Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Anak dan Perempuan » Rintihan Hati Sosok Guru Perempuan dari Flores NTT

Rintihan Hati Sosok Guru Perempuan dari Flores NTT

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 11 Jan 2019
  • visibility 166
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Elisabeth Wilhelmina

Jawa Tukan, S.Pd

Larantuka, gardaindonesia.id | Sebait puisi dari seorang guru perempuan tangguh dari Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puisi ini melukiskan suasana hati dan mimpi para guru di pelosok negeri,

Aku melihat indonesia dari kacamata ibukota..
Lewat gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuknya lalu lintas kota Jakarta..
Aku melihat indonesia, dari senyum palsu anak-anak negri di setiap sudut kota metropolitan.

Senyuman bercampur dengan peluh keringat di setiap jalanan ibukota..
Senyum tunas muda pemilik Negri;
Yang menjerit di tengah gemerlap lampu-lampu jalanan kota seribu jiwa seribu gedung bertingkat…

Wahai penguasa Negeri…
Betapa sombongnya dirimu, betapa angkuhnya dirimu. Sekali coretan tanganmu diatas kertas putih itu, saat itu pula kau hasilkan duit berjuta rupiah. Kau lupa diri, kau lupa bahwa uang yang kau dapatkan itu adalah hasil peluh keringat, bahkan tetesan air mata penuh perjuangan kaum jelata negeri ini.

Kau lupa bahwa yang kau miliki adalah milik rakyat negeri yang disebut … Nusantara.

Ahhh….Indonesia, Negeri yang kaya susu dan madu,
Ahh indonesia, dimanakah susu dan madu itu? Dimanakah keadilan itu dapat ditegakkan, sampai kapankah anak-anak Negri pemilik Bangsa bisa tersenyum lepas tanpa kepalsuan.

Kapankah Jakarta; hai…. kota metropolitanku, kau berikan setitik kebahagiaan buat kaum jelata Negeri,,
Lampu dan gedungmu tak bisa menentramkan hati dan jiwa mereka
Sombongnya dirimu; hai….kota seribu nyawa bahkan semilyar penduduk Yang menempatimu…

Wahai ibukota, kapankah kau menjadi ibu yang sesungguhnya
Bagi kami anak-anak Negri dari sabang sampai Merauke, kapankah kesombonganmu bisa dikalahkan oleh tangisan anak-anak pengemis di kolong jembatanmu

Terlampau sadis… caramu,,, hai… ibukota
Aku yang hanyalah suara tak berarti..
Mau meneriakkan, menyuarakan suara-suara kaum jelata, suara anak-anak Negeri, yang katanya negri pemilik susu dan madu
Gemerlapmu tak bisa menembus batas-batas wilayah hati kami yang masih gelap..
Gelap dan selalu gelap yang kami rasakan
Wahai ibukota, kembali aku menatapmu kini..

Aku yang hanyalah pemilik negeri bayang-bayang, negeri diatas awan kataku
Negeri yang hanya bisa kami rasakan susu dan madu dibalik kacamata para bos-bos yang sudi memberikan lembar seribu dua ribu, ketika kami selesai menjadi pengamen di tengah hiruk pikuk lalu lintasmu…
Jakarta…. kejamnya dirimu,,

Kau gagal menjadi ibu bagi anak negri pemilik susu dan madu..
Kau lupa diri bahwa diantara gemerlapmu, ada tangisan anak yang kelaparan, ada jeritan wanita-wanita malang yang sedang mengais rejeki tanpa kenal lelah.

Kau lupa bahwa di tengah kesibukanmu,ada pria-pria tangguh yang rela bekerja keras hanya untuk bisa membayar pajak keluar masuk jalan tol demi selembar kertas rupiahmu… aku kecewa kataku…

Wahai penguasa negri…
Rakyat bukan bonekamu
Semua yang bicarakan di gedung megahmu hanyalah lambang bahwa kau sudah bekerja. Semua mengatasnamakan rakyat, semua hanya demi rakyat
Yah… rakyat adalah penghasil lembaran-lembaran berjuta bahkan bermilyar rupiah bagimu
Kau gagal hai penguasaku
Dan aku sedih menatap kotamu di ujung malam ini..

