Arsip Tag: Kota Kupang

Wanita Tangguh Penjual Singkong

153 Views

Oleh Drs. Ignatius Sinu, M.A.

Ibu Theresia, wanita penjual singkong, sebagaimana catatan yang saya miliki, bersama dengan rekan-rekan lainnya, bekerja berjualan aneka jenis produk pertanian di Pasar Semi Modern di Sektor Informal, sektor yang sulit sekali mendapatkan status formal, mendapatkan pengakuan dari negara sebagai sektor formal yang bisa mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

Sektor ini sangat independen, sektor yang bebas bagi siapa saja untuk masuk ke dalamnya, dengan modal sekadarnya pun jadi. Para pelaku di sektor ini sesungguhnya individu-individu yang luar biasa. Catatan-catatan saya mengenai sektor informal di Jakarta tahun 1990-an memberikan gambaran mengenai peran yang luar biasa dari sektor ini terhadap pembangunan bangsa ini.

Di Jakarta, sektor informal hidup berdampingan dengan sektor-sektor formal, bahkan kehadirannya sangat dibutuhkan sektor formal. Warung Tegal (Warteg), Pedagang Kaki Lima (PKL) yang muncul jam-jam tertentu pada tempat-tempat tertentu memberikan warna tersendiri bagi dinamika kehidupan masyarakat perkotaan.

Saya teringat akan tulisan-tulasan saya mengenai Pengasong Buah di Jakarta, dengan fokus pada pengasong buah di dalam KRL Gambir-Depok, dengan tempat mangkal Kalibata. Saya tertarik dengan mereka, lantaran dagangan atau asongan mereka adalah mangga, jeruk, apel, salak, rambuatan; semuanya adalah hasil pertanian.

Statemen pokoknya adalah tanpa pengasong di dalam KRL banyak buah terbuang, dan banyak orang yang membutuhkan buah tidak mendapatkan buah. Pernyataan yang punya kaitannya dengan pembangunan di sektor pertanian dan kesehatan. Hasil pertanian yang tidak terjual menghambat pembangunan pertanian, dan manusia yang jarang mengonsumsi buah akan mengalami gangguan kesehatan karena kekurangan vitamin yang bersumber dari buah.

Para pengasong buah dalam KRL Gambir-Depok memiliki dua watak yang luar biasa, yaitu tangguh dan sederhana, yang mungkin pula sangat bertanggung jawab. Tangguh karena kemampuan mereka menjual buah hinggah habis terjual. Buah yang mereka ambil dipastikan habis terjual. Mereka menerapkan strategi-strategi penjualan yang sederhana, dari mendapatkan keuntungan yang signifikan, untuk tidak memperoleh keuntungan besar, hingga tidak mendapatkan keungtungan, atau ’seri’ dalam bahasa mereka.

Dalam hal ini mereka tidak mengenal prinsip merugi. Lebih dari itu mereka sangat bertanggung jawab atas keselamatan dan kenyamanan penumpang di dalam KRL. Ketika Jakarta sangat ditakuti lantaran pencurian, perampokan, pencopetan di tempat-tempat umum, orang-orang yang bepergian menggunakan jasa KRL Jakarta-Bogor aman dan nyaman. Aman dari pencopetan, pencurian, perampokan, dan nyaman lantaran kondisi di dalam gerbong-gerbong KRL dijaga kerbersihan oleh para pengasong. Manajemen KRL mendapaptkan jasa cuma-cuma dari para pengasong yang setiap saat membersihkan gerbong-gerbong KRL. Perusahaan Kereta Api menghemat puluhan juta rupiah dari biaya operasonal kebersihan dan keamanan.

Para pekerja di sektor informal, seperti PKL dan pengasong, lantaran jasa mereka yang tak terbilang, Presiden Soeharto memberikan penghargaan kepada mereka dengan sebutan ”Laskar Mandiri”, yang benar-benar bekerja atas kemampuan sendiri.

Layaknya Ibu Theresia dan rekan-rekannya di Pasar Inpres adalah pelaku sektor informal. Ketika para akademisi masih berkutat dengan kemungkinan-kemungkinan, seperti kemungkinan membuka lapangan kerja, Thresia dan rekan-rekannya sudah dan sedang berkutat dengan membuat bagi dirinya sendiri lapangan pekerjaan. Ibu Theresia, wanita paru baya beranak dua, yang ditinggal pergi (meninggal) suaminya, memilih menekuni pekerjaan yang diwariskan suami, yaitu berjualan aneka ubi di pasar Inpres Naikoten Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dengan lapak berukuran kecil, meja jualan dan tenda yang juga berukuran kecil dan sederhana, Ibu Theresia berjualan ubi kayu (singkong), ubi jalar, dan talas. Singkong menjadi jualan utama, atau komoditi utama. Keuntungan yang diperoleh dari menjual singkong sehari dapat mencapai Rp.75.000,-. Besar kecilnya keuntungan amat bergantung kepada volume jualan.

