Arsip Tag: general manager pln uiw ntt

Sampah Ganti Minyak Tanah, Warga Ende Memasak Pakai Kompor Pelet

372 Views

Ende, Garda Indonesia | Warga Kabupaten Ende di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal merasakan manfaat dari hasil olahan Sampah Biomassa. Jika sebelumnya menggunakan minyak tanah atau kayu bakar untuk memasak, kini mulai memakai Kompor Pelet.

Rofika, pengguna Kompor Pelet dan pengelola Pelet di Ende menyampaikan, inovasi Pelet ini pertama dan menjadi solusi bagi masyarakat Ende karena minyak tanah langka dan dibatasi dalam membeli. Sehingga, inovasi Pelet dari PLN ini menjawab permasalahan masyarakat Ende dalam pengelolaan sampah dan pengganti minyak tanah.

“Di sini saya sendiri sudah menggunakan Kompor Pelet dan bagus. Kami menukarkan sampah dengan Pelet per 1 kg hanya Rp.600,- (enam ratus rupiah), jadi uangnya yang biasa kami pakai untuk membeli minyak bisa dipakai untuk kebutuhan lain dan kami sangat bersyukur,” tutur Rofika.

Pelet dari olahan sampah biomassa

Setiap hari, tandas Rofika, kami dari DLH menerima sampah dari masyarakat yang dikelola di Dinas Lingkungan Hidup dan setelah itu dipeuyeumisasi dan Sampah Biomassa dibawa ke PLTD Mautapaga Ende untuk diolah lagi menjadi Pelet.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT Agustinus Jatmiko menyebutkan Pelet yang dihasilkan sebanyak  80 persen diserap untuk bahan bakar pembangkit PLTU Ropa dan 20 persen untuk kebutuhan memasak warga.

“Saat ini memang pemakaian pelet pada warga memang terkendala pada kompor. Namun, sekali lagi PLN telah punya solusi. Saat ini sedang dikembangkan kompor buatan SMK Negeri 2 Ende. Mereka dilatih PLN membuat Kompor Pelet dengan teknik downdraft gasification jadi gasifikasi kompor (gasification stove),” ungkap Agustinus Jatmiko.

General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko melihat proses pembuatan Kompor Pelet

Kompor Pelet, ulas Jatmiko, diluncurkan Jumat, 25 Juni 2021 bersamaan dengan acara Launching Continuous Firing Run. “Bupati Ende memberikan kompor gratis untuk 35 kepala keluarga (KK) di desa Keliwumbu. Tak hanya itu, PLN juga telah melatih pengrajin ke desa keramik yang berhasil membuat Kompor Pelet dari tanah liat yang lebih murah,” tutur Jatmiko seraya menyampaikan, akan percuma kalau ada pelet tetapi warga tidak dapat memakainya karena tidak ada kompor. Semakin banyak warga yang memakai Kompor Pelet ini, maka warga banyak terbantu.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMKN 2 Ende Fransisco Soares, mengungkapkan kebahagiaan berkat bantuan PLN, hampir setengah tahun praktik kerja electricity sehingga dapat menghasilkan Kompor Pelet dan berharap ke depan dapat memproduksi  mesin.

“Jadi cita dari program untuk Indonesia. Dulunya kompor karena minyak tanah langka. Dengan kehadiran kompor ini mengatasi kelangkaan. Di Ende, dari SD sampai SMA sudah membentuk Bank Sampah dan bisa barter sampah dengan Pelet. Dengan kolaborasi yang baik bisa tercapai tujuan bagi seluruh masyarakat di Ende,” tandasnya. (*)

Sumber berita dan foto (*/humas pln)

Editor (+roni banase)

PLN Alirkan Listrik ke 18 Desa Terpencil di NTT, Investasi 20,8 Miliar Rupiah

490 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pasca-Badai  Seroja pada April 2021, PLN bergerak cepat melistriki 18 desa terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui program listrik desa.  Dengan total investasi sebesar Rp.20,8 miliar, sekitar 742 warga di 18 desa tersebut telah menikmati listrik.

PLN menginvestasikan senilai Rp.28 juta untuk melistriki tiap warga di desa-desa tersebut. Tingginya biaya investasi disebabkan lokasi 18 desa yang terisolir.

