak ada yang menjaga anak mereka? Ernest Ludji membenarkan kondisi tersebut. “Salah satu alasannya itu,Kaka,” ujarnya.

Makanya hari ini, Rabu, 10 Juni 2020, tandas Ernest, kalau sudah ada hasil swab anak-anak mereka, maka akan segera dievakuasi. “Rencana dievakuasi dan dirawat di RSUD SK Lerik.” sahut Ernest.

Penulis, dan editor (+rony banase)
Foto utama oleh ringtimesbali.com