Arsip Tag: festival desa binaan bank ntt

Desa Ajaobaki di TTS Juara Pertama Festival Desa Binaan Bank NTT 2021

468 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ketua Dewan Juri Festival Desa Binaan Bank NTT 2021, Dr. James Adam, melalui video rekaman yang diputar di depan tamu undangan HUT Ke-59 Bank NTT pada Sabtu,17 Juli 2021, menyampaikan urutan 3 (tiga) pemenang utama dan 1 (satu) juara favorit beserta keunggulannya.

“Festival Desa Binaan Bank NTT tahun 2021 dilakukan oleh Bank NTT dalam rangka implementasi visi Bank NTT sebagai pelopor penggerak ekonomi rakyat. Dan menggali sumber potensi daerah di provinsi NTT. Dewan juri telah menetapkan pemenang,” urai James Adam seraya menjabarkan para pemenang utama dan favorit, Juara I : Desa Ajaobaki, Kabupaten TTS; Juara II : Desa Hadakewa, Kabupaten Lembata; Juara III : Desa Detusoko Barat, Kabupaten Ende; dan
Favorit : Kampung Adat Prai Ijing Desa Tebara, Kabupaten Sumba Barat.

Dr. James selaku ketua dewan juri, membeberkan alasan Desa Ajaobaki terpilih sebagai pemenang pertama Festival Desa Binaan Bank NTT 2021. “Desa ini memiliki beberapa spot wisata yang sangat bagus. Yakni Fatunausus, Fatumnasi, Gunung Marmer, Gunung Mutis dan desa ini berada di puncak, udaranya segar, dingin dan berkabut. Mereka punya multi produk yang ditawarkan yakni 33 jenis minuman dan makanan. Kita akan merasa berbeda ketika kita minum minuman khas instan jahe, serta aneka minuman lainnya. Ada fermentasi jahe, anggur, pisang dan sebagainya. Semuanya bercita rasa istimewa,” terang ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi NTT.

Sebagai dewan juri, Dr. James Adam berharap agar desa-desa yang belum masuk dalam festival tahun ini tidak berkecil hati tetapi lebih termotivasi menggaungkan desa-desa binaannya agar di tahun-tahun berikut menjadi lebih bagus dan lebih berkembang.

“Selamat untuk semua yang menjadi juara dan selamat untuk semua yang telah menjadi peserta,” pungkasnya.

Adapun desa-desa yang teridentifikasi masuk dalam daftar 12 besar, Desa Ajaobaki (nilai 100%), Desa 7 Maret Hadakewa (nilai 100%), Desa Detusoko Barat (nilai 100%), Desa Compang Todo (Nilai 99%), Desa Colol (nilai 96%), Desa Tebara (nilai 96%), Desa Ternate (nilai 95%), Desa Dualaus (nilai 94%), Kelurahan Manutapen (nilai 93%), Desa Kambatatana (nilai 93%), Desa Tuamese (nilai 91%), dan Desa Watugong (nilai 86%).

Juara I berhak atas uang tunai Rp. 250.juta, juara II Rp. 150 juta dan juara III sebesar Rp. 100 juta. Penghargaan bagi pemenang festival diberikan bantuan pengembangan dan perbaikan sarana dan prasarana menjadi usaha yang mandiri (dalam bentuk CSR).

Andre Asa saat menilai UP2K Wanita Tani Suka Maju Desa Ajaobaki

Senada, Handrianus Petrus Asa selaku juri yang menilai langsung Desa Ajaobaki dan terpilih sebagai pemenang pertama Festival Desa Binaan Bank NTT 2021 menyampaikan bahwa Desa Ajaobaki telah memperoleh pendampingan dan pembinaan dari Bank NTT Cabang Soe sejak 2017. Selain itu, terdapat 33 varian produk mulai dari wine jahe, jasuku (jahe, susu, dan kunyit), dan berbagai jenis olahan minuman lainnya.

Quality Control terhadap produk yang dihasilkan sangat. Juga terdapat HAKI dan Sertifikat Halal yang mana untuk memperolehnya harus melalui tahapan ketat dan selektif,” terangnya.

Andre Asa sapaan akrab dari Manager Pengembangan UMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dan sebagai juri Festival Desa Binaan Bank NTT  menyampaikan apresiasi kepada Bank NTT yang melakukan pembinaan tak hanya di hulu, namun menggerakkan roda perekonomian masyarakat Desa Ajaobaki di Kecamatan Fatumnasi

Ia juga berharap agar pembinaan yang dilakukan Bank NTT di Desa Ajaobaki dapat dilaksanakan di desa-desa lain di Kabupaten Timor Tengah Utara Selatan. “Karena dengan berkembangnya Desa Ajaobaki dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat karena sebagaimana kita bahwa kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan,” ungkapnya.

Foto bersama Pendamping Bank NTT Cabang Soe dan UP2K Wanita Tani Suka Maju Desa Ajaobaki

Terpisah, Koordinator UP2K Wanita Tani Suka Maju, Meriana Pinat ketika dihubungi pada Minggu 18 Juli 2021; sangat mensyukuri capaian yang  menempatkan UP2K Wanita Suka Maju sebagai Juara Satu dalam Festival Desa Binaan Bank NTT 2021.

