Arsip Tag: Politeknik Negeri Kupang

HMJ Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang Inisiasi Bantu Mahasiswa Terdampak Covid-19

1.056 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang (PNK) menginisiasi untuk membantu para mahasiswa/mahasiswi yang terdampak Pandemi Covid-19, terutama mereka yang tak dapat pulang ke kampung halaman karena penutupan akses transportasi laut dan udara.

Upaya empati HMJ Teknik Sipil PNK tersebut direspons oleh Ketua Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang, Dian Erlina Waty Johannis, S.T., M.Eng. menghubungi dan bersinergi dengan Alumni Jurusan Teknik Sipil (Alumni JTS) untuk membantu meringankan beban mahasiswa yang terdampak selama Pandemi Covid-19.

Hasil sinergisitas tersebut diperoleh dukungan sembako bagi 88 Mahasiswa/mahasiswi Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang.

Pantauan Garda Indonesia pada Rabu siang, 6 Mei 2020, HMJ Teknik Sipil PNK mendatangi lokasi domisili para mahasiswa/mahasiswi di belakang STIM Kupang untuk menyerahkan sembako dan memberikan masker untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Penyerahan bantuan sembako dari HMJ dan Alumni JTS Politeknik Negeri Kupang kepada mahasiswa/mahasiswi terdampak Covid-19

Kepada media ini, Ketua HMJ Teknik Sipil PNK Elbens Nenabu menyampaikan alasan memberikan bantuan dampak Covid-19 karena banyak dari teman-teman yang mengatakan bahwa mereka kesulitan tidak bisa pulang kampung dan merasa berat karena biaya bertambah atas diberlakukannya kebijakan kuliah online.

“Itu yang menjadi kesulitan mereka, karena setiap hari harus mengisi data paket internet sehingga kebutuhan sehari-hari juga agak berkurang. Jadi, kami dari HMJ berinisiatif mengajukan ke jurusan untuk membantu teman-teman kita dari teknik sipil. Dari jurusan juga memberi respons yang bagus. Kami juga meminta bantuan dari alumni,” bebernya.

Scolastika Niluh Dewi Wahyuni, salah satu penerima bantuan, merasa sangat terbantu. “Kita mengalami kesulitan. Tinggal di kos tidak memiliki pekerjaan dan orang tua kita di rumah juga tidak melakukan kegiatan apa-apa, walaupun orang tua saya itu PNS. Jadi bantuan ini sungguh sangat membantu untuk kami,” ungkapnya.

Perwakilan Alumni JTS, Aprianus Kale mengatakan alasan utama dirinya dan para alumni tergerak untuk membantu karena pandemik Covid-19 yang sangat sulit untuk diatasi ditambah dengan instruksi dari pemerintah tidak ada penerbangan dan kapal laut. Otomatis, distribusi uang maupun bahan makanan untuk adik-adik mahasiswa sangat sulit.

“Dari situ, kami tergerak dari alumni untuk membantu dan selanjutnya bersinergi dengan jurusan, sehingga kami sepakat untuk menyumbang untuk 88 orang. Ini sangat sedikit, harapan kami semoga dapat membantu. Alumni yang berpartisipasi sangat banyak. Satu dua hari lagi moga-moga bisa ditambah lagi. Data sementara masih 88 orang, jika ada penambahan kita akan atur untuk distribusi lagi bagi mereka. Harapannya jangan ada mahasiswa yang lapar,” bebernya.

Pose HMJ, Alumni JTS dan Kajur Teknik Sipil PNK usai penyerahan bantuan sembako di hari pertama

Sementara itu, Kajur Teknik Sipil PNK Dian Johannis yang ditemui saat memantau distribusi bantuan oleh HMJ dan Alumni JTS mengungkapkan bahwasanya para mahasiswa/mahasiswi sudah satu bulan kuliah di rumah dan dipaksa dengan segala metode. Itu pun menguras pengeluaran mereka seperti paket data.

Dari kondisi tersebut, imbuh Dian, memantik empati dan gayung bersambut saat HMJ datang kepada saya bahwa dengan adanya paket data itu mengurangi pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Kemudian mereka berinisiatif dengan memasukkan surat permohonan lalu disebarkan kepada alumni.

Lanjutnya, melalui HMJ, dirinya melakukan imbauan kepada para dosen, alumni dan yang merasa terpanggil untuk membantu mereka. “Saya meminta mereka untuk membuat tim agar melakukan identifikasi. Setelah itu, mereka mendapat beberapa orang yang layak mendapat bantuan hingga mencapai 88 orang. Kelebihan bantuan akan diberikan kepada cleaning service dan satpam di jurusan,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Peduli Sumber Daya Air di NTT, Politeknik Negeri Kupang Helat Seminar Nasional

458 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kondisi curah hujan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkecil di Indonesia dengan rata-rata volume curah hujan tahunan di NTT hanya 1.000 mm dengan musim hujan hanya berkisar 3—5 bulan dan musim panas (kering) berlangsung selama 7—9 bulan yang menyebabkan kondisi sumber daya air relatif kecil dan terbatas.

