Arsip Tag: kabupaten belu

Tempuh Jalan Terjal, Bupati & Wabup Belu Lihat Mata Air di Kaki Gunung Lakaan

398 Views

Lasiolat-Belu, Garda Indonesia | Guna memenuhi kebutuhan air bersih, Bupati dan Wakil Bupati Belu, dr. Taolin Agustinus, Sp.PD-KGEH, FINASIM dan Drs. Aloysius Haleserens, M.M. didampingi Kadis PUPR, Vincent K. Laka, S.T. dan Plt. Direktur PDAM, Ir. Fridolinus Siribein melakukan monitoring untuk melihat dan memastikan secara langsung lokasi serta debit air di sumber mata air Harewe dan Molos Oan yang terletak di kaki Gunung  Lakaan, Kecamatan Lasiolat, pada Sabtu 17 Juli 2021.

Bupati dan Wakil Bupati Belu beserta rombongan bergerak dari rumah jabatan pukul 08.00 WITA dan tiba di Kecamatan Lasiolat pada pukul 08.30 WITA, langsung menuju lokasi sumber mata air yang ditempuh pergi-pulang lebih kurang 5 jam dengan berjalan kaki melewati medan yang terjal dan ekstrem.

Pengukuran debit mata air oleh tim Dinas PUPR dan PDAM Kabupaten Belu

Setibanya di lokasi sumber air Harewe, dilakukan pengukuran debit air oleh tim Dinas PUPR dan PDAM Kabupaten Belu mendapat hasil 177 liter/detik. Kemudian melanjutkan perjalanan ke lokasi sumber mata air Molos Oan yang jaraknya kurang lebih 600 meter dari sumber mata air Harewe. Di sumber mata air Molos Oan, dilakukan pengukuran debit air dan diperoleh hasil 44 liter/detik.

Data ini sebagai acuan awal untuk kemudian ditindaklanjuti guna memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kabupaten Belu.

Turut hadir Kepala Desa Lasiolat, Kepala Desa Fatulotu, Perwira dari Polsek Lasiolat, Babinsa serta Tim dari Dinas PUPR dan PDAM Kabupaten Belu. (*)

Sumber berita dan foto (*/prokompim belu)

Editor (+roni banase)

Bupati Belu : Pengobatan Gratis Bukan Untuk Angkat Popularitas

524 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Peluncuran program kesehatan gratis bagi masyarakat Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan dilaksanakan pada Agustus 2021, bukan semata–mata bertujuan untuk mengangkat popularitas, melainkan karena lebih dari 50% kondisi masyarakat Belu yang tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan. Program ini pun sesuai dengan perintah Undang–Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang jaminan hak dasar masyarakat dalam memperoleh pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Demikian diungkapkan Bupati Belu dr. Agustinus Taolin, Sp.PD-KGEH, FINASIM dalam kegiatan ramah tamah bersama para Tokoh Agama Kristen di Aula Gedung Wanita Betelalenok, Atambua pada Rabu, 16 Juni 2021.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/06/16/pemda-belu-eksekusi-program-berobat-gratis-pada-agustus-2021/

Demi menjaga kondisi zona hijau wilayah Kabupaten Belu selama masa pandemi Covid–19, Bupati Agus Taolin meminta masyarakat untuk menaati ketentuan 5M, mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas/ bepergian jauh, serta melaksanakan 3T yakni testing, tracing dan treatment.

Guna mewujudkan masyarakat Belu yang sehat, berkarakter dan kompetitif, Bupati Belu berharap agar para Tokoh Agama Kristen sudi berperan aktif dalam memberikan dukungan terhadap semua program prioritas pemerintah berupa kontribusi, masukan dan konsep pemberdayaan umat.

“Mustahil kami kerjakan sendiri. Apalagi waktunya tiga setengah tahun saja dan acara seperti ini juga akan terus dilaksanakan bersama tokoh agama yang lain untuk mendapatkan input,” ujar Bupati Belu.

Wakil Bupati Belu, Drs. Aloysius Haleserens, M.M. menambahkan, diskusi bersama para tokoh agama seperti ini amat penting untuk mendapatkan masukan brilliant, sekaligus menjadi dasar bagi kepemimpinan periode ini guna memperbaiki pelayanan.

