Arsip Tag: kasat reskrim polres belu

Pembantu Rumah Tangga Asal TTS Dianiaya Penjudi Bingo di Belu

1.397 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Nasib nahas menimpa seorang wanita kelahiran Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nelci Manao (36), yang kesehariannya memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT).

Ia dihina dan dianiaya hingga babak belur dan sempat tak sadarkan diri oleh tetangganya dan sekelompok penjudi Bingo di Lingkungan Lesepu, RT 18C/ RW 05, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, pada Minggu siang, 3 Januari 2021, pukul 13.00 WITA.

Menurut pengakuan Nelci kepada wartawan pada Senin, 4 Januari 2021, bahwa ia diolok dengan kata – kata “pembantu rumah tangga dan membawa  pulang nasi sisa ke rumahnya”.

Sebelum penganiayaan yang disertai dengan tendangan ke tubuhnya oleh pelaku A, F dan L itu terjadi, urai Nelci, kelompok penjudi itu terlebih dahulu mengejek dan mempermalukannya di lokasi perjudian dengan kata – kata tak senonoh. Ejekan – ejekan itu pun sudah sering kali dialami Nelci dan ia selalu berusaha mengabaikan. Namun, rupanya pada Minggu siang tragis itu, kesabaran Nelci terlampau tak terkontrol, lalu menghampiri kelompok penjudi itu untuk sekadar mempertanyakan alasan dirinya dihina.

Saat itulah, Nelci  diserang secara membabi buta oleh kelompok penjudi Bingo di lokasi perjudian, dan berkelanjutan di rumahnya beberapa saat kemudian, dengan menggunakan kumpulan batu yang dibungkus dalam kain Bali dan setangkai sapu lidi tanpa ada perlawanan.

Akibatnya, Nelci Manao menderita memar pada dahi, kepala dan sekujur tubuhnya. Bahkan, merasa pusing hingga seharian penuh.

“Saya, setelah cuci pakaian di rumah tetangga, saya pergi ke rumah kakak. Saat saya balik ke rumah, pelaku A bersama beberapa orang sedang bermain Bingo menyindir saya, bilang pulang kampung jangan datang lagi karena sama saja menjadi pembantu di rumah orang dan pulang bawa makanan sisa. Tidak tahu kerja, hanya jadi pembantu,” kisah Nelci menirukan kata-kata hinaan si A, sembari mengaku sangat malu lantaran ditertawai kelompok Penjudi Bingo tersebut.

Nelsi menuturkan, bahwa usai diolok dan dianiaya di lokasi perjudian, ia kembali ke rumahnya. Ia pun tidak menduga, kalau pelaku berinisial A dan suaminya F bersama keluarga berinisial L membuntut dan menganiayanya di rumah sejam kemudian hingga jatuh pingsan.

“Sekitar setengah jam baru saya sadar. Saya langsung naik ojek pergi lapor polisi. Saya juga sudah visum di RSUD Atambua,” tuturnya.

Kapolres Belu AKBP Khairul Saleh melalui Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Wira Satria Yudha yang dikonfirmasi wartawan di Ruang Kerjanya pada Kamis sore, 7 Januari 2021, menuturkan bahwa laporan itu belum ada. Bahkan, untuk memastikan ada tidaknya laporan tersebut, Kasat Wira Satria memerintahkan dua anggotanya mengecek di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Namun, tetap juga tidak ada.

Selanjutnya, sesuai dengan salinan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan/ Penyidikan (SP2HP) yang diterima Garda Indonesia pada Minggu petang, 10 Januari 2021, tertera kasus tersebut sudah dilaporkan sejak Minggu, 3 Januari 2021 dengan Laporan Polisi, Nomor: LP 01 / I / 2021 / Polres Belu tentang tindak pidana di muka umum bersama–sama melakukan kekerasan terhadap orang (pengeroyokan) a.n. Fransisca, CS.

