Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Pesan Sapu Tangan Basah

Pesan Sapu Tangan Basah

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 19 Nov 2020
  • visibility 83
  • comment 0 komentar

Loading

Penulis : Melkianus Nino

Bahu tertindih seikat kayu api. Terasa seperti sedang memikul peti mati yang dititipkan Gadis Cantik dari rindang Beringin Tua. Badan gemetaran, dengan bulu-bulu pada pergelangan tangan yang merayap pulas, berdiri tegap tak ingin kembali pulas.

Aku tak sadar, ketika Tuan Rimba mengintai langkah kaki dengan begitu lincah. Entah ! Dia, gadis itu, dengan alis tipis disileti seperti hutan mini yang disabit bersih.

Aku melangkah maju dalam kesendirian. Sedangkan, jarak pulang masih 200 mil dari rindang Beringin Tua.

“Terima kasih pada batin yang panik ketakutan. Syukurlah, Aku mampu melewati 50 mil. Berarti masih 150 mil, yang harus dilewati sebelum Barat melukis kejinggaan “.

Disusul desiran batang pohon bambu terus memadu saling memeluk. Terkadang bertikai dan saling menampari. Padahal, tiada angin dan senyap. Sesaat berhenti menguping ke belakang, suasana terasa bisu, hanya susulan bunyi Sepatu Hakeng seperti ada lapang hamparan keramik.

“Kok!, ada setapak berlantai kilap di belakangku?”.

Aku membungkusi diri penuh tegar dan memang haruslah beradaptasi dengan lingkungan sunyi ini.

“Aku harus percaya diri dan berani!”.

“Oh, masih saja ada bebunyian itu!. Kaget ketakutan dengan detakan dalam dada yang gelisah. Sejenak berdiri, masih ada langkah seperti Harimau liar mencari anaknya yang hilang.

Mungkin si Raja Rimba itu, mengiraku yang menculik sulung kesayangannya. Mungkin juga, dia berpikir ke rana sana. Aku yakini, sulung yang hilang keseharian, pergi bersama lentingan.

Aku rasakan Setan gentayangan memergoki dari balik pundak ini.

“Entah itu, si Raja Rimba!, entah juga si Gentayangan dan entah juga siapakah Dia?”.

Banyak tanya menghasut pikiran ini, langkah terus tapaki di tengah onak-onak kebimbangan. Sedangkan, bahu perih kesakitan dengan titipan si Gadis Cantik tadi.

Karena telah lelah dengan titipan itu sembari membayangkan kalau wajah ayunya mirip Bunda yang hilang. Waktu kemarau kemarin, tempat menggayung air. Dia hilang di sana, hingga tak kembali sampai detik ini. Tempat merimba nan hijau sepi menyimpan banyak sumber mata air juga misteri.

Bunda hilang di sana ,karena lupa akan Sapu Tangan. Aku menantinya, Dia tak kembali.

Saat itulah, benak dikejutkan dengan bayangan semu seperti Bunda menegur dan mengingatkan kembali atas Gadis Ayu itu. Sembari rehat sejenak karena kelelahan.

Di seberang Barat, lukisan alam mawar senja. Dedaunan ditutupi binar-binar kemuning. Sekelompok burung-burung kecil berkejaran di atas dahan johar, melompat ke sana kemari di tiap dahan, mencari kenyamanan. Daun-dahan tergoyang-goyang dikira gempa singgahan. Aku menengadah ke sasaran, ternyata ratusan Pipit-pipit kecil.

“Sebentar lagi, akan kembali gelap. Aku harus melangkah seribu, biarkan lebih awal tiba”.

100 mil masih tersisa langkah, waktu terus memukuli pundak. Langkah sang waktu tak mungkin berbalik. Bila kembali, Aku harus mencari sapu tangan yang tertinggal di bawah rindang Beringin.

Setibanya di rumah, binatang piaraan menyambut kedatangan untuk dikandangkan. Belum lagi, seisi atap yang gelap-gulita. Lampu minyak entah tersimpan di mana. Aku harus bolak-balik tiap kamar, padahal tersimpan di depan pampang album Bunda. Kedua pasang lilin yang mengapiti juga membutakan penglihatanku. Dua lilin itu, meminta untuk dimantik biar menerangi album bisu itu.

Saat benderang makin tampak di tiap kamar. Gegasku, menuju ke dapur dan menanak nasi. Dengan membungkus setengah badan dengan selembar handuk dan menuju ke kamar mandi. Segarkan badan dengan mengganti pakaian.

“Puji TUHAN, dengan anugerah malam ini!, Aku merasakan nyaman menanti jarum jam menunjukkan angka 8, sarapan malam”.

Biar lambung tak perih, sarapan sendirian. Dengan sepiring nasi dan ala kadarnya. Juga ada 2 sendok makan, sekedar mengundang Bunda walaupun menyendiri.

“Selamat Makan Bunda!”.

Deringan alarm berdenting di pukul 09.00, Aku berbalik ke hadapan Patung yang berdampingan dengan Album Bunda dan Berdoa.

“Allah Semesta yang kuasa, terima kasih atas waktu sepanjang hari ini. Aku menyadari, masih banyak kelemahan. Aku memohon pengampunan atas segala lalai terhadap sesama, terutama Bunda tercinta. Berikanlah kekuatan, walau dalam kesendirian ini. Terima kasih TUHAN. Amien “.

Malam makin sepi di ujung tepi. Aku telah berselimut mimpi, entah apa yang dimimpikan, memang sungguh tak menahunya. Hanya terang lilin yang menyelimuti.

