Arsip Tag: protokol kesehatan di desa pukdale

Serahkan Bantuan Kepada Petani Pukdale, Ini Pesan Anita Jacoba Gah

186 Views

Kab. Kupang, Garda Indonesia | “Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa hari ini kita dapat bertemu, walaupun kita semua tahu bahwa kondisi bangsa kita saat ini tidak beda dengan bangsa-bangsa lain di luar sana. Karena banyak jiwa meninggal akibat Covid-19 ini,” kata Anita Jacoba Gah pada Sabtu, 9 Mei 2020 sebelum menyerahkan bantuan kepada warga Desa Pukdale yang 95 persen berprofesi petani.

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/05/09/patut-dicontoh-masuk-ke-desa-pukdale-wajib-pakai-masker-dan-cuci-tangan/

Lanjut Anita, Puji Tuhan, Bapak dan Mama. Di NTT tidak separah seperti di daerah-daerah lain. Jakarta sampai hari ini masih mencekam karena yang terkena virus korona semakin bertambah. Ada yang sembuh, ada yang meninggal. Di tengah situasi yang seperti ini, kita seluruh rakyat Indonesia, khususnya kita yang hadir pada hari ini, saya mengatakan bahwa kita tidak perlu takut. Kita tidak gelisah, tapi kita sama-sama berdoa minta kepada Tuhan agar virus ini segera menghilang dari muka bumi ini.

“Sebagai orang Kristen kita semua percaya bahwa hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan semua ini,” imbuh Anita.

Sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrat, tambah Anita Jacoba Gah, yang bapak dan mama percayakan, yang Tuhan percayakan untuk mewakili Nusa Tenggara Timur; merasa telah menjadi bagian dari dampak ini. Dari sebab itu, yang saya berikan hari ini sangat sedikit, tetapi saya yakin dan percaya bahwa apa pun yang bapa dan mama terima dari saya, itu adalah berkat yang Tuhan titipkan buat saya untuk bapak dan mama terima.

Warga Desa Pukdale saat mendengar pesan Anita Jacoba Gah

“Ini semua adalah berkat untuk bapak dan mama melalui saya. Ini semua Tuhan berikan supaya bapak dan mama tetap semangat dalam menghadapi hidup ini. Tetap percaya bahwa krisis ini akan segera berlalu dari bangsa kita. Kita berdoa untuk pemerintah, kita berdoa untuk setiap pemimpin-pemimpin sehingga kebijakan-kebijakan yang diambil betul-betul bisa menyejahterakan rakyat,” pinta Anita kepada sekira 60 petani yang berhak memperoleh bantuan.

Partai Demokrat, terang Wakil Ketua Komisi X DPR RI ini, menyapa bapak dan mama di Desa Pukdale. Kami ingin mengatakan bahwa Partai Demokrat ada, peduli dan hidup kembali, Partai Demokrat tidak menunggu lama dengan keadaan bapak dan mama sekalian.

“Mungkin yang kami berikan ini tidak terlalu banyak, mungkin yang kami berikan ini tidak berarti untuk bapak dan mama, tapi kami ingin mengatakan bahwa kami memberikannya dengan tulus hati. Kiranya bapak dan mama menerima ini dengan senang hati dan kami mohon dukungan doa kepada kita semua supaya krisis ini segera berakhir,” ujar Anita Jacoba Gah kepada semua yang hadir di dalam Gereja Ebenhaeser Pukdale yang dengan ketat menerapkan protokol kesehatan (duduk menjaga jarak dan memakai masker).

Anita Jacoba Gah menyerahkan bantuan kepada para petani Desa Pukdale

Usai menyampaikan pesan, Anita pun menyerahkan bantuan kepada para petani Desa Pukdale dan menyampaikan Program Indonesia Pintar (PIP) dan memberikan formulir PIP yang selanjutnya akan ditangani oleh Pengurus Rumah Aspirasi Anita Jacoba Gah di Oesao.

“Di komisi pendidikan saya berjuang untuk memberikan beasiswa bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, baik yang SMP, SMA bahkan sampai Perguruan Tinggi. Melalui kesempatan ini saya ingin mengatakan bahwa apa yang kami perjuangkan di sana adalah untuk seluruh rakyat dan saya memperjuangkan rakyat Nusa Tenggara Timur,” ungkap Anita Jacoba Gah seraya menyampaikan dirinya juga memberikan donasi sebesar Rp.10 juta bagi pembangunan Gereja Ebenhaeser Pukdale.

Anita Jacoba Gah membagikan formulir beasiswa PIP

Salah satu warga penerima Bapak Edison Marabi Djala, mengucapkan terima kasih karena salah satu anggota DPR RI datang melihat keadaan para petani di Desa Pukdale. “Kami kesulitan berjualan di pasar. Kemarin, saya diberitahu bahwa Ibu Anita Gah akan datang dan memberi bantuan. Kami bersyukur walaupun sedikit tetapi sangat membantu kami dan Ibu Anita Gah telah melihat kami,” ungkapnya dengan girang.

Sementara itu, Kepala Desa Pukdale Oktovianus Lesiangi menyampaikan terima kasih dan perhatian yang sangat mulia terhadap masyarakat Desa Pukdale dan jemaat Ebenhaeser. Dirinya mengungkapkan hingga saat ini belum mendapat bantuan apa-apa.

