Arsip Tag: pulau sabu

Pemda Sabu Raijua & Bank NTT Bantu Warga Korban Badai Seroja

179 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi bersama Ketua DPRD, Kapolres, Danramil, Sekda dan Pimpinan Bank NTT, Sabu Raijua bersama rombongan menyerahkan bantuan Bank NTT berupa Seng sebanyak 1. 500 lembar, paku seng 50 kg kepada warga di 6 (enam) kecamatan terdampak Badai Seroja yakni di Kecamatan Sabu Barat, Sabu Tengah, Sabu Timur, Sabu Liae, Hawu Mehara, dan Raijua.

Kepada Garda Indonesia, Penjabat Bupati Sabu Raijua Doris Rihi mengungkapkan, Pemda Sabu Raijua menyerahkan bantuan beras sebanyak 5,5 ton kepada 487 KK atau 1.984 jiwa di Desa Ledeke, Kecamatan Sabu Liae dan Desa Gurimonearu, Kecamatan Hawu Mehara

“Bantuan beras akan dilanjutkan besok (Selasa, 13 April 2021, red) dan seterusnya untuk membantu warga yang terdampak bencana,” tandas Doris Rihi.

Penjabat Bupati Sabu Raijua, Doris Rihi (tengah berbaju putih) bersama warga Sabu Raijua terdampak Badai Seroja

Sementara itu, Selain bantuan di Sabu Raijua, Bank NTT juga telah menyerahkan bantuan di beberapa kabupaten yakni Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Malaka, Sumba Timur, dan kabupaten terdampak lainnya.

Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu Kaho kepada Garda Indonesia pada Sabtu malam, 10 April 2021, menyampaikan Bank NTT beserta partisipan berbagi kasih dengan para pengungsi korban Badai Seroja di Kota Kupang. “Kami, Bank NTT bersama partisipan mengelilingi semua posko dan memberikan bantuan kepada warga terdampak termasuk para mahasiswa,” ujarnya.

Alex pun menyampaikan Bank NTT telah mendirikan Dapur Umum di Jalan El Tari Kupang untuk membantu masyarakat Kota Kupang yang terdampak Badai Seroja.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/koleksi pribadi)

Waspada Banjir ROB Pesisir Pantai di Pulau Sumba dan Sabu Raijua

695 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Usai diterjang oleh Badai Siklon Tropis Seroja, Pulau Sumba dan Sabu Raijua bakal menghadapi fenomena banjir pesisir (ROB) yang diprediksi oleh BMKG bakal pada rentang waktu pada Jumat—Senin, 10—12 April 2021.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/04/11/hilang-lima-hari-dua-nelayan-sabu-raijua-pulang-dengan-selamat/

Peringatan dini Banjir Pesisir (ROB) dirilis oleh BMKG pada Jumat, 10 April 2021, menyampaikan akibat adanya aktivitas pasang surut air, dan kondisi gelombang tinggi dapat mempengaruhi dinamika pesisir di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berupa banjir pesisir.

Banjir ROB ini bakal berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam, dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan.

BMKG pun mengimbau masyarakat yang berdomisili di pesisir pantai yang bakal terdampak yakni di pesisir selatan Pulau Sumba dan pesisir Pulau Sabu Raijua, untuk selalu waspada dan siaga mengantisipasi dampak dari Banjir Pesisir (ROB), serta memperhatikan perkembangan atau update informasi cuaca maritim dari BMKG melalui call center 0380-8561910 atau dapat mengakses https://peta-maritim.bmkg.go.id atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto utama oleh wartabromo.com

Ikan Paus Terdampar di Pulau Sabu, Penyebab & Jadi Objek Wisata Dadakan

419 Views

Oleh Yumi Ke Lele 

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Hari ini Kamis, 10-10-2019 laman facebook saya dipenuhi oleh 2 (dua) peristiwa yang menurut saya penting, yang terjadi di negara Indonesia tercinta. Peristiwa rencana penikaman terhadap seorang Jenderal penjaga NKRI dan peristiwa terdamparnya sekelompok Ikan Paus di Pantai Kolouju, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tetapi karena saya sadar, saya hanyalah seorang kaum minoritas, tidak punya pengaruh apa-apa, dan juga buta tentang hukum, maka saya tidak ingin berkomentar tentang rencana penikaman.

