Arsip Tag: kabupaten timor tengah utara

Posko Covid-19 Jadi Kunci Pengendalian di Kabupaten TTU

374 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Sesuai hasil rapat Presiden, Juru bicara Covid dan Kemenko Perekonomian RI terkait penanganan Covid-19 di seluruh Indonesia, untuk lebih memperketat pengawasan dan pengendalian Covid-19, maka wilayah kab/kota, Provinsi DKI dan Se-Jabotabek, terkhusus wilayah Jawa dan Bali dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Demikian disampaikan oleh Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kristoforus Ukat kepada media ini pada Jumat siang, 8 Januari 2021.

Untuk luar daerah sesuai instruksi itu, imbuh Kristoforus, akan dioptimalkan pos Satgas Covid provinsi, kabupaten/kota hingga kecamatan sampai di tingkat kelurahan/desa. “Pemerintah Desa harus mengimbau masyarakat secara persuasif agar menghindari kerumunan dan dapat melakukan penegakan hukum dengan melibatkan Satpol PP, Kepolisian RI, dan TNI,” terangnya.

Lanjut Kristoforus menambahkan, untuk wilayah TTU tidak diadakan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB, namun  yang perlu diperhatikan adalah mengoptimalkan kembali Posko Covid-19. “Terkait posko pengendalian bertempat di RSUD Kefamenanu, karena ada Call Center-nya, dokter dan perawat kesehatan,” papar Kristo yang juga menjabat sebagai Kadis Kominfo Kabupaten TTU ini.

Bilamana ada pengajuan dari kecamatan/desa, imbuh Kristoforus, akan diarahkan untuk berurusan dengan posko tindakan pengendalian. “Terkait posko pengendalian di Oeperigi (perbatasan TTU-TTS) telah ditarik atas dasar pertimbangan untuk beroperasi masing-masing unit seperti Koramil, Kepolisian dan Pihak Kesehatan,” urainya.

Jika ada yang penting, terang Kristoforus, pihaknya akan bekerja sama secara terpadu untuk mencegah kerumunan. “Terkadang kecolongan saat orang luar masuk ke wilayah kita karena takut dikarantina, mereka harus mengalihkan alasan ke daerah lain,” ungkapnya.

Kristoforus juga mengharapkan Pemerintah Kecamatan/ Desa harus berperan aktif  membantu bila ada pelaku perjalanan dengan Gejala Covid-19 agar segera melaporkan ke puskesmas.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak panik yang berlebihan, tetapi mengutamakan Protokol Kesehatan sebagai strategi untuk bersahabat dengan Covid-19. “Dan jangan keluar sembarangan, kecuali ada keperluan penting. Karena kasus suspect, orang tanpa gelaja (OTG) dan reaktif bermula dari klaster keluarga, dengan tanpa gelaja bisa terjadi akibat kekebalan tubuh menurun,” tandasnya.(*)

Penulis dan foto (*/Melkianus Nino)

Editor (+roni banase)

Mulai Januari 2021, Distribusi Pupuk Bersubsidi di TTU Pakai Kartu Tani

458 Views

Kefa-TTU, Garda Indonesia | Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Gregorius Mathias Radrigis, S.P. menyampaikan bahwa penyaluran pupuk bersubsidi akan disalurkan kepada 5—6  kecamatan dengan alokasi 850ha untuk Ft- 1 tahun anggaran 2020/2021.

Pernyataan Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten TTU tersebut, disampaikannya usai menggelar rapat evaluasi kepada para admin, Koordinator PPL dan Mantri Tani terkait penggunaan Kartu Tani oleh Petani untuk mendapatkan Pupuk Bersubsidi pada program Gubernur NTT, Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS),.pada Selasa, 22 Desember 2020.

Rapat yang dilaksanakan di aula Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten TTU tersebut mengangkat tema “Evaluasi dan koordinasi updating RDKK dalam e-RDKK kegiatan penyaluran Pupuk bersubsidi tingkat Kabupaten Timor Tengah Utara Tahun Anggaran 2020”.