Wakil Bupati menyampaikan, untuk pemberdayaan masyarakat, pemerintah akan terus mendorong kelompok-kelompok UMKM dengan memberikan pelatihan, bantuan serta pendampingan. Ia berharap, semua stakeholders bisa berkontribusi dengan bahu–membahu, mengambil bagian sesuai dengan kompetensi dan kemampuan masing–masing demi membangun Belu.

“Mari kita bergandengan tangan, dan jangan biarkan Bupati dan Wakil Bupati serta Aparatur Sipil Negara (ASN, red) berjalan sendiri dalam membangun Belu ini,” pintanya.

Hadir dalam acara tersebut, Pj. Sekda Belu, Frans Manafe, S.Pi., Kaban Kesbangpol, Marius F. Loe, S.IP., Ketua Majelis GMIT Klasis Belu, Ketua Majelis GKTT Diaspora Eksistensi Timor Barat, Gembala Sidang GBI Filadelfia, Gembala Sidang GBI Kalvari Misi, DPC Gamki Belu serta Gembala Sidang El Shadai. (*)

Sumber berita + foto: prokompimdabelu

Editor: Herminus Halek

Dinas Peternakan Belu Kenalkan Teknologi Silase, Jaga Stok Pakan Saat Kemarau

264 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Antisipasi anomali cuaca maupun perubahan musim hujan ke musim kemarau, menjadi penting bagi peternak yang memelihara ternak seperti sapi, kambing dan domba untuk menjaga ketersediaan pakan ternak karena terbatasnya rerumputan pada musim kemarau di wilayah Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melimpahnya hijauan pada musim hujan merupakan suatu kesempatan bagi peternak agar menyimpan pakan hijauannya untuk menghadapi musim kemarau.

Dalam upaya mengantisipasi kekurangan pakan pada musim kemarau, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu, telah menyiapkan langkah strategis dengan memperkenalkan salah satu teknologi pengawetan pakan hijauan ternak dengan Sistem Silase.

“Program ini dimaksudkan untuk kita memiliki ketersediaan pakan di musim kemarau, dengan harapan bahwa masyarakat bisa memelihara ternak pada musim kemarau, dan ternaknya tidak kekurangan pakan,” ungkap Kadisnakes Belu, Drs. Nikolaus U.K. Birri, M.M. di sela-sela Demo Pengawetan Silase di Wekabu, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, pada Jumat, 28 Mei 2021.

Kadis Umbu (sapaan akrab dari Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu) menjelaskan, tujuan membuat silase di Kelompok Tani Taro Jaya adalah untuk memperkenalkan teknologi pengawetan pakan hijauan sebagai cadangan dan persediaan pakan ternak pada saat musim kemarau yang panjang.

“Pembuatan silase yang kita lakukan hari ini adalah untuk menyiasati persediaan makanan ternak pada musim kemarau, menampung kelebihan HMT pada musim hujan agar bisa dimanfaatkan secara optimal. Kita juga mendayagunakan limbah hasil ikutan dari pertanian seperti jerami padi, dan jagung,” terang Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu.

Persiapan pembuatan silase dengan memasukkan bahan baku hijaun dalam wadah tertutup  dengan prinsip fermentasi anaerob

Di samping itu, ungkap Kadis Umbu, selain untuk menyimpan dan menampung pakan hijauan yang berlebih pada saat musim hujan, peternak juga dapat memanfaatkan pakan hijauan pada saat kondisi dengan nilai protein yang tinggi. “Nilai gizi silase setara dengan hijauan dan bahkan lebih dengan adanya bahan tambahan. Silase juga lebih disukai ternak dan lebih mudah dicerna,” jelasnya.

Ia pun menambahkan, Silase merupakan awetan pakan yang dibuat dengan prinsip fermentasi anaerob yaitu dalam proses pembuatannya hijauan yang sudah dipotong,  kemudian disimpan dalam wadah tertutup (silo).

“Silase dikondisikan agar padat dan tidak menyisakan ruang untuk udara, lalu silo pun ditutup serapat mungkin dengan bertujuan agar fermentasi yang terjadi adalah fermentasi anaerob. Proses fermentasi berjalan kurang lebih 21 hari, sehingga silase baru dapat diberikan pada ternak setelah 21 hari dari tanggal pembuatan. Silase yang stabil memiliki daya simpan yang lebih lama,” terang Mantan Kasatpol PP ini serius.

