Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Mengenal Abu Janda, Kontroversial Alumni University of Wolverhampton Inggris

Mengenal Abu Janda, Kontroversial Alumni University of Wolverhampton Inggris

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 99
  • comment 0 komentar

Loading

Pada alam semesta media sosial Indonesia, sebuah galaksi digital yang isinya campur aduk antara debat politik, meme receh, dan orang marah tanpa sebab, muncul satu karakter yang kehadirannya seperti meteor panas yang selalu berhasil menabrak linimasa. Namanya Permadi Arya. Namun publik lebih mengenalnya dengan nama panggung yang terdengar seperti karakter legenda rakyat yang nyasar ke X, Abu Janda.

Ia lahir di Cianjur pada 14 Desember 1973. Secara biografi, kisah hidupnya sebenarnya terdengar elegan. Bahkan hampir seperti brosur beasiswa internasional. Ia pernah menghabiskan masa mudanya di Singapura, belajar di Informatics IT School, lalu melanjutkan studi hingga ke Inggris di University of Wolverhampton. Bidang yang ia tekuni bukan sembarangan, Ilmu Komputer serta Business & Finance. Dua disiplin ilmu yang biasanya melahirkan orang-orang serius yang hidupnya diisi dengan grafik ekonomi, analisis data, dan rapat yang penuh kata “strategi”.

Secara teori, kombinasi pendidikan seperti itu harusnya menghasilkan seseorang yang tenang, metodis, dan mungkin sibuk memantau indeks saham sambil minum kopi mahal di kantor kaca bertingkat.

Namun hidup Permadi Arya mengambil belokan yang bahkan penulis skenario film India pun mungkin akan menyerah mencoba menebaknya.

Setelah pulang ke Indonesia, ia sempat bekerja di berbagai sektor serius, dunia sekuritas, perbankan, hingga industri tambang batu bara. Dunia yang biasanya penuh angka, laporan keuangan, dan pembicaraan tentang investasi jangka panjang. Akan tetapi di suatu titik sejarah hidupnya, ia melakukan transformasi karier yang begitu dramatis sehingga jika dijadikan grafik, garisnya pasti patah seperti detak jantung di film rumah sakit.

Ia berubah menjadi konten kreator. Bukan sembarang konten kreator. Ia spesialis dalam satu bidang langka, memproduksi kontroversi.

Di X, Abu Janda menjelma seperti generator badai digital. Setiap cuitannya terasa seperti batu yang dilempar ke sarang lebah nasional. Reaksinya selalu sama. Warganet langsung berkerumun, sebagian marah, sebagian menertawakan, sebagian lagi hanya menonton sambil menikmati drama seperti menonton sinetron politik yang tidak pernah tamat.

Tahun 2019 menjadi salah satu bab penting. Pada periode itu, Abu Janda tampil sebagai pembela rezim yang sangat vokal. Ia hadir hampir di setiap perdebatan politik di media sosial, seperti komentator pertandingan sepak bola yang tidak pernah kehabisan napas. Cuitannya tajam, nyaring, dan sering membuat suhu linimasa naik drastis.

Ironinya, banyak orang lupa, pria ini pernah tinggal di tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Inggris. Globalisasi biasanya menghasilkan wawasan luas. Dalam kasus Abu Janda, globalisasi justru menghasilkan keberanian tanpa batas untuk berdebat di internet.

Lalu datang plot twist berikutnya.

Pada 2023, arah dukungan politiknya berubah 180 derajat. Jika politik adalah kompas, maka kompas itu diputar seperti baling-baling kipas angin. Perubahan ini membuat sebagian orang kebingungan, sementara sebagian lain hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Beginilah politik era algoritma.”

Belum selesai sampai di situ.

Abu Janda juga pernah mengklaim dirinya sebagai anggota Banser setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar di Magelang. Keanggotaan ini langsung memicu diskusi panjang. Banser dikenal dengan citra keteduhan dan moderasi, sementara karakter digital Abu Janda sering dianggap identik dengan kegaduhan.

Pihak GP Ansor pun beberapa kali harus menjelaskan kepada publik, ia hanya anggota biasa dan tidak mewakili organisasi. Sejumlah tokoh bahkan menegaskan, pernyataan-pernyataannya adalah tanggung jawab pribadi dan tidak mencerminkan nilai NU maupun Aswaja.

Seolah panggung X belum cukup, Abu Janda juga merambah layar televisi. Debat politik menjadi arena baru. Gayanya penuh energi. Suara keras, interupsi cepat, dan ekspresi yang membuat suasana studio kadang terasa seperti arena gladiator modern.

Puncak dramanya terjadi pada Maret 2026. Dalam sebuah acara televisi, pembawa acara Aiman Witjaksono sampai harus mengusirnya dari studio secara langsung. Momen itu langsung viral dan beredar luas di media sosial. Bagi sebagian penonton, adegan itu terasa seperti episode reality show yang terselip di tengah program diskusi politik.

