Arsip Tag: pater gregorius neonbasu

Pater Gregorius Neonbasu : “Allah, Alam, dan Arwah Itu Satu Kesatuan”

1.332 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Antropolog Budaya Pater Gregorius Neonbasu SVD, PhD. mengemukakan bahwa ia membutuhkan orang-orang untuk terlibat dan memastikan keberadaan makam Sobe Sonbai III. Dari menggunakan media mimpi dari cucu Sobe Sonbai III, bantuan para tetua adat untuk melakukan kontak supranatural hingga berujung pada tanda alam, maka pada tahun 2016; melalui prosesi ritual adat unik dan melibatkan dirinya dan Dr. Sulastri Banufinit (cucu Sobe Sonbai III sekaligus antropolog), Pusara Raja Sobe Sonbai III berhasil ditemukan.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/08/22/pusara-sobe-sonbai-iii-ditemukan-vbl-dukung-jadi-destinasi-budaya/

“Saya pikir semua itu, istilah bahu-membahu sampai menemukan itu. Tanpa mereka, itu sulit. Karena saya membutuhkan mereka,” ungkapnya kepada Garda Indonesia pada perayaan mangkatnya Raja Sobe Sonbai III ke-98 yang dilaksanakan di Sonaf Nai Me, Fontein Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tersebut pun menegaskan kadang-kadang ada yang datang dengan visi yang berbeda, itu tidak menjadi soal intinya terlibat dalam proses menemukan makam Sobe Sonbai III.

Macam Sonbai juga punya pemikiran lain, imbuh Gregorius Neonbasu, Jadi it takes time, alam yang membuat. “Saya memang percaya kosmos kuat. Alam hadir begini yang tidak setuju jadi setuju. Kalau saya bicara semacam doa tadi, itu tadi saya belum omong lain. Kalau saya bicara lain, ini untuk kamu orang Timor,” tuturnya.

Rumah Adat (Lopo Tobe) Suku Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten TTU

“Alam, Arwah dan Allah dalam teori sistem itu satu kesatuan. Ada satu istilah yang bilang ‘Extra Mundum Nulla Salus’, artinya tanpa dunia tidak ada keselamatan. Dunia ada baru Yesus datang untuk menyelamatkan manusia,” ungkap rohaniwan Katolik ini.

Tambah Pater Gregorius Neonbasu, “Arwah ini, setelah meninggal berada di sekitar Allah, mereka bantu manusia supaya hidup selaras dengan alam. Itu ada istilah latin ‘Serva Ordinem Et Servabit Te’, artinya peliharalah alam supaya alam memelihara engkau,” urainya.

Jadi, tandasnya, ekologi dan ekosistem kita sekarang ini rusak, karena kita memakai sistem lain bukannya sistem natural. “Karena itu Allah, Alam dan Arwah itu tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Pater Gregorius Neonbasu.

Lanjutnya, Sekarang kalau mau berbicara seperti itu dan bandingkan dengan tradisi kita, jangan pikir bahwa kita dulu tidak kenal Allah. “Itu tidak benar !, kita dulu sudah kenal. Itu tanda bahwa orang kita percaya bahwa Allah, Alam dan Arwah sebagai mediator.” pungkasnya.

Manifestasi Allah, Alam, dan Arwah bagi Orang Timor

Manifestasi keterkaitan antara Allah, Alam dan Arwah, diterapkan oleh masyarakat suku Timor di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam ritual adat dengan wadah berupa Kayu Tuhan atau Ha’u Monef. Kayu berukuran diameter relatif dengan tinggi sekitar 50—100 cm tersebut, memiliki tiga cabang dengan tinggi berbeda.

Ha’u Monef di salah satu rumah warga Desa Naiola

Satu cabang utama dari Ha’u Monef (tertinggi,red) merupakan manifestasi dari Allah, cabang kedua agak rendah sebagai manifestasi Alam, dan cabang ketiga (terendah) sebagai manifestasi Arwah, dan semua cabang tersebut berada dalam satu batang pohon sebagai simbol satu kesatuan utuh.

Seperti dituturkan oleh Tetua Adat Desa Naiola di Lopo Tobe Funan, Kecamatan Bikomi Selatan, Fransiskus Kunsaol Funan (91) pada Senin, 7 September 2020 (dengan Bahasa Daerah Timor dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia), menguraikan Ha’u Monef merupakan kekuatan bagi orang Timor. “Tiga cabang dari Ha’u Monef itu sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” urainya seraya menyampaikan jika dalam kondisi tertentu misalnya mengalami kekurangan, Ha’u Monef sebagai media.