“Puji Tuhan dan Terima Kasih kepada Bank NTT, Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten serta semua stakeholder yang telah membantu support usaha produktif UP2K PKK ini sehingga kami bisa mencapai puncak dan keluar sebagai juara satu tahun ini. Ini berkat campur tangan Tuhan dan Semua Pihak yang telah dengan cara sendiri telah membantu kami mengembangkan usaha produktif unggulan Desa Ajaobaki ini,” tuturnya.

Meriana Pinat pun mengungkapkan bahwa awal menggagas kelompok usaha produktif di Desa ini, tidak mudah, semua berjalan tertatih. “Support awal dari Dana Desa sebesar 25 juta rupiah, kami memulai giat inovasi produk unggulan desa. Selanjutnya sebagai pengembangan, kami mendapatkan support dari Bank NTT dengan modal awal 50 juta. Berkat ketekunan semua anggota kelompok, kini omset usaha produktif kami sudah mencapai Rp.350 juta. Kami juga sudah mempunyai gedung yang bagus.” urainya.

Ke depan, imbuh Meriana Pinat, UP2K Wanita Tani Suka Maju berencana untuk memberdayakan kaum muda Desa Ajaobaki untuk bekerja dan bergiat di usaha produktif yang inovatif di desa sebagai lahan kerja.

“Kita berkomitmen untuk berdayakan kaum muda di desa. Dari pada mereka harus keluar daerah untuk mengais rezeki, lebih baik tetap berada di desa. Desa punya hasil alam yang kaya dan subur tanahnya. Mulailah usaha dari desa untuk mandiri. sehingga dengan demikian dapat membangun Daerah Timor Tengah Selatan dari desa,” Meriana sambil menambahkan bahwa saat ini ada Mahasiswa UNIMOR sebanyak 10 Orang yang sementara magang di UP2K Wanita Tani Suka Maju Desa Ajaobaki. (*)

Sumber dan foto (*/berbagai sumber)

Editor (+roni banase)

Pleno Hasil Festival Desa Binaan Bank NTT, Juri Tetapkan Juara

858 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Festival Desa Binaan Bank NTT yang dihelat selama dua bulan (Mei—Juni 2021, red), diplenokan dalam rapat juri pada Senin siang, 12 Juli 2021 di ruang oval lantai IV kantor pusat Bank NTT dan telah ditetapkan 4 (empat) nominator terbaik untuk juara 1, 2, 3, dan favorit.

Enam juri yang dilibatkan dalam Festival Desa Binaan Bank NTT. Yakni: Dr. James Adam (Akademisi/dosen), Ir. Abraham Paul Liyanto (Ketua KADIN NTT), Dedy Safari (Regulator/Otoritas Jasa Keuangan), Handrianus Paulus Asa (Regulator/Bank Indonesia), Joni Lie Rohi Lodo (Dinas Parekraf NTT), dan Stenly Boymau (Konsultan Pers Bank NTT)

Hadir secara offline ‘tatap muka’ empat orang juri dan dua juri yakni Ir. Abraham Paul Liyanto dan Handrianus Paulus Asa secara online ‘daring’ karena beberapa alasan. Tampak hadir seluruh panitia Festival Desa Binaan Bank NTT.

Saat membuka rapat, mewakili manajemen Bank NTT, Reinhard Djo menegaskan kembali terkait semangat kegiatan ini. “Festival ini merupakan implementasi dari misi Bank NTT yaitu ‘Pelopor Penggerak Ekonomi Rakyat’ dan ‘menggali sumber potensi daerah untuk diusahakan secara produktif bagi kesejahteraan masyarakat NTT,” urai Rei sembari menyampaikan ucapan terima kasih dari manajemen kepada keenam dewan juri.

“Kami melihat dan mendengar, kinerja profesional dari enam dewan juri. Ini adalah sebuah capaian luar biasa karena sudah bersama-sama dengan Bank NTT menggali potensi, walau harus ke pulau-pulau mendatangi Bumdes binaan setiap desa,” ungkap Rei sambil menegaskan, manajemen tidak campur tangan terhadap kerja juri.

Juri diberi kesempatan untuk bekerja, imbuh Rei, dan manajemen tidak akan mengintervensi. “Dengan demikian, tentu kami berharap agar keputusan yang dihasilkan, objektif, dan nantinya desa ini menjadi pionir bagi desa-desa lain di NTT,” tandasnya.

Sejumlah fakta mengemuka dalam rapat selama hampir tujuh jam itu. Berlangsung dari pukul 14.00—19.30 WITA. Ketua dewan juri, Dr. James Adam saat membuka rapat , memberikan kesempatan kepada setiap juri mempresentasikan temuan di lapangan. Pasalnya, setiap juri mendatangi empat Bumdes yang tersebar di seluruh NTT untuk mengevaluasi kinerjanya. Begitu pula dengan para pimpinan cabang Bank NTT tentang keseriusan mentransfer dan mengimplementasikan visi Bank NTT.

Hasil presentasi setiap juri, lalu secara bersama mengevaluasi kinerja 23 Bumdes untuk menentukan 12 terbaik. Kemudian, setiap juri masih diberikan kesempatan untuk beradu argumentasi, mengacu pada data-data yang ditemukan serta disandingkan dengan fakta-fakta pendukung lainnya.