General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTT Agustinus Jatmiko menyatakan, pencapaian ini merupakan bentuk komitmen PLN untuk melistriki desa 3T demi mewujudkan energi berkeadilan hingga ke pelosok negeri. “Sesudah pemulihan pasca-bencana, PLN kebut melistriki desa-desa dari April hingga pertengahan Juni 2021 dan telah berhasil melistriki 18 desa tersebar di NTT,” ujarnya.

Adapun 18 desa sudah menikmati listrik tersebut tersebar di Pulau Flores yaitu Desa Boafeo, Desa Wologai, Desa Focoloderawe, Desa Nagerawe, di Sumba ada Desa Bolora, di Kalabahi ada Desa Welai Selatan,  Desa Tominuku, Desa Fuisama, Desa Malaipea. Kemudian, di Kabupaten Sabu, ada Desa Tada, Desa Bebae, Desa Loborui, Desa Waduwalla, Desa Eikare, Desa Raerobo, Desa Daiano, Desa Matei, dan di Kabupaten TTS, Desa Kaeneno.

Jaringan listrik yang dibangun oleh PLN UIW NTT

Untuk melistriki ke 18 desa tersebut, lanjut Jatmiko, PLN membangun jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 62,79 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 46,09 kms, 18 Gardu dengan kapasitas 900 kVA.

Saat ini, rasio elektrifikasi untuk wilayah NTT mencapai 88,37 persen per Mei 2021 dan Rasio Desa Berlistrik telah mencapai 96,21 persen per Mei 2021.

Sementara itu, Jatmiko mengaku Program Listrik Desa ini membutuhkan sinergi dan kerja ekstra, terutama dalam hal pengangkutan tiang ke lokasi karena medan yang cukup sulit. Sebagian material itu dibawa secara manual dibantu warga desa setempat. “Kami ucapkan terima kasih kepada warga yang sudah dengan sukarela membantu kami,” ungkapnya.

Jatmiko juga mengapresiasi dukungan pemda dalam mempercepat penyaluran listrik ke desa-desa terpencil. “Kami berharap dukungan pemerintah daerah khususnya pada kemudahan perizinan pembangunan serta saat penarikan kabel dan penentuan lokasi gardu dapat berjalan dengan lancar.

Mewakili masyarakat, Camat Alor Tengah Utara, Sabdi Makanlehi bersyukur atas mengalirnya listrik di wilayahnya. Penantian panjang puluhan tahun, akhirnya berbuah manis. “Akhirnya setelah proses yang panjang, masyarakat di sini bisa menikmati listrik dan berharap bisa dimanfaatkan dengan baik oleh warga sehingga lebih meningkatkan roda ekonomi masyarakat,” ungkapnya

PLN akan terus melakukan pembangunan infrastruktur kelistrikan ke daerah-daerah yang belum mendapatkan aliran listrik PLN melalui Program Listrik Desa. Diharapkan kehadiran listrik desa bisa membuat warga lebih produktif, menggerakkan perekonomian sehingga kesejahteraan warga desa kian meningkat.(*)

Sumber berita dan foto (*/humas pln)

Editor (+roni banase)

Cahaya Listrik di Kebun Buah Naga, Atensi dan Peduli PLN bagi Petani TTU

402 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | PLN terus mendorong peningkatan produktivitas pelaku usaha di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan sebagainya. Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli, PLN UIW NTT memberikan bantuan 460 lampu, instalasi air dan pemasangan listrik baru senilai Rp.130 juta guna meningkatkan produktivitas Petani Buah Naga di Desa Nunmafo, Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko menyampaikan bantuan yang diberikan kepada Petani Buah Naga di TTU, dikemas dalam program PROLIGA (Program Listrik untuk Buah Naga). “Kami ingin TJSL kami, yaitu PLN Peduli dapat memberikan kontribusi secara berkelanjutan dan membuat masyarakat semakin sejahtera khususnya di Kabupaten TTU dan dengan meningkatnya produktivitas tentu akan meningkatkan kesejahteraan serta membentuk kemandirian ekonomi masyarakat.” tuturnya.