Kepada Garda Indonesia, Kadis Gregorius, mengungkapkan bahwa per tanggal 1 Januari 2021 dan seterusnya, akan ada perubahan sistem dalam pendistribusian pupuk. “Saat ini, yang kita kejar terhitung 1 Januari nanti, kita tidak memakai sistem manual lagi dan diharuskan memakai sistem elektronik. Jadi, Petani mau dapat pupuk harus menabung di BRI terdekat,” urainya.

Petani, imbuh Gregorius, akan mendapatkan Kartu Tani sejenis kartu ATM, saat digesek nanti, bakal keluar struk. “Itulah yang akan dibawa ke penyalur (pengecer), untuk mendapatkan pupuk, sesuai yang dibutuhkan pada musim tanam pertama,” terangnya.

Tentunya, lanjut Kadis Gregorius, bakal ada tantangan karena masyarakat (Petani,red), yang belum terbiasa menabung baru dapat pupuk. “Jadi, kepada Admin, Koordinator PPL dan Mantri Tani, harus disosialisasikan kepada kelompok Tani sesuai materi pertama evaluasi tadi,” tegasnya.

Gregorius juga menekankan kepada Admin, Koordinator PPL dan Mantri Tani, untuk memberikan hal-hal yang praktis karena banyak Petani akan susah mendapatkan Pupuk bersubsidi terkait sistem yang mengikat dan terbatas pada petani yang masuk dalam Kelompok Tani. “Dan itu, sudah dikukuhkan atau di-input ke data SIMBLUKTAN Jakarta oleh Kementerian Pertanian,” tandasnya.(*)

Penulis (*/Melkianus Nino)

Editor (+rony banase)

Kristiana Muki Beberkan Perannya dalam Proyek di Kabupaten TTU

4.078 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | “Saya pribadi, terus terang kalau mulai dari bapak masuk ke dunia politik, saya tidak pernah menyentuh hal-hal yang seperti itu. Ini kasih ke sini, ini kasih ke sini. Itu tidak pernah!. Saya melihat istri-istri pejabat yang lain, sampai ada yang lain datang dan mengatakan saya berbeda,” ungkap Kristiana Muki, S.Pd., M.Si. anggota DPR RI Komisi II Fraksi Partai NasDem kepada Garda Indonesia pada akhir Juni 2020 di kediamannya.

Ia menegaskan kondisi tersebut terkait beragam pemberitaan yang menyudutkan dirinya, bahwa ia terlibat dalam makelar proyek hingga terindikasi dugaan korupsi di beberapa proyek di Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U).

“Kakak, saya tidak mau seperti itu. Kalau itu konsekuensi untuk laki-laki, tapi saya istri harus ada di rumah untuk menguatkan anak-anak. Jangan sampai suami ada di dalam, istri juga ada di dalam. Saya tidak mau,!” tegasnya lagi.

Istri dari Bupati T.T.U Raymundus Sau Fernandes ini dengan penuh keyakinan menyampaikan rentetan kondisi sejak suaminya menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten T.T.U. “Kalau dari bapak menjadi DPRD periode pertama tidak masalah, tapi saat bapak jadi Bupati dua periode, saya tidak pernah masuk untuk hal-hal seperti itu!. Saya tidak pernah seperti itu, bisa ditanyakan langsung pada OPD-OPD yang terkait,” ungkapnya.

Lanjutnya, “Ikut tender, siapa menang kenapa tidak. Pasti ada juga dari luar TTU yang ikut tender, kalau menang ya silakan kalau tidak ya sudah selesai.”

Terkait kasus yang sedang bergulir dan dilaporkan oleh beberapa pihak ke Polda NTT, Kristiana Muki pun menerangkan bahwa itu merupakan kasus 5 (lima) tahun lalu. “Seperti saya baca bahwa ini kasus lima tahun lalu. Saya pikir kalau mereka punya bukti baru silakan mereka mengangkat itu, tapi selama periode yang lalu saya belum pernah dipanggil untuk dimintai keterangan. Kalau bapak pernah dipanggil. Setelah bapak turun baru saya tanya itu perkara apa,” urainya.