Singkong diambil dari langganannya yang datang dari Tarus, Oebelo, Oesao, dan juga dari Kupang Barat. Setiap hari ia mendapatkan pasokan 5—6 karung singkong, yang diambil dengan harga Rp.70.000—80.000,- per karung. Singkong di dalam karung dikeluarkan lalu diklasifikasi ke dalam dua kelas, yaitu berukuran kecil dan sedang. Lalu diikat dengan jumlah 3—4 batang per ikat. Untuk ukuran kecil dijual dengan harga Rp.10.000 dan ukuran besar dijual dengan harga Rp.15.000. Satu karung bisa diperoleh 10 ikat. Karena itu hasil bruto yang didapatkan ibu Theresia dari berjualan singkong tidak kurang dari Rp.75.000 per hari. Jika ibu Theresia berjualan singkong 20 hari dalam sebulan maka upah yang diperoleh ibu Theresia dari berjualan singkong adalah sebesar Rp.1.500.000; penghasilan yang tentunya lebih besar jika dibandingkan dengan honor seorang karyawan honorer.

Peran dan Nilai Juang

Theresia, wanita muda berparas cantik dan beranak dua, hidup tegar dalam balutan cintanya bersama kedua anaknya; sejak ditinggal suami dan ayah tercinta beberapa tahun silam. Ibu Theresia memilih hidup bersama kedua anaknya, dari bekerja melanjutkan pekerjaan warisan suaminya. Demi cintanya akan suami dan kedua anaknya, Theresia mencintai dan menekuni pekerjaan menjual aneka ubi di lapak yang sangat sederhana, lapangan pekerjaan di sektor informal.

Dari menekuni pekerjaan sebagai penjual singkong, ibu Theresia sanggup menghidupi dirinya, kedua anak, dan lebih dari itu membawa kesejahateraan di dalam keluarga kecilnya. Anaknya yang sulung sudah duduk di bangkus SMP kelas 2 dan yang kedua di bangku SD kelas 5. Semua biaya untuk pendidikan anak-anaknya adalah hasil berjualan singkong.

Dalam konteks yang lebih luas, terutama pembangunan di sektor pertanian, Theresia sesungguhnya memberikan kontribusi yang amat berarti. Sehari ia berhasil menjual 5—6 karung singkong. Jika volume satu karung 30 kilogram, maka setiap hari Theresia menjual 165 kilogram singkong; dan dalam sebulan ia menjual 3.300 kg atau 3,3 ton singkong basah.

Bayangkan apabila peran ini tidak diambil oleh Theresia, maka sebanyak 3,3 ton singkong petani tidak terjual setiap bulannya; pedagang perantara yang hidup dari mengumpulkan singkong dari petani ke petani pun kehilangan lapangan pekerjaan sebagai pengumpul dan pemasok singkong.

Peran Theresia sebagai pengecer singkong di pasar semi modern amat penting. Dalam bahasa sehari-hari, sebagai pengecer singkong, Theresia adalah ujung tombak penjualan singkong petani. Manakala ujung tombak tumpul maka tombak tidak berfungsi mematikan atau membunuh.

Untuk memahami peran Theresia, saya menyampaikan penghargaan kepada guru saya Harsya W. Bachtiar yang memberikan pendalaman kepada kami mengenari teori Struktural Fungsional yang dikembangkan Talcott Parsons. Harsya dalam perkuliahan lebih mengutamakan ”Teori Differensiasi Taclott Parsons”. Teori ini kemudian saya pahami dengan memberikan argumen bahwa ”kebahagiaan di dalam keluarga batih terletak pada menghargai peran dari setiap anggota keluarga; gagal akan pemahaman peran masing-masing berakibat pada ketidakbahagiaan”.

Parsons berpandangan bahwa tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat) dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.

Theresia sebagai seorang perempuan berhasil mewujudkan tujuannya, yaitu berkeluarga, punya suami dan anak. Tujuan ini sudah dicapai, yang oleh Parsons disebut voluntaristik, yaitu didasarkan dorongan kemauan, yang proses pencapaiannya berdasarkan nilai, norma (urusan adat istiadat perkawinan). Selanjutnya dipilih pekerjaan di sektor informal dengan berjualan singkong di pasar Inpres. Berjualan dipilih sebagai sarana mencapai tujuan, yaitu penghasilan dan kesejahteraan.

Pasar Inpres Naikoten dipilih sebagai tempat dan pedagang pengumpul dipilih sebagai mitra jual. Dengan demikian terbangun struktur dengan unsur-unsur yang memiliki perannya masing-masing; peran-peran mana yang berfungsi berdasarkan nilai dan norma yang disepakati secara sukarela dan harus dijaga.

Peran Sederhana Bermakna Universal

Theresia wanita muda penjual singkong nan tegar hanyalah seorang wanita di sudut riak pembangunan di sektor pertanian; duduk di sudut sumpek menemani lapaknya tempat berjualan singkong merajut masa depan, yang ditaruh pada masa depan kedua anaknya.

