Menyongsong Sensus Ekonomi 2026: Transformasi Perdagangan NTT
- account_circle Putu Dita Pickupana
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 58
- comment 0 komentar

![]()
Oleh: Putu Dita Pickupana, Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi NTT
Indonesia, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kini berada di ambang transformasi ekonomi yang signifikan. Seiring dengan berjalannya waktu pada tahun 2026, perhatian pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi tertuju pada satu agenda nasional besar: Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). Sebagai potret sepuluh tahunan, sensus ini bukan sekadar rutinitas statistik, melainkan kompas yang akan menentukan arah kebijakan ekonomi daerah untuk satu dekade ke depan.
Data menyeluruh terkait usaha ekonomi dilakukan pada Sensus Ekonomi 2016 dan sudah berusia satu dekade sehingga banyak yang tidak lagi sesuai dengan kondisi lapangan dan perkembangan zaman. Misalnya, pada 2016 penetrasi internet belum sebaik saat ini sehingga saat itu usaha berbasis internet maupun pemanfaatan platform e-commerce juga belum masif seperti sekarang.
Salah satu cakupan SE2026 adalah usaha digital, selain usaha konvensional lainnya. Selain ekonomi digital, ekonomi lingkungan seperti ekonomi hijau (aktivitas ekonomi yang memperhatikan risiko terhadap lingkungan) dan ekonomi biru (aktivitas ekonomi yang fokus pada sumber daya laut dan pantai).
Sektor perdagangan, yang diklasifikasikan dalam kategori G (perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor) pada klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI), menjadi tulang punggung yang krusial bagi mobilitas ekonomi di Bumi Flobamora.
Perspektif tulisan ini akan memaparkan struktur perdagangan NTT, mendeskripsikan hasil sensus sebelumnya, dan memberi pandangan tentang apa yang akan ditemukan pada SE2026 mendatang.
Perdagangan dalam struktur PDRB NTT
Pada struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTT, sektor perdagangan secara konsisten menempati posisi tiga besar lapangan usaha penyumbang nilai tambah ekonomi tertinggi, memberikan kontribusi tertinggi bersama sektor pertanian dan administrasi pemerintahan. Berdasarkan data BPS, sektor perdagangan menyumbang 13,55 persen terhadap PDRB menurut lapangan usaha pada tahun 2025. Nilai tersebut hanya lebih rendah dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang secara dominan menyumbang 28,58 persen terhadap PDRB Provinsi NTT. PDRB Tahun 2025 Provinsi NTT mencapai Rp148,37 triliun.
Kontribusi sektor perdagangan di wilayah Provinsi NTT sangat luas dan juga vital. Perdagangan merupakan salah satu sektor yang menyerap banyak tenaga kerja. Pada tahun 2024, sektor perdagangan menyerap kurang lebih 12 persen angkatan kerja (keadaan angkatan kerja NTT 2024, BPS). Selain itu, sektor ini juga menghubungkan berbagai wilayah karena menjadi bagian dalam distribusi barang ke wilayah pelosok dan kepulauan lainnya di NTT, dan beberapa wilayah menjadi pusat perdagangan yang juga berperan dalam pertumbuhan ekonomi. Dan beberapa kebijakan pemerintah juga berkaitan dengan sektor ini khusus yang yang berkaitan dengan pengendalian inflasi (TPID). Efisiensi rantai perdagangan, kecukupan pasokan, serta stabilitas harga menjadi fokus dalam kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan.
Hasil Sensus Ekonomi 2016: fondasi data kategori G
Gambaran sektor perdagangan yang menjadi latar belakang tulisan ini. Hasil Sensus Ekonomi 2016 (SE2016) memberikan gambaran mengenai karakteristik usaha di NTT termasuk kategori G. Menurut hasil pendataan SE2016, tercatat bahwa jumlah usaha non-pertanian di NTT mencapai sekitar 432,6 ribu usaha. Dari jumlah tersebut, sektor perdagangan (kategori G) mendominasi sebesar 33,27 persen atau sebanyak 185,9 ribu usaha. Dari jumlah tersebut, 99 persen lebih merupakan usaha mikro dan kecil (UMK). Ini menunjukkan bahwa ekonomi NTT saat itu ditopang oleh UMK pada sektor perdagangan.
Data hasil SE2016 ini menjadi bukti bahwa NTT adalah provinsi dengan basis kewirausahaan perdagangan yang sangat kuat, meskipun sebagian besar masih berskala rumah tangga, mikro, dan kecil.
Perkiraan perkembangan satu dekade perdagangan di NTT
Rentang waktu antara 2016 hingga 2026 adalah satu dekade yang penuh dengan dinamika luar biasa bagi pelaku usaha perdagangan di NTT. Salah satu faktor yang mengubah wajah sektor ini yakni transformasi digital dan e-commerce. Jika pada 2016 perdagangan daring (online) masih menjadi barang asing di banyak kabupaten di NTT, saat ini penetrasi internet telah mengubah perilaku konsumen. Banyak pedagang eceran di Kupang, Maumere, dan Labuan Bajo yang kini merambah ke marketplace dan media sosial.
