Arsip Tag: kecamatan kupang timur

Ini Arahan dan Motivasi Menteri Pertanian bagi Petani TJPS di Desa Manusak

299 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Yang menarik bagi saya untuk datang ke NTT adalah keinginan kuat masyarakat dan Pak Gubernur yang selalu memilih diksi yang seksi. Pilihan diksinya itu “Mau NTT Tidak Miskin.” Beliau selalu katakan NTT miskin, itu yang harus diubah dan itu membuat saya hadir bukan hanya karena Menteri,” ujar Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo saat memberikan sambutan dalam kunjungan kerjanya saat situasi pamdemi Covid-19 di Desa Manusak pada Jumat siang, 29 Mei 2020.

Kunjungan Menteri Pertanian untuk memberikan bantuan dan mendukung lahan pertanian di Provinsi NTT khususnya mendorong Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) besutan Gubernur VBL di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain Menteri Syahrul, turut hadir sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian.

Sebelum menyerahkan bantuan bibit jagung hibrida komposit dan bawang merah kepada petani di Desa Manusak dan melepas dua kontainer jagung (42 ton) menuju ke Surabaya, Mantan Bupati Sulawesi Selatan ini pun berkata suka tantangan seperti Bupati Kupang.

“Saya bekas kepala desa 1 tahun 9 bulan, saya pernah jadi lurah 9 bulan, saya pernah jadi camat 4 tahun, saya pernah jadi bupati dua periode, jadi wakil gubernur satu periode. 25 tahun saya jadi kepala daerah. Oleh karena itu Pak Bupati dan warga sekalian, mengatakan untuk tidak miskin itu jawabannya di depan mata dan sudah ada di NTT untuk menjawab itu. Jawabannya adalah pertanian,” ungkapnya.

Menteri Syahrul Yasin Limpo saat mengendarai traktor dan ditemani Kapolda NTT

Lanjut Menteri Pertanian, “Pak desa, pak camat, tokoh-tokoh masyarakat, para orang tua, kalau mau tidak miskin, Allah memberikan di depan mata ada tanah, air, api, angin untuk bisa hidup lebih baik. Yang miskin itu kalau memang tidak melakukan kerja. Saya jadi gubernur memulai dengan pendapatan rakyat saya Rp.8 juta, saya mengakhiri pendapatan rakyat saya per tahun Rp.48,6 juta.”

“Adakah yang lain?” tanya Menteri Limpo sebelum melakukan penanaman jagung hibrida komposit bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat; Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin; dan Bupati Kupang, Korinus Masneno.

Jawabnya, “Tidak!, hanya pertanian, perikanan dan peternakan. Ini semua kerja semua orang. Saya percaya mimpinya Pak Gubernur akan selesai tidak sampai 5 tahun.”

“Dream it, believe it dan make it happen. Believe your dream and your dream become true, ujarnya menirukan ucapan Gubernur NTT.

Hari ini saya hampir menangis dengar Pak Gubernur berbicara seperti itu, ungkap Menteri Syahrul. Kunci daerah yang bisa maju itu bahwa kalau kepala daerahnya memang mau, apa yang kurang? Kita punya hakikat, akademik yang cukup, kamu turun tangan di situ. Riset kita cukup.

Dalam pertanian itu ada tiga hal, cuaca harus diperhitungkan berarti water management harus jalan. Bagaimana air tetap mengalir disini, tolong Pak Dirgen Ketahanan Pangan pompa airnya tambah 20 lagi di sini. Ekskavator juga, kalau sudah panen dan tidak dikeringkan nanti hancur lagi, kalau perlu pakai kombinasi besar biar sekali masuk panen, langsung refill.

Tegas Menteri Limpo, “Jagung itu yang tidak boleh ditanam hanya di kuburan dan aspal. Yang lain bisa, batu-batu sekalipun bisa. Yang mau itu semangat kita. You become what you think. Karena itu para pejabat dan tokoh masyarakat mau menjadikan ini seperti apa? Kalau kalian bilang tidak bisa, ya tidak bisa. Kalau bilang ini pasti bisa, tembok-tembok dan batu-batu itu berputar dengan kekuatan kita.”

Menteri Pertanian memberikan bantuan simbolis kepada petani TJPS Desa Manusak yang diterima oleh Gubernur VBL

Ia pun memberikan petunjuk kepada para petani Desa Manusak, “Saya kepala desa dan camat teladan di Indonesia, oleh karena itu saya mau hitung dengan baik, satu hektar ini kalau jagung bisa sampai 8—12 ton. Di sini taruhlah kisaran 5 ton. 5 ton per hektar itu berarti kali 3.200 per kg, berarti Rp.16 juta. Ongkos kerja ini sampai merokok dan makan di dalam senilai Rp.5 juta, masih ada 10 juta. Dalam Rp.5 juta itu sudah bayar traktor lagi, jadi bisa disisihkan satu juta. Jadi ini tinggal diolah.”

Selain bantuan pemerintah, imbuhnya, kita siapkan lagi. Kalau memang kita ingin cepat. Untuk manual 10 orang, satu hari satu hektar. Kalau dengan mesin 4—5 hektar dalam satu hari. Lahan cukup banyak di sini, 3—4 hektar kali 15 juta berarti ada 60 juta bagi 100 hari atau 3 bulan berarti 10 juta. Hanya dengan dengan jagung.

“Jangan ada yang mundur,” tegasnya lagi memotivasi petani jagung yang bakal berjibaku dalam Program TJPS.