Theresia adalah juga wanita berpendidikan rendah namun punya orientasi masa depan yang amat jauh ke depan, yang ditanamkan di dalam kerinduan akan masa depan yang lebih baik walau beralaskan basis ekonomi di sektor informal.

Theresia, wanita muda itu sudah, sedang, dan akan terus memainkan peran sederhana nan mulia; peran merawat pekerjaan di sektor informal, sektor yang kurang mendapatkan penghargaan dari negara, lembaga keagamaan, dan lembaga swadaya. Peran yang dimainkan itu dibalut dengan cinta yang universal tak ternilai, yang kadarnya ada pada dinamika pembangunan di sektor pertanian, dan dinamika pembangunan dalam arti yang lebih luas. (*)

Penulis merupakan Dosen Fakultas Pertanian dan menjabat sebagai Sekretaris LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Universitas Nusa Cendana.

Editor (+rony banase), Foto Istimewa (*/Facebook Masyarakat Singkong Indonesia)

Pemkot Kupang Targetkan Bakal Bangun Enam Taman Kota di Tahun 2020

159 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Pemkot Kupang dalam kepemimpinan Dr. Jefritson Riwu Kore dan dr. Hermanus Man bertekad menyelesaikan pembangunan 6 (enam) Taman Kota di seputaran Kota Kupang bakal rampung di tahun 2020.

6 (enam) Taman Kota tersebut antara lain Taman Perdamaian, Taman Revolusi Mental, Taman Tagantong di depan Kantor Camat Kelapa Lima, Taman Koridor Tiga, Terminal Kupang (Kupang Square), dan Wisata Kuliner Laut di depan Hotel Aston.

Kepastian penyelesaian taman kota yang pembiayaan bersumber dari bantuan pemerintah pusat dan tidak menggunakan APBD Kota Kupang tersebut disampaikan oleh Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore (sapaan akrab Wali Kota Kupang, red) dalam sesi Media Gathering Pemerintah Kota Kupang pada Selasa, 11 Februari 2020 pukul 16.00 WITA—selesai di Palaccio Room Aston Hotel Kupang.

Di hadapan para pemimpin media, wartawan media cetak, elektronik dan daring (online), Jefri Riwu Kore juga menyampaikan apresiasi kepada media dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2020 dan mengacu pada Visi Misi Pembangunan Kota Kupang terkait penyelesaian masalah air bersih dengan memperkuat kelembagaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Kupang, sembako nasional, JKN KIS bagi warga kota, bedah rumah, beasiswa bagi 3.000 anak tak mampu, pembagian seragam sekolah, kacamata gratis, penataan Pasar Kasih Naikoten dan Pasar Oeba, bantuan pemberdayaan masyarakat pinggiran, gagasan taman dan ruang terbuka hijau yang menarik.

“Pada tahun 2020 ini bakal diselesaikan taman-taman di Kota Kupang,” ujarnya yakin.

Mengenai pembiayaan pembangunan taman kota, urai Jefri, untuk tahun 2020, Pemkot Kupang berupaya membangun enam taman dengan tidak menggunakan APBD tapi bantuan dari pusat.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama oleh samuel dearthur

IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

255 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang.

Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang.

Pada Tanabae Festival 2019, IKKON Kupang yang berkolaborasi dengan Perajin tenun dari Penkase Oeleta, memamerkan hasil tenun dengan warna yang berbeda dari tenun sebelumnya.

Desainer Produksi IKKON Kupang, Wisnu Purbandaru yang ditemui media ini di stan pameran hasil tenun Mama-mama dari Penkase mengatakan bahwa tim IKKON Kupang memberikan workshop kepada para perajin tenun pada beberapa bulan lalu, terutama terkait penggunaan warna alami.

“Sebenarnya mereka (perajin tenun), sudah tahu warna-warna alami itu, tapi mereka berpikir bahwa itu mahal dan akhirnya ditinggalkan. Mereka memilih menggunakan benang yang dijual di toko,” jelas Wisnu.

Setelah bertemu dan bertukar pikiran, lanjut Wisnu akhirnya masyarakat perajin tenun kembali menggunakan pewarna alam yang sudah ada dan membuat beberapa motif baru.

“Setelah workshop, kita sama-sama membuat pewarna alam tersebut lalu kita gunakan serta kita buat motif baru yaitu daun sepe,” ujarnya.

Deretan tenun khas yang dipamerkan dalam Festival Tanabae 2019

Sebelum bertemu Tim IKKON Kupang, para penenun menggunakan benang-benang yang dijual di toko-toko dengan berbagai warna. Dan harga jual untuk 1 selendang yang dibuat itu berkisar antara Rp.30.000—40.000,- saja.

“Pewarna alam itu digunakan pada benang katun. Jadi dari hasilnya, bisa dijual 1 selendang seharga Rp.100.000—200.000,-saja,” tutur Wisnu.