“Dengan curah hujan tahun ini yang tidak menentu dan sangat kurang, maka kami gagal luruk (gagal panen, red), sehingga pendapatan kami sangat merosot dan kehidupan kami sangat sulit. Sehingga kami mengharapkan bantuan dan perhatian dari pemerintah yang lebih di atas agar bisa mengantisipasi keburukan kehidupan kami,” ungkapnya lirih.

Bahkan dari dana desa sendiri juga belum, imbuh Kades Pukdale, “Terus terang karena ada perubahan APBDes 2 kali, dari desa mendapat pemotongan, juga prosesnya baru kami lakukan sehingga sampai minggu depan baru kami posting di BPMBD,” bebernya sembari menandaskan di Desa Pukdale terdapat 591 KK jumlah jiwa 2.897 yang 95% berprofesi sebagai petani ladang yang berharap pada curah hujan yang baik untuk meningkatkan produktivitas.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Patut Dicontoh! Masuk ke Desa Pukdale Wajib Pakai Masker dan Cuci Tangan

229 Views

Kab. Kupang, Garda Indonesia | Menarik dan patut dicontoh oleh desa lain, seperti yang diterapkan oleh Pemerintah Desa Pukdale di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara (NTT); setiap tamu ataupun warga pendatang termasuk warga desa, saat akan memasuki wilayah Desa Pukdale harus melewati 2 (dua) pos pemantauan yang didirikan oleh Pemerintah Desa bersama warga Pukdale.

Tak hanya bakal ditanya ke mana tujuan, kita bakal diminta oleh petugas pos pemantauan yang bertugas sekitar 6—8 orang untuk turun dari kendaraan untuk mencatat jati diri di buku tamu termasuk nomor polisi kendaraan kita harus ditorehkan di buku yang telah disiapkan petugas.

Seperti dialami oleh Garda Indonesia saat akan meliput kegiatan penyaluran bantuan oleh Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah; untuk warga Desa Pukdale yang dihelat di Gereja Ebenhaeser Pukdale pada Sabtu, 9 Mei 2020 pukul 16.00 WITA.

Namun, sebelum mengisi buku tamu, kita wajib mencuci tangan menggunakan sabun di wadah yang telah disiapkan. Dan pastinya kita wajib menggunakan masker. Beruntung saat tersebut, tim media Garda Indonesia memakai masker, kalau tak pakai, dengan sangat terpaksa, tak akan diizinkan melanjutkan perjalanan ke dalam lokasi kegiatan.

Salah satu pengunjung sedang mencuci tangan sebelum masuk ke Desa Pukdale

Yang luar biasa, kami dihadang oleh seorang ibu berumur sekitar 50 tahunan yang merupakan kader perempuan bertugas pada siang hari, dengan tegas dan bersahabat, ibu tersebut menyampaikan aturan yang harus kami ikuti dan patuhi (cuci tangan dan mengisi buku tamu) lalu menanyakan tujuan dan meminta kami untuk turun dan mengisi buku tamu.

Termasuk Anita Jacoba Gah dan kru pun diminta untuk turun dari mobil untuk mencuci tangan dan mengisi buku tamu, “Kami pun diminta oleh petugas untuk mencuci tangan dan mengisi buku tamu,” ujar Anita saat menyapa warga desa sebelum menyerahkan bantuan bagi 60 KK.

Namun, Anita Jacoba Gah juga mempertanyakan ada sekitar satu atau dua sepeda motor beserta pengendara yang tidak ditahan dan dibiarkan berlalu begitu saja. “Kalau mau tegakkan aturan, sebaiknya semua yang masuk ke dalam desa wajib mencuci tangan meskipun dia warga Desa Pukdale, karena ada kemungkinan dia dapat membawa virus masuk ke dalam desa,” sergah Anita kepada Kepala Desa Pukdale dan warga yang di dalam Gereja Ebenhaeser Pukdale yang tertib menerapkan protokol kesehatan (duduk menjaga jarak interaksi dan memakai masker).

Kepada Garda Indonesia, ibu yang diketahui bernama Mina Ndun tersebut menyampaikan tentang tata kerja petugas yang dibagi dalam 2 (dua) shift yakni pagi hingga sore dan sore hingga tengah malam. “Bahkan ada pengeluhan dari warga luar kampung, terutama para penjual atau pedagang asongan yang tak mau menaati aturan yang ditetapkan,” ungkapnya sembari menyampaikan sejak diberlakukan pada Maret 2020, sekitar 50 orang (tamu atau pendatang) tak diizinkan masuk ke dalam desa.

Kepala Desa Pukdale, Oktavianus Lesiangi

Kepala Desa Pukdale Oktavianus Lesiangi kepada Garda Indonesia menyampaikan maksud didirikan pos pemantau Covid-19 sebagai langkah antisipasi dan melihat lebih dekat perkembangan virus corona di Desa Pukdale.

“Saya merasa sangat lebih efektif jika kami mendirikan titik pos pemantau dan rutin mengadakan patroli pemantauan, sehingga orang-orang dan saudara kita yang pulang dari daerah zona merah dapat diantisipasi,” tandasnya seraya berkata apa pun yang akan berkembang menyangkut dengan covid-19, kami akan lebih cepat diantisipasi.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)