Sejarah Provider XL Hingga Merger Jadi XLSmart Tembus 73 Juta Pelanggan
- account_circle Roni Banase
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 57
- comment 0 komentar

![]()
XLSmart adalah sebuah perusahaan operator telekomunikasi seluler yang mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 8 Oktober 1996, dan merupakan perusahaan ketiga yang menyediakan layanan telepon seluler GSM di Indonesia.
XLSmart mempunyai berbagai produk utama yaitu XL Prabayar, XL Prioritas, XL Satu, XLSmart for Business, AXIS, dan Smartfren. Saat ini, saham XLSmart dimiliki oleh Axiata Investments (Indonesia) (34,8%) yang tergabung dalam Axiata Group Berhad, Malaysia, sisanya milik Sinar Mas (34,8%) dan publik (30,4%). XLSmart terus berinovasi dan menjadi operator telekomunikasi pertama di Indonesia yang meluncurkan konvergensi.
Pasca-merger menjadi XLSmart, operator seluler ini langsung menunjukkan dampak besar. Hingga akhir 2025, jumlah pelanggan mencapai 73 juta dengan pendapatan Rp42,5 triliun, tumbuh 23% YoY. Laba bersih melonjak 63% menjadi Rp3,0 triliun, sementara lebih dari 90% pendapatan kini berasal dari layanan data dan digital.
ARPU campuran naik ke Rp39,5 ribu, kuartal IV mencapai Rp44,8 ribu. Kecepatan download meningkat 83%, didukung 225 ribu BTS dan peluncuran 5G di 33 kota. Merger sukses capai sinergi USD250 juta, dengan Free Cash Flow Rp6,6 triliun dan Capex Rp11,2 triliun. XLSmart optimistis mempertahankan momentum pertumbuhan berkelanjutan di tahun mendatang.
Sejarah provider XL di Indonesia
Pada 16 November 2009, nama perusahaan PT Excelcomindo Pratama Tbk diubah menjadi PT XL Axiata Tbk, yang menurut Presiden Direkturnya, Hasnul Suhaimi merupakan bentuk sinergitas sebagai anak perusahaan Axiata. Namun, dalam perubahan nama ini hanya nama perusahaan saja yang diubah, sementara merek dagangnya tetap.
Pada 15 Mei 2024, Axiata mengumumkan adanya penandatanganan nota kesepahaman dengan beberapa entitas milik Grup Sinar Mas yang memegang saham Smartfren, yaitu PT Wahana Inti Nusantara (WIN), PT Global Nusa Data (GND), dan PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), sebagai proses awal merger antara keduanya. Nota kesepahaman ini masih belum mengikat dan bersifat untuk menjajaki peluang-peluang yang ada. Seiring waktu, kedua pihak pun menyatakan kesiapannya untuk mempercepat proses tersebut, dan per Juli 2024 sudah memasuki tahap due diligence.
Berbulan-bulan kemudian, lewat ringkasan rancangan merger yang dipublikasikan pada 11 Desember 2024, rencana merger kedua perusahaan pun resmi terungkap, menyusul kesepakatan penggabungan yang telah ditandatangani sehari sebelumnya. Dalam skema merger senilai Rp 104 triliun ini PT Smartfren Telecom Tbk (plus anak usahanya, PT Smart Telecom) akan dileburkan dalam PT XL Axiata Tbk sebagai penerima penggabungan. Pemegang saham pasca-merger akan dibagi seimbang antara Axiata dan Sinar Mas (secara spesifik, oleh Franky Oesman Widjaja lewat entitas “Stellar”) sebesar 34,8%, sisanya milik publik.
Kedua pihak juga akan mengendalikan perusahaan pasca-merger secara bersamaan, dengan komposisi manajemen tinggi akan dibagi secara 50-50. Meskipun demikian, diperkirakan yang akan memainkan peran lebih besar pasca-merger nantinya adalah Axiata, karena jumlah pemegang saham ritel tersisa akan lebih banyak dari eks-XL. Bahkan disebutkan Sinar Mas harus mengeluarkan dana US$ 475 juta untuk membeli saham Axiata di perusahaan ini dalam rangka memenuhi kewajibannya. Perusahaan hasil merger diberi nama PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, yang memiliki sekitar 94,5 juta pelanggan dan efektif mulai beroperasi pasca-merger pada 16 April 2025.
XLSmart tetap memiliki tiga merek: XL, AXIS dan Smartfren.(*)
- Penulis: Roni Banase
- Sumber: Warta Ekonomi & Wikipedia











Saat ini belum ada komentar