Di dalam suasana Covid dan krisis seperti ini, beber Menteri Syahrul, sampai dua tahun ekonomi yang bisa jalan adalah pertanian karena masalah perut. Oleh karena itu betul sekali strategi Pak Gubernur genjot habis. Tolong teman-teman perbankan salurkan modal untuk alat-alat besar, yang kalian bisa jamin pengembalian uang hanya pertanian sampai dengan dua tahun ke depan. Jangan ragu dan turunkan seperti itu.

“Saya dan Pak Bupati akan ke sini 100 hari lagi,” tandasnya berjanji seraya berujar optimis dan berharap 100 hari lagi melihat hasil tanam, bibit tambahkan saja dan tolong atur dan bermimpi juga sepanjang di jalan, di depan rumah dikasih bibit jagung, karena masih lihat ada tanah yang gersang.

Dia pun mengungkapkan saat menjadi Bupati Sulawesi Selatan mencanangkan 100 juta ekor sapi, pada saat itu sapi hanya mencapai 280 ribu ekor. “Bersama seluruh profesor-profesor di Unhas saya lewati 1,2 juta. Saya yakin dengan pikiran Pak Gubernur yang dahsyat itu, saya ada di belakang Pak Gubernur sebagai teman kita ubah ini NTT,” katanya memotivasi kemudian melanjutkan penanaman jagung bersama Gubernur NTT.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto oleh Aven Rame

Patut Dicontoh! Masuk ke Desa Pukdale Wajib Pakai Masker dan Cuci Tangan

229 Views

Kab. Kupang, Garda Indonesia | Menarik dan patut dicontoh oleh desa lain, seperti yang diterapkan oleh Pemerintah Desa Pukdale di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara (NTT); setiap tamu ataupun warga pendatang termasuk warga desa, saat akan memasuki wilayah Desa Pukdale harus melewati 2 (dua) pos pemantauan yang didirikan oleh Pemerintah Desa bersama warga Pukdale.

Tak hanya bakal ditanya ke mana tujuan, kita bakal diminta oleh petugas pos pemantauan yang bertugas sekitar 6—8 orang untuk turun dari kendaraan untuk mencatat jati diri di buku tamu termasuk nomor polisi kendaraan kita harus ditorehkan di buku yang telah disiapkan petugas.

Seperti dialami oleh Garda Indonesia saat akan meliput kegiatan penyaluran bantuan oleh Anggota DPR RI Komisi X Fraksi Partai Demokrat, Anita Jacoba Gah; untuk warga Desa Pukdale yang dihelat di Gereja Ebenhaeser Pukdale pada Sabtu, 9 Mei 2020 pukul 16.00 WITA.

Namun, sebelum mengisi buku tamu, kita wajib mencuci tangan menggunakan sabun di wadah yang telah disiapkan. Dan pastinya kita wajib menggunakan masker. Beruntung saat tersebut, tim media Garda Indonesia memakai masker, kalau tak pakai, dengan sangat terpaksa, tak akan diizinkan melanjutkan perjalanan ke dalam lokasi kegiatan.

Salah satu pengunjung sedang mencuci tangan sebelum masuk ke Desa Pukdale

Yang luar biasa, kami dihadang oleh seorang ibu berumur sekitar 50 tahunan yang merupakan kader perempuan bertugas pada siang hari, dengan tegas dan bersahabat, ibu tersebut menyampaikan aturan yang harus kami ikuti dan patuhi (cuci tangan dan mengisi buku tamu) lalu menanyakan tujuan dan meminta kami untuk turun dan mengisi buku tamu.

Termasuk Anita Jacoba Gah dan kru pun diminta untuk turun dari mobil untuk mencuci tangan dan mengisi buku tamu, “Kami pun diminta oleh petugas untuk mencuci tangan dan mengisi buku tamu,” ujar Anita saat menyapa warga desa sebelum menyerahkan bantuan bagi 60 KK.

Namun, Anita Jacoba Gah juga mempertanyakan ada sekitar satu atau dua sepeda motor beserta pengendara yang tidak ditahan dan dibiarkan berlalu begitu saja. “Kalau mau tegakkan aturan, sebaiknya semua yang masuk ke dalam desa wajib mencuci tangan meskipun dia warga Desa Pukdale, karena ada kemungkinan dia dapat membawa virus masuk ke dalam desa,” sergah Anita kepada Kepala Desa Pukdale dan warga yang di dalam Gereja Ebenhaeser Pukdale yang tertib menerapkan protokol kesehatan (duduk menjaga jarak interaksi dan memakai masker).

Kepada Garda Indonesia, ibu yang diketahui bernama Mina Ndun tersebut menyampaikan tentang tata kerja petugas yang dibagi dalam 2 (dua) shift yakni pagi hingga sore dan sore hingga tengah malam. “Bahkan ada pengeluhan dari warga luar kampung, terutama para penjual atau pedagang asongan yang tak mau menaati aturan yang ditetapkan,” ungkapnya sembari menyampaikan sejak diberlakukan pada Maret 2020, sekitar 50 orang (tamu atau pendatang) tak diizinkan masuk ke dalam desa.

Kepala Desa Pukdale, Oktavianus Lesiangi

Kepala Desa Pukdale Oktavianus Lesiangi kepada Garda Indonesia menyampaikan maksud didirikan pos pemantau Covid-19 sebagai langkah antisipasi dan melihat lebih dekat perkembangan virus corona di Desa Pukdale.

“Saya merasa sangat lebih efektif jika kami mendirikan titik pos pemantau dan rutin mengadakan patroli pemantauan, sehingga orang-orang dan saudara kita yang pulang dari daerah zona merah dapat diantisipasi,” tandasnya seraya berkata apa pun yang akan berkembang menyangkut dengan covid-19, kami akan lebih cepat diantisipasi.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)