Melalui Elektrifikasi Pertanian Buah Naga ini, imbuh Agustinus Jatmiko, untuk meningkatkan produksi buah naga di luar musim panen. Peningkatan produksi dilakukan dengan cara memberikan aliran listrik di malam hari dan di setiap pohon untuk membantu proses panen buah naga agar lebih cepat dan lebih baik.

Sinar Listrik PLN Menerangi Kebun Petani Buah Naga di Insana

“Program ini terinspirasi dari inovasi Kelompok Tani di Pulau Jawa-Banyuwangi yang juga sudah bekerja sama dengan PLN. ‘PROLIGA’ ini merupakan modernisasi pertanian dengan menggunakan listrik, dengan lahan terbatas bisa meningkatkan produktivitas buah naga hanya dengan pemberian lampu di setiap malam,” ungkap Jatmiko.

Sementara itu, Bupati TTU, Drs. Juandi David mengungkapkan apresiasi atas bantuan yang diberikan bagi Petani Buah Naga. “Pada kesempatan kali ini, saya bersama GM PLN UIW NTT datang dengan beberapa maksud. Yang pertama PLN selama ini kita lihat selalu menebang pohon untuk menjaga keandalan jaringan listrik tetapi PLN juga mencintai alam, tumbuhan dan perkebunan. Contohnya, malam ini kita menyaksikan sekaligus sempat menanam anakan pohon sebanyak 2.000 lebih sumbangan dari PLN di Desa Fatoin,” ucap pasangan Eusabius Binsasi.

Bupati TTU, Juandi David (kiri) bersama GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko (tengah), dan Petani Buah Naga Insana

PLN, lanjut Juandi David, memberikan perhatian kepada Kelompok Tani Buah Naga untuk meningkatkan produktivitas buah naga. Di mana buah naga yang disinari lampu akan meningkatkan kualitas dan kuantitas buah naga. “Kami harap ke depannya tidak hanyak 1 kelompok tani saja tapi bisa diikuti oleh kelompok yang lainnya” pintanya sembari mengucapkan terima kasih kepada GM PLN dan jajaran yang memberikan perhatian kepada masyarakat, “Semoga melalui penanaman buah naga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat  TTU khususnya di Kecamatan Insana.” tandasnya.

Perwakilan Kelompok Tani Buah Naga, Ignasius Neno Naisau, mengucapkan terima kasih kepada PLN yang memberikan bantuan berupa lampu di kebun Buah Naga, “Malam ini sudah menyala, saat ini ada hampir 800 pohon Buah Naga di kebun kami dan setiap panen, rata – rata kami mendapatkan penghasilan sebesar 30 juta rupiah. Dengan adanya lampu – lampu ini kami harap dapat meningkatkan produktivitas kebun buah naga ini.” ujarnya.

Aksi Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan, PLN Tanam 2 Ribu Pohon di TTU

PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur juga menanam 2.250 pohon. Beragam anakan pohon tersebut ditanam di Kecamatan Insana pada Kamis 10 Juni 2021. Kegiatan ini dihadiri Bupati Timor Tengah Utara beserta warga setempat, PLN Unit Kefamenanu dan juga kelompok PIKK (Persatuan Istri Karyawan Karyawati) PLN UIW NTT.

General Manager UIW PLN NTT, Agustinus  Jatmiko menyampaikan, penanaman pohon dilakukan sebagai aksi Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli. Kegiatan ini berlangsung menyusul maraknya isu terkini yang menjadi perhatian dunia. Yaitu perubahan iklim dan pemanasan global.

Aksi menanam pohon oleh PLN UIW NTT di Kabupaten Timor Tengah Utara

Dampak paling jelas, terang Jatmiko, adalah panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan. Makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” merata seperti demam berdarah, diare, dan malaria, juga merupakan akibat dari terjadinya perubahan iklim.

“Dengan dampak tersebut, PLN melalui TJSL membantu mengelola lingkungan seperti penanaman anakan pohon akan mampu menyerap kadar Co2 dalam atmosfer.” ujar Jatmiko.

