Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Mengenal Gus Alex, Sosok Sentral di Balik Korupsi Kuota Haji

Mengenal Gus Alex, Sosok Sentral di Balik Korupsi Kuota Haji

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 78
  • comment 0 komentar

Loading

Ia tersenyum. Tenang. Damai. Seolah dunia ini cuma taman bunga yang ditata malaikat shift pagi. Berkacamata putih, berjanggut lebat, rambut cepak rapi seperti baru di-reset oleh server langit. Di dadanya menempel rompi oranye bertuliskan angka 103. Angka yang entah apakah itu nomor hoki, nomor antrean, atau sekadar kode rahasia menuju dimensi “tahanan kelas premium”. Di bawahnya, tertulis jelas, Tahanan KPK. Estetika yang memadukan spiritualisasi dan realitas hukum dalam satu paket absurd.

Dialah Ishfah Abidal Aziz. Sosok yang, kalau pujian itu bisa dijadikan tangga, sudah mencapai langit ke delapan. Tokoh NU, Ketua PBNU 2022–2027, mantan staf khusus Menteri Agama, lingkar inti kekuasaan spiritual-birokrasi. Ia bukan orang biasa. Ia ini paket lengkap. Religius, organisatoris, dan, menurut KPK punya peran sentral dalam dugaan korupsi kuota haji. Sentral, cak. Bukan cameo. Ini peran utama dengan durasi layar maksimal.

Mari kita hormati dulu prestasinya. Lahir di Madiun, 3 Mei 1977. Tumbuh dalam kultur pesantren. Besar di lingkungan NU. Kariernya melesat, hingga menjadi staf khusus dari Yaqut Cholil Qoumas periode 2020–2024. Bahkan disebut sebagai “representasi” menteri. Artinya? Kalau menteri batuk, mungkin beliau yang pegang tisu. Kalau menteri bicara, mungkin beliau yang atur gema.

Kekayaannya Rp7,3 miliar. Tidak fantastis untuk ukuran elite, tapi cukup untuk membuat rakyat berkata, “Lumayan juga ya, buat beli sabar.” Semua tampak ideal. Semua tampak seperti skenario sukses anak bangsa. Sampai akhirnya… plot twist muncul tanpa aba-aba.

Menurut juru bicara KPK, Budi Prasetyo, Gus Alex ini berperan sebagai “jembatan”. Ini bukan jembatan penyeberangan orang, bukan jembatan gantung desa wisata. Ini jembatan alur perintah dan alur uang. Tahun 2023, Indonesia mendapat tambahan 8.000 kuota haji. Harusnya, ini jadi angin surga bagi jamaah reguler yang antreannya bisa sepanjang umur cicilan. Namun kenyataannya, kuota itu dibagi 92:8. Rasio yang lebih misterius dari kode WiFi tetangga.

Lalu muncullah fitur premium bernama “percepatan”. Bayar USD 5.000, sekitar Rp80 juta, dan sampeyan bisa melompati antrean. Dari posisi “nunggu sampai ubanan” langsung ke “angkat koper, berangkat besok”. Ini bukan lagi ibadah, ini fast track spiritual edition. Sebuah sistem di mana kesabaran dikalahkan oleh transfer.

Tahun 2024, dramanya naik level. Tambahan 20.000 kuota dibagi 50:50 antara reguler dan khusus. KPK bilang, ini tidak sesuai undang-undang. Namun tetap dijalankan. Lengkap dengan komunikasi tingkat tinggi dengan Arab Saudi, hingga penginputan data di aplikasi E-Hajj. Gus Alex disebut aktif di semua lini. Mulai dari komunikasi, koordinasi, hingga pengumpulan fee percepatan. Bahkan, ia meminta stafnya ikut mengumpulkan “setoran”. Sistemnya rapi. Terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.

Akhirnya, tirai turun. KPK menetapkan Gus Alex dan Yaqut Cholil Qoumas sebagai tersangka. Keduanya ditahan. Yaqut menyatakan tidak menerima uang sepeser pun, semua demi keselamatan jamaah. Gus Alex lebih diplomatis. Ia menghargai proses hukum, sudah bicara banyak, berharap kebenaran terungkap. Ia juga menegaskan, tidak ada perintah dari Yaqut. Tidak ada. Kosong. Hampa seperti janji promo yang ternyata syaratnya 17 halaman.

Dari langit pujian, kini jatuh ke bumi kenyataan. Dari simbol kepercayaan, menjadi simbol kecurigaan. Dari tokoh umat, menjadi tersangka negara.