Bahkan hasil tenun kolaborasi tersebut, sudah dibawa dan dipamerkan pada Festival Bekraf di Solo dan animo pengunjung saat itu sangat tinggi serta hasil tenunan tersebut banyak menuai pujian.

Sementara itu, Elizabeth Selly selaku desainer tekstil tim IKKON Kupang, di sela-sela kesibukannya menjelaskan kepada para pengunjung yang melihat hasil kreasi tersebut mengatakan bahwa ada kurang lebih 8 (delapan) warna alam yang mereka hasilkan.

“Warna alam yang ditemukan dari tanaman sekitar 8 warna, yaitu merah sepe, lembayung, biru langit, coklat, kuning, hitam, warna gading sama warna krem,” jelas Elizabeth.

Elizabeth menjelaskan bahwa dari satu tanaman bisa menghasilkan beberapa warna tergantung campuran yang diberikan. “Tanaman yang digunakan yang itu-itu saja, seperti kulit pohon mahoni dan kulit pohon burung atau pohon secang. Warnanya tergantung dicampur dengan apa. Kalau dicampur dengan tawas itu akan menghasilkan satu warna, kalau dengan kapur itu warnanya berbeda lagi,” ujarnya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, untuk pewarna alami digunakan bisa menggunakan kunyit dan pohon kersen. Elizabeth menjelaskan bahwa pihaknya dalam memilih warna selalu menyesuaikan dengan bahan alam yang ada, sehingga yang tidak bisa ditemukan tidak digunakan.

“Warna yang sulit ditemukan adalah warna biru, tapi akhirnya kami berhasil mendapat warna biru langit,” tuturnya.

Dirinya pun mengungkapkan adanya kemungkinan muncul lapangan pekerjaan baru serta mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, yaitu dengan produksi pewarna alam tersebut. “Bisa jadi. Karena dari Dekranasda juga memberikan bimbingan terkait pembuatan warna juga. Dan instruktur warna dekranasda pastinya banyak memberikan ilmu bagi masyarakat, “ jelas perempuan cantik asal Denpasar itu.

Elizabeth juga berterima kasih karena melalui kolaborasi tersebut dirinya juga belajar banyak hal dari Mama-mama perajin tenun di Penkase terkait warna alam dari bahan-bahan alam. “Saya memberikan ilmu desain, tapi saya juga belajar ilmu pewarna dari mama-mama di Penkase. Kita saling bertukar, itulah proses kolaborasi kita, “ pungkas Elizabeth.

Nama festival ‘Tanabae’ merupakan bahasa Kupang, dalam bahasa Indonesia baku ‘Tanah baik’, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tim IKKON Kupang bahwa Kupang adalah daerah yang penuh potensi. Biasanya orang-orang Kupang mengatakan ‘bae sonde bae tanah Kupang lebe bae’. Biar tanah lain lebih baik, tanah Kupang tetap lebih baik. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Bimtek Tingkat Pemahaman ASN Terkait Informasi Hukum Bagi ASN Pemkot Kupang

113 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Dalam rangka menjamin terciptanya pengelolaan dokumentasi dan informasi hukum yang terpadu dan terintegrasi di berbagai instansi pemerintah dan instansi lainnya, Pemerintah Kota Kupang melalui Bagian Hukum Setda Kota Kupang menggandeng Badan Pembina Hukum Nasional (BPHN) melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek).

Kegiatan bimtek tersebut ditujukan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Kota Kupang, yang dilaksanakan pada Rabu 16 Oktober 2019 di Hotel On The Rock Kupang.

Kasubag Dokumentasi dan Hukum Setda Kota Kupang, Max F. Reke dalam laporan panitia mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman kepada para ASN lingkup Pemerintah Kota Kupang betapa pentingnya dokumentasi dan informasi hukum, terkait dengan kebutuhan akan informasi hukum baik undang-undang maupun peraturan daerah lainnya.

“Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) sebagai wadah pendayagunaan bersama atas dokumen hukum secara lengkap, akurat, mudah dan cepat sehingga dapat diakses oleh semua masyarakat atau stakeholder yang membutuhkan,” jelas Max.

Sementara itu, Penjabat Sekda Kota Kupang, Elvianus Wairata dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam rangka pendayagunaan bersama atas dokumentasi hukum baik antar instansi dengan instansi, pemerintah kabupaten/ kota, pemerintah provinsi maupun pusat, wadah tersebut tentunya memberikan kemudahan dalam mengakses berbagai produk hukum.

“Ketika kita melaksanakan produk hukum, akan diwadahi oleh sistem JDIH yang terintegrasi, karena kita tau bersama bahwa semua informasi sekarang sudah sistem terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja, “jelas Wairata.

Lanjutnya, pemerintah memiliki tugas dan fungsi dalam melakukan pembinaan dan pemaparan sistem JDIH guna memberikan kemudahan akses yang lebih baik dan juga bisa memberikan informasi bagi masyarakat.