Sensus Ekonomi 2026 diperkirakan akan menangkap lonjakan jumlah usaha “pedagang digital” yang tidak memiliki toko fisik secara permanen.
Selain itu, ada juga faktor akibat Pandemi COVID-19. Periode 2020—2022 menjadi masa ujian berat bagi sektor perdagangan. Namun, data menunjukkan adanya resiliensi khususnya pada tingkat UMKM. Banyak usaha mikro yang lahir dari sisa-sisa badai pandemi—masyarakat yang kehilangan pekerjaan di sektor jasa mulai beralih membuka usaha dagang kecil-kecilan untuk bertahan hidup.
Dan faktor terakhir adalah hub pariwisata Labuan Bajo. Status Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) dapat memberikan multiplier effect bagi perdagangan. Permintaan akan barang-barang konsumsi, suku cadang kendaraan (reparasi mobil/motor), dan produk kerajinan tangan meningkat drastis di wilayah Manggarai Barat, memicu pertumbuhan unit usaha baru di sektor kategori G.
Gambaran hasil Sensus Ekonomi 2026
Berdasarkan tren pertumbuhan ekonomi dan laju digitalisasi, beberapa perkiraan hasil SE2026 adalah peningkatan jumlah unit usaha perdagangan serta pergeseran karakteristik usaha.
Jumlah usaha kategori G di NTT pada SE2026 akan diperkirakan akan mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016. Salah satu yang menjadi barometernya adalah kemudahan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) dan maraknya UMKM baru pasca-pandemi. Namun jika dibandingkan 2016 kemungkinan diperkirakan akan ada pergeseran seperti pemanfaatan jaringan internet yang memiliki penetrasi luas. Diperkirakan akan ada peningkatan signifikan pada usaha yang terintegrasi secara omnichannel (memiliki toko fisik sekaligus toko online).
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun juga akan meningkatkan sub-sektor reparasi kendaraan bermotor (mobil maupun sepeda motor). Selain itu, munculnya jaringan ritel modern yang merambah hingga ke tingkat kecamatan di seluruh NTT juga akan memberikan efek domino di wilayah tersebut seperti penyediaan pasokan, pergudangan, ekspedisi, distribusi barang, dan lainnya.
Selain itu, di bawah kepemimpinan Gubernur Melki Laka Lena, sektor perdagangan (kategori G) di Nusa Tenggara Timur diproyeksikan menjadi hilir strategis bagi keberhasilan program One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP).
Sektor perdagangan tidak lagi hanya berdiri sebagai perantara barang konsumsi dari luar daerah, melainkan bertransformasi menjadi etalase utama bagi produk-produk lokal unggulan yang dihasilkan oleh desa, sekolah, dan lembaga keagamaan. Melalui penguatan rantai distribusi dan digitalisasi pasar eceran, para pelaku usaha kategori G di NTT berperan penting dalam memastikan produk turunan pertanian, kerajinan tangan, dan olahan kreatif lokal mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan kompetitif.
Mengapa SE2026 penting? apa peran kita?
Sensus Ekonomi 2026 nantinya dapat menyediakan data akurat dan mutakhir mengenai struktur dan karakteristik seluruh usaha yang ada di NTT. Data ini dapat digunakan sebagai dasar berbagai perumusan kebijakan pembangunan seperti penyaluran bantuan subsidi, pelatihan UMKM, dan penyusunan strategi logistik untuk menekan biaya distribusi barang di NTT yang terkenal tinggi.
Oleh karenanya, dalam pelaksanaan SE2026 yang dimulai pada Mei—Agustus 2026, dihimbau agar kita semua ikut berperan. Hal yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima kedatangan petugas lapangan, memberikan data secara jujur dan akurat, dan menyebarluaskan informasi tentang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Menyiapkan data, membangun bangsa
Sensus Ekonomi 2026 adalah momentum bagi setiap warga NTT yang memiliki usaha—baik sekecil kios rokok hingga sebesar distributor semen—untuk memberikan data yang jujur dan akurat. Data tersebut adalah amunisi bagi pembangunan yang lebih merata.
Masa depan ekonomi NTT tidak lagi hanya bergantung pada alam, melainkan pada kemampuan kita memetakan potensi perdagangan melalui kacamata data. Bersama kita sukseskan SE2026 untuk kemajuan perekonomian NTT.
Ayo bangun NTT! Ayo sukseskan Sensus Ekonomi 2026! (*)
- Penulis: Putu Dita Pickupana











Saat ini belum ada komentar