Serupa, Kepala Desa Naiola Gabriel Funan selaku keturunan dari Suku Funan yang mendiami Lopo Tobe Funan (rumah adat, red) kepada Garda Indonesia pada Minggu, 13 September 2020, menguraikan tentang tiga cabang Ha’u Monef sebagai manifestasi dari Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. “Di antara ketiga cabang kayu tersebut, terdapat batu sebagai wujud dari arwah nenek moyang yang bersemayam di situ,” bebernya.

Menurut Gabriel Funan, saat ini, batu tersebut digunakan sebagai wadah untuk menyalakan dan menempatkan lilin di situ. “Wujud dari seluruh nenek moyang kita di situ, dan melalui tutur adat oleh Tetua Adat ke Apinat Aklat (Allah, red), kemudian turun ke leluhur bahwa mereka yang telah meninggal yang dekat dengan Allah, menjadi pendoa bagi kita yang masih berziarah atau hidup di dunia,” urainya.

Mengenai keberadaan Ha’u Monef hanya berada dan dipasang di rumah orang tua dari suku dan atau dipasang di rumah adat (Lopo Tobe).

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Pusara Sobe Sonbai III Ditemukan, VBL Dukung Jadi Destinasi Budaya

2.687 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Raja Sobe Sonbai III yang merupakan raja kelima belas Sonbai dan juga sebagai Raja Timor terakhir, yang sampai akhir hayatnya tidak pernah menandatangani perjanjian takluk kepada Belanda (baca : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sobe_Sonbai_III).

Perjuangan heroiknya diapresiasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) saat pemerintahan Gubernur El Tari, dengan dibangunnya sebuah Monumen Sobe Sonbai llI terletak di jantung Kota Kupang, tepatnya di Jalan Urip Sumohardjo, monumen ini terletak di jantung Kota Kupang dibangun pada 1974 atas ide salah satu putra Timor asal Timor Tengah Selatan (T.T.S) yaitu Yapy Yapola, yang didukung oleh Suyono Hartoyo yang saat itu menjabat sebagai Sekda Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan peresmiannya pada 31 Juli 1976.

Monumen Sonbai di Jalan Urip Sumoharjo Kota Kupang

Usai ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda dan berdasarkan keputusan pengadilan; Sobe Sonbai III, kemudian diasingkan ke Waingapu Sumba Timur selama setahun. Setelah itu, Sobe Sonbai III berhasil kembali ke Kauniki Kabupaten Kupang, namun ditangkap kembali dan ditawan di Kupang hingga meninggal dunia, dalam status sebagai tawanan perang. Jenazah Sobe Sonbai III dimakamkan di Fatufeto Kupang pada Agustus 1923.

Untuk menghindari pengkultusan pahlawan yang dapat membangkitkan perlawanan oleh penduduk pribumi, oleh Belanda kuburannya disamarkan agar tidak diketahui jelas keberadaan kuburan Sobe Sonbai III, seorang pahlawan dari Timor tanpa makam.

Namun, kondisi tersebut tak mengurungkan niat keluarga, anak dan cucu Sobe Sonbai III untuk menelusuri keberadaan Pusara atau Makam Raja Sobe Sonbai III. Setelah 98 tahun, mangkatnya Sobe Sonbai III, maka pada tahun 2016; melalui prosesi ritual adat unik dan melibat antropolog Pater Dr. Gregorius Neonbasu, SVD dan Dr. Sulastri Banufinit (cucu Sobe Sonbai III sekaligus antropolog), Pusara Raja Sobe Sonbai III berhasil ditemukan.

Cucu ketiga puluh Sobe Sonbai III, Doktor Sulastri Banufinit

Berlokasi di belakang Rumah Jabatan Wakil Gubernur NTT dan di Rumah Sakit Tentara (RST) Wirasakti Kupang, lokasi tersebut merupakan lahan kosong yang dipenuhi pohon Pisang dan dijadikan lokasi pembuangan sampah.

Kini, oleh keturunan Raja Sobe Sonbai III, lokasi yang diklaim merupakan lahan milik Alfons Loimau yang berukuran sekitar 800 m2 tersebut dijadikan sebagai Sonaf Naime Fontein, tempat di mana bersemayam Pusara Sobe Sonbai III.

Kepada Garda Indonesia, salah satu Cucu Sobe Sonbai III, Dr. Sulastri Banufinit mengatakan bahwa embrio pertama untuk menemukan Pusara Sobe Sonbai III telah digumuli oleh anak, cucu, dan orang tua dari garis keturunan Sobe Sonbai III yang masih hidup sejak 6 (enam) tahun lalu.