“Apalagi kita tahu bahwa di era digitalisasi dan industri 4.0, pemanfaatan teknologi dalam pengembangan berbagai informasi termasuk informasi hukum sangat vital,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Nasional, Drs. Yasmon, M. I. S, mengatakan bahwa pihaknya berterima kasih kepada Wali Kota Kupang dan jajarannya yang berinisiatif melaksanakan kegiatan ini dan mengundang pihaknya untuk turut berpartisipasi.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang atas terselenggaranya kegiatan ini. Tentu saja Wali Kota Kupang dengan semangat mencetuskan Kota Kupang sebagai Smart City, pengelolaan jaringan dokumentasi dan informasi hukum secara online akan sangat penting,” jelas Yasmon.

Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Sub Bidang Penguatn dan Pemberdayaan Jaringan, Reinal Saputra, SH., MH dan Pranata Komputer Muda, Idham Ardiansyah, S. Kom. Kegiatan tersebut melibatkan 50 orang ASN lingkup Pemerintah Kota Kupang dan akan berlangsung selama 2 hari. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Ayo Berubah—Menuju Kota Kupang ‘Smart City’

215 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Memasuki tahun kedua kepemimpinan Wali Kota Kupang Dr. Jefri Riwu Kore dan Wakil Wali Kota Kupang dr. Hermanus Man pada 22 Agustus 2019 mendatang, sejak dilantik pada 22 Agustus 2017 silam, banyak yang telah dilakukan. Berbagai aksi pembangunan terus digenjot untuk mewujudkan Kota Kupang maju dan mandiri.

Pada usia yang ke-2 tahun ini, Pemerintah Kota Kupang di bawah kendali Dr. Jefri Riwu Kore dan dr. Hermanus Man membuat gebrakan baru menuju Kupang Smart City melalui semangat ‘Ayo Berubah’. Ini sebuah tagline yang bermakna ajakan untuk bergerak secara kolaboratif semua elemen masyarakat terlibat dalam pembangunan Kota Kupang. Pembangunan yang partisipatif menuju kota modern.

Berubah artinya melaksanakan berbagai program pembangunan secara kreatif dan inovatif, cepat, tepat, efektif dan efisien dalam ciri kota modern. Perubahan butuh perjuangan bersama.

Oleh karena itu, bersama pemerintah, semua komponen masyarakat harus terlibat. Masyarakat bukan lagi menjadi objek, tapi harus menjadi subjek pembangunan, yang berperan penting mewujudkan kota yang maju dan mandiri.

Pemerintah Kota Kupang telah memulai gerakan menuju Kupang Smart City. Ini sebuah desain pembangunan kota modern. Untuk mewujudnyatakan visi ini, perlu perubahan pola pikir, tindakan dan aksi.

Tagline “Ayo Berubah” menjadi pencetus dan pelecut semangat semua komponen warga Kota Kupang menuju dan mewujudkan Kupang Smart City.

Beberapa Kegiatan dalam Rangka 2 Tahun Kepemimpinan Dr. Jefri Riwu Kore-dr. Hermanus Man Dengan Spirit Baru
“AYO BERUBAH” sebagai berikut:

• Pengresmian 2 (dua) unit gedung baru RSUD S. K. Lerik Kota Kupang
Hari/tanggal: Kamis, 1 Agustus 2019
Pukul: 09.00 WITA
Tempat: RSUD S. K. Lerik;

• Sayembara logo Kupang Smart City
Tanggal: 2—15 Agustus 2019, Melalui media social Instagram dan Facebook;

• Lomba kebersihan antar sekolah (SD dan SMP)/Lomba Wiyatamandala
Tanggal: 6—8 Agustus 2019
Pukul: 06.00 WITA
Tempat: 200 sekolah SD dan SMP Se-Kota Kupang;

• Bimbingan teknis KUPANG SMART CITY
Tanggal: 7—8 Agustus 2019
Pukul: 08.00 WITA
Tempat: Hotel Neo by Aston
Acara: Bimtek dan Launching website Kupang Smart City (saat pembukaan);

• Bimbingan teknis aplikasi Qlue
Tanggal: 11—12 Agustus 2019
Pukul: 08.00 WITA
Tempat: Aula rumah jabatan walikota
Narasumber: Tim Qlue Jakarta
Peserta: 200 orang Tim reaksi cepat Qlue;

• Gerakan Massif “Ayo Bersihkan Kupang”
Hari/tanggal: Jumat, 9 Agustus 2019
Pukul: 07.00 WITA
Tempat: Semua wilayah Kota Kupang. Pusat acara di Pantai Pasir Panjang (Belakang Hotel Sotis)
Peserta: Siswa SD, SMP, ASN, Polri, TNI dan warga kelurahan (rencana menggerakan 50 ribu orang);

• Lomba perahu hias Dinas Parawisata Kupang
Hari/tanggal: Senin, 19 Agustus 2019
Tempat: Pantai Teluk Kupang;

• Semiloka PDAM Kota Kupang “Menemukan solusi air bersih Kota Kupang”
Hari/tanggal: Selasa, 20 Agustus 2019
Pukul: 10.00 WITA
Tempat: Hotel Neo by Aston;

