Penti : Ungkapan Syukur Kepada Tuhan dan Leluhur dalam Tradisi Manggarai
- account_circle Ferdy Daud
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 27
- comment 0 komentar

![]()
Penti merupakan salah satu upacara adat tahunan masyarakat Manggarai di Flores, Nusa Tenggara Timur(NTT), yang hingga kini tetap eksis dan dilestarikan secara lintas generasi. Tradisi ini merupakan ritus warisan leluhur sebagai media ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama satu tahun. Selain itu, Penti juga dimaknai sebagai perayaan tahun baru bagi masyarakat Manggarai.
Ritual Penti dilaksanakan satu kali dalam setahun sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Mori Jari Dedek (Tuhan), penghormatan kepada empo (leluhur), serta penghargaan terhadap alam dan sesama manusia atas segala hasil jerih payah yang telah diperoleh dan dinikmati.
Pada pelaksanaannya, masyarakat juga memanjatkan doa demi kesejahteraan bersama serta kelestarian alam. Upacara ini mencakup tarian adat, ritus simbolik, dan berbagai aktivitas komunal yang menegaskan relasi harmonis antara manusia dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta ( Tuhan) atau yang akrab disebut dalam bahasa Manggarai Mori Kraeng.
Penti merefleksikan hubungan spiritual, sosial, dan ekologis yang menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Tradisi ini mengandung nilai-nilai solidaritas, penghormatan terhadap lingkungan, serta rasa syukur yang mendalam.
Secara umum, Penti diselenggarakan setiap tahun pada bulan Juli, Agustus, September, atau sebelum bulan Desember. Masyarakat Manggarai meyakini bahwa pelaksanaan Penti pada bulan ketujuh, kedelapan, atau kesembilan memiliki makna khusus, karena pada masa tersebut diyakini keberhasilan panen tahun berikutnya ditentukan.
Dalam pandangan masyarakat Manggarai, Penti memiliki dimensi vertikal, horizontal, dan sosial. Dimensi vertikal terwujud dalam ungkapan syukur kepada Tuhan (Mori) dan penghormatan kepada para leluhur (Empo) sebagai pencipta dan pembentuk kehidupan (Mori Jari Agu De’de’k) yang dimuliakan sebagai sumber hidup dan penghidupan manusia.
Pada hal ini, Masyarakat Manggarai mengakui kemahakuasaan Tuhan serta mensyukuri jasa para leluhur yang telah mewariskan tanah ulayat (lingko). Rasa hormat tersebut diwujudkan melalui persembahan yang layak sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan kebaikan yang telah diwariskan melului upacara Penti.
Sementara, dimensi sosial Penti tercermin dalam upaya memperkukuh persatuan dan kesatuan antaranggota komunitas, baik dalam lingkup wa’u (klan), panga (subklan), ase-kae (relasi kakak-adik), anak rona (saudara laki-laki), maupun anak wina (saudari perempuan). Perayaan ini menjadi momentum mempererat solidaritas kekerabatan serta memperkuat identitas kolektif masyarakat Manggarai.
Selain itu, Penti juga diyakini memperteguh eksistensi masyarakat Manggarai, sebagaimana tercermin dalam filosofi “gendang on’e lingko pe’ang,” yang menegaskan pentingnya menjaga hak ulayat atas tanah (lingko) yang dikelola oleh para tetua adat.
Filosofi tersebut menekankan bahwa keberlanjutan kehidupan komunitas sangat bergantung pada kesatuan antara pusat kehidupan adat (gendang) dan wilayah garapan (lingko).
Dalam setiap pelaksanaan ritual adat penti, seluruh warga yang menetap di kampung maupun berdomisili di luar daerah atau yang merantau akan pulang dan berkumpul bersama-sama untuk merayakannya secara bersama.
Sederhananya, upacara Penti menjadi pesta syukur sebagai umat manusia kepada Sang Pencipta alam semesta sebagai sumber kehidupan manusia dan kepada arwah nenek moyang atas semua hasil jerih payah yang telah diperoleh dan dinikmati.
Setiap Beo (Kampung) yang akan melaksanakan tradisi jauh-jauh harinya warga kampung tersebut atau yang mempunyai pertalian dengan warga kampung yang mengadakan Penti, diundang untuk hadir dalam upacara Penti.
Sebelum upacara penti dilakukan pada sore hari, tepat pada pagi harinya akan dilakukan sedikit acara kecil yaitu upacara “Podo Tenggeng” yaitu mempersembahkan kepincangan dan kekurangan. Upacara Podo Tenggeng bertujuan agar menjauhkan bencana kelaparan, dengan harapan bahwa bencana kelaparan akan dibuang melalui upacara ini.
Mengutip dari Buku ‘Sejarah Kota Ruteng’ (2010) karya P. Janggur, dijelaskan bahwa asal muasal penyebutan Penti diangkat dari Bahasa Manggarai yang berbunyi, “go’et: penti weki-peso beso reca rangga-wali ntaung; na’a cekeng manga curu cekeng weru” yang artinya ialah syukur dari warga Kampung kepada Tuhan dan para leluhur karena telah mengganti tahun, berhasil melewati musim kerja yang lama dan menyongsong musim kerja yang baru.
Di sisi lain, Penti memiliki norma yang mengatur pelaksanaan upacaranya, sebagai cara berhubungan hubungan antara Sang Pencipta dengan yang diciptakan-Nya.
Ritual penti tidakk hanya menjadi sebatas ritual interaksi dengan Sang Maha Pencipta, upacara ini juga sebagai simbol atas rasa syukur sesama umat manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Makna dan nilai upacara Penti
Upacara Penti sebagai salah satu prosesi adat mempunyai makna yang mendalam bagi orang Manggarai, secara khusus kepada masyarakat Manggarai.