Di titik ini, rasa muak itu wajar. Karena yang dimainkan bukan sekadar uang. Ini ibadah. Ini harapan jutaan orang yang menabung puluhan tahun, menahan diri dari segala keinginan, demi satu perjalanan suci. Namun di tangan yang salah, haji berubah jadi jalur VIP berbayar.

Kalau jalan ke Tuhan saja bisa “dipercepat” dengan tarif, lalu apa lagi yang tersisa dari keadilan?

“Bang, oknum Gus ini kok sering ditangkap ya. Padahal ia kan anak kiai.”

“Anak siapa pun dia, kalau sudah berada di lingkaran birokrasi, sulit menghindari dari korupsi. Menurut Mahfud, sistem birokrasi kita sudah korup. Ini membuat pejabat sulit bersih. Begitu masuk lingkaran itu, hampir mustahil tidak ikut terjerat.(*)

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melawan Lupa

    Melawan Lupa

    • calendar_month Ming, 18 Des 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase Mengenal sosok pria paruh baya berusia hampir setara ini bukanlah sebuah kebetulan. Pria kelahiran Kupang, 3 Juli 1973 ini memang sosok pekerja keras. Saat saya masih menempuh kuliah di Denpasar-Bali era tahun 1993-an, ia telah bekerja keras dengan berbisnis keset kaki dan kue lapis legit dengan sistem konsinyasi di mini market […]

  • Jejak Dugaan Korupsi, Lukas Enembe Ditahan KPK Hingga 30 Januari

    Jejak Dugaan Korupsi, Lukas Enembe Ditahan KPK Hingga 30 Januari

    • calendar_month Sab, 14 Jan 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Tersangka kasus tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji dan Gratifikasi terkait proyek pembangunan infrastruktur di provinsi Papua, Lukas Enembe (LE) saat ini sedang menjalani pemeriksaan oleh Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tim Penyidik KPK akan menahan LE untuk 20 hari pertama terhitung mulai tanggal 11—30 Januari 2023 di […]

  • Pasca Gempa M 6,8 di Kabupaten Kepulauan Banggai, Situasi Kondusif

    Pasca Gempa M 6,8 di Kabupaten Kepulauan Banggai, Situasi Kondusif

    • calendar_month Sab, 13 Apr 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Loading

    Banggai-Sulteng, Garda Indonesia | Berdasarkan pantauan Pusat Pengendali Operasi BNPB, situasi masyarakat di beberapa wilayah sudah kondusif pascagempa M 6,8 yang terjadi pada Jumat,12 April 2019 pukul 18.40 WIB. Masyarakat yang mengungsi sebagian sudah pulang ke rumahnya. Pengungsian sempat teridentifikasi di Kabupaten Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah hingga malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan […]

  • Semua Warga Belu Dipastikan Masuk Penerima Bantu Iur APBN

    Semua Warga Belu Dipastikan Masuk Penerima Bantu Iur APBN

    • calendar_month Kam, 26 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | “Saya sudah bicara dengan wakil ketua komisi IX DPR RI, Melki Laka Lena (saat kunjungan kerja di Belu, pada Jumat, 20 November 2020, red). Nanti semua orang Belu akan masuk di sini, Penerima Bantu Iur (PBI),” jelas Agus Taolin yang berpasangan dengan Alo Haleserens dari paket SEHATI, nomor urut 2. Semua […]

  • Ponirah Terpidana

    Ponirah Terpidana

    • calendar_month Sel, 8 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Dra. Bernadeta M. Usboko, M.Si. Ponirah, nama seorang gadis desa blasteran Jawa dan Timor. Berleher jenjang, berparas cantik dengan kulit sawo matang dan memiliki bola mata yang indah. Sayangnya tidak ditunjang dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Waktu terus berganti, gadis manis ini tumbuh begitu cepat dan menjadi kembang manis di desa tersebut. […]

  • Sebar Hoaks Soal Corona, Polisi Tangkap & Interogasi Dokter Lois

    Sebar Hoaks Soal Corona, Polisi Tangkap & Interogasi Dokter Lois

    • calendar_month Sel, 13 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Polisi menangkap Dokter Lois karena dianggap telah menyebarkan hoaks soal Corona. Tak main-main, hoaks itu disebarkan lewat 3 platform media sosial. Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan menyatakan hoaks yang disebarkan dr Lois dapat menimbulkan keonaran di masyarakat serta menghalangi penanggulangan pandemi Corona. Salah satu hoaks dr Lois yang […]

expand_less