Dengan adanya teknologi pengawetan HPT ini, Kadis Umbu mengajak seluruh peternak di Kabupaten Belu agar terus mengoptimalkan pemberian nutrien bagi ternak sapi, dengan mengoptimalkan kualitas dan kuantitas hijauan pakan ternak.

“Kita berharap dengan adanya kegiatan pembuatan silase ini, masyarakat bisa terbantu ketersediaan pakan pada musim kemarau. Masyarakat juga dapat menanam hijauan makanan ternak dengan memanfaatkan musim hujan yang ada, sehingga kelebihan pakan nantinya dapat kita awetkan untuk kebutuhan makanan ternak pada musim kemarau yang panjang,” pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu antara lain Kepala Bidang Prasarana dan Sarana – Maria Imelda Haki, S.Pt, Kasie Pakan-  Mikael Seran Moruk, S.Pt, Kasie Lahan dan Irigasi – Adelia R. Moreira, S.Pt, dan Kasie Pembiayaan dan Investasi -Matheos D. Taklal, SST. Turut serta Petugas Teknis, seperti Dokter Hewan dan P3M Kecamatan Tasifeto Barat serta masyarakat setempat. (*)

Sumber berita + foto (*/tim Disnakkes Belu)

Editor (+roni banase)

Koperasi Projamin Belu Demo Olah Lahan Kering Pertanian di Kakuluk Mesak

633 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Koperasi Profesional Jaringan Mitra Negara (Projakop) Mitra Sejahtera Belu bekerja sama dengan STM Nenuk menghelat demo pengolahan lahan kering pertanian di Dusun Rotiklot, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu 19 Mei 2021.

General Manager, Jhonny Kilai mengungkapkan, koperasi ini bertujuan memajukan kegiatan perekonomian para anggota dengan memanfaatkan lahan tidur. Gerakan hijau yang merupakan visi misi koperasi harus dimaksimalkan hingga petani menikmati hasil yang sangat memuaskan. “Target kita merekrut anggota sebanyak – banyaknya, menggarap lahan tidur di sekitar Bendungan Rotiklot, membersihkan lahan, lalu menanam kembali tanaman yang ada nilai ekonomisnya”, ujarnya.

Projakop yang bergerak di bidang multi usaha tersebut, lanjut Kilai, akan melibatkan pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Perkebunan dalam mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat petani.

Selain itu, sambung Jhonny Kilai, Projakop telah menjalin sinergisitas dengan sekolah kejuruan STM Nenuk guna  memodifikasi alat–alat pertanian biasa menjadi lebih tepat guna. Diharapkan, ke depan siswa – siswi STM bisa menjadi perakit andal alat pertanian tepat guna sekaligus menjadi petani–petani sukses milenial.

Pada kesempatan itu, Pater Lukas Uran, SVD mengatakan, kehadiran Projakop di wilayah Belu dengan melibatkan siswa – siswi STM Nenuk adalah sesuatu yang sangat berharga, di mana para pelajar sekolah kejuruan teknik mesin dan bangunan, diberi kesempatan mendapatkan pengalaman belajar tambahan. Para pelajar terlibat langsung dalam kegiatan tersebut guna melihat dari dekat cara menggunakan traktor dalam pengolahan lahan pertanian dengan teknologi tepat guna. Para pelajar juga belajar langsung di lapangan dan bisa menerapkannya di masa–masa yang akan datang.

“Terima kasih kepada Projakop yang sudah mau bekerja sama dengan STM Nenuk. Visi misinya pun sudah dipaparkan tim projakop di sekolah beberapa waktu lalu. MoU vokasi selama 4 (empat) tahun ini merupakan kesempatan bagi anak–anak STM Nenuk untuk belajar sesuatu yang baik dan bisa mengaplikasikan ketika sudah tamat sekolah sesuai tuntutan zaman,” ucap Pater Lukas.

Anggota DPRD Belu fraksi Golkar, Benediktus Hale menyambut baik kehadiran Projakop sebagai hal yang positif dan luar biasa. Lahan tidur di wilayah asalnya itu, menurut Bene Hale, sangat banyak dan karena itu perlu dihidupkan dan dimanfaatkan secara maksimal bersama Projakop.