Yang bisa saya lakukan hanyalah mendoakan Bapak Presiden Joko Widodo sebagai pucuk pimpinan NKRI, agar diberi kekuatan, kesehatan dan kebijaksanaan dalam memimpin negara demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang damai sejahtera.

Saya tertarik, dengan peristiwa langka yang terjadi di Kabupaten Sabu Raijua, yang sangat jarang terjadi. Di mana hari ini, ada sekelompok ekor ikan Paus berjumlah 17 ekor, yang terdampar. 10 ekor, bisa diselamatkan warga dengan mendorong kembali ke laut, sedangkan 7 ekor tidak bisa diselamatkan.

Beberapa foto saya ambil dari beberapa teman yang menyebarkannya, baik lewat Whatsapp maupun facebook. Ada banyak komentar terkait penyebab terdamparnya sekelompok ikan paus ini. Dan diantara banyaknya komentar tersebut, ada yang sangat disayangkan, karena menurut saya sangat tidak masuk akal.

Paus Terdampar di Pantai Kolouju

Karena rasa penasaran saya, saya pun mencari tahu pada beberapa artikel Daring (online) terkait penyebab Lumba-Lumba dan Paus terdampar.

Dan inilah beberapa alasan yang saya temukan :

Pertama, Sakit atau Terluka
Mungkin ikan itu sedang diburu oleh predator ataupun sedang berkelahi, sehingga ketika ikan ini kalah mereka akan berlindung mencari tempat yang aman yaitu menuju pesisir dengan kondisi tempat yang dangkal. Kemudian ikan paus/hiu atau lumba-lumba terseret arus serta ditambah dengan surutnya air laut kemudian mereka terdampar.

Kedua, Ditinggal Gerombolan
Ditinggal oleh gerombolan sehingga mereka sendirian. Biasanya pada ikan lumba – lumba. Tetapi jika paus, sering terdampar secara gerombolan. Hewan yang sering terdampar secara masal adalah tipikal hewan yang memiliki pemimpin dalam kelompoknya dan memiliki ikatan sosial juga kesetiaan yang tinggi. Paus pilot adalah contohnya. Inilah kenapa paus pilot lebih sering terdampar dari pada hewan laut lainnya.

Biasanya alasan mereka terdampar karena pemimpin kelompok telah membuat kesalahan navigasi. Atau karena salah satu dari mereka sakit maupun terluka kemudian mencari perairan yang lebih dangkal sehingga lebih mudah bernafas ke permukaan dan membuat yang lainnya untuk mengikutinya. Melihat ciri paus yang terdampar di sabu, cirinya seperti Paus Pilot, yang sering diburu.

Ketiga, Sistem Navigasi Paus Terganggu
Hewan laut seperti paus dan lumba-lumba memiliki sistem navigasinya sendiri sebagai penunjuk arah. Ketika penunjuk arah ini mengalami gangguan atau tidak berfungsi, ini menyebabkan kesalahan navigasi dan pada akhirnya membuat mereka sampai ke perairan dangkal dan terdampar di pantai.

Gangguan navigasi ini disebabkan oleh beberapa hal. Efek sonar adalah hal umum penyebab dari gangguan ini. Penggunaan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang dipancarkan di dalam laut untuk mencari kapal selam atau benda-benda lain yang tidak kelihatan oleh Angkatan Laut, mengakibatkan kerusakan pada otak dan sistem pendengaran paus dan lumba-lumba.

Keempat, Gejala alam
Gejala Alam ini bisa karena Gempa bumi akibat gunung meletus, sehingga terjadi aktivitas seismik bawah laut (Gempa bawah laut) atau undersea quake. Hewan laut juga memiliki insting seperti hewan darat, ketika akan terjadi sesuatu yang bahaya mereka akan mencari tempat aman untuk berlindung.

Kelima, Oksigen Menipis
Oksigen bawah laut yang rendah bisa jadi pemicu karena oksigen adalah sumber udara bersih untuk makhluk hidup. Penyebab dari oksigen rendah karena kenaikan suhu bawah air laut sehingga kualitas air yang terangkat memiliki oksigen rendah.