Angin malam meniup atap rumah, dan berdengung ketakutan. Aku sadar , ketika kokok jago menyapa pagi. Saat itulah, bayangan putih hadir di mimpi dan menyapa.

“Aku telah bersamamu, malam tadi. Aku yang menjagamu juga, Aku ingin menyampaikan satu hal untukmu, Esok tepat di pukul 12.00 siang nanti, nantikan Aku di bawah rindang Beringin tua. Jangan lalaikan pinta itu!”

Setelah Suara mimpi itu hilang dariku, Aku terbangun dan duduk di atas kasur. Khayalanku, sebuah kenyataan. Aku yakini, kalau akan mengetahui kehilangan Bunda.

*******

Tepat pukul 11.00, Aku sudah mendahului. Dengan membisu di dekat pohon Durian. Bola mata menancapkan pandangan ke sasaran pesan. Tiupan angin menggulung ke atas dan meronda sekeliling Rimba Tua. Akar-akar gantung bergoyang tak berhenti. Aku melihat lilitan jam tangan , 10 menit tibalah waktu.

Saat mendekati, tiupan dan gulungan meredah. Aku berkeinginan keras untuk melangkah seribu, namun tak mampu.

Aku dikageti oleh sepotong kertas usang jatuh di atas daunan kering, selang 10 detik kemudian…Sapu tangan pun melambai jatuh, tak tahu dari mana datangnya.

Aku mengambil sapu tangan itu, telah basah dan beraroma rampai. Ada pesan tertulis :

“Anakku, Maafkan Bunda…Bunda tak kembali bersama kirana Misteri yang ada di sekitarmu, saat ini. Bunda yang menitipkan seikat kayu dan yang datang menyapamu di pagi tadi. Itu adalah Aku, Bundamu. Sapu Tangan Basah itu, dari Air mata Bunda”. (*)

Penulis merupakan Founder Rumah Baca dan Menulis “Kelae Ahine” Menetap di Atambua – Kabupaten Belu, Provinsi NTT
Foto (*/istimewa)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pj Bupati Lembata Dampingi Juri Festival Desa Binaan Bank NTT

    Pj Bupati Lembata Dampingi Juri Festival Desa Binaan Bank NTT

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Loading

    Lewoleba, Garda Indonesia | Penjabat Bupati Lembata, Marsianus Djawa, pada Rabu, 3 Agustus 2022, ikut hadir bersama juri Festival Desa Binaan Bank NTT dan Festival PAD 2022, Ni Dewa Agung Ayu Sria Liana Dewi meninjau Desa Bour, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata. Desa Bour adalah salah satu dari empat desa di Lembata yang mengikuti event paling […]

  • PLN Kembangkan Listrik Hydropower di Tanah Air

    PLN Kembangkan Listrik Hydropower di Tanah Air

    • calendar_month Kam, 2 Nov 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Nusa Dua, Garda Indonesia | Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengunjungi booth PT PLN (Persero) dalam rangkaian World Hydropower Congress (WHC) 2023 di Nusa Dua Bali pada Selasa, 31 Oktober 2023. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo memaparkan strategi perseroan dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA/Hydropower di tanah air. “Sebagai negara kepulauan, […]

  • PLN Raih 19 Penghargaan di ‘Indonesian SDGs Award 2022’

    PLN Raih 19 Penghargaan di ‘Indonesian SDGs Award 2022’

    • calendar_month Rab, 23 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) berkomitmen mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan berbagai program yang telah dijalankan. Komitmen dan langkah nyata tersebut membawa perusahaan milik negara ini dianugerahi 19 penghargaan sekaligus dalam ajang Indonesian SDGs Award (ISDA) 2022. ISDA 2022 merupakan ajang pemberian penghargaan yang diberikan kepada perusahaan atau institusi atas kontribusinya dalam pencapaian tujuan […]

  • Gubernur VBL Pinta Petani TJPS di TTU Dapat Jadi Penyuluh Bagi Petani Lain

    Gubernur VBL Pinta Petani TJPS di TTU Dapat Jadi Penyuluh Bagi Petani Lain

    • calendar_month Rab, 8 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Loading

    Insana-TTU, Garda Indonesia | “Sebagai Gubernur, saya mengucapkan terima kasih buat para pendamping yang dengan penuh semangat, tetap setia mendampingi petani di sini, sehingga kualitas jagung yang dipanen sangat memuaskan. Meski saat ini dunia sedang dilanda Virus Corona yang sangat meresahkan, tetapi semangat para pendamping dan juga para petani di tempat ini tidak surut sedikit […]

  • Lima Desa di Manggarai Teraliri Listrik PLN, Bupati & Masyarakat Senang

    Lima Desa di Manggarai Teraliri Listrik PLN, Bupati & Masyarakat Senang

    • calendar_month Sab, 11 Nov 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) kembali mengaliri listriknya ke sejumlah desa di Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.Kegiatan peresmian listrik dihadiri oleh perwakilan masyarakat dari 5 desa yang diberi listrik, yakni Desa Bere, Desa Wae Codi, Desa Latung, Des We Renca, dan Desa Golo Lanak, pada Jumat, 10 November 2023. Bupati […]

  • Bank NTT Sumbang 500 Juta Rupiah ke Porprov 2022

    Bank NTT Sumbang 500 Juta Rupiah ke Porprov 2022

    • calendar_month Sab, 12 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia |  PT. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Nusa Tenggara Timur (NTT) menyumbang dana sejumlah Rp500 Juta untuk menyukseskan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTT tahun 2022. Dana sebesar Rp500 Juta diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho kepada Ketua KONI NTT Josef Nae Soi pada Jumat, 11 November 2022, […]

expand_less