Arsip Tag: timor tengah selatan

Kunjungan Kerja ke TTS, VBL Minta SMK Punya Jurusan Khusus dan Unggul

313 Views

Soe-TTS, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menekankan desain pendidikan untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di NTT harus berkarakter serta memiliki keahlian khusus yang kualitasnya dapat bersaing di tingkat nasional.

Penekanan Gubernur VBL tersebut disampaikannya saat mengunjungi SMK Negeri 1 Soe, pada Selasa, 23 Maret 2021. “Untuk desain Pendidikan Menengah Kejuruan di NTT agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT menyiapkan desain roadmap, di mana pendidikan dilaksanakan selama 4 tahun dengan mempertimbangkan kualitas SDM tenaga pendidik sebagai aset terbesar yang memiliki kualitas intelektual yang bagus,” urainya.

Setiap sekolah menengah kejuruan, imbuh VBL, juga harus miliki jurusan khusus yang menjadi kebanggaan daerah dan nasional, output lulusannya berkarakter kebangsaan, memiliki daya tahan dalam bekerja di bidang keahliannya dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Gubernur VBL pun meminta agar para pendidik di SMK Negeri 1 Soe harus mengembangkan jurusan yang jadi  jurusan unggulan dan ciri khas pada sekolah tersebut. “Jangan banyak jurusan tapi tidak ada yang berhasil. Harus berani tampil dengan satu jurusan tetapi jurusan itu mampu menjadikan siswanya menjadi manusia hebat,” ulasnya.

Kalau mau tertarik terhadap bidang pertanian, tekan VBL, maka harus sungguh-sungguh belajar tentang pertanian. Datangkan pengajar yang paham betul tentang ilmu pertanian, sehingga siswa mampu memahami secara detail tentang pertanian, juga misalnya pada sektor peternakan. “Jangan kita buat program yang banyak, tapi hasilnya di bawah standar, lebih baik programnya cukup satu tetapi orang langsung melihat hasilnya begitu luar biasa,” jelasnya.

Selama ini, ungkap Gubernur VBL, masalah yang dialami adalah para siswa adalah belajar tentang pertanian atau peternakan, tetapi saat mereka tamat, tidak memiliki lahan ataupun ternak. Hal ini menurutnya akan berdampak pada saat siswa itu menamatkan pendidikan. Dia akan bersusah payah untuk mencari pekerjaan.

“Sebagai Gubernur saya mengharapkan agar pihak sekolah mampu berkolaborasi dengan dinas terkait ataupun Bumdes agar para siswa dapat memiliki lahan yang ke depannya mampu diolah langsung oleh siswa itu sendiri,” tandas VBL.

Sementara itu, Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Egusem Pieter Tahun dalam arahannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Gubernur VBL, karena dengan kehadiran ini dapat meningkatkan geliat ekonomi di Kabupaten TTS.

“Hari ini saya melihat banyak bahan makanan termasuk sayuran dan juga daging yang dibeli untuk sarapan Bapak Gubernur bersama rombongan, sudah pasti hal ini mendatangkan keuntungan bagi para penjual dan ini akan tetap kami jaga agar perekonomian di Kabupaten TTS tetap stabil,” urai Bupati Tahun.(*)

Sumber berita dan foto (*/Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT)

Editor (+roni banase)

Kepsek SDN Aen’ut TTS, Diduga Sepihak Nonaktifkan Tiga Guru Honorer

2.612 Views

T.T.S-NTT, Garda Indonesia | Oknum Kepala Sekolah Dasar Negeri Aen’ut, Veronika Sanam di Desa Bikekneno, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga telah menonaktifkan tiga orang guru honorer secara sepihak tanpa alasan yang jelas, sejak Januari 2021. Ketiga orang guru tersebut, masing – masing atas nama Mehilina Tekliu, S.Pd. (2005), Yoris Taneo, S.Pd. (2014) dan Massyon Sabaat, A.Ma. (2018).

