Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Perang Atensi Publik: Media Online Versus Media Sosial

Perang Atensi Publik: Media Online Versus Media Sosial

  • account_circle Roni Banase
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 44
  • comment 0 komentar

Loading

Pada era digital satu dekade terakhir, perhatian publik telah berubah menjadi “mata uang” paling berharga. Siapa yang mampu merebut perhatian masyarakat, dialah yang memenangkan pertarungan pengaruh. Dalam konteks ini, terjadi sebuah “perang atensi” antara media online dan media sosial, dua kekuatan yang sama-sama memperebutkan waktu, fokus, dan kepercayaan publik.

Dua dekade lalu, media massa baik cetak maupun portal berita online menjadi sumber utama informasi masyarakat. Publik datang ke media untuk mengetahui apa yang terjadi di dunia. Namun kini, pola itu berubah dramatis. Banyak orang justru mengetahui berita pertama kali dari media sosial, bukan dari situs berita.

Pergeseran gerbang informasi

Media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X telah menjelma menjadi gerbang baru informasi. Algoritma platform tersebut mampu menyajikan konten yang disesuaikan dengan minat pengguna. Akibatnya, informasi datang langsung ke layar ponsel tanpa perlu dicari.

Di sinilah tantangan besar bagi media online. Jika dulu pembaca datang secara langsung ke portal berita, kini mereka lebih sering menemukan berita melalui tautan yang beredar di media sosial. Artinya, distribusi informasi tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh media, tetapi oleh algoritma platform digital.

Situasi ini membuat media online tidak hanya bersaing dengan sesama media, tetapi juga dengan jutaan kreator konten di media sosial.

Apakah media massa dapat membendung algoritma media sosial?

Di era digital hari ini, informasi tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh ruang redaksi media massa. Dahulu, media memiliki fungsi sebagai penjaga gerbang (gatekeeper) informasi yang menentukan berita apa yang layak diketahui publik. Kini, peran tersebut semakin digeser oleh algoritma media sosial yang menentukan apa yang muncul di layar ponsel miliaran orang setiap hari.

Media massa masih mampu membendung kekuatan algoritma media sosial?

Algoritma media sosial bekerja berdasarkan satu prinsip utama yaitu interaksi atau engagement. Konten yang paling banyak mendapat klik, komentar, like, dan share akan diprioritaskan tampil di linimasa pengguna.

Masalahnya, konten yang paling menarik perhatian tidak selalu yang paling akurat atau paling penting. Konten sensasional, provokatif, bahkan misinformasi sering kali lebih cepat menyebar dibandingkan laporan jurnalistik yang berbasis verifikasi.

Akibatnya, algoritma menciptakan ekosistem informasi yang sering disebut sebagai ekonomi perhatian (attention economy) di mana nilai sebuah informasi diukur dari seberapa besar respons emosional yang ditimbulkan, bukan dari kualitas kebenarannya.

Di sinilah media massa menghadapi tantangan besar.

Kecepatan versus kedalaman

Media sosial unggul dalam hal kecepatan. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Satu video atau unggahan bisa viral dan dilihat jutaan orang dalam waktu singkat.

Namun kecepatan sering kali datang dengan konsekuensi: minim verifikasi. Tidak semua konten di media sosial melalui proses pengecekan fakta yang ketat. Di sinilah media online masih memiliki keunggulan—yakni kredibilitas, verifikasi, dan tanggung jawab jurnalistik.

Media online tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga memberi konteks, analisis, dan perspektif yang lebih mendalam. Ini adalah nilai yang sulit digantikan oleh konten media sosial yang sering kali bersifat singkat dan sensasional.

Ekonomi, atensi dan klik

Persaingan merebut perhatian publik juga berdampak pada model bisnis media. Dalam ekonomi digital, perhatian pengguna berbanding lurus dengan pendapatan iklan. Semakin banyak klik dan pembaca, semakin besar potensi pemasukan.

Tekanan ini kadang membuat media online ikut terjebak dalam logika viralitas, judul sensasional, berita cepat, dan konten yang mengejar klik. Jika tidak hati-hati, media bisa kehilangan identitasnya sebagai penjaga kualitas informasi yang kredibel dan valid.

Ironisnya, media harus bermain di arena yang dikuasai oleh platform media sosial. Banyak pembaca datang dari Facebook, Google, atau platform lain. Artinya, sebagian kendali distribusi berita berada di tangan perusahaan teknologi global.

Membangun kepercayaan di tengah kebisingan

Di tengah banjir informasi, kepercayaan menjadi faktor yang semakin penting. Publik kini tidak hanya mencari informasi cepat, tetapi juga informasi yang dapat dipercaya.

Di sinilah media online memiliki peluang untuk tetap relevan. Ketika media sosial dipenuhi berbagai konten mulai dari informasi hingga disinformasi media profesional dapat menjadi rujukan yang kredibel.