Menyadari kondisi tersebut, Politeknik Negeri Kupang melalui Jurusan Teknik Sipil menggelar Seminar Nasional bertajuk ‘Penataan Ruang Berbasis Sumber Daya Air secara Terpadu (Integrated Water Resources Management)’ yang dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2019 pukul 09.00 WITA—selesai di Auditorium Jurusan Pariwisata.

Menghadirkan Ahli Sumber Daya Air dari Universitas Brawijaya, Dr.Ir.Ussy Andayanti, MS. sebagai keynote speaker, seminar nasional ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Maxi Menabu,S.T., M.T. mewakili Gubernur NTT, Wakil Direktur III Politeknik Negeri Kupang (PNK) Ambrosius Timo, S.T., M.T. mewakili Direktur PNK, pejabat terkait lingkup Pemprov NTT, undangan lainnya, mahasiswa-mahasiswi jurusan teknik sipil Politeknik Negeri Kupang.

Ketua Jurusan Teknik Sipil PNK, Dian Erlina Waty Johannis, S.T., M.Eng.

Ketua Jurusan Teknik Sipil PNK, Dian Erlina Waty Johannis, S.T., M.Eng. kepada media ini menyampaikan sasaran PNK melalui seminar nasional tentang penataan ruang berbasis sumber daya air dapat memberikan masukan tentang water resources management berupa debit lintasan air yang besar yang dapat berdampak pada erosi lahan sehingga diperlukan pemanfaatan penampungan atau penyimpanan air.

“Kita (kampus,red) berharap dapat bersinergi penelitian dan pengabdian dengan pemda terkait water resources management di Nusa Tenggara Timur,” ujar Dian Johannis.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT, Maxi Menabu,S.T., M.T. mewakili Gubernur NTT menyampaikan apresiasi kepada Jurusan Teknik Sipil PNK yang dapat menggelar seminar nasional dan menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat dalam mendukung proses pembangunan di Nusa Tenggara Timur.

Maxi Nenabu juga menyampaikan Nusa Tenggara Timur memilki suhu yang bervariasi dengan curah hujan minim yang tercatat pada tahun 2015 di stasiun meteorologi dan klimatologi yakni 600—2.700 mm kubik dengan curah hujan tertinggi di Kabupaten Manggarai dengan 160 hari hujan, Manggarai Barat dengan 125 hari hujan dan Ngada dengan 121 hari hujan. Sedangkan daerah yang memiliki hari hujan terendah berada di Sumba Tengah dengan 31 hari hujan, Timor Tengah Selatan memiliki 62 hari hujan, dan Timor Tengah Utara (TTU) dengan 68 hari hujan.

Kadis PUPR Provinsi NTT, Maxi Nenabu

“Kondisi basah atau hujan berada pada bulan Desember—Mei atau sekitar 3—4 bulan dan kondisi kering (kemarau) berada pada bulan Juni—November atau sekitar 8—9 maka hal ini menjadikan wilayah Nusa Tenggara Timur relatif kering dan hal ini menjadikan sumber daya air jadi perhatian sangat serius,” beber Maxi.

Lanjut Maxi, kondisi tersebut menyebabkan Nusa Tenggara Timur mengalami defisit air rata-rata 1,5 Miliar kubik per tahun dengan total kebutuhan air baku per tahun sebesar 10,03 Miliar kubik karena belum dapat mengelola ketersediaan air secara baik saat musim hujan sebanyak 18.257 Miliar kubik.

“Kondisi tersebut disebabkan oleh sistem pengelolaan sumber daya air yang belum maksimal dan dikelola secara baik saat musim hujan sehingga kita butuh pemikiran-pemikiran dari kampus dengan alternatif solusi,” ungkap Maxi.

Sementara itu, Dr.Ir.Ussy Andayanti, MS. dalam pemaparannya tentang Pengelolaan Sumber Daya Air (SDA) Terpadu menyampaikan menurut wacana global bahwa proses pengolahan SDA yang memadukan antara sumber daya air dengan sumber daya terkait lainnya antar sektor, antar wilayah secara berkelanjutan tanpa harus mengorbankan lingkungan dan diselenggarakan dengan pendekatan partisipatif.