Informasi lain yang diterima Garda Indonesia pada Kamis petang, 4 Februari 2021 menyebutkan, bahwa oknum kepala sekolah Veronika Sanam bersikap sangat sombong, arogan dan sewenang – wenang terhadap semua bawahannya. “Dia (kepala sekolah, red.) makan puji sekali, terlalu sombong. Omong tinggi sekali. Buat diri paling hebat. Dia bilang mau lapor sampai bupati juga dia tidak takut”, tukas sumber Garda Indonesia.

Mirisnya, seorang staf guru honorer atas nama Prilestio Bani yang diterima oknum kepala sekolah, masih berijazah SMA dan diberikan jabatan wali kelas 2 sejak Desember 2019. Padahal, guru tersebut masih sementara kuliah di UT, belum wisuda dan masih berstatus magang.

Jika para guru pergi ke sekolah terlambat, lanjut sumber itu, oknum kepala sekolah marah tanpa pandang umur muda atau pun tua. Sedangkan, oknum kepala sekolah yang sering kali  terlambat, tidak pernah merasa bersalah. “Kalau guru tidak masuk sekolah dan telepon untuk minta izin, dia marah. Tapi, kalau dia sendiri tidak masuk sekolah tanpa kabar, itu dia anggap tidak ada soal”, keluh sumber itu.

Pengelolaan Dana BOS di sekolah itu, masih menurut sumber yang sama, dilakukan secara tidak transparan. Bahkan, bendahara Dana BOS, perannya sangat terbatas. Bendaharanya hanya simbol saja. Pembelanjaan kebutuhan sekolah itu, diambil alih semuanya oleh oknum kepala sekolah tersebut. Kalau ada guru yang mengklaim dalam rapat, oknum kepala sekolah itu pasti marah – marah.

Guru honorer, Massyon Sabaat, A.Ma. yang diperbantukan sebagai operator sekolah selama 1 tahun, tidak digaji. Padahal, pernah ada kesepakatan sebelumnya, upah operator per triwulan senilai Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)

Terpisah, kepala sekolah SDN Aen’ut, Veronika Sanam yang dikonfirmasi via sambungan telepon seluler pada Kamis malam, 4 Februari 2021, tidak mau melayani semua pertanyaan Garda Indonesia. Suaranya terdengar gugup, gemetar dan tak terarah. Handphone oknum kepala sekolah itu pun langsung nonaktif sesaat kemudian, sebelum percakapan berakhir. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)

Foto utama (*/ istimewa/pribadi)

VBL Dapat Predikat “Bapak Infrastruktur” dari Desa Kaeneno Kabupaten TTS

997 Views

Kaeneno—TTS, Garda Indonesia | Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam lawatannya saat pemakaman Almarhum Anderias Hiler Eduard Nabunome (Edu Nabunome) sang Legenda Atletik Indonesia asal NTT di Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada Jumat, 16 Oktober 2020; memberikan respons terhadap kondisi infrastruktur di sana.

Respons VBL tersebut, ditunjukkan dengan menindaklanjuti permintaan dari Kepala Desa Kaeneno, Gusti Fallo, S.Pt. terkait kondisi jalan dan listrik yang belum menerangi 2 (dua) dusun yakni di dusun A, Oe Ana dan dusun B, Oko. VBL pun langsung menghubungi via telepon General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko, dan Kepala Dinas ESDM Provinsi NTT, Jusuf Adoe.

Gubernur VBL yang fokus pada pembangunan JALA (jalan, listrik, dan air) meminta sinergisitas antara Pemprov NTT dan Pemkab Timor Tengah Selatan (TTS) untuk menyelesaikan ruas jalan provinsi menjadi tanggung jawab provinsi dan meminta Bupati Epy Tahun untuk menyelesaikan ruas jalan kabupaten yang melintasi Desa Kaeneno.

Berselang dua minggu kemudian, pada Rabu, 4 November 2020, sebanyak 50 unit meteran diberikan kepada Pemerintah Desa dan masyarakat Desa Kaeneno melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan telah dilakukan instalasi meteran ke rumah masyarakat sambil menunggu jaringan listrik masuk ke lokasi tersebut.