Namun untuk memenangkan perang atensi, media tidak cukup hanya mengandalkan reputasi. Mereka juga harus beradaptasi dengan cara baru dalam menyajikan informasi: visual yang kuat, cerita yang menarik, serta distribusi yang cerdas di berbagai platform digital.

Kolaborasi, bukan sekadar kompetisi

Pada akhirnya, hubungan antara media online dan media sosial tidak sepenuhnya bersifat kompetitif. Dalam banyak kasus, keduanya justru saling bergantung.

Media sosial menjadi saluran distribusi yang sangat kuat bagi media online. Sebaliknya, platform media sosial juga membutuhkan konten berkualitas dari media profesional untuk menjaga ekosistem informasinya.

Perang atensi publik kemungkinan besar akan terus berlangsung. Namun masa depan informasi digital tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling cepat atau paling viral, melainkan oleh siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara kecepatan, kualitas, dan kepercayaan publik.

Di tengah kebisingan informasi era digital, kredibilitas tetap menjadi kompas utama.(*)

  • Penulis: Roni Banase

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Plh. Bupati Belu Upayakan Perhatian Pemda bagi Kelas Tenun Ikat Nunupu

    Plh. Bupati Belu Upayakan Perhatian Pemda bagi Kelas Tenun Ikat Nunupu

    • calendar_month Sel, 16 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Usai menghadiri kegiatan donasi buku di TBM Lopo Cerdas Sabar di Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, pada Minggu, 14 Maret 2021, Plh. Bupati Belu, Frans Manafe didampingi Ketua Komisi II DPRD, Theodorus Seran Tefa diarahkan Ketua FTBM, Romo Kris Fallo mengunjungi Kelas Tenun Ikat Nunupu, yang letaknya tidak jauh dari TBM […]

  • PLN-TNI AL Perkuat Pertahanan Laut Indonesia

    PLN-TNI AL Perkuat Pertahanan Laut Indonesia

    • calendar_month Jum, 19 Sep 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Loading

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyebut proyek perdana ini sebagai simbol diversifikasi layanan perusahaan. PLN kini tidak hanya hadir untuk masyarakat dan dunia usaha, tetapi juga memperluas peranannya ke sektor pertahanan.   Jakarta | Suasana dermaga militer Komando Armada (Koarmada) II Surabaya akan terdengar lebih tenang. Deru genset akan menghilang, digantikan aliran listrik PLN yang […]

  • Hingga Kini Telah 13 Kali Jokowi Ke NTT, 5 Kali dalam Kepemimpinan VBL-JNS

    Hingga Kini Telah 13 Kali Jokowi Ke NTT, 5 Kali dalam Kepemimpinan VBL-JNS

    • calendar_month Kam, 1 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Hingga kini, terhitung telah 13 kali Presiden Jokowi mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana kunjungan pertama dilakukan pada April 2014, saat melihat Peternakan Sapi di Kabupaten Kupang dan kunjungan ke-13 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat pada hari ini Kamis, 1 Oktober 2020, bertepatan pada ulang tahun ke-57 […]

  • Muktamar IX PPP, Presiden Jokowi: Infrastruktur Digital Penting

    Muktamar IX PPP, Presiden Jokowi: Infrastruktur Digital Penting

    • calendar_month Ming, 20 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Dalam enam tahun terakhir ini, pemerintah terus fokus membangun infrastruktur penghubung antardaerah. Infrastruktur tersebut bukan hanya berupa jalan tol, jalur kereta api, jalur penerbangan, dan tol laut saja, tetapi juga konektivitas digital yang dipercepat jangkauannya di seluruh wilayah Indonesia. Presiden Joko Widodo menekankan bahwa infrastruktur digital tersebut bukan hanya dimaksudkan untuk […]

  • Ketua Korcab VII DJA II Dukung Penurunan Stunting NTT

    Ketua Korcab VII DJA II Dukung Penurunan Stunting NTT

    • calendar_month Sen, 19 Sep 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Angka prevalensi stunting di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tertinggi di Indonesia yaitu 37,8 persen. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menargetkan perbaikan akses pangan bergizi di provinsi yang memiliki 21 kabupaten dan 1 kota ini dengan pola pemberdayaan BumDes dan mengonsumsi pangan lokal. Guna mendukung program […]

  • Siswa SMAN 1 & Dinas Perhubungan Kota Kupang Gapai Bantuan Jasa Raharja

    Siswa SMAN 1 & Dinas Perhubungan Kota Kupang Gapai Bantuan Jasa Raharja

    • calendar_month Sab, 23 Nov 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Nusa Tenggara Timur kembali mengimplementasikan amanah Peraturan Menteri BUMN Nomor Per-02/MBU/7/2017 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dengan menyerahkan 2 (dua) Bantuan Bina Lingkungan sekaligus. Pada Jumat, 22 November 2019 dilakukan penyerahan secara simbolis bantuan berupa pembuatan SIM C untuk Pelajar SMAN 1 Kota Kupang senilai […]

expand_less