“Tak kala kami berdoa kakak/beradik, saudara bersaudara pada 2016, kami memperoleh jawaban bahwa penampakan makam dari Sobe Sonbai III dinyatakan melalui tanda-tanda alam, karena opa kami dan keturunan Sonbai itu punya kekuatan langsung dengan alam. Karena saat belum ada agama, mereka hidup, bergaul, meminta kekuatan, dan menyembah alam bahkan selalu berubah wujud,” urai Doktor Sulastri Banufinit sebagai cucu ketiga puluh dari Sobe Sonbai III saat peringatan mangkatnya Raja Sobe Sonbai III ke-98 yang dilaksanakan di Sonaf Nai Me, Fontein Kota Kupang pada Sabtu, 22 Agustus 2020.

Kemudian, imbuh Doktor Sulastri, saat itu ada tanda-tanda alam yang menyertai, seperti keluarnya buaya, ular, kucing, harimau, dan burung merpati sebagai tanda roh kudus yang menyertai. “Sehingga tahun 2016, seluruh anak, cucu diminta untuk melakukan ritual di seluruh makam Saubaki (sebagai keturunan Sonbai) yang berada di Kota Kupang, lalu mengadakan ritual adat di sini (Sonaf Naeme, red) bersama Pater Gregorius Neonbasu (ahli Antropolog senior).

Pater Dr. Gregorius Neonbasu, SVD (Ahli Antropologi Senior NTT)

Saat mengadakan ritual adat, tambah Doktor Sulastri, ada tanda alam yang menyertai di mana, muncullah 2 (dua) ekor kucing dari makam yang diperintahkan secara supranatural kepada antropolog Greg Neonbasu. “Makam itu, letaknya 6 (enam) langkah dari arah pohon asam dan ternyata betul. Ketika melangkah sebanyak enam langkah, muncul suara yang menyapa, selamat datang pastor melalui kekuatan supranatural,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Doktor Sulastri, Kami menguji kekuatan alam bahwa kosmologi bisa membuka semua tabir kehidupan selama ini. “Dan ternyata betul, saat itu ada tanda alam berupa guyuran hujan lebat karena dalam kepercayaan antropolog atau Nepameto, setiap kunjungan ke makam raja selalu ada hujan,” singkapnya.

Kemudian, pada tanggal 21 Juli 2020, kata Doktor Sulastri, kami melaporkan kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) untuk melakukan ziarah pada hari ini (Sabtu, 22 Agustus 2020 sebagai hari mangkat Sobe Sonbai III). “Dan, setelah kami melaporkan kepada Bapak Gubernur NTT, muncul lagi tanda alam berupa terdamparnya ikan Paus,” pungkasnya.

Usif Welem Sonbai, Cucu dari Sobe Sonbai III (tengah berbaju hijau dan bermahkota adat)

Sementara itu, mewakili Gubernur NTT, Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT Johanna E. Lisapaly mengatakan kegigihan Raja Sobe Sonbai III dalam mengusir penjajah untuk melepaskan masyarakat dalam belenggu penjajahan harus dilanjutkan demi mewujudkan rasa cinta daerah dan tanah air sebagaimana pembangunan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Peringatan mangkatnya Sobe Sonbai III punya nilai historis yang sangat tinggi bukan saja bagi Timor NTT tetapi bagi bangsa kita dan dunia. Tentunya bisa menjadi sarana sebagai bentuk promosi pariwisata daerah kita dari sisi sejarah, adat dan budaya untuk dipromosikan dan dikenal dunia juga sangat mendukung Pariwisata sebagai prime mover pembangunan di Nusa Tenggara Timur,” papar Johanna di hadapan Bupati TTU, Ray Fernandes (cucu Sobe Sonbai III), Bupati Malaka, Stef Bria Seran, Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Nomleni; Sesepuh Lembaga Adat Masyarakat Sunda, Aditya Alamsyah; Para Usif, Meo, Atoin Amaf, Tetua Adat, Tokoh Masyarakat, Kepala Suku se-daratan Timor.