Jatmiko pun berharap, dengan penanaman 2.250 pohon secara simbolis di Kecamatan Insana, Kabupaten TTU ini, dapat menggerakkan seluruh warga NTT sebagai pewaris Tanah Timor dapat menjaga dan melestarikan alam sekitarnya dari ancaman bahaya pemanasan global dan lain sebagainya.(*)

Sumber berita dan foto (*/PLN UIW NTT)

Editor (+roni banase)

Gubernur NTT Tinjau Eksplorasi PLTP Mataloko Kabupaten Ngada

253 Views

Ngada-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) meninjau lokasi PLTP Mataloko pada Senin, 24 Mei 2021. Kunjungan ini untuk mendukung pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dimana Pemerintah Indonesia telah menetapkan Pulau Flores sebagai ikon Geothermal Island melalui Keputusan Menteri ESDM No. 2268K/30/MEM/2017 tanggal 19 Juni 2017, tercatat terdapat 21 lokasi potensi panas bumi dan 4 lokasi yang potensinya besar terdapat di Ulumbu, Mataloko, Sokoria, dan Atadei.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/05/22/dirjen-ebtke-gubernur-ntt-bakal-tinjau-progres-pltp-mataloko/

Gubernur VBL menyampaikan pemanfaatan EBT bagi kemajuan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sudah menjadi kebutuhan. “Eksplorasi telah dilakukan PLN dan kami melihat potensi energi baru terbarukan yang besar terhadap masyarakat NTT khususnya di Pulau Flores dan di Mataloko harus dilanjutkan eksploitasinya,” ucapnya.

Tidak hanya itu, imbuh Gubernur VBL, di sekitar lokasi sumur terdapat warga masyarakat yang  perlu mendapatkan sosialisasi yang lebih baik, terarah, sistematis, dengan tujuan bagaimana membangun energi panas bumi ini berdampak bagi masyarakat. “Oleh karena itu, Bupati dan wakil Bupati Ngada bersama tokoh agama, tokoh masyarakat dan tim PLN yang memahami teknis pembangunan energi panas bumi akan duduk bersama untuk merencanakan Pembangunan energi panas bumi ini dan semua kendala dapat diselesaikan dengan membangun komunikasi yang baik dengan para pihak,” terangnya.

Didampingi GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko, Gubernur NTT meninjau rencana lokasi pembangunan PLTP Mataloko di Pulau Flores

VBL pun menambahkan, kita membutuhkan energi untuk kemajuan masyarakat. Perekonomian NTT akan maju bila tersedia energi dan apabila tidak dikelola akan membuat diri kita miskin sendiri. NTT memiliki sumber daya yang melimpah dan perlu dilakukan eksploitasi maupun kapitalisasi seluruh sumber daya yang ada.

“Saya berharap Bupati Ngada akan mampu meyakinkan seluruh masyarakat lewat kelembagaan yang ada di desa untuk menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan tenaga listrik di NTT. Kebutuhan energi dunia saat ini adalah energi baru terbarukan tidak lagi energi fosil yang terus membebani kita dengan negara-negara lain yang terus berkembang pada energi baru terbarukan,” pinta Gubernur NTT.

Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur Agustinus Jatmiko, menyampaikan pemenuhan kebutuhan  energi oleh pemerintah melalui PLN membangun energi listrik baru terbarukan, dan salah satunya adalah di Mataloko yang sedang dalam proses sosialisasi dan sudah ada timeline untuk penyediaan energi listrik yang lebih baik, ramah lingkungan yang bermanfaat bagi masyarakat di Pulau Flores khususnya masyarakat di Bajawa.

Pose bersama GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko dan tim unit layanan listrik di Mataloko

PLN, tandas Jatmiko, telah melakukan sosialisasi secara bertahap dan sudah disampaikan kepada Bupati, dan kehadiran Gubernur hari ini di lokasi eksplorasi PLTP Mataloko akan ditindaklanjuti pertemuan dengan tokoh agama, dan tokoh masyarakat dan warga sekitar.

“Sosialisasi tidak bisa hanya sekali atau dua kali, sehingga PLN akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya di Mataloko. Di Indonesia sudah banyak energi panas bumi yang dibangun dan sangat bermanfaat bagi masyarakat di sekitar lokasi, serta akan memberdayakan dan melibatkan masyarakat dalam operasional,” tandas Agustinus Jatmiko.