Anggota DPRD Belu, Benediktus Hale (topi hitam kanan)sedang memantau persiapan demo pengolahan lahan kering

“Terima kasih atas kehadiran Projakop, semoga semuanya bisa berjalan dengan baik. Kami yang sudah menjadi anggota, akan berupaya menyebarkan informasi ini kepada semua orang sekaligus mengajak untuk bergabung,” ungkap Bene Hale yang juga merupakan Dewan Pakar Projakop Kabupaten Belu.

Dikatakannya, semua traktor tangan milik masyarakat Rotiklot akan dimodifikasi di STM Nenuk untuk memenuhi syarat teknologi tepat guna. Program projakop kelihatan sederhana tetapi sangat mengena dengan kebutuhan dasar pertanian masyarakat. “Sebagai anggota dewan, saya siap mengawal program ini sesuai kewenangan yang ada. Kami bersama masyarakat siap untuk sukseskan program Projakop di wilayah Dusun Rotiklot,” tandas anggota DPRD dua periode asal Dapil II.

Ketua Kelompok Tani Putri Manu Siri, Pius Mau menambahkan, Bendungan Rotiklot yang terletak di wilayah Dusun Rotiklot itu, manfaatnya tidak dirasakan sama sekali oleh warga sekitar. Air dialirkan ke lahan persawahan melewati perkampungan, sementara lahan kering di sekitarnya tidak. “Terima kasih, kami siap jalankan program ini. Semoga dengan adanya Projakop di wilayah ini bisa membantu kami dalam mengolah lahan tidur,” papar Pius Mau.

Dilansir dari Nusapagi.com, Koperasi Projakop adalah koperasi yang dikelola secara profesional dan mandiri oleh Organisasi Perkumpulan Pro Joko Widodo Ma’ruf Amin (Projamin) untuk menghidupkan kegiatan perekonomian anggota yang bergerak di bidang multi usaha, yang meliputi simpan pinjam, perkebunan, pertanian, peternakan, tambak, perdagangan komoditi lokal, usaha pengembang perumahan (real estate) atau developer , pertambangan, usaha trasportasi, usaha IT dan telekomunikasi, usaha alat kesehatan, alat peraga pendidikan, dan usaha – usaha lainnya.

Tujuannya:

  • Menjadi pelopor Koperasi Produsen di Seluruh Indonesia dengan Networking Projamin dari tingkat DPP sampai PR dan 2 Sayap Organisasi BALNAS PROJAMIN dan Garuda Muda Projamin (GMP);
  • Menggarap lahan tidur menjadi lahan produktif di lahan – lahan  negara yang belum terpakai dengan pola HGU, pinjam pakai, membuka unit – unit sekolah kejuruan dan bermitra dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
  • Membuka lapangan kerja baru sesuai dengan usaha yang sedang dijalankan sebagai penggiat Koperasi Projakop;
  • Menyejahterakan anggota dengan memberikan pinjaman modal usaha yang saling menguntungkan sehingga dapat membesarkan organisasi Projamin dan Koperasi Projakop.

Layanan / Bisnis Koperasi antara lain : Agrobisnis, Perkebunan, Pertanian, Peternakan, Perikanan, Tambak Udang, Pertambangan, Perdagangan kecil dan besar Komoditi ekspor, Perdagangan Komoditi Lokal.

Gerakan Hijau, (contoh di Provinsi NTT) yakni Penanaman 100 pohon Sengon Laut/ Jabon per anggota. Potensi pendapatan anggota dari penjualan pohon berumur 4 (empat) tahun mencapai ratusan juta rupiah.

Untuk daerah lain akan disesuaikan dengan pohon apa yang bisa tumbuh dan nilai jual pohon tersebut berharga tinggi dan menguntungkan anggota Koperasi Projakop. Skema bagi hasilnya akan dituangkan dalam Pedoman Rumah Tangga Projakop. (*)

Penulis + foto: (*/ Herminus Halek)

Optimalkan Pelayanan, Dinas PMD Belu Diseminasi Mekar Desa

519 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Guna mengoptimalkan penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat pada desa–desa yang memiliki penduduk padat dan wilayahnya luas, maka Pemerintah Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memprakarsai pembentukan/ pemekaran desa.