Suasana pleno hasil Festival Desa Binaan Bank NTT

Diskusi menjadi cukup serius, karena muncul argumentasi mengenai validitas skor yang ditetapkan, karena ada perbedaan persepsi dari setiap juri, karena tidak semua daerah didatangi mereka. Setiap orang hanya dijatahi empat. Namun, akhirnya ada solusinya, bahwa kehadiran satu orang juri di lokasi, mengakomodir kepentingan seluruhnya. Ada data dan dokumentasi yang lengkap, di-cover oleh panitia sehingga fakta-fakta itulah yang dibuka saat evaluasi.

Diskusi kian sengit tatkala saat skoring ‘penilaian’ ada tiga Bumdes yang memiliki skor 100. Sedangkan lainnya berada pada kisaran skor 93—99. Ini terjadi karena skor untuk empat kriteria yakni kriteria utama, lokasi, usaha dan ketrampilan desa binaan masing-masing dengan terjemahannya, nyaris lengkap.

Para nominator memiliki Lopo DI@ BISA dengan totalitas kerja agen yang melampaui target. Bahkan semuanya dibuktikan dengan rekap dari tiap cabang mengenai agen, dan kinerja keuangannya. Terobosan mereka menembus pasar nasional memasarkan produk lokal, menjadi pertimbangan. Bahkan beberapa desa, sukses menjual produk mereka di Shopee, Tokopedia, Bukalapak bahkan ada yang memiliki dan mengelola website ‘laman’ sendiri.

“Kalau kita lihat memang beberapa desa punya nama besar. Namun, nama besar di bidang inovasi demi pengembangan potensi desa itu. Apakah saat Bank NTT masuk, dan dimodali oleh Bank NTT ataukah justru tanpa bank ini pun mereka bisa jalan?. Saya justru melihat tentang sejauh mana peranan bank ini bagi pertumbuhan usaha mereka sehingga filosofi kehadiran Bank NTT sebagai pelopor penggerak ekonomi rakyat, terjawab di sini,” tegas Paul Liyanto.

Pernyataannya sangat beralasan, karena ketika penentuan skor, ada desa yang nilainya tinggi, namun keunggulannya tidak serta merta karena kehadiran Bank NTT. Sehingga dengan beberapa pertimbangan, juri akhirnya memutuskan tiga juara utama dengan satu favorit. Dan, juara-juara ini akan diumumkan pada saat perayaan HUT Ke-59 Bank NTT, pada Sabtu, 17 Juli 2021.

Juara I berhak atas uang tunai Rp.250.juta, juara II Rp.150 juta dan juara III sebesar Rp.100 juta. Penghargaan bagi pemenang festival diberikan bantuan pengembangan dan perbaikan sarana dan prasarana menjadi usaha yang mandiri (dalam bentuk CSR). “Hari ini juri telah selesai melaksanakan tugasnya untuk menyaring dan menentukan mana yang terbaik. Perlu ditekankan bahwa memang ada yang sukses, karena geliat usahanya cukup maju. Namun, ada beberapa pertimbangan lain, seperti, apakah kemajuan itu setelah kehadiran Bank NTT atau justru tanpa Bank NTT pun mereka sudah berjalan?. Waktu pendampingan menjadi pertimbangan, begitu pula dengan ada banyak alasan, mengapa si A menjadi juara dan si B tidak,” tegas James Adam saat menutup rapat.

Juara sudah ditetapkan, selanjutnya akan diserahkan ke panitia untuk diumumkan, namun yang menjadi catatan penting adalah tentang keberlanjutan usaha di setiap Bumdes. Karena itu butuh pendampingan lanjutan, dan ini sudah menyangkut keseriusan kerja Bank NTT di tingkat cabang. “Karena itu perlu ada pelatihan atau training untuk para pengelola Bumdes, marketing praktis promosi dan juga display produk. Bagi kami, ini harus ada kemitraan dengan pihak luar, ada yang sudah jalan dan ada yang belum. Lalu sistem keuangannya bagaimana, agar nanti usahanya bisa awet,” pungkas James.

Dengan berakhirnya penetapan pemenang, maka berakhirlah kerja juri selama dua bulan. Juri pun memberikan sejumlah rekomendasi secara tertulis, yang akan menjadi catatan penting bagi manajemen Bank NTT. Seluruh nominator, atau 23 Bumdes akan memperoleh piagam penghargaan dari manajemen. (*)

Sumber dan foto (*/Humas Bank NTT)

Desa Makatakeri Sumba Tengah Optimalkan Lopo Dia Bisa Bank NTT

334 Views

Sumba Tengah, Garda Indonesia | Warga Desa Makatakeri, Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah pasca-sentuhan dan pendampingan menjadi Desa Binaan Bank NTT, meski di tengah pandemi Covid-19 lebih meningkatkan potensi desa dengan memanfaatkan secara optimal Lopo Dia Bisa Bank NTT, di desa yang memiliki “Jejak Tapak dan Bukit Presiden Jokowi” tersebut pun telah familier dengan layanan digital Bank NTT.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/06/09/festival-desa-binaan-bank-ntt-bergulir-juri-menilai-dan-simak-geliat-ekonomi/

Desa Makatakeri yang juga terkenal pasca-kunjungan Presiden Jokowi meninjau Lumbung Pangan atau food estate pada 23 Februari 2021, tampak geliat ekonomi warga dengan memamerkan dan memasarkan hasil tenun khas Sumba dan memanfaatkan pembayaran digital dengan QRIS Bank NTT.