Proses ritual adat Penti di Poco Leok untuk keberlangsungan pembangunan PLTP Ulumbu diikuti oleh tim PLN UIP Nusra. Foto : tim PLN
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara Penti diantaranya adalah sebagai berikut:
Ungkapan Syukur
Upacara Penti sebagai ungkapan syukur kepada Mori Jari Dedek (Tuhan Pencipta dan Pemilik Kehidupan) dan kepada Empo Mede (leluhur) yang telah menjaga, melindungi serta memberikan hasil panen yang melimpah.
Tradisi gotong royong dan kerja sama
Upacara Penti secara langsung maupun tidak langsung menyatukan warga/masyarakat Manggarai untuk terlibat bersama-sama dan saling bekerja mempersiapkan dan turut menyukseskan Acara Penti tersebut. Adanya gotong royong dan saling kerja sama akan sangat membantu mempererat persaudaraan dan kekeluargaan masyarakat Manggarai.
Tradisi dan warisan leluhur
Upacara Penti selain sebagai sebuah bentuk syukuran panen bagi warga Desa Torok Golo juga terlebih sebagai bentuk menjaga tradisi dan warisan peninggalan leluhur.
Jenis-jenis Penti dalam tradisi masyarakat Manggarai
Ada banyak macam Penti, tetapi yang di uraikan dibawah ini hanya memberikan beberapa macam yang sering di lakukan oleh orang Manggarai, antara lain:
1. Penti Beo
Penti Beo (penti = Syukuran; beo = kampong). Penti beo ialah Syukuran warga kampung. Yang memberikan komando umum waktu penti semacam ini adalah tua golo (kepala kampung), dibantu oleh tua-tua panga (kepala keluarga ranting/subklen) berdasar musyawarah bersama masyarakat dalam satu kampung.
Menurut tradisi Manggarai bahwa letak/posisi kampung punya arti dan peran tertentu dalam hidup manusia. Masyarakat Manggarai beranggapan bahwa kampung punya kekuatan/keramat yang disebut Naga Beo.
Naga Beo (Naga Kampung) terbagi menjadi dua hal (dilihat dari pengaruhnya), yakni Naga Beo Dia atau naga kampung baik ( tempat tinggal yang baik) dan Naga Beo Da’at (tempat yang jahat).
Naga Kampung yang baik akan membawa berkat bagi seluruh warga kampung, sedangkan Naga Kampung yang jahat, akan membawa malapetaka bagi hidup manusia.
Adapun sebagai contoh inti sesajen kepada leluhur/supernatural itu yakni minta berkat kampung (berkak golo lonto/beo), berkat halaman kampung (nataslabar), berkat tempat sesajian dikampung (compang), berkat ditempat air minum (wae teku), rumah tinggal (Mbaru kaeng), kebun tempat bekerja (utama duat/lingko).
2. Penti Kilo
Penti kilo adalah syukuran keluarga dalam satu keturunan leluhur dalam satu sistem keluarga Patrilinear dan dihadiri oleh keluarga kerabat :anak wina (saudari perempuan), anak rona (saudara laki-laki), pa’ang ngaung (warga setempat) dan hae reba (teman atau kerabat).
Syukuran keluarga ini bisa dilakukan dalam tingkat keluarga besar dalam satu turunan, bisa juga dilakukan dalam tingkat keluarga ranting.
Demikian ulasan mengenai tradisi Penti sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan Leluhur dalam tradisi adat Masyarakat Manggarai. Semoga bermanfaat!. (*)
- Penulis: Ferdy Daud
- Sumber: Wikipedia, Ensiklopedia Bebas











Saat ini belum ada komentar