“Bersama ini, kami beritahukan bahwa kami telah melakukan penyelidikan tindak pidana tersebut dan perkembangan hasil penyelidikan selanjutnya akan kami beritahukan kepada saudari dan kami telah melakukan pemeriksaan terhadap para saksi dan untuk menaikkan ke tingkat penyidikan kami masih menunggu hasil VER (Visum Et Repertum) dari Rumah Sakit Umum Gabriel Manek, serta pemanggilan calon tersangka”, isi poin 2 dalam surat bertanggal 6 November 2021, ditujukan kepada pelapor Nelsi Manao dan ditandatangan oleh penyidik Agus Haryono, S.H. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

Foto utama (*/pixabay)

Tuntaskan Kasus Maek Bako di Polres Belu, Kasat Reskrim : Butuh Waktu Panjang

338 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Wira Satria Yudha menyebutkan, untuk kasus tindak pidana korupsi seperti Maek Bako membutuhkan waktu yang tidak singkat. Pasalnya, penyelidikan terhadap kasus korupsi itu, meliputi penganggaran, proses tender hingga pelaksanaan.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/12/18/anggota-dprd-belu-desak-polres-proses-kasus-maek-bako-sanitasi-covid-19/

“Proses penyelidikannya ini, lebih panjang daripada kasus–kasus yang lain”, ujar Kasat Reskrim kepada wartawan di Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis sore, 7 Januari 2021.

Kasus Maek Bako, imbuh Kasat Wira Satria menguraikan, dilaporkan sejak masa jabatan Kasat Reskrim sebelumnya. Namun, karena bertepatan dengan tahapan Pilkada Belu, maka kasus itu akan dilanjutkan setelah pelantikan calon bupati/ wakil bupati Belu terpilih.

“Laporan waktu itu mengarah kepada pemerintahan saat ini. Sekarang masih ada proses sengketa hasil Pilkada di MK. Sesuai instruksi Kapolri dan Kabareskrim, apabila terlapor adalah salah satu calon, maka prosesnya ditunda sampai dengan proses demokrasi selesai”, tandasnya.

Dijelaskannya, khusus tindak pidana korupsi berbeda dengan kasus tindak pidana lain. Biasanya, dirilis setelah ada pelimpahan ke kejaksaan. Kalau sudah dilimpahkan berarti sudah jelas tersangkanya, kerugian negaranya dan pasal yang disangkakan.

Adapun alasan yang diutarakan Kasat Reskrim tentang kenapa kasus korupsi tidak boleh diekspose sebelum pelimpahan. Menurutnya, pelaku tindak pidana korupsi melibatkan lebih dari satu pihak. Karena, kalau diberitakan pada saat sedang penyelidikan, maka bisa saja pelaku menghilangkan barang bukti dan mengembalikan kerugian negara.

“Laporan informatifnya sudah ada dari ARAKSI. Tinggal saja kita melakukan proses penyelidikan”, papar Kasat Satria.

Terpisah, Ketua Komisi I DPRD Belu, Benediktus Manek yang dihubungi via sambungan telepon seluler pada Minggu siang, 10 Januari 2021 menuturkan, bahwa pihak lembaga DPRD Belu sangat mengapresiasi niat baik dari kepolisian.

“Kami berharap, setelah selesai sidang di MK, pihak kepolisian dalam hal ini Reskrim Polres Belu bisa bergerak cepat, secepat penanganan kasus Akulina Dahu. Kasihan, karena ini uang rakyat. Tentu, kami akan tetap kawal proses penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus Maek Bako, sehingga tidak menimbulkan kesan di tengah masyarakat, bahwa hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas”, tandas anggota DPRD muda asal fraksi NasDem itu. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Kapolres Belu Pastikan Penahanan Akulina Dahu Ditangguhkan