Dalam kunjungan Gubernur NTT tersebut, hadir Direktur Panas Bumi EBTKE, Harris ST MT, GM PLN UIW (Unit Induk Wilayah) NTT Agustinus Jatmiko, GM PLN UIP (Unit Induk Pembangunan) Nusa Tenggara, Josua Simanungkalit, dan Manager PLN UPK Flores, Lambok Siregar. (*)

Sumber berita dan foto (*/Humas PLN UIW NTT)

Editor (+roni banase)

Dirjen EBTKE & Gubernur NTT Bakal Tinjau Progres PLTP Mataloko

367 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dijadwalkan bakal melihat secara langsung progres pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Mataloko di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin, 24 Mei 2021.

Kepastian kunjungan Dirjen EBTKE dan Gubernur NTT di PLTP Mataloko dengan kapasitas 2,5 MW tersebut disampaikan oleh General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko kepada Garda Indonesia pada Sabtu siang, 22 Mei 2021. “Besok Senin, 24 Mei 2021, Pak Gubernur & Dirjen EBTKE akan berkunjung ke PLTP Mataloko,” ujar Jatmiko seraya menyampaikan, “Saya datang duluan, sekalian menyapa kawan-kawan di PLN Bajawa.

Pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) dari PLTP Mataloko ini diharapkan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi di provinsi kepulauan yang memiliki 4 (empat) pulau besar yakni Pulau Flores (lokasi PLTP Mataloko), Pulau Sumba, Pulau Timor, dan Pulau Alor serta 562 pulau lainnya.

Hingga Desember 2020, rasio elektrifikasi di Provinsi NTT mencapai 87,31 persen. Sebelumnya, PLN bersama Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menandatangani kesepakatan studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi di Mataloko untuk mewujudkan rencana tersebut.

General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko (kanan, bertopi dan berbaju coklat tua) saat tiba di Bandara Soa,  Bajawa

Di Pulau Flores ada 12 wilayah yang mempunyai potensi panas bumi, beberapa yang cukup besar antara lain Ulumbu, Mataloko, Mutubusa, Ropa dan Atadei. Sedangkan yang sudah mendapat izin pengelolaan yaitu Ulumbu, Mataloko dan Sokoria dengan total kapasitas terpasang mencapai 12,5 megawatt.

Pemerintah akan melakukan beberapa studi panas bumi, meliputi studi mitigasi risiko, studi geologi geokimia geofisika, studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta penggunaan peralatan rig hidrolik (mobile hydraulic rig). Sementara, infrastruktur pembangkit listrik akan ditangani oleh PLN Gas dan Geothermal (PT PLN GG) dan membangun PLTP Mataloko dengan kapasitas 2,5 MW.

Dilansir dari esdm.go.id, berdasarkan data potensi panas bumi, kebutuhan listrik daerah dan terbatasnya sumber energi alternatif non fosil di daerah Ngada dan NTT pada umumnya, maka PLTP Mataloko layak untuk dikembangkan dan menjadi program kerja sama antara DJGSM, PLN Persero dan Pemkab Ngada. PLTP Mataloko direncanakan akan mempunyai kapasitas pembangkit 2X1,5 MWe dengan mengekstrak energi uap terutama dari sumur MT-3 dan MT-4 dengan menggunakan jenis turbin back pressure.

Pemilihan lokasi rumah pembangkit (power house) di antar sumur MT-3 dan MT-4 dengan memperhatikan faktor risiko bahaya geologi minimal, kedekatan dengan sumber uap ((efisiensi jaringan pipa dan meminimalkan panas hilang di pipa) dan bebas dari pemukiman penduduk.

