Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pertanian Perkebunan » Doktor Twen dan PPL Latih Tani Organik Saat Musim Tanam II di Desa Kuanheun

Doktor Twen dan PPL Latih Tani Organik Saat Musim Tanam II di Desa Kuanheun

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 22 Sep 2020
  • visibility 127
  • comment 0 komentar

Loading

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Tak hanya mengandalkan musim tanam pertama (Oktober—Maret), para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Oemathonis di Desa Kuanheun, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berupaya melakukan terobosan menanam pada musim kemarau atau musim tanam II (kedua) pada periode April—September.

Bermodalkan sebuah sumur bor, lahan kering seluas 2 hektar lebih milik Arnold Lassi tersebut yang sebelumnya hanya ditanam jagung; kini, mulai ditanam sayur mayur, tomat, dan bawang merah berbasis organik.

Keputusan bertani organik yang dilakukan oleh 22 petani yang sebelumnya hanya mengandalkan musim hujan tersebut, atas dorongan dari Doktor Twen Dami Dato dari Fakultas Peternakan Undana Kupang dan 2 (dua) Penyuluh Pertanian dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT yakni Jose de A. Freitas, S.Pt. dan Maria Kristela Tuames, S.P.

Panen perdana ketimun oleh Kelompok Tani Oemathonis di Desa Kuanheun, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang

Jose de A. Freitas, S.Pt. Koordinator Penyuluh Pertanian Provinsi NTT mengungkapkan bahwa Kelompok Tani Oemathonis merupakan kelompok baru (berdiri sejak Juli 2020, red) yang masih menerapkan teknik mengolah pertanian tradisional. “Kelompok Tani ini kami kenal saat memproduksi pupuk bokashi bersama doktor Twen Dami Dato dan para pemulung di TPA Alak, kemudian kami sarankan tak hanya berproduksi kompos, namun dapat diterapkan teknologi dengan memanfaatkan bahan organik sehingga dapat menghasilkan produk pertanian organik,” ujarnya.

Walaupun kelompok tani ini baru, imbuh Jose, dan belum melakukan pengaturan jarak tanam, termasuk belum diakomodir dan tercatat dalam Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kupang Barat, namun telah diupayakan dikomunikasikan sehingga ke depan dapat memperoleh bantuan pupuk. “Pada saat ada pupuk bersubsidi, maka mereka (Kelompok Tani Oemathonis, red) dapat memperoleh bantuan,” ungkapnya sembari mengatakan para petani lebih tertarik pada komoditi hortikultura.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Provinsi NTT, Jose Frietas dan Telda Tuames sedang memberikan arahan kepada para petani

Semoga, tambah Jose, bersama doktor Twen, Petani di Desa Kuanheun dapat lebih maju dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern untuk mendukung produksi mereka. “Termasuk pengolahan lahan yang baik dengan menggunakan banyak pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah dan membuat pertanian terintegrasi (terdapat ternak sehingga kotoran dari ternak dapat dijadikan pupuk bokashi),” tandasnya.

Senada, Maria Kristela Tuames, S.P. Penyuluh Pertanian Provinsi NTT mengungkapkan bahwa pola tanam yang dilakukan oleh para petani sudah baik, meski tanpa pendampingan telah dilakukan dengan baik. “Namun, masih ada kekurangannya adalah masih kurang penggunaan pupuk bokashi belum maksimal, dapat dilihat dari hasil panen dan tanah belum gembur,” urai Telda sapaan akrabnya.

Seperti dari budidaya bawang, jelas Telda, dapat dilihat dari hasil panen bawang. “Dari hasil panen bawang, ketika tanah gembur, maka 1 rumpum bawang dapat mencapai 12—14 siung dengan diameter bawang lebih besar,” tandasnya.

Kebahagiaan Doktor Twen Dami Dato  ( berbaju biru dan bertopi) saat panen perdana bawang merah varietas unggulan bersama Petani di Desa Kuanheun

Sementara itu, Arnoldus Lasi, pemilik lahan menyampaikan dirinya memberikan lahan seluas 2 hektar untuk diolah, namun sementara ini, hanya sekitar setengah hektar (5.000 meter persegi) yang diberdayakan sebagai lahan pertanian organik. “Saya memberikan lahan ini, agar para petani musiman dapat mengolah lahan ini dengan memanfaatkan air sumur bor yang dialirkan ke 6 (enam) penampungan buatan yang terbuat dari terpal,” urainya.

Bagi yang belum punya penampungan, ungkap Arnol, mereka mengambil air dari penampungan dengan cara dipikul lalu disiram ke masing-masing bedeng.