Foto bersama Kepala Divisi Pemasaran Kredit Mikro Kecil dan Konsumer, Johannis Tadoe (paling kanan), Johny Rohi (ketiga dari kanan) dari Disparekraf Provinsi NTT, Kades Makatakeri (paling kiri)  dan aparat desa

Juri Festival Desa Binaan Bank NTT, Johny Rohi dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) NTT bersama Kepala Divisi Pemasaran Kredit Mikro Kecil dan Konsumer, Johannis Tadoe usai mengunjungi Desa Makatakeri Binaan Bank NTT Anakalang pada Kamis, 10 Juni 2021 mengungkapkan ada geliat ekonomi masyarakat dengan pendampingan Bank NTT cukup konsisten dan dapat memberikan manfaat lebih jika ada perhatian dari seluruh stakeholder.

“Bank NTT telah memulai, kalau ada kolaborasi dari berbagai pihak, maka bakal meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat menggunakan layanan digital. Saat saya di sana, ada tamu yang berbelanja menggunakan QRIS,” ungkap Johny Rohi seraya menyampaikan dengan kondisi tersebut memudahkan masyarakat melakukan transaksi non-tunai di saat pandemi Covid-19.

Agen Dia Bisa Bank NTT, Bukit Jokowi

Selain itu, imbuh Johny Rohi, perlu juga ditingkatkan kapasitas masyarakat menjadi Agen Dia bisa Bank NTT. “Itu memudahkan mereka menggunakan layanan digital Bank NTT guna memenuhi kebutuhan secara digital seperti pembelian token listrik, pulsa telepon, dan pulsa data.

Meski baru memulai sebagai Desa Wisata, ungkap Johny Rohi, warga Desa Makatakeri telah mengoptimalkan menjual hasil tenun dan kerajinan turunan melalui Lopo Dia Bisa Bank NTT. “Bahkan ada pihak luar yang ingin memanfaatkan Lopo Dia Bisa Bank NTT, namun masih diberikan kesempatan untuk kepada masyarakat setempat,” tandasnya.

Ketua Kelompok Tenun Laipatedang, Ibu Aryance Jola Pedi saat menerangkan proses pemasaran dan penjualan tenun menggunakan QRIS Bank NTT

Sementara, Kepala Desa Makatakeri Dedi Soru menyampaikan kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara mulai meningkat pasca-kunjungan Presiden Jokowi. “Kunjungan wisatawan termasuk pemerintahan ingin melihat dan mendapat efek dari jejak tapak kaki Presiden Jokowi di lokasi food estate dan dapat menikmati hamparan indah persawahan sebagai lumbung pangan masyarakat Sumba Tengah,” ungkapnya.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/Divisi Pemasaran Kredit Bank NTT)

Festival Desa Binaan Bank NTT Bergulir, Juri Menilai dan Simak Geliat Ekonomi

472 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ajang Festival Desa Binaan Bank NTT mulai bergulir, 6 (enam) juri mulai turun ke 24 lokasi untuk melakukan penilaian terhadap aktivitas setiap desa binaan yang tersebar di seluruh NTT. Keenam juri yakni ketua tim, Dr. James Adam (Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia/ISEI NTT), berkunjung ke Kampung Adat Bena, lokasi binaan kantor Bank NTT cabang Bajawa, Desa Colol binaan Borong, Compang Todo binaan Ruteng dan Desa Gorontalo binaan Bank NTT cabang Labuan Bajo.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/04/20/optimalisasi-layanan-digital-bank-di-desa-bank-ntt-helat-festival-desa-binaan/

Sementara, Dedy Safari dari Otoritas Jasa Keuangan mengunjungi Desa Tuamese binaan Bank NTT Cabang Kefamenanu, Desa Dualaus binaan Atambua dan Desa Kamanasa binaan Cabang Betun. Lalu, Handrianus P. Asa dari Bank Indonesia mengunjungi Kelurahan Manutapen dan Desa Mata Air binaan KCU Kupang dan e-Mart Shop binaan Cabang Oelamasi dan Desa Ajaobaki binaan Bank NTT Cabang SoE.

Desa Kwalelo binaan Bank NTT Cabang Larantuka, Desa Watugong di Maumere, Desa Detusoko Barat di Ende, dan Desa Bidoa binaan Cabang Mbay dikunjungi oleh Ir. Abraham Paul Liyanto, Ketua Kadin NTT.

Juri kelima, Johny Rohi dari Dinas Parekraf NTT mengunjungi Desa Lambanapu binaan Cabang Waingapu, Desa Matakateri binaan Cabang Anakalang, Desa Moromanduyo danau Waekuri binaan Cabang Waitabula, dan Desa Tebara binaan Cabang Waikabubak. Terakhir,

Dan juri keenam, Stenly Boymau (media consulting Bank NTT) melakukan penilaian ke Desa Ndao binaan Cabang Rote, Desa Hadakewa di Lewoleba, Desa Raeloro di Seba, Sabu Raijua, dan Desa Ternate binaan Bank NTT Cabang Kalabahi.

Ketua dewan juri, Dr. James Adam, saat berada di Kampung Adat Bena, lokasi binaan Bank NTT Cabang Bajawa. (Foto Dok. Bank NTT Bajawa)

Lalu seperti apa respons dewan juri ketika terjun ke lokasi Festival Desa Binaan Bank NTT? Ternyata ditemukan banyak fakta menarik, yang membuat juri terpana. Ada geliat ekonomi yang sangat nyata. Masyarakat mulai melakukan transaksi digital dengan membayar dengan menggunakan QRIS Bank NTT. Ini tampak dan bahkan sangat nyata pada aktivitas transaksi yang dicatat dari agen-agen digital (Dia Bisa) yang dibentuk oleh Bank NTT di lokasi-lokasi tersebut.