Keenam, Kondisi perairan, ada perubahan secara kimiawi maupun fisik, kemudian bisa saja dia mencari tempat yang lebih aman jadi terdampar. Pencemaran laut, perubahan suhu didasar laut dll, dapat menyebabkan paus/lumba – lumba terdampar.

Peristiwa terdamparnya 17 ekor paus ini, membuat Pantai Kolouju, seketika menjadi ramai. Karena begitu banyak saudara-saudara dan teman – teman saya, yang ingin menyaksikannya. Saya bersyukur, semua punya rasa belas kasihan yang tinggi, sehingga melakukan upaya penyelamatan paus dengan cara mendorong Paus yang terdampar ke laut. Meskipun upaya tersebut, berhasil dilakukan pada 10 ekor saja. Sedangkan 7 ekor lainnya mati.

Kita tidak tahu persis, apa alasan terdamparnya 17 ekor ikan paus ini?. Apakah merupakan gejala alam sebagai tanda akan terjadinya bencana alam atau karena faktor apa? Saya berharap, terdamparnya Paus ini, adalah karena salah satu mengalami gangguan navigasi, sedangkan lainnya ikut terdampar karena faktor kesetiaan terhadap kawan.

Dan ada hal menarik yang sangat berarti bagi saya, di mana Ikan Paus yang merupakan kelompok hewan mamalia air saja, bisa punya sifat kesetiaan yang tinggi terhadap kelompoknya.

Tetapi sayang sekali, kita manusia. Yang katanya makhluk sosial, makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna karena diberi hikmat dan kebijaksanaan, justru sering kali tidak punya sifat kesetiaan seperti kelompok ikan Paus. Justru sering kita temui di mana saling menjual antar teman, saling menjatuhkan antar teman hanya untuk kesenangan pribadi.

Marilah kita belajar pada Paus. Kita tiru semangat kesetiaannya. Masa Paus saja, bisa setia, kita manusia tidak. Tugas kita semua, marilah kita mendoakan NKRI tercinta, khususnya NTT terlebih khusus Pulau Sabu tercinta agar diluputkan dari bencana. (*)

Penulis merupakan salah satu ASN di Pemkot Kupang
Editor (+rony banase)

Wisatawan Mancanegara & Domestik Kagum Pesona Kelabba Maja

414 Views

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Pesona Kelabba Maja, obyek wisata di Kecamatan Mesara Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengusik perhatian dunia melalui pagelaran even Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja yang dihelat pada 9—12 September 2019.

Tak hanya penduduk asli Sabu Raijua, wisatawan domestik dan mancanegara turut mengambil bagian menyaksikan pesona Kelabba Maja yang dipercaya oleh masyarakat Sabu sebagai tempat bersemayam para dewa dan tempat pemujaan bagi penganut aliran kepercayaan.

3 (tiga) batu mazbah utama di Kelabba Maja Sabu Raijua

Sepintas pengamatan Garda Indonesia saat berada di lokasi, terdapat 3 (tiga) buah mazbah (*meja tinggi dari kayu, batu; dan sebagainya tempat mempersembahkan kurban, KBBI V versi Luring), seperti yang masih dilakukan oleh penganut aliran kepercayaan Jingitiu (*Sumber https://saburaijuakab.go.id/halaman/agama) ; yang mana beberapa norma kepercayaan asli masih tetap dipertahankan, antara lain penggunaan kalender adat saat menentukan waktu bertanam dan waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara. Selain itu, beberapa masyarakat juga masih menerapkan ketentuan hidup adat atau Uku yang konon dipercaya mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka.

Wisatawan Domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun)

Seorang wisatawan domestik asal Ternate, Deby Coralia Toni (24 tahun) menyampaikan bahwa NTT sangat cantik dan memperoleh informasi dari teman tentang Festival Kelabba Maja.

“Saya penasaran dan ingin melihat langsung karena saya suka eksplorasi tempat wisata yang belum banyak orang tahu dan saya suka jalan di NTT,” ujar Alumni Universitas Khairun Ternate tahun 2018.

Penyuka traveling ini juga mengatakan akan membuat sebuah video tentang keindahan Sabu Raijua dan membagikan ke chanel youtube dan instagram miliknya.