Penyerahan meteran listrik gratis kepada masyarakat Kaeneno

Kepada Garda Indonesia pada Minggu malam, 8 November 2020, Kepala Desa Kaeneno, Gusti Fallo, S.Pt menuturkan terima kasihnya kepada Gubernur VBL atas bantuan 50 unit meteran gratis. “Bapak Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat saat berkunjung ke sini dalam rangka menghadiri pemakaman almarhum saudara Eduar Nabunome, beliau sudah tahu apa yang menjadi kebutuhan di desa kami,” ungkapnya.

Kades Fallo pun mengungkapkan menggunakan kesempatan saat bertemu dan berbincang selama lebih kurang 20 menit dengan Gubernur VBL untuk menyampaikan kondisi Desa Kaeneno. “Sebelumnya, Kami telah berencana membuat sebuah kegiatan untuk menghadirkan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, namun tak ada jalan bertemu. Puji Tuhan, beliau bisa hadir dalam acara pemakaian Almarhum Eduar Nabunome,” urainya.

Masyarakat Kaeneno, ungkap Kades Fallo, merasa sangat bahagia karena Gubernur NTT dapat hadir di desa yang terletak di Kecamatan Fautmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan. “Sebelumnya, tak pernah ada Gubernur NTT yang mengunjungi Desa Kaeneno. Kami hanya mendengar Gubernur NTT melakukan kunjungan ke TTS, namun kami hanya mendengar, tak bisa melihat langsung. Berbeda dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat dapat hadir di desa kami, lewat Almarhum Bapa Edu (Eduardus Nabunome, red), dan masyarakat sangat senang sekali, meski ada pandemi Covid-19,” ujar Kades Fallo yang mulai menjabat sejak Maret 2018.

Atas nama pemerintah Desa Kaeneno dan masyarakat di sini, imbuh Kades Fallo, kami mengucapkan terima kasih yang tulus tak terhingga kepada Bapak Gubernur NTT yang peka, peduli dan responsif dengan kami di daerah terpencil. Karena semua jalan Tuhan, Kami dapat berbincang dengan Pak Gubernur untuk menyampaikan kondisi listrik yang hanya mengaliri kecamatan saja, dan tak masuk di dusun-dusun.

Pemasangan meteran listrik di rumah warga di Dusun A, Oe Ana dan Dusun B, Oko di Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan

“Bahwa beredar isu dari sejumlah pemberitaan, kalau Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, selama ini lebih banyak perhatian kepada kebutuhan fasilitas umum di daratan Flores dan Sumba saja. Namun, semua kabar itu tidak benar!, terbukti saat ini, kami mendapat bantuan listrik. Beliau menjadi Gubernur untuk seluruh NTT, bukan hanya untuk satu suku atau daerah saja,” urainya.

Lanjutnya, “Saya secara pribadi menilai beliau sebagai sosok pemimpin yang sangat peka dan cepat merespons serta menindaklanjuti apa yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat, ketika beliau mengetahui persoalan saat melakukan kunjungan kerja.”

Atas dasar itu, Kami meneguhkan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat sebagai “Bapak Infrastruktur” karena sangat peka, dan cepat menidaklanjuti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat berupa infrastruktur jalan, kebutuhan penerangan, kebutuhan air dan fasilitas umum lainnya terlihat dari kerja nyata beliau selama ini.

Kades Kaeneno, Gusti Fallo, saat bertemu GM PLN UIW NTT, Agustus Jatmiko

Sebelumnya, pada Kamis siang, 5 November 2020, General Manager PLN UIW NTT, Agustinus Jatmiko mengungkapkan bahwa Gubernur VBL telah menghubungi dirinya pada 16 Oktober 2020 terkait listrik di sana.