Sedangkan, menurut UU Nomor 7 Tahun 2004, proses pengolahan SDA diselenggarakan secara menyeluruh (perencanaan, pelaksanaan, monitor & evaluasi, konstruksi, pendayagunaan, pengendalian); terpadu dengan melibatkan stakeholder, antar sektor, wilayah dan berwawasan lingkungan yakni keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan (antar generasi) untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Menurut Dr.Ussy Andayanti, agar terwujudnya kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat diwujudkan dengan pengelolaan sumber daya air dengan 5 (lima) pilar yakni :

  1. Konservasi Sumber Daya Air (SDA), upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan SDA agar selalu tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang;
  2. Pendayagunaan SDA, upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna;
  3. Pengendalian Daya Rusak, upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air;
  4. Sistim Informasi SDA, terkait tata kelola dari pengelolaan sumber daya air untuk kemudahan akses informasi kepada masyarakat;
  5. Pemberdayaan Masyarakat, melibatkan peran serta masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perwujudan pengelolaan SDA.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Program Kemitraan Masyarakat Politeknik Negeri Kupang Bantu Usaha Abon Ikan

326 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Politeknik Negeri Kupang (PNK) dengan Program Kemitraan Masyarakat terus dan konsisten membantu usaha kecil dalam mengembangkan usahanya. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) merupakan salah satu kegiatan pengabdian masyarakat dri Kemenristek Dikti untuk membantu usaha kecil.

Kali ini yang memperoleh bantuan yakni usaha abon ikan yang dikelola oleh Filbert Sereh dan berlokasi di Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang – Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ketua Pelaksana Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat dari Politeknik Negeri Kupang (PNK) untuk Usaha Abon Ikan, Fransisko Piri Niron, S.T., M.Si. kepada media ini menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan berupa 1 (satu) unit alat penggoreng abon ikan, 1 (satu) unit genset, dan 1 unit mesin penghampa udara (vacuum sealer).

Ketua Pelaksana Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat dari Politeknik Negeri Kupang (PNK), Fransisko Piri Niron, S.T., M.Si. (berbaju kotak) dan Pemilik Usaha Abon Ikan Abadi, Filbert Sereh (berbaju merah)

“Alasan kami memberikan bantuan ini karena selama ini mitra menggoreng abon ikan secara manual dan diharapkan dengan bantuan ini mitra penjual mampu mengembangkan usahanya,” ujar Fransisko Piri Niron, S.T., M.Si. didampingi anggota Melsiani R F Saduk, S.T., M.T. dan Heni M Sauw, S.E., M.M. pada Sabtu, 14 September 2019.

Selain bantuan peralatan teknologi, jelas Fransisko, juga diberikan pelatihan pembuatan abon ikan dari Dinas Perikanan dan Kelautan dengan mentor Yohanis Pandie, S.Pi.

Sementara itu, Pengelola Abon Ikan bermerek Abadi, Filbert Sereh kepada media ini mengatakan merasa sangat terbantu dalam memproduksi abon ikan.

“Saya sangat terbantu karena sebelumnya kami memproduksi abon ikan secara manual dan belum rutin,” jelasnya sambil menyampaikan bahwa usahanya berlokasi di Jalan Abadi Kelurahan Bakunase.

Yohanes Pandie, S.Pi. (berbaju putih) saat melatih cara mengolah abon ikan

Saat ditawarkan alat bantu produksi dari PNK, tutur Filbert, pihaknya sangat senang berterima kasih karena dapat menambah produksi dan rutin melayani pemesanan abon ikan.

“Sebelumnya membutuhkan waktu lama sekitar 1 (satu) jam untuk mengolah daging ikan sebanyak 5—10 kilogram secara konvensional. Saat ini sudah ada alat bantu produksi dari PNK akan lebih memudahkan kami,” ungkap Pengusaha Abon Ikan Abadi yang sempat mengenyam pendidikan dasar tentang Kitchen Training di Jakarta.

Pria yang sempat memiliki usaha rumah makan di Kecamatan Takari Kabupaten Kupang ini juga menyampaikan bahan dasar pembuatan abon ikan menggunakan Ikan Tuna atau Ikan Marlin karena memiliki isi daging tebal.

“Usaha abon ikan merupakan hal baru dan banyak tamu yang datang ke Kupang berminat akan abon ikan dan kami menyajikan abon ikan dengan rasa yang berbeda,” terang Filbert sambil menyampaikan berdirinya usaha Abon Ikan Abadi sejak pertengahan 2018.

Mengenai sistem pemasaran abon ikan, terang Filbert, hanya memenuhi permintaan dan belum dipasarkan secara daring (online) dan harga Abon Ikan Abadi per kilogram sebesar Rp.290 ribu rupiah.