Selain itu, Deby juga menyampaikan niat untuk mengunjungi Pulau Raijua namun tidak terdapat dalam jadwal (schedule) Festival Jelajah Pesona Kelabba Maja.

Berbeda dengan wisatawan mancanegara asal Perancis, Juliette yang mengunjungi Kelabba Maja bersama suami dan anaknya, Guillaume, Jo dan Elodie. Kepada media ini Juliette mengatakan bahwa suaminya seorang koki (chef) yang sering berkunjung ke Sabu menggunakan perahu layar (sail boat) dari Perancis.

“Kami sekeluarga menggunakan perahu layar dari Perancis, ke Australia kemudian ke Indonesia, Sabu Raijua,” ujarnya pada Kamis, 12 September 2019

“Kami sangat beruntung bisa mengikuti Festival Pesona Jelajah Kelabba dan kami akan menulis tentang pengalaman terbaik kami di sini dan menulis tentang Sabu Raijua di portal berita (website) di http://www.travelthe7seas.com, “ tandas Juliette.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Surga Tersembunyi di Pulai Sabu Raijua

757 Views

Oleh Yumi Ke Lele

Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Bersyukur puji TUHAN dan terima kasih sebesar – besarnya kepada Pemda Sabu Raijua, atas kegiatan yang luar biasa tahun ini yaitu Festival Jelajah Pesona Kelabba Madja 2019 yang dihelat pada 9—12 September 2019.

Sabu yang dulu, sangat berbeda dengan sekarang. Jika dulu, Pulau Sabu merupakan Pulau yang sangat terisolir. Dimana jadwal kapal fery Sabu – Kupang seminggu sekali, maka sekarang transportasi menjadi sangat mudah.

Dengan lancarnya transportasi, ke Pulau Sabu, membuat Pulau Sabu, tidak terisolir seperti dulu lagi. Meskipun akan terkendala dan tetap terisolir ketika cuaca buruk (hujan, angin dan gelombang), karena pelayaran dan penerbangan di tutup.

Setiap hari, selalu ada Kapal Funka, baik dari Kupang ke Sabu, maupun sebaliknya. Ada juga kapal Fery Cepat Cantika dan kapal Fery miliknya ASDP. Kita tinggal memilih, mudah kan? Ayo ke Sabu Raijua.

Penulis bersama keluarga di Kampung Adat Namata

Meskipun, saya dilahirkan dan dibesarkan di Sabu, tetapi saya sendiri, belum pernah mengelilingi Pulau Sabu. Itulah alasannya, mengapa saat mendengar adanya Festival Jelajah Pesona Kelabba Madja 2019, saya segera menghubungi panitia agar bisa terdaftar sebagai salah seorang peserta.

Dan untuk hari pertama Senin, 9 September 2019, merupakan hari yang luar biasa. Karena anak terkasih Ama, bisa melihat secara langsung proses adat yang dilakukan oleh para Mone Ama (Tetua Adat Sabu Raijua), ketika menyambut Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bupati Sabu Raijua, Niko Rihi Heke beserta rombongan.

Serta yang tidak dilewatkan adalah sesi foto. Dan beruntungnya, Ama bisa berfoto bersama para Tokoh Adat yang hari ini hadir di Kampung Adat Namata baik para Mone Ama dan Deo Rai.

Hari ini (9/09/19), Kami mengunjungi 2 (dua) tempat wisata yaitu Kampung Adat Namata dan Pantai Napae, Seba. Meskipun melelahkan, tetapi ada kebahagiaan tersendiri, melihat semua rangkaian kegiatan.

Harapan ke depan, semoga Sabu Raijua menjadi lebih maju, Sektor Pariwisata menjadi perhatian dan Festival seperti ini, diadakan secara berkala.

Buat para pelancong (Traveller), saya sangat merekomendasikan untuk berkunjung ke Pulau Sabu. Pulau dengan keunikan Budaya Cium Hidung (Henge’do).

Ayo ke Sabu Raijua, Surga Tersembunyi di Provinsi Nusa Tenggara Timur! (*)

Sumber berita (*/Penulis merupakan ASN di Kota Kupang dan berdarah Sabu)
Editor (+rony banase)