“Kami sudah punya drawing survei Desa Kaeneno, dan sedang berproses administrasi, karena kami masih menyesuaikan alokasi anggaran,” ungkapnya sembari menyampaikan dalam waktu dekat PLN segera masuk ke sana.

Penulis dan Editor (+rony banase)
Foto-foto (*/istimewa)

Pospera & Masyarakat TTS Minta Bupati Tidak Lantik Perangkat Desa Bermasalah

639 Views

Soe-T.T.S , Garda Indonesia | Massa pedemo yang terdiri dari masyarakat dan DPC Pospera Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), menuntut Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun segera membatalkan pelantikan perangkat desa yang bermasalah dalam pengelolaan Dana Desa sebelumnya. Tuntutan itu disampaikan perwakilan massa aksi, Ketua DPC Pospera TTS pada Senin, 24 Agustus 2020 di halaman depan kantor Bupati TTS.

Yerim pada kesempatan itu secara tegas meminta agar bupati segera mengambil kebijakan menghentikan proses pelantikan terhadap Perangkat Desa lama yang lolos seleksi namun disinyalir bermasalah dalam pengelolaan Dana Desa sebelumnya.

“Yang kami inginkan agar beberapa desa yang bermasalah, yang sedang berproses untuk klarifikasi, yang berproses untuk RDP, jangan dipaksakan dulu (pelantikannya). Karena ada masyarakat yang mengadu berarti dia belum puas,” kata Yerim.

Menurutnya, masyarakat harus diberikan penjelasan yang mendetail terkait hasil seleksi sehingga jerih lelah masyarakat selama mengurus berbagai persyaratan untuk mengikuti seleksi tidak merasa kecewa.

Hal paling penting menurutnya, yakni aparat desa lama yang diduga bermasalah namun masih diizinkan dan diperbolehkan mengikuti seleksi sampai ditetapkan menjadi perangkat desa baru.

Pospera bersama masyarakat yang datang dari berbagai desa mempertanyakan visi “Membangun dari Desa” yang diusung oleh Bupati TTS seperti apa. Lanjut Yerim, jika Perangkat Desa dengan etos kerja yang kurang baik, akan sangat berpengaruh bagi kemajuan desa.

“Kalau ini terus diakomodir, maka penyelewengan (pengelolaan Dana Desa,red) akan terus terjadi. Ini yang ingin kami sampaikan untuk menjadi catatan bagi Pak Bupati,” jelas Yerim.

Bupati TTS, Egusem Pieter Tahun dalam kesempatan itu mengatakan, pihaknya terbuka dan menerima setiap aspirasi dari masyarakat. “Saya terima semua aspirasi masyarakat. Mau di rumah jabatan atau di kantor daerah pun saya tetap terima aspirasi masyarakat,” jelas Tahun.

Ia meminta agar proses pelantikan Perangkat Desa tidak dihentikan sebab akan mengganggu pengelolaan Dana Desa. “Karena kalau mereka (Perangkat Desa, red) tidak bekerja, semua pelayanan masyarakat akan tertunda,” tambahnya.

Bupati Tahun meminta agar proses pelantikan tetap berjalan dan apabila ke depan ditemukan pelanggaran yang dilakukan oleh Perangkat Desa yang telah dilantik, maka bisa ditinjau kembali untuk diberhentikan.

Bupati Tahun mengatakan, sampai tanggal 31 Agustus, Pemerintah Daerah (Pemda) bersama DPRD berfokus untuk perubahan APBD 2020. Sebab jika lewat tanggal tersebut, DAK Rp.24 miliar yang dialokasikan kepada Pemda TTS tidak bisa dicairkan. “Bukan berarti kami diamkan (persoalan Perangkat Desa, red). Kasi saya waktu sampai bulan September. Kami bersama DPRD sementara bahas APBD Perubahan dan APBD Induk 2021,” kata Tahun.

Ketua DPD Pospera NTT, Yanto Lily di hadapan Bupati Tahun meminta agar ada ruang khusus untuk audiensi lebih lanjut terkait persoalan seleksi Perangkat Desa.