Hal ini tertuang dalam surat pemberitahuan Sosialisasi Pembentukan/ Pemekaran Desa tanggal 9 April 2021, nomor: DPMD.010/ 112/ IV/ 2021 yang ditujukan kepada Camat Tasifeto Timur, Kakuluk Mesak, Tasifeto Barat dan Camat Lamaknen. Surat tersebut ditandatangani oleh Penjabat Bupati Belu, Zakarias Moruk, M.M. dengan tembusan kepada para kepala desa, tempat sosialisasi.

Wilayah desa yang menjadi tempat sosialisasi di antaranya di Desa Tukuneno, Naekasa, Bakustulama, Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat; Desa Silawan dan Desa Manleten di Kecamatan Tasifeto Timur; Desa Kabuna, Desa Dualaus di Kecamatan Kakuluk Mesak; dan Desa Dirun, Desa Makir, Desa Fulur di Kecamatan Lamaknen.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, S.Ip., ketika dikonfirmasi Garda Indonesia di ruang kerjanya pada Rabu, 21 April 2021 mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke 11 (sebelas desa) yang tersebar di empat kecamatan selama seminggu. “Memang, beberapa desa itu wilayahnya sangat luas dan jumlah penduduknya banyak. Karena itu, perlu adanya pemekaran sesuai dengan amanat UU Desa, PP nomor 43 tahun 2014 tentang pelaksanaan dari UU nomor 6, PP nomor 47 tentang perubahan atas PP nomor 43, dan Permendagri nomor 1 tentang Penataan Desa,” urainya.

Nona Alo berharap, dengan dilakukannya sosialisasi dimaksud, kiranya ada dukungan dari pihak–pihak terkait. “Kami mohon dukungan dan kerja sama dari masyarakat, pemerintah daerah dan DPRD,” pintanya.

Adapun syarat pembentukan desa merujuk pada UU Desa Nomor 6  Tahun 2014 :

  1. Batas usia Desa induk paling sedikit 5 (lima) tahun terhitung sejak pembentukan;
  2. Jumlah penduduk, (harus sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam pasal 8 UU Desa);
  3. Wilayah kerja yang memiliki akses transportasi antarwilayah;
  4. Sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat Desa;
  5. Memiliki potensi yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya ekonomi pendukung;
  6. Batas wilayah Desa yang dinyatakan dalam bentuk Peta Desa yang telah ditetapkan dalam peraturan Bupati/Wali Kota;
  7. Sarana dan prasarana bagi Pemerintahan Desa dan pelayanan publik; dan
  8. Tersedianya dana operasional, penghasilan tetap, dan tunjangan lainnya bagi perangkat Pemerintah Desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pada prinsipnya pemekaran desa dibenarkan oleh UU. Selama alur Pemekaran Desa harus dilakukan sesuai dengan prosedur atau mekanisme yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Pembentukan Desa dilakukan melalui Desa persiapan. Desa persiapan merupakan bagian dari wilayah Desa induk. Desa persiapan dapat ditingkatkan statusnya menjadi Desa dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 3 (tiga) tahun. Peningkatan status dilaksanakan berdasarkan hasil evaluasi.

Pembentukan Desa ditetapkan dengan Peraturan Daerah dengan mempertimbangkan prakarsa masyarakat desa, asal usul, adat istiadat, kondisi sosial budaya masyarakat desa, serta kemampuan dan potensi desa.

Pembiayaan, pembinaan dan pengawasan pembentukan Desa menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Pembinaan dan pengawasan tersebut dilakukan melalui pemberian pedoman umum, bimbingan, pelatihan, arahan dan supervisi. (*)

Penulis + foto: (*/ Herminus Halek)

Pantau Lokasi Pasca–Banjir Tasain, Pj Bupati Belu: Rumah Hanyut Bangun Baru

212 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Penjabat Bupati Belu, Drs. Zakarias Moruk, M.M. bersama pimpinan OPD teknis memantau langsung kondisi lokasi pasca–bencana banjir di Desa Tasain, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 10 April 2021.