Di pekan pertama proses verifikasi data lapangan, juri menemukan fakta itu di hampir seluruh desa binaan. Seperti di Desa Raeloro, Sabu Raijua, Desa Hadakewa Kabupaten Lembata, Desa Tuamese di Timor Tengah Utara (TTU) bahkan di kampung adat Bena, Kabupaten Ngada. Masyarakat direkrut menjadi agen digital, dan terbanyak jenis transaksinya adalah pulsa listrik, telepon, dan jasa pengiriman uang.

Bukan hanya itu, Lopo Dia Bisa pun dibangun dengan menggunakan kearifan lokal, dan di lopo tersebut, ada etalase yang disiapkan untuk memajang aneka produk hasil kreasi warga, misalnya aneka motif tenunan, ada juga penganan khas desa adat setempat, serta produk-produk lokal lainnya. Di sana, ada geliat transaksi digital, yakni menggunakan layanan QRIS.

Uniknya, setiap produk primadona profilnya disiapkan dalam bentuk digital. Bagi yang ingin menelusuri sejarah singkat kampung adat ataupun produk unggulan yang dijual, tinggal scan barcode yang tersedia, lalu sejarahnya akan muncul.

Ketua dewan juri, Dr. James Adam, menegaskan bahwa juri menemukan hal-hal baru dalam uji petik di lapangan. “Juri menerima laporan awal dari tiap desa binaan berupa data administrasi dan video berdurasi dua menit, berisikan profil desa binaan yang ikut festival. Lalu juri turun lapangan untuk verifikasi. Dan, luar biasa,” ucap akademisi itu sembari menambahkan, “Performance dari setiap lokasi desa binaan Bank NTT bagus penataannya, pengelolanya dan kegiatan-kegiatannya. Khusus yang menawarkan produk budaya memang punya ciri khas dibanding produk makanan, minuman dan tenunan.”

Ketua tim juri Festival Desa Binaan Bank NTT berpose bersama agen dia bisa Bank NTT di Desa Bena, Bajawa

Ada kekhasan budaya tertentu yang belum diekspos yang sebetulnya punya nilai jual lebih. Karena itu, menurutnya, James Adam memberi apresiasi kepada Bank NTT yang mengambil langkah berani, mendesain kegiatan Festival Desa Binaan Bank NTT tahun ini. Diakuinya, ke depan tentu butuh ekstra kerja keras dari Bank NTT agar sistem IT yang dibuat bisa diimplementasikan secara optimal sebab posisi geografis tiap desa binaan menurutnya menjadi catatan penting.

Selanjutnya, juri bakal melakukan verifikasi lapangan hingga pertengahan Juni 2021, dan di akhir bulan yang sama, dapat dipastikan desa binaan mana yang masuk sebagai nominator desa binaan terbaik se-NTT dan telah tersedia sejumlah hadiah fantastis.

Bahkan, Bank NTT melalui ajang Festival Desa Binaan turut meningkatkan ekonomi masyarakat desa dan mendukung program Pemprov NTT dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tak hanya itu, festival ini pun sebagai upaya pelestarian adat, budaya dan mewariskan kekayaan intelektual dalam bentuk karya seni kepada generasi masa depan.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank NTT, Harry Alex Riwu Kaho menegaskan tujuan dari festival desa binaan Bank NTT ini, adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat desa yang multiply effect, menciptakan desa binaan yang mandiri berbasis digital, sentralisasi produk perbankan baik itu produk dana pihak ketiga (DPK) dan Kredit, sebagai media promosi dan pemasaran produk Bank NTT. (*)

Sumber berita dan foto (*/tim)

Editor (+roni banase)

Kinerja Bank NTT Semakin Profesional di Tengah Pandemi & Pasca-Badai Seroja

680 Views

Bank Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT, menunjukkan kinerja semakin profesional dalam mendorong dan membangun potensi NTT. Sejumlah tokoh berkompeten di bidangnya. Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) NTT, Abraham Paul Liyanto, kepada Timor Express menegaskan kondisi tersebut.

“Kami dari Kadin mengamati, ada sebuah perubahan signifikan di Bank NTT. Baik dalam tata kelola organisasi, ekspansi bisnis dan juga inovasi dalam pelayanan. Ini patut diberi apresiasi,” tegas senator Paul Liyanto  sembari berharap agar Bank NTT menjadi lokomotif pembangunan ekonomi di NTT.

Menurut Paul Liyanto, Bank NTT berpusat di NTT dan dapat secara maksimal mengelola dana masyarakat. “Saya kira dengan sempurnanya direksi yang ada, kinerja mereka sudah cukup baik. Cukup bangkit. Dengan inovasi yang mereka lakukan saat ini, sangatlah tepat. Bagi saya, ini lokomotif yang sangat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat NTT karena tanpa dorongan, saya rasa dunia usaha pun akan susah untuk bangkit,” terangnya.

Bank NTT, imbuh Ketua Kadin Provinsi NTT, memiliki team work hebat, inovatif dan cekatan dalam mendesain strategi Perbankan. “Bagi saya, ini karena kemampuan leadership membangun team work yang baik dan solid. Para direksi yang ada bekerjasama dengan para komisaris, semuanya mendukung,” ungkap Paul.