442 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Kapolres Belu, AKP Khairul Saleh berjanji bahwa hari ini tersangka Akulina Dahu (AD) yang ditahan Polres Belu atas kasus dugaan pidana pelanggaran Pemilu dalam hajatan Pilkada Belu, segera dilakukan penangguhan. Demikian dikatakan Khairul Saleh di hadapan massa aksi Aliansi Peduli Kemanusiaan yang merupakan gabungan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Forum Solidaritas Mahasiswa Belu (Fosmab) di Mapolres Belu, pada Jumat, 8 Januari 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/01/07/bela-akulina-dahu-apbpk-tuntut-copot-kapolres-belu/

“Berkasnya sudah ada di kejaksaan. Terkait dengan penahanan terhadap saudari kita AD, hari ini akan kita proses penangguhannya sesuai dengan pengajuan dari kuasa hukum saudari AD,” terang Kapolres Belu seraya mengungkapkan bahwa AD sudah berada di ruang Reskrim dan pihaknya menunggu keluarga menjemput untuk dibawa pulang. Sedangkan proses hukumnya akan terus berjalan.

AD (rok kotak-kotak warna putih) disambut haru oleh keluarga saat bebas dari tahanan Polres Belu

Kasat Reskrim Polres Belu, Wira Satria Yudha menambahkan, proses penangkapan dan penahanan terhadap AD sudah sesuai dengan SOP.

Pertama, penyidik Polres Belu sudah melakukan panggilan kepada AD dan dua orang KPPS sebanyak dua kali. AD tidak pernah mau memenuhi panggilan tersebut, sehingga dinilai tidak kooperatif. Panggilan dua kali itu dibuktikan dengan surat ekspedisi (tanda terima surat panggilan).

Kedua, pihaknya melakukan upaya penyelidikan untuk mencari tahu keberadaan AD dengan Surat Perintah Membawa, bukan Surat Perintah Penangkapan. Perintah dimaksud, membawa yang bersangkutan untuk diperiksa sebagai saksi.

Ketiga, AD diperiksa sebagai saksi pada hari pertama dan diperiksa lagi sebagai tersangka pada hari kedua. Di hari kedua itulah baru diterbitkan Surat Perintah Penangkapan. Kemudian, salinan Surat Perintah Penangkapan beserta surat pemberitahuan penangkapan diberikan kepada keluarganya.

“Jadi, ini untuk meluruskan berita simpang siur di media sekaligus menjawab pertanyaan dari rekan–rekan semua. Jika ada hal–hal yang menurut rekan–rekan tidak sesuai dengan prosedur dan KUHP, kami akan menjawab di gugatan praperadilan yang telah diajukan oleh kuasa hukum,” papar Wira Satria Yudha. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Kasat Reskrim Polres Belu Klarifikasi Dugaan Tim Buser Aniaya Mesak Bau

320 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Kasat Reskrim Polres Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Wira Satria Yudha, S.I.K. memberikan klarifikasi terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh tim buser terhadap Masak Bau, warga Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjelang pergantian tahun 2020 di Dusun Halitoko, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, pada Kamis sore, 31 Desember 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/01/02/buser-polres-belu-diduga-aniaya-warga-di-kecamatan-tasifeto-barat/

“Menurut informasi yang saya dapat, orang ini mabuk, parkir motor di tengah jalan. Anggota kita, buser sudah menegur secara baik – baik supaya kalau mau menghidupkan motor, di pinggir, jangan di tengah jalan. Ternyata, orang – orang di sekitar lokasi itu keluar dengan membawa batu, kunci inggris dan macam – macam untuk berusaha menyerang anggota kita. Oleh karena itu, anggota kita yang lain turun dari mobil. Setelah tahu bahwa itu adalah anggota, barulah mereka ini mundur”, urainya kepada Garda Indonesia di ruang kerjanya, pada Kamis, 7 Januari 2021.

Kalau waktu itu, lanjut Wira Yudha, orang sipil atau wartawan yang ada di lokasi tersebut, mungkin sudah dipukul dan dilempari batu. Tapi, karena mereka tahu bahwa yang ada saat itu adalah anggota dengan senjata api di pinggang, makanya mereka mundur.