Selain itu, Pj. Bupati mengecek dan memastikan ketersediaan logistik, termasuk pelayanan kesehatan dan ketersediaan obat–obatan di Posko Pengungsian Gereja GMIT Solafide Motamaro. “Persediaan logistik masih cukup bahkan tergolong banyak. Para pengungsi diberi makan tiga kali sehari,”ungkap Zaka Moruk sembari menuturkan, setelah tanggal 20 April 2021 pemerintah daerah tidak lagi mengambil keputusan tanggap bencana.

Zakarias Moruk mengutarakan, Pemerintah Daerah Belu siap membantu menyediakan peralatan dapur seperti piring, senduk, gelas, wajan, periuk, kompor, pakaian dan selimut kepada para pengungsi. Dan, saat ini dapur umum ditangani oleh anggota Yonif Raider Khusus 744/SYB, bekerja sama dengan pemerintah dan pemuda.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2021/04/11/pln-pulihkan-listrik-6-kabupaten-di-ntt-41-850-pelanggan-nikmati-listrik-lagi/

Berkaitan dengan 7 unit rumah warga yang terhanyut banjir dan 9 unit rumah lainnya yang mengalami kerusakan berat,  Zakarias Moruk meminta kepala desa setempat untuk segera menunjukkan lokasi guna pembangunan rumah baru dalam minggu ini. “Kita juga datang untuk cek lokasi yang mau dibangun rumah karena ada beberapa KK yang rumahnya terhanyut sehingga harus dibangun baru. Pemerintah akan lakukan relokasi dan bangun beronjong untuk mengantisipasi banjir luapan kali Motamaro,” ujarnya.

Kondisi pengungsi di penampungan Gereja GMIT Solafide Motamaro

Penjabat Bupati Belu juga menginstruksikan OPD terkait melakukan pendampingan saat para pengungsi kembali ke rumah masing-masing untuk memastikan tidak kekurangan logistik. “Pemerintah akan bersinergi dengan unsur TNI dan Polri untuk membantu para pengungsi membersihkan rumah-rumah warga yang masih ada sisa material banjir,” ungkap Zakarias Moruk.

Terkait masalah listrik, Penjabat Bupati Belu menandaskan, bahwa saat ini, jaringan listrik terpusat di Bolok-Kupang. Tim gabungan dari seluruh Indonesia sedang berada di Kupang untuk memperbaiki kembali jaringan-jaringan yang putus akibat Siklon Tropis Seroja. “Masih bertahap, sehingga di Atambua dilakukan penjadwalan listrik menyala. Kita berharap awal bulan Mei sudah normal,” papar Zakarias Moruk. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

Warga Desa Raimanus di Belu Keluhkan Jaringan Telkomsel & Internet

378 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Warga masyarakat Desa Raimanus, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengeluh tentang belum adanya jaringan Telkomsel dan internet. Keluhan lain yang juga diutarakan dalam reses berkelompok anggota DPRD Belu, menyangkut akses jalan, perumahan, air bersih, jaringan listrik, pupuk subsidi, dan gedung sekolah baru.

Menanggapi keluhan–keluhan itu, keempat anggota DPRD  memastikan untuk segera ditindaklanjuti. “Kami masukkan dalam pokir (pokok pikiran). Kalau tower, sudah diusulkan 250 (dua ratus lima puluh) titik ke pemerintah pusat melalui Kementerian Kominfo. Nantinya, berapa pun yang akan diakomodir ke Kabupaten Belu, saya pastikan Raimanuk ada jatah”, sebut Theo Manek mewakili tiga anggota DPRD lainnya di Aula Kantor Desa Raimanus, pada Sabtu, 20 Maret 2021.

Terkait perumahan, Theo Manek menilai bantuan rumah dengan dana stimulan itu mubazir lantaran tidak ada dampak positif bagi masyarakat. Menurutnya, bantuan dana untuk rumah stimulan, membutuhkan persiapan bahan lokal dari penerima manfaat. “Ke depan, kami mau tawarkan ke pemerintah, kalau boleh bantuan rumah terima kunci. Meski ukuran dan volume kecil tapi memberi dampak positif bagi masyarakat,” ucap Theo Manek.