Penulis dan editor (+rony banase)

Rumah Sasando di Oebelo Gapai Bantuan PPPUD dari Politeknik Negeri Kupang

861 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) berbasis Kearifan Lokal diberikan kepada industri kerajinan Alat Musik Sasando dan Topi Ti’ilangga di Rumah Sasando yang dirintis oleh Maestro Yeremias Pah di Desa Oebelo Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Penyerahan bantuan PPPUD sebagai bagian dari Program Kemitraan Masyarakat dari Kemenristek Dikti ini dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Teknik Politeknik Negeri Kupang (PNK) yang terdiri dari Melsiani R F Saduk, S.T., M.T. Fransisko Piri Niron, S.T., M.Si. Heni M Sauw, S.E., M.M. Nikson Fallo, S.T., M.Eng.

Pose bersama Djitron Pah (pakai Topi Ti’ilangga) dan Tim PPPUD Politeknik Negeri Kupang diketuai oleh Melsi Saduk

Sebanyak 10 (sepuluh) item barang pendukung aktivitas produksi Rumah Sasando milik alm Yeremias Pah di Desa Oebelo yang dirintis sejak tahun 1970-an tersebut diserah terima kepada Djitron Pah, pengelola dan anak dari Alm. Yeremias Pah pada Selasa, 27 Agustus 2019 pukul 16:00 WITA—selesai.

Adapun jenis barang pendukung produksi alat musik Sasando terdiri dari mesin pelubang sekrup; mesin potong sekrup; mesin pemintal senar; mesin jahit merek JUKI; mesin pemipih; mesin gergaji jigsaw; papan nama neon box; meja kerja; lemari pajangan; dan perkakas K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).

Ketua Tim PPUD dari Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) Politeknik Negeri Kupang, Melsiani R F Saduk, S.T., M.T. mengatakan PPPUD menyentuh produk lokal yang diharapkan dapat diekspor.

“Program ini merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi dan bertujuan membantu mitra UKM agar dapat meningkatkan pangsa pasar hingga ke tahap ekspor”, tutur Melsi.

Ketua Tim PPUD Politeknik Negeri Kupang, Melsiani R F Saduk, S.T., M.T.

Selain itu, jelas Melsi, program ini multy years di mana pada tahun pertama untuk penguatan fasilitas produksi dan pada tahun kedua untuk penataan rumah produksi dan pemasaran berbasis daring atau online

“Kerinduan kami untuk membantu industri Sasando karena sebelumnya Rumah Sasando ini hanya menggunakan alat produksi manual dan konvensional yang membatasi produksi Sasando sebagai produk unggulan daerah yang mempunyai potensi ekspor,” ungkap Melsi.

Melsi juga berharap agar semua alat produksi yang telah diserahkan agar dapat digunakan semaksimal mungkin untuk peningkatan produksi Sasando karena Rumah Sasando Keluarga Pah merupakan usaha turun temurun yang dirintis oleh Maestro Sasando, Alm. Yeremias Pah.

Sebelumnya, kepada Garda Indonesia, Djitron Pah menyampaikan beberapa hal menyangkut pembenahan Rumah Sasando. Hal pertama yang ingin dikembangkan menyangkut penataan rumah kerja, pembangunan museum mini Sasando, Rumah Tenun dan Teater Kecil untuk perform Sasando.

“Semua penataan tersebut didanai sendiri dari kotak sumbangan dan penjualan Sasando dari pembeli lokal, regional dan tamu internasional,” beber pemusik Sasando yang sering diundang perform Sasando di tingkat nasional dan internasional.

Djitron Pah di rumah produksi Sasando dengan alat produksi manual dan konvensional

Selain itu, terang Djitron, ditambah dengan bantuan dari Politeknik Negeri Kupang dapat meningkatkan produksi Sasando dan memenuhi permintaan waktu produksi. “Sebelumnya, kami memproduksi Sasando hanya menggunakan alat produksi manual dan konvensional yang dikreasi oleh Papa (Alm.Yeremias Pah, red) sejak awal pendirian usaha Sasando sekitar tahun 1970-an,” ungkap Djitron.

Djitron mengucapkan terima kasih dan merasa sangat terharu dan bersyukur atas bantuan alat produksi yang dihasilkan oleh Mahasiswa dan Dosen Teknik Mesin Politeknik Negeri Kupang.

Diakhir kegiatan penyerahan alat produksi Sasando, Djitron menyempatkan diri memainkan alat musik Sasando dengan mempersembahkan 2 (dua) lagu, Wonderful Tonight dari Eric Clapton dan lagu Dia dari Anji Drive.

Penulis dan editor (+rony banase)

Politeknik Negeri Kupang & National Yunlin University Taiwan Jalin Kerja Sama

483 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Politeknik Negeri Kupang (PNK) melakukan MoU (Memorandum of Understanding) dengan National Yunlin University of Techology and Science Douliu Taiwan  (YunTech) dalam bidang Double Degree Program, Join Degree Program, Student Exchange, dan Visiting Profesor.