“Kami kumpulkan data lagi dan kami akan bawa ke Pak Bupati untuk kita audiensi lebih lanjut lagi”, kata Yanto.

Massa aksi yang sebelumnya sempat merobohkan pintu pagar kantor Bupati TTS, akhirnya menerima usulan Bupati TTS dan bersedia makan siang bersama untuk melanjutkan diskusi.(*)

Penulis dan foto (*/joe tkikhau)
Editor (+rony banase)

Bersikap Tak Acuh,Kepala SMAN Kie Tuai Protes dari Guru,Komite & Dewan Pendiri

956 Views

Kie-T.T.S, Garda Indonesia | Ketidakadilan terjadi di SMAN Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Hal itu terjadi karena sikap Kepala Sekolah Yaner Benu, S.Pd. yang selalu mengambil kebijakan secara sepihak tanpa melalui pertimbangan yang matang, yang menyebabkan pengunduran diri dari tugas tambahan yang diemban oleh 3 orang guru.

Selain itu, kekecewaan juga disampaikan oleh Dewan Pendiri Sekolah, Godlif Nenabu yang ditemui di Kie pada Rabu,4 September 2019, terkait sikap dari Kepala Sekolah. Menurut Nenabu, dalam rapat bersama komite, kepala sekolah, dewan pendiri dan juga dewan guru, guna membahas persoalan yang terjadi di sekolah, jawaban kepala sekolah tidak pernah tepat sasaran.

“Kita boleh omong panjang lebar, beliau (Kepala Sekolah,red) hanya jawab, saya mengaku salah!,” jelas Nenabu menirukan jawaban Kepala Sekolah pada rapat yang berlangsung pada Selasa, 3 September 2019.

Kendati demikian, lanjut Nenabu, walaupun sudah mengaku salah namun yang bersangkutan tidak pernah menyampaikan permohonan maaf.

Sementara itu, persoalan yang dianggap cukup penting untuk disikapi yaitu terkait kebijakan kepala Sekolah memberikan ‘nol jam’ mengajar bagi tiga orang guru.

Wakil Kepala Sekolah (wakasek) bidang Kurikulum, Konstantinus Nabunome, S.Pd. menyampaikan bahwa pembagian jam mengajar bagi para dewan guru merupakan tugas dari wakasek bidang kurikulum, namun diambil alih secara sepihak oleh kepala sekolah.

“Ada guru yang nol jam mengajar tapi ada yang sampai 52 jam mengajar,” ungkap Nabunome.

Dirinya juga menyampaikan bahwa tiga orang guru yang di nol jamkan di antaranya, Julianti P. Tamonob, S. Pd., Orifel Oematan, S. Pd. keduanya berstatus guru honorer, serta Roni Weo, S.Pd. berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).

Hal lain yang disampaikan Nabunome, terkait sikap kepala sekolah dalam menangani masalah yang dilakukan oleh siswa disekolah. Nabunome memberi contoh siswa yang kedapatan bermain HP pada saat proses KBM berlangsung, lalu HP disita oleh guru dan ketika disampaikan, kepala sekolah tidak merespon dengan baik.

“Bapa atur saja, ko Bapa yang sita juga,” ucap Nabunome menirukan jawaban Kepala Sekolah.

Lanjut Nabunome, Kepala Sekolah yang bertempat tinggal di Soe, setiap hari masuk sekolah sekitar pukul 9.00 WITA atau pukul 10.00 WITA dan tidak betah disekolah dengan alasan bahwa ada rapat atau pertemuan kepala sekolah.

“Kakak tolong lihat sekolah, saya ada rapat,”kisah Nabunome.

Nabunome menambahkan bahwa setiap minggu kepala sekolah selalu mengikuti rapat dan sekembalinya dari pertemuan tersebut tidak pernah menyampaikan hasil rapat kepada dewan guru.

“Hampir setiap minggu ada dinas luar tapi kembali ke sekolah tidak pernah panggil kami untuk sampaikan apa yang didapat di rapat,”tutur Nabunome penuh kekecewaan.