Jaringan secara nasional tidak memungkinkan masuk ke daerah-daerah pedalaman Indonesia yang sebaran daerahnya memanjang 5100 km dari barat ke timur. Adanya pemanfaatan potensi energi panas bumi di daerah pedalaman memungkinkan tersedianya listrik untuk penduduk di daerah terpencil. Mengingat harga listrik dari PLTD dapat menjadi semakin mahal dengan meningkatnya biaya operasional yang disebabkan oleh naiknya harga bahan bakar diesel dan turunnya efisiensi mesin. Panas bumi merupakan sumber energi alternatif yang murah dan bersih yang dapat diharapkan untuk memenuhi kebutuhan listrik mengingat melimpahnya sumber energi tersebut di Kabupaten Ngada.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/istimewa/ilustrasi PLTP)

Pasca-Badai Seroja di NTT, Listrik PLN Pulih 100 % pada Minggu 9 Mei 2021

250 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Per Minggu, 9 Mei 2021 pukul 19.38 WITA, 5 gardu listrik di Pulau Raijua telah pulih, sehingga total 4.002 gardu yang terdampak Badai Seroja pada 4—5 April 2021 di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil dipulihkan dan dengan demikian, PLN kembali menyalurkan aliran listrik kepada 635 ribu pelanggan.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/05/08/pulihkan-listrik-di-pulau-raijua-gm-pln-uiw-ntt-terjun-langsung-ke-lokasi/

Proses pemulihan 5 gardu di Pulau Raijua oleh Tim PLN, didukung langsung oleh GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko yang berada di Kabupaten Sabu Raijua sejak Rabu, 5 Mei 2021, yang mana rela menempati Mess Pemda. Bersama Tim PLN, masyarakat dan Camat Raijua, GM PLN UIW NTT yang sering terjun langsung meninjau kondisi di lapangan tersebut, bahu membahu memulihkan jaringan listrik.

Melalui zoom, GM PLN UIW NTT Agustinus Jatmiko saat menyampaikan kondisi terakhir pemulihan jaringan listrik

Camat Raijua, Titus Bernadus Duri yang menyampaikan apresiasinya kepada PLN yang telah berhasil memulihkan kelistrikan di wilayahnya. “Daerah kami termasuk salah satu daerah terdepan yang hancur karena Badai Seroja. Kami di Pulau Raijua hanya dapat dijangkau dengan kapal biasa. Kami melihat petugas PLN bekerja keras, dengan menggunakan tenaga secara manual, material dibawa ke pulau ini. Apalagi General Manager PLN NTT terjun langsung ke lapangan. Terima kasih PLN,” ucapnya.

Pemprov NTT Ucap Terima Kasih Kepada PLN

Dalam press conference 100 Persen Pemulihan Kelistrikan NTT pasca-Badai Seroja, bersama Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Syamsul Huda pada Senin, 10 Mei 2021, Asisten II Setda NTT, Ir Sameul Rebo menyampaikan rasa bangga atas prestasi yang dicapai oleh PLN UIW NTT mencapai pemulihan 100 persen. “Proficiat PLN dan menyampaikan terima kasih atas kerja keras dan cemerlang. Dan kepada berbagai pihak yang membantu pemulihan jaringan listrik pasca-badai Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.

Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Syamsul Huda pun mengungkapkan bahwa seluruh gardu yang terdampak telah berhasil dipulihkan. “Gardu terakhir di Raijua berhasil dinyalakan pada, Minggu, 9 Mei 2021. Ini berarti kelistrikan di NTT sudah seluruhnya pulih,” ulasnya sembari menyampaikan saat ini kondisi kelistrikan di NTT tercatat memiliki daya mampu sebesar 333,8 mega watt (MW) dengan beban puncak 216 MW.

Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Syamsul Huda

Dengan pulihnya aliran listrik PLN di Raijua, imbuh Syamsul Huda, aktivitas masyarakat dapat normal kembali dan geliat ekonomi di Raijua bisa bangkit kembali. “Ekonomi di lokasi bencana biasanya meningkat bangkit lebih baik sebelum terjadinya bencana. Karena masyarakat semakin produktif, pemakaian listrik meningkat dan ekonomi menggeliat,” tutur Huda.

Huda juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu mempercepat pemulihan kelistrikan di NTT. “Pemulihan ini tidak lepas dari kerja keras yang dilakukan oleh tim gabungan PLN sebanyak 1.812 personil. Kami berterima kasih atas dukungan seluruh stakeholder dan masyarakat yang diberikan kepada kami, sehingga petugas dapat menyelesaikan perbaikan secara bertahap sampai pulau terdepan yaitu Pulau Raijua,” tandasnya.