Ia melihat karakter Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho tipikal seorang pekerja keras, optimis, dan mampu membangun team work guna membawa Bank NTT menjadi Bank Devisa. “Itulah yang bagi saya, bagaimana me-manage lembaga finance yang besar, tidak bisa kita one man show. Mau pintar seperti apa, kalau mau kerja sendiri tanpa team work, saya rasa agak sulit,” ulas Paul Liyanto.

Karena itu jika mau jujur, imbuh Paul Liyanto, saya melihat ada perubahan yang sangat menyolok soal ukuran kinerja direksi. “Ini kalau kita mau evaluasi. Bagi saya evaluasinya soal inovasi, sejauh mana mereka melakukan penetrasi dan kemudian disambut publik. Salah satu, yang saya kagumi adalah kita melihat ada banyak dana CSR yang dipakai untuk menghadirkan kegiatan inovatif,” tegas Paul mencontohkan, Festival Desa Binaan Bank NTT adalah inovasi cerdas Bank NTT.

Juga ada Program Ramai Skali Bank NTT dan beberapa lainnya. “Dulu, dana CSR ini dipakai untuk dibagi-bagi. Namun sekarang, justru lain. Mereka ciptakan even, dan menghadirkan banyak kegiatan melibatkan masyarakat. Dan ini bagus,” tegas Paul.

Apalagi fokus Bank NTT, lanjutnya, ke depan itu soal digitalisasi dan elektronifikasi. Baginya, ini sangat bagus karena ini tidak sekadar tren dalam transaksi sekarang, melainkan sudah menjadi kebutuhan. “Kami melihat, industri finance akan banyak yang kolaps jika tidak memanfaatkan teknologi secara baik,” urainya.

Suasana Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2020

Ada terobosan lain yang bagi Paul, patut diberi jempol yakni keberanian Bank NTT mengumumkan debitur bermasalah. Baginya ini upaya nyata untuk menekan non profit loan (NPL) dan juga bukti bahwa ada tanggungjawab yang dilaksanakan. “Ini professional,” tegasnya singkat.

Kinerja perbankan ini, tandas Paul Liyanto, dinilai oleh OJK, dan jika ada penagihan secara terbuka terhadap debitur nakal, maka ini sebuah keberanian yang harus diapresiasi.  Terobosan berikut, adalah soal inovasi Bank NTT yang intens keliling daerah untuk menawarkan pinjaman daerah kepada Pemda. Malah, banyak Pemda sudah menyatakan kesediaannya mengajukan pinjaman ke Bank NTT.

Penegasan sama disampaikan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Provinsi NTT, Dr. James Adam. Ditemui di Kupang,  ekonom yang terkenal kritis ini menegaskan bahwa Bank NTT adalah bank milik masyarakat NTT yang harus terus dikawal. Menurutnya, harus didukung, karena sejauh ini Bank NTT terkenal kreatif dalam mendesain program untuk pengumpulan dana masyarakat. Ada Gebyar NTT, Kredit Merdeka dan sebagainya bahkan muncul Festival Desa Binaan.

“Dalam kaitan dengan pengumpulan dana masyarakat, sangat kuat. Makanya modal mereka berputar lebih cepat. Harus diakui, kreativitas dan inovasi bank ini sangat banyak dan hebat. Dia (Bank NTT,red) intens mengumpulkan dana masyarakat supaya memperkuat modalnya. Sehingga ini juga akan berimbas pada pertumbuhannya. Walaupun ada kredit macet yang jumlahnya sekian persen, namun di sisi lain, dia masih bisa melakukan ekspansi karena punya inovasi. Dan ini digarap maksimal,”tegas James serius.

Berikutnya, jika mau jujur melihat, ungkap James, Bank NTT sudah banyak berkontribusi dalam memajukan pembangunan di NTT. Seperti kegiatan Festival Desa Binaan Bank NTT yang selain menggairahkan pertumbuhan ekonomi sektor mikro, juga menciptakan satu destinasi baru dalam wisata. Karena ada histori yang didesain secara digital, dan elektronifikasi dalam transaksi. Di sisi lain, Bank NTT juga mampu menyukseskan realisasi penggunaan anggaran untuk pemulihan ekonomi nasional (PEN), dan kinerja ini diakui oleh regulator.

Strategi lain, urai James, untuk pemulihan ekonomi dengan menggerakkan belanja daerah. Karena semua kepala daerah adalah pemegang saham Bank NTT sehingga otomatis, itu sangat baik karena ikut mendorong. Apalagi ada program pemberian kredit untuk pembangunan di daerah dari Bank NTT yang dikemas dalam program pinjaman daerah. “Ini sangat bagus. Karena ini satu cara untuk ‘mengatasi’ yang macet-macet itu. Ada kekuatan secara internal untuk fungsi bank ini jalan. Bagi saya, ini cara tepat yang harus dilakukan oleh bank daerah agar tidak kalah dalam berkompetisi dengan bank nasional,” ujar James.

Penyerahan Donasi Bank NTT Peduli senilai 1,5 Miliar kepada Pemprov NTT yang diterima oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

Sementara terkait kinerja direksi saat ini, bagi James, itu porsi OJK. Hanya secara kasat mata pihaknya melihat bahwa ada kemajuan signifikan. Bahkan luar biasa gebrakan-gebrakan yang sudah dilakukan direksi. Sehingga mengacu pada kondisi yang ada, dia berharap agar semua pihak mendukung direksi untuk mengeksekusi mimpi-mimpi di depan.