Hingga saat ini, wanita kelahiran 2 Oktober 1974 tersebut memutuskan untuk tidak membaca koran. Ia pun mengungkapkan alasannya. “Saya terus terang, saya malas baca koran. Saya punya pengalaman yang kurang enak ketika bapak masih DPRD dan harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Sementara, saya tahu suami saya tidak pernah seperti itu. Media tulis secara berlebihan. Sejak saat itu, bapak bawa koran saya tidak baca koran sampai hari ini,” ceritanya.

Wanita yang kerap disapa Irna ini pun menyampaikan, “Kadang ada tangan orang-orang tangan tertentu, tetapi saya salut dengan wartawan yang melakukan konfirmasi dengan kedua belah pihak baru dimuat.”

“Saya baca itu, ketika ada hubungannya dengan pekerjaan. Kalau menyangkut kasus-kasus orang lain, saya tidak pernah berkeinginan untuk mengetahui semua itu. Saya juga punya pikiran sendiri dan jangan sampai terbawa. Saya ambil nilai positif sebagai pembelajaran. Tidak semua, saya terima,” tandas wanita sederhana yang tak suka bersolek ini menutup percakapan kami.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Kristiana Muki Dorong Tenun TTU Masuk Mulok & Tercatat di Kemenkumham

1.021 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | Anggota DPR RI Komisi II Fraksi Partai NasDem, Kristiana Muki, S.Pd., M.Si. mendorong agar kain tenun asal Timor Tengah Utara (T.T.U), lebih ditonjolkan dan diangkat sebagai kekayaan luar biasa.

“Jangan sampai besok sampai ke depannya ada yang mengklaim tenun T.T.U,” ucapnya kepada Garda Indonesia dalam sesi wawancara eksklusif pada akhir Juni 2020 di kediamannya di Naen, Kefamenanu.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/06/25/kristiana-muki-sosok-sederhana-pemerhati-anak-dan-perempuan/

Ia pun mengakui suka dengan corak-corak yang dari Insana, Biboki hingga corak-corak lainnya hingga menjadi koleksi.

Kita juga berupaya mendorong lewat OPD terkait agar dicatatkan di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Provinsi NTT. “Namun, ego sektoral masih sangat tinggi. Beberapa orang menganggap itu biasa. Ke depan perlahan-perlahan akan hilang,” ungkapnya seraya berharap kondisi tersebut dapat terkikis secara bertahap.

Ia juga meminta agar menenun dimasukkan dalam muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di Kabupaten T.T.U. “Saya juga mengusulkan di salah satu sekolah tempat saya mengajar dulu untuk menenun dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal,” urainya.

Lanjutnya, “Kita tidak akan tahu budaya ini bertahan sampai kapan, makanya saya mendorong SMP Negeri Fatunfaun dan SMP Maubesi juga memulai hal begini.”

Paling tidak, imbuh wanita berusia 45 tahun yang selalu tampil sederhana, namun modis dengan balutan tenunan khas T.T.U ini memaparkan bahwa kita harus bisa mengajarkan kepada anak-anak tentang keragaman, keunikan, dan cara menenun.

“Tidak semua kita menjadi PNS, banyak yang melamar tapi hanya satu hingga dua orang yang lolos. Kita bisa memulai dari hal-hal seperti ini [menenun]. Tahun kemarin saya juga mendorong bapak [Bupati T.T.U] agar mendukung saya agar semua sekolah memakai rompi adat pada hari Kamis atau acara-cara tertentu,” tandas istri Bupati T.T.U, Raymundus Sau Fernandes ini dengan penuh keyakinan.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Folemako—Tradisi Makan Adat dari Kabupaten Timor Tengah Utara

2.185 Views

Naiola-T.T.U, Garda Indonesia | Begitu banyak tradisi makan adat [budaya tradisional] yang menjadi budaya daerah di 22 kab./kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); salah satunya adalah tradisi makan bersama secara adat di Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U).