Gemerlapmu niscaya memabukkanku..
Gedung pencakar langitmu seolah mau menghantarku ke langit sana yang tak bisa menampilkan pesona bintang dan bulan karena kesombonganmu
Dan aku,, diatas jembatanmu ini, hanya bisa menatapmu,ditengah geliat ibukota ,ibu negri… aku menangis…

Airmataku jatuh bersama malam tanpa bintang dan bulan
Aku kecewa bersama desiran angin yang enggan berlalu bersama geliatmu yang tiada henti

Aku sedih wahai ibu negri
Biarlah kesedihanku ini berlalu bersama sang waktu (*)

 

Penulis adalah seorang guru, berdomisili di Waibalun, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Editor (+ rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Viktor Laiskodat Perintah Sekda Panggil Pemkab Kupang

    Gubernur Viktor Laiskodat Perintah Sekda Panggil Pemkab Kupang

    • calendar_month Sen, 21 Jan 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Laiskodat Gubernur NTT memerintahkan Sekda Pemerintah Provinsi (Pemprov) untuk segera bersurat memanggil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang agar segera menangani persoalan sampah di wilayah Kabupaten Kupang yang berbatasan dengan Pemkot Kupang Perintah Gubernur Viktor tersebut disampaikannya usai melaksanakan kegiatan Gerakan Kebersihan menyeluruh bersama perangkat ASN lingkup Pemprov NTT dan Pemkot Kupang di […]

  • Berdampak ke Perempuan & Anak, Jokowi Minta Agresi Israel Dihentikan

    Berdampak ke Perempuan & Anak, Jokowi Minta Agresi Israel Dihentikan

    • calendar_month Ming, 16 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo secara tegas meminta agar agresi yang dilakukan oleh Israel ke Palestina segera dihentikan. Agresi tersebut hingga kini telah menimbulkan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. “Indonesia mengutuk serangan Israel yang telah menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Agresi Israel harus dihentikan,” ujar Presiden dalam cuitannya […]

  • Aksi Massa dan Provokator Warnai Pengadaan Lahan PLTP Ulumbu, Pemda Manggarai Tetap Humanis

    Aksi Massa dan Provokator Warnai Pengadaan Lahan PLTP Ulumbu, Pemda Manggarai Tetap Humanis

    • calendar_month Kam, 3 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 204
    • 0Komentar

    Loading

    Manggarai | Tim persiapan pengadaan lahan pemerintah daerah Manggarai berhasil menyelesaikan tahapan identifikasi lahan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Ulumbu Unit 5-6, khususnya akses jalan menuju wellpad D di Desa Lungar, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Manggarai, Marianus Yosef Jelamu, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan […]

  • Megawati Ungkap Fakta Soeharto Tolak Pemakaman Bung Karno di TMP Kalibata

    Megawati Ungkap Fakta Soeharto Tolak Pemakaman Bung Karno di TMP Kalibata

    • calendar_month Ming, 2 Nov 2025
    • account_circle melihatindonesia
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Loading

    Kini, setelah lebih dari lima dekade, Megawati bersyukur makam Bung Karno di Blitar justru menjadi salah satu situs paling ramai dikunjungi oleh masyarakat, pelajar, dan tamu dari berbagai negara.   Jakarta | Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengenang masa-masa penuh duka ketika keluarga berjuang agar ayahnya, Presiden pertama RI Soekarno, dimakamkan secara layak setelah […]

  • Siku Liurai Ajak Warga Eks Timtim Hidup Mati Bersama Paket SEHATI

    Siku Liurai Ajak Warga Eks Timtim Hidup Mati Bersama Paket SEHATI

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Arnaldo Da Silva Tavares yang akrab dikenal dengan Siku Liurai mengajak warga eks Timor–Timur (Timtim) yang berdomisili di wilayah Kecamatan Raihat untuk bersatu menjatuhkan pilihan kepada paket SEHATI, pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Belu periode 2021—2024, nomor urut 2, Agustinus Taolin – Aloysius Haleserens. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/11/19/edmundus-tita-yakin-agus-taolin-menang-telak-di-dapil-iv-belu/ Pernyataan itu […]

  • Satu dalam Kebersamaan

    Satu dalam Kebersamaan

    • calendar_month Ming, 10 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Loading

    Penulis : Melkianus Nino Pagi yang indah, duduk di beranda rumah di antara kursi kosong ditemani segelas teh hangat. Sebatang pena dan sebuah buku. Aku sangat merindu rumah belajar, ingin berseragam. Bibir keruh telah dibasahi seteguknya. Aroma khas, melalang buana; sungguh telah menemani aku, pena, dan buku. Di balik pagar bonsai kuning, memamerkan kilap menguning. […]

expand_less