Hal ini disampaikan oleh Pudir III Politeknik Negeri Kupang, Peter D Samadara,SE.,MM., pada Jumat, 2 Agustus 2019, kepada Garda Indonesia sebelum dilaksanakannya Seminar untuk Mahasiswa Teknik Mesin oleh Prof Shi Chang Tseng dari National Yunlin University of Techology and Science Douliu Taiwan.

Foto bersama 200 Mahasiswa Teknik Mesin PNK dan Prof Stanley Chang dari YunTech Taiwan

Saat ini, menurut Peter Samadara, PNK ingin menjalankan kerja sama khusus pada Double Degree dan Join Degree Program

“Kemarin (Juli 2019), Kita ke Taiwan untuk melakukan Matching Curriculum sebagai kurikulum bersama antara Politeknik Negeri Kupang dan National Yunlin University of Techology and Science Douliu Taiwan”, ujar Peter Samadara.

Foto bersama Prof Stanley Chang, Pudir III PNK Peter Samadara, Ketua Program Studi Teknik Mesin, Melsiani R F Saduk,ST.,MT., dan jajaran dosen Teknik Mesin PNK

“Kita fokus mengambil 1 (satu) pilot project dari Prodi Jurusan Teknik Mesin dan akan dibawa ke Kemenristek Dikti untuk disahkan sebagai kurikulum bersama kemudian kita tawarkan kepada mahasiswa untuk bisa mengambil gelar bersama”, jelas Pudir III PNK.

Lanjutnya, Saat ini telah berjalan kurikulum bersama dengan universitas lain di Taiwan yakni Program 3Plus2PlusI (3 tahun di Politeknik, 2 tahun di Taiwan dan 1 tahun di Industri Taiwan) dan saat ini terdapat 5 (lima) mahasiswa PNK sedang mengikuti program tersebut di Taiwan.

“Program ini merupakan program kerja sama dari Kemenristek Dikti dengan Taiwan dan sebagai program Politeknik se-Indonesia dengan Taiwan”, ungkap Peter Samadara.

Selain itu, terang Pudir III PNK, terdapat juga Program 2Plus2PlusI (2 tahun di Politeknik, 2 tahun di Taiwan dan 1 tahun magang di Industri Taiwan) yang akan berjalan pada tahun 2020.

“Pada tahun 2020 juga bakal ada Program MEME (Multi Entry Multi Exit) yakni Politeknik menerima mahasiswa dari semester 1—8, mahasiswa boleh exit (keluar) di semester berapa saja (kuliah 2 tahun dan mau kerja maka Politeknik mengeluarkan Ijazah Diploma II, 3 tahun Ijazah D3, dan 4 tahun Ijazah Sarjana (S1). Maka program MEME ini memungkinkan kerja sama maksimal dengan Taiwan”, beber Pudir III PNK.

Prof Stanley Chang dari YunTech Taiwan sebagai Guest Lecture

Sedangkan Prof Shi Chang Tseng dari National Yunlin University of Techology and Science Douliu (YunTech) Taiwan sebelum memberikan materi seminar kepada 200 Mahasiswa Teknik Mesin PNK; kepada Garda Indonesia menyampaikan bahwa kunjungannya ke Politeknik Negeri Kupang (PNK) untuk menindaklanjuti penandatanganan MoU antara InTech Taiwan dan PNK.

“Saat ini kami memiliki 100 Mahasiswa Indonesia yang belajar di YunTech Taiwan, performa mereka sangat baik dan kami ingin meningkatkan jumlah Mahasiswa Indonesia yang akan belajar di YunTech Taiwan”, kata Prof Shi Chang

“Kami mengadakan Double Degree Program untuk Mahasiswa Indonesia dari PNK untuk belajar selama 2 tahun dan 1 tahun magang di Industri Taiwan. Itu alasannya saya berada di sini”, sebut Prof Stanley Chang panggilan akrabnya.

Selain itu, ujar Prof Stanley Chang, Kami berharap dapat berkolaborasi dengan PNK dalam 3 (tiga) disiplin ilmu yakni Mechanic Engineering, Bussines Administration dan Information Managemen.

“Kami akan memulai kerja sama dengan PNK dengan 3 (tiga) program tersebut dan berharap dapat bekerja sama lebih banyak program namun saat ini cukup untuk tiga program tersebut”, tandas Prof Stanley Chang.

Penulis dan editor (+rony banase)

Politeknik Negeri Kupang Dukung Usaha Dodol Pisang Legit Sari via Program PPUD

375 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Politeknik Negeri Kupang (PNK) dengan dukungan Kemenristek DIKTI melakukan penerapan dan pengembangan hasil riset perguruan tinggi untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Mitra Kelompok Usaha ‘Dodol Pisang Legit Sari’ yang berlokasi di Kelurahan Nunleu Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jenis dukungan yang merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) diberikan oleh PNK kepada Usaha Legit Sari dalam bentuk Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) berbasis agribisnis pengolahan pisang lokal khas NTT yang berpotensi ekspor.