OJK: Wujudkan Modal Inti

Pesan menarik datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT, mengenai dilaksanakannya Rapat Umum Pemegang Saham Tahun Buku 2020 (RUPS-TB 2020)  yang dihelat pada Senin, 26 April 2021 di kantor Gubernur NTT.

Menanggapi agenda RUPS, Kepala OJK Perwakilan NTT Robert Sianipar menyampaikan sejumlah harapan positif yang mendorong  perkembangan dan kemajuan Bank NTT ke depan. “Kami berharap agenda RUPS Bank NTT kali ini bisa  mendorong Bank NTT lebih berkembang di waktu- waktu mendatang terutama bagaimana menuju pemenuhan Modal Inti Minimum (MIM) Rp. 3 triliun,” tegas Sianipar sembari menambahkan kebutuhan mendesak saat ini bagi Bank NTT adalah bagaimana upaya  pemenuhan modal inti Rp. 3 triliun pada tahun 2024 sebagaimana yang diwajibkan dalam POJK.

“Jadi progress ini (pemenuhan modal inti-red)  juga perlu dibicarakan. Kalau ada agenda agenda lain tentu bagaimana mendorong Bank NTT semakin maju. Misalnya selain bagaimana mendorong digitalisasi pelayanan,” terang Kepala OJK Perwakilan NTT.

OJK, tandas Robert Sianipar, juga mendorong bagaimana Perbankan memenuhi tuntutan digitalisasi dan penerapan oleh Bank NTT guna mendorong perkembangan pelayanannya. Kalaupun ada catatan atau arahan dalam RUPS menurutnya, itu harus dipahami sebagai upaya untuk mendorong BPD NTT lebih berkembang. Bagi dia, satu hal yang harus diapresiasi adalah semangat manajemen untuk mewujudkan Tingkat Kesehatan Bank 2 (TKB 2) menuju Bank Divisa di tahun 2023 mendatang.

“Harapan kami agar ini menjadi perhatian tersendiri dalam RUPS. Upaya-upaya menuju ke sana kami sudah pernah sampaikan terutama penerapan tata kelola  dan management resikonya,” pungkasnya. (*)

Sumber  (*/tim timex/boy/ogi)

Editor (+roni banase)

Optimalisasi Layanan Digital Bank di Desa, Bank NTT Helat Festival Desa Binaan

570 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bank NTT gencar berupaya mendorong potensi unggulan desa (sumber daya alam [SDM] dan sumber daya manusia [SDA]) sehingga dapat melahirkan desa binaan yang memiliki kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang menjalankan dan mengelola usahanya hingga tumbuh dan berkembang menjadi usaha mandiri dan berprestasi.

Guna melahirkan Desa Binaan yang mengoptimalkan layanan Perbankan berbasis digital dan mendorong penggunaan uang non-tunai di sentra potensi ekonomi masyarakat desa, maka Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT) menghelat “Festival Desa Binaan” yang diikuti oleh 47 Desa dari total 3.026 Desa di seluruh NTT (sementara diikuti oleh desa yang memiliki Kantor Cabang Bank NTT, red).

Simak contoh video YouTube Festival Desa Binaan dari Bank NTT Cabang Bajawa di bawah : https://youtu.be/leAsFttKxG4

Festival Desa Binaan Bank NTT juga merupakan implementasi dari misi Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur yakni sebagai  “Pelopor Penggerak Ekonomi Rakyat” dan “Menggali Sumber Potensi Daerah untuk diusahakan secara Produktif bagi Kesejahteraan Masyarakat NTT” dan bertujuan meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat desa yang multiply effect, menciptakan Desa Binaan yang mandiri dan berbasis digital, sentralisasi produk Perbankan baik itu produk Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit, sebagai media promosi dan pemasaran produk Bank NTT, Pilot Project pengembangan Desa Binaan Bank NTT, dan menjadi pusat informasi potensi unggulan di daerah tersebut.

Adapun persyaratan Desa Binaan Bank NTT antara lain memiliki akses jalan ke lokasi terjangkau; memiliki potensi ekonomi yang Multiply Effect pada masyarakat desa; memiliki keragaman usaha; produk yang dijual merupakan produk hasil dan produktivitas masyarakat setempat; transaksi penjualan produk dan jasa berbasis elektronifikasi dengan menggunakan produk-produk Bank NTT (menggunakan QRis); Desa Binaan atau produk yang dihasilkan ter-elektronifikasi memuat cerita atau history desa dan produk-produk yang dipasarkan (dalam bentuk barcode); dan produk yang dijual wajib dikemas dengan branding bank NTT.

Selain itu, Desa Binaan Bank NTT harus memiliki Lopo Dia Bisa yang dijadikan tempat usaha dan juga sebagai media informasi potensi unggulan; memiliki Agen Dia Bisa minimal 50% dari pelaku ekonomi yang ada di desa tersebut; bisnis yang dijalankan tidak melanggar hukum dan norma-norma yang berlaku di Negara Republik Indonesia; produk dihasilkan telah tersertifikasi oleh lembaga yang berwenang; Cabang Bank NTT di lokasi Desa Binaan wajib mengirimkan dokumen ke kantor pusat Divisi Pemasaran Kredit Mikro, Kecil dan Konsumer dalam bentuk profil Desa Binaan, foto dan video (video: cerita singkat terkait aktivitas ekonomi masyarakat setempat); dan setiap cabang wajib mengikutsertakan minimal 1 (satu) Desa.