Pemberian tanda mata Senjata Kujang dari Sesepuh Masyarakat Adat Sunda, Aba Alamsyah kepada Cucu Sobe Sonbai III, Usif Welem Sonbai di hadapan Pusara Sobe Sonbai III

“Saya atas nama Pemerintah Provinsi NTT memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya pada Keluarga besar Sonbai dan Saubaki. Kegiatan ini sangat bermanfaat dengan bukan hanya mengingat kembali bukti sejarah keberadaan Sobe Sonbai III sebagai Raja dan pahlawan tetapi juga sebagai bentuk eksistensi bahwa leluhur kita pernah bersama-sama dengan dia melakukan perjuangan heroik membela bangsa dan daerah terkhususnya kaum dan suku-suku di Timor untuk menjaga kehormatan daerah,” tandasnya Gubernur VBL melalui Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Yuk Ikut Lomba Karya Tulis Ilmiah & Video Edukatif Bank NTT Ramai Skali Periode II

582 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Peluncuran (Launching) Program Gerakan Menabung Sejak Dini atau ‘Ramai Skali Bank NTT’ Periode II resmi dibuka oleh Direktur Pemasaran Dana, Harry Alexander Riwu Kaho dan Ketua Dewan Juri, Pater Gregorius Neonbasu, SVD., PhD. pada Kamis, 5 Maret 2020 pukul 13.00 WITA di Resto Subasuka Paradise Kupang.

‘Ramai Skali Bank NTT’ merupakan program edukasi dan literasi keuangan perbankan sebagai bentuk dukungan Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur terhadap Peraturan Presiden (Perpres) No. 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang dicanangkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bertujuan untuk menumbuhkan budaya menabung sejak dini.

Program Ramai Skali Bank NTT tahap II tahun 2020 memberikan kesempatan kepada semua kalangan masyarakat untuk berpartisipasi dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah berlaku bagi tingkat SMP, SMA, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (4—25 Maret 2020) dan Video Edukatif bagi masyarakat semua kalangan (4 Maret—25 April 2020). Tak perlu membayar saat mendaftar atau gratis, cukup hanya dengan menabung di Bank NTT.

Direktur Pemasaran Dana Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho kepada awak media menyampaikan bahwa Program “Ramai Skali” dirangkai dengan Penyelenggaraan Lomba Karya Tulis Ilmiah melibatkan Pelajar SMP, SMA, Madrasah, dan Mahasiswa, sedangkan Video Edukatif dapat diikuti oleh masyarakat umum di seluruh kabupaten /kota dengan total hadiah ratusan juta rupiah berupa Tabungan Bank NTT.

Harry Alexander Riwu Kaho juga mengajak awak media untuk mewartakan apa yang dilakukan oleh Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur NTT (Bank NTT) sangat memberikan dampak positif bagi kemajuan edukasi literasi bagi kaum milenial dan masa kini.

Direktur Pemasaran Dana Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho

“Lomba Karya Tulis Ilmiah sebagai bagian dari komitmen Bank NTT untuk menerjemahkan sebuah langkah besar membangun kecerdasan kaum muda dalam mengembangkan talenta mereka melalui menulis karya ilmiah dan membuat video edukasi,” urai Direktur Pemasaran Dana Bank NTT sembari menyampaikan bahwa tujuannya untuk melatih anak muda agar cerdas menyiapkan masa depan dengan memanfaatkan talenta mereka melalui karya tulis ilmiah dan video edukasi.

Selain itu, ujar Harry, diperlukan konsistensi dan komitmen kuat untuk tetap mempertahankan dan menyelenggarakan program Ramai Skali Bank NTT. “Tahun 2020 merupakan tahun kedua penyelenggaraan lomba karya tulis ilmiah dan video edukasi. Kami memperoleh dukungan sinergisitas dari Pater Gregorius Neonbasu, Undana, Bank Indonesia, OJK, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, berbagai institusi, dan teman-teman yang berkecimpung dalam karya tulis ilmiah,” tandas Harry Riwu Kaho.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Video Edukatif Ramai Skali Bank NTT, Pater Gregor Neonbasu, SVD, PhD. mengatakan bahwa kegiatan Bank NTT tahun lalu begitu membludak dan populer berkat peran aktif media.

“Selama ini orang berpikir bahwa Bank NTT hanya selalu berurusan dengan uang dan usaha, namun saat ini saya melihat ada sisi kemanusiaan yang menyentuh dan mendidik anak-anak untuk menabung sejak dini dan Bank NTT memperhatikan dampak sosial bagi kaum muda,” ungkap Peter Gregorius.

Tak sekadar lomba, terang Pater Gregorius, Bank NTT kini keep in touch dengan sebuah bahtera penting yakni pendidikan. “Dampaknya dari kegiatan pertama dari Lomba Karya Tulis Ilmiah pada 2019 untuk mendidik anak-anak sejak awal untuk menabung karena hadiahnya berupa tabungan Bank NTT,” beber budayawan NTT ini dengan penuh antusias.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)