Sebenarnya Mesak Bau itu, sambung Kasat Reskrim, mau dibawa ke Polres Belu, tetapi karena kebetulan saling kenal dengan anggota buser, akhirnya urung dan dibawa pulang ke rumahnya.

“Sebenarnya, itu bisa diproses”, tegas Kasat Reskrim.

Kasat Wira Yudha pun mengaku tidak mengetahui tentang informasi adanya tindakan pemukulan anggota buser terhadap Mesak Bau. “Setahu saya, tidak ada pemukulan. Entah memarnya itu kenapa, kita juga tidak tahu. Tapi, yang jelas waktu itu hampir ada penyerangan masyarakat di situ terhadap anggota kita. Makanya, Mesak Bau itu kita amankan untuk dibawa ke Polres. Tapi, karena anggota kita kenal, akhirnya dibawa pulang ke rumahnya”, terang Kasat Reskrim lagi. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Buser Polres Belu, Diduga Aniaya Warga di Kecamatan Tasifeto Barat

4.307 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Tim Buser Polres Belu diduga telah menganiaya Mesak Bau, warga Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjelang pergantian tahun 2020 di Dusun Halitoko, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, pada Kamis sore, 31 Desember 2020.

Kejadian nahas itu berawal ketika korban Mesak Bau sedang berusaha menghidupkan mesin kendaraan roda dua miliknya di pinggir jalan raya Halitoko. Pada saat yang sama, tim buser Polres Belu yang dikenal korban, salah satunya berinisial AB melintas di jalan itu dan menuduh korban menghalangi perjalanan tim buser.

Mesak Bau, lalu dipaksa menumpangi mobil Avanza yang dipakai tim buser menuju arah Labur, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk. Ketika hendak menaiki mobil, istri korban Priska Tona sempat meminta tim buser untuk tidak membawa korban. Namun, tim buser tidak menghiraukan pemintaan tersebut.

Bahkan, disaksikan masyarakat di sekitar TKP, tim buser yang berjumlah enam personil itu lengkap dengan senjata. Menurut pengakuan korban, tim buser mulai menganiaya dirinya ketika sudah berada di dalam mobil dengan cara ditinju tepat di bagian pelipis, hidung dan bibir. Selain itu, korban juga disikut beberapa kali ke sasaran dada dan perut.

Akibatnya, korban menderita luka dan bengkak pada bibir bagian kiri, luka lecet pada hidung bagian kiri dan bengkak di pelipis bagian kanan, serta mengeluh sakit di bagian dada dan perut.

Kapolsek Tasifeto Barat, Ipda. Jose Martins yang dihubungi Garda Indonesia pada Kamis sore, 31 Desember 2020 mengaku tidak mengetahui peristiwa yang terjadi di dekat Kantor Polsek Tasifeto Barat itu.

Mobil yang dipakai tim Buser

Selain itu, Kapolres Belu, Khairul Saleh yang dikonfirmasi terkait kasus ini pada Jumat pagi, 2 Januari 2021, mengatakan bahwa dirinya akan mengecek. “Ok trims infonya nanti saya cek”, balas Kapolres via pesan Whatsapp.

Sedangkan, Kasat Reskrim, Wira Satria Yudha belum berhasil dikonfirmasi. Pesan Whatsapp yang dikirim pun belum ada respons.

Kejadian serupa di akhir tahun 2020 juga menimpa Rius Salu, warga Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu.

Rius Salu dianiaya anggota provost Polsek Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang saat sedang bermain billiard bersama teman – temannya di wilayah RT 05/ RW 05, Dusun Kenam, Desa Nunmafo, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat dinihari, 1 Januari 2021, pukul 03.00 WITA.

Informasi yang diterima media ini dari korban Rius Salu, pada Jumat malam, 1 Januari 2021 menyebutkan bahwa dirinya dianiaya tanpa alasan yang jelas. Anggota provost polsek itu pun dikenal korban, bernama Ahmad Manzur.