Bank NTT menyediakan penghargaan berupa tabungan bagi pemenang Festival Desa Binaan yakni juara pertama senilai  Rp.250 juta, juara kedua Rp.150 juta, dan peringkat ketiga Rp.100 juta atau, diberikan bantuan pengembangan dan perbaikan sarana dan prasarana menjadi usaha yang mandiri (dalam bentuk CSR).

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho didampingi Direktur Pemasaran Kredit, Paul Stefen Mesakh, usai melaksanakan rapat dewan juri yang dihadiri oleh Dr. James Adam (Ketua) dan anggota antara lain Handrianus P. Asa (Regulator/Bank Indonesia), Abraham Paul Liyanto (Ketua Kadin Indonesia Provinsi NTT), Joni Lie Rohi Lodo dari Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif NTT, Dony Prasetyo dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Stanley Boymau dari unsur media; menyampaikan kegiatan Festival Desa Binaan merupakan kegiatan perdana yang dihelat Bank NTT.

“Kami telah melaksanakan rapat dengan dewan juri untuk menyamakan persepsi dan menyempurnakan lagi beberapa parameter, bobot, indikator, dan beberapa sasaran yang ingin kami capai bersama,” ujar Alex Riwu Kaho pada Selasa sore, 20 April 2021 di lantai 5 Kantor Pusat Bank NTT seraya menyampaikan tujuan utama untuk memperkenalkan jasa layanan bank dan setiap desa dapat masuk dalam dunia digital dan berkompetisi secara sehat.

Festival Desa Binaan Bank NTT, imbuh Alex, diselenggarakan pada 1 April hingga 1 Juli 2021. “Puncak pengumuman Festival Desa Binaan Bank NTT disampaikan pada 17 Juli 2021,” ujarnya.

Kepada awak media, Ketua Dewan Juri Festival Desa Binaan Bank NTT, Dr. James Adam menyampaikan, peserta Festival Desa Binaan terdiri dari 23 cabang Bank NTT dengan lokus di 47 desa. “Jadi ada 1 cabang yang mengirim lebih dari satu lokus dan dari 47 lokus itu akan ada beberapa jenis usaha yang akan nilai. Dan dari 23 cabang yang mengirim dokumen, saya identifikasi, 18 cabang tersebut memiliki usaha pariwisata,” urainya.

Melalui Festival Desa Binaan Bank NTT ini, urai Dr. James Adam, memberikan dorongan agar pemulihan ekonomi daerah. “Bank NTT hadir tak hanya mengurus keuangan, namun mengurus perut (komsumsi, red) dan ekonomi masyarakat. Jadi misalnya, di sebuah desa memiliki banyak penenun, maka Bank NTT menjembatani melaui Festival Desa Binaan,” tegasnya sembari mengungkapkan bahwa hanya 5 cabang Bank NTT yang tidak mengirimkan lokus di luar dari pariwisata yakni ada pertanian, peternakan, dan perikanan.

Untuk diketahui, 23 cabang yang mengikutsertakan desa dalam Festival Desa Binaan Bank NTT di antaranya :

  1. Cabang Kota Kupang, lokasi di Lasiana
  2. Maumere, Kawasan Uma Ata
  3. Atambua, Kolam Susuk dan Fulan Fehan
  4. Ende, Kecamatan Detusoko
  5. Waingapu, Kawasan Priemadita
  6. Ruteng, Liang Bua
  7. Cabang Kefamenanu, lokus di Wini, Eban, Tanjung Bastian
  8. Soe, berlokus di kawasan Mutis, Fatumnasi, Fatukopa, dan Oetune
  9. Waikabubak, lokus di Kota Waikabubak, Lapale, Payili Dobba
  10. Lewoleba, di Lamalera
  11. Larantuka, Desa Binaan berlokus di Kota Larantuka, dan Pantai Meko Adonara
  12. Bajawa dengan 3 (tiga) lokus yakni di Kawasan Soa, Manulalu, dan Kampung Adat Bena
  13. Rote Ndao, lokus di Kawasan Mulut Seribu, Kota Ba’a, dan Kawasan Tolanamon
  14. Kabupaten Kupang, Tablololong dan Noelbaki
  15. Sabu Raijua dengan lokus di Kalabba Madja dan Kampung Adat Namata
  16. Labuan Bajo terdapat 3 (tiga) lokus yakni Kawasan Batu Cermin, Waebobok, dan Kawasan Terang
  17. Waitabula memiliki 3 lokus yaitu Kawasan Ratenggaro, Walleo, dan Kawasan Watu Maladong
  18. Mbay, Kawasan 17 Pulau Riung
  19. Kalabahi Alor di Kawasan Moru
  20. Anakalang berlokus di Kampung Adat Laitarung, Matayangu, dan Kondamaloba
  21. Cabang Oelamasi Kabupaten Kupang dengan lokus di Pantai Liman Semau dan Fatuleu
  22. Borong Ruteng di Kawasan Danau Ranamese dan Menara Padang
  23. Cabang Malaka berlokus di Motadikin, Malaka Tengah, dan Desa Fahiluka

Penulis, editor dan foto utama (+roni banase)