Selain memulihkan kelistrikan, PLN melalui program PLN Peduli, YBM PLN dan Perokris PLN memberikan bantuan berupa sembako alat kesehatan, tenda, dapur umum, air bersih, dan sebagainya dengan total nilai mencapai Rp 967 juta. PLN juga membuka layanan pengaduan dan gangguan kelistrikan melalui aplikasi PLN Mobile atau Contact Center PLN 123.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto utama oleh PLN UIW NTT

Pulihkan Listrik di Pulau Raijua, GM PLN UIW NTT Terjun Langsung ke Lokasi

550 Views

Raijua-NTT, Garda Indonesia | Hingga Jumat, 7 Mei 2021, kondisi pemulihan jaringan listrik pasca-badai Siklon Tropis Seroja di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai kondisi maksimal yakni 99,90 %, dari 4.002 gardu terdampak badai sehingga padam, kini tersisa hanya ada 4 (empat) gardu padam yang berada di Pulau Raijua, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelumnya, 1 gardu utama di Pulau Sabu (Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, red) dan 1 gardu utama di Kabupaten Alor telah berhasil dipulihkan oleh Tim PLN di masing-masing wilayah dan hingga Jumat, 7 Mei 2021, masih terdapat 180 pelanggan masih mengalami padam listrik yang berada di Pulau Raijua.

Pulau Raijua hanya dapat dijangkau dengan kapal kayu nelayan atau kapal cepat tersebut pun menjadi hambatan tersendiri bagi Agustinus Jatmiko dan tim PLN karena harus berjibaku dengan ganasnya laut Sawu (terdapat pertemuan dua massa arus dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, red). Kondisi tersebut diperparah dengan rusaknya dermaga, namun telah diperbaiki ala kadarnya oleh Camat dan Masyarakat Raijua.

Asosiasi Pekerja PLN Peduli Kasih Korban Badai Seroja turut memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak Badai Seroja di Pulau Raijua

General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko kepada Garda Indonesia pada Jumat pagi, 7 Mei 2021 menuturkan dirinya telah berada di Pulau Raijua sejak Rabu, 5 Mei 2021 bersama dengan tim PLN membawa material penunjang untuk memulihkan listrik di Pulau Raijua yang terkenal memiliki tapak kaki, sumur, dan menyimpan perisai Gajah Mada tersebut.

“Saya sedang di Raijua, mulai Rabu, 5 Mei 2021, guna memulihkan 5 gardu. Di sini sinyal susah karena tower BTS Telkomsel ambruk. Saat ini, saya sementara berburu sinyal di Dermaga Raijua,” ujar Agustinus Jatmiko kepada Garda Indonesia sembari mengungkapkan bahwa terkadang sinyal hp bisa diperoleh dari BTS di Pulau Sabu.

Salam kekompakkan General Manager PLN UIW NTT dengan tim PLN sebelum memulihkan jaringan listrik di Pulau Raijua

Agustinus Jatmiko pun menandaskan bahwa pada Kamis malam, 6 Mei 2021 telah berhasil menyalakan 1 (satu) gardu di Pulau Raijua. “Sisa 4 gardu lagi. Kami upayakan percepatannya. Pagi ini (Jumat, 7 Mei 2021, red), personil & tambahan material PLN berangkat dari Kupang menuju Pulau Raijua,” ungkapnya.

General Manager PLN UIW NTT yang tak kenal lelah dan selalu berupaya menelusuri setiap daerah terpencil untuk melihat dan terjun langsung mendorong percepatan pemulihan jaringan listrik ini pun menandaskan sementara berkomunikasi dengan Camat Raijua, Titus Bernadus Duri guna meminjam mobil truk dan mengerahkan warga.

Dermaga Raijua Rusak, Camat dan Masyarakat Perbaiki

Sebelumnya pada Senin, 3 Mei 2021, Camat Raijua Titus Bernadus Duri mengatakan dirinya dan masyarakat telah membangun gelagar dermaga dari batang lontar sehingga bisa digunakan untuk berlabuh kapal ferry dan dilalui oleh mobil truk ekspedisi. Lantai dermaga bertambah rusak dan 6 (enam) tiang bagian depan patah.