Akibat penganiayaan itu, korban mengalami lebam pada pelipis kanan dan bola mata kanan memerah.

Sementara, pihak Polsek Amabi Oefeto Timur belum berhasil dikonfirmasi. Salah satu anggota polsek yang dihubungi melalui telepon dan pesan Whatsapp tidak ada tanggapan. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

Anggota DPRD Belu Desak Polres Proses Kasus Maek Bako, Sanitasi & Covid-19

1.455 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Wakil Ketua II DPRD Belu, Cyprianus Temu meminta secara tegas kepada pihak Kepolisian Resort (Polres) Belu untuk segera melanjutkan proses penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus dugaan korupsi yang sempat terhenti lantaran bertepatan dengan perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Belu 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/12/17/buka-aib-jika-paket-sahabat-bawa-ketetapan-kpu-belu-ke-mk/

Demikian dikatakan Cypri Temu kepada Garda Indonesia ketika ditemui di Atambua, pada Kamis, 17 Desember 2020. “Dengan berakhirnya pemilihan kepala daerah kemarin, saya kira pihak kepolisian sudah harus melanjutkan pemeriksaan terhadap kasus – kasus yang sudah sempat ditangani. Sehingga, tidak terkesan pihak kepolisian membiarkan kasus begitu saja. Contohnya, Maek Bako,” urainya.

Apabila kasus dugaan korupsi tersebut tetap tidak diproses, bebernya, maka harus menjadi perhatian khusus bagi pemimpin baru dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati Belu periode mendatang.

Selain Maek Bako, sebut Cypri Temu, kasus Sanitasi yang prosesnya sudah sampai ke tingkat penetapan tersangka sebanyak 5 orang, tetapi pada akhirnya diam. Ada apa sebenarnya?

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/02/12/gubernur-vbl-dapati-program-maek-bako-gagal-di-belu-plt-sekda-tuduh-warga-curi/

Kasus berikut yang juga diungkap Cypri Temu, menyangkut dugaan korupsi dana Covid–19. Menurutnya, kasus tersebut sudah pernah diperiksa oleh pihak kepolisian dan kejaksaan. Tetapi, hingga saat ini belum ada lanjutan.

“Seharusnya, kasus–kasus yang sudah naik seperti ini diumumkan secara terbuka. Jangan, periksa habis diam. Kita tidak tahu sampai mana penanganan kasus–kasus itu. Orang di tempat lain sangat gencar soal pemberantasan korupsi, tapi kita di Belu, seolah–olah kabupaten ini ramah sekali soal korupsi. Itu yang tidak boleh”, tandasnya.

Sementara, Kasat Reskrim Polres Belu, Wira Satria Yudha, S.I.K yang dikonfirmasi Garda Indonesia via pesan Whatsapp pada Kamis siang, 17 Desember 2020, belum memberikan respons. Bahkan, sudah ada upaya bertemu langsung di Unit Reskrim pun, beliau sedang tidak berada di tempat. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Diduga, Seorang Anak di Belu Gelapkan Sertifikat Tanah Warisan Ayahnya

3.477 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Seorang anak kandung atas nama Santy Taolin bersengketa dengan ibu kandungnya sendiri Kristina Lasakar. Pasalnya, harta warisan berupa sertifikat sebidang tanah atas nama ayah kandungnya, alm. Dominggus Taolin yang terletak di Jalan W. J. Lalamentik, Kelurahan Beirafu, Kecamatan Atambua Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga telah digelapkan Santy Taolin hingga berujung pada balik nama atas dirinya.

Kristina Lasakar yang adalah ibu kandung dari Santy Taolin dan istri sah dari almarhum Dominggus Taolin merasa geram dan seakan tidak sanggup menerima perlakuan tak terpuji anak kandungnya.