Masalah lainnya yaitu uang komite yang semula Rp. 25.000-, secara sepihak dinaikkan oleh Kepala Sekolah menjadi Rp. 50.000-, tanpa musyawarah dengan komite dan juga orang tua siswa. “Kami tidak tahu soal peningkatan iuran komite,” ujar Ketua Komite Marthinus A. Salem.

Salem menjelaskan bahwa selama 2 tahun 4 bulan, Yaner Benu menjabat kepala sekolah, dirinya selalu Ketua Komite tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan dana komite maupun dana BOS. Terkait laporan pertanggungjawaban dana BOS, Salem mengaku bahwa tidak pernah menandatangani laporan tersebut.

“Saya tidak pernah tanda tangan laporan itu, tapi dana BOS cair setiap tahun,” jelas Salem.

Sementara iuran komite yang seharusnya dikelola secara langsung oleh Ketua Komite, jelas Salem, dirinya juga tidak terlibat karena semua dana ada di bendahara.
” Saya tidak pernah keluarkan dana komite, tapi kas kosong dan gaji dari 11 orang guru honorer belum dibayar selama 8 bulan,” tutur Salem.

Sementara Bendahara Komite, Ida Lopo yang dihubungi via telepon pada Kamis, 5 September 2019, tidak dapat terhubung. Dan informasi yang diperoleh bahwa bendahara Komite bersama 2 orang bendahara lainnya mengundurkan diri sebagai reaksi atas tindakan kepala sekolah yang tidak sesuai aturan.

Pada kesempatan yang sama, Jina Tanaem, S. Pd. yang berstatus ASN dan merupakan guru fisika satu-satunya di SMAN Kie, yang juga mengemban tugas tambahan sebagai Wakasek Kesiswaan, bendahara PIP dan juga bendahara Pembangunan mendapat surat mutasi lantaran mengundurkan diri dari tugas tambahan yang diemban.

“Saya tiba-tiba dipanggil dan diberikan surat mutasi dengan alasan mengundurkan diri dari tugas tambahan yang diberikan,” jelas Jina.

Sementara itu, Kepala Sekolah Yaner Benu yang dihubungi via telepon sebanyak dua kali tidak menjawab. Sampai berita ini diturunkan Kepala Sekolah belum bisa memberikan tanggap.

Rencananya pada Jumat, 7 September 2019, Komite bersama dewan pendiri dan juga utusan dewan guru akan menghadap ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Selain itu, direncanakan untuk bertemu langsung dengan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

Norci Nomleni–Pendiri Komunitas Penggerak Perempuan & Pecinta Tenunan

673 Views

So’e-TTS, Garda Indonesia | Arus globalisasi didukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak kebudayaan luar atau mancanegara masuk dan diadopsi oleh anak-anak bangsa. Lalu penggunaan atau pelestarian kekayaan budaya mulai tersingkir secara perlahan-lahan.

Menyadari pergeseran pelestarian kebudayaan; oleh pemerintah dilakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kebudayaan suku-suku di Tanah Air. Misalnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu yang lalu diadakan pemilihan Puteri Tenun NTT. Upaya ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi ada individu-individu yang juga melalui usaha-usaha pribadi mereka berjuang untuk mempromosikan dan mempertahankan kebudayaannya.

Salah satu orang muda yang aktif mempromosikan dan me- rekondisi motif-motif daerah menjadi barang-barang yang memiliki nilai jual dan mampu bersaing di pasaran adalah Norci Nomleni. Perempuan kelahiran Niki-niki, 18 Agustus 1993 itu merupakan pendiri Komunitas Ume Kbubu di Timor Tengah Selatan (TTS).

Ume Kbubu merupakan salah satu kebudayaan Orang Timor, sebagai tempat penyimpanan makanan dan juga tempat berteduh yang menghangatkan bagi masyarakat suku Timor. Namun tulisan ini bukan tentang Ume Kbubu, tetapi tentang Ci, panggilan akrab Norci Nomleni dan Komunitasnya serta upaya melestarikan Budaya Timor khususnya Amanuban.