Folemako (dibaca Fole’ Mako’) merupakan tradisi turun temurun masyarakat adat dari semua suku yang berada di bawah tiga wilayah kerajaan/swapraja yaitu swaraja Miomaffo, Insana dan Biboki yang terbagi atas 18 kefetoran dan 176 temungkung, yakni Swapraja Miomaffo (Kepala Swapraja : G. A. Kono) memiliki 8 kefetoran masing-masing kefetoran Tunbaba, Manamas, Bikomi, Noemuti, Nilulat, Noeltoko, Naktimun dan Aplal. Sedangkan Swapraja Insana (Kepala Swapraja : L. A. N. Taolin) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Oelolok, Ainan, Maubesi, Subun dan Fafinesu; dan Swapraja Biboki (Kepala Swapraja L. T. Manlea) memiliki 5 kefetoran masing-masing kefetoran Ustetu, Oetasi, Bukifan, Taitoh dan Harneno [kutipan https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Timor_Tengah_Utara ].

Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes (mengancungi jempol) dalam Tradisi Folemako di Desa Naiola pada Sabtu, 20 Juni 2020

Tradisi Folemako tetap dipelihara oleh masyarakat adat sejak awal pembentukan Kabupaten T.T.U yang diresmikan pada 9 Agustus 1958 berdasarkan Undang-undang No. 69/1958; hingga saat ini tradisi unik ini tetap dihelat dalam rangkaian upacara adat masyarakat Timor seperti dalam gelaran upacara Ume Tobe (peresmian [Rumah Adat Utama Funan] dan Lopo Tobe [Lopo Adat Utama Funan] di Desa Naiola), Kecamatan Bikomi Selatan pada Sabtu, 20 Juni 2020.

Rumah Adat Tobe Funan di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U)

Pemangku Adat [Tobe’] Funan-Oetpah sebagai suku utama merupakan bagian dari Kefetoran Bikomi dan memiliki 10 suku pendamping [Nifuhala’] yaitu Kobi, Oetkuni, Kosat, Arit, Taeko, Sopbanae, Romer Kosat, Kefi, Kollo; menghelat Folemako sebagai rangkaian dari Upacara Adat Kasu Siki.

Pantauan Garda Indonesia, usai dilaksanakan Kasu Siki, dilanjutkan dengan Tradisi Folemako yakni mengonsumsi dan menghabiskan makanan adat [sepiring nasi putih porsi besar dan sepiring daging yang sudah diolah hanya dengan garam] dalam porsi besar sebagai ketentuan khusus bagi tamu undangan yang sudah “Naik Hala” atau sudah duduk di depan meja kayu berukuran panjang [1 meja Hala dapat menampung 50 orang] tempat makanan adat disajikan dan/atau jika makanan yang disediakan tidak sanggup dihabiskan, wajib hukumnya dibawa pulang untuk dihabiskan lagi di rumah dengan keluarga atau teman yang diundang.

Para tamu undangan sudah “Naik Hala” dalam Tradisi Folemako di Desa Naiola

Yang menarik dari Tradisi Folemako, para tamu undangan yang sudah Naik Hala akan disesuaikan dengan makanan adat yang tersedia. Jika masih ada makanan adat yang belum ditempati, maka akan diberikan tanda berupa pemasangan sendok dengan cara ditusuk terbalik dari gagang, sehingga yang muncul hanya kepala sendok.

Sendok makan ditancapkan ke dalam nasi dalam Tradisi Folemako sebagai tanda bahwa belum disantap dan/atau tak boleh disantap [bakal disantap oleh para undangan di sesi berikut]
Satu hal menarik, sebelum menyantap makanan adat bakal dilakukan Natoni [tutur adat Timor]; sesudah menyantap, tamu undangan tak diperkenankan bangun dari tempat duduk meski sudah selesai makan ataupun tak menghabiskan makanan adat yang telah tersaji [Jika bangun dari tempat duduk, bakal didenda adat]. Para tamu undangan bakal bangun serempak usai dilakukan Natoni.

Sebagian besar tamu undangan tidak sanggup menghabiskan makanan adat yang tersaji, hanya Raymundus Sau Fernandes selaku Bupati T.T.U yang diundang sebagai Tobe Fios dari Kefetoran Noemuti. Beberapa tamu undangan, bahkan menggeleng kepala menyatakan tidak sanggup menghabiskan makanan adat dalam Tradisi Folemako.

