Dua Tahun Erupsi Lewotobi : Antara Tangis, Trauma, dan Ketangguhan Berkelanjutan
- account_circle Eman Nara Sura
- calendar_month Jum, 19 Des 2025
- visibility 319
- comment 0 komentar

![]()
Program psikososial yang dilakukan CIS Timor dan didukung Save The Children sekitar 2 bulan lalu memberikan dampak signifikan. Mereka dilatih selama 5 hari bagaimana membangkitkan semangat para guru dan anak-anak di wilayah pengungsian.
Kupang | Tangis, air mata, kehilangan, tapi juga semangat untuk bangkit. Itulah narasi yang tergambar dalam pameran foto dan temu wicara atau talkshow bertajuk “Napak Tilas Perjuangan Perempuan dan Anak Melewati Badai Erupsi Lewotobi Laki-laki”, Kamis petang—selesai, 18 Desember 2025 di stan Pameran BPBD, HUT Ke-67 Provinsi NTT.
Acara yang diinisiasi Yayasan CIS Timor Indonesia bersama Yayasan Save the Children Indonesia di halaman Kantor Gubernur NTT itu menjadi momentum refleksi perjalanan dua tahun penanganan bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Erupsi pertama pada 23 Desember 2023, disusul erupsi dahsyat pada 3 November 2024, memaksa ribuan penduduk meninggalkan rumah dan kehidupan mereka.
Rekam Jejak Kemanusiaan di Balik Lensa
Jurnalis Kompas, Frans Pati Herin, yang selama dua tahun merekam peristiwa erupsi, membuka kesaksiannya dengan refleksi mendalam. Foto-foto karyanya yang dipajang malam itu bukan sekadar dokumentasi visual.
“Ini kisah tentang kedahsyatan erupsi, tentang tangis dan air mata orang-orang yang selamat dan kehilangan keluarganya, tentang dampaknya, tentang kucing-kucing yang kelaparan. Juga tentang semangat untuk bangkit. Ini yang saya kira penting,” ungkap Frans.
Dia menggambarkan pengalamannya memotret sekolah komunitas Pahlawan Anak yang dibangun beberapa NGO, termasuk CIS Timor dan Save the Children. Di sana dia menemukan anak-anak yang berdiri melongok lewat jendela dengan tatapan kosong seolah melihat masa depan yang tak menentu. Tapi di beberapa ruang kelas mereka juga terlihat bersemangat, menyanyikan lagu cinta tanah air.
“Mereka cinta pada tanah air ini tapi mereka belum menikmati kehidupan yang selayaknya diberikan oleh tanah air ini kepada mereka,” tegasnya.
Frans juga menyampaikan kritik tajam soal respons pemerintah. Dia mempertanyakan lambatnya penanganan hunian tetap bagi para penyintas.