Kepada media Garda Indonesia, perempuan yang memiliki hobi bernyanyi ini, mengungkapkan bahwa Komunitas Ume Kbubu merupakan komunitas penggerak perempuan dengan tujuan memotivasi para perempuan untuk mencintai budaya melalui tenun yang memiliki banyak motif. Komunitas ini didirikan pada tahun 2017 atas usaha Ci panggilan akrab dari Norci sendiri.

“Komunitas ini saya dirikan pada tahun 2017, itu usaha sendiri. Tujuannya untuk memotivasi perempuan-perempuan di TTS, khususnya Amanuban untuk tetap menggunakan hasil tenunan sendiri, terutama para anak muda dan juga para ibu-ibu penenun”, ungkap alumni STAKN Kupang itu.

Setelah satu tahun berkarya, lanjut Ci dirinya mendapatkan dukungan dari Cipta Media Ekspresi. Sampai sekarang Komunitas Ume Kbubu beranggotakan 6 (enam) orang serta sudah beberapa kali diminta memberikan pelatihan di luar kota Soe tentang rekondisi barang-barang bekas dengan motif. Diantaranya kelompok perempuan GMIT Babu dan juga di Pemuda-pemudi Klasik Sulaman dalam camp Pemuda.

“Anggota kita 6 orang. Kita sudah beberapa kali diminta untuk memberikan pelatihan diluar TTS, kita terus berupaya menyebarkan virus cinta budaya ini lewat media maupun pelatihan seperti ini”, ungkap Ci ketika dihubungi via Whatsapp (Rabu, 26 Juni 2019)

Ditengah kesibukannya sebagai Penyuluh Agama di Departemen Keagamaan (Depag) TTS, dia juga menyempatkan diri untuk berbagi inspirasi melalui hobinya berfoto menggunakan kain tenun dengan berbagai motif dari Amanuban. Dirinya juga punya keinginan untuk bisa berfoto dengan berbagai motif tenunan di NTT, tapi untuk sementara dia memfokuskan diri pada motif Timor.

Kecintaan Norci terhadap budaya mendorongnya untuk berinovasi dengan motif Amanuban yang menurutnya sangat kental dengan warna dan punya banyak motif. Dirinya menjelaskan bahwa barang-barang yang di rekondisi ada berbagai macam dan tentunya sesuai dengan perkembangan zaman juga.

” Ada banyak sebenarnya. Mulai dari tas, dompet, sepatu, topi. Bahkan kita buat pakaian-pakaian sewaan dari motif dan pakaian pengantin sampel dulang-dulang dari bahan niru dan rotan yang kita rekondisi”, ungkap alumni SD Inpres Ekpulen Niki-niki itu.

Lanjut Ci, mempromosikan motif daerah dan memotivasi banyak orang khususnya anak muda untuk mempertahankan nilai-nilai budaya sebenarnya harus dilakukan oleh anak muda sendiri, karena yang mengerti selera anak muda adalah yang sebaya dengannya.

“Tujuan saya melakukan ini semua yaitu untuk mempromosikan, memotivasi dan membanggakan daerah sendiri ke publik dengan rajutan motif Timor, bahwa Timor juga tidak kalah menariknya dari daerah lain”, ujarnya.

Diatas semua maksud tersebut, ungkap Ci, bahwa perputaran roda ekonomi juga perlu didorong dengan berbagai kreatifitas, sehingga para penenun juga bersemangat dalam menenun karena kita sudah mempromosikan tenunan mereka melalui berbagai cara yang dapat mendongkrak perekonomian mereka.

“Kita perlu mendukung para penenun dengan melakukan berbagai hal kreatif sehingga bisa memotivasi mereka untuk semakin semangat dalam menenun. Dan mereka tidak bingung lagi dalam memasarkan tenunan mereka”, pungkas Norci. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)