Kristina Lasakar, ketika ditemui di Atambua mengatakan tanah tersebut adalah miliknya. Sertifikat pun masih atas nama suaminya almarhum Dominggus Taolin. Namun, Santy Taolin yang adalah anak kandungnya menyembunyikan sejak ayah kandungnya masih hidup hingga sekarang.

Kaget tak karuan, ketika Kristina mengetahui bahwa sertifikat tersebut telah dibalik nama atas nama Santy Taolin oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Belu.

“Waktu bapaknya sakit pada tahun 2005, saya dan bapaknya sering pulang pergi Jawa untuk berobat. Waktu itu, sertifikat kami simpan di kamar tidurnya Santy. Setelah bapaknya meninggal pada 6 Januari 2007, saya cari kembali sertifikat tapi sudah tidak ada. Sebagai mama, pasti terkejut dan bahkan sakit hati begitu tahu sertifikat itu sekarang sudah atas nama Santy”, ungkap Kristina Lasakar.

Parahnya lagi, imbuh Kristina, rumah peninggalan almarhum suami tercintanya yang dibangun di atas tanah sengketa itu kini dilarang oleh anaknya, Santy Taolin untuk tidak boleh didatangi. Bahkan, upaya dirinya untuk merehab satu ruang tidur yang merupakan bagian dari bangunan tua itu pun dituduh anak kandungnya Santy sebagai tindakan perusakan.

“Kamar itu saya rehab, bukan buat rusak. Itu, kamar tidur saya dan suami saya waktu masih hidup. Sekarang saya masih hidup dan kalau saya mau perbaiki, ‘kan saya punya hak. Kenapa, saya malah dituduh oleh anak sendiri sampai publikasi di media massa? Sebagai seorang mama tentu ada rasa sakit kalau diperlakukan tak wajar oleh anak sendiri,” sibaknya dengan suara lirih sembari sesekali menyeka linangan air mata.

Selanjutnya, berdasarkan video yang diterima Garda Indonesia tampak hadir di lokasi, pengacaranya Santy Taolin dan Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Sepuh A. Siregar.

Kasatreskrim Polres Belu, AKP Sepuh A. Siregar saat berada di lokasi sengketa

Terkait video itu, Kasatreskrim Siregar yang dikonfirmasi Garda Indonesia via sambungan telepon seluler pada Senin, 24 Agustus 2020 membenarkan dirinya hadir di lokasi bersama anggotanya.

“Saya hadir di sana itu ‘kan kapasitasnya ‘kan menerima pengaduan. Ada satu tindak pidana yang berlangsung, terjadi. Namanya tindak pidana, tertangkap tangan. Sebagai bentuk pelayanan, kita turun ke lokasi. Anggota, harus ada yang pimpin. Saya sebagai pimpinan, masa salah. Saya suruh anggota ke lokasi terlebih dahulu. Karena saya lihat anggota saya tidak bisa mengatasi situasi, makanya saya turun tangan. Kenapa saya, sampai harus menghentikan kegiatan di sana? Karena di sana ada satu bentuk tindak pidana berupa seseorang yang sedang berada di lahan milik seseorang tanpa izin yang berhak. Kalau yang tidak berhak, wajar saya suruh pergi. Karena yang punya tanah ini suruh pergi. Kalau tidak mau pergi, otomatis kita akan kenakan pasal 167 KUHP”, tutur Kasat Siregar.

Menurut Kasatreskrim, apabila ada orang tua Santy Taolin berada di lokasi dan Santi mengusir, maka pihaknya tidak akan menanggapi lantaran jika orang tua ada di tanah milik anaknya itu, bukan satu masalah.

“Kalau misalnya dia melaporkan orang tua dan tukangnya, maka kami hanya mau menindak terhadap tukang – tukangnya saja, sambil mengedepankan upaya mediasi terhadap keluarga. Karena bagaimana pun, ini urusan antara ibu dan anak,” tambahnya. (*)

Penulis + foto (*/Herminus Halek)
Editor (+rony banase)