Lebaran 2026 Diprediksi Berbeda, Ini Versi Empat Lembaga dan Pemerintah
- account_circle Penulis
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 74
- comment 0 komentar

![]()
Jakarta | Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, umat Islam di Indonesia mulai menantikan kepastian Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Sejumlah lembaga dan organisasi telah merilis prediksi masing-masing, meski penetapan resmi tetap menunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat.
Penentuan 1 Syawal menjadi momen penting karena menandai berakhirnya ibadah puasa. Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan awal bulan hijriah dengan menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Hasil perhitungan posisi Bulan akan dipadukan dengan laporan pengamatan hilal dari berbagai daerah sebelum diumumkan secara resmi. Meski demikian, perbedaan metode yang digunakan sejumlah pihak membuat potensi perbedaan tanggal Lebaran tetap terbuka.
Dari sisi ilmiah, Badan Riset dan Inovasi Nasional memprediksi 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 21 Maret 2026. Peneliti BRIN Thomas Djamaluddin menyebut posisi hilal pada 19 Maret 2026 belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan MABIMS.
“Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026,” kata Thomas dalam tulisan di blognya pada Juni 2025.
Ia juga menjelaskan bahwa hasil bisa berbeda jika menggunakan kriteria lain.
“Maka menurut kriteria Turki, 1 Syawal 1447 = 20 Maret 2026,” tambahnya.
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika turut merilis data pengamatan hilal. Berdasarkan perhitungan, ketinggian hilal pada 19 Maret 2026 berkisar antara 0,91 derajat hingga 3,13 derajat, dengan elongasi antara 4,54 derajat hingga 6,1 derajat.
Mengacu pada kriteria MABIMS, kondisi tersebut menunjukkan hilal diperkirakan belum terlihat. Jika demikian, maka bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari dan Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Di sisi lain, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan metode hisab dengan pedoman Kalender Hijriah Global Tunggal.
Adapun pemerintah bersama Nahdlatul Ulama akan menunggu hasil sidang isbat yang dijadwalkan pada 19 Maret 2026.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad menegaskan proses penetapan dilakukan secara terbuka dan berbasis data.
“Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujarnya.
Berdasarkan kalender resmi Kementerian Agama, 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun, kepastian tanggal Lebaran tetap akan ditentukan melalui sidang isbat yang mempertimbangkan hasil perhitungan dan pengamatan langsung hilal.(*)
- Penulis: Penulis
- Sumber: melihatindonesia & ragam literatur











Saat ini belum ada komentar