• Peresmian Lampu jalan dan lampu Hias Big Tree Kota Kupang
Hari/tanggal: selasa, 20 juni 2019
Tempat: depan ex kantor Bupati Kupang
Acara : peresmian Penggunaan 3.500 lampu jalan dan Lampu hias serta Big Tree Kota Kupang;

• Launching 157 titik Wi-Fi gratis untuk kelurahan dan kecamatan
Hari/tanggal: Rabu, 21 Agustus 2019
Pukul: 10.00 WITA
Tempat: Kantor Kelurahan Naioni;

• Pemkot Berbagi Bersama Rakyat
Hari/tanggal: Kamis, 22 Agustus 2019
Pukul: 09.00 WITA
Tempat: Lapangan Upacara Kantor WaliKota Kupang
Acara: Pembagian raskin plus, buku tabungan penyandang disabilitas dan bantuan gerobak kuliner;

• Acara puncak “Festival Ayo Berubah”
Hari/tanggal: 22 Agustus 2019
Pukul : 15.00 – 22.00 WITA
Tempat: pelataran M Hotel, Jalan Timor Raya
Acara: Pembersihan sampah dimulai pukul 15.00 wita dari Pantai Batu Nona di Nunsui, kelurahan Oesapa. Dilanjutkan dengan acara puncak Festival Ayo Berubah di pelataran M Hotel. Ada penampilan artis-artis asal Kota Kupang (Kupang all star), stand up comedy, dan grand launching Kupang Smart City.
Peserta: 10 ribu orang (*)

Sumber berita (*/Humas dan Protokol Pemkot Kupang)

Editor (+rony banase)

Kupang Smart City—Perlu SDM dan Infrastruktur yang Memadai

179 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Pemerintah Kota Kupang dibawah pimpinan Jefri Riwu Kore dan Hermanus Man, terus berupaya menjadikan Kota Kupang sebagai Kota yang bersih, cerdas,aman dan juga nyaman. Salah satunya melalui program Kupang Smart City.

Bertempat di Neo Hotel Kupang, melalui Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Pemerintah Kota Kupang mengadakan “Gerakan Menuju Kupang Smart City”, pada Kamis 10 Juli 2019 yang diikuti oleh semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Kupang, Camat se-Kota Kupang dan semua Lurah.

Dalam sambutannya, Pj. Sekda Kota Kupang, Ir. Elvianus Wirata, M. Si., mengatakan bahwa program ini merupakan program yang dicanangkan oleh Wali Kota Kupang, sehingga dirinya meminta kepada semua elemen untuk mendukung program ini.

“Program ini dicanangkan oleh Pak Wali Kota sendiri, sehingga kepada semua OPD, camat dan juga Lurah harus mendukung program ini”, ujar Elvianus.

Guna mencapai Smart City, jelas Wairata, bahwa yang perlu dipersiapkan adalah berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM) dan juga infrastruktur yang memadai.

“Persiapan ini berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan smart city tersebut”, tutur Elvianus.

Gerakan menuju 100 Smart City, lanjut Elvianus, merupakan inisiatif dari pemerintah pusat guna menciptakan kota cerdas atau smart city. Kota Kupang merupakan salah satu dari 100 kota yang disiapkan untuk dijadikan kota cerdas di Indonesia.

Elvianus berharap bahwa semua kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 (dua) hari, para peserta yang merupakan delegasi dari setiap OPD, Kecamatan, maupun Kelurahan dapat mengikutinya dengan baik sehingga para delegasi ini menjadi agen perubahan untuk menjadikan Kupang Smart City.

“Sesuai laporan panitia bahwa ada 4 tahapan yang akan dilakukan dalam kegiatan ini, saya berharap semua yang ada dapat mengikuti dengan baik dari awal. Jangan ini hari ikut besok tidak ikut. Karena kita berharap para peserta nantinya akan menjadi agen of change guna menjadikan Kupang Smart City “, tegas Wairata.

Sementara itu, Ketua Panitia Wildrian Ronald Otta, SSTP., MM., dalam laporannya mengatakan bahwa Kupang Smart City ini merupakan program yang sudah dicanangkan sejak tahun 2017. Dan Bimbingan Teknis (Bimtek) ini merupakan langkah menuju Kupang Smart City.

“Bimtek hari ini akan bermuara pada penyusunan buku saku Kupang Smart City”, ujar Ronald.

Bimtek yang dilakukan selama 2 (dua) hari dibimbing secara langsung oleh tenaga ahli dari Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia yang telah mencanangkan dan menerapkan Gerakan Menuju 100 Smart City di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa program ini sudah berlangsung selama tiga tahun, yaitu pada tahun 2017 terdapat 25 Kota yang dipersiapkan menuju Smart City, pada tahun 2018 dengan jumlah kota terbanyak yaitu 50 kota dan pada tahun 2019,terdapat 25 kota yang menjadi sasaran program Smart City.