“Kami membentangkan batang lontar di dermaga sebagai gelagar agar kendaraan bisa keluar,” ungkap Camat Titus Bernadus Duri.

GM PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko (berkaos lengan panjang coklat dan bermasker hijau) saat berdialog dengan Camat Raijua, Bernadus Titus Duri (berkaos merah) di Mess Pemda Sabu Raijua

Jaringan listrik di Pulau Raijua, imbuh Camat Raijua, padam pasca-badai Siklon Tropis Seroja. “Iya mati (padam) total. Mesin sudah diperbaiki sejak minggu lalu. Gardu juga ada yang rusak, tinggal jaringan dan tiang yang belum diperbaiki,” urainya seraya menyampaikan pihak PLN meminta untuk menginap di Mess Pemda dan meminta bantuan mobil truk.

Camat Titus pun mengungkapkan bahwa  sementara sejak tanggal 12 April 2021, 17 Staf Kecamatan dan 2 orang pemilik gergaji mesin (Chain Saw) membantu PLN dengan memotong pohon yang tumbang menindih kabel dan tiang listrik.

Layanan kepada masyarakat, tandas Camat Raijua, menggunakan genset Kantor Camat, untuk cas hp dan aktivitas internet. “Di kantor desa juga menggunakan genset bantuan Gubernur NTT sebanyak 2 unit. Satu unit genset juga untuk Pustu Ballu untuk melakukan Bakti Psyco Social bersama Yayasan KUN,” pungkasnya.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto oleh Tim PLN UIW NTT

Sisa 7 Gardu Padam, GM PLN NTT: ‘Best Effort’ Minggu Kedua Mei Pulih

232 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Dari total 4.002 gardu listrik PLN yang terdampak Badai Seroja pada rentang waktu 3—5 April 2021, mengakibatkan jaringan listrik padam pada 635.978 pelanggan di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), namun dengan kerja sigap tim relawan PLN, jajaran manajemen dan dibantu oleh stakeholder, beserta TNI/Polri, maka hingga Minggu, 2 Mei 2021 pukul 12.00 WITA, hanya tersisa 827 pelanggan yang masih padam.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/05/02/listrik-di-pulau-sabu-nyala-pln-tempuh-waktu-10-jam-dan-tak-kenal-lelah/

Kini, sebanyak 635.152 pelanggan PLN kembali menikmati listrik dengan presentasi 99,86 % dan 1.754 desa juga dapat menikmati jaringan listrik dari total 1.759 desa di seluruh NTT yang terdampak badai.

General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko kepada Garda Indonesia pada Minggu malam, 2 Mei 2021 pukul 19.02 WITA mengungkapkan bahwa di seluruh wilayah NTT, tersisa 7 (tujuh) gardu yang masih padam.

Truk pengangkut material dan peralatan PLN sedang bersiap di Pelabuhan Bolok Kupang menuju Sabu Raijua

Ketujuh gardu padam tersebut, urai Agustinus Jatmiko, 1 (satu) di Sabu, satu di Pantar Kabupaten Alor, dan 5 (lima) di Pulau Raijua, sementara menunggu kapal berangkat membawa peralatan dan material dari Kupang ke Sabu, dilanjutkan dengan perahu ke Raijua.

Untuk pemulihan gardu di Sabu, urai Agustinus Jatmiko, diusahakan bakal selesai pada Senin, 3 Mei 2021. “Tim PLN beserta peralatan pendukung sudah siap menunggu di Pelabuhan Kupang (Bolok,red) untuk berangkat ke Sabu Raijua dan jika kapal jadi berangkat ke Sabu pada Senin ini (3 Mei, red) kami usahakan minggu depan, 5 (lima) gardu di Raijua selesai. Untuk di Pantar Alor diusahakan selesai pada Selasa, 4 Mei,” ulas GM PLN UIW NTT.

Saat dikonfirmasi Garda Indonesia mengenai estimasi waktu pemulihan 7 gardu tersebut apakah dapat rampung pada pertengahan Mei, “Best Effort bisa segera pulih,” tandasnya.

Penulis dan Editor (+roni banase)

Foto (*/PLN UIW NTT)