Ketua Tim PPUD Politeknik Negeri Kupang, Christa Elena Blandina Bire,ST,MT., kepada Garda Indonesia saat penyerahan dukungan kepada Usaha Dodol Pisang Legit Sari, Kamis, 26 Juli 2019 pukul 13:30 WITA menyampaikan bahwa metode yang digunakan dalam pelaksanaan PPUD ini berupa metode transfer teknologi dan metode knowledge (pengetahuan).

Pemilik Usaha Dodol Pisang Dolpin, Merry Letik (berbaju krem) dan Ketua Tim PPUD Politeknik Negeri Kupang, Christa Elena Bire, ST, MT (berbaju ungu)

“Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin dari Kemenristek DIKTI setiap tahun berupa pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk skim pengembangan produk unggulan daerah. Karena kami melihat potensi pisang hijau yang hanya ada di NTT dan belum diketahui diluar NTT”, ujar Christa Bire.

Lanjutnya, Jenis dukungan yang diberikan yakni alat atau mesin pengaduk adonan dodol pisang di tahun pertama dan bakal ada bantuan pada tahun kedua dan tahun ketiga.

“Kami membantu mitra Legit Sari dalam bentuk teknologi untuk proses mekanisasi pengolahan produk yang dibantu dengan alat pengaduk, penyempurnaan logo atau merek, dan kemasan produk”, beber Christa Bire dan didampingi oleh anggota tim Edwin P.D.Hattu,ST,M.Si., Yohanes Suban Peli,SST,M.Si., Janri Delastriani Manafe,S.Sos,MM., Melly Ully,Amd, dan tim teknisi Lab Tek-Mesin Politeknik Negeri Kupang.

Tim Teknisi Lab Tek-Mesin Politeknik Negeri Kupang berpose bersama saat mencoba mesin pengolah adonan dodol

Selain itu, mengenai target luaran atas solusi yang ditawarkan, Christa Bire menuturkan PNK memberikan dukungan berupa 1 (satu) unit mesin pengaduk dodol; mitra memiliki pembukuan keuangan yang rapi; adanya penambahan pekerja sebanyak 2 (dua) orang; 1 (satu) mesin mekanisasi pengiris dodol; packaging kemasan yang lebih higienis; mitra memiliki aplikasi pemasaran online (e-commerce) dan mitra dapat memiliki stasiun area kerja yang tertata rapi dan ergonomis.

Sementara itu, pemilik dan pengelola Usaha Dodol Legit Sari, Merry Letik menyampaikan bahwa awalnya usaha dengan coba mengolah pisang menjadi dodol sejak tahun 2012—2013

“Saya senang dengan produk lokal seperti pisang dan kacang, awalnya saya mencoba mengolah pisang menjadi dodol yang membutuhkan waktu hingga 3 (tiga) jam dan hasil olahan dodol tersebut bisa bertahan hingga 3 (tiga) bulan tanpa menggunakan bahan pengawet”, jelas isteri dari Ferry Dethan ini menyampaikan proses awal pembentukan usaha dodol pisang bermerek dolpin ini kepada Garda Indonesia.

Varian Dodol Pisang Dolpin terdapat 4 (empat) rasa yakni rasa asli (original); rasa vanila; dodol karamel; dan dodol coklat dengan harga relatif terjangkau dengan kisaran Rp.16.000,- hingga Rp.20.000,- per kemasan.

Pencipta Mesin Pengaduk adonan dodol, Edwin Hattu,ST,M.Si., dan Pemilik Usaha Legit Sari, Merry Letik sedang mengaduk adonan dodol dengan menggunakan mesin pengolah hasil kreasi tim teknisi Politeknik Negeri Kupang

Pemilik Usaha Dodol Pisang bermerek Dolpin ini juga menyampaikan terima kasih kepada Politeknik Negeri Kupang yang telah membantu dalam packaging, lemari, dan label

“Saya berharap pasaran dodol pisang dolpin ini dapat menjangkau pasaran di luar NTT”, terang Merry Letik.

Sedangkan, pencipta mesin pengolah dodol, Edwin Hattu,ST,M.Si.,menyampaikan proses penciptaan mesin olahan adonan dodol dimulai dengan permintaan dari tim PPUD untuk membuat mesin olahan/ mekanisasi yang dapat menggantikan proses mengaduk secara manual dengan mesin.

“Saya harus mendesain alat yang mempunyai keunikan sehingga saat ada komplain tentang paten tidak dapat disamakan”, jelas Edwin Hattu.

Lanjutnya, Kalau di internet telah banyak tersedia mesin sejenis namun tak tahu mana yang telah memiliki paten atau belum.

