Ayah Sehat, Keluarga Kuat : Pelatihan Geselor Pangan, Inisiasi Dinkes TTS- CIFOR-ICRAF Indonesia
- account_circle Daud Nubatonis
- calendar_month 35 menit yang lalu
- visibility 25
- comment 0 komentar

![]()
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Dr. dr R. A. Karolina Tahun, menyampaikan masalah gizi dan pangan masih menjadi tantangan yang serius di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
SoE | Upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, khususnya di bidang pemenuhan pangan dan gizi keluarga, diinisiasi oleh CIROF-ICRRAF Indonesia bekerja sama dengan Dinas Kesehatan TTS, dengan menghelat training penggunaan panduan gerakan suami sebagai konselor (GESELOR) pangan dan gizi bagi tokoh agama Kristen Protestan untuk mendukung peran ayah dalam meningkatkan layanan kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), pada Jumat 28—29 November 2025, bertempat di Aula Hotel Blessing, SoE.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran ayah sebagai figur kunci dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan, pola makan, dan gerakan ayah sebagai konselor (GASELOR), kesejahteraan keluarga. Melalui panduan tersebut, peserta dilatih untuk memahami pemenuhan gizi seimbang, pencegahan malnutrisi, pemilihan pangan lokal yang sehat, hingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat yang praktis serta mudah diterapkan sehari-hari.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, Dr. dr R. A. Karolina Tahun, menyampaikan masalah gizi dan pangan masih menjadi tantangan yang serius di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Angka stunting, anemia, kekurangan energi kronis, serta pola konsumsi pangan yang belum beragam dan bergizi seimbang menuntut kerja bersama seluruh pihak. Oleh karena itu, ia memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh agama Kristen Protestan yang hadir, peran mereka dianggap sangat penting dalam menyampaikan pesan kesehatan kepada jemaat.
“Kehadiran Bapak/Ibu semua adalah bukti nyata bahwa gereja memiliki komitmen kuat untuk ikut serta dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,“ ungkapnya.
Dokter Karolina menekankan masalah gizi, stunting, dan kesehatan keluarga masih menjadi perhatian serius di Kabupaten TTS, sehingga kerja sama lintas sektor sangat dibutuhkan. Ia pun menyoroti pentingnya peran ayah dalam mendukung kesehatan keluarga, bahwa ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam pengambilan keputusan terkait makanan bergizi, perawatan anak, dan akses layanan kesehatan.
“Upaya ini tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan, tetapi memerlukan dukungan tokoh masyarakat, terutama para pemimpin gereja yang memiliki kedekatan langsung dengan jemaat,“ jelasnya.
Ia pun berharap para tokoh agama dapat menjadi agen perubahan melalui khotbah, penyuluhan jemaat, maupun pendampingan keluarga di gereja. Dengan memahami panduan Geselor pangan dan gizi, tokoh agama diharapkan dapat membantu masyarakat mengubah perilaku ke arah yang lebih sehat.
“Hari ini kita akan mempelajari panduan Geselor pangan dan gizi, sebuah alat yang sangat penting untuk memberikan edukasi yang tepat kepada keluarga. Melalui panduan ini, kita ingin menekankan bahwa peran ayah dalam keluarga sangat besar dan tidak boleh diabaikan,“ tutur dr. Karolina.
Saat ini, Pemda TTS melalui Dinas Kesehatan terus berupaya memperkuat program 1000 HPK, perbaikan gizi keluarga, peningkatan kualitas layanan posyandu, dan kampanye kesehatan yang responsif gender, khususnya dalam mengajak para ayah untuk lebih aktif mendukung istri dan anak-anak dalam aspek gizi, kesehatan, dan pengasuhan.
Mulla Nurhasan dari CIRIF-ICRAF Indonesia, peran ayah dalam kesehatan keluarga sering kali belum sepenuhnya dioptimalkan.
“Melalui training ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa ayah memiliki posisi strategis dalam memastikan keluarga mendapatkan pangan bergizi, mendukung pengasuhan yang sehat, dan menciptakan lingkungan rumah yang lebih peduli kesehatan,” ujarnya.(*)
- Penulis: Daud Nubatonis
- Editor: Roni Banase











Saat ini belum ada komentar