Arsip Tag: IMO Indonesia

Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital

71 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Dalam kesempatan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2019 yang dirayakan di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu, 09 Pebruari 2019, Pers Indonesia sangat cukup dibutuhkan untuk berperan aktif menguatkan kerakyatan berbasis digital.

Dalam kesempatan penyelenggaraan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2019 ini, organisasi perusahaan pers nasional Ikatan Media Online (IMO) Indonesia salah satu motor penggerak insan Pers dalam merayakan Hari Pers Nasional.

Dimana Ikatan Media Online atau IMO-Indonesia, lahir demi kemajuan Pers yang sehat secara digital. Sehingga melalui momentum HPN 2019, Pers Indonesia dapat menjaga Negara Republik Indonesia.

Organisasi perusahaan Pers Nasional Ikatan Media Online (IMO) Indonesia berharap Pers perlu menjaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Sebab media-media Pers, besar kemungkinan akan mengalami perubahan, tapi Wartawan/Jurnalis terus jaya dan abadi.

Tugas Wartawan/Jurnalis dan media, merawat, menjaga keutuhan NKRI, termasuk dengan menyampaikan kritik dan sudut pandangan Pers yang sehat secara independen.

Ikatan Media Online (IMO) Indonesia yang memiliki komitmen menangkal berita hoak atau hoax, mengajak insan Pers melalui perayaan HPN 2019 ini menjadi momentum untuk memperkuat peranan pers sebagai jembatan sekaligus ujung tombak ekonomi kerakyatan berbasis digital.

Karena kehadiran pers yang semakin meningkat di Indonesia saat ini, sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan sektor usaha kecil dan menengah, terutama dalam menghadapi kemajuan zaman dan arus digitalisasi yang sangat pesat.

Sehingga melalui kritik-kritik yang tajam dari Pers itu sendiri, pemerintah Indonesia tanpa terkecuali dapat bekerja dengan baik untuk membangun ekonomi kerakyatan berbasis digital yang selama ini dicita-citakan oleh Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Ir. H Jokowidodo bersama Jusuf Kalla (JK).

Pers sangat berperan dalam menyuarakan dan menghadirkan masukan kepada pemerintah, baik pusat dan daerah. Di era serba digital saat ini, pemberitaan dari pers terkait daya saing UKM sangat diperhatikan.

Tak kalah menariknya, Kota Surabaya merupakan sejarah lokasi penyelenggaraan Hari Pers Nasional 2019, karena Surabaya merupakan kota terbesar nomor dua di Indonesia setelah Ibu Kota Jakarta. (*)

Sumber berita (*/Tim IMO-Indonesia)

IMO-Indonesia Angkat Bicara Terkait Grasi bagi Susrama Pembunuh Jurnalis

64 Views

Jakarta, gardaindonesia.id | Ikatan Media Online Indonesia atau IMO-Indonesia merasa prihatin atas permasalahan yang menyita perhatian publik khususnya masyarakat pers indonesia perihal rencana pemberian grasi kepada Susrama. Dewan Pengawas IMO-Indonesia, Tjandra Setiadji SH,MH., meminta pemberian grasi Susrama untuk dievaluasi. Menurutnya, grasi tersebut menjadi insiden buruk untuk publik, demikian dikatakan Tjandra kepada pewarta di Jakarta, Sabtu/ 26/1/2019.

Diberitakan sebelumnya, pemerintah berencana untuk memberikan grasi pembunuh wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa 2009 lalu. Proses hukum terhadap pembunuhan tersebut telah berakhir pada vonis hukuman mati kepada pelaku.

Baca juga:

https://gardaindonesia.id/2019/01/25/sjb-kecam-remisi-jokowi-bagi-pembunuh-jurnalis-radar-bali/

Alasan Andy sapaan akrab dari Tjandra Setiadji meminta evaluasi karena pemberian grasi akan menjadi pemula dan menutup pintu kebebasan pers.

“Rakyat berjuang untuk meraih kemerdekaan pers, menjadi dunia terbuka, jangan sampai fenomena ini menjadi awal kembalinya dunia kelam tersebut,” terang Andy.

Andy sadar bahwa pemberian grasi itu sebenarnya hak setiap narapidana. Tetapi Andy menilai untuk kasus tersebut menyangkut masalah masa depan demokrasi.

“Tinjauan hukumnya sah-sah saja, tetapi ini menyangkut masalah masa depan bangsa yang sudah mendapat hadiah demokrasi yang sudah sangat terbuka,” jelas Andy yang juga praktisi hukum itu.

Oleh karena itu, lanjut Andy, sebelum final jalan terakhir adalah pemerintah harus melakukan evaluasi.

“Sebelum masyarakat pers merasa kecewa terlalu jauh maka wajib dievaluasi,” pinta Andy.

Kalau tidak, Andy menilai dunia pers akan mengalami kemunduran. “Demokrasi mundur, kalau ini dipaksakan,” pungkas Andy. (*)

 

Sumber berita (*/Tim IMO Indonesia)

Editor (+rony banase)

Ketua IMO Indonesia : “Media Massa Wajib Menebar Edukasi”

72 Views

Denpasar, gardaindonesia.id | Ketua Umum Ikatan Media Online Indonesia (IMO-Indonesia) Yakub F Ismail menekankan pentingnya peranan media massa, seyogyanya tidak hanya sekedar menjadi ajang menyebarkan informasi belaka.

“Justru media massa dituntut untuk mampu menebarkan edukasi, baik bagi masyarakat atau pelajar sehingga warga menjadi lebih berwawasan dan siap bersaing di era global,” ujar Yakub ketika dijumpai di Quest San Hotel Denpasar, Kamis (3/1/2019) siang.

Atas pengharapan untuk berperan secara optimal, lanjut pria kelahiran Banten, maka sudah saatnya digagas untuk membangun museum jurnalistik, yang sangat mungkin direalisasikan di Bali.

Ketua Umum IMO Indonesia Yakub F Ismail

“Bali adalah etalase Indonesia. Maka IMO Indonesia bisa berperan sebagai duta pariwisata atau duta bidang lain, untuk menyebarkan segala informasi positif yang dibutuhkan masyarakat ataupun wisatawan yang berkunjung ke Bali,” ujarnya.

IMO Indonesia, ujar Yakub, sebagai ‘rumah’ bagi media online Indonesia, dapat menempatkan diri di garda terdepan untuk memberi pemahaman dunia jurnalistik dan menjadi menyambung informasi serta literatur atas kondisi terkini di suatu daerah masing-masing.

Apabila museum jurnalistik mampu direalisasikan, maka IMO Indonesia dapat menjadi rujukan ataupun inspirasi bagi jurnalis. Baik bagi jurnalis yang bernaung di bawah IMO Indonesia maupun tidak. Sedangkan bagi pelajar, hal ini dapat menjadi pusat edukasi yang sangat berarti, sebagai referensi jika suatu saat ada generasi muda bangsa ingin menjadikan profesi jurnalis sebagai pilihan hidup.

“Bersinergi dengan Himpunan Pewarta Indonesia (HPI), ke depan kita adakan uji kompetensi yang mengacu aturan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Kita jangan menjadi katak di dalam tempurung, melainkan harus berpikir besar dengan membangun kualitas agar mampu bersaing di pasar global. Jangan bicara soal persaingan lokal lagi, tidak lama lagi kita sudah di level global,” tegas Yakub.

Penulis (*/IMO Indonesia)
Editor (+rony banase)