Drama lain muncul pada April 2025 ketika beredar kabar, Abu Janda akan diangkat menjadi komisaris di PT Jasamarga Tollroad Operator. Publik sempat terkejut. Banyak yang bertanya-tanya apa hubungan seorang kontroversial media sosial dengan perusahaan pengelola jalan tol.

Permadi Arya sempat mengiyakan kabar tersebut dan meminta doa. Akan tetapi pihak perusahaan segera mengeluarkan klarifikasi resmi, tidak ada pengangkatan tersebut.

Akhirnya, Abu Janda tetap menjadi fenomena khas zaman internet. Ia adalah produk algoritma, anak kandung budaya viral, dan bukti bahwa di era media sosial seseorang bisa menjadi sangat terkenal bukan karena prestasi akademik atau karya monumental, tetapi karena keberanian untuk terus berbicara di tengah badai komentar.

Satu pelajaran yang tersisa dari kisah ini cukup sederhana namun tajam, gelar dari Inggris tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan, popularitas tidak selalu lahir dari ketenangan, dan di dunia digital, kadang-kadang cara tercepat untuk dikenal adalah dengan menjadi badai yang tidak pernah berhenti berputar di dalam botol linimasa.(*)

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN Pakai Energi Terbarukan, Lahan PLTP Mataloko Mulai Digarap

    PLN Pakai Energi Terbarukan, Lahan PLTP Mataloko Mulai Digarap

    • calendar_month Sen, 8 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 188
    • 1Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) memulai proses pengembangan program energi baru terbarukan (EBT) bersumber  panas bumi di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). PLN mulai melakukan proses pengadaan lahan untuk pembangunan infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko berkapasitas 20 MW. Secara keseluruhan […]

  • Pemprov & Pemkab/Pemkot Se-NTT Siaga Dana Covid-19 Rp.272,49 Miliar

    Pemprov & Pemkab/Pemkot Se-NTT Siaga Dana Covid-19 Rp.272,49 Miliar

    • calendar_month Sab, 4 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT yang juga juru bicara gugus tugas penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si. mengatakan, Pemprov NTT telah bersepakat bersama Pemkab dan Pemkot untuk menyediakan dana bagi masyarakat terdampak Covid-19. “Benar, telah disediakan anggaran sebesar […]

  • Pendopo Luncur Kreasi Tenun Ikat Sikka di Indonesia Fashion Week 2023

    Pendopo Luncur Kreasi Tenun Ikat Sikka di Indonesia Fashion Week 2023

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 287
    • 1Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Sebagai upaya pelestarian budaya, Pendopo, merek usaha Kawan Lama Group yang menjadi rumah bagi para UMKM lokal dan telah bekerja sama dengan lebih dari 200 UKM di seluruh nusantara yang hadir di bawah naungan PT ACE Hardware Indonesia Tbk, memamerkan koleksi Senandung Sikka di Indonesia Fashion Week (IFW) 2023. Koleksi berbahan […]

  • Bengkel Konversi SMKN 3 Mataram Curi Perhatian Sheffield Education Group

    Bengkel Konversi SMKN 3 Mataram Curi Perhatian Sheffield Education Group

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Loading

    CEO Sheffield Education Group Australia, Daljit S Monga menyebut SMKN 3 Mataram memiliki siswa yang kompeten, fasilitas yang memadai, bengkel dan laboratorium otomotif yang lengkap.   Mataram | Bengkel konversi SMKN 3 Mataram binaan PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menerima kunjungan CEO Sheffield Education Group Australia, Daljit S Monga pada Rabu, 14 […]

  • KPK Terbitkan SE PBJ dan Tempatkan  Anggota di Gugus Tugas Covid-19

    KPK Terbitkan SE PBJ dan Tempatkan Anggota di Gugus Tugas Covid-19

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menyikapi situasi saat ini, salah satu prioritas nasional adalah pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa (PBJ-red), dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), KPK terus melakukan tugas pencegahan, koordinasi dan monitoring dengan pihak terkait. Prinsip PBJ pada kondisi darurat yaitu Efektif, Transpraran dan Akuntabel. Khusus PBJ kebutuhan penanganan Covid-19 KPK telah berkoordinasi […]

  • Belasan Ribu Warga Tidak Mampu di Kota Kupang Terima Bantuan Sosial Beras

    Belasan Ribu Warga Tidak Mampu di Kota Kupang Terima Bantuan Sosial Beras

    • calendar_month Kam, 17 Sep 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Sekitar 11.351 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kota Kupang menerima bantuan sosial beras dari Kementerian Sosial RI. Bantuan sosial beras ini merupakan salah satu program jaring pengaman sosial (JPS) dalam rangka penanganan dampak wabah Covid 19. Acara launching penyaluran bantuan sosial beras bagi KPM PKH oleh Wali Kota Kupang itu […]

expand_less