Untuk Kota Kupang sendiri, Gerakan Menuju Kupang Smart City, uang berlangsung selama 2 hari akan melakukan beberapa agenda besar yaitu Bimtek 1, Penyusunan Master Plan Kupang Smart City, dilanjutkan dengan Launching Hotspot Kupang Smart City. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Indeks Ketangguhan Bencana Rendah, Herman Man : Kita Butuh SDM Profesional

104 Views

Kota Kupang, Garda Indonesia | Ketangguhan Kota merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan untuk memberi kenyamanan bagi masyarakat. Hal ini juga merupakan bentuk perlindungan terhadap kehidupan masyarakat tidak pernah lepas dari ancaman bencana.

Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man, dalam sambutannya saat ‘Workshop Penilaian Indikator Ketangguhan Kota Kupang Tahun 2019 dan Identifikasi Aktor Kunci Forum Pengurangan Resiko Bencana Kota Kupang Tahun 2019—2024’ pada Kamis, 04 Juli 2019, bertempat di Aula Hotel Amaris Kupang; mengatakan bahwa Kota Kupang merupakan daerah langganan bencana. Lanjut, Hermanus, paling sedikit ada 7 indikator yang dibutuhkan dalam ketangguhan Kota.

“Kota Kupang termasuk daerah langganan bencana, sejak gempa Flores yang berkekuatan 7,4 skala richter pada tahun 1992. Paling sedikit ada 7 indikator yang sangat mendasar dari 71 indikator sekarang”, ujarnya.

7 indikator tersebut, lanjut Hermanus, yang pertama adalah organisasi dan pengorganisasian penanggulangan bencana. Dirinya menyebutkan bahwa komitmen Kepala Daerah juga merupakan kunci penanggulangan bencana.
“Dalam undang-undang penanggulangan bencana itu menyebutkan komitmen Kepala Daerah sangat dibutuhkan dalam penanggulangan bencana untuk menciptakan wilayah layak huni yang aman dan nyaman”, sebut Hermanus.

Indikator yang kedua, menurut Hermanus, bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional sangat dibutuhkan. Hal ini untuk mengetahui resiko yang akan terjadi dan penanganan yang tepat.
“Kita masih membutuhkan tenaga SDM yang profesional dalam menangani bencana. Pendidikan kita juga kurang memberikan pemahaman tentang resiko dan penanganan bencana”, ujarnya.

Yang sangat spesifik dalam penanganan bencana, lanjut Hermanus, adalah rencana kontigensi bencana. Misalnya melakukan simulasi penanganan bencana.
” Rencana kontigensi itu penting. Misalnya melakukan simulasi penanganan bencana angin puting beliung, menghitung berapa banyak korban, berapa banyak rumah yang hancur, biaya yang dibutuhkan berapa banyak. Itu dilakukan lewat simulasi “, ujar mantan fasilitator nasional penanggulangan bencana itu.

Salah satu indikator lainnya, lanjut Man, yaitu komitmen berkaitan dengan dana penanggulangan bencana. Setiap indikator perlu dianggarkan sehingga penanganannya lebih jelas.
” Selama 3 tahun dana kontigensi di kota Kupang tidak terpakai. Hal ini karena tidak ada laporan yang dibuat berdasarkan undang-undang. Dana tersebut sebesar Rp. 1 M”, ungkap Hermanus.

Selain itu, ada 4 masalah yang menjadi kendala di kota Kupang. Dirinya menjelaskan, ke-4 masalah tersebut diantaranya pertambahan penduduk yang semakin meningkat. Ditambah dengan terbatasnya lahan kosong di Kota Kupang.

“Lahan kosong atau ruang terbuka hijau dalam setiap daerah yang seharusnya adalah 30% dari seluruh luas daerah tersebut. Kota Kupang memiliki ruang terbuka hijau kurang dari 23%”, ungkap Herman.

Lebihnya, disebutkan bahwa pengaruh lainnya adalah masalah lingkungan akibat curah hujan yang rendah. Kota Kupang memiliki curah hujan 110 hari dalam setahun.

” Kurangnya curah hujan menjadi satu kendala yang menyebabkan terjadinya kemarau. Akibatnya ada kekeringan. Ini juga salah satu bencana “, jelas Herman.

Masalah yang terakhir, menurut Hermanus, adalah bencana dan iklim. Kota Kupang sering terjadi gempa tapi tidak berdampak bahaya. Dirinya berharap, kegiatan tersebut dapat menghasilkan indikator-indikator yang dapat dioperasikan dalam penanggulangan bencana.

“Saya berharap kegiatan ini mampu melahirkan indikator-indikator yang kita bisa gunakan dalam menanggulangi bencana guna tercapainya visi Kota Kupang yaitu Kota layak huni, aman dan layak serta tangguh bencana”, pungkas Hermanus Man.