Hal menarik lainnya, bahan makanan adat berupa beras dan hewan yang dijadikan daging diperoleh dengan cara dikumpulkan secara adat [masing-masing Nifuhala’ diberikan tanggung jawab] yang didasarkan atas kesepakatan bersama. Dalam Tradisi Folemako yang dihelat di Desa Naiola, menghabiskan 800 kg [dari 1 ton beras yang terkumpul] dan disembelih 13 ekor babi dan 2 ekor sapi.

Penulis, editor, foto dan video (+rony banase)

Klarifikasi Laporan ARAKSI, Bupati TTU : Mereka Sebar Berita Bohong & Cemarkan Nama Baik

534 Views

Kefa-T.T.U, Garda Indonesia | Bupati Timor Tengah Utara, Raymundus Sau Fernandes menyampaikan klarifikasi terkait laporan Ketua ARAKSI yang melaporkan dirinya dan istri ke Polda NTT terkait dugaan korupsi DAK Pendidikan T.A. 2007 senilai sekitar Rp.47,5 Miliar.

Kepada Garda Indonesia, melalui percakapan telepon pada Rabu, 20 Mei 2020 pukul 11.03 WITA, menyampaikan bahwa kapasitas dirinya dalam pengelolaan APBD tanggung jawab sebagai bupati pada tataran kebijakan, tetapi pelaksanaan teknis ada pada pengguna anggaran. Pengguna anggaran sudah melaksanakan pelelangan dan dinyatakan selesai.

“Yang mereka laporkan bahwa tidak ada dalam APBD itu omong kosong (tidak benar,red),” tegas Bupati T.T.U.

Lanjutnya, “Itu semua ada dalam APBD 2011 dan semua Dana SILPA sesuai dengan surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan tidak boleh menumpuk Dana SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan, red). Pemerintah diminta untuk segera.”

Oleh karena itu, imbuh Bupati Ray Fernandes (sapaan akrabnya, red), DAK 2007 dan 2008 dimasukkan dalam APBD 2011 dan kemudian dilaksanakan dan dilelang seperti biasa.

“Yang mereka nyatakan bahwa tidak ada kesepakatan dengan DPRD, Itu bohong! karena semua ada di dalam Perda APBD,” ungkapnya.

Terkait Pergub yang mereka singgung di dalam laporan, urai Bupati Ray, itu adalah itu perda harus ada pergub untuk penjabaran. Kalau pergub tidak ada, maka perda tidak bisa dijalankan.

Oleh karena itu, tambah Bupati Ray, Pergub pada bulan September 2011 itu terjadi perubahan pergub penjabaran karena juknis untuk pelaksanaan DAK baru turun, maka pemerintah daerah wajib untuk melakukan perubahan pergub untuk masukkan petunjuk teknis dari kementerian terkait dengan pelaksanaan Dana Alokasi Khusus tersebut.

“Itulah kronologis seperti itu,” jelas Bupati Ray Fernandes sembari mengungkapkan melalui kuasa hukum sudah melaporkan ARAKSI ke Polres TTU terkait menyebar berita bohong dan pencemaran nama baik.

Dalam pemberitaan konferensi pers yang dilakukan oleh saudara kita ini Alfred Baun, beber Bupati Ray, bukan praduga tak bersalah, ini langsung menuding.

“Ini berhubungan dengan kepastian hukum. Maka saya menggunakan hak hukum saya melalui kuasa hukum untuk membuat laporan polisi,” pungkasnya.

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

Gubernur VBL Pinta Petani TJPS di TTU Dapat Jadi Penyuluh Bagi Petani Lain

335 Views

Insana-TTU, Garda Indonesia | “Sebagai Gubernur, saya mengucapkan terima kasih buat para pendamping yang dengan penuh semangat, tetap setia mendampingi petani di sini, sehingga kualitas jagung yang dipanen sangat memuaskan. Meski saat ini dunia sedang dilanda Virus Corona yang sangat meresahkan, tetapi semangat para pendamping dan juga para petani di tempat ini tidak surut sedikit pun. Sekali lagi terima kasih buat semuanya,” tutur Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).