Salah satu petani yang memperoleh air dari pemilik lahan, Agustinus Besie yang memiliki lahan sendiri sekitar 1.200 m2 yang memberdayakan lahannya berkat dukungan air, maka dapat dimaksimalkan untuk ditanam sayuran organik, bawang, dan tomat. “Ini tahun pertama kami menanam di sini. Kalau ada bantuan pemerintah, kami sangat bersyukur, namun jika tak ada, ya kami usahakan sendiri,” ujar ayah dari enam orang anak tersebut.

Penulis, editor, foto, dan video (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaminan PLN Bagi Warga Sekitar PLTP Ulumbu 5—6

    Jaminan PLN Bagi Warga Sekitar PLTP Ulumbu 5—6

    • calendar_month Rab, 1 Nov 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) telah melangsungkan free prior informed consent (FPIC) atau persetujuan atas dasar informasi di awal tanpa paksaan (PADIATAPA) di Gendang Gonggor, Desa Wewo, Satar Mese, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 30 September 2023. Sosialisasi ini dimaksudkan agar masyarakat sekitar kawasan […]

  • Keluarga Besar Putra Putri Polri Daftar Anggota Via Aplikasi KBPP Polri

    Keluarga Besar Putra Putri Polri Daftar Anggota Via Aplikasi KBPP Polri

    • calendar_month Sel, 30 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Pasca-pengukuhan dan pelantikan oleh Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri (KBPP) Polri Dr. Evita Nursanty, MSc. bersama Kapolda NTT, Irjen Pol Setyo Budiyanto saat musyawarah daerah (Musda) V yang bertempat di ruang rapat utama Markas Polda NTT pada Sabtu, 20 Agustus 2022, maka kepengurusan KBPP Polri Provinsi NTT dinakhodai Ir. Lay […]

  • Tiga Alasan Wagub Josef Nae Soi Hadir Saat Pesta Emas SMK Swastisari Kupang

    Tiga Alasan Wagub Josef Nae Soi Hadir Saat Pesta Emas SMK Swastisari Kupang

    • calendar_month Sen, 20 Jan 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi berkesempatan hadir dalam puncak Perayaan HUT ke-50 (Pesta Emas) SMK Swastisari Kupang pada Sabtu, 18 Januari 2020 pukul 09.30 WITA—selesai di Aula STIE Oemathonis Kupang. Saat tiba di Halaman STIE Oemathonis, bersama Kadis P dan K Provinsi NTT, Benyamin Lola; Wagub […]

  • Mahasiswa Berperan Dorong Keterpilihan Perempuan dalam Pemilu

    Mahasiswa Berperan Dorong Keterpilihan Perempuan dalam Pemilu

    • calendar_month Jum, 8 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Masa depan perempuan muda Indonesia tidak lagi hanya mengurus urusan domestik dalam rumah tangga. Penegasan tersebut disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise dalam Kuliah Umum di Sekolah Tinggi Teologi Rahmat Emmanuel Jakarta Utara pada Kamis (07/02/2019) malam. Menurut Menteri Yohana, perempuan akan banyak terlibat di berbagai sektor kewirausahaan, […]

  • Ruas Jalan Bakau 2 Berlubang dan Digenangi Air

    Ruas Jalan Bakau 2 Berlubang dan Digenangi Air

    • calendar_month Sel, 23 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Kondisi salah satu ruas jalan yang berada di jalan Bakau 2, RT 01, RW 01 Kelurahan Oesapa Barat Kecamatan Kelapa Lima sangat memprihatinkan. Kondisi jalan tersebut berlubang dan digenangi air. Pantauan Media Garda Indonesia pada Senin 22 Juli 2019, kendaraan roda dua maupun roda empat yang melalui ruas jalan tersebut […]

  • Membiasakan yang Benar, Bukan Membenarkan yang Sudah Biasa!

    Membiasakan yang Benar, Bukan Membenarkan yang Sudah Biasa!

    • calendar_month Sen, 10 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas Ah sudah biasa begitu kok! Tak aneh. Seperti contoh kasus yang terjadi di Kota Manado misalnya. Korupsi berjamaah seluruh anggota DPRD, iya seluruhnya, empat puluh orang sekaligus kompak berkonspirasi. Memang bukan barang baru, ini kasus korupsi (gratifikasi) yang sudah berlarut-larut. Soal dugaan bancakan dana transportasi dan perumahan (akomodasi) anggota DPRD Kota […]

expand_less