Workshop Penilaian Indikator Ketangguhan Kota Kupang Tahun 2019 dan Identifikasi Aktor Kunci Forum Pengurangan Resiko Bencana Kota Kupang Tahun 2019—2024′ pada Kamis, 04 Juli 2019 di Aula Hotel Amaris Kupang

Sedangkan, Project Manager Care Internasional Indonesia cabang Kupang, Angel Christy menyampaikan bahwa ancaman bencana itu tidak bisa dibuat nol, tapi kita perlu mengidentifikasi tingkat pengurangan resiko bencana di Kota Kupang dan melihat ketangguhan Kota sudah cukup tinggi atau masih rendah, serta kita mengetahui kita tinggal di wilayah pemukiman seperti apa, apakah sudah mendapatkan akses layanan dasar yang sudah cukup atau tidak.

Menurut Angel, selama tahun 2018 indeks resiko bencana di Kota Kupang berbanding terbalik dengan Indeks ketangguhan bencana. Dan resiko bencana yang paling mengancaman di Kota Kupang adalah gempa bumi, angin puting beliung, dan longsor.

“Selama 2018 Indeks resiko bencana Kota Kupang, berada pada tingkat sedang menuju tinggi sedangkan Indeks ketangguhan bencana, berada pada tingkat sedang menuju rendah”, ungkapnya.

Lanjut Angel, hal tersebut yang menjadi perhatian sekarang ini. Dirinya berharap bahwa kehadiran para peserta turut membantu dalam pembahasan selama 2 hari kegiatan yang akan dipandu oleh fasilitator nasional dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Selama 2 hari, kita akan dipandu oleh fasilitator nasional BNPB untuk membahas 71 indikator ketangguhan Kota”, tuturnya.

Ke – 71 indikator ketangguhan kota tersebut, menurut Angel, akan menjadi acuan dalam melihat tingkat keamanan kota terhadap resiko bencana yang akan di kolaborasi dengan layanan dasar di kota Kupang.

” 71 indikator ketangguhan kota akan di kolaborasikan dengan layanan dasar seperti akses jalan, layanan kesehatan dan pendidikan. Dari situ kita bisa melihat posisi kota kupang seperti apa terkait dengan ketangguhan bencana”, ungkap Angel.

Lebih lanjut, dirinya menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mengidentifikasi aktor kunci yang berperan lebih aktif dalam forum penanganan resiko bencana.

“Komitmen kita juga sangat penting untuk mengidentifikasi aktor kunci yang akan membantu Pemerintah Kota Kupang dan masyarakat dalam penanganan resiko bencana”, pungkas Angel Christy. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase) Foto by agenfifolif.com

Mei 2019, Kota-kota di Nusa Tenggara Timur Alami Inflasi

82 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Inflasi pada Mei 2019 di Provinsi Nusa Tenggara Timur terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada 3 kelompok pengeluaran, dimana kelompok Bahan Makanan mengalami kenaikan terbesar yaitu sebesar 0,04 persen

Dan, Kelompok Sandang alami kenaikan sebesar 0,42 persen dan transpor sebesar 1,68 persen. Sedangkan 4 (empat) kelompok yang mengalami penurunan yakni makanan jadi 0,02 persen, perumahan 0,12 persen, kesehatan 0,03 persen, dan pendidikan sebesar 0,02 persen

Kondisi Inflasi di NTT pada Mei 2019 disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia  usai Halal Bihalal bersama karyawan BPS dan unsur media dalam sesi konferensi pers bersama awak media cetak, elektronik dan online dan instansi terkait di Ruang Teleconference BPS NTT, Rabu, 10 Juni 2019 pukul 12.00 WITA—selesai

“Mei 2019, Kota-kota di Nusa Tenggara Timur mengalami inflasi sebesar 0,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 134,98”, jelas Maritje

Lanjutnya, Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,29 persen sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,42 persen

Pada bulan sebelumnya April 2019, NTT mengalami inflasi sebesar 0,51 persen. Dengan kata lain terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 134,58 pada April 2019 menjadi 134,98 pada Mei 2019.

Mengenai perincian inflasi di Kota Kupang, Maritje menjabarkan, Searah dengan tahun sebelumnya Mei 2018 dimana Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,76 persen, pada Mei 2019 ini di Kota Kupang mengalami inflasi sebesar 0,29 persen

“Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan inflasi di Kota Kupang pada Mei 2019 adalah kelompok transpor dengan andil sebesar 0,34 persen dan komoditas lain yang menyumbang andil inflasi yakni naiknya harga angkutan udara, bawang putih, kangkung, bawang merah, jagung manis, tarif pulsa ponsel, bunga pepaya, kacang panjang, telur ayam ras dan pisang”, terang Maritje.

“Sedangkan pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan inflasi di Kota Maumere bulan Mei 2019 adalah kelompok bahan makanan dengan andil sebesar 0,26 persen dan naiknya harga komoditas lain yakni harga ayam hidup, bayam, bawang putih, telur ayam ras, kangkung, rokok putih, kol putih, angkutan udara, pisang dan apel”, pungkas Maritje.

Penulis dan editor (+rony banase)