Baca juga :

https://gardaindonesia.id/2020/04/02/ikut-program-tjps-gubernur-vbl-apresiasi-kinerja-kelompok-tani-fajar-pagi/

Pesan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) tersebut disampaikannya kepada para petani yang mengikuti Program TJPS (Tanam Jagung Panen Sapi); saat melakukan panen jagung jenis Komposit Lamuru secara simbolis di Desa Letneo, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, pada Selasa, 7 April 2020.

“Ke depan saya minta agar program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) ini melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten, termasuk juga TNI dan POLRI. Tentunya saya akan berkoordinasi dengan Kapolda dan Danrem agar dapat mengerahkan seluruh perangkatnya untuk terlibat secara aktif di lapangan,” sambung Gubernur.

Gubernur VBL saat memanen jagung di lahan sebelah embung

Bermodalkan sebuah embung yang ada di dekat lokasi panen jagung ini, membuat mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem ini kembali mengajak para petani dan juga pendamping yang ada untuk kembali melakukan proses penanaman jagung. “Tadi ketika melakukan panen, saya lihat ada sebuah embung besar. Jadi setelah panen kali ini saya ajak semua untuk kembali melakukan penanaman. Nanti pemerintah akan bantu Dinamo Air untuk menyedot air yang ada di embung untuk proses penyiraman. Jadi walaupun musim panas, jagungnya akan tetap berhasil,” pinta Gubernur Viktor.

Lanjutnya,” Dan para petani tidak perlu khawatir tentang proses penjualannya, karena berapa pun hasi panennya, pemerintah melalui PT Flobamor akan langsung datang ke lokasi untuk membelinya. Saat ini pihak PT Flobamor juga ada di sini untuk proses pembeliannya”.

Gubernur VBL mencuci tangan untuk antisipasi penyebaran Virus Corona,

Gubernur VBL meminta agar seluruh petani ketika selesai memanen jagung, batangnya jangan dibuang atau dibakar, karena batang jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. “Nanti pemerintah akan siapkan ahlinya agar dapat mengajarkan ke para petani. Tentunya hal ini sejalan dengan program TJPS ini. Tanam jagung, hasil panennya dijual pada pasar (market) yang sudah ada, uang hasil jualan dipakai untuk membeli sapi, dan sapinya bisa makan batang jagung hasil panen yang telah diolah menjadi pakan ternak, ini yang dinamakan kerja secara terencana,” urai Gubernur.

Gubernur juga meminta agar proses pendampingan dari Dinas Pertanian ini cukup 2 kali, setelah itu para petani sudah harus mandiri. “Yang paling penting, ilmu yang telah didapat harus diajarkan kepada para petani lainnya, sehingga mereka juga bisa melakukan hal yang sama di tempat mereka,” tandas Gubernur VBL mengakhiri sambutannya.

Pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Yohanis Oktovianus mengatakan bahwa jumlah tenaga pendamping sebanyak 11 orang, pendampingan yang dilakukan terhadap para petani di tempat ini, sampai kepada proses penukaran dengan sapi.

Untuk diketahui, Kabupaten TTU memiliki lahan yang telah ditanami jagung jenis Komposit Lamuru di lahan seluas 350 hektar, yang terletak di Kecamatan Insana Barat dan Kecamatan Insana Tengah yang memiliki luas yang sama 175 hektar, dengan total jumlah petani sebanyak 350 orang, dengan alokasi satu orang petani menggarap satu hektar lahan. Sedangkan untuk kualitas jagung sendiri, dipastikan bahwa satu hektar mampu menghasilkan jagung sebanyak 6—7 ton dengan kadar air 14 persen.

Turut hadir pada kesempatan ini, Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes, Anggota DPR RI Kristina Mukin, Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT Kristian Mbuik dan juga Staf Khusus Gubernur NTT Imanuel Blegur.(*)

Sumber berita dan foto (*/Sam Babys–Staf Biro Humas dan Protokol)
Editor (+rony banase)