“Mesin ini sudah cukup menolong dengan daya tampung bahan dasar hingga 30 kg karena menggunakan desain mesin dengan gearbox sehingga tidak memerlukan daya motor yang besar dengan perbandingan 1:60 dan dengan kapasitas 750 watt”, pungkas Edwin.

Penulis dan editor (+rony banase)

Politeknik Negeri Kupang Bantu & Edukasi Kelompok Usaha Reparasi Sofa

414 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Program Kemitraan Masyarakat (PKM) sebagai bagian dari skema pengabdian kepada masyarakat dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi intens dilaksanakan oleh Politeknik Negeri Kupang (PNK).

Politeknik Negeri Kupang melalui Program Kemitraan Masyarakat dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) memberikan perhatian dan dukungan kepada kelompok usaha yang dianggap layak dan pantas menerima.

Kali ini, Usaha Reparasi milik Dedy Saduk yang berdomisili di Jalan Pemuda Kelurahan Kuanino-Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur; berdiri sejak tahun 2017 yang dirintis dengan modal hanya Rp. 2 juta, Kelompok Usaha Reparasi Sofa ini berkesempatan memperoleh PKM dari Politeknik Negeri Kupang berupa dukungan (support) alat-alat kerja dan edukasi berupa pelatihan dari Dosen Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang.

Ketua Pelaksana PKM Politeknik Negeri Kupang Jurusan Teknik Sipil, Anie Adrianti Tuati,ST.MT., (Sabtu, 29 Juni 2019) kepada Garda Indonesia usai menyerahkan 16 item alat kerja Dedy Saduk selaku pemilik dan pengelola Usaha Reparasi Sofa menyampaikan bahwa PKM merupakan Program pemberdayaan dari Kemenristek Dikti untuk membantu usaha kecil

“Kita tertarik melihat usaha yang ada dan melihat Om Dedy (Pemilik Kelompok Usaha Reparasi Sofa, red) punya talenta dan skill sehingga saya tertarik membantu. Apalagi alat yang digunakan merupakan alat bekas dan belajar secara otodidak untuk mengembangkan usaha ini”, ujar Anie Tuati

Ketua Pelaksana PKM Politeknik Negeri Kupang Jurusan Teknik Sipil, Anie Adrianti Tuati,ST.MT.

Lanjutnya, “Saya mencoba mengusulkan ke Kemenristek Dikti karena sebagai dosen kami dituntut harus menjalankan pengabdian masyarakat dan penelitian. Puji Tuhan diterima sehingga kita bisa membantu mereka”, tutur Anie yang didampingi oleh Susana Suratama,ST,MSi., dan Hamzah Nasarudin,SE.MM (Jurusan Manajemen Perusahan).

Selain memberikan alat-alat kerja, beber Anie, juga diberikan beberapa pelatihan yakni pelatihan tentang sistem pemasaran dan strategi penentuan harga; pelatihan mebeler (membuat model kayu, amplas kayu dan cara mengoperasikan alat-alat kerja oleh Steven Ndun, ST, M.Si.); pelatihan manajemen dan administrasi keuangan; pelatihan SDM K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam bentuk pelatihan untuk tenaga kerja dalam mengoperasikan peralatan kerja.

Steven Ndun, ST, M.Si., memberikan penjelasan cara mengoperasikan alat-alat kerja

Adapun bantuan alat kerja yang diserahkan berupa 16 item alat diantaranya : 1 (satu) unit Mesin Jahit Juki, 1 (satu) buah Maktec Gergaji MTS83,1 (satu) unit Bosch M GBM 360 Still, 1 (satu) unit Bosch M GWS 080 Grinder, 1 (satu) buah Maktec Amplas MT923/921, 1 (satu) unit Bosch M GHO 6500 Planer, 2 (dua) buah Ken Saw Blade Multi Cutter 4x40T, 5 (ima) buah Ken Batu potong 4″ 105x1x16mm, 1 (satu) set Bor Besi Mollar 25pcs, 1 (satu) unit alat Pres Kancing, 1 (satu) buah Matras 36, 1 (satu) unit Alat Max, 1 (satu) buah Sunting, 1 (satu) unit Ken Inverter MMA 160A Digital, 1 (satu) buah Makita Penumatic BradNaller AF504Z, 1 (satu) Pak Ken Mata Staples F20

Sedangkan, Pemilik Kelompok Usaha Reparasi Sofa, Dedy Saduk saat diwawancara media ini menyampaikan bahwa usaha reparasi sofa yang dilakukan merupakan usaha rumahan dan telah berjalan sekitar 2 (dua) tahun

“Saya sangat berterima kasih, Puji Tuhan dengan adanya bantuan ini dapat mengembangkan usaha dan bakal semakin lancar“, tutur Dedy.

