Jusuf Kalla Sorot Diskursus Prabowo Jadi Juru Damai Konflik AS-Israel-Iran
- account_circle Penulis
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 95
- comment 0 komentar

![]()
Jakarta | Diskursus atau wacana inisiasi Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi juru damai pasca serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menuai respons dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK).
JK mengingatkan bahwa situasi konflik yang berkembang saat ini sangat kompleks dan tidak mudah diselesaikan. “Ya niat, rencana, itu baik saja. Tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Ya Palestina dengan Israel saja tidak bisa, sulit didamaikan. Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat dan Amerika,” ujar JK kepada wartawan di Jakarta Selatan, Minggu, 1 Maret 2026.
JK juga menyinggung posisi Indonesia dalam hubungan dengan AS. Ia menilai terdapat perjanjian yang tidak seimbang sehingga Indonesia tidak berada dalam posisi setara.
“Dan sayangnya Indonesia telah mengadakan perjanjian tidak seimbang yang sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini dalam hal perundingan seperti itu,” ucapnya.
Lebih lanjut, JK mewanti-wanti dampak konflik Timur Tengah terhadap Indonesia, terutama di sektor energi dan ekonomi. “Iya, pertama tentu harga minyak naik. Pasti itu yang pertama. Logistik di antara Timur Tengah dan kita seluruh terputus,” tuturnya.
Ekspor Indonesia, imbuh JK, tentu ke Eropa akan bermasalah karena semua timbul ketakutan, semua orang bersiap terhadap kondisi seperti itu. “Jadi masalahnya ya kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan, sekarang pasti stop. Jadi ekonomi kita akan terkena di situ. Hati-hati dalam waktu yang apabila ini lama. Mudah-mudahan cepat selesai,” tandasnya.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan Presiden Prabowo siap menjadi mediator di antara AS, Israel, dan Iran. Bahkan, Prabowo disebut bersedia bertolak ke Teheran apabila mendapat persetujuan dari pihak-pihak terkait.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” ujarnya.(*)
- Penulis: Penulis
- Sumber: melihatindonesia & ragam literatur











Saat ini belum ada komentar