Aspirasi lain terkait akses jalan, jelas Theo Manek, anggaran tahun 2021 senilai Rp.7,8 miliar bersumber dari dana DAK. Sedangkan, dana DAU sudah dialokasikan sebesar Rp.4,750 miliar untuk melanjutkan pengerjaan jalan mulai dari Baumauk menuju Renrua. “Kita masih tunggu kewenangan pemerintah karena saat ini masih refocusing penanganan Covid–19. Tetapi, kami akan tetap perjuangkan,” janji Theo Manek lagi.

Untuk pembangunan sekolah baru seperti yang disampaikan masyarakat, Theo Manek menuturkan, tentu ada kriterianya mulai dari survei, analisis lokasi, jumlah penduduk, dan persiapan jumlah siswa. Kriteria–kriteria itu menjadi syarat mutlak sebagai bahan pertimbangan. Pihaknya pun tidak bisa mendahului untuk katakan ya atau tidak, karena anggota DPRD hanya bisa mengusulkan. “Secara teknis, kewenangan ada di eksekutif melalui OPD teknis”, ujar Theo Manek.

Diberitakan sebelumnya,  kegiatan reses berkelompok di wilayah Raimanuk itu dilaksanakan di dua wilayah desa berbeda oleh empat anggota DPRD Belu, Theodorus Seran Tefa (fraksi Golkar), Januaria Ewalde Berek (fraksi Gerindra), Aprianus Hale (fraksi NasDem) dan Kristoforus Rin Duka (fraksi Demokrat).

Kegiatan reses, dibuka dan ditutup oleh Kepala Desa Raimanus, Aloysius Nahak sembari berharap agar aspirasi warga Raimanus tersebut bisa ditindaklanjuti oleh keempat anggota DPRD. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)

450 Personil Tim Gabungan Siap Amankan Malam Tahun Baru di Kota Atambua

313 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Pengamanan malam tahun baru, kita mempersiapkan 450 personil tim gabungan antara TNI, Kepolisian, Satpol PP, Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan,” sebut Kapolres Belu, AKBP Khairul Saleh dalam press release Polres Belu, pada Rabu, 30 Desember 2020.

Khairul Saleh menjelaskan, pengamanan tahun baru kali ini berbeda dengan tahun – tahun yang lalu lantaran masih dalam masa pandemi Covid–19. Polanya pun diubah agar tidak ada yang klaster baru pada malam tahun baru. Karena itu sesuai mandat Kapolri, dilarang melaksanakan konvoi, arak–arakan, kumpul massa, perayaan kembang api, petasan, mercun dan pesta–pesta lainnya.

“Jadi, kita sudah melakukan upaya–upaya preventif sebelumnya dengan memberikan imbauan kepada masyarakat melalui Bhabinkamtibmas, Babinsa, bersinergi dengan TNI – Polri dan dinas terkait,” tutur Khairul Saleh.

Pose bersama Kapolres Belu, AKBP Khairul Saleh dan wartawan

Berdasarkan hasil rapat koordinasi, lanjut Kapolres Belu, pada malam tahun baru ini diterapkan dua pola fokus, yakni: Pertama, penutupan (sekat) jalur Simpang Lima (sekitar Lapangan Umum) dan jalur menuju Taman Fronteira (dekat patung kuda putih), mulai pukul 21.00 WITA.

Kedua, disiapkan tim patroli untuk membubarkan kerumunan. Kalau ada yang tetap tidak mau menaati imbauan, maka pihaknya akan mengambil tindakan tegas untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Kegiatan masyarakat tidak dilarang, tetapi tetap memperhatikan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan.  Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak mabuk–mabukan di malam tahun baru. Jika ada, maka kami akan angkut ke polres untuk diproses,” tandas mantan Kapolres Sumba Barat itu.

Kapolres menambahkan, pengamanan malam tahun baru tidak hanya terpusat di wilayah sekitar Kota Atambua. Pengamanan dilakukan juga di seluruh wilayah luar kota.

“Seluruh Kabupaten Belu, sudah kita plotting (rencanakan, red). Kapolsek, Danramil dan camat (Muspika) bersinergi untuk mengamankan wilayah hukumnya masing–masing. Apabila, ada kejadian di kecamatan luar kota, kita pasti siap turun lokasi,” pungkasnya. (*)

Penulis: (*/ Herminus Halek)