Germana Gelole (Ketua Gugus Huntara) membeberkan peran penting CIS Timor dan Save The Children terhadap para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Foto : Fandy Bachtiar
Malam dahsyat yang tak terlupakan
Germana Gelole, S.Pd, Ketua Gugus Huntara, dengan suara bergetar mengenang malam 3 November 2024. Sebagai kepala sekolah dan seorang perempuan, di malam yang dahsyat itu dia terus memikirkan ke mana guru-guru dan anak-anak didiknya berlari menyelamatkan diri.
Germana mengisahkan bahwa setelah erupsi pertama pada 23 Desember 2023, siswa-siswinya sempat bersekolah di bawah tenda darurat selama sebulan, lalu kembali setelah situasi mulai pulih. Namun erupsi dahsyat November 2024 mengubah segalanya.
Malam itu mereka lari ke ibu kota Kecamatan Wulanggita, di Boru, lalu esoknya dievakuasi ke tempat pengungsian. “Di situ kami baru bisa saling kontak dengan guru-guru dan orang tua siswa. Saya sangat sedih karena membayangkan kalau situasi seperti ini terus masa depan anak-anak saya ini seperti apa,” kenangnya.
Awalnya mereka tidak membuat pembelajaran karena semua masih trauma. Apalagi anak-anak yang lari tiba-tiba dengan pakaian seadanya. Kemudian seiring waktu mereka mulai belajar di bawah tenda pengungsian.
Kolaborasi yang menyelamatkan masa depan anak
Germana sangat mengapresiasi peran Yayasan CIS Timor dan Save the Children, NGO yang telah memberikan perhatian kepada mereka selama ini. “Kami sangat berterima kasih kepada Yayasan CIS Timor dan Save the Children yang begitu luar biasa menjadi garda terdepan menolong kami pada situasi-situasi sulit itu, termasuk membangun ruang kelas darurat,” ujarnya.
Program psikososial yang dilakukan CIS Timor sekitar 2 bulan lalu memberikan dampak signifikan. Mereka dilatih selama 5 hari bagaimana membangkitkan semangat para guru dan anak-anak di wilayah pengungsian. “Satu hal baik dari kegiatan ini adalah mental anak-anak yang selama ini murung mulai bangkit kembali,” jelas Germana.
Yang lebih penting, materi latihan evakuasi memberikan edukasi tentang kesiapsiagaan bencana. Kalau sebelumnya mereka hanya lari tanpa tahu arah, sekarang anak-anak sudah tahu bagaimana menyiapkan diri dan lari ke mana saat ada bencana.
Germana mencontohkan kejadian dua minggu lalu ketika terjadi banjir di huntara. Yang menarik, anak-anak tidak kemana-mana karena tidak ada perintah evakuasi. “Ini satu hal yang luar biasa,” ungkapnya bangga.
Namun ada sisi menyedihkan. Ada orang tua yang terpaksa harus merantau karena mata pencaharian mereka sudah luluh lantak, dan anak-anak harus tinggal sendirian.
Germana juga berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan NGO. Saat ini sudah ada ruang kelas darurat tapi ruang untuk guru belum ada, sehingga mereka harus mengerjakan administrasi di bawah tenda darurat yang sudah mulai bocor.

Aprilina Daria Gamut (anak penyintas erupsi Lewotobi Laki-laki/pelajar SD Inpres Jongolor) saat mengisahkan peristiwa erupsi. Foto : Fandy Bachtiar
Suara Penyintas Cilik
Aprilina Daria Gamut, siswi kelas 3 SD Inpres Jongwolor, dengan suara lembut mengenang malam mengerikan itu. Mereka sedang tidur ketika tiba-tiba mendengar letusan yang sangat dahsyat. Tak lama kemudian kerikil dan batu sudah menutupi jalan saat mereka berlari mencari tempat perlindungan.
Pelajar kelas 3 SD bernama akrab Lia itu, mengisahkan perjalanan pengungsian dari Boganatar, lalu diarahkan pemerintah ke tempat pengungsian di Kanada, kemudian dipindahkan ke Huntara. Awalnya sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, tapi lama kelamaan mereka mulai terbiasa.
“Harapannya CIS Timor bisa membangun ruang kelas yang aman dan layak untuk kami, ungkap Aprilia polos.
Kolaborasi untuk pemulihan berkelanjutan
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi NTT, Syafrudin Herman, S.E., M.M. menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix dalam penanggulangan bencana dan peran BPBD pada fase prabencana, bencana, dan pascabencana.
Ditekankan pula oleh Syafrudin, saat ini urusan bencana bukan lagi hanya menjadi tanggung jawab BPBD, namun telah menjadi urusan bersama.
Sementara perwakilan Save the Children Indonesia, Roby Lay menyampaikan refleksi atas dua tahun pendampingan para penyintas, khususnya anak-anak yang rentan. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menciptakan ruang ingatan dan ruang belajar bersama. Pemulihan pasca-bencana bukanlah proses linier, melainkan perjalanan kompleks yang penuh dinamika.
Roby juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam situasi darurat, ruang ramah anak, tahapan psikososial anak, dan pentingnya keluarga terdampak bencana memiliki sumber pendapatan tetap bernilai ekonomi.
Temu wicara yang dimoderatori Rony Banase dari Forum PRB Provinsi Nusa Tenggara Timur berlangsung partisipatif dan interaktif. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong kolaborasi lanjutan untuk merancang langkah-langkah pemulihan berkelanjutan bagi para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.(*)
- Penulis: Eman Nara Sura











Saat ini belum ada komentar