Menurut Dedy, omzet yang dihasilkan dari usaha reparasi sofa sekitar Rp.2—2,5 juta per bulan dan dibantu oleh 2 (dua) orang tenaga kerja lokal.

“Selama ini orang luar yang datang membuka usaha serupa, oleh karena itu saya berinisiatif mendirikan usaha ini dengan berbekal pedoman atau tutorial dari youtube”, pungkas ayah dari 2 (dua) orang anak ini kepada Garda Indonesia.

Penulis dan editor (+rony banase)

Dana Desa Semestinya Kurangi Angka Kemiskinan

181 Views

Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Josef Nae Soi, Gubernur 2 NTT menegaskan pengalokasian Dana Desa (DD) bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan dan harus dikelola secara optimal demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa.

“Garda terdepan dari republik ini adalah desa. Ada adagium lama yakni desa makmur,negara kaya. Sebaliknya desa melarat, negara bingung,” kata Josef Nae Soi saat membuka dan menjadi Keynote speakers pada Seminar Nasional Akuntansi Sektor Publik di Aula Politeknik Negeri Kupang, Jumat (2/10/18). Seminar yang digagas Jurusan Akuntansi itu mengangkat tema Optimalisasi Dana Desa Sebagai Pengungkit Ekonomi Daerah.

Sebagai salah satu perumus Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Josef menjelaskan dasar dari lahirnya UU ini adalah bonum commune atau kebaikan bersama. Kesejahteraan masyarakat adalah hukum tertinggi.

“Dengan UU ini, negara wajib hukumnya sediakan dana untuk pembangunan di desa. Ini sangat menguntungkan bagi masyarakat. Tetapi sekaligus rangsangan untuk mereka (kepala desa,red) yang tidak biasa mengelola keuangan dalam jumlah besar, ” ujar Gubernur 2 NTT.

Hal ini, menurut Josef Nae Soi, dapat menciptakan beban sekaligus masalah bagi para kepala desa. Untuk itu, butuh daya tumpu dan pengungkit agar para kepala desa dapat keluar dari masalah tersebut.

“Harus diingat, yang paling berkuasa dalam pemanfaatan Dana Desa bukanlah kepala desa melainkan Musyawarah Desa. Musyawarah ini melibatkan para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan. Mereka semua harus diikutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di desa, ” jelas Josef Nae Soi.

Lebih lanjut, Josef menguraikan jumlah Dana Desa untuk Provinsi NTT terus bertambah. Tahun 2015 berjumlah Rp 800 miliar lebih, 2016 sebanyak Rp. 1,8 triliun lebih. Tahun 2017 meningkat sekitar Rp 2,3 triliunan, serta Tahun 2018 bertambah menjadi 2,5 triliun lebih. Ditambah lagi intervensi dari APBD baik Provinsi dan Kabupaten, jumlah dana ke desa semakin banyak.

“Uang sebanyak itu tidak akan berdaya guna kalau pengelolaannya tidak bagus atau manajemennya tidak profesional. Saya mengajak para mahasiswa khususnya mahasiswa akuntasi untuk memberikan pendampingan bagi para kepala desa,” pinta Gubernur 2 NTT.

Josef Nae Soi juga mengapresiasi pelaksanaan seminar dan berharap dapat menghasilkan cara-cara baru dalam mengoptimalkan Dana Desa sebagai daya pengungkit perubahan di desa.

“Mesti hasilkan pemikiran yang cerdas dan operasional. Agar Dana Desa sungguh buat desa maju, ada nilai tambah bagi pengembangan ekonomi produktif di desa. Tentu dengan penggunaan dana yang efektif dan efisien, ” pungkas Josef Nae Soi.

Direktur Politeknik Negeri Kupang, Nonce Farida Tuati, SE, M. Si menanggapi secara positif ajakan Wagub. Menurutnya, Dana Desa telah menciptakan banyak perubahan di desa seperti sarana dan prasarana desa yang semakin baik serta tingkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun masih juga terdapat kesalahan dan kekurangan dalam pengelolaan Dana Desa.

“Kiranya seminar hari ini dapat memberikan masukan konstruktif bagi pemanfaatn Dana Desa. Kami siap bantu Pemerinntah Provinsi. Kami punya kurang lebih 1.000 mahasiswa siap turun ke lapangan, ke desa untuk berkolaborasi dengan pemerintah desa. Kami juga punya teknologi yang bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat, mengelola hasil olahan masyarakat,” pungkas Nonce.

Narasumber pada kegiatan seminar tersebut adalah Kasubdit Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Desa Direktorat Fasilitasi Keuangan dan Aset Pemerintah Desa Dirjen Bina Pemerintahn Desa, Dra. Farida Kurnia Ningrum,MM serta Direktur Lembaga Pemberdayaan Masyarakt Mandiri, Ir. Eka Ristri